Teknik Budidaya Tanaman Buncis Lengkap dari A-Z

Teknik Budidaya Tanaman Buncis Lengkap dari A-Z – Seperti yang sudah dijelaskan pada artikel pengenalan tanaman buncis, bahwa buncis merupakan sayuran yang memiliki banyak kandungan gizi dan juga memiliki rasa enak, banyak masyarakat menjadikan tanaman buncis sebagai lauk pauk keseharian.

Lalu apa saja yang harus kita perhatikan sebagai petani tanaman buncis agar budidaya buncis yang kita lakukan dapat sukses, berikut penjelasannya.

Aspek Budidaya Tanaman Buncis

Syarat Tumbuh

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman holtikultura dapat dikelompokan atas faktor iklim dan faktor media tumbuh. Buncis merupakan tanaman daerah beriklim sedang, yang dapat tumbuh baik pada ketinggian 100 sampai 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl). Pertumbuhan optimum bagi buncis tipe merambat adalah ketinggian 500 sampai 600 meter diatas permukaan laut.

Curah hujan yang dibutuhkan agar buncis tumbuh dengan baik yaitu 1.500 sampai 2.500 milimeter per tahun atau 300 sampai 400 milimeter per musim tanam. Selain curah hujan,  intensitas cahaya yang optimum untuk pertumbuhan buncis adalah 400 sampai 500 fc (foot candles), sedangkan kelembapan udara relatif (RH) yang ideal untuk pertumbuhan buncis kurang lebih 55 persen, ketika kondisi ini dilihat dari pertumbuhan yang rimbun, menandakan kelembapan udara yang cukup.

Budidaya buncis

Suhu optimum untuk pertumbuhan buncis adalah 20 sampai 25 oC, sedangkan bila suhu udara di bawah 20oC maka pertumbuhan buncis akan terhambat dan apabila suhu udara di atas 25oC maka akan dihasilkan polong yang kosong atau hampa, selain itu bibit yang baru ditanam akan mengalami kerusakan apabila berada pada suhu udara di bawah 10oC. Daerah tropis yang lembab dan hangat budidaya buncis seringkali menghadapi kendala berupa serangan patogen penyebab penyakit yang sulit untuk diatasi. Suhu udara yang terlalu tinggi selama pembungaan dapat menyebabkan gugurnya bunga. Selain itu, hembusan angin kering dapat merusak bunga-bunga buncis yang lunak.

Tanaman buncis cocok ditanam pada berbagai jenis tanah mulai dari pasir lempung sampai tanah liat, tetapi untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas produk yang tinggi tanaman ini sangat cocok ditanam pada tanah Andosol dan Regosol. Tanah andosol biasanya terdapat di pegunungan beriklim sedang dan memiliki curah hujan lebih dari 2.500  milimeter per tahun.

Tanah ini berwarna hitam sehingga kaya akan bahan organik, bertekstur lembung sehingga berdebu, remah, gembur, dan memiliki permeabilitas sedang. Tanaman buncis dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki kisaran pH antar 5,5 sampai 6. Pada pH kurang dari 5,5 biasanya terjadi kekurangan unsur hara atau mungkin terjadi keracunan unsur-unsur Al, Fe, atau Mn. Untuk menaikan nilai pH tanah sebesar 0,1 diperlukan sekitar 480 kilogram kapur dolomit per hektar lahan.

Teknik Budidaya Tanaman Buncis

Peningkatan hasil panen buncis dapat diupayakan melalui teknik budidaya yang baik dengan memperhatikan berbagai aspek agronomis, agroekosistem, dan modal usaha. Aspek agronomis pada tanaman buncis diantaranya:

#1. Penyiapan Lahan

Lahan yang telah dipilih untuk penanaman buncis perlu disiapkan dengan baik untuk menciptakan media tanam yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman. Pembersihan rumput dan sisa-sisa tanaman dapat dilakukan dengan cara mekanis dengan traktor atau secara kimia dengan menggunakan bahan kimia (herbisida).

Rumput dan sisa-sisa tanaman yang tumbuh dilahan akan sangat menganggu pertumbuhan tanaman buncis apabila tidak dibersihkan. Setelah rumput dan sisa-sisa tanaman telah bersih dari lahan pengolahan tanah dan pengapuran tanah dapat dilakukan. Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki fisik tanah agar tanah padat dan keras menjadi gembur serta peredaran udara di dalam tanah menjadi lebih baik.

Sedangkan pengapuran tanah berguna untuk menaikkan pH tanah juga bermanfaat untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas jasad renik tanah sehingga dapat meningkatkan proses nitrifikasi. Pengapuran tanah dilakukan dengan cara kapur disebar secara merata di permukaan tanah bedengan, kemudian tanah dicangkul tipis-tipis agar kapur tercampur rata dengan tanah.

Tanah yang telah diratakan digemburkan lagi dengan cara dicangkul tipis-tipis sedalam 30 centimeter, kemudian dibentuk bedengan-bedengan dengan lebar ideal untuk tanaman buncis 100 sampai 120 centimeter, untuk sistem penanaman satu jalur lebar bedengan dapat dibuat sekitar 60 sampai 70 centimeter.

Tinggi bedengan untuk penanaman buncis cukup 20 centimeter dengan panjang petakan kebun maksimal 8 meter agar mempermudah pembuangan air pada waktu hujan. Arah bedengan sebaiknya membujur atau memanjang kearah Timur-Barat agar matahari dapat diterima secara merata oleh seluruh tanaman. Pupuk kandang atau pupuk kompos sangat baik untuk pemupukan dasar karena dapat memperbaiki fisik tanah, sifat kimia tanah dan sifat biologis tanah.

Baca juga :

Pupuk kandang atau pupuk organik disebar merata pada permukaan tanah bedengan. Setelah itu cangkul kembali sedalam 30 centimeter sampai pupuk kandang bercampur dengan tanah secara merata. Mulsa plastik hitam perak dalam penanaman buncis dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada mengunakan mulsa jerami. Mulsa plastik hitam perak memiliki dua permukaan yang berbeda yaitu permukaan yang satu berwarna hitam dan permukaan yang lain berwarna perak. Permukaan perak berfungsi memantulkan sinar ultra violet yang dapat mengubah iklim mikro di sekitar tanaman.

#2. Penanaman Benih

Waktu awal penanaman buncis yang baik adalah awal musim kemarau atau awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asalkan air tanahnya memadai. Jarak tanam untuk buncis tipe merambat 20 x 50 centimeter, 40 x 60 centimeter, dan 30 x 40 centimeter, sedangkan jarak tanam untuk buncis tipe tegak 20 x 40 centimeter dan 30 x 60 centimeter.

Kedalam lubang untuk menanam buncis sedalam 4 sampai 6 centimeter untuk tanah remah dan gembur kemudian untuk tanah liat hanya 2 sampai 4 centimeter karena tanah liat kandungan airnya cukup banyak. Satu lubang tanam dapat diisi sebanyak 2 biji. Benih buncis langsung ditanam pada lubang yang tersedia sebanyak dua biji per lubang tanam, kemudian ditutup dengan tanah tipis. Bersamaan waktu tanam dilakukan pemupukan dasar berupa campuran ZA, TSP, dan KCL (2: 3: 1) sebanyak 10gram per tanaman.

#3. Pemeliharaan Tanaman

1) Penyulaman

Biji buncis dapat tumbuh setelah lima hari sejak tanam, sehingga bila ada benih yang tidak tumbuh harus segera diganti (disulam) dengan benih yang baru. Penyulaman sebaiknya dilakukan di bawah umur 10 hari setelah tanam, agar pertumbuhan bibit sulaman tidak berbeda jauh dengan tanaman terdahulu, dan memudahkan pemeliharaan berikutnya.

2) Pemasangan Lanjaran

Pada tanaman buncis tipe merambat, seawal mungkin harus segera dipasang lanjaran (turus) untuk tempat merambat berupa bilah bambu setinggi 1,5 sampai 3,0 meter.

3) Penyiangan

Pada umur tiga minggu setelah tanam, kebun buncis biasanya sudah ditumbuhi rumput-rumput liar (gulma), maka perlu segera dilakukan penyiangan. Cara penyiangan adalah mencabut rumput liar dengan alat bantu tangan atau membersihkannya dengan alat bantu kored maupun cangkul secara hati-hati sambil menggemburkan tanah.

4) Pemupukan Susulan

Bersamaan dengan kegiatan penyiangan dilakukan pemupukan susulan, berupa pupuk nitrogen misalnya ZA sebanyak 100 kilogram atau urea 40 kilogram per hektar. Cara pemberian pupuk dimasukkan ke dalam lubang tugal di sekeliling tanaman buncis sejauh 15 centimeter dari batangnya atau disebar merata dengan alur-alur atau larikan dangkal diantara barisan tanaman, kemudian pupuk ditutup dengan tanah.

5) Pengairan

Pada fase awal pertumbuhan, tanaman buncis perlu pengairan rutin, tetapi berikutnya hanya mengatur agar tanah tidak kekeringan. Cara pengairannya adalah disiram dengan menggunakan alat bantu gembor (Rukmana, 2003).

Panen

Pemanenan polong buncis tipe merambat dapat dilakukan saat tanaman berumur 45 sampai 60 hari setelah tanam, tergantung pada varietasnya. Dalam satu musim tanam, pemungutan polong dapat dilakukan 10 sampai 15 kali. Polong buncis muda yang cukup baik untuk dipetik sebagai bahan sayur memiliki tanda-tanda polong berwarna hijau agak muda dan suram, biji dalam polong belum tampak menonjol, permukaan kulit polong agak kasar, polong mudah dipatahkan dan polong belum berserat.

Pascapanen Budidaya Buncis

Penanganan pascapanen merupakan tindakan strategi dalam rangka mendukung peningkatan produksi. Kontribusi penanganan pascapanen terhadap peningkatan produksi tercemin dari penurunan kehilangan hasil dan tercapainya mutu sesuai persyaratan mutu. Produk pertanian pada umumnya bersifat mudah rusak dan tidak tahan lama sehingga dibutuhkan penanganan pascapanen yang tepat untuk mempertahankan kualitas dan meningkatkan daya. Periode pascapanen dimulai dari produk dipanen sampai produk tersebut dikonsumsi atau diproses lebih lanjut.

Cara penanganan pascapanen, serta masa simpan sangat menentukan mutu yang diterima konsumen. Cara berproduksi yang tidak baik mengakibatkan mutu panen tidak baik pula dan sistem pascapanen hanya bertujuan untuk mempertahankan mutu produk yang dipanen.

Buncis salah satu jenis  sayuran yang mudah mengalami kerusakan setelah pemanenan, baik kerusakan fisik, mekanik maupun mikrobiologi (serangan hama dan penyakit). Untuk mencegah kerusakan-kerusakan tersebut, maka perlu penanganan hasil yang baik agar sampai di pasar dalam keadaan tetap baik atau masih segar. Komoditas sayuran harus sesegera mungkin diberi penanganan pascapanen agar kualitasnya tetap terjaga dan memperkecil berbagai bentuk kehilangan. Penanganan pascapanen terhadap sayuran meliputi:

1. Pengumpulan

Hasil panen buncis dimasukkan ke dalam suatu wadah (karung, goni, keranjang) untuk langsung diangkut ke tempat pengumpulan (penampungan). Lokasi pengumpulan yang dipilih adalah tempat atau ruang yang strategis yaitu teduh dan dekat dengan jaringan lalu lintas serta aman.

