Toga Sarjana dilepas Selamat datang “Pengangguran” Baru

Toga Sarjana dilepas Selamat datang “Pengangguran” Baru – Saya tergelitik sebuah treat sahabat di facebook, begini : Toga Sarjana di lepas… “Selamat datang Sarjana Pengangguran Baru”…sadar atau tidak Realitas 1 : 100.

Empat tahun lebih berkutat dengan akademik, yah, mungkin hal tersebut di alami oleh para sarjana yang sesungguhnya. Bukan sarjana instan yang datang ketika wisuda atau bayaran. Kini banyak sekali gelar sarjana abal-abal. Artikel ini saya khususkan untuk Anda sarjana pengangguran.

Realitanya, gelar sarjana bukan lagi gelar prestisius. Devinisi prestis seolah luntur seiring perkembangan zaman. Kini sarjana seolah menjadi hal biasa yang kadang menjadi “sampah” baru negeri ini.

Anda lulusan sarjana ? Saya ucapkan selamat datang “pengangguran” baru !

Baik, sebelum kita masuk pada inti tulisan (Sarjana Pengangguran), saya ingin sampaikan data-data nyata dari berbagai sumber terkait Sarjana, Lowongan pekerjaan, Pengangguran terdidik serta perbandingan ke tiganya.

Data BPS tahun 2015

Pada tahun 2015, tepatnya februari 2015, BPS ( Badan Pusat Statistik) mencatat ada 400 ribu sarjana baru lulus dari kampusnya dan berstatus pengangguran.

Sarjana Pengangguran

BPS juga mencatat, ada total 7,4 juta pengangguran terbuka per Februari 2015, atau sekitar 5,34 persen total. Ironisnya, kenaikan tersebut sebagian disebabkan sarjana yang lulus lalu menganggur. Sungguh kondisi ini mengkhawatirkan. Terlebih, Indonesia akan mulai memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Artinya apa? Sarjana Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama anak bangsa saja, akan tetapi bersaing dengan bangsa asing.

Bagaimana dengan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya? untuk tahun ini, BPS belum mengeluarkan data terkait jumlah sarjana baru dan jumlah pengangguran, namun bisa kita prediksi, tidak akan jauh-jauh dari data tahun-tahun sebelumnya, kenapa? Karena hal yang paling fundamental yaitu perekonomian bangsa ini masih begini-begini saja.

* Update Tahun 2016

Laporan badan pusat statistik (BPS) tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2016 tercatat sebesar 5,5 persen. Ini berarti dari 100 angkatan kerja ada sekitar sekitar lima hingga enam orang penganggur.

Jika dibandingkan dengan kondisi periode sebelumnya yaitu pada Februari 2015, TPT mengalami penurunan sebesar 0,31 persen. Meski demikian, TPT untuk lulusan universitas atau sarjana (S1) justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Terdata tingkat pengangguran terdidik lulusan Sarjana meningkat dari 5,34 persen pada Februari 2015 naik menjadi 6,22 persen di Februari 2016.

Apa itu TPT, ?

Di ambil dari Badan pusat statistik, TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka) merupakan persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja. Pekerja Tidak Penuh adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu).

Cara menghitungnya :

Rumus menghitung Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Ada tiga penyebab utama kenapa sarjana menjadi kaum pengangguran

#1 Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah

Jika kita merujuk pada pertumbuhan ekonomi di tahun 2015, maka Indonesia di hadapkan pada data-data sep[erti berikut :

Melihat rumus yang berlaku secara internasional terkait tingkat pengangguran, tingkat pengangguran di Indonesia sebenarnya hanya 5.81%. Jika bandingkan dengan negara maju seperti Perancis 9% dan Spanyol lebih menakutkan yaitu 23%. Masalah adalah pada jumlah penduduk Indonesia dan penduduk luar wilayahnya. Logikanya, 10% dari 100 akan lebih kecil jika di bandingkan dengan 5% dari 1000. Jadi semakin banyak Sarjana Pengangguran yang akan tercipta.

Dari sisi ekonomi, ada rumusan lain bagaimana sebuah negara berada pada posisi angka pengangguran ideal (yaitu 2-3 persen). Untuk di angka itu, sebuah negara harus bisa tumbuh ekonominya di kisaran 8 sampai 10 persen. Hingga saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya di angka rata-rata 4 – 5 % saja.

Lalu apa dampaknya bagi tenaga pekerja ?

Pertumbuhan ekonomi lambat, pembangunan sektor industri yang membutuhkan pekerja jelas akan melambat. Nah, maka tenaga seperti sarjana dan sejenisnya mau berkerja apa ?

#2 Ada istilah Sarjana berfikir terlalu maju, Makanya menjadi pengangguran

Sarjana menggangur lebih banyak ketimbang lulusan SMK/SMA yang menganggur. Data yang sungguh aneh di negeri ini. Artinya apa?, lulusan SMK/SMA lebih banyak diserap oleh sektor industri dari pada lulusan sarjana.

Mengapa bisa begitu?

Mayoritas sektor industri di Indonesia tidak membutuhkan tenaga yang terlalu pintar. Ada dua hal, pertama karena Indonesia masih menjadi negara berkembang, kedua tenaga yang terlalu pintar menuntut banyak hal, terutama gaji.

#3 Terlalu Banyak Lulusan Sosial

Salah satu penyebabnya adalah sebagian perguruan tinggi di Indonesia memiliki fakultas ekonomi dan hukum. Padahal kebutuhan lulusan dari kedua fakultas ini tidak terlalu besar. Terlalu banyak suplai alias over supply lulusan sosial.

Sebaliknya, Indonesia minim lulusan Teknik, Masih ada ratusan ribu kilometer jalan raya dan ribuan megawat listrik yang butuh untuk dibangun. Tidak mungkin kan lulusan sarjana sastra atau lulusan hukum membangun jalan tol dan menciptakan infrastruktur tersebut.

Penelitian yang dilakukan World Bank memberitahu kita bahwa jumlah sarjana teknik pada sebuah negara berbanding lurus dengan kemajuan negara tersebut. Lihatlah Jepang, Korea, Cina, India. Persentase lulusan teknik di negara-negara ini sangat tinggi.

Suka tidak suka, mau tidak mau, inilah kondisi negeri ini. Ada 100 sarjana bersaing untuk memperebutkan 1 pekerjaan, peluang hanya 1%. Jadi mulailah tinggalkan pikian menjadi pekerja. Dengan kondisi tersebut wahai para sarjana, ciptakan lapangan kerja sendiri dengan berwirausaha.

Kita balikan istilah “Toga Sarjana di Lepas Selamat datang “Pengangguran” Baru” menjadi, “Toga Sarjana di Lepas, Selamat datang wirausahawan baru”.

#4. Kalian Nganggur? Pasti kamu sarjana dengan mental Karyawan ?

Selepas toga sarjana di lepas, anda akan masuk pada fase dunia nyata. Dimana sarjana-sarjana ini akan dituntut oleh lingkunganya  dengan pertanyaan ;

apa kemampuan kamu?

Ko masih nganggur?

Kamu udah sarjana lho?

kamu bekerja di mana?

dan kamu terjebak dengan lingkungan dan tuntutan bahwa menset “harus bekerja dan menjadi karyawan”, sudah terbiasa hidup nyaman menjadi mahasiswa dengan idealismenya, tiba-tiba jatuh menjadi pengangguran tanpa penghasilan. akhirnya kreatifitas tertekan sampai di titik nadir.

Terbawa suasana bahwa kamu harus bekerja dan mencari kerja, padahal kamu bisa buka usaha dan mendedikasikan kemampuan kamu untuk membuka lowongan pekerjaan.

Kamu akan menjadi bos dalam pekerjaan kamu sendiri, tidak perlu menjadi sarjana pengangguran

Baca : Merintis Usaha Sukses

Semoga bermanfaat.

4 thoughts on “Toga Sarjana dilepas Selamat datang “Pengangguran” Baru

  1. Solusi Solidaritas

    Itu terjadi karena tidak ada wadah pemberdayaan aspiratif yang memfasilitasinya apakah itu dari pemerintah, swasta atau ngo, maka ada peran kita untuk berjuang menghadirkannya.

    Reply
    1. Tohir

      Banyak faktor yang harus di benahi, nyatanya politik, ekonomi budaya bahkan sampai mental pribadi masing-masing secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi hal-hal terkait di atas…

      salam..

      Reply
  2. vido

    Kita balikan istilah “Toga Sarjana di Lepas Selamat datang “Pengangguran” Baru” menjadi, “Toga Sarjana di Lepas, Selamat datang wirausahawan baru”.

    Saya tertarik dengan kalimat itu, karena menimbulkan pertanyaan baru. Yaitu lalu buat apa kita kuliah bertahun2 kalo hanya akan menjadi wirausaha, mengapa tidak sejak lulus sma saja kita langsung membuka usaha baru?

    Reply
    1. Agus Prasetio

      Mungkin karena semua butuh proses mas? namun apapun itu kenyataan sekarang banyak sarjana yang bingung mencari kerja?

      Reply

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !