Teknik Budidaya Pembenihan Ikan Patin Siam

Teknik Budidaya Pembenihan Ikan Patin Siam – Ikan patin merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan layak dikembangkan sebagai salah satu alternatif bagi petani untuk memanfaatkan lahan yang dimilikinya sehingga menghasilkan nilai tambah yang memadai. Secara garis besar, pembudidayaan ikan patin meliputi kegiatan pembenihan, pra pembesaran, dan pembesaran di kolam atau pada jaring apung. Perkembangan budidaya telah meningkat pesat sejak teknologi pembenihannya telah sepenuhnya dikuasai, berbagai teknologi telah diterapkan dan dikembangkan pada pembenihan ikan patin, yang antara lain melalui kawin suntik (induced spawning) yaitu pemijahan yang dilakukan dengan pemberian rangsangan hormon untuk mempercepat proses pematangan gonad, pembuahan telur dan sperma yang dilakukan dengan teknik pengurutan (striping) pada induk jantan dan betina yang telah matang gonad.

Sejak diketahuinya teknik budidaya ikan patin siam di lahan marginal seperti lahan gambut dan rawa-rawa, maka luas areal budidaya dan produksi ikan patin siam meningkat dengan pesat yang diiringi dengan meningkatnya kebutuhan akan benih. Untuk menjaga kesinambungan produksi benih patin baik jumlah maupun kualitasnya, maka Unit Pembenihan Rakyat (UPR) harus memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai pengelolaan induk dan teknik pembenihan patin siam yang efektif dan efisien.

Klasifikasi ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) menurut Slembrouck et al. (2005), adalah sebagai berikut :

Ordo : Ostarioplaysi

Subordo : Siluriodea

Famili : Pangasidae

Genus : Pangasius

Spesies : Pangasius hypophthalmus Ham. Buch

Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi dua kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan ini umumnya belum populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya masih mengandalkan kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat diperoleh dari hasil tangkapan di perairan umum. Biasanya menjelang musim kemarau pada pagi hari dengan menggunakan alat tangkap jala atau jaring. Benih dapat juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih dikumpulkan dalam suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2 minggu. Jika air dalam penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan air bersih, dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih ditebar, dipelihara dulu dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan ke dalam hampang yang sudah disiapkan.

Berikut Tahapan Pembenihan Ikan Patin

1. Pemilihan calon induk siap pijah

Induk ikan patin siam yang telah matang gonad (12 jantan dan 12 betina) yang berumur kurang lebih 1,5 tahun dengan kisaran bobot jantan dan betina per individu adalah 1,5-2 kg disiapkan untuk diambil sperma dan telurnya. Ikan-ikan tersebut ditampung dalam bak penampungan selama 1 hari secara terpisah antara induk jantan dan induk betina sebelum dilakukan penyuntikkan dan pengurutan.

2. Persiapan hormon perangsang

Sebelum ikan uji digunakan dalam penyuntikan, induk ikan patin siam baik jantan maupun betina yang telah matang gonad diberok selama satu hari di dalam bak pemberokan secara terpisah, induk ditimbang terlebih dahulu untuk menentukan dosis hormon perangsang yang akan diberikan, setelah itu proses penyuntikan dilakukan.

3. Kawin suntik (induce breeding)

Penyuntikkan menggunakan hormon perangsang seperti ovaprim dilakukan di bagian punggung secara intramuscular (di dalam otot) dengan cara induk ikan patin diletakkan di lantai, tutupi kepala induk patin siam betina dengan kain supaya ikan tidak berontak dan terhindar dari patil. Suntik induk di bagian punggung dengan kemiringan jarum suntik 40-45°C dan kedalaman jarum suntik ± 1 cm atau disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan. Setelah ovaprim didorong masuk, jarum suntik dicabut lalu bekas suntik ditutup dengan jari sambil ditekan secara perlahan-lahan beberapa saat supaya ovaprim tidak keluar. Penyuntikan terhadap ikan uji dilakukan satu kali dengan dosis yang sudah ditetapkan, setelah itu induk ikan dimasukkan kembali ke dalam bak penampung dan dibiarkan sampai proses pengambilan telur melalui pengurutan.

4. Pengurutan (striping) dan Inseminasi Buatan

Pengambilan sperma dilakukan dengan cara : ambil induk jantan yang sudah matang gonad, ditampung di dalam botol bersih dan ditambahkan sodium chloride (NaCl) sebanyak 5 ml supaya sperma menjadi encer. Pengeluaran telur atau striping dilakukan dengan cara : menyiapkan mangkok plastik yang bersih dan kering, bulu ayam, kain dan tisu. Setelah itu induk patin betina ditangkap menggunakan serok, keringkan tubuh induk dengan kain, bungkus induk dengan kain namun pada bagian perut dan lubang genital dibiarkan tidak tertutup, letakkan mangkok plastik sebagai wadah penampung telur di bawah ikan yang diurut perutnya, urut bagian perut ke arah lubang urogenital, telur yang keluar tertampung dalam mangkok, campurkan larutan sperma ke dalam telur tersebut, aduk hingga merata dengan bulu ayam, tambahkan air bersih dan steril secukupnya, kemudian aduk hingga merata lagi supaya pembuahan dapat terjadi dengan sempurna. Buanglah air perlahan-lahan supaya telur yang ada tidak ikut terbuang.

5. Penetasan telur

Telur-telur hasil pemijahan yang dibuahi selanjutnya berkembang menjadi embrio dan akhirnya menetas menjadi larva, sedangkan telur yang tidak dibuahi akan mati dan membusuk. Telur membutuhkan oksigen untuk kelangsungan hidupnya. Oksigen masuk ke dalam telur secara difusi melalui lapisan permukaan cangkang telur, oleh karena itu media penetasan telur harus memiliki kandungan oksigen yang melimpah yaitu lebih dari 5 mg/liter. Lama waktu perkembangan hingga telur menetas menjadi larva tergantung pada spesies ikan dan suhu. Semakin tinggi suhu air media penetasan telur maka waktu penetasan menjadi semakin singkat. Namun demikian, telur menghendaki suhu tertentu atau suhu optimal yang memberikan efisiensi pemanfaatan kuning telur yang maksimal. Untuk keperluan perkembangan digunakan energi yang berasal dari kuning telur dan butiran minyak. Oleh karena itu, kuning telur terus menyusut sejalan dengan perkembangan embrio, energi yang terdapat dalam kuning telur berpindah ke organ tubuh embrio. Embrio terus berkembang dan membesar sehingga rongga telur menjadi penuh dan tidak sanggup untuk mewadahinya, maka dengan kekuatan pukulan dari dalam oleh sirip pangkal ekor, cangkang telur pecah dan embrio lepas dari kungkungan menjadi larva, pada saat itulah telur menetas menjadi larva.

6. Perawatan larva

Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur bor yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium supaya keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur. Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk.

Baca Juga : Budidaya Maggot Atau Belatung Untuk Pakan Ikan

7. Pemanenan

Larva mulai menetas setelah kurang lebih 20 jam setelah inseminasi. Larva menetas tidak bersamaan tetapi secara bertahap, pemanenan larva dilakukan 24-28 jam setelah inseminasi. Larva yang menetas di dalam corong penetasan akan bergerak mengikuti aliran air kedalam bak penampungan dimana dalam bak telah dipersiapkan dipasang hapa halus untuk menampung larva kemudian larva dipanen dengan cara diambil dengan seser halus secara hati-hati dan perlahan.

8. Pendederan

Larva akan berangsur-angsur akan berubah menjadi benih pada umur sekitar 15 hari dan pada umur tersebut benih kemudian dipanen dan didederkan pada wadah yang lebih besar supaya pertumbuhan benih lebih optimal, wadah pendederan dapat berupa bak semen atau bak fiber hingga benih berukuran 2-3 inchi.

Baca Juga : Pemeliharaan Dan Pendederan Benih Lele 

Kegiatan pembenihan ikan patin siam yaitu mulai dari proses pemijahan sampai menghasilkan larva sangat diperlukan keterampilan, pengetahuan, dan ketekunan. Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam keberhasilan pembenihan ikan patin siam. Bagi seorang pembudidaya hal yang harus diperhatikan dalam keberhasilan usaha pembenihan ikan patin siam adalah teknik pembenihannya seperti pemilihan (seleksi) induk, melakukan penyuntikan sampai menghasilkan larva, dan memeliharanya dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menambahkan atau menyuntikkan hormon ovaprim ke dalam tubuh ikan yang sudah matang gonad untuk mempercepat proses pemijahan sehingga dapat dihasilkan benih ikan patin siam yang baik, dimana jumlah, mutu, dan waktu penyediaannya dapat diatur sesuai yang diinginkan.

Baca Juga : Panduan Lengkap Budidaya Lele Sangkuriang

Keterangan Pendukung :

Ovaprim adalah campuran analog salmon Gonadothrophin Releasing Hormon (sGnRH-a) dan anti dopamine. Ovaprim adalah hormon yang berfungsi untuk merangsang dan memacu hormon gonadotropin pada tubuh ikan sehingga dapat mempercepat proses ovulasi dan pemijahan, yaitu pada proses pematangan gonad dan dapat memberikan daya rangsang yang lebih tinggi. Selain itu menghasilkan telur dengan kualitas yang baik serta menghasilkan waktu laten yang relatif singkat juga dapat menekan angka mortalitas (Sukendi, 1995 dalam Manantung et al., 2013). Hormon ini juga dapat bekerja pada organ target yang lebih tinggi pada ikan (Harker, 1992 dalam Manantung et al., 2013).

Kualitas telur yang baik dapat juga dilihat dari daya tetas telur. Pemberian ovaprim mempengaruhi daya tetas ikan patin. Adanya korelasi positif antara peningkatan dosis ovaprim dengan peningkatan daya tetas telur dan mencapai puncak pada dosis tertentu. Peningkatan daya tetas telur ikan patin siam yang diberi larutan ovaprim menurut Manickam dan Joy (1989) dalam Manantung et al. (2013).  disebabkan karena kandungan Folicle Stimulating Hormone (FSH) meningkat sehingga folikel berkembang dan daya tetas telur juga meningkat. Menurut Murtidjo (2001) dalam Manantung et al. (2013), pelepasan sperma dan sel telur dalam waktu yang berbeda dan relatif singkat dapat berakibat pada kegagalan fertilisasi, hal ini dikarenakan sperma yang terkadang lamban dan cenderung tidak aktif bergerak sebab sperma berada dalam cairan plasma. Cairan plasma mempunyai konsentrasi yang tinggi terhadap cairan sperma sehingga dapat menghambat aktifitas sperma yaitu berkurangnya daya gerak dan akhirnya sperma sukar untuk menebus celah mikrofil sel telur.

Pertumbuhan ikan patin dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam meliputi sifat genetis, ketahanan terhadap penyakit, dan kemampuan memanfaatkan makanan. Faktor luar meliputi kualitas air, suhu air, kualitas dan kuantitas makanan. Kondisi air yang optimal untuk pertumbuhan ikan patin adalah memiliki kandungan oksigen terlarut dalam air antara 2-5 ppm, kandungan karbondioksida tidak lebih dari 12 ppm, nilai pH berkisar antara 7,2-7,5. Peningkatan alkalinitas pada media pemeliharaan memberikan pengaruh yang nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan patin siam (Pangasius sp.).

Suhu optimal ikan patin berkisar antara 28°C-29°C. Kehidupan ikan patin mulai terganggu bila suhu air menurun sampai 14°C-15°C atau meningkat sampai diatas 3°C dan aktivitas ikan patin akan terhenti pada suhu di bawah 6°C atau diatas 42°C. Pertumbuhan benih ikan patin akan lebih cepat pada suhu air antara 29°C sampai 32°C dengan laju pertumbuhan harian 4.873% sampai 4.952% (Subrata et al., 2001). Suhu sangat mempengaruhi nafsu makan ikan patin sehingga berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi lama waktu penetasan telur maupun tingkat penetasan telur adalah suhu, dimana semakin tinggi suhu air media penetasan maka waktu penetasan semakin singkat. Air yang terlalu hangat akan menyebabkan telur mudah rusak dan suhu yang terlalu rendah akan menyebabkan telur mudah terinfeksi jamur. Oksigen terlarut perlu dipertahankan pada selang 6,5 sampai 9,5 ppm (Subrata et al., 2001).

Penyediaan benih yang memiliki kualitas dan kuantitas yang baik sangat ditentukan oleh cara pemeliharaan saat stadia larva. Keberhasilan usaha pembesaran juga dipengaruhi oleh kondisi benih itu sendiri. Periode kritis dalam daur hidup ikan patin siam adalah pada umur 0-15 hari. Kualitas induk, pakan, dan kondisi lingkungan berpengaruh besar pada tingginya tingkat kematian larva dan benih terutama pada masa kritisnya. Selain suhu, oksigen terlarut, pH, ammonia, dan CO2, parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan adalah alkalinitas. Alkalinitas adalah gambaran kapasitas air untuk menetralkan asam atau kuantitas anion air yang dapat menetralkan kation hidrogen serta sebagai kapasitas penyangga terhadap perubahan pH perairan (Effendie, 2000 dalam Djokosetiyanto et al., 2005).

Sumber : 

Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. 2008. Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius). MIG Corp.

Djarijah. 2001. Pembenihan Ikan Mas. Kanisius, Yogyakarta.

Djokosetiyanto, D., R. K. Dongoran, dan E. Supriyono. 2005. Pengaruh Alkalinitas Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Patin Siam (Pangasius sp.)  Jurnal Akuakultur Indonesia 4 (2): 53-56.

Effendie. 2000. Telaahan Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB, Bogor.

Hamid, M.A., Wahyu B. W., Rangga W., Reni A. Lubis, Atomu Furusawa. 2009. Analisa Efektivitas Managemen Induk dan Pembenihan Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) di Bbat Jambi. Jurnal Akuakultur Indonesia, 8(1): 29-35.

Harker, K. 1995. Pembiakan Kap dengan Menggunakan Ovaprim di India. Warta Akuakultur. 2(3).

Manantung VO., H. J. Sinjal, dan R. Monijung. 2013. Evaluasi Kualitas, Kuantitas Telur dan Larva Ikan Patin Siam (Pangasianodon hiphopthalmus) dengan Penambahan Ovaprim Dosis Berbeda. Jurnal Budidaya Perairan. 1 (3) : 14-23.

Manickam P, Joy K.P. 1989. Induction of Maturation and Ovulation by Pimozide LHRH AnalogueTreatment and Resulting High Quality Egg Production in the Asian Catfish, Clarias batrachus L. Aquaculture 83 : 193-199.

Murtidjo, B.A. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Kanisius, Yogyakarta.

Slembrouck, J., Komarudin, O., Maskur, Legendre, M. 2005. Petunjuk Teknis PembenihanIkan Patin Indonesia, Pangasius djambal. IRD, BRPBAT, BRPB, BRKP, Jakarta.

Subrata, I.D.M., B. I. Setiawan., Lenny, Saulia.,  Aryanto. 2001. Sistem Resirkulasi Air Tertutup untuk Pembenihan Ikan Patin (Pangasius sp.) (bagian 1) : Pengendalian Suhu Air dengan Pengendali Mikrokontroller. Buletin Keteknikan Pertanian : 15 (3).

Sukendi 1995. Pengaruh Kombinasi Penyuntikan Ovaprim dan Prostaglandin F2α Terhadap Daya Rangsang Ovulasi dan Kualitas Telur Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus Burcheel). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor : Bogor.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !