Bulan Puasa Datang, Mari Sambut Tradisi Lebaran Khas Indