STRUKTUR POPULASI

I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Populasi
didefinisikan sebagai kelompok kolektif organisme-organisme dari spesies yang sama yang menduduki ruang atau tempat tertentu, memiliki berbagai ciri atau
sifat yang
unik dari kelompok itu. Beberapa sifat tersebut antara lain
kepadatan, laju kelahiran, laju kematian, penyebaran umur, potensi biotik,
dispersi dan bentuk pertumbuhan. Kepadatan populasi suatu habitat tertentu
dipengaruhi oleh imigrasi dan natalitas yang memberi penambahan jumlah kepada
populasi, sedangkan emigrasi dan mortalitas akan mengurangi jumlah dari
populasi. Setiap populasi mempunyai struktur atau penyusunan individu yang
dikenal dengan pola distribusi.
Struktur
populasi merupakan proporsi antara tahapan hidup suatu jenis fauna. Pemanfaatan
parasitoid telur dalam pengendalian hayati sering menjadi pilihan karena dapat
mengendalikan hama pada fase paling awal sehingga kerusakan tanaman dapat
dicegah sedini mungkin. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keefektifan parasitoid
sebagai agen pengendali hama di lapangan sangat dipengaruhi oleh struktur
populasi yang terbentuk. Terbentuknya struktur populasi ini sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain perilaku parasitoid itu sendiri, kondisi
agroekosistem dan faktor abiotik yang berpengaruh pada distribusi parasitoid
(Roderick, 1996).
B. 
Tujuan
Tujuan
dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui struktur populasi dari Kutu
Loncat (Heteropsylla cubana) pada
tanaman Lamtoro yang terletak di halaman samping Fakultas Biologi Unsoed.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Tanaman
lamtoro (Leucaena leucocephala Lam de
Wit) merupakan salah satu komponen yang sering digunakan dalam wanatani antara
lain sebagai penaung, tanaman sela dan tanaman penghijauan. kutu loncat lamtoro
merupakan serangga yang berasal dari daerah Amerika tropis. Hama ini populer di
Indonesia sejak sekitar tahun 1986, karena merusak sebagian besar tanaman
lamtoro yang ditanam sebagai penaung pada perkebunan kopi dan coklat. Hama kutu
loncat (Heteropsylla cubana) dewasa
meletakkan telur pada pusuk tanaman yang dapat memenuhi seluruh permukaan tunas.
Karena itu populasi nimfa yang berkembang per pucuk sangat tinggi dan
menyebabkan anak daun mengeriting, menggulung dan mengering kemudian gugur.
Kutu loncat juga mengekresikan embun madu yang segera ditumbuhi jamur jelaga (Capnodium sp.) yang menyebabkan pucuk
tanaman dan daun berwarna kehitam-hitaman (Darman, 1986 ).
Populasi merupakan
sekelompok individu yang berasal dari satu spesies yang mendiami habitat
tertentu dimana perkawinan antar individu terjadi secara acak, sehingga
populasi menjadi relatif berkesinambungan. Populasi yang terbentuk dengan
mekanisme tersebut, dikenal dengan istilah populasi tradisional (panmictic population). Namun demikian,
beberapa fakta memperlihatkan bahwa di alam, perkawinan antar individu di dalam
populasi tidak terjadi secara acak, sehingga populasi dapat terbagi menjadi
beberapa kelompok yang di sebut sub-sub populasi (McCullough, 1996).
Struktur populasi
merupakan komposisi populasi yang meliputi jenis kelamin (jantan, betina) dan
umur (kategori anak, kategori muda, kategori dewasa, dan kategori tua) yang
merupakan proporsi antara tahapan hidup suatu jenis fauna. Fauna yang mengalami
metamorfosa sempurna (holometabola)
maka struktur populasi menunjukkan jumlah 
masing-masing tingkatan hidup yaitu telur, larva, pupa dan imago. Fauna
dengan metamorfosa tidak lengkap (hemimetabola)
maka struktur populasi merujuk jumlah telur, jumlah nympha dan jumlah imago
dari populasi fauna (Bahagiawati et al.,
2010).
Menurut
Bahagiawati et al. (2010), struktur
populasi dipengaruhi empat faktor yaitu natalitas, migrasi, imigrasi dan
mortalitas. Model struktur populasi dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.   Struktur
populasi stabil, merupakan populasi yang memiliki jumlah individu tingkatan
yang lebih muda selalu lebih banyak dibanding jumlah individu yang lebih tua.
Telur berjumlah lebih banyak dari larva, larva berjumlah lebih banyak dari pupa
dan pupa berjumlah  lebih banyak dari
imago.
2.   Struktur
populasi konstan, merupakan populasi yang memiliki jumlah individu tingkatan
yang lebih muda sama banyak dibanding jumlah individu yang lebih tua. Telur
berjumlah sama banyak dengan larva, larva berjumlah sama banyak dengan pupa dan
pupa berjumlah  sama banyak dengan imago.
3.   Struktur
populasi tidak stabil, merupakan populasi yang memiliki jumlah individu
tingkatan yang lebih muda selalu lebih sedikit dibanding jumlah individu yang
lebih tua. Telur berjumlah lebih sedikit dari larva, larva berjumlah lebih
sedikit dari pupa dan pupa berjumlah 
lebih sedikit dari imago.
Kaidah
yang umum untuk istilah populasi seringkali dikaitkan dengan sekelompok
individu yang berasal dari satu spesies yang mendiami habitat tertentu, dimana
perkawinan antar individu terjadi secara acak, sehingga populasi menjadi
relatif berkesinambungan. Populasi yang terbentuk dengan mekanisme tersebut,
dikenal dengan istilah populasi tradisional (panmictic population). Namun demikian, beberapa fakta
memperlihatkan bahwa di alam, perkawinan antar individu di dalam populasi tidak
terjadi secara acak, sehingga populasi dapat terbagi menjadi beberapa kelompok
yang disebut sub-sub populasi (McCullough, 1996).
II. MATERI DAN METODE
A.  Materi
Alat yang digunakan
dalam praktikum struktur populasi ini adalah hand counter, gunting, kamera
digital, kaca pembesar (loop), label, dan alat tulis. Bahan yang digunakan
adalah Kutu Loncat (Heteropsylla cubana)
pada tanaman Lamtoro (Leucaena
leucocephala
).
B.  Metode
Metode
yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
1.    
Pilihlah  10 
tangkai daun Lamtoro secara acak.
2.    
Berikan penanda sampel ke berapa pada pangkal
tangkai daun lamtoro.
3.    
Kutu Loncat yang terdapat pada tangkai
daun Lamtoro yang terpilih diperiksa dan diamati tingkatan hidupnya.
4.    
Hitunglah setiap tingkatan hidup (telur,
nimfa dan dewasa) dari kutu koncat (Heteropsylla
cubana
).
5.    
Hasil dicatat dan dimasukkan ke dalam
tabel pengamatan.
                 III.  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.   
Hasil
Tabel 1. Hasil
Pengamatan Tingkatan Hidup Kutu Loncat
Tingkatan Hidup
Ulangan (Daun ke-)
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
Telur
30
8
0
4
2
0
36
207
125
23
Nimfa
0
0
33
0
3
1
12
35
14
35
Imago
0
0
7
0
0
0
0
0
0
24
Jumlah
30
8
40
4
5
1
48
242
139
82
B.   
Pembahasan
Kutu
loncat (Heteropsylla cubana) adalah
serangga yang termasuk ke dalam famili Psyllidae, sub famili Ciriacreminae, dan
genus Heteropsylla (Crawford, 1914). Kutu loncat  biasanya terdapat pada tumbuhan lamtoro. Kutu
loncat lamtoro merupakan serangga yang berasal dari daerah Amerika tropis. Hama
ini populer di Indonesia sejak sekitar tahun 1986, karena merusak sebagian
besar tanaman lamtoro yang ditanam sebagai penaung pada perkebunan kopi dan
coklat. Tanaman lamtoro merupakan salah satu komponen yang sering digunakan dalam
pertanian, antara lain sebagai penaung, tanaman sela dan tanaman penghijauan. Hama
kutu loncat (Heteropsylla cubana) dewasa
meletakkan telur pada pucuk tanaman yang dapat memenuhi seluruh permukaan
tunas. Karena itu populasi nimfa yang berkembang per pucuk sangat tinggi dan
menyebabkan anak daun menjadi keriting, menggulung dan mengering, kemudian
gugur. Kutu loncat juga mengekresikan embun madu yang segera ditumbuhi jamur
jelaga (Capnodium sp.) yang
menyebabkan pucuk tanaman dan daun berwarna kehitam-hitaman. Serangan Kutu
loncat terhadap lamtoro mengakibatkan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.
Perbedaan tingkat kerusakan antara kultivar tanaman berhubungan dengan populasi
nimfa maupun imago. Perbedaan ketahanan mungkin juga disebabkan adanya perbedaan
ukuran dan umur tanaman. Pada klon (tanaman okulasi) pertumbuhannya cenderung
dalam keadaan “flush” (banyaknya
tumbuh tunas) yang mungkin lebih peka (Darman, 1986 ).
Tanaman
lamtoro mengandung mimosin pada seluruh bagian tanamannya dengan konsentrasi
tertinggi pada tunas baru (12% dari bahan kering), kemudian diikuti bunga,
polong, dan ranting yang masih hijau, dengan konsentrasi yang rendah
(Tangendjaja dan Lowry, 1984). Tanaman lamtoro mempunyai kandungan mimosin
tinggi. Meskipun mimosin merupakan biosida atau insektisida, tetapi kutu loncat
dapat beradaptasi dan tetap dapat berkembangbiak dengan baik (Sajimin, 2006).
Menurut Joshi et al. (1986),
kandungan mimosin berubah-ubah menurut musim. Pound dan Martinez (1983) menyatakan
bahwa mimosin sebagai antibiosis terhadap jamur patogen, tumbuhan tingkat
tinggi, dan hewan, sedangkan menurut Medoza dan Ilaq (1980), mimosin merupakan
insektisida bagi lebah.
Menurut L. Lach et al. (2010), dalam pencarian untuk kaya karbohidrat sumber daya
untuk bahan bakar pekerja mereka, semut sering saling positif interaksi dengan
tanaman atau serangga lainnya. Semut mungkin tertarik oleh nectaries
extrafloral (EFNs) dan mungkin manfaat tanaman alternatif yang mengalihkan
herbivore. Namun, mereka juga cenderung melon penghasil hemipterans,
menguntungkan bug alternatif yang mengalihkan mereka predator dan / atau
parasit. Dalam sebuah komunitas asli dan invasif tanaman hosting sebuah array
kaya karbohidrat sumber daya, pilihan makanan yang dibuat oleh semut
dibayangkan bisa memfasilitasi invasi tanaman oleh menggusur herbivora dari
tanaman invasif, pada dasarnya melepaskan mereka dari musuh alami. Atau, semut
dapat mendorong resistansi biotik untuk invasi tanaman jika tanaman asli
dilindungi dan herbivora pada tanaman invasif diperburuk.
Kutu loncat bisa beradaptasi terhadap mimosin
pada lamtoro, karena lamtoro diduga mampu mengeluarkan mimosin bersama dengan
embun madu atau menguraikannya menjadi senyawa tidak beracun. Perbedaan antara
kadar mimosin dalam getah lamtoro bila dibandingkan dengan ekskreta kutu loncat
mungkin juga di karenakan getah yang dihisap kutu loncat memiliki kadar mimosin
yang lebih rendah dibandingkan dengan getah yang diperoleh dengan
memotong ujung-ujung tunas. Kadar mimosin yang lebih rendah pada getah yang
dihisap kutu loncat menyebabkan terjadinya pengurasan mimosin karena nimfa pada
umumnya mengumpul di pucuk dan menghisap dari bagian tanaman dengan getah yang
kadar mimosinnya rendah (Darman et al.,
1988).
Kutu loncat (Heteropsylla cubana)
selama perkembangannya mempunyai
tiga siklus hidup, yaitu telur, nimfa, dan serangga dewasa (imago),. Siklus
hidupnya mulai dari telur sampai dewasa berlangsung antara 16-18 hari pada
kondisi panas, sedangkan pada kondisi dingin sampai 45 hari. SeIama setahun
serangga ini dapat mencapai 9-10 generasi. Stadium dewasa ditandai dengan
terbentuknya sayap dan kutu ini dapat terbang atau meloncat. 
Warna kutu
dewasanya coklat muda sampai coklat tua, matanya berwarna kelabu dan
bercak-bercak coklat. Panjang tubuhnya sekitar 2-3 mm.  Ciri lainnya
adalah pada saat makan, serangga ini posisinya menungging atau membentuk sudut.
Kopulasi segera berlangsung setelah serangga menjadi dewasa. Selanjutnya,
serangga betina mencari ranting-ranting yang bertunas dan peletakan telurnya
mulai berlangsung setelah 8-20 jam setelah kopulasi. Masa bertelur bervariasi,
yaitu antara 10-40 hari, sedangkan jumlah telurnya dapat mencapai 800 butir.
Telur berbentuk lonjong berwarna kuning terang. Cara meletakkan telurnya tidak
teratur, kadang-kadang berkelompok atau terpisah sendiri-sendiri. Bagian
tanaman yang menjadi tempat meletakkan telur adalah tunas-tunas daun, atau
jaringan tanaman yang masih muda, seperti tangkai tunas, pucuk, dan permukaan
daun bagian atas dan bawah yang belum membuka. Setelah 2-3 hari telur menetas
menjadi nimfa. Nimfa
yang baru menetas hidup berkelompok pada jaringan tanaman muda dan mengisap
cairan tanaman. Setelah nimfa berumur 2-3 hari, kemudian menyebar dan mencari
makan pada daun-daun muda di sekitarnya. Periode nimfa berlangsung selama 12-17
hari dan selama ini terjadi 5 kali pergantian kulit.  Setelah pergantian
kulit yang pertama nimfa bertambah aktif mencari makanan dan berpindah dari
satu daun ke daun lainnya, dan nimfa tersebut merusak tanaman. Bila
dibandingkan dengan serangga dewasanya. Warna nimfa tersebut kuning sampai
kuning kecoklatan. Kelima instar nimfa tersebut dapat dibedakan berdasarkan
ukuran, bentuk awal perkembangan terbentuknya sayap dan penyusunan sklerit pada
toraks bagian dorsal. Kutu loncat tertarik pada tunas-tunas muda
sebagai tempat peletakan telur, sehingga pertunasan tanaman merupakan faktor
penting dalam perkembangbiakannya. Pola pertunasan pada masing-masing daerah
berbeda-beda, tergantung dari jumlah curah hujan dan pengairan. Periode
pertunasan di Indonesia antara 2-5 ksli dalam setahun. Penyebaran kutu loncat
di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan (Direktorat
Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian, 2013).
Kerusakan karena aktivitas kutu
loncat lamtoro adalah daun lamtoro menjadi berkerut-kerut, menggulung atau
kering, dan pertumbuhannya menjadi terhambat serta tidak sempurna. Selain daun
yang masih muda, kutu ini dengan stiletnya menusuk dan menghisap cairan sel
pada tangkai daun, tunas-tunas muda atau jaringan tanaman lainnya yang masih
muda. 
Gejala lainnya adalah hasil sekresi alau kotorannya berupa benang
yang berwarna putih dan bentuknya menyerupai spiral. Apabila serangannya berat,
bagian tanaman yang terserang menjadi layu, kering dan kemudian mati. Apabila
hama ini menyerang satu tanaman dengan merata, maka penumbuhan bunga menjadi
terhambat dan produksi akan berkurang (Direktorat Perlindungan Hortikultura
Kementerian Pertanian, 2013).
Struktur
populasi merupakan proporsi antara tahapan hidup suatu jenis fauna. Pemanfaatan
parasitoid telur dalam pengendalian hayati sering menjadi pilihan karena dapat
mengendalikan hama pada fase paling awal sehingga kerusakan tanaman dapat
dicegah sedini mungkin. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keefektifan
parasitoid sebagai agen pengendali hama di lapangan sangat dipengaruhi oleh
struktur populasi yang terbentuk. Terbentuknya struktur populasi ini sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain perilaku parasitoid itu sendiri, kondisi
agroekosistem dan faktor abiotik yang berpengaruh pada distribusi parasitoid
(Roderick, 1996).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukakan
oleh kelompok 6 rombongan 2, hama kutu loncat (Heteropsylla cubana) yang ditemukan pada 10 tangkai daun Lamtoro
sebanyak 435 telur, 133 nimfa, dan 31 imago, sehingga berdasarkan hasil
tersebut, populasi tersebut termasuk ke dalam struktur populasi stabil, karena
populasi memiliki jumlah individu tingkatan yang lebih muda, dan selalu lebih
banyak dibandingkan dengan jumlah individu yang lebih tua. Telur berjumlah
lebih banyak dari larva, larva berjumlah lebih banyak daripada pupa (nimfa),
dan nimfa lebih banyak dari imago. Menurut Darman et al. (1988), perbedaan populasi kutu loncat tidak menyebabkan
perbedaan kadar mimosin pada getah yang diperoleh dengan memotong pucuk yang
bersangkutan. 
IV.  KESIMPULAN DAN SARAN
A.     
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan sebelumnya, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.   Adanya
populasi kutu loncat tidak menyebabkan perbedaan kadar mimosin pada getah yang
diperoleh dengan memotong pucuk yang bersangkutan.
2.   Kutu loncat (Heteropsylla cubana) yang ditemukan pada 10 tangkai daun Lamtoro
sebanyak 435 telur, 133 nimfa, dan 31 imago, sehingga memiliki struktur
populasi yang bersifat stabil,
karena populasi memiliki jumlah individu tingkatan yang lebih muda, dan selalu
lebih banyak dibandingkan dengan jumlah individu yang lebih tua. Telur
berjumlah lebih banyak dari larva, larva berjumlah lebih banyak daripada pupa
(nimfa), dan nimfa lebih banyak dari imago.
3.   Telur
dari hama kutu loncat (Heteropsylla
cubana
) banyak terdapat pada daun lamtoro pada daun ke-8 dengan jumlah 207 telur, larva
atau nimpa paling banyak terdapat pada daun ke-8 dan 10 dengan jumlah 35,
sedangkan jumlah imago (dewasa) yang paling banyak ditemukan pada daun ke-10
dengan jumlah 24 individu.
B.  Saran
Praktikum ini alangkah lebih baiknya apabila terdapat
penambahan alat seperti loop dan hand counter, 
agar pengamatan dapat dilakukan dengan cepat. Karena untuk mengamati
telur, nimfa, dan imago kutu loncat tidak jelas apabila dilihat secara
langsung.
DAFTAR REFERENSI
Bahagiawati.,
Dwinita, W., Utami, dan Damayanti B. 2010.
Pengelompokan dan Struktur Populasi Parasitoid Telur Trichogrammatoidea
armigera pada Telur Helicoverpa armigera pada Jagung Berdasarkan Karakter
Molekuler
. Journal  Entomology. Indonesia.,
Bogor. Vol. 7 (1) : 54-65.
Crowford,
D.L. 1914. A. monograph of Jumping
Plantlice or Psyllidae of The New Word.
Bulletin United State Nasional
Museum.
Darman,
J. 1986. Kasus Penampakan Hama Ganas Yang
Menyerang Lamtoro.
Laporan Khusus Balitnak, Ciawi.
Darman
et al. 1988. Faktor Ketahanan Leucaena Terhadap Kutu Loncat Lamtoro (H. cubana).
Seminar Penanggulangan Hama Kutu Loncat Lamtoro, Bogor.
Direktorat Perlindungan Hortikultura Kementerian Pertanian.
2013. Kutu Loncat.. http://ditlin.hortikultura.deptan.go.id.
Diakses pada tanggal 12 April 2014, Pukul 21.00 WIB.
Joshi et al. 1986. Profile of Mimosin During Growth. LRR.7 : p.51.
L. Lach, Chadwick V., Tillberg, Andrew V.
Suarez, 2010. Contrasting Effects of An Invasive Ant on A Native and An Invasive
Plant
. Biol Invasions, Vol.12:3123-3133.
Medoza, E.M.T and J.L. Ilaq. 1980. The Test for Eradicative and Protective
Effect of Mimosin
. LRR, London.
McCullough,
D. R. 1996. Metapopulations and Wildlife
Conservation
. Island Press, Washington DC.
Pound,
B., and I. Martinez cairo. 1983. Leucaena
: Its Cultivation and Uses
. Overseas developments Administration, London.
Roderick,
G. K. 1996. Geographic Structure on
Insect Population: Gene Flow, Phylogeography, and Their Uses
. Ann. Rev.
Entomol, Vol. 4  (1) : 325- 352.
Sajimin.
2006. Pemanfaatan Tanaman Lamtoro Tahan
Hama Kutu Loncat untuk Produksi Hijauan Pakan Ternak : Suatu Kajian Pustaka
.
Animal Production, Bogor. Vol. 8 (2) : 143-151.
Tangendjaja,
B. dan J. B. Lowry. 1984. Peranan Enzim di
dalam Daun Lamtoro pada Pemecahan Mimosin oleh Ternak Ruminasia
. Proceeding
Pertemuan Ilmiah Penelitian Ruminansia Kecil. Puslitbangnak, Bogor. 

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !