SEJARAH DINASTI GHAZNAWIYAH

DINASTI GHAZNAWIYAH

A. Sejarah Berdiri
Dinasti ghaznawiyah berkuasa pada tahun 366-582 H/976-1182 M di Afghanistan dan Punjab. Pendiri Dinasti Ghaznawiyah adalah Subuktigin. Ketika itu, pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang ke dua puluh empat. Terbentuknya dinasti Ghaznawiyah berawal dari Amir Dinasti Samaniyah yang menguasai wilayah Asia Tengah yaitu yang bernama Abd al-Malik ibn Nuh (343-350H/954-961M) yang membeli seorang budak bernama Alptagin. Pada mulanya ia hanya seorang budak belian, kemudian ia sampai diangkat menjadi kepala pegawai istana dan karirnya terus menanjak sampai ia diangkat menjadi wali di wilayah Khurusan.
Alptagin mengalami pemecatan oleh Amir yang baru yaitu Manshur ibn Nuh setelah amir yang lama, Abd al-Malik ibn Nuh setelah amir yang lama, Abd al-Malik ibn Nuh wafat. Kemudian ia pergi ke Afganistan beserta tentaranya dan menetap di kota Ghaznah. Kota ini terletak di sebelah selatan kota Kabul. Alptagin membentuk pemerintahan di Ghaza pada tahun 350 H/961 M. Setelah Alptagin wafat, kepemimpinan diteruskan oleh anaknya bernama Abu Ishaq ibn Alptagin. Abu Ishaq mempunyai seorang budak yang kemudian menjadi menantunya bernama Subuktigin. Setelah Abu Ishaq wafat, kemudian digantikan oleh Subuktigin. Subuktigin inilah yang membentuk Dinasti Ghaznawiyah setelah tampuk kekuasaan di limpahkan kepadanya.
B. Raja-raja yang Berkuasa
Raja-raja yang berkuasa antara lain:
1. Subuktigin (366-387 H/976-997 M)
2. Ismail ibn Subuktigin (997-999 M)
3. Mahmud ibn Subuktigin (999-1030 M)
        Ia mendapatkan gelar dari al-Qadir (khalifah Abbasiyah ke-25) yaitu Yamin al-Daulah 
        (Right of the State), karena keberhasilannya dalam memimpin dinasti ini.
4. Muhammad ibn Mahmud
5. Mas’ud ibn Mahmud
6. Maudud ibn Mas’ud
7. Ibrahim (451H/1059M)
8. Bahram Syah ibn Mas’ud (512H/1118 M)
9. Khursaw Syah ibn Bahram (547 H/1152 M)
10. Khursaw Malik
C. Masa Kejayaan dan Hasil Peradaban
Dinasti Ghaznawiyah mencapai masa kejayaan pada pemerintahan Mahmud Ghaznawi ibn Subuktigin (999-1030M). Hasil peradabannya antara lain:
Bidang ilmu pengetahuan. Di samping ilmu pengetahuan, bidang yang lain juga mengalami kemajuan yang pesat; kebudayaan, kesusastraan, kesenian, dan arsitektur. Ghazna pada waktu itu menjadi pusat perhatian para ulama dan cendikiawan. Misalnya Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni, seorang ahli astronomi dan matematika. Ilmuwan yang lain: al-Firdausi, seorang penyair dan arsitek dan seni lainnya. Beberapa ilmuwan lain: penulis sejarah (ibn al-Arraqi, ibn al-Khammar, al-Marasyi, al-Utby, dan al-Baihaqi), penyair bahasa Persi (Al-Furrakhi, al-Asyadi), dan penyair Arab (Badi’ al-Zaman al-Hamdani)
Bidang Teritorial. Mahmud berhasil melakukan ekspansi ke arah selatan sampai Somnath dekat laut Arabia. Sedangkan ke arah timur, ia mengusai Kalinjar, lembah sungai Gangga. Di sebelah utara, ia menjadikan Oxus sebagai tapal batasnya dengan Qarakhaniyyah, dan di sebelah barat, ia mempertahankan Khurasan terhadap serangan Qarakhaniyah. Mahmud juga berhasil merebut wilayah Ray dan Hamdan dari tangan dinasti Buwaihiyah pada tahun 420 H/1029 M. Wilayah Ghaznawiyah meliputi Iran bagian timur, Afganistan, Pakistan, dan beberapa wilayah di India.
Bidang Pembangunan. Mahmud membangun istana di Afghan, Shal, taman Sad Hasan, istana Fauzi, masjid Arus al-Falah, sekolah, dan perpustakaan. Masjid Arus al-Falah merupakan masjid yang megah dan indah di Ghazna. Selain itu, ia juga membangun kandang besar berkapasitas 1000 ekor binatang. Mas’ud ibn Muhmud membangun masjid megah yang dirancang sendiri pada tahun 1035-1036 M.
D. Masa Kehancuran
Kemunduran dinasti Ghaznawiyah dimulai ketika Mahmud ibn Subuktigin wafat pada tahun 421 H/1030M. Penerusnya yaitu anaknya sendiri yang bernama Muhammad. Ia berusaha mengembalikan kejayaan dinasti Ghaznawiyah namun tidak berhasil. Penerusnya ini tidak mampu menjaga stabilitas dalam negeri dan serangan dari luar. Hal ini diperparah dengan terjadinya pertikaian antara generasi penerus selanjutnya. Muhammad ibn Mahmud bertikai dengan saudaranya Mas’ud karena perbedaan kepentingan. Pertikaian ini dimenangkan oleh Mas’ud dengan dukungan militer dan kemudian berkuasa. Pemerintahan dan kepemimpinannya tidaklah berjalan dengan baik. Keadaan malah menjadi tidak aman. Situasi politik yang demikian ini kemudian dimanfaatkan oleh Bani Saljuk untuk menguasai Khurasan dan Khawarazm.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan kemunduran adalah terjadinya perebutan kekayaan antara anggota kerajaan. Hal ini terjadi setelah Mudud ibn Mas’ud menjabat kepentingan dinasti. Stabiltas negara menjadi lemah dan buruk. Hal ini menjadikan seringnya terjadi pergantian penguasa.selain itu, mereka disibukkan peperangan melawan Bani Saljuk di Sisjistan dan Afganistan Barat. Sedangkan di bagian lain juga direbut oleh dinasti Guriyah. Akhirnya penguasa hanya memerintah di Punjab yang lama kelamaan juga menyerahkan kekuasaan kepada Dinasti Guriyah.
Dinasti Ghaznawi sama sekali tidak berbeda dengan kekuasaan Samaniyah dan Saffariyah, Ghaznawi tidak ditopang dengan angkatan bersenjata, maka semuanya segera menemui kehancuran. Wilayah-wilayah kekuasaan di sebelah timur berangsur-angsur memisahkan diri dan muncullah dinasti-dinasti muslim independent, di utara dan barat seperti Dinasti Khan dari Turkistan dan Saljuk dari Persia.
Loading...
About Tohir 849 Articles
Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*