2. Sortasi dan Grading

Hasil panen buncis pada umumnya sering mengalami kerusakan akibat serangan hama, penyakit maupun patah karena penanganan pascapanen yang kurang baik dan ukuran yang tidak seragam, oleh karena itu pada tanaman buncis tersebut perlu dilakukan sortasi dan grading untuk memisahkan buncis yang rusak dengan buncis yang baik (utuh), serta untuk menyeragamkan kualitas di dalam kelompok kelas.

Sortasi bertujuan untuk mencegah penularan hama dan penyakit ke buncis yang sehat selama proses penyimpanan, sedangkan kegiatan grading untuk menyeragamkan kualitas. Kegiatan sortasi pada buncis dilakukan dengan memisahkan buncis yang sehat dan utuh dengan  buncis yang rusak, sekaligus memisahkan antara buncis yang berukuran besar (panjang) dan buah buncis yang berukuran kecil (pendek), sedangkan kegiatan grading, buncis dikelompokkan dalam kelas-kelas mutu yaitu kelas mutu I, mutu II, mutu III yang didasarkan pada kriteria-kriteria sebagai berikut:

a. Kelas mutu I, yaitu buncis yang berukuran besar atau panjang dan berukuran kecil atau pendek, utuh dan sehat, warna buah masih agak muda, dan biji pada polong belum tampak menonjol.

b. Kelas mutu II, yaitu buncis berukuran kecil atau pendek, utuh dan sehat, warna buah masih agak muda dan biji dalam polong belum tampak menonjol.

c. Kelas mutu III, yaitu buncis berukuran kecil atau besar terjadi kecacatan tapi tidak parah.

3. Pencucian

Hampir semua komoditas sayuran yang telah dipanen mengalami kontaminasi fisik terutama debu atau tanah sehingga perlu dilakukan pencucian. Pencucian dilakukan dengan tujuan untuk menghilangkan kotoran serta residu pestisida. Kegiatan pencucian tersebut tidak dilakukan terhadap sayuran yang teksturnya lunak dan mudah lecet atau rusak. Secara tradisional pencucian ini menggunakan air namun untuk mendapatkan hasil yang lebih baik disarankan penambahan klorin ke dalam air pencucian agar mikroba dapat dihilangkan dengan lebih efektif. Setelah pencucian biasanya bahan dikeringkan dengan cara meniriskannya di alam terbuka atau dengan cara mengalirkan udara panas.

4. Penyimpanan

Kegiatan penyimpanan pada dasarnya untuk menekan sekecil mungkin proses kehidupan buncis yang masih berlangsung sehingga kesegaran buncis tersebut dapat dipertahankan lebih lama. Proses kehidupan buncis yang telah dipetik dapat diperlambat dengan cara memperlambat laju penguapan dan pernafasan yang terjadi pada buncis.

5. Pengepakan dan pengangkutan

Buncis yang akan dipasarkan sebaiknya dikemas dengan baik untuk memudahkan perhitungan, pengangkutan, dan menambah penampilan menjadi lebih menarik. Selain pengepakan untuk konsumen, juga perlu pengepakan untuk pengangkutan. Kemasan untuk pengangkutan buncis harus memperhatikan bahan dan desainnya. Bahan kemasan dari keranjang bambu, karton atau karung jala cukup baik untuk buncis dan diberi lubang ventilasi. Untuk mencegah kerusakan buncis selama pengangkutan hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

a. Buncis yang telah dikemas dalam kantung plastik poly ethylene disusun rapi di dalam kotak emas sampai penuh, kemudian kotak ditutup dan diikat dengan tali.

b. Kotak emas yang telah berisi kotakan buncis disusun rapi dalam alat pengangkutan. Antara kotak diberi celah agar ada sirkulasi udara sehingga ruangan pengangkutan tidak panas.

c. Pengangkutan seharusnya dilakukan pada malam hari untuk menghindari cuaca yang panas.

Semoga artikel tentang teknik budidaya tanaman buncis ini dapat bermanfaat,

Salam.,,,

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !