Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah dalam Al-Quran Surat AL-Falaq dan Al-Quran Surah Al-Ikhlas

Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah 
dalam Al-Quran Surat AL-Falaq dan Al-Quran Surah Al-Ikhlas 
      Manusia itu adalah umat yang satu(setelah timbul perselisishan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan . Akan tetapi masih banyak orang-orang yang sesat dan tidak mendapatkan hidayah dari Allah karena mereka mencari perlindungan selain kepada-Nya.
Padahal sesuatu selain Allah adalah tidak abadi dan tidak bisa berkehendak sendiri. Sehingga orang yang mencari perlindungan dan pertolongan selain kepada Allah, tingkah lakunya sesat, dzalim, kufur dan musyrik.
      Agar kita terjauh dari kedzaliman,kekufuran, kemusyrikan dan sifat buruk lainnya kita perlu bertauhid dan menyelaraskan antara tauhid rububiyah dan  tauhid uluhiyah.
A. Pengertian Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah
1. Tauhid Rububiyah
      Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah swt dalam segala perbuatan-Nya dan Allah adalah Penguasa alam serta Pengatur semesta. Allah berfirman dalam Q.S.Al-A’raf : 54
      Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.(Q.S.Al-A’Raf:54)
      Setiap makhluk diciptakan oleh Allah dia atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya. Tidak ada umat manapun yang menyangkalnya karena hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya melebihi pengakuan terhadap yang lain. 
2. Tauhid Uluhiyah
      Keimanan kita tentang Allah adalah Rabb dan pemilik seluruh jagad raya adalah amalan dalam hati. Keimanan Allah adalah Ilah(sesembahan), tidak lah cukup hanya dengan keyakinan tetapi juga harus dibuktikan dengan perilaku dan perbuatan  yang berupa amalan ibadah dan pengesaan Allah.
      Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah swt melalui segala pekerjaan hamba dan hanya Allah swt sembahan yang paling benar . Semua ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba hanya kepada Allah semata dan ikhlas karena-Nya. Tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah:163
Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.(Q.S.Al-Baqarah;163)
Kesanggupan dan kesediaan manusia dalam mentauhidkan Allah dari rububiyah maka akan menjadikan manusia mengakui tauhid uluhiyah  yakni mengesakan Allah dalam pengabdian. Seperti firman Allah dalam Q.S. Al-A’Raf : 191
Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.(Q.S.Al-A’Raf:191)
B. Surah Al-Falaq dan Surah Al-Ikhlas
1. Surah Al-Falaq
a.  surah Al-Falaq 
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh,
2. Dari kejahatan makhluk-Nya,
3. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
5. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”
B. Kandungan Surah Al-Falaq
Ayat 1
Pada surah Al-Falaq dan surah sesudahnya  yakni surah An-Nas dimulai dengan firman-Nya qul(قُلْ) yang artinya katakanlah. Quran surah Al-Falaq, turun sebagai pengajaran berdoa kepada Allah sehingga redaksinya tidak boleh diubah. Sama halnya dengan hadis-hadis Nabi saw yang merupakan doa juga redaksinya tidak boleh diubah.
Apabila kita membaca qul a’uudzu birabbil-falaq, maka katakana dalam hati a’uudzu birabbil-falaq (aku berlindung kepada Rabb Yang menguasai subuh) .
Kata a’udzu (اَعُوْذُ) berasal dari ‘audz(عَوْذٌ) yang berarti “menuju kepada sesuatu untuk menghindar dari sesuatu yang ditakuti”. Al-quran memerintahkan agar permohonan hanya ditujukan kepada Allah swt semata , seperti firman Allah  QS.Al-Mu’min:56
Sesungguhhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.(Q.S.Al-Mu’min:56)
Kata falaq (فَلَقٌ) berasal dari kata falaqa (فَلَقَ) yang berarti “membelah”.  Dalam pengertian sempit kata falaq diartikan sebagai pagi. Yakni malam dengan kegelapannya diibaratkan sesuatu yang tertutup rapat. Sedangkan dalam pengertian luas, falaq yakni segala sesuatu yang terbelah. Seperti dalam Q.S.An’am:96
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. (Q.S.AN’am:96)
Rabb al-falaq(رَبُّ الْفَلَقِ) adalah Allah swt, karena Dia yang menetapkan dan mengatur hukum-hukum alam, yang menjadikannya mencul ditengah kegelapan malam.
Dengan meyakini bahwa Allah adalah yang mampu membelah kegelapan malam dengan terangnya pagi, seseorang akan yakin pula bahwa Allah juga mampu menyingkirkan kejahatan  dan kesulitan kapan dan dimanapun, dengan memunculkan pertolongan dan menyingkirkan kesulitan. 
Dalam ayat ini Al-Quran menjelaskan supaya kita meminta perlindungan kepada Allah Yang menguasai subuh dan Yang menciptakan semua alam wujud dari kejahatan makhluk.
Ayat 2
Kata syarr memiliki makna “buruk” dan atau “mudarat”. Ibnu al-Qayyim mengemukakan bahwa asy-syarr yakni “kepedihan” dan “yang mengantar kepada kepedihan” . Para ulama mengemukakan  bahwa syarr yang dimohonkan kepada Allah agar Dia menghindarkannya dari hal yang telah wujud secara aktual sehingga benar-benar telah dialami oleh pemohon, dan yang berpotensi untuk wujud walaupun belum dialami oleh si pemohon. 
نَعُوْذُبِا لللّهِ مِنْ شُرُوْرِ  اَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَا تِ اَعْمَالِنَا
Kami memohon perlindungan Allah dari keburukan diri kami dan kejelekan perbuatan kami
Kata syarr (keburukan dan mudarat) tidak dinisbatkan kepada Allah, melainkan kepada makhluk. Al-Quran selalu menisbatkan kepada Allah sifat dan perbuatan-perbuatan baik dan sempurna, dan tidak pernah menyandarkan keburukan dan kekurangan kepada-Nya.
Maa (مَا) pada kata maa khalaq berarti “apa”, sedangkan khalaqa adalah kata kerja bentuk lampau yang berarti  “yang telah diciptakan”. Jadi, maa khalaq adalah makhluk ciptaan-Nya.
Alquran memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang muslim menunjukan keyakinan kepada Allah dalam ucapan-ucapannya. Seperti dalam surat Al-Fatihah:7
   
 (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.(Q.S.Al-Fatihah:7)
Dalam surat ini dijelaskan bahwa petunjuk jalan kebaikan dinyatakan sebagai sumber dari Allah yang member nikmat itu. Tetapi tentang jalan kesesatan yang ditempuh manusia yang akan mendapat murka ayat ini menyatakan “…jalan orang yang dimurkai” bukan “jalan orang-orang yang Engkau murkai”.
Ayat 3
Dalam ayat ini dimohonkan perlindungan mengenai tiga hal yakni (1) kejahatan atau keburukan yang terjadi di waktu malam; (2) kejahatan atau keburukan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu; (3) kejahatan dan keburukan yang dilakukan oleh pemilik sifat-sifat tertentu .
Dalam ayat ketiga ini terulang kembali kata syarr, hal ini karena kandungan ayat-ayat ini adalah doa. Kata syarr ini bisa mengisyaratkan bahwa ketiga hal diatas tidak selalu melahirkan keburukan. Karena dari yang buruk ada juga sisi baiknya.
Kata ghaasiq(غَاسِقُ)dalam surah Al-Falaq memiliki  makna “malam”, karena kegelapannya memenuhi angkasa,atau karena dinginnya malam yang menyengat dan merasuk keseluruh tubuh.
Kata waqab (وَقَبَ)  yang memiliki arti “masuk”. Jadi ghaasiq idzaa waqaba (غَاسِقٍ اِذَاوَقَبَ) berarti “malam yang telah masuk ke dalam kegelapan”.
Biasanya malam menakutkan, karena sering terjadi kejahatan terjadi diwaktu malam, tetapi malam juga mencakup kerahasiaan. Dan malam tidak selalu melahirkan kejahatan. Seperti firman Allah Q.S.Al-Muzzammil:6
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.(Al-Muzzammil:6)
Ayat 4
Pada ayat empat, yang dimohonkan kepada Allah adalah perlindungan dari ulah sebagian orang yang dapat menjerumuskan kepada kesulitan, mudarat dan penyakit.
Kata an-naffaatsaat berasal dari kata nafatsa yang berarti “meniup sambil menggerakan lidah, namun tidak mengeluarkan ludah”.
Kata al-‘uqad  memiliki arti mengikat atau juga kesungguhan atau tekad untuk mempertahankan isi suatu kesepakatan.
An-naffaatsaat fi ‘uqad  memiliki makna “perempuan-perempuan tukang sihir yang meniup-niup pada buhul-buhul dalam rangka menyihir”. Menurut ‘Abduh , an-naffaatsaat  adalah mereka yang sering kali membawa berita bohong untuk memutuskan hubungan-hubungan persahabatan dan kasih sayang antar sesama .
Ayat 5
Kata hasad memiliki arti dengki atau iri yakni mengharapkan kenikmatan yang dimiliki  oleh orang lain lenyap. Kata ini memiliki dua makna yakni keinginan untuk memeperoleh nikmat ayng dimilki oleh orang lain tanpa menghilangkan kenikmatan itu hilang dari orang tersebut, dan keinginan akan hilangnya nikmat yang terdapat atau diduga terdapat pada seseorang baik karena menginginkan nikamat bisa didapat ataupun tidak.
2. Surah Al-Ikhlas
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Kandungan surah Al-Iklas
Ayat 1
Kata qul (قُلْ) yang berarti “Katakanlah!” membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw. selalu menyampaikan segala sesuatu yang diterimanya dari ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan oleh malaikat Jibril
Kata Huwa(هُوَ) biasanya diartikan “Dia”. Hal ini berfungsi untuk menunjukan betapa penting kandungan berikutnya, yakni Allahu Ahad. Al-Qasimy menulis dalam tafsirnya “Huwa adalah berita benar yang hak dan didukung oleh bukti-bukti yang tidak diragukan” .
Allah(الله) adalah nama untuk Wujud Mutlak, Yang berhak disembah, Pencipta, Pemelihara, Pengatur seluruh jagad raya
Ahad (اَحَدٌ) memilki arti “esa” yang berasal dari kata wahdah(وَحْدَةٌ) yakni “kesatuan”, dan wahid (وَاحِدٌ) yang berarti satu.
Dalam ayat ini, kata ahad berfungsi sebagai sifat Allah swt, yang berarti Allah memilki sifat –sifat yang tidak dimilki oleh selain-Nya.
Allah juga dapat disifati dengan kata wahid seperti dalam Quran Surah Al-Baqarah:163
   
Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S.Al-Baqarah:163)
Kata wahid dalam ayat ini menunjukan kepada keesaan Zat-Nya disertai dengan keragaman sifatnya ; bukankah Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang,dan lain sebagainya. Sedangkan kata ahad seperti dalam surat Al-Ikhlas menunjukan keesaan Zat-Nya saja , tanpa memperhatikan keragaman sifat-sifat-Nya.
Keesaan Allah mencakup tiga hal yang pertama, Keesaan Zat yang memiliki arti bahwa  seseorang harus percaya  bahwa Allah swt tidak terdiri dari unsur-unsur  atau bagian-bagian. Setiap penganut paham Tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak bersumber dari sesuatu. Seperti dalam firman-Nya Q.S.Asy Syuraa:11
 (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.( Q.S.Asy Syuraa:11)
Kedua, keesaan sifat-Nya yakni Allah memilki sifat yang tidak dimilki oleh makhluk ciptaan-Nya, meskipun kata yang digunakan untuk menunjukan sifat tersebut sama, tetapi berbeda kapasitas dan subtansinya.
Ketiga, keesaan dalam perbuatan-Nya yaitu segala sesuatu yang berada di alam raya ini, semua hasil Perbuatan Allah.
Keesaan Perbuatan-Nya dikaitkan dengan hukum-hukum atau takdir dan sunnatullah yang ditetapkan-Nya.
Keempat, keesaan dalam beribadah yakni menuntut manusia untuk melaksanakan segala sesuatu demi Allah baik dalam ibadah mahdhah  atau selainnya. Firman Allah dalam Q.S Al-An’am:162
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S Al-An’am:162)
Ayat 2
Ash-Shamad () berasal dari kata  shamada() yang berarti menuju. Ash-Shamad berarti “yang dituju”.
Ibnu ‘Abbas menyatakan ash-shamad yakni tokoh yang telah sempurna ketokohannya, yang mulia yang mencapai puncak kemuliaannya, yang agung yang mencapai puncak keagungannya, yang penyantun yang tak tertandingi santunannya, yang mengetahui yang sempurna pengetahuannya, yang bijaksana yang tidak cacat dalam kebijaksanaanya .
Para ulama juga mengartikan ash-shamad dengan  arti “tidak memiliki rongga”, maksudnya yakni Allah tidak membutuhkan makanan, tidak ada sesuatu yang keluar dari-Nya, tidak beranak dan tidak diperanakan.
Jika kata ahad menunjuk kepada Zat Allah yang tidak tersusun oleh unsur-unsur lain, maka kata shamad memilki arti bahwa Zat yang dimilki oleh Allah tidak dapat dibagi-bagi.
Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi tumpuan dan harapan satu-satunya dan tidak boleh mengajukan permohonan selain kepada Allah.
Ayat 3
Kata lam(لَمْ) pada ayat lam yalid wa lam yulad adalah huruf yang digunakan untuk menafikan sesuatu yang telah terjadi .
Yalid(يَلِدْ) dan yuwlad memilki arti “beranak” dan “diperanakkan”. Alalh tidak beranak dan diperanakan. Allah beranak atau diperanakan, menjadikan ada sesuatu yang keluar dari-Nya, maka ini menjadikan Zat Allah terbagi dan hal ini bertentangan dengan arti ahad dan shamad dan juga bertentangan dengan sifat-sifat Allah.
Kata lam adalah untuk menafikkan sesuatu yang telah lalu. Selama ini dalam keyakinan banyak orang bahwa Tuhan beranak dan di peranakkan. Untuk meluruskan kekeliruan tersebut, maka digunakan kata lam untuk menafikkan sesuatu yang lalu. Seakan-akan ayat ini menyatakan “Kepercayaan kalian keliru, Allah tidak pernah beranak dan diperanakkan”. Ayat ini merupakan jawaban terhadap orang-orang musyrik yang  berkeyakinan bahwa Allah itu beranak dan diperanakkan
Ayat 4
Tiada satupun yang menyamai Allah dalam Zat, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatn-Nya. Dan tiada pula yang menyamai ketuhanan-Nya. Firman Allah dalam Q.S.Ar-Ruum:27 
Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.Ar-Ruum:27)
Tauhid rububiyah dalam surat Al-Falaq hanya terdapat pada ayat pertama . Karena pada ayat ini dijelaskan bahwa kita hanya berlindung kepada Allah dan tidak boleh menyembah kepada selain Allah. Sedangkan pada ayat-ayat yang lain hanya dijelaskan tentang jenis-jenis kejahatan.
Surat al-Ikhlas ini berisi tentang pengesaan Allah seperti yang disebutkan dalam ayat 1. Dan pada ayat 2 dijelaskan mengenai adanya tauhid uluhiyah yakni pengakuan bahwa hanya Allah lah tempat bergantung dan tempat memohon pertolongan setiap makhluk dan Dia pula yang menciptakan semua makhluk. Pada ayat 3 dan 4 menjelaskan bahwa Allah itu berdiri sendiri dan tidak ada yang dapat menyamai Zat-Nya.
Daftar Pustaka
Hadhiri,Choiruddin.2002.Klasifikasi Kandungan Al-Quran.Jakarta;Gema Insani Press.
http://www.almanhaj.or.id/content/1587/slash/0
Shihab, Muhammad Quraish.1997. Tafsir Al-Quran al-Karim. Bandung: Pustaka Hidayah.
Thantthawi,Ali.2004.Aqidah Islam,Solo:Era Intermedia.

Tinggalkan komentar