Sarjana Pendidikan berburu di MADIN

Sarjana Pendidikan berburu di MADIN

Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) adalah wadah yang dibentuk oleh penyelenggara diniyah takmiliah sebagai ajang kominikasi sekaligus bertukar informasi antar penyelenggara diniyah takmiliyah dan peningkatan mutu madin.

Diniyah takmiliyah telah mendapatkan legalitas dari kementerian agama untuk menyelenggarakan  pendidikan agama islam sebagai pelengkap pendidikan umum.

Jenjang pendidikan madrasah takmiliyah pun sama dengan jenjang pendidikan sekolah pada umumnya. Awaliyah untuk tingkat SD diselenggarakan selama 6 tahun, wustho untuk tingkat SLTP dengan masa belajar 3 tahun. Dan ulya untuk tingkat SLTA dengan masa belajar 3 tahun.

Kementerian Agama berencana mengalokasikan dana untuk madrasah takmiliyah. Diantaranya Program Bantuan Operasional Madrasah Diniyah, Program Pendataan Madin dan Program Peningkatan Mutu Pengelolaan Madrasah Diniyah. Program program yang dialokasikan untuk madrasah diniyah tersebut tidak lain untuk menjadikan madrasah diniyah lebih maju, bahkan kalau bisa setingkat dengan pendidikan umum.

Jadi, untuk kedepannya nanti pemerintah akan memberikan bantuan insentif honor bagi guru madin. Bahkan sekarang sudah dimulai pendataan ustadz ustadzah madin.

Seperti yang kita ketahui, sarjana-sarjana pendidikan guru di Indonesia sangatlah membludak. Dan setiap tahunnya selalu bertambah ribuan sarjana pendidikan. Hal itu tidak diimbangi dengan adanya lowongan sebagai guru di sekolah-sekolah umum. Mengetahui fakta bahwa menjadi guru Madin pun akan diberi honor, para sarjana-sarjana kini berebut dan berburu untuk menjadi guru di Madin.

Hal tersebut menimbulkan beberapa kekhawatiran bagi pihak pengurus Madin. Dilihat dari niat para sarjana yang menginginkan honor ketika menjadi guru/ ustadz/ ustadzah Madin saja sudah bermasalah. Dikhawatirkan dari niat yang bukan lillahi ta’ala ( karena Allah SWT ) maka ilmu – ilmu yang diajarkan menjadi kurang berkah.

Melihat fenomena tersebut di atas, Pengurus Madin harus lebih jeli dan teliti lagi dalam menerima tenaga pendidik. Pengurus harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :

  • Ikhlas lillahita’ala

Memang keikhlasan itu tidak dapat diukur, tetapi keikhlasan seseorang dapat terlihat dari sikap dan tingkah lakunya. Untuk mengetahuinya dapat juga mengajukan beberapa pertanyaan yang menyinggung dengan keikhlasan.

  • Ilmu keagamaannya

Karena di Madin hal-hal yang diajarkan adalah ilmu Agama Islam. Maka pilihlah calon ustadz/ ustadzah yang menguasai ilmu Agama islam. Lebih baik lagi jika sudah pernah mondok. Hal itu menjadi nilai plus tersendiri. Walaupun bukan sarjana, ilmu-ilmu yang di dapat di pondok lebih tepat untuk disalurkan kepada santri – santri Madin.

  • Sarjana Pendidikan Islam

Setidaknya sarjana lulusan Kampus yang bernuansa Islam pasti sedikit banyak mendapat materi-materi tentang pendidikan Islam. Bahkan di Kampus tertentu ada yang mewajibkan mahasiswanya untuk tes BTA ( Baca Tulis Al-Qur’an ) dan PPI ( Praktek Pengamalan Ibadah ), hal ini dapat mempermudah pihak pengurus untuk mengetahui kemampuan BTA PPI calon ustadz – ustadzah.

Kita semua berharap semua ustadz – ustadzah Madin adalah orang yang benar – benar ikhlas lillahita’ala untuk mengajarkan ilmu – ilmu Agama Islam yang sesuai dengan pedoman umat Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dan dapat mencetak generasi penerus Islam yang berakhlak mulia, berprestasi, dan dapat melindungi bangsa dari ancaman para teroris dan pemecah belah umat Islam. Aamiin…

Tinggalkan komentar