Seputar Virologi : Tanya Jawab

1. Mengapa bakteriofag dapat membentuk zona jernih pada media pertumbuhan?

Jawab :

Bakteriofag yang membentuk plaque pada media pertumbuhan merupakan bakteriofag dengan fase litik atau virulen virus. Bakteriofag ini memiliki enzim lisozim yang dapat merusak dinding sel inangnya. Perusakan dinding sel bakteri ini merupakan jalan bagi virus untuk memasukkan genomnya ke dalam sel bakteri, virus mensintesis komponen-komponen yang dibutuhkan di dalam sel bakteri, termasuk enzim lisozim, menggunakan sistem metabolisme dari inang. Enzim lisozim yang terbentuk berguna untuk menghidrolisis dinding sel bakteri ketika terjadi fase litik. Fase litik sel bakteri dalam media ditandai dengan terbentuknya plaque atau zona jernih dengan bentuk lingkaran-lingkaran yang konsisten. Menurut Buana dan Wardani (2014), plaque terbentuk akibat difusi keluar oleh virion yang berkembang akibat infeksi bakteri. Plaque dapat terbentuk pada sampel diakibatkan keberadaan bakteriofag yang tinggi. Semakin banyak jumlah plaque yang teramati, maka semakin tinggi pula konsentrasi bakteriofag di dalam sampel.

Buana, E. O. G. H. N., dan Wardani, A. K.  2014.  Isolasi Bakteriofag Litik Sebagai Agen Biosanitasi Pada Proses Pelisisan Bakteri Pembentuk Biofilm. Jurnal Pangan Dan Agroindustri Vol.2 (2) : 36-42.

Seputar Virologi : Tanya Jawab

2. Mengapa virus tumbuhan menyerang tanaman harus dengan adanya mekanisme pelukaan?

Jawab :

Virus tumbuhan tidak memiliki alat penetrasi dan juga enzim lisozim yang dapat menghancurkan dinding sel inang sehingga untuk dapat menginfeksi sel inangnya, harus diperantarai oleh jalur masuk yang berupa luka pada sel inangnya. Luka pada jaringan tumbuhan dapat terjadi karena aktivitas manusia dan vektor seperti serangga pemakan tumbuhan. Virus yang berhasil masuk ke dalam sel inang akan bereplikasi di dalam nukleus dan bergerak dari sel ke sel melalui plasmodesmata. Selanjutnya tidak hanya virion dari hasil replikasi yang bergerak dari sel ke sel dan masuk ke dalam floem, namun juga coat protein (CP) dan movement protein (MP) berperan dalam penyebaran virus ke dalam tubuh tanaman. Coat protein dan movement protein bergerak melalui retikulum endoplasma menuju ke viral assembly site (VAS) sebelum masuk ke dalam floem dan bergerak bersama aliran di dalam floem ke seluruh tubuh tumbuhan (Eastop, 1977). Menurut Dawson, W. (1999), untuk dapat menginfeksi tanaman secara sistematis, virus harus dapat (1) masuk ke dalam jaringan yang sesuai; (2) melakukan replikasi; (3) bergerak ke sel-sel terdekat/sel tetangga; (4) memasuki sel tersebut; (5) dapat pindah ke dalam floem dan kemudian mengulangi langkah (2) dan (3).

Dawson W., 1999. Tobacco Mosaic Virus Virulence And Avirulence. Phil. Trans.Vol 354 : 645-651. The Royal Society, London.

Eastop, V. F. 1977. World Wide Importance Of Aphids As Viruses Vectors. Academic Press. New York.

3. Sebutkan alasan digunakanya telur ayam berembrio pada praktikum Newcastle Desease virus!

Jawab :

Menurut Wibowo et al. (2012), alasan digunakannya telur berembrio adalah :

a. Embrio dalam telur menyediakan berbagai keragaman tipe sel untuk kultur virus.

b. Merupakan media yang sangat umum digunakan dalam penelitian laboratorium.

c. Infeksi  virus dapat dideteksi secara pasti dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada embrio.

d. Keberhasilan inokulasi virus pada telur ayam berembrio tinggi karena sistem imun embrio belum terbentuk secara sempurna.

Wibowo,M. H., Untari, T., Wahyuni, A. E. T. H. 2012. Isolasi, Identifikasi, Sifat Fisik, dan Biologi Virus Tetelo yang Diisolasi dari Kasus di Lapangan. Jurnal Veteriner. Vol. 13 (4) : 425-433.

Category: Ilmiah Tag:

About tohir

Ingin Belajar Sampai Dunia Alien, Bahwa berhenti belajar adalah kemunduran pemikiran. Tertarik pada hal baru yang mengundang penasaran.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !