Sistem Khilafah Kembali Menggeliat

Sistem Khilafah Kembali Menggeliat – Beberapa tahun belakangan ini banyak banyak diskusi yang memunculkan wacana tentang perlunya penerapan khilafah di dunia khususnya di Indonesia, negeri dengan umat muslim terbesar di dunia ini memang menjadi magnet tersendiri dalam berbagai kepentingan termasuk soal ide khilafah versi baru ini, konsep berbangsa dengan menggunakan azas tunggal Pancasila dianggap bagi kaum Islam keras tidak mewakili mereka.

Negara ini dianggap gagal memakmurkan dan mendamikan warganya, mereka menganggap sistem Khilafah merupakan sistem yang paling pas diterapkan di negeri ini. Usaha mereka pun tidak main-main mereka sudah mulai masuk ke sistem pemerintah, dari kalangan mahasiswa pun tak kalah mengkawatirkan kampus-kampus negeri di Indonesia sekarang banyak anggota dari kalangan mereka, bahkan mereka bisa masuk dijajaran UKM (unit kegiatan mahasiswa) termasuk BEM.

Bila mana para intelektual muda saja sudah terpengaruh, nampaknya kita hanya akan menunggu waktu cepat atau lambat mereka juga akan menguasai parlemen dan pemerintah. Kalau sudah seperti itu mereka mudah mengubah dasar negara kita dari Pancasila ke Syariat Islam.

Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa

Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa

Nampaknya kita harus kembali belajar sejarah terbentuknya bangsa ini, bangsa ini terbentuk dengan latar belakang agama dan suku yang beragam, pembahasan mengenai konsep dasar negara ini sudah selesai dibentuk oleh founding father negara Indonesia dalam sidang BUPKI 18 Agustus 1945. Konsep ini sudah sangat luar biasa tidak hanya Islam saja yang merasa memiliki negeri ini tetapi agama lain pun sama dan memiliki hak yang sama pula.

Untuk mencari jawab atas persoalan itu kita perlu menengok ke belakang sejenak. Jika kita membuka kembali lembaran sejarah Islam terutama masa nabi Muhammad Saw dan setelahnya, Khulafaurrasyidun, maka kita akan menemukan bahwa nabi tidak menunjuk anak atau kerabatnya untuk menggantikannya memimpin masyarakat Islam. Nabi tidak suka dengan sistem dinasti/ kaisar. Pada masa nabi menjelang wafat, nabi hanya menunjuk Abu Bakar untuk menggantikannya menjadi imam shalat, namun bukan untuk menjadi pemimpin umat. Kepemimpinan setelah nabi diputuskan dengan musyawarah (syura) di antara wakil-wakil. (M. Yusuf Musa, hal. 99)

Kita dapat menganalogikan kepemimpinan Khulafaurrasyidin dengan sistem yang mutakhir zaman ini, bahwa Khulafaurrasyidin mirip dengan sistem demokrasi parlementer. Kita mesti terima sistem yang ada saat ini dan sambil kita memperbaiki kekurangannya daripada kita membuang yang ada. Sementara yang kita harapkan sudah terkubur dalam sejarah dan belum tersedia untuk saat ini.

Pemerintahan Khulafaurrasyidin adalah contoh pemerintahan yang demokratis. Jika pemerintahan semacam itu menjadi model bagi kita, maka sistem tersebut telah dipangkas oleh Umayah yang membangun dinasti Umayah. Sistem Umayah tersebut sama dengan kerajaan, walaupun banyak sejarawan menyebut pemerintahan itu dengan sebutan khilafah. Memang namanya khilafah, namun dalam praktek kerajaan. Sistem itu terus berlanjut hingga zaman Abbasiyah runtuh 1258 M. Dilanjutkan dengan dinasti-dinasti yang lain, dan Utsmaniyah hingga tahun 1924 M.

Mengapa harus dengan khilafah? Padahal berkaitan dengan persoalan negara, Islam tidak menyebutkan sistem apa yang harus dianut, hanya umat Islam harus menjalankan syariat. Apapun bentuk negaranya yang terpenting syariah dapat berlaku seperti di Madinah pada masa nabi dan sesudahnya. (M. Yusuf Musa, hal. 26)

Apakah isu tentang khilafah cukup relevan untuk saat ini? Saya kira banyak hal lain yang paling penting dan mendesak. Akan lebih baik, bila kita bertanya apa sesungguhnya yang dapat kita lakukan saat ini agar Indonesia lebih baik di masa depan? Dengan usaha yang kongkrit dan jelas.

Energi kita akan habis bila kita terus berkutat dengan persoalan khilafah, yang pengertiannya seperti pemerintahan yang total, padahal warga negara kita tidak hanya beragama Islam . apakah mungkin dapat dicapai pemerintahan semacam itu jika kita melihat pada kenyataan sekarang, bahwa negara-negara Arab saja sulit bersatu. Konflik perang hingga sekarang dilandasi perbedaan ritual agama, apakah Indonesia akan seperti itu? wallohualam.

Baca juga : Mari Ngomongin Orang

Semoga bermanfaat.

 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !