TOLERANSI DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-KAAFIRUN

TOLERANSI DALAM AL-QUR’AN  SURAT AL-KAAFIRUN 

TOLERANSI DALAM AL-QUR’AN  SURAT AL-KAAFIRUN

Di Barat, Islam secara umum dianggap sebagai agama yang tidak toleran, yakni agama pedang dan perang. Hal ini dikarenakan oleh salah tafsir, analisis mengenai posisi Islam secara umum menyangkut toleransi. 

Seorang muslim mungkin bertanya-tanya mengapa persoalan seperti ini dianggap sangat penting., tetapi rujukan kepada sejarah Eropa memperlihatkan bahwa sejarah Barat Kristen dalam kaitannya dengan soal toleransi, menurut pengakuan para penulis Barat sendiri, sangatlah mengejutkan.

Sebenarnya latar belakang inilah yang kini membuat orang-orang itu menekankan toleransi dan mengkampanyekannya sedemikian rupa di mana kaum Muslim, dengan latar belakang mereka yang berbeda, tidak melihat tingkat kebutuhan sebesar itu. 



A. Al- Qur’an Surat Al Kaafirun


Artinya: 1. Katakanlah (Muhammad), “wahai orang-orang kafir!
2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah 
3. dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,
4. dan aku tidak akan pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi apa yang aku sembah,
6. untukmu agamamu, dan untukku agamaku


1. Ayat 1-2

“Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang kafir!, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”

Kata qul (قل) diterjemahkan dengan “katakanlah!”. Jika anda mendiktekan sesuatu kepada orang lain agar dia mengucapakan sesuatu, anda berkata “katakanlah!”…” sedang yang didiktekan itu tidak perlu, bahkan tidak wajar, mengulang kata ‘katakanlah!’ itu, tetapi cukup mengulang kata yang diucapkan sesudah kata ‘katakanlah!’. 

Konon, beberapa tahun yang lalu pernah ada seorang tokoh penting di salah satu negara di Timur Tengah yang mengusulkan kata qul (قل) dari lembaran-lembaran Al-Qur’an.

Ayat ini, dan ayat semacamnya, menunjukan bahwa Rasul SAW benar-benar menyampaikan seluruh apa yang diterimanya dari Allah SWT. Beliau tidak mengurangi walau satu huruf, meski dari segi lahiriah kelihatannya kata atau huruf itu tidak berfungsi.

Pada hakikatnya ada rahasia di balik kata qul itu. Tidak ada satu kata atau huruf pun dalam Al-Qur’an yang berlebihan atau tidak mengandung makna.

Peranan kata qul (“katakanlah!”) dalam berbagai ayat Al-Qur’an. 322 kata itu terulang dalam Al-Qur’an, yang secara umum dapat dikatakan bahwa kesemuanya berkaitan dengan persoalan yang hendaknya menjadi jelas dan nyata bagi pihak-pihak yang bersangkutan agar mereka dapat menyesuaikan sikap mereka dengan umat Islam.  

Telah diriwayatkan bahwa Walid bin Mughirah, As bin Wail, Aswad bin Abdul Muthalib dan Muawiyah bin Khallaf bersama rombongan pembesar-pembesar Quraisy datang menemui Nabi SAW, dan menyatakan: “Hai Muhammad, marilah engkau mengikuti agama kami dan kami akan mengikuti agamamu dan engkau bersama kami dalam semua masalah yang kami hadapi, engkau menyembah Tuhan kami, dan kami menyembah Tuhanmu setahun, jika agama yang engkau bawa itu benar, maka kami berada bersamamu dan mendapat bagian darinya, dan jika ajaran yang benar ada pada kami, maka engkau telah bersekutu juga bersama kami dan engkau akan mendapat pula bagiab darinya”. Beliau menjawab: “Aku berlindung pada Allah SWT dari mempersekutukan-Nya”. Lalu turunlah surah Al Kaafirun sebagai jawaban atas ajakan mereka.

Kemudian Nabi SAW pergi ke Masjidil Haram untuk menemui orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul disana, lalu membacakan surah Al kaafiruun ini. Setelah mendengar Nabi SAW menyampaikan wahyu allah ini mereka berputus asa untuk bekerja sama dengan Nabi SAW. Sejak saat itu mulailah orang-orang Quraisy meningkatkan permusuhan mereka kepada Nabi SAW dengan menyakiti beliau dan para sahabatnya, sehingga tiba masanya hijrah ke madinah. 

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi agar menyatakan kepada orang-orang kafir, bahwa “Tuhan yang kamu sembah bukanlah Tuhan yang saya sembah”., karena kamu menyembah “Tuhan: yang memerlukan pembantu dan mempunyai anak atau ia menjelma dalam suatu bentuk atau dalam suatu rupa atau bentuk-bentuk yang kau dakwakan. 

Seperti pernah diuraikan dalam surah-surah yang ditafsirkan bahwa kata kufr pada mulanya berarti “menutup”. Dan bahwa kata ini mempunyai aneka arti sesuai dengan kalimat dan konteks ayatmasing-masing. Ia dapat berarti;


a. Yang mengingkari keesaan Allah dan kerasulan Muhammad SAW, seperti yang dimaksud dalam ayat: 
“Orang-orang kafir berkata: “Hari kiamata tidak akan datang kepada kami”
 (QS. Saba’: 3)

b. Yang tidak mensyukuri nikmat Allah, seperti;
“Apabila kalian bersyukur, pasti Ku tambah (nikmat-Ku) dan apabila kalian kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”. (QS. Ibrahim; 7)

c. Tidak mengamalkan tuntunan Ilahi walaupun yang bersangkutan mempercayainya, seperti:
“Apakah kalian percaya (mengamalkan) sebagian isi Alkitab kufur (tidak mengamalkan) sebagian lainnya”. (QS. Al Baqarah: 85)

Dapat disimpulkan bahwa secara umum kata itu menunjukan kepada sekian banyak sikap yang bertentangan dengan tujuan kehadiran tuntunan agama.

Yang dimaksud orang-orang kafir pada ayat pertama surat ini adalah tokoh-tokoh orang kafir yang tidak mempercayai keesaan Allah serta tidak mengakui kerasulan Muhammad SAW. 

Loading...

Sementara ulama merumuskan bahwa kata kufr (كفر) dalam berbagai bentuknya terdapat dalam ayat-ayat yang turun sebelum Nabi SAW berhijrah. Kesemuanya bermakna orang-orang musyrik atau sikap mereka yang tidak mengakui kerasulan Muhammad atau meninggalkan ajaran-ajaran pokok Islam. 

Apa yang diperintahkan kepada Nabi untuk disampaikan kepada mereka, ‘Aku tidak akan menyembah apa yang sekarang kalian sembah”. 

La (لا) yang berarti tidak, digunakan untuk menafikkan sesuatu yang akan datang. A’budu (اعبد) terambil dari kata ‘abada (اعبد), yang biasa diartikan ‘menyembah’, dapat juga diartikan ‘taat dan tunduk’. Kata ini secara panjang lebar telah diuraikan makna-maknanya dalam tafsir ayat kelima surat Al-Fatihah.


2. Ayat 3
  
“dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah”
Kandungan ayat-ayat diatas sama dengan kandungan firman Allah dalam surah Al Baqarah ayat 6:

Yang dimaksud orang kafir dalam ayat diatas adalah orang-orang kafir tertentu yang bermukim di Makkah atau Madinah ketika itu, bukan semua orang kafir. Karena, jika ayat Al Baqarah ini dipahami sebagai tertuju kepada semua orang kafir, tentu Nabi tidak akan memberi peringatan lagi karena ayat diatas menginformasikan bahwa mengingatkan atau tidak, hasilnya sama saja, mereka tidak akan beriman. Kenyataan menunjukan bahwa setelah turunnya ayat tersebut Rasul masih saja melakukan peringatan dan ternyata pula bahwa sebagian besar dari orang-orang kafir pada akhirnya percaya dan memeluk ajarang Islam.


3. Ayat 4-5
   
“dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah”

Ayat keempat kembali menegaskan bahwa: aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kalian sembah. Kata la (لا), sebagaimana dikemukakan dalam bagian yang lalu, digunakan untuk menafikkan sesuatu yang akan datang, sedang kata ‘abid (اعبد) menunjukan kepada mendarah-dagingnya pekerja ibadah pada seseorang. 

Dalam ayat ini Allah menyatakan tentang tidak mungkin ada persamaan sifat antara Tuhan yang disembah oleh Nabi SAW, dengan yang disembah oleh orang Quraisy, maka dengan sendirinya tidak ada pula persamaan tentang ibadat. Mereka menganggap bahwa ibadat yang mereka lakukan dihadapan berhala-berhala atau ditempat beribadat lainnya. Bahwa ibadat itu dilakukan secara ikhlas untuk Allah, sedangkan Allah tidak melebihi mereka sedikitpun dalam hal itu, maka dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi SAW agar menjelaskan bahwa “saya tidak beribadat sebagai ibadatmu dan kami tidak beribadat sebagai ibadahku”.

Maksud keterangan diatas menjelaskan bahwa hal tersebut menjadi jelas dengan adanya perbedaan yang disembah dan cara ibadah masing-masing. Oleh sebab itu tidak mungkin sama dengan menyembah Tuhan yang maha esa dan cara beribadah kepada-Nya. 


4. Ayat 6

“untukmu agamamu dan untukku agamaku”
Setelah menegaskan tidak mungkinnya bertemu dalam keyakinan ajaran Islam dan kepercayaan kaum yang mempersekutukan Allah, ayat di atas menetapkan pertemuan dalam kehidupan dalam bermasyarakat, yakni: “Bagi kamu secara khusus agama kamu, agama itu tidak menyentuhku sedikitpun, kamu bebas untuk mengamalkannya sesuai kepercayaan kamu dan bagiku yang secara khusus agamaku, akupun mestinya memperoleh kebebasan untuk melaksanakannya dan kamu tidak akan disentuh sedikitpun olehnya.

Kata دين  dapat berarti agama, balasan atau kepatuhan. Sementara ulama memahami ayat di atas dalam arti masing-masing kelompok akan menerima balasannya yang sesuai. Bagi mereka ada balasannya, dan bagi Nabi pun demikian, baik atau bururk balsan itu, duserahkan kepada Tuhan. Dialah yang menentukannya, ayat ini menurut mereka semakan denagn firman:


“Katakanlah: kamu tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidaka akan dimintai tanggung jawab atas yang kamu kerjakan”. (QS. Saba’: 25)
Didahulukannya kata لكم dan لي berfungsi menggambarkan kekhususan, karena itu pula masing-masing agama biarlah berdiri sendiri dan tidak perlu dicampur baurkan, tidak pula mengajak kami untuk menyembah sembahan kalian setahun agar kalian pula menyambah Allah. Kalau diartikan sebagai agama, maka ayat ini tidak berarati bahwa Nabi diperintahakan mengikuti kebenarana anutan mereka. Ayat ini hanay mempersilahkan mereka menganut apa yang benar dan mereka mereka menolaknya serta bersikeras menganut ajaran mereka, silahkan, karena memang seperti firman Allah SWT:

“Katakanlah (Muhammad), siapakah yang memeberi rizki kepadamu dari langit dan dari bumi?, katakanlah, “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah, kamu tidaka akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kami kerjakan dan kami juga tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang kamu kerjakan. Katakanlah, Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia yang maha Mengetahui Pemberi keputusan, Maha Mengetahui”.( QS. Saba’: 24-26)

Awal surah ini menanggapi ususl kaum mesyrikin untuk berkompromi dalam akidah dan kepercayaan tentang Tuhan usul tersebut disitulah akhirnya ayat terakhir surah ini menawarkan bagaimana sebaiknya perbedaan tersebut disikapi, dengan bertemu akhir ayat surah ini dengan awalnya.  


C. Toleransi Dalam Al Quran Surah Al Kaafiruun 

Di Barat, Islam secara umum dianggap sebagai agama yang tidak toleran, yakni agama pedang dan perang. Seorang Muslim mungkin akan bertanya mengapa persoalan ini dianggap sangat penting, tetapi rujukan kepada sejarah Eropa memperlihatkan bahwa sejarah Barat kristen dalam kaitanya dengan soal toleransi, menurut pengakuan para penulis Barat sendiri sangatlah mengejutkan. Makna leksikal kata toleransi adalah bersabar, menahan diri dan membiarkan. Dalam Encyclopedia American disebutkan:

Namun Toleransi memiliki makna yang terbatas. Ia berkonotasi manahan diri dari pelarangan dan penganiayaan. Meskipun demikian, ia memperlihatkan sikap tidak setuju yang tersembunyi dan biasanya merujuk kepada sebuah kondisi dimana kebebasan yang diperbolehkannay bersifat terbatas dan bersyarat. Toleransi tidaklah sam adengan kebebasan agama, dan bahkan terlampau jauh dari persamaan hak beragama. Ia mengasumsikan adanya sebuah otoritas yang tentunya bersifat mamaksa, namun karena beberapa alasan tertentu tidak dipakasakan secara ekstrim…tetapi, fakta yangpatut disesali adalah bahwa mudah-mudahan kita tidak terkejut, sikap tidak toleran paling besar justru dijumapai dikalangan bangsa-bangsa Kristen daripada bangsa-bangsa manapun lainnya.

Sebenarnya, toleransi lahir dari watak hakiki Islam yang tampaknya menjadi satu-satunya agama yang tidak dinamai menurut ras manusia, seperti agama Hindu dan Yahudi, atau menurut nama seseorang seperti agama Budha atau Kristen. Al Quran menyatakan, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Dan Muhammad pernah berkata,”Tidak seorangpun manusia yang akan datang kepada Tuhan kecuali melalui aku”. Orang-orang Kristen dan Yahudi yang hidup di tengah-tengah mayoritas umat Muslim disebutkan di dalam al Quran dengan menggunakan istilah yang terhormat, ahlul kitab (ahli kitab, pemegang kitab), bukan sebagai “minoritas”, seperti sebutan bagi kelompok-kelompok agama lain oleh Barat Kristen.
Al Quran tidak mencap seluruh ahlul kitab sebagai tidak bisa diterima. Al Quran menyatakan: 


“mereka itu tidak sama. Di anatara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan bersegera kepada (mengerjakan) kepada kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali tidak akan dihalangi (meneriman pahalanya)”.(QS. Ali ‘Imran: 113-115)
Al Quran memerintahkan Kaum Muslim untuk tidak berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling adil dan agar berkata kepada mereka: 

“Kami beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan hanya kepada-Nya, kami berserah diri”.(QS. Al Ankabut: 46)
Dalam Al Quran Allah berbicara kepada kaum Muslim dan para pengikut agama lain, dengan berfirman:

“untuk tiap-tiap umat diantara kamu Kami beriakn aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada allah lah kembali kepada semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS. Al Maidah: 48)

Perbedaan warna kulit, bahasa, dan ras dipandang sebagai tanda kekuasaan dan kasih sayang Allah, dan seharusnya yang demikian itu menciptakan kedekatan, bukan diskrimnasi atau sikap tidak toleran.dalam Al Quran perintah-perintah ini tidak dibatasi, atau hanya sekedar basa-basi, melainkan berkali-kali diulang dan menjadi bagian dari keseluruhan struktur pesan Islam. Berdasarkan hal ini, toleransi sejak awal telah menjadi bagian hakiki dan tak terpisahkan dari Islam. Al Quran tidak dengan rasa enggan bertoleransi kepada kaum non Muslim, namun menyambut baik mereka untuk hidup dengan leluasa di dalam masyarakat Islam. Pada puncak masa kejayaan Islam, Al Quran menetapkan prinsip la ikraha fi ‘l-din, “tidak ada paksaan dalam agama”.disini Al Quran menggunakan bentuk kalimat negatif bahasa arab yang paling kuat dan paling permanen. Kata, la dalam pengertian negasi mutlak, digunakan dalam Al Quran untuk beberapa penegasian yang bersifat mendasar misalnya; “Tidak ada Tuhan selain Alah”, dan “Tidak ada perubahan dalam kalimat Allah”(QS Muhammad: 19). Juga ada pola yang diulang-ulang : “Bagiku agamaku, Bagimu agamamu” (QS. Al Kaafiruun: 6), “Bagiku amal perbuatanku, Bagimu amal perbuatanmu” (QS. Yunus: 41).

Al Quran menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia agar berbeda, dan mereka akan selalu berbeda, tidak hanya dalam rupa melainkan juga dalam keimanan mereka, dan terserah kepada masing-masing orang untuk beriman atau tidak. 

  
“dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di nuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman??”.(QS. Yunus: 99). 


KESIMPULAN
Makna leksikal kata toleransi adalah bersabar, menahan diri dan membiarkan. Dalam Encyclopedia American disebutkan:

Namun Toleransi memiliki makna yang terbatas. Ia berkonotasi manahan diri dari pelarangan dan penagniayaan. Meskipun demikian, ia memperlihatkan sikap tidak setuju yang tersembunyi dan biasanya merujuk kepada sebuah kondisi dimana kebebasan yang diperbolehkannay bersifat terbatas dan bersyarat. Toleransi tidaklah sam adengan kebebasan agama, dan bahkan terlampau jauh dari persamaan hak beragama. Ia Namun Toleransi memiliki makna yang terbatas. Ia berkonotasi manahan diri dari pelarangan dan penagniayaan. Meskipun demikian, ia memperlihatkan sikap tidak setuju yang tersembunyi dan biasanya merujuk kepada sebuah kondisi dimana kebebasan yang diperbolehkannay bersifat terbatas dan bersyarat. Toleransi tidaklah sama dengan kebebasan agama, dan bahkan terlampau jauh dari persamaan hak beragama. Ia mengasumsikan adanya sebuah otoritas yang tentunya bersifat mamaksa, namun karena beberapa alasan tertentu tidak dipakasakan secara ekstrim…tetapi, fakta yangpatut disesali adalah bahwa mudah-mudahan kita tidak terkejut, sikap tidak toleran paling besar justru dijumapai dikalangan bangsa-bangsa Kristen daripada bangsa-bangsa manapun lainnya.

Al Quran menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia agar berbeda, dan mereka akan selalu berbeda, tidak hanya dalam rupa melainkan juga dalam keimanan mereka, dan terserah kepada masing-masing orang untuk beriman atau tidak. 

“dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di nuka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman??”.(QS. Yunus: 99).


DAFTAR PUSTAKA

Abdel Haleem, Muhammad. 2002. Memahami Al Quran. Bandung: Marja’.
Quraish Shihab, Muhammad. 2003. Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera.
Dasuki, Hafidz. 1993. Al Quran dan Tafsirnya jilid 10. Semarang: PT. Citra Effhar.
Quraish Shihab, Muhammad. 1997. Tafsir Al Quran Al Karim. Bandung: Pustaka Hidayah.

Tinggalkan komentar