Serasah Mangrove Rhizophora mucronata

Serasah Mangrove Rhizophora mucronata – Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem wilayah pesisir yang paling subur, produksi primer potensial hutan mangrove di Indonesia sekitar 40,40 sampai 45,50 kgC/ha/hari dan untuk tanaman Rhizhophora mucronata produksi primer bersihnya adalah 20,80 sampai 25,00 ton C/ha/tahun. Hutan mangrove melalui produksi seresah ( di Indonesia sekitar 20,50 ton/ha/tahun sampai 29,35 ton/ha/tahun, Sukardjo,2002) mensuplai makanan bagi komunitas laut melalui rantai makanan detritus ( detritus food chain ). Dari produksi serasah mangrove, serasah daun mangrove merupakan fraksi penting dari rantai makanan yang terdapat di ekosistem mangrove dan estuaria.

Hutan mangrove mempunyai produktifitas bahan organik yang sangat tinggi, tetapi hanya kurang lebih 10% dari produksinya dapat langsung dimakan oleh herbivore, sisanya masuk kedalam ekosistem dalam bentuk detritus. Sebagian besar dari produksi tersebut dimanfaatkan sebagai detritus atau bahan organic mati seperti daun-daun mangrove yang gugur sepanjang tahun , dan melalui aktivita mikroba decomposer dan hewan-hewan pemakan detritus kemudian diproses menjadi partikel-partikel halus ( Odum dan Heald,1975).

Hutan mangrove sebagai sumberdaya alam khas daerah pantai tropik, mempunyai fungsi strategis bagi ekosistem pantai, yaitu: sebagai penyambung dan penyeimbang ekosistem darat dan laut. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan berbagai nutrisi ditransfer ke arah darat atau laut melalui mangrove. Secara ekologis mangrove berperan sebagai daerah pemijahan (spawning grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai jenis ikan, kerang dan spesies lainnya. Selain itu serasah mangrove berupan daun, ranting dan biomassa lainnya yang jatuh menjadi sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan produktifitas perikanan laut.

Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan estuari dalam menyokong kehidupan berbagai organisme akuatik. Apabila serasah di hutan mangrove ini diperkirakan dengan benar dan dipadukan dengan perhitungan biomassa lainnya, akan diperoleh informasi penting dalam produksi, dekomposisi, dan siklus nutrisi ekosistem hutan mangrove ( Zamroni.et all,2008).

Pada dasarnya seresah yang dihasilkan oleh hutan mangrove antara lain mengandung N, P dan C yang tinggi yang akan terlarut dalam air sehingga dapat menunjang fitoplankton. Oleh karenanya diduga terdapat hubungan yang erat antara N dan P serasah dengan N dan P di dalam air, produktifitas perairan, dan jumlah individu fitoplankton, zooplankton dan makrozoobentos. Produksi serasah total di Cilacap (8,62 – 16,44 ton/ha/tahun) dan di Papua (Bintuni) sebesar 11,09 ton/ha/tahun, Soenardjo (1999).

Mahmudi, M., Kadarwan, S., Cecep, K., Hartrisari, H.,dan Ario, D. 2008. Laju Dekomposisi Serasah Mangrove dan Kontribusinya Terhadap Nutrien di Hutan Mangrove Reboisasi. Vol.2. No 1 : 19-25.

Odum, W.E. and E.J. Heald. 1975a. The Detritus Based Food Web of an Estuarine Community. Estuarine Rio.1 ; 256-286.

Soenardjo, N. 1999. Produksi dan Laju Dekomposisi Seresah Mangrove dan Hubungannya dengan Struktur Komunitas Mangrov di Kaliuntu, Kab. Rembang Jawa Tengah. Thesis. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Sukarjao, S. 2002. Integrated Coastal Zone Management ( ICZM ) in Indonesia : A View from a Mangrove Ecopologist. Southeast Asian Studies. 40 ( 2 ) : 200-218.

Zamron,Y., Immy, S. R. 2008. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat. Vol.9 no 4, ISSN: 1412-033X. Halaman : 284-287.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !