Semua Melalui Proses

semua melalui proses

Ondi nggak pernah belajar, bahkan saat sudah dekat ujian pun ia masih asyik tebar pesona di mall. Giliran ujian sudah tinggal satu 1 hari lagi baru ia pontang-panting belajar pakai SKS alias sistem kebut semalam. Pas pengumuman ujian, ternyata Ondi nggak lulus dan dengan entengnya, ia berkata, “Ini semua sudah takdir”.

Selama ini, banyak orang memahami takdir secara sepotong-sepotong, dengan beranggapan bahwa keberhasilan atau kegagalan seseorang semata-mata adalah takdir Tuhan. Tetapi, kita nggak boleh berpikir hanya sampe di situ. Sebelum mencapai keberhasilan atau ngalamin kegagalan, ada suatu proses yang mesti dilalui satu-persatu.

DI sinilah letak masalahnya. Banyak yang ngambil jalan pintas dalam berpikir, langsung menilai dan ngarepin hasilnya aja, tanpa memperhatikan proses yang harus dilalui. Di mana setiap proses yang dijalaninya itu juga memiliki takdir atau ketentuannya masing-masing. Itulah yang seharusnya “dibaca”, yaitu ‘takdir-takdir’ sebelum mencapai takdir keberhasilan atau takdir kegagalan yang sesungguhnya.

Pada setiap proses yang kamu lalui terdapat takdir atau ketetapan hukum Tuhan, di mana kamu berhak memilih setiap langkah untuk mencapai takdirmu. Contohnya ya si Ondi tadi, mau lulus ujian tapi la tidak menjalani proses belajar berarti ia tidak membaca ‘takdir-takdir pendahulu’ sebelum akhirnya menemui takdir final. Bagaimana mungkin ia bisa ditakdirkan lulus ujian kalau ia tak belajar dengan sungguh-sungguh.

semua melalui proses

Itulah yang sebenarnya menyebabkan kegagalan atau keberhasilan, yang merupakan konsekwensi dari sebuah pilihan. Jangan menyalahkan Tuhan. Memang, adakalanya kamu sudah merasa berusaha “maksimal”, namun masih gagal juga. Itu berarti kamu belum melaksanakannya dengan benar, atau masih ada hal yang kurang atau harus punya strategi lain untuk mencapai apa yang kamu inginkan.

Salah seorang filosof Yunani kuno pernah berkata, “Pertama-tama katakan pada dirimu sendiri: Kamu akan menjadi apa, kemudian lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan pada akhirnya semua tergantung padamu”.

Kamu tau mobil VW atau Volks Wagen kan? pasti tau dong. Coba dari mana asalnya? yap, VW berasal dari Jerman yang artinya mobil rakyat. Mobil VW itu sangat laris di negerinya, sehingga salah satu industri mobil Indonesia ingin mencoba membuat juga mobil seperti VW tapi dengan nama baru, yaitu MR atau mobil rakyat dan di jual dengan harga yang sangat murah.

Setelah semua rencana dan upaya telah dilakukan, ternyata mobil VW ala Indonesia alias MR tak laris di pasaran. Mengapa? Karena beda budaya. Apabila orang Jerman membeli mobil, maka tujuannya adalah untuk berkendaraan, kalau kita tujuannya adalah untuk ngegaya dan “prestise”. Nah, kebayang dong, betapa nggak pas nama “Mobil Rakyat” atau MR di Indonesia karena dengan nama itu maka bukan hanya nggak bisa bergaya tapi juga menurunkan prestise sehingga akhirnya mereka nggak mau naik mobil rakyat.

Lalu, apanya yang salah? terlepas dari perbedaan budaya antara orang Jerman dan orang Indonesia. Mari kita lihat dari konsep berpikir melingkar atau 99 thinking Hat yang bersumber dad sifat-sifat Allah Asmaul Husna. Allah itu sifatnya Maha Menghitung (Al Muhsiy), tetapi juga Maha Mulia (Al Kariim) dan Maha Tinggi (Al ‘Aliyy). Mengapa MR tak laku walaupun harganya murah karena tak berpikir dari ski yang lain, yaitu orang ingin kelihatan mulia dan tinggi prestisiusnya. Seandainya saja mereka berpikir melingkar dan mendengar serta melaksanakan dorongan suara hati yang bersumber dari 99 sifat Allah, mungkin kegagalan itu tak kan terjadi.

Konsep takdir yang berbunyi, “Apabila seseorang tidak memenuhi keinginan orang lain untuk menjadi terhormat dan untuk menjadi mulia, maka la tidak akan memperoleh suatu balasan berupa dukungan dan orang lain meski telah memberi harga yang murah,” adalah bukti bahwa segala sesuatu diciptakan Allah berpasang-pasangan dan sesuai dengan neraca keadilanNya. Inilah contoh Prinsip Ke-Esa-an Allah (99 Thinking Hat).

Ini membuktikan bahwa kegagalan yang terjadi bukanlah karena kesalahan Tuhan, tetapi kesalahan kita sendiri yang mungkin kurang mempelajari Alquran yang berisikan seluruh keinginan manusia, dan mungkin juga tidak melakukan iqra’ (membaca dan menganalisa) terhadap lingkungan sekitar secara baik dan menyeluruh seperti yang telah diperintahkanNya.

Loading...
About Tohir 839 Articles

Kalo satu lidi bisa patah dengan mudah, tapi seratus lidi yang bersatu akan sangat susah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*