www.FolderBisnis.comSajian lengkap seluk beluk usaha dari strategi sampai promosi

Teknik Penyambungan Pada Tanaman Pala

Teknik Penyambungan Pada Tanaman Pala. Teknik perkembangbiakan vegetatif pada tanaman pala dengan cara penyambungan (grafting) yang dilakukan setelah tanaman dewasa. Teknik tersebut digunakan untuk memperbaiki tanaman dewasa pala yang tidak produktif atau tidak berbuah. Tanaman tidak produktif ini biasanya tanaman dewasa berkelamin jantan. Teknik penyambungan ini bertujuan untuk membuat tanaman berkelamin jantan dapat berbuah sehingga tidak merugikan bagi para petani. Sesuai dengan manfaat dari penyambungan untuk memperbaiki sifat tanaman antara lain:

  1. Memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah (tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya.
  2. Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik, tindakan ini dilakukan khususnya pada tanaman pala dewasa yang tidak produktif.
  3. Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi. Peremajaan total berlaku sebaliknya.

Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping.

Dalam melalukan teknik sambung pucuk (grafting) supaya tingkat keberhasilannya tinggi yaitu memiliki syarat pada batang atas dan bawah yang akan digunakan. Syarat batang bawah untuk sambungan menggunakan batang tunas air yaitu batang yang masih hijau dan arah tumbuh keatas.  Selain itu juga batang bawah Berdiameter 3-5 mm  batang dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel kebatang bawah.

Syarat batang atas untuk sambungan atas antara lain:

  1. Batang atas atau entres yang akan disambungkan pada batang bawah diambil dari pohon induk yang sehat dan tidak terserang hama dan penyakit.
  2. Pengambilan entres ini dilakukan dengan menggunakan gunting setek atau silet yang tajam (agar diperoleh potongan yang halus dan tidak mengalami kerusakan) dan bersih (agar entres tidak terkontaminasi oleh penyakit).
  3. Entres yang akan diambil sebaiknya dalam keadaan dorman (istirahat) pucuknya serta tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).
  4. Panjangnya kurang lebih 10 cm dari ujung pucuk, dengan diameter sedikit lebih kecil atau sama besar dengan diameter batang bawahnya.
  5. Entres dalam keadaan dorman ini bila dipijat dengan dua jari tangan akan terasa padat, tetapi dengan mudah bisa dipotong dengan pisau silet. Selain itu bila dilengkungkan keadaannya tidak lentur tetapi sudah cukup tegar.
  6. Entres sebaiknya dipilih dari bagian cabang yang terkena sinar matahari penuh (tidak ternaungi) sehingga memungkinkan cabang memiliki mata tunas yang tumbuh sehat dan subur.
  7. Bila pada waktunya pengambilan entres, keadaan pucuknya sedang tumbuh tunas baru (trubus) atau sedang berdaun muda, maka bagian pucuk muda ini dibuang dan bagian pangkalnya sepanjang 5-10 cm dapat digunakan sebagai entres.
  8. Pada tanaman pala bila entres yang digunakan berasal dari cabang yang tumbuh tegak lurus, maka bibit sambungannya akan tumbuh tegak dengan percabangan ke semua arah atau simetris.
  9. Namun bila diambil dari cabang yang lain,pertumbuhan bibitnya akan mengarah ke samping, berbentuk seperti kipas.Bentuk ini berangsur-angsur hilang bila tanaman menjelang dewasa.

Teknik penyambungan telah dilakukan pada praktik kerja lapangan yaitu dengan 5 cara teknik penyambungan (3 sambung pucuk dan 2 tempel mata tunas (okulasi)) seperti hasil pengamatan yang dilakukan. Pemilihan teknik penyambungan ini dilakukan karena dari kelima teknik ini dapat diterapkan pada tanaman dewasa. Berikut tahapan dari setiap teknik penyambungan antara lain:

1. Sambung pucuk (top grafting)

Sambung pucuk merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah. Berikut tahapan dari sambung pucuk:

  1. Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas.
  2. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung pada tanaman pala 3-4 bulan dan masih berwarna hijau.
  3. Gunakan silet, pisau okulasi atau gunting setek yang tajam agar bentuk irisan menjadi rapi. Batang bawah kemudian dibelah membujur sedalam 2-2,5 cm seperti huruf “V”.
  4. Batang atas yang sudah disiapkan dipotong, sehingga panjangnya antara 7,5-10 cm. bagian pangkal disayat pada kedua sisinya sepanjang 2-2,5 cm, sehingga bentuk irisannya seperti mata kampak atau seperti huruf “V”.
  5. Selanjutnya batang atas dimasukkan ke dalam belahan batang bawah.
  6. Pengikatan dengan tali plastikyang terbuat dari kantong plastik ½ kg selebar 1 cm.
  7. Kantong plastik ini ditarik pelan-pelan, sehingga panjangnya menjadi 2-3 kali panjang semula.
  8. Terbentuklah pita plastik yang tipis dan lemas.
  9. Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah.
  10. Sambungan kemudian disungkup dengan kantong plastik bening. Agar sungkup plastik tidak lepas bagian bawahnya perlu diikat. Tujuan penyungkupan ini adalah untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban udara di sekitar sambungan agar tetap tinggi seperti (Gambar 7).

Teknik Penyambungan tanaman pala11. Biasanya 2-3 minggu kemudian sambungan yang berhasil akan tumbuh tunas. Sambungan yang gagal akan berwarna hitam dan kering. Pada saat ini sungkup plastiknya sudah bisa dibuka. Namun, pita pengikat sambungan baru boleh dibuka 3-4 minggu kemudian.

2. Sambung Pucuk Samping (side grafting)

Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Caranya sebagai berikut:

  1. Batang bawah dipilih yang baik. Pemilihan batang atas untuk ukuran tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil.
  2. Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong.
  3. Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya.
  4. Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.
  5. Setelah selesai disambungkan, sambungan tersebut diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik.
  6. Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat. Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik, bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang atas.

3. Sambung pucuk pantek

Pelaksanaan sambung pantek sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung pantek merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian batang bawah lebih besar yang sebelumnya dipotong terlebih dahulu dan disisipkan pada sisi samping batang bawah berikut tahapan-tahapan sambung pantek:

  1. Pemilihan batang bawah yang baik yaitu sesuai syarat pemilihan batang bawah.
  2. Pemilihan batang atas untuk ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil dan batang bawah harus lebih besar.
  3. Pada batang bawah dipotong secara horisontal kemudian buat irisan belah pada sisi batang bawah membentuk “V” kedalam sampai sedikit menembus bagian kayunya.
  4. Batang atas dibuat irisan menyerupai huruf “V” meruncing dengan menyamakan lubang pada batang bawahnya
  5. Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.
  6. Setelah selesai disambungkan, sambungan tersebut diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik.

Penempelan atau okulasi (budding) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang ditempelkan atau disebut batang atas, entres (scion) dan merupakan potongan satu mata tunas (entres).

Adapun syarat batang bawah untuk okulasi tanaman pala dewasa:

  1. Batang berdiameter 3-5 mm, berumur sekitar 3-4 bulan.
  2. Dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah.
  3. Disarankan batang primer.
  4. Batang bawah dipupuk dengan Urea 1-2 minggu sebelum penempelan.

Adapun syarat batang atas untuk okulasi tanaman pala dewasa antara lain:

  1. Entres yang baik adalah yang cabangnya dalam keadaan tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).Warna kulitnya coklat muda kehijauan atau abu-abu muda. Entres yang diambil dari cabang yang terlalu tua pertumbuhannya lambat dan persentase keberhasilannya rendah. Besar diameter cabang untuk entres ini harus sebanding dengan besarnya batang bawahnya.
  2. Cabang entres untuk okulasi ini sebaiknya tidak berdaun (daunnya sudah rontok). Pada tanaman tertentu sering dijumpai cabang entres yang masih ada daun melekat pada tangkai batangnya. Untuk itu perompesan daun harus dilakukan dua minggu sebelum pengambilan cabang entres. Dalam waktu dua minggu ini, tangkai daun akan luruh dan pada bekas tempat melekatnya (daerah absisi) akan terbentuk kalus penutup luka yang bisa mencegah masuknya mikroorganisme penyebab penyakit (patogen).
  3. Syarat lain yang perlu diperhatikan pada waktu pengambilan entres adalah kesuburan dan kesehatan pohon induk. Untuk meningkatkan kesuburan pohon induk, biasanya tiga minggu sebelum pengambilan batang atas dilakukan pemupukan dengan pupuk NPK. Kesehatan pohon induk ini penting karena dalam kondisi sakit, terutama penyakit sistemik mudah sekali ditularkan pada bibit.
  4. Entres diambil setelah kulit kayu cabangnya dengan mudah dapat dipisahkan dari kayunya (dikelupas). Bagian dalam kulit kayu ini (kambium) akan tampak berair, ini menandakan kambiumnya aktif, sehingga bila mata tunasnya segera diokulasikan akan mempercepat pertautan dengan batang bawah.

Teknik okulasi memiliki beberapa factor yang menunjang keberhasilan dalam melakukan teknik tersebut antara lain:

  1. Waktu terbaik pelaksanaan okulasi adalah pada pagi hari, antara jam 07.00-11.00 pagi, karena saat tersebut tanaman sedang aktif berfotosintesis sehingga kambium tanaman juga dalam kondisi aktif dan optimum. Diatas Jam 12.00 siang daun mulai layu.Tetapi ini bisa diatasi dengan menempel di tempat yang teduh, terhindar dari sinar matahari langsung.
  2. Kebersihan alat okulasi, silet yang akan digunakan langsung kita belah dua saat masih dalam bungkusan kertas, sehingga silet kita tetap dalam kondisi bersih satu belahan kita gunakan sedangkan belahan lainnya kita simpan untuk pengganti belahan silet pertama apabila dirasa sudah tidah tajam lagi. Perawatan alat okulasi, setelah digunakan silet dibersihkan dan dibungkus lagi dengan kertas pembungkusnya agar tidak berkarat.
  3. Pembuatan tali plastik dari kantong plastik es berukuran ½ kg (12×25 cm). Gunakan plastik yang tahan santan dan minyak. Membuat irisan memanjang dengan lebar 0.5-1 cm. Pengirisan dengan silet, yang bergeraknya plastiknya bukan siletnya. Untuk pemula pengirisan plastik bisa beralaskan papan atau kaca.
  4. Menghitung kebutuhan tali plastik, 1 kantong plastik ukuran ½ kg menjadi 12 irisan bolak-balik sehingga menjadi 24 irisan x 3 bagian (8 cm) dihasilkan sekitar 72 tali plastic x ¼ kg (isi 140 lembar) maka dihasilkan 10.080 tali plastic.
  5. Menarik tali plastik panjang sesuai kebutuhan dan penarikan dari ujung dan ujung sampai tali tidak ada kerutan.

Percobaan okulasi dilakukan dengan dua percobaan dengan pembeda mata tunasnya. Okulasi pertama mata tunas sudah muncul daun sedangkan percobaan kedua mata tunas tidur.  Berikut tahapan dari okulasi antara lain:

1. Pembuatan sayatan untuk tempat menempel entres.

Melihat dan memperhatikan bagian batang yang akan dijadikan tempat okulasi sebaiknya batang yang digunakan memiliki kulit yang mudah dikelupas. menentukan tempat okulasi, membuat tempat sayatan/kupasan/sobekan membentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 1,5-3 cm mengikuti arah batang. tergantung pada besar kecilnya diameter batang bawah dan diseimbangkan dengan besar kecilnya entres.

2. Pengambilan mata entres.

Kriteria mata entres yang baik dari segi ukuran:

  1. Mata entres yang sudah plast/mekar dan yang masih tidur.
  2. Mata entres yang besar tapi belum plast/sedang/bentuknya sudah menonjol (terbaik untuk ditempel).
  3. Mata tunas kecil/dormant/istirahat (dapat digunakan tapi agak lama melekatnya dan pertumbuhannya juga relatif lama).
  4. Kriteria mata entres yang baik dari segi pengerjaan dan bentuk:
  5. Mudah dikupas (menandakan bawah kambiumnya/jaringannya aktif).
  6. Kelihatan bernas/sehat/segar.
  7. Diambil dari ranting yang berdiameter 2-4 mm, atau diameternya sama dengan
  8. batang bawah.
  9. Warna kulit sama dengan warna kulit batang bawah (ini menunjukkan kesesuaian secara fisiologis).

Berikut cara pengambilan mata entres sehingga mata entres tidak rusak antara lain:

  1. Pengambilan/pengupasan pola mata entres dari atas ke bawah, karena yang dilekatkan/yang menjadi faktor penentu tingkat keberhasilan adalah lekatan pola entres bagian bawah rapat dengan pola jendela di batang bawah. Atau dengan kalimat lain bahwa yang diperlukan adalah sisi bawah yang bersih, karena syarat mutlak agar tempelan jadi adalah pola mata entres harus melekat/menempel rapat pada sisi bawah dan salah satu sisi samping, sedangkan sisi atas dan sisi samping lainnya tidak melekatpun tidak apa-apa, tetapi lebih sempurna kalau semua sisi menempel rapat (tetapi keadaan tersebut sulit dicapai). Ukuran sayatan mata tempel sedikit lebih kecil dari ukuran sayatan batang bawah.
  2. Menyayat agak dalam sehingga menembus kayu.
  3. Tangan kiri memegang ranting yang mau diambil mata entresnya, ibu jari tangan kiri menahan ranting dan membantu mendorong ke arah atas saat silet ditangan kanan mulai bergerak membuat sayatan menembus kayu, panjang sayatan sekitar 0.5-1 cm diatas mata entres dan 0.5-1 cm dibawah mata entres (sayatan mata entes sepanjang sekitar 1-1.5 cm), sayatan untuk pengambilan entres harus dengan satu gerakan mulus searah dan tidak boleh dengan gerakan terputus-putus.
  4. Setelah sayatan melewati mata entres, kemudian membuat keratan melingkar mengarah miring ke dalam menghubungkan kedua sisi sayatan bidang pola mata entres, untuk memisahkan mata entres dengan kayu dengan cara mengait pola dengan ujung silet atau dengan kuku jari dengan sontekan halus sehingga terlepaslah kulit yang membawa mata entres dengan kayu dan sayatan kayu tidak terlepas dari ranting.
  5. Apabila ranting yang terdapat mata entres terlalu kecil, biasanya sayatan ikut melepaskan kayu terikut dengan sayatan, kalau itu terjadi kita masih dapat memisahkan mata entres dengan kayu tersebut dengan sontekan ujung silet yang hati-hati. Kemudian rapikan irisan sisi bawah entres untuk menghindari irisan sisi bawah entres dari kotoran atau infeksi, yang menjadi perhatian pola sayatan mata entres harus bersih dari kayu dan apabila dilihat tidak meninggalkan lubang di bekas kulit mata entres, maka sayatan pola mata entres tersebut siap untuk ditempelkan seperti (Gambar 8).
  6. Menempelkan mata entres ke sayatan batang bawah antara lain: Ambil sayatan mata entres, masukkan, lekatkan, tempelkan, tancapkan dan tekan entres pada sisa sobekan di batang bawah seperti (Gambar 9). Prinsipnya semakin cepat penempelan dari pengambilan entres semakin baik, persen jadinya makin tinggi
  7. Setelah penempelan dilakukan pengikatan hasil penempelan antara lain:
  8. Mengambil tali dan tarik tali plastik yang disiapkan untuk pengikatan, pengikatan dari bawah tempelan melingkar ke atas dimulai sekitar 0.5 cm di bawah sayatan/jendela, tali plastik disusun saling tindih seperti menyusun genting, pengikatan dengan hati-hati jangan terlalu kencang (mengganggu proses penyatuan batang bawah dan entres), atau kurang kencang/kendur (air bisa masuk ke luka tempelan, sehingga menginfeksi tempelan) gunakan perasaan dalam pengikatan.
  9. Pengikatan di dekat mata entres harus lebih hati-hati, ikat bagian bawah mata entres menuju bagian atas mata entres, ikat arah menyilang menuju bawah mata entres, ikat bagian bawah mata entres, kembali menyilang ke atas mata entres usahakan sekitar mata entres terikat sempurna sehingga air tidak masuk ke dalam tempelan.
  10. Melanjutkan pengikatan ke arah atas sampai ikatan menutupi 0.5 cm diatas luka sayatan batang bawah, lalu kunci ikatan dan tarik tali plastik dan potong/rapikan sisa tali plastik.
  11. Mata entres yang besar atau berdaun, tidak ditutup tali plastik saat pengikatan, tangkai daun dipotong penuh/biasanya tangkai daunnya sudah tanggal dengan sendirinya bila mata entres sudah besar seperti (Gambar 10).
  12. Mata entres yang masih kecil ditutup dengan tali plastik, tetapi disiasati dengan menyisakan potongan tangkai daun dibawahnya agak panjang sedikit, sehingga walaupun di tutup tapi sisa potongan tangkai daun masih mampu melindungi mata entres kecil dari tekanan pengikatan tali plastik sehingga cukup ruang untuk tumbuh dan mata entres tidak patah.
  13. Setelah pengikatan dilakukan penyungkupan dengan plastik yang sebelumnya dibasahi terlebih dahulu seperti pada (Gambar 11).
Mata Tunas tanaman pala gmbr 8
Gambar 8
Penempelan mata entres pala
Gambar 9
Pengikatan penempelan pala gmbr 10
Gambar 10
Penyungkupan
Gambar 11

Adapun dalam kelima perlakuan hal perlu diperhatikan pada batang atas bagian dasar entris atau mata tunas harus disambungkan dengan bagian atas batang bawah. Untuk okulasi (budding), mata tunas harus menghadap ke atas. Jika posisi ini terbalik, sambungan tidak akan berhasil baik karena fungsi xylem sebagai pengantar hara dari tanah meupun floem sebagai pengantar asimilat dari daun akan terbalik arahnya.

Selain itu dalam teknik penyambungan akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang keberhasilan dalam metode grafting yaitu:

  1. Faktor tanaman (genetik, kondisi tumbuh, panjang entris).
  2. Faktor lingkungan (ketajaman/kesterilan alat, kondisi cuaca, kapan waktu pelaksanaan grafting (pagi, siang, sore hari),
  3. Faktor keterampilan orang yang melakukan grafting
  4. Panjang entris berkaitan dengan kecukupan cadangan makanan/energi untuk pemulihan sel-sel yang rusak akibat pelukaan.

Teknik penyambungan dilakukan dengan 5 perlakuan dan setiap perlakuan penyambungan ada 25 ulangan. Pengamatan dilakukan 3-4 minggu setelah perlakuan dengan variable mati atau hidup. Teknik perkembangbiakan vegetatif dikatakan mati apabila sambungan entres atas/mata tunas  busuk atau mengering. Sedangkan vegetative dikatakan hidup apabila entres atas/mata tunas masih segar ditunjukan dengan tunas berwarna hijau yang tumbuh di pucuk. Kedua variabel tersebut dapat dilihat pada (Gambar 12).

Kondisi daun mati setelah penyambungan gmbr 12

Hasil kelima perlakuan teknik penyambungan dan 25 ulangan tersebut didapatkan beberapa perlakuan yang berhasil dan tidak antara lain: perlakuan I= semua mati, perlakuan II= semua mati, perlakuan III= 8 hidup, perlakuan IV= 10 hidup dan perlakuan V= 5 hidup.

Percobaan pertama dan kedua mati semua dikarenakan batang bawah yang disambung rata-rata busuk seperti (Gambar 13). Batang bawah busuk menyebabkan makanan dari akar tidak masuk ke bagian entres batang bawah dan batang atas sambungan tidak tersuplai makanan sehingga tidak bisa memperbaiki sel yang luka akibat sayatan dan mengakibatkan penyambungan gagal.

Batang bawah sambung pucuk gmbr 13

Untuk mengetahui tahan tidaknya hasil peyambungan pada lingkungan luar maka sungkup pada setiap perlakuan penyambungan yang hidup dilepas. Kemudian didapatkan bahwa untuk perlakuan III dan V mati semua sedangkan yang bertahan yaitu hanya pada perlakuan III. Perlakuan III dan V mati semua dikarenakan tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan diluar sungkup. Sedangkan untuk perlakuan IV bisa bertahan dan menyesuaikan sehingga dapat hidup dan tumbuh tunas baru seperti (Gambar 14). Perlakuan IV memiliki tingkat ketahanan hidup setelah dibukanya sungkup karena dari teknik okulasi ini sudah sempurna menempel ke batang bawahnya. Percobaan ketiga dan kelima mati setelah dibuka sungkupnya tidak tahan terhadap lingkungan yang tidak mendukung sehingga membuat entres atas atau mata tunas busuk.

Okulasi mata tunas berdaun gmbr 14

Analasis SWOT Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat dan Budidaya Tanaman Pala Dengan Teknik Grafting

Metode analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi balai agar dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunity), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Oleh karena itu, analisis ini bermanfaat sebagai dasar dalam memajukan atau membantu dalam usaha perbaikan balai agar lebih baik.

Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategis (strategicplanner) harus menganalisis faktor-faktor strategis balai (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.Variabel-variabel yang di analisis terdiri atas variabel internal dan eksternal balai yang strategis. Variabel internal balai meliputi kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) serta variabel eksternalnya  meliputi peluang (opportunity) dan ancaman (threats).Analisis SWOT pada balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor antara lain:

1. Strength (kekuatan)

Kekuatan merupakan faktor dominan dalam sebuah organisasi. Kekuatan inilah yang menyebabkan balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor dapat bertahan bahkan berkembang seperti dalam budidaya tanaman pala dengan teknik grafting pada tanaman pala dewasa. Balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor mempunyai  potensi yang lebih dari lembaga penelitian lain, diantaranya:

  1. Memiliki fasilitas yang memadai antara lain kantor sebagai tempat administrasi, rumah kaca sebagai tempat penelitian, dan fasilitas transportasi. Sehingga memudahkan dan melancarkan dalam kegiatan budidaya tanaman pala dengan teknik grafting ini.
  2. Sumber daya manusia yang terlatih dan ahli pada dibidangnya yaitu pemanfaatan teknisi yang bergelut dibidang agronomi pada budidaya tanaman pala dengan teknik grafting sehingga kegiatan tersebut menghasilkan sebuah hasil yang memuaskan.

2. Weakness (kelemahan)

Adanya kesadaran akan kekurangan yang dimiliki, menumbuhkan motivasi untuk selalu berusaha melengkapi kekurangan tersebut. Adapun kelemahan yang dimiliki oleh Balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor dan dalam melaksanakan budidaya tanaman pala dengan teknik grafting pada tanaman dewasa adalah:

  1. Komunikasi yang kurang antara peneliti dan teknisi yang sering dijumpai dilapang sehingga mengakibatkan kegiatan budidaya tanaman pala dengan teknik grafting pada tanaman dewasa terjadi kesalahan prosedur.
  2. Penggunaan fasilitas kebun percobaan yang kurang maksimal sehingga banyak lahan percobaan yang disalahgunakan oleh masyarakat setempat. Seperti pada percobaan budidaya teknik grafting tanaman pala tidak dilakukan pada kebun percobaan yang dimiliki balai yaitu di cimanggu tetapi dilakukan di kebun pala milik rakyat dipurwakarta.

3. Opportunity (peluang)

Balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor memiliki peluang cukup besar untuk terus berkembang. Beberapa peluang yang dimiliki oleh Balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor dan budidaya tanaman pala dengan teknik grafting adalah:

  1. Balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor merupakan pusat penelitian dan pengembangan di Indonesia yang paling besar. Seperti budidaya tanaman pala dengan teknik grafting pada tanaman dewasa yang belum pernah dilakukan oleh pihak manapun dapat dilakukan dengan lancar. Sehingga menjadikan peluang balai untuk berkembang khususnya pada tanaman pala.
  2. Semakin meningkatnya nilai ekonomis tanaman rempah dan obat khususnya pala di indonesia.

4. treatmant (ancaman)

Berbagai permasalahan dapat mengakibatkan munculnya ancaman bagi keberlanjutan suatu organisasi. Sekarang ini ancaman terhadap keberadaan balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor dan budidaya tanaman pala dengan teknik grafting diantaranya adalah:

  1. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap balai penelitian tanaman rempah dan obat bogor. Sehingga mengakibatkan dalam meningkatkan teknologi terbarukan pada tanaman rempah dan obat khususnya pala dapat terhambat. Selain itu juga dapat mengakibatkan tersainginya hasil produktifitas tanaman rempah dan obat oleh Negara-negara lainnya yang bergelut di tanaman rempah dan obat.
  2. Budidaya tanaman pala dengan teknik grafting pada tanaman dewasa memiliki ancaman untuk diaplikasikan yaitu semakin berkurangnnya perkebunan tanaman pala yang sudah dewasa yang benar-benar terawat.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *