Sungai Gung dan Ki Gede Sebayu: cerita singkat dari Tegal

Sungai Gung dan Ki Gede Sebayu: cerita singkat dari Tegal – Tegal, identik dengan warung tegal. Namun, tulisan ini tidak akan membahas dulu tentang warung tegal. Ini adalah bagian pertama dari beberapa tulisan yang akan membahas tentang Tegal dan hal-hal tentangnya. Tulisan ringan dan sederhana ini tidak akan dibuat njlimet seperti sebuah textbook atau pun kitab Undang-undang. Baiklah kita mulai saja. Mungkin saya akan membahas dulu dari sisi sejarah singkat peranan Ki Gede Sebayu sampai berdirinya tlatah Tegal.

Sejarah sebenarnya berekonsiliasi dengan masa lalu. Tetapi, menurut Kuntowijoyo, sejarah dapat menyuguhkan kejadian nyata secara empiris, unik, ideografis, dan diakronis. Membahas tentang sejarah suatu daerah adalah mencakup itu semua, termasuk sejarah Tegal itu sendiri. Adalah Ki Gede Sebayu yang menjadi sosok sentral dalam lintas sejarah Tegal. Hingga kini, nama Ki Gede Sebayu diabadikan sebagai nama gedung pemerintahan daerah di Tegal.

Kalau Anda melintas di jalur pantai utara Jawa, pasti Anda akan melewati Tegal, baik Kabupaten Tegal maupun Kota Tegal. Kalau dari arah Jakarta, Anda akan melewati Brebes dulu, baru kemudian Tegal. Kalau dari arah Semarang/Surabaya, Anda akan melewati Pemalang dulu, baru sampai di Tegal. Nama Tegal berasal dari istilah agraris atau pertanian. Tegal berarti ladang subur yang dijadikan tempat untuk bercocok tanam. Konon, dulu wilayah Tegal merupakan ladang persawahan yang luas.

Sungai

Saya membayangkan, bahwa pada tahun 1580-an Tegal masih sebuah daerah yang tak bertuan. Kemudian datanglah Ki Gede Sebayu yang diberi tugas oleh Kerajaan Mataram untuk memimpin Tegal. Tidak bisa dilepaskan bahwa peradaban suatu daerah dimulai dari sumber mata air, yaitu sungai. Sebagai contoh Sungai Nil dan Gangga yang menghidupi peradaban Mesir dan India. Begitu juga dengan Tegal. Mengalirlah Sungai Gung yang bersumber dari Gunung Slamet untuk menghidupi masyarakat Tegal. Sungai Gung membelah Tegal dengan indahnya. Sampai-sampai penyair dari Tegal menggubahnya menjadi sebuah syair yang bermakna sangat dalam seperti ini :

Kali Gung tuke metu sing gunung, mili anjog laut ngliwati bukit Sitanjung”. “Kali Gung nggawa berkah nggawa untung, sing jaman gemiyen jasane ora keitung”. “Banyune sing mambrah-mambrah, nggo ngeleb tanduran ning sawah”. “Watu krikil lan wedine, nganggo mbangun apa bae”. “Sing akeh muji syukure, anane kali Gung ning kene”. “Yuh dirumat dipiara, indahe tetep dijaga”. (Sungai Gung bersumber dari gunung, mengalir sampai ke laut melewati Bukit Sitanjung. Sungai Gung membawa berkah dan untung, dari jaman dahulu jasanya tak terhingga. Airnya yang melimpah untuk mengairi tanaman di sawah. Batu, kerikil dan pasirnya untuk membangun apa saja. Banyak-banyak kita bersyukur adanya Sungai Gung disini. Ayo dirawat pelihara, indahnya tetap dijaga). Namun, tidak hanya sampai disitu, nama Sungai Gung diabadikan dalam nama kereta jurusan Tegal-Semarang yaitu KA. Kaligung, tidak kalah dengan KA. Brantas.hehee…

Kembali lagi dengan sosok Ki Gede Sebayu. Ki Gede Sebayu masih mempunyai trah Majapahit. Ayahnya adalah adipati Purbalingga (pangeran Onje). Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang islami oleh Ki Ageng Wunut. Adegan perang memang tidak bisa dilepaskan dalam sejarah Jawa. Lantas, Ki Gede Sebayu ikut dalam perang merebut kerajaan Pajang dari Aryo Pangiri. Bersama pangeran Benowo, Ki Gede Sebayu berhasil mengusir Aryo Pangiri dan pangeran Benowo menduduki singgasana Pajang. Namun, Ki Gede Sebayu memilih tidak ikut serta mengisi pemerintahan Pajang bersama pangeran Benowo. Beliau lebih mengembara ke barat. Singkat cerita, Ki Gede Sebayu mengembara ke arah barat melewati Banyumas dan sampai di daerah yang dekat dengan Sungai Gung.

Akhirnya, dengan gagasan pemikirannya, daerah di sepanjang Sungai Gung tersebut dibangun. Pembangungan dengan pendekatan kepada masyarakat melalui politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan pendidikan yang bijak membuat Ki Gede Sebayu berhasil membangun kawasan tersebut. Keberhasilan tersebut ditandai dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar. Hasil panen melimpah, gizi menjadi baik, teknologi menjadi maju dan masyarakat sekitar menjadi cakap. Atas prestasinya itu, Ki Gede Sebayu diangkat menjadi juru Demung oleh Mataram pada tanggal 18 Mei 1601. Tanggal 18 Mei kemudian ditetapkan menjadi hari lahir Kabupaten Tegal. Versi lainnya adalah pada tanggal 12 April Ki Gede Sebayu diangkat sebagai juru Demung yang dijadikan sebagai tanggal hari lahir Kota Tegal.

rekomendasi baca juga : 5 destinasi wisata di Banyumas

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !