6 Alasan Kenapa Serial Animasi Si Unyil Wajib Tayang Di TV Nasional

6 Alasan Kenapa Serial Animasi Si Unyil Wajib Tayang Di TV Nasional

Dalam kontek edukasi anak-anak, Indonesia masih-sangat-sangat buruk saya kira. Entak karena pemerintah yang bodoh, atau masyarakatnya yang sudah kadung memiliki kecenderungan dan orientasi menyimpang.

Ingat sob, Anak-anak adalah generasi penerus Bangsa, jangan cekoki mereka dengan tayangan-tayangan yang amburadul dan tidak mendidik, seperti acara manusia-manusia Srigala*, Anak-anak jalanan* dan acara joged-joged ga jelas yang bikin saya sangat muak.

Itu yang bikin acara itu mbo ya mikir sedikit, jangan cuma mikir profit, pikirkan juga edukasi yang positif untuk anak-anak penerus bangsa kelak.

Dengan carut marut pendidikan di Indonesia, saya yakin masih banyak yang perduli dengan pendidikan bagi-anak-anak, terutama pendidikan moral, bukan hanya mendidik hard skill, namun juga harus mengedepankan soft skill.

Seperti yang dilakukan oleh Perum Produksi Film Negara (PFN) yang menginginkan agar serial animasi “Petualangan Si Unyil” berformat 3D dapat ditayangkan di televisi nasional, tentu tujuanya agar bisa dinikmati secara luas oleh penonton seluruh Indonesia, terutama untuk sajian hiburan positif untuk anak-anak.

Serial Animasi Si Unyil Tayang Di TV Nasional

Rencana ini menurut saya sangat positif sekali, dan kami sebagai generasi pertengahan mendukung 1000 persen, memang salah satu episode sudah akan tayang di TV kabel. Namun akan lebih baik jika bisatayang di TV nasional.

Menurut kabar, PFN sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa stasiun televisi nasional dan menunggu tercapainya kesepakatan mengingat sudah ada beberapa TV yang tertarik menayangkan.

Baca : 5 Media Online Terpopuler Di Indonesia

Sejarah Perjalanan Si Unyil

Kisah boneka Unyil dan kawan-kawan sudah menghiasi layar kaca sejak 1980-an dengan jumlah 600 episode. Kini dihidupkan kembali dengan serial animasi berformat 3D agar lebih mudah diterima oleh generasi anak-anak di jaman ini.

Dengan sasaran anak-anak usia 3 sampai dengan 6 tahun, “Petualangan Si Unyil” menceritakan tentang persahabatan dan keriangan dunia anak-anak ini diharapkan menjadi peran panutan anak Indonesia untuk mencintai negerinya.

Sedikit cerita Si Unyil di Era 80-an

Pada tahun 80-an, saat TV dimonopoli oleh TVRI, dan belum ada yang namanya mall, setiap Minggu keluarga Indonesia akan duduk manis di depan televisi untuk menonton film boneka Si Unyil. Film boneka yang diproduksi oleh PPFN (Perum Produksi Film Negara) sangat disukai oleh berbagai kalangan pada masa itu.

Masih ingat betul, Film Si Unyil selalu dibuka dengan adegan Si Unyil dan kawan-kawannya melakukan hompimpa… lalu kemudian terdengar ada yang berteriak: Unyil.. kucing…! Kemudian theme song Si Unyil pun diperdengarkan. Nama-nama tokoh satu persatu muncul di layar TV. Hampir semua anak hafal dengan tokoh-tokoh yang ada di Si Unyil pada masa itu.

Tokoh dalam serial Si Unyil

Ada Ucrit dan Usro = keduanya adalah sahabat kentalnya Unyil. Lalu Pak Raden yang punya sifat sangat pelit, dan paling malas kalau diajak kerja bakti dan selalu beralasan encoknya sedang kumat.

Pak Ogah dan Pak Ableh adalah dua tokoh yang mewakili kaum tunakarya / pengangguran dan selalu dicirikan dengan duduk-duduk di pos ronda dan kalau ada orang yang lewat tak jarang dipalak dan dimintai uang. Tokoh-tokoh lain misalnya Kinoy, Melani, Bunbun (adiknya Melani), Cuplis, Pak Lurah, Bu Guru, Mbah Bejo, Mbok Bariah dan lain-lain.

Baca : MEA : Dimana Peran Dan Posisi Indonesia

6 Alasan Kenapa Serial Animasi Si Unyil Wajib Tayang Di TV Nasional

#1. Si Unyil Sangat menggambarkan anak-anak Indonesia secara tradisi

Cerita dalam Si Unyil sangat kental dan membumi, karena memang diambil dari kejadian sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam kisah Si Unyil selalu diajarkan bagaimana menghargai orang tua, bagaimana menyelesaikan masalah, bagaimana bertoleransi antar umat beragama dan

antar etnis. Dan pada masanya, program-program pemerintah seperti program KB, hidup sehat, program wajib belajar pun dapat tersosialisasi melalui film dan acara boneka Si Unyil ini.

“Usia 3 tahun sampai dengan 6 tahun merupakan masa keemasan perkembangan anak. Masa terbaik dimana mereka bisa ditanamkan tentang nilai-nilai kehidupan. Kisah-kisah Unyil bisa menjadi alat menanamkan rasa ke-Indonesiaan untuk anak-anak dan menumbuhkan jiwa ketimuran khas Indonesia yang kini semakin terkikis.

#2. Terlalu Banyaknya Acara TV yang Tidak Berkualitas, terlebih acara yang tidak mendidik anak-anak

Banyak acara TV yang hanya mengejar ratting, tanpa memperhatikan edukasi. Boro-boro mendidik, acara TV malah terkesan tidak perduli dan tidak ambil pusing. Acara TV kini s

Serial Animasi Si Unyil Tayang Di TV Nasional

elalu berkiblat pada budaya yang bukan Indonesia, dari mulai budaya Barat, Arab sampai budaya korea.

Harusnya negara benar-benar membatasi arus media hiburan dalam tanda kutip. Bahkan menurut hemat saya, banyaknya kelompok radikal berlatar belakang Agama, ini karena bodohnya pemerintah dan melakukan pembiaran.

Kembali kepada adak-anak, coba bayangkan anak kecil sudah hobi nonton serial sinetron, cinta-cintaan, geng-geng motor yang mengidentikan diri keren.

#3. Masih Minimnya Tayangan untuk Anak-Anak Indonesia

Banyak acara bergender dewasa menggusur hak anak-anak untuk menikmati acara sesuai umurnya. Ya iya lah, Anda sering mendengarkan, anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, anak-anak bertingkah menjadi dewasa seperti tokoh sinetron yang sering mereka saksikan.

Sungguh sangat ironis, Tayangan anak-Indonesia setara dengan tayangan orang dewasanya. Kalau kita berkaca pada negara tetangga kita Malaysia, di mana mereka sangat protect terhadap acara-acara yang disajikan untuk anak-anak. Mereka memproduksi tayangan untuk anak-anak dengan kultur mereka.

#4. Supaya SI Unyil Bisa Dinikmati Seluruh Lapisan Masyarakat Indonesia

Jika acara Si Unyil hanya di tayangkan di TV chenel, maka tidak semua lapisan masyarakat dapt menikmati acara tersebut. Jika kita melihat dari sisi nilai yang di sampaikan buat apa dong, memang seharunya Si Unyil tayang di TV nasional. Tentu yang terpenting adalah sisi edukasi dari acara Si Unyil, bukan di lihat dari sisi komersialisasi belaka.

#5. Mengenalkan dan Mempopulerkan Karya Asli Bangsa ini

Tidak semua yang berbau impor itu berkualitas lho, dan tidak semua acara TV yang di ambil dari luar itu mendidik. Merka mungkin menang dalam teknologi, namun saya jamin mereka kalah dalam kontek filisofi dan isi yang di sampaikan. Kita sebagai bangsa seharusnya bangga dengan karya sendiri, dan selalu berusaha meningkatkan kualitas yang mungkin masih di bawah negara lain.

Salah satu apresiasi yaitu dengan mengenalkan karya Si Unyil ini kepada dunia. Pertama yang harus dilakukan adalah menjadikan Si Unyil populer di negeri sendiri. Manfaatkan setiap sumberdaya yang dimiliki negeri ini untuk mencipta karya-karya baru bangsa selain Si Unyil tentunya.

#6. Mengembalikan Lagi Budaya Ketimuran yang Semakin Terkikis

Jangan sampai kita menjadi negara yang abu-abu lupa pada budaya sendiri. Buang jauh-jauh mendewakan budaya lain. Karena ketika negara ini besar dan kehilangan identitasnya, maka kita menjadi negara yang tidak berbudaya. Banggalah dengan budaya ketimuran Indonesia yang kita miliki.

Ayo, ajarkan pada anak-anak kita keIndonesiaan yang sebenarnya, hati-hati dengan budaya-budaya luar baik dari barat atau dari arab sana yang kini mulai meracuni anak-anak Indonesia dengan kebiasaan dan cara pikir mereka. Banggalah dengan kita sebagai Indonesia dan Budayanya.

Baca : Konsep Bela Negara Di Indonesia

Semoga bermanfaat

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !