Artikel

Teknik Pemeliharaan Ternak Kambing

Teknik Budidaya Ternak Kambing – Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang yang banyak dikenal dikalangan masyarakat, khususnya pedesaan. Ternak kambing juga ternak yang biasa dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Ternak kambing cukup populer dikalangan masyarakat sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan keluarga. Pemeliharaan kambing trelatif mudah dan tidak banyak membutuhkan modal, dibanding memelihara ternak ruminansia besar seperti sapi, kerbau, dan lainnya.

Pola peternakan kambing dan domba potong atau pedaging di Indonesia sebagian besar masih berskala kecil sehingga perlu diupayakan secara lebih intensif. Pertambahan penduduk yang tinggi di Indonesia ditambah dengan semakin meningkatnya daya beli masyarakat menyebabkan kebutuhan daging selama ini belum mencukupi permintaan. Produksi dalam negeri untuk daging baru mencapai ± 400.000 ton/tahun, sehingga sampai dengan saat ini masih mengandalkan impor daging. Perlu adanya pemeliharaan kambing yang relatif cepat produksi.

Penggemukan kambing atau domba adalah suatu aktivitas pemeliharaan kambing atau domba dewasa yang sebelumnya dalam kondisi kurus. Kondisi kurus tersebut dapat ditingkatkan dengan manajemen pakan yang baik, selanjutnya ditingkatkan berat badannya melalui proses pembesaran daging dalam waktu 3-5 bulan. Pemeliharaan kambing perlu manajemen yang baik agar hasil yang diperoleh maksimal. Manajemen kandang, pakan, pemilihan bibit, maupun pengendalian penyakit perlu dilakuakn secara baik.

Pemilihan Bibit

Bibit merupakan suatu bakalan untuk dijadikan calon indukan agar menghasilkan anakan. Bibit sangat menentukan keberhasilan dari suatu usah, selain manajemen yang baik. Bibit yang digunakan oleh Bapak Gunadi membeli dari pasar. Menurut Bapak Gunadi, cara memilih bibit betina dengan kriteria ambing besar, badan tegap, telinga panjang. Herlinae dan Yemima (2012) berpendapat bahwa, ciri bibit yang baik adalah yang berbadan  sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Ciri untuk calon induk : tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk, jinak dan sorot matanya ramah, kaki lurus dan tumit tinggi, gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata, dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda, ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah sedangkan. Ciri untuk calon pejantan : tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi, kaki lurus dan kuat, dari keturunan kembar, umur antara 1,5 sampai 3 tahun.

Pemilihan bibit sebaiknya dilakuakn sesuai dengan tujuan pemeliharaan. Bibit untuk dijadikan bakalan untuk penggemukan maupun potong sebaiknya dipilih sesuai dengan kriteria yang baik. Bapak Gunadi memilih bibit untuk dibesarkan tidak untuk tujuan penggemukan. Lain halnya dengan bibit untuk penggemukan, karena kambing untuk penggemukan dipacu untuk menghasilkan bobot badab yang tinggi.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 57/Permentan/OT.140/10/2006 menyatakan bahwa bibit kambing dan domba diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu:

  1. bibit dasar (elite/foundation stock), diperoleh dari proses seleksi rumpun atau galur yang mempunyai nilai pemuliaan di atas nilai rata-rata.
  2. bibit induk (breeding stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar.
  3. bibit sebar (commercial stock), diperoleh dari proses pengembangan bibit induk.

Seleksi bibit kambing dan domba dilakukan berdasarkan penampilan (performance) anak dan individu calon bibit kambing dan domba tersebut, dengan mempergunakan kriteria seleksi sebagai berikut:

1. Kambing dan Domba induk

  • induk harus dapat menghasilkan anak secara teratur 3 (tiga) kali dalam 2 tahun.
  • frekuensi beranak kembar relatif tinggi
  • total produksi anak sapihan diatas rata-rata.

2. Calon pejantan

  1. bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari umur induk dan tipe kelahiran dan disapih.
  2. bobot badan umur 6, 9, dan 12 bulan diatas rata-rata.
  3. pertambahan bobot badan pra dan pasca sapih baik
  4. libido dan kualitas spermanya baik
  5. penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya.

3. Calon induk

  1. bobot sapih terkoreksi terhadap umur 90 (sembilan puluh) hari tipe kelahiran dan disapih
  2. bobot badan umur 6 dan 9 bulan di atas rata-rata
  3. pertambahan berat badan pra dan pasca sapih baik
  4. penampilan fenotipe sesuai dengan rumpunnya.

a. Syarat calon induk

  1. Ukuran badan besar, tetapi tidak  terlalu gemuk. Bentuk tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus. Bulu bersih dan mengilap.
  2. Keempat kakinya lurus dan terlihat kokoh serta tumit tinggi.
  3. Tidak ada cacat di bagian tubuhnya, misalnya di telinga, mulut, ekor atau hidung. Selain itu, mata tidak rabun atau buta yang dapat dicek dengan mendekatkan jari pada mata. Kalau tidak ada kedipan, berarti ternak tersebut buta atau rabun.
  4. Bentuk dan ukuran alat kelamin normal. Ambingnya tidak terlalu menggantung, isinya kenyal, tidak terinfeksi  dan puting susu berjumlah dua dengan ukuran dan posisi yang simetris.
  5. Umur lebih dari 1 tahun dan telah birahi sebelum umur 1 tahun. Mempunyai sifat keibuan yang terlihat dari jinaknya ternak dan sorot matanya yang ramah.
  6. Berdasarkan buku catatan, pilih kambing yang lahir kembar atau kelahiran tunggal yang berasal dari induk muda dan mempunyai pertumbuhan yang baik.
  7. Jumlah gigi dipilih yang lengkap, rahang atas dan rahang bawah rata. Tujuannya agar induk dapat memamah biak dengan baik.

b. Syarat calon pejantan

  1. Ukuran badan normal, tubuh panjang dan besar; bentuk perut normal; dada dalam dan lebar; kaki kokoh, lurus, kuat dan terlihat tonjolan tulang yang besar pada kaki; serta mata tidak rabun atau buta.
  2. Pertumbuhannya relatif cepat.
  3. Gerakannya lincah dan terlihaat ganas.
  4. Alat kelamin normal dan simetris serta sering terlihat ereksi.
  5. Tidak pernah mengalami penyakit yang serius.
  6. Umurnya antara 15 bulan hingga 5 tahun.
  7. Pilih calon pejantan yang berasal dari kelahiran kembar dan berasal dari induk dengan jumlah anak lahir lebih dari dua. Bila berasal dari kelahiran tunggal, pilih pejantan yang berasal dari induk dengan jumlah anak hanya satu.

Tatalaksana Perkandangan

Teknis kandang

Perencanaan pembuatan kandang kambing memerlukan persyaratan teknis yang baik, yakni :

  1. Konstruksi harus diusahakan cukup kuat, terutama tiang-tiangnya, meskipun menggunakan bahan bangunan yang sederhana.
  2. Atap diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil.
  3. Dinding harus diusahakan dari bahan bangunan seperti bambu yang dianyam dan ventilasi harus baik.

Kandang kambing menurut Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung harus memenuhi kriteria sebagai berikut :

a. Ukuran Kandang :

  • Anak : 1 X 1,2 m /2 ekor (lepas sapih),
  • Jantan dewasa : 1,2 X 1,2 m/ ekor
  • Dara/ Betina dewasa :1 X 1,2 m /ekor
  • Induk dan anak 1,5 X 1,5 m/induk + 2 anak

b.Bentuk kandang menurut Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BP2TP)  : Kandang Panggung.

  • Kandang panggung dengan lantai bercelah 1 cm.
  • Untuk kambing jantan dewasa berukuran1 x 1,5 m/ekor.
  • Untuk induk kambing dengan anaknya berukuran 1 x 1,5 m/ekor. Kambing muda (di bawah 1 tahun) berukuan 0,8 m2/ekor. Anak kambing 0,6 m2/ekor.

Letak kandang

Kandang harus memenuhi syarat sebagai berikut :

  1. Kandang dibuat di daerah yang relatif tinggi dari daerah sekitarnya, tidak lembab, serta jauh dari kebisingan.
  2. Aliran udara segar.
  3. Sinar matahari pagi bebas masuk.
  4. Agak jauh dari lokasi pemukiman warga.
  5. Lokasi diusahakan jauh dari sumber air minum yag dipergunakan oleh warga.
  6. Usahakan lokasi kandang jauh dari keramaian.

Tipe dan model kandang

Model kandang panggung dengan sistem perkandangan individu dan koloni. Kandang koloni merupakan kandang yang tidak ada penyekatnya atau kalau disekat, ukuran kandang relatif luas, untuk memelihara beberapa kambing domba sekaligus. Kandang ini cocok untuk membesarkan domba bakalan atau memelihara betina dewasa calon induk. Sedangkan kandang individual merupakan kandang yang disekat-sekat sehingga cukup untuk 1 ekor kambing domba, misalnya berukuran 0,75 m x 1,4 m atau 0,7 m x 1,5 m. Kandang ini umunya digunakan untuk membesarkan kambing domba bakalan dan menggemukan kambing domba yang afkir yang kurus, karena kandang berukuran sempit, gerakan ternak relatif sedikit sehingga perkembangan ternak lebih cepat .

Kandang tipe panggung merupakan kandang yang konstruksi lantainya dibuat sistem panggung, sehingga kotoran dan air kencing kambing tidak berceceran. Alas kandang kambing sebaiknya terbuat dari kayu atau bambu yang sudah diawetkan supaya tahan terhadap kelapukan. Dinding kandang yang rapat sehingga dibuat setinggi 60-80 cm, agar ternak kambing di dalam kandang terhindar dari angin keras. Tinggi panggung dari tanah dapat dibuat minimal 50 cm.

Kandang merupakan suatu tempat untuk segala aktivitas ternak. Kandang milik Bapak Gunadi model panggung, dimana model kandang panggung lebih baik untuk kesehatan dan perkembangan kambing. Kandang milik Bapak Gunadi terbat dari bambu, sehingga lebih ekonomis. Probowo (2010) menyatakan bahwa,  kandang diusahakan menghadap ke timur agar memenuhi persyaratan kesehatan ternak. Bahan yang digunakan harus kuat, murah dan tersedia di lokasi. Kandang dibuat panggung dan beratap dengan tempat pakan dan minum. Dinding kandang harusmempunyai ventilasi (lubang angin) agar sirkulasi udara lebih baik. Kambing sebaiknya dipelihara dalam kandang untuk:
  • Memudahkan dalam pengawasan terhadap kambing yang sakit atau yang sedang dalam masa kebuntingan.
  • Memudahkan dalam pemberian pakan.
  • Menjaga keamanan ternak.

Ukuran kandang akan untuk pemeliharaan kambing perlu diperhatikan, karena ukuran atau luas kandang akan mempengaruhi produksi dan reproduksi untuk perkembangan kambing. Luas kandang akan menentukan kepadatan kandang. Kandang yang terlalu padat maupun terlalu longgar tidak baik, sehingga perlu adanya perhitungan luas kandang. Luas kandang milik Bapak Gunadi adalah 6,875 m2, dengan panjang 2,72 m dan lebar 2,5 m diisi dengan 4 ekor kambng. Rianto (2004) menyatakan bahwa luas kandang yang dibutuhkan oleh seekor kambing/domba jantan adalah 1,2 x 1,4 m2, untuk betina ukuran 1,0 x 1,5 m2. Ukuan kandang milik Bapak Gunadi cukup, sesuai dengan uuran kandang pendapat Rianto (2004) untuk satu ekor betina ukurannya 1,0 x 1,5 m2, sehingga jika untuk menampung 4 ekor kambing luasnya adalah 6 m2.

Pakan Kambing

Kambing memiliki kebiasaan makan yang berbeda dengan ternak ruminansia lain dan bila tidak terkontrol dapat mengakibatkan kerusakan. Kambing menggunakan bibir atasnya yang mudah digerakkan dan lidahnya yang lincah dalam mengambil makanan, kambing mampu merumput rumput yang sangat pendek dan meragut dedaunan yang biasanya tidak dimakan oleh ternak lain, disamping itu kambing merupakan pemakan yang lahap, dengan pakan yang beagam dari tanaman dan kuit pohon hingga kulit dan kain.

Pemanfaatan hijauan pakan sebagai makanan ternak kambing disuplementasikan dengan makanan penguat atau konsentrat. Dengan demikian kebutuhan ternak kambing akan zat-zat makanan yang diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi, dan reproduksi dapat terpenuhi. Keuntungan yang diperoleh dari pemberian makanan kasar bersama makanan penguat adalah adanya kecenderungan mikroorganisme dalam rumen dapat memanfaatkan makanan penguat terlebih dahulu sebagai sumber energi, dan selanjutnya dapat memanfaatkan makanan kasar yang ada.

Mineral merupakan salah satu zat yang mempunyai peranan pokok dalam hal pertumbuhan dan reproduksi ternak kambing seperti metabolisme protein, energi serta biosintesa zat makanan esensial. Mineral memiliki fungsi fisiologis yang khas, sebab unsur mineral yang satu berbeda dengan unsur mineral yang lain. Meskipun demikian setiap unsur mineral memiliki kegunaan umum, seperti :

  1. Bahan baku pembentukan tulang, gigi, dan jaringan keras
  2. Mempertahankan keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
  3. Mempertahankan keadaan koloidal dari beberapa senyawa dalam tubuh.
  4. Menjaga permeabilitas membran-membran sel dan keseimbanagn ion-ion dalam darah.
  5. Aktivator beberapa enzim tertentu.
  6. Komponen dalam suatu enzim, darah dan sebagainya.
  7. Berperan penting dalam meningkatkan kepekaan syaraf dan otot.

Kesehatan

Peternak pada praktikum kali ini rata-rata tidak melakukan pencegahan penyakit, adapun pencegahan penyakit itu hanya berupa pembersihan kandang dan lingkungan. Tindakan pertama yang dianjurkan pada usaha pemeliharaan ternak kambing dan domba adalah melakukan pencegahan penyakit. Beberapa langkah pencegahan itu adalah sebagai berikut.

  1. Lahan yang akan digunakan untuk memelihara ternak kambing dan domba harus bebas dari penyakit menular.
  2. Kandang harus kuat, aman dan bebas penyakit.
  3. Ternak yang baru datang dari daerah lain perlu dimasukkan di kandang karantina dan diperlakukan khusus.
  4. Kandang dan lingkungan tidak boleh lembab dan bebas dari genangan air.
  5. Dilakukan vaksinasi secara teratur.

Macam-macam penyakit yang pernah menyerang ternak kambing 

a. Kudis

Penyakit ini disebabkan oleh Sarcoptes scabei. Perpindahan penyakit ini melalui kontak langsung. Ternak yang terserang penyakit ini akan gelisah, tidak dapat istirahat dan nafsu makan menurun karena rasa gatal yang berat, pertumbuhan ternak terhambat, bulu rontok, kulit rusak dan induk yang menyusui produksi air susunya akan turun. Pencegahannya dapat dilakukan dengan sanitasi kandang dan lingkungan, memandikan secara rutin dengan air bersih.

b. Kembung perut

Kembung perut dapat terjadi karena kambing tidak mampu menghilangkan gas yang dihasilkan oleh rumen. Gas juga timbul karena kambing terlalu banyak makan hijauan legume, pemberian pakan yang tidak teratur atau kambing yang terlalu lapar sehingga kambing makan hijauan atau rumput basah yang berembun.

Pencegahan dapat dilakukan dengan membatasi pemberian hijauan legume (maksimal 40%), mengatur pemberian pakan sehingga kambing tidak pernah kelaparan, mengatur imbangan zat gizi secara proporsional dan menggembalakan kambing setelah tidak ada embun.

Pengobatan dapat dilakukan dengan:

  1. Kambing dipaksa berdiri dan berjalan
  2. Ikatkan tali atau kayu kecil dalam mulut, kambing dipaksa berdiri, kaki depan diganjal hingga lebih tinggi sehingga kambing terpaksa melakukan kegiatan mengunyah agar air liur banyak keluar dan kembung dapat berkurang.
  3. Kambing diberi gula seduh dengan asam dengan posisi berdiri dengan kaki depan lebih tinggi seiring dengan itu perut kambing ditekan-tekan
  4. Apabila sudah kritis masukan feeding tube (pipa kecil) kedalam rumen melalui mulut kemudian dihisap (dipompa keluar). Bila keadaan lebih kritis lagi, lambung sebelah kiri ditusuk dengan alat troacker yang telah dibersihkan dengan alcohol.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !