Sirih Sebagai Tanaman Obat

Sirih Sebagai Tanaman Obat

Familia : Piperaceae

Klasifikasi tanaman sirih adalah sebagai
berikut (Linneus) :

Kingdom          : Plantae

Divisio              : Spermathophyta

Subdivisio         : Angiospermae

Class                :Dicotyledonae

Ordo                : Urticales

Family              : Piperaceae

Genus               : Piper

Species : Piper betle L

Habitus tanaman sirih tumbuhan memanjat berumah dua, atau kadang-kadang berumah satu, berkayu, gundul, dengan tinggi 5-15 m serta merambat. Daun letaknya berseberangan, (opposita) terdiri dari helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus). Panjang helaian (lamina) 5 – 18 cm, lebar helaian (lamina) 2,5 – 10,75 cm tergantung varietasnya; sifat daunnya bentuk daun (cicum scriptio) lonjong (ovalis), pangkal daun (basis folii) membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya, tepi daun (margo folii) biasanya rata (integer), ujung daun (apex folii) meruncing, tulang daun (nervatio) menyirip (penninervis) berjumlah 2-3 pasang, 1 pasang di antaranya berpangkal dari ibu tulang daun dan sisanya dari pangkal daun., daging daun tulang namun lembut, berpermukaan gundul atau berbulu pada bagian pertulangan bawah daunnya, warna daun hijau suram.

Batang sirih termasuk batang berkayu (lignosus), tumbuhnya memanjat (scandens) dengan menggunakan penunjang. Bentuknya bulat (teres) dan beralur (sulcatus). Berwarna hijau. Cabangnya berseling di kedua sisi, bersifat agak kuat. Sistem perakaran tanaman sirih tunggang, pemanjangan akar tunggang akan terhenti bila mencapai permukaan air tanah. Sesudah fase perpanjangan akar tunggang berhenti, lalu terbentuk banyak akar cabang di bawah permukaan tanah. Akar cabang makin ke bawah makin sedikit. Pada tanaman sirih juga terdapar akar khusus yaitu akar pelekat (radix adligans). Radix adligans merupakan akar-akar yang keluar dari buku-buku batang tumbuhan memanjat dan berguna untuk menempel pada penunjangnya saja.

Bunga sirih adalah bunga majemuk yang berbentuk bulir dan terdapat daun pelindung ± 1 mm berbentuk bulat panjang. Pada bulir jantan panjangnya sekitar 1,5 – 3 cm dan terdapat dua benang sari yang pendek sedangkan bulir betina panjangnya sekitar 1,5 – 6 cm dimana terdapat kepala putik tiga sampai lima buah berwarna putih dan hijau kekuningan. Bunga sirih berukuran sangat kecil dan tidak memiliki perhiasan bunga, alat kelamin bunga hanya dilindungi oleh braktea. Braktea sering menjadi ciri penting dalam taksonomi Piper. Braktea sirih duduk dan melekat pada ibu tangkai bunga pada satu titik, dengan helaian menjorong atau membundar telur sungsang atau membundar dan bertepi gundul serta bergigi pendek atau tidak.

Braktea ini melindungi dua benang sarinya yang pendek atau putiknya yang berkepala 3-5. Buah berupa massa berdaging berbentuk silinder dan berwarna hijau yang sebenarnyamerupakan  kumpulan banyak buah buni yang menyatu bila telah masak buah akan berwarna merah. Biji sirih agak membulat dan berukuran sangat kecil.

Sirih tumbuh di hutan hujan tropis. Seperti umumnya jenis-jenis Piper lainnya, sirih lebih menyukai naungan yang teduh dan terlindung dari angin serta tumbuh dengan subur di lingkungan hutan yang lembab dengan kelembaban tanah yang cukup. Budidaya umumnya dilakukan pada tempat-tempat dengan ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut dengan curah hujan tahunan 2250-4750 mm.

Piper pada umumnya, dan sirih pada khususnya, mudah diperbanyak dengan cara menanam dua buku-buku terbawah dari ujung cabang ortotropiknya yang dipotong sepanjang 30-45 cm dan memiliki 3-5 buku-buku. Setelah mulai bertunas dan menjalar, stek tersebut diikat pada penyangga.

Saat ini dikenal kurang lebih 100 varietas sirih. Sumber keragaman ini antara lain dapat
dijelaskan dengan sifat berumah duanya. Selain itu, umumnya sirih merupakan tumbuhan poliploid (x=13) dengan perbedaan tingkat poliploidi dalam jenis. Varietas-varietas itu dibedakan dari ukuran, bentuk dan warna daun, serta kelembutan, kepedasan, aroma, dan bleaching response. Di India, sirih merupakan tanaman penting dalam kehidupan masyarakatnya.

Beberapa varietas tertentu, bunga jantannya yang dikembangkan melalui seleksi, sedangkan tumbuhan betinanya jarang menghasilkan buah karena iklimnya. Di Indonesia sendiri dikenal ada varietas siriboa yang bagian buahnya dipakai sebagai pengganti daun. Varietas ini memiliki rasa dan bau yang lebih kuat daripada sirih pada umumnya dan banyak dibudidaya di bagian bagian timur nusantara, antara lain di Maluku dan Papua.

Tanaman Sirih mengandung minyak atsiri 1%-4,2 %, hidrosikavicol, kavicol 7,2-16,7%, kavibetol 2,7-6,2%, allypyrokatekol 0-9,6%, karvakrol 2,2-5,6%, eugenol 26,8-42,5%, eugenol methyl ether 4,2-15,8%, p-cymene 1,2-2,5%, cineole 2,4-4,8%, caryophyllene 3,0-9,8%, cadinene 2,4-15,8%, estragol, terpenena, seskuiterpena, fenil propane, tannin, diastase 0,8-1,8%, gula, pati.

Sirih bila dicampur dengan jambe, dan kapur digunakan untuk menyirih. Daun, akar dan bijinya juga digunakan untuk obat. Daunnya digunakan untuk mengobati sakit perut, untuk obat kumur, obat cacing, dan mengandung obat perangsang. Daun yang sudah direbus digunakan untuk mencuci luka, dan luka memar dan juga digunakan sebagai obat pada ibu yang habis melahirkan atau wanita yang keputihan. Daunnya juga digunakan untuk mencegah mimisan hidung.

Sirih dapat digunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat digunakan/bersifat sebagai fungisida dan bakterisida. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana), enzim diastase tanin, gula, amilum/pati, enzim katalase, vitamin A,B, dan C, serta kavarol.

Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur. Sirih memiliki kandungan phenol dan Chavicol. Chavicol ini memberikan bau khas sirih dan memiliki daya pembunuh bakteri 5 kali dari phenol biasa.

Bacaan lebih lanjut ;

Asmarayani, R. 2005. Herbarium Bogoriense. LIPI, Bigor.

Backer, C. A. And Bakhuizen Van De Brink. 1965. Flora of Java Volume I. N. V. P. Noordnoff Groningen, Netherland.

Mahendra, B. 2005. 13 Jenis Tanaman Obat Ampuh. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tjitrosoepomo, G. 2007. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !