Artikel, Travel

Seduhan Teh Hangat dari Tegal: Moci

Seduhan Teh Hangat dari Tegal: Moci – Moci yang saya maksud disini bukanlah sebuah jajanan dari Bandung dan sekitarnya yang terbuat dari tepung aci yang dibalut dengan bubuk putih berasa manis serta dibungkus dengan kotak kecil terbuat dari anyaman bambu. Bukan itu yang saya maksud. Moci disini adalah sebuah tradisi minum teh yang dihidangkan dengan seperangkat poci/teko/ketel yang terbuat dari tanah. Tradisi ini bisa ditemukan di Tegal. Tradisi yang hangat sekaligus unik. Kenapa? Karena ada juga tradisi yang bertema tentang poci, yaitu acara mantu poci.

Sebenarnya, tradisi minum teh sudah melegenda di berbagai negera. Sebagai contoh Jepang. Pada abad ke-12, teh sudah mulai dikenal di Jepang dengan teh matcha-nya (teh hijau). Yang unik adalah ritual untuk meminum teh di Jepang diawali dengan upacara yang berlangsung selama 4 jam. Entah kenapa sampai sebegitu lamanya hanya untuk meminum teh. Namun, diyakini bahwa upacara yang lama tersebut mempunyai makna dan filosofi yang dalam. Filosofi upacara minum teh tersebut terjaga hingga kini. Bila kamu datang ke Jepang silakan mencoba.

Berbeda dengan Jepang. Negara dimana Paman Lenin pernah berkuasa yaitu Rusia, teh disajikan dalam gelas zavarka dengan ketel samovar. Ritualnya tidak selama di Jepang. Orang yang akan meminum teh, cukup duduk melingkari meja dengan zavarka dan ketel samovar berada di tengahnya. Bayangkan kalau kamu sedang menikmati suasana seperti itu pada saat musim dingin. Ditambah segelas wine/anggur dan setumpuk roti gandum. Apalagi ditemani sang kekasih.  Brrr…. musim dingin berasa jadi musim panas.

Bundaran Tugu Poci
Bundaran Tugu Poci

Lain halnya dengan Irak. Negara yang pernah menjadi pusat peradaban Islam tersebut juga punya tradisi minum teh. Tradisi tersebut digunakan sebagai ajang untuk mengikat keakraban keluarga. Sembari sore datang, teh dihidangkan di tengah meja dengan sejumput kue. Sambil menunggu masa kejayaan Islam datang kembali. Cina, Belanda, Italia, dan negara lain juga punya tradisi minum teh yang khas. Namun, saya tidak ingin menuliskannya lebih jauh. Lebih baik, kamu mengunjungi negara-negara yang saya sebutkan di atas untuk merasakan sendiri bagaimana tradisi itu berlangsung.

Itu secuil kisah menyeduh teh di berbagai negara. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?. Jangan khawatir. Beberapa daerah di Indonesia juga dikenal dengan tradisi minum teh-nya. Salah satu di antaranya adalah Tegal. Pertama, perangkat minum teh yang digunakan terbuat dari tanah liat. Orang-orang menyebutnya sebagai poci. Menurut kepercayaan orang Tegal sendiri, semakin tua poci yang digunakan, maka seduhan teh yang dihasilkan semakin mantap. Seduhan teh yang mantap itu seperti apa?. yaitu Wasgitel. Kependekan dari Wangi Sepet Legi Kentel. Yang artinya, teh Tegal punya ciri wangi, sepat (tidak terlalu pahit, tidak terlalu hambar), manis dan kental.

Baca juga : 5 destinasi wisata di Banyumas

Aroma wangi karena teh telah tercampur dengan bunga melati. Rasa sepat berasal dari komposisi teh yang tidak hanya berasal daun teh saja, namun tangkai daun teh juga ikut diolah. Maka, cita rasa yang dihasilkan adalah sedikit pahit tetapi tidak hambar. Manis dan kental berasal dari gula batu. Biasanya, orang-orang yang membuat minuman teh akan menambahkan gula pasir agar manis. Berbeda dengan moci Tegal. Sumber manis yang dihasilkan berasal dari gula batu. Inilah yang membedakan moci Tegal dengan minuman teh yang lain. Ditambah, ketika gula batu lama-lama mencair layaknya sebuah balok es, maka air teh akan mengental. Proses pengentalan terjadi karena penambahan volume cairan gula batu yang awalnya adalah benda padat. Perpaduan kedua-nya itu yang membuat moci berasa kental dan manis.

Hampir semua warung-warung makan di Tegal, sponsor yang ikut tertulis di papan menu makanan yang terpampang di dinding warung adalah merek sebuah teh. Entah dari pabrik teh gopek, cap poci, 2 tang, tong tji, dll. (maaf nyebut merek.hehehe…). Namun, para pemodal teh tersebut secara tidak langung juga ikut menghidupi warung dengan menyuplai teh dan tradisi moci itu sendiri. Kalau berbicara dari sisi sosial, moci adalah ajang kumpul-kumpul dan silaturahim bagi orang-orang Tegal. Setidaknya menurut saya, tradisi moci ini bermanfaat karena saling mengakrabkan satu sama lain. Orang-orang Tegal yang gemar ndopok (ngobrol) difasilitasi dengan kehadiran seduhan teh di tengahnya. Duduk lesehan sambil melingkar, mulai dari obrolan ngalor ngidul, kisah asmara, sampai dengan obrolan politik.

Sisi sosial yang lain adalah tradisi nyangking gula teh yang sangat jamak ditemukan di kehidupan masyarakat Tegal. Biasanya, orang yang akan bertamu untuk sesuatu hal yang penting selalu membawa gula dan teh. Mungkin, dari pandangan saya adalah hal semacam ini bisa diartikan sebagai wujud rasa berbagi kepada sesama. Atau lebih luas lagi bisa diartikan sebagai rasa gotong royong.

Namun, dibalik pemaknaan yang saya bilang cukup berlebihan di atas, ada sebuah paradoks yang terjadi. Di tengah masyarakat kita yang gemar mengkonsumsi teh, ternyata teh yang kita konsumsi adalah teh kualitas nomor sekian. Bukan teh kualitas nomor 1. Teh kualitas nomor 1 untuk di ekspor. Tetapi tidak masalah, toh masyarakat kita juga sudah terbiasa dengan “produk ampas” kan?!. Hehehe……

Moci atau tradisi minum teh sudah lekat dengan Tegal. Tradisi yang hangat, sehangat seduhan teh, bukan sehangat pelukan kekasih. Tulisan ini bukan untuk membanggakan daerah sendiri atau menunjukkan primordialisme. Tulisan ini hanya sebagai perwujudan bahwa saya sedang rindu kampung halaman. Karena saya dilahirkan di tengah belantara Tegal. Oh, God !. Jadi, apabila kamu kebetulan mampir di Tegal, jangan lupa untuk menikmati moci khas Tegal dan jangan lupa juga ditemani sang kekasih dan tahu aci.

Baca juga: Sungai Gung dan Ki gede Sebayu: Cerita singkat dari Tegal

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !