Suka Duka Seorang Santri

Suka Duka Seorang Santri

Saya adalah alumni STAIN Purwokerto yang sekarang sudah berganti nama menjadi IAIN Purwokerto. Ketika saya baru masuk STAIN Purwokerto (tahun 2010) mulai diberlakukan pesantrenisasi.
Pesantrenisasi adalah sebuah program dimana bagi mahasiswa yang tidak lulus ujian BTA PPI (Baca Tulis Al-Qur’an dan Praktek Pengamalan Ibadah) diwajibkan mondok di Pondok Pesantren. Alhamdulillah saya pun tidak lulus.
Saat itu saya merasa kecewa sekali. Dan saya merasa takut untuk masuk ke Pondok Pesantren. Akhirnya saya masuk ke Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah Karang Salam Purwokerto. Masuk ke Pondok itu pun karena tetangga saya ada yang mondok disitu.
Karena masih setengah hati dan belum kenal dengan teman-teman disitu, rasa tidak betah selalu membayangi saya. Banyak hal-hal yang membuat saya sebagai santri pemula merasa tidak nyaman di Pondok, yaitu :
  1. Yang tadinya dapat selalu dimanja oleh orang tua dirumah, setelah menjadi santri tidak dapat bermanja-manja lagi. Karena ada peraturan perpulangan setelah 1 bulan di Pondok. Itupun harus antri dengan santri yang lain, setiap perpulangan hanya dijatah 5-10 santri, padahal santrinya lebih dari 100. Dan hanya diberi waktu 4 hari 3 malam untuk pulang.
  2. Biasanya dirumah bisa memilih makanan yang disukai, dan rasanya pun enak. Di Pondok harus lebih prihatin, karena masak untuk 100 santri lebih tentu terkadang kurang bumbu atau kurang enak. Dan itupun lauknya sangat sederhana.
  3. Di zaman yang modern seperti sekarang ini, hasrat ingin menggunakan HP android pasti hinggap di hati. Tetapi sebagai seorang santri harus memendamnya dalam-dalam. Karena ada peraturan boleh membawa HP yang hanya bisa untuk telepon dan SMS.
  4. Sebagai seorang mahasiswa, laptop adalah suatu kebutuhan untuk mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Tetapi dipondok tidak boleh membawa alat elektronik termasuk laptop.
  5. Ketika dirumah selalu tidur dikasur yang empuk dan besar. Setelah dipondok tidur hanya beralaskan kasur lantai yang tipis, itupun berdesak-desakan dengan teman-teman. Kamar kecil ukuran 3 x 3 meter untuk 7-9 santri.
  6. Biasanya seorang perempuan membutuhkan waktu yang agak lama untuk mandi, tapi tidak untuk santri putri. Jika tidak ingin digedor-gedor pintunya maka harus mandi dengan kecepatan penuh. Hal itu karena keterbatasan kamar mandi yang tidak sesuai dengan banyaknya santri. Sedangkan banyak kegiatan mengaji yang harus tepat waktu.

Waktupun berlalu, setelah 6 bulan saya mengikuti tes BTA PPI lagi dan Alhamdulillah lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Sayapun sangat bersyukur karena dapat mendalami agama saya sendiri.
Walaupun setelah lulus ujian BTA PPI boleh keluar pondok, tetapi saya lebih tertarik untuk melanjutkan mondok. Abuya H. M. Thoha Alawy Al-Hafidz telah merubah niat saya, yang tadinya mondok karena terpaksa menjadi berniat benar-benar lillahi ta’ala.
Suka Duka Seorang Santri
Abuya H. M. Thoha Alawy Al-Hafidz

Selain untuk memenuhi kewajiban umat islam, yaitu untuk menuntut ilmu dan mendalami lagi ilmu Agama Islam, banyak hal yang membuat saya lebih ikhlas untuk mondok, yaitu :

  1. Di pondok menjadi sarana bagi kita untuk belajar mandiri, karena kita jauh dari orang tua atau keluarga. Bahkan dari situ saya bisa belajar mengatur keuangan selama satu bulan, karena saya baru bisa pulang setelah satu bulan, jadi saya mendapat uang saku untuk satu bulan sekaligus. Tentunya hal itu sangat penting untuk masa depan ketika menjadi bendahara rumah tangga.
  2. Setelah mondok, saya bisa lebih menghargai makanan, lebih prihatin. Makan makanan yang seadanya, bahkan sayur yang tadinya tidak suka menjadi lahap memakannya.
  3. Di pondok kita belajar untuk bersosialisasi dengan teman-teman dengan berbagai karakter, ada yang baik ada yang kurang baik. Tentu sangat bermanfaat bagi masa depan. Karena setelah kita lulus kuliah dan keluar dari pondok kita akan berkumpul dan bermasyarakat dengan lebih bermacam-macam karakter.
  4. Di pondok banyak kegiatan-kegiatan berjama’ah seperti sholat berjama’ah, yasinan dan tahlilan, ziaroh kubur, mujahadahan, sholat hajat dan sholat tasbih berjama’ah, dan lain-lain. Hal itu menjadi penyemangat tersendiri bagi saya khususnya. Kalau tidak berjama’ah masih ada rasa malas untuk mengerjakannya. Dan setelah keluar dari pondok kita akan terus melaksanakannya karena kita sudah terbiasa melaksanakannya selama di pondok.
  5. Kebetulan saya dipercaya menjadi pengurus pondok, dari situ saya belajar berorganisasi, belajar tanggung jawab. Berbagai masalah pasti datang menghampiri, dengan kesabaran dan berpegang pada syariat islam serta kerjasama dengan teman-teman pengurus yang lain satu persatu masalah pun dapat terselesaikan.
  6. Keceriaan yang lebih dasyat lagi dikala saya dapat menyelesaikan sampai kelas akhir, dan dapat lulus ujian munaqosah. Karena yang tadinya saya Nol besar bahkan tidak lulus ujian BTA PPI, sampai bisa lulus ujian Madrasah Diniyah.

Suka Duka Seorang Santri
ujian munaqosah

Bagi Anda yang sekarang ini baru mondok dan itupun karena keterpaksaan, maka rubahlah niat Anda dari sekarang. Karena dengan niat yang ikhlas Lillahi ta’ala maka Anda akan lebih mudah dalam menerima ilmu-ilmu yang Anda pelajari selama di pondok. Dan Anda pasti akan merasakan manfaat yang begitu besar setelah Anda keluar dari pondok dan itu sangat membantu Anda di kehidupan yang akan datang.

Tinggalkan komentar