Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia – Bukan uang yang utama, tapi nilai-nilai luhur dan pengalaman pengabdian pada bangsa dan negara merupakan sebuah kebanggaan. Berguna bagi bangsa dan sesama, dikenang karena pengabdian dan totalitasnya, menjadi pelaku dalam perubahan bangsa merupakan tujuanku. Memulai dari diri sendiri untuk mengabdi, lalu bercita-cita menjadi contoh generasi-generasi selanjutnya.

Mari kobarkan semangat perjuangan, dedikasikan ilmu dan pengalaman kita untuk bangsa dan negara Indonesia. Mari jadikan batas terluar negara dijamah pembangunan. Lalu ajarkan dan ceritakan besarnya Indonesia untuk membangun nasionalisme masyarakat perbatasan.

Jargon “Ayo bercita-cita mengabdi di perbatasan”.

Ikut membantu masyarakat yang belum terjamah kesehatan dan pendidikan. Kalimantan dan Papua, saya bermimpi ketanahmu mengabdikan segenap ilmu dan kemampuanku.

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Kami Juga Indonesia

Kemajuan Indonesia akhir-akhir ini mulai bergeliat. Pertumbuhan ekonomi selama 8 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pertumbuhan di atas 6% yang ditargetkan pemerintah dalam RAPBN mencapai target menggembirakan. Pertumbuhan tersebut berdampak pada pembangunan berjenjang di kota-kota besar dan rasa iri di daerah tertinggal.

Pendapatan perkapital warganya mengalami lonjakan namun perbatasan tidak sepeserpun kebagian. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling dilirik investor asing untuk menanamkan modal jutaan dolar, tapi perbatasan hanya dilempar receh yang hanyut di tengah perjalanan. Indonesia sedang menuju pembangunan, namun perbatasan hanya mendengarkan.

Hasil pembangunan diharapkan terasa sampai ke tingkat desa-desa. Salah satu Contoh desaku, Desa Kalitapen, Purwojati, Banyumas, Jawa Tengah. Dana lebih dari 1 milyar rupiah dikucurkan untuk pembangunan pasar. Meskipun baru beberapa bulan diresmikan. Namun dampaknya sudah mulai terlihat.

Sejak itu perekonomian desa kami mulai membaik. Lowongan pekerjaan baru terbuka. Arus perputaran uang mampu dimanfaatkan benar oleh sebagian besar warganya. Banyak warga yang tadinya merantau kini pulang ke kampung halaman. Mereka ikut menikmati hasil pembangunan. Tapi bagaimana di daerah terpencil perbatasan?.

“Indonesia sedang menuju perubahan”.

Sebuah kalimat sederhana muncul dalam perdebatan masyarakat. Kalimat ini muncul sebagai harapan dari kemajuan yang terlihat, atau hanya ejekan sederhana para pengkritisi pemerintah. Sila ke-2 dan ke-5 dalam Pancasila menyebutkan “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Kedua sila sudah kita perjuangkan sejak 68 tahun yang lalu. Pertanyaanya apakah sila ke dua dan ke lima telah menemui tujuannya sekarang??

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Kita Bineka Tunggal Ika

Masyarakat semakin terdidik oleh informasi dan pengetahuan. Hal ini berdampak pada perilaku warganya. Kebiasaan hidup mewah dan berkecukupan dirasakan golongan menengah ke atas. Sementara untuk golongan menengah ke bawah cita-cita tersebut masih di alam bawah sadar. Sukses dan berkecukupan adalah target setiap masyarakat negeri ini. Anak-anak merekapun diprogramkan untuk sukses. Menjadi sukses merupakan mimpi setiap manusia. Bahkan manusia perbatasan. Mereka menjerit untuk makan dan kesehatan. Boro-boro berfikir tentang pendidikan.  Siapa yang mendengar, siapa yang perduli, dan siapa yang salah?.

Di tengah kemajuan dan perubahan ada beberapa hal yang terlupakan, termasuk daerah perbatasan. Salah satunya lupa menanamkan pada diri setiap anak bangsa sebuah semangat nasionalisme dan patriotisme. Semangat untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Merasa bangga menjadi Indonesia dan rasa cinta terhadap tanah air. Indonesia lupa, atau sistem pendidikan yang tidak peka dengan nilai-nilai tersebut.

Sekarang, kebanyakan anak-anak didorong oleh orang tua mereka untuk menjadi dokter, sarjana atau pengusaha. Harapan mereka adalah hidup nyaman dan berkecukupan. Mentalitas yang didapat pun hanya sebatas sukses materi semata.

Menurunya nilai-nilai kepekaan terhadap lingkungan, lalu merosotnya budaya gotong-royong serta berkurangnya rasa toleransi dan saling membantu antar sesama merupakan hal yang harus dibenahi bangsa ini. Untuk mewujudkan bunyi sila ke dua dan ke lima perlu adanya peran dari seluruh lapisan masyarakat. Mari mengajarkan nilai kecintaan dan pengabdian terhadap negara sejak dini. Peran pemerintah dalam membuat program-program untuk mewujudkan sila ke-2 dan sila ke-5 sangat dibutuhkan.

Saya seorang mahasiswa disebuah Universitas Negeri di Purwokerto. Rasa bangga menjadi Indonesia terpupuk sejak saya kecil. Pertama kali saya mengenal Indonesia dari  peta di tembok sekolah dasar. Saya dijelaskan oleh guru tentang Indonesia dari Sabang sampai Marauke, dari kerajaan Pasai sampai Ternate. Dari situ rasa cinta dan bangga menjadi Indonesia mendasari setiap pemikiran. Fanatisme ini berlanjut, dimulai dari ketidaksengajaan mengkopi sebuah filem dari Kaset CD berjudul” Tanah Surga Katanya”. Dari situ saya semakin tergerak ingin mengabdi di perbatasan dan membantu masyarakat di sana. Melihat mewahnya Jakarta yang kontras dengan keadaan perbatasan, seharusnya membuat kita sebagai Indonesia merinding dan malu, kenyataanya Garuda Pancasila belum menjaga setiap bulunya.

Mengabdi di perbatasan Indonesia dengan Malaysia di pulau Kalimantan

Karena banyaknya titik perbatasan Indonesia Malaysia, maka hanya beberapa yang akan saya kemukakan. Daerah-daerah ini sangat membutuhkan perhatian pemerintah dan peran pemuda bangsa yang perduli perbatasan. Informasi ini saya dapat dari beberapa situs online dan jurnal.

Kecamatan Puring Kencana merupakan sebuah daerah di Kalimantan Barat. Sebelum menuju ke kecamatan tersebut terlebih dahulu akan melewati jalan yang menghubungkan Kecamatan Badau dan Kecamatan Ampanang. Perjalanan menuju Kecamatan Puring akan disuguhi pohon-pohon kelapa sawit di kanan kiri jalan. Kondisi kecamatan ini sangat memperihatinkan.

Jalan disana belum diaspal, tidak ada jembatan penghubung antar satu daerah ke daerah lain sehingga mereka terisolasi. Belum ada aliran listrik yang mengalir di daerah tersebut. Pendidikan dan kesehatan pun masih sangat minim. Jiwa nasionalisme masyarakatnya meragukan. Tidak adanya pasokan informasi membuat banyak warga di daerah ini bahkan tidak mengenal siapa Presiden Republik Indonesia saat ini.

Menuju ke timur, tepatnya di daerah Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ada lima desa yang terancam diklaim oleh Malaysia. Desa tersebut adalah Desa Labang, Logos, Ngawol, Simantipal dan Bulu Lawun Hilir. Tidak adanya perhatian serius dari pemerintah benar-benar dimanfaatkan oleh Malaysia untuk membangun fasilitas publik dan mengambil hati masyarakatnya. Jiwa nasionalisme warganya lama-lama bisa luntur dan memilih untuk pindah ke negara tetangga Malaysia.

Perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini di Pulau Papua

Dari Kalimantan, sekarang kita ke Pulau Papua. Tanah Papua yang indah dengan laut dan gunung-gunung menjulang akan membuat setiap mata berdecak kagum. Mutiara Hitam memang pantas disematkan pada tanah Papua. Secara geografis pulau ini berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. Mengunjungi Papua dan mengabdikan diri membantu masyarakatnya adalah mimpi besarku.

Desa Skow adalah salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Desa ini hanya dibatasi oleh pagar pembatas dengan Desa Wutung di sisi Papua Nugini. Seperti tanah Papua pada umumnya, desa ini menyuguhkan pemandangan yang cantik. Ini merupakan Sumber Daya Alam yang potensial dijadikan daerah wisata. Kurangnya Sumber Daya Manusia yang mendukung menjadikan kawasan ini seperti halnya daerah perbatasan-perbatasan lain di Indonesia. Semuanya serba minim. pendidikan, kesehatan bahkan barang-barang kebutuhan susah dan mahal.

Masih banyak daerah-daerah perbatasan yang lain yang butuh bantuan. Yang saya terangkan hanya beberapa contoh saja. Mereka seperti terasingkan dan terpinggirkan. Padahal daerah ini merupakan kulit terluar bangsa ini. Di sini peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Mimpi

Ratusan ribu sarjana lulus dari universitas setiap tahun, termasuk saya tahun beberapa tahun lalu. Namun hanya beberapa dari mereka yang mau mengabdi di perbatasan terluar Indonesia. Itupun dengan alasan susahnya mencari pekerjaan. Alasan umum lainya, kita tidak mau susah dan hidup menderita.

Mentalitas seperti ini terbentuk karena masyarakat semakin materialistis. Banyak pemuda yang menggaungkan cinta Indonesia, tapi mereka melempem saat diminta berbakti di perbatasan. Padahal ini saatnya pemuda berperan nyata dalam membangun Indonesia. Terutama sarjana-sarjana muda yang ilmu dan pengabdianya sangat dibutuhkan.

Program transmigrasi sudah dari dulu dilakukan oleh pemerintah. Namun, tidak ada perkembangan yang berarti. Ini dikarenakan tidak adanya sosok pionir yang punya ilmu untuk membangun daerah tersebut. Pada umumnya masyarakat yang ditransmigrasikan adalah masyarakat yang kurang mampu.

Mereka ditempatkan di daerah-daerah terpencil dan diharapkan mampu membangun daerah tersebut. Saya punya mimpi untuk mengabdi di daerah perbatasan. Membentuk sebuah komunitas peduli perbatasan. Anggotanya adalah masyarakat yang punya kemampuan dan ide-ide untuk mengembangkan perbatasan. Mereka yang benar-benar peduli dan mau membantu saudara-saudara kita yang ada di perbatasan.

Setidaknya kita benar-benar berperan nyata dalam membantu pemerintah mengembangkan daerah perbatasan. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk besar, potensi Sumber Daya Manusia kita sangat besar. Saya optimis kita akan menjadi negara besar dan mampu mewujudkan cita-cita luhur Pancasila dalam sila ke-2 dan sila ke-5.

Baca juga :

Pesan Penting

Sebuah negara  yang makmur adalah ketika  masyarakatnya merasa nyaman hidup dan merasa tercukupi kebutuhanya. Tapi bukan per individu saja, melainkan menjadi sebuah kesatuan bangsa. Yang sukses membantu yang miskin, yang berpendidikan membantu yang bodoh. Jangan tinggalkan nilai ketimuran kita sebagai bangsa yang berbudaya gotong-royong.

Untuk mewujudkan hal itu, peran pemerintah dan masyarakat sangat penting. Masyarakat harus mau turut serta dan berpartisipasi berbakti mewujudkannya. Kepekaan terhadap lingkungan, serta semangat nasionalisme harus digalakan. Mari kita wujudkan “Kemanusiaan yang adil dan beradab, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Salam Indonesia

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !