Opini, Sastra

Teh ini Sudah Kelewat Pahit: Sebuah Surat

Teh ini Sudah Kelewat Pahit: Sebuah Surat – Aku harap kamu membaca ini. Aku harap kamu tidak lupa tentang perjuangan ini. Dan aku harap kita bisa bersama lagi. Sekadar bercerita tentang kehidupan ini. Tentang diskusi tempo hari, mungkin kamu benar, teh ini sudah kelewat pahit. Dan perlu aku tambahi gula. Kamu mungkin juga salah, tak perlu gula untuk membuat manis secangkir teh ini. Cukup membayangkannya saja. Maka lidah ini akan merasakannya. Sungguh, kalau aku ingin berkeluh kesah tentang keadaan sekarang ini. Mungkin kamu akan menertawakanku.

Beberapa waktu terakhir, aku menjadi tidak bersemangat hidup tanpamu kawan. Kamu, adakah kamu yang selalu menemani minum teh di pelataran belakang pabrik saat waktu istirahat atau lembur malam. Kamu selalu mengatakan bahwa aroma teh bisa menenangkan jiwa-jiwa yang haus, jiwa kekosongan. Rasa teh juga kamu bilang membuat mulut ini selalu mengucapkan kebenaran. Walaupun terasa pahit. Kawan, aku harap kamu menyimpan surat ini setelah kamu baca. Setelah aku bertemu denganmu nanti, boleh saja kamu membuang surat ini. Tetapi, sebelum kita bertemu, simpanlah baik-baik. Anggap saja sebagai penanda. Aku buat surat ini juga dengan ditemani secangkir teh. Sayang, tidak ada kamu teman. Sungguh, aku merindukanmu.

Kawan, lewat surat ini, aku kabarkan kalau sekarang aku naik pangkat menjadi mandor panen. Tidak lagi kuli tebas. Aku teringat kata-katamu, secangkir teh akan membuat kamu berhenti sejenak memikirkan keletihan dan ketidak bersemangatan. Tidak hanya itu, umur ini menjadi panjang, begitulah kawan. Tetapi, kamu dimana teman. Aku membutuhkanmu. Untuk sekadar teman minum teh dan teman diskusi perjuangan.

ilustrasi via lukisanindo.com
ilustrasi via lukisanindo.com

Kini, aku akan bercerita tentang desa kita kawan. Pengalihan wajah desa kian terlihat. Tanah-tanahnya semakin kering. Air dari sungai tak bisa mengalir lagi. Bendungan semakin tak jelas fungsinya. Membuka, tetapi tak ada air mengalir. Menutup, tetapi tak jelas apa yang dibendung. Pak Nurito mantri air itu juga sudah lama menganggur. Ditambah lagi sudah empat bulan ini tak turun hujan. Beberapa bulan belakangan, cuaca memang menjadi anomali. Langit berhenti memberi air. Sumur-sumur kerontang sampai ke dasar. Kalau ingin air, harus jauh-jauh ke tetangga desa yang jauhnya ribuan kaki. Walaupun seperti itu, para petani tidak patah akal. Beralilah mereka menanam tebu. Biarpun tanah kering. Tapi, tebu itu masih tetap saja manis. Seminggu yang lalu, salah seorang kerabatmu mencalonkan diri sebagai kepala desa. Tak pelak aku dukung habis-habisan. Puji syukur ternyata menang. Aku turut bahagia dan bangga. Garis keturunanmu ada yang menjadi pemimpin, sekalipun dia seorang kepala desa. Aku pikir, dia paham betul tentang masalah pertanian. Dia yang mendukung tentang penanaman massal tebu disaat kondisi tanah kering kerontang. Itulah salah seorang kerabatmu.

Apa kini kamu sedang belajar dinegeri orang kawan? Kalau kamu sedang belajar di negeri orang, syukurlah. Kamu adalah sarjana pertama dari desa kita. Mungkin, hanya satu yang masyarakat desa inginkan. Jadilah insinyur, entah insinyur apapun. Agar ketika kelak kamu selesai belajar, kamu akan menyelesaikan masalah di desa kita. Beban berat memang ada pada seorang terpelajar dan terdidik kawan. Sepertinya kamu lebih paham tentang itu. Setelah kamu selesai mengatasi masalah desa, ajarilah kami semua, masyarakat desa. Agar bisa sepertimu.

Ada hal yang tak ingin aku lupakan darimu. Soal pertama tentang tradisi yang ada di pabrik kita bekerja. Temanten tebu. Ya, dua batang tebu dikawinkan. Sesuatu hal yang tidak aku lihat sebelumnya. Sang tebu diarak kesana kemari layaknya spasang pengantin. Dihadiri banyak orang yang ingin menyaksikannya. Tetapi tentu saja tidak ada serah terima dan resepsi ala manusia. Yang ada hanyalah saksi kalau tebu-tebu itu harus  terus lestari untuk memaniskan negeri ini. Aku mahfum dengan penjelasanmu itu. Suatu nilai-nilai yang positif. Kamu adalah buruh tetapi pemikiranmu seperti guru yang untuk ditiru. Soal kedua. Kamu pernah mengatakan kalau hasil dari perasan tebu itu adalah gula. Untuk campuran bahan makanan apapun. Tentu memaniskan. Kamu selalu mengajakkku untuk moci dan moci

Sejak dibuatkannya waduk 60 tahun yang lalu. Tanah desa menjadi subur. Gemercik air terdengar hingga tidur larut malam. Anomali cuaca tidak begitu mempengaruhinya. Ditambah lagi sejak adanya pabrik gula, ekonomi desa menjadi berkembang dan maju.

Desa kita selalu menjadi daya tarik sejak adanya pabrik tempat kita bekerja.

Kau kenal tebu bukan? Seonggok batang manis buatan alam. Ada cerita manis tentang tebu ada juga cerita tentang pahitnya tebu. Telah lama tebu ini berada di tanah Indonesia sejak Belanda menjajah. Tanam paksa yaitu dengan tanaman tebunya. Pak encik

Selesai aku menulis surat, langsung aku lipat dan ku masukkan dalam amplop hijau. Ku tulis jelas namamu dibagian depan. Dan tak lupa aku sertakan foto kita berdua saat di pematang tebu tahun lalu. Kamu terlihat memegang parang, sedangkan aku memakai topi bambu. Kalau kamu membaca surat ini, segeralah membaca dan balaslah kemudian. Kemudian simpanlah. Tunggu aku, aku tunggu kemudian. Salam hangat. Temanmu.

Baca juga : Seduhan Teh Hangat dari Tegal : Moci

2 Comments

  1. Jeritan kaum petani dan keturunannya. Tapi sekarang, mungkin susah untuk melihat tanaman tebu disawah. Bahkan pabriknya pun sudah tutup. Teh pahit justru itu yang bikin seger.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !