Teknik Perbanyakan Vegetatif Pada Tanaman Buah

Teknik Perbanyakan Vegetatif Pada Tanaman Buah – Memulai budidaya tanaman tidak terlepas dari membicarakan bibit tanaman. Dari bibit akhirnya akan menghasilkan buah. Sehingga memilih bibit harus menjadi kegiatan utama dalam budidaya tanaman. Bibit yang kurang baik akan menghasilkan buah yang kurang baik pula (Nazaruddin dan Muchlisah, 1996).

Teknik Perbanyakan Vegetatif Pada Tanaman Buah
Pisang

Bibit dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu cara generatif dan vegetatif. Bibit yang yang diperoleh dari perbanyakan sendiri dilakukan dengan menanam biji atau anakan, cangkok, stek, rundukan, menempel (okulasi), serta menyambung (grafting). Setiap tanaman memiliki cara perbanyakan yang berbeda dengan tanaman lainnya. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam melakukannya. Salah satunya adalah jenis tanamannya itu sendiri. Sebagai contoh, tanaman berbatang kayu tidak dapat diperbanyak dengan anakan karena akarnya tidak pernah memunculkan anakan. Oleh karena itu, sebelum melakukan perbanyakan tanaman harus disesuaikan anatara cara perbanyakan tanaman yang digunakan dan jenis tanaman yang akan diperbanyak.

Kini perbanyakan tanaman dianjurkan secara vegetatif, seperti okulasi, sambungan dan cangkok. Biji hanya ditanam sebagai pembentuk populasi dalam perbaikan varietas (pemuliaan) dan sebagai batang pokok dalam perbanyakan vegetatif.

Bibit vegetatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Sama atau identik sifat induknya.
  2. Cepat menghasilkan buah. Dengan bibit vegetatif, tanaman sirsak mulai berbuah umur 3-4 tahun. Sementara biji (generatif) tanaman baru berbuah umur 405 tahun.
  3. Akar tunggangnya boleh dikatakan sama kuat, kecuali bibit cangkok yang berakar tunggang palsu (pseudo radix primaria). Oleh karena itu, biasanya akar sengaja dipotong sewaktu bibit dipindahkan ke dalam pot atau polibag (lubang tanam) supaya akar samping lebih kuat.

Perbanyakan secara vegetatif dilakukan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti cabang, ranting, pucuk, daun, umbi, dan akar. Prinsipnya adalah merangsang tunas adventif yang ada di bagian-bagian tersebut agar berkembang menjadi tanaman sempurna yang memiliki akar, batang, dan daun sekaligus.

Perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan dengan cara okulasi, cangkok, stek, sambungan.

1.) Perbanyakan dengan Mencangkok

Perbanyakan dengan cara cangkok ini merupakan suatu cara perbanyakan tanaman paling tua di dunia. Cara ini tergolong mudah dan sederhana; suatu cabang muda saat masih dipohon diusahakan dapat berakar, kemudian setelah berakar cabang dipotong dan ditanam sebagai suatu tanaman baru Diduga cara mencangkok ini pertama kali dilakukan oleh petani Cina purba dengan menggunakan media tanah liat.

Dari segi waktu perbanyakan cara ini cukup ekonomis. Dalam waktu 6 bulan sudah diperoleh bibit rambutan siap tanam. Kemudian setelah 2 – 3 tahun tanaman sudh dapat menghasilkan buah. Dilihat dari segi tenaga dan hasil perbanyakan, cara ini termasuk mahal karena tidak dapat diperbanyak dalam jumlah besar serta dapat merusak pohon induk.

Keunggulan cangkok adalah mudah dilakukan, dan tingkat keberhasilannya tinggi. Selain itu, tanaman yang dihasilkan dapat mewarisi 100% sifat pohon induknya. Namun, tanaman hasil cangkok memiliki kelemahan, yaitu percabangannya tidak lebat dan tidak kompak, serta prosuktivitas buahnya terbatas. Selain itu, tanaman hasil cangkok tidak memilki system perakaran yang kuat karena tidak memiliki akar tunggang, dan serabut-serabut akarnya juga tidak rimbun. Akibatnya, tanaman mudah roboh saat tertiup angin kencang, dan tidak kuat menghadapi kekeringan saat musim kemarau.

2.) Perbanyakan dengan Mengokulasi

Okulasi berasal dari bahasa Belanda oculatie yang artinya menempel. Sebelum melakukan okulasi, disiapkan perlengkapa berupa pisau sayat, silet atau pisau cutter, dan pita plastic atau tali raffia untuk mengikat bidang okulasi. Disiapkan juga calon batang bawah dan batang atasnya. Calon batang bawah harus dipilih yang kondisinya sehat, pertumbuhannya baik, cukup umur, batang utamanya telah berwarna kecokelatan serta mulai berkayu. Sementara itu, entres berupa mata tunas untuk calon batang atas diambil dari induk yang sehat, kualitas buahnya baik, serta dipilih dari cabang atau ranting yang masih muda, tidak terserang hama penyakit, dan berwarna hijau kelabu atau kecokelatan.

Perbanyakan rambutan secara okulasi ini merupakan suatu cara mudah untuk menghasilkan bibit dalam jumlah besar. Setiap mata tempel atau mata okulasi akan menghasilkan sebuah bibit okulasi rambutan. Selain itu, cara ini dapat menggabungkan 2 sifat tanaman, yakni sifat tanaman pohon pangkal dengan sifat tanaman pohon atas. Sifat pohon pangkal yang harus dimiliki antara lain: system perakaran yang baik dan kuat, ketahanan atau toleransi tinggi terhadap hama dan penyakit serta daya tahan adaptasi tumbuh pada berbagai jenis dan kondisi lahan. Sedang pohon atas harus memiliki kualitas dan kuantitas produksi tinggi dan memiliki ketahanan atau toleransi tinggi terhadap serangan hama dan penyakit.

Pohon atas dan pohon pangkal kemudian hidup dan tumbuh secara serasi, membentuk cabang dan tajuk pohon serta menghasilkan buah secara normal. Kedua tanaman yang seperti itu disebut 2 tanaman yang kompatibel (compatible) atau 2 tanaman yang serasi. Selain itu ada pula tanaman yang inkompatibel (incompatible), yakni kedua pohon yang tidak dapat hidup bersama. Pohon atas tumbuh mengecil atau pohon pangkal tumbuh membesar atau sebaliknya. Keduanya tumbuh tidak selaras, hingga daun-daunnya menguning. Pohon demikian tidak akan dapat menghasilkan buah, bahkan lebih cepat mati. Semua varietas rambutan unggul dan lainnya bersifat compatible dengan ketiga varietas pohon pangkal. Kematian bibit okulasi rambutan bukan karena inkompabilitas, tetapi mungkin oleh kesalahan teknis perbanyakan atau lainnya; seperti misalnya iklim yang tidak cocok, penggunaan pohon pangkal diluar ketiga varietas pohon pangkal yang telah ditetapkan.

3.) Perbanyakan dengan Setek

Setek berasal dari kata stuk (bahasa Belanda) dan cottage (bahasa Inggris) yang artinya potongan. Sesuai dengan namanya, perbanyakan ini dilakukan dengan menanam potongan pohon induk ke dalam media agar tumbuh menjadi tanaman baru. Bagian tanaman yang ditanam dapat berupa akar, batang, daun, atau tunas.

4.) Perbanyakan dengan Sambungan (Grafting)

Penyambungan (grafting) dilakukan dengan menyisipkan batang atas ke batang bawah. Berbeda dengan okulsi yang hanya menggunakan satu mata tunas sebagai calon batang atasnya, grafting menggunakan seluruh bagian pucuk tanaman sepanjang 7,5-10 cm.

Perbanyakan vegetatif memerlukan ketersediaan batang bawah dan batang atas. Batang bawah berperan dalam sistem perakaran, sedangkan batang atas berperan dalam produksi dan mutu. Pemilihan batang bawah harus didasari atas kemampuannya beradaptasi dengan kondisi tanah tertentu, iklim, hama dan penyakit, faktor-faktor lain yang tidak menguntungkan serta kemampuannya dalam mempengaruhi hasil dan mutu buah. Batang bawah dari spesies yang berbeda mempengaruhi vigor, bentuk pertumbuhan dan produktivitas dari batang atas serta adaptasinya terhadap iklim dan kondisi tanah yang merugikan. Pemilihan batang bawah didasarkan atas pertumbuhan tanaman yang vigor dan subur dengan kompatibilitas yang baik dengan batang atasnya, menghasilkan tanaman dengan pembungaan yang teratur dan tahan terhadap kondisi dingin, kering, serta hama dan penyakit (Indriyani, 2010).

Baca juga : Teknik Perbanyakan Vegetatif Anggrek

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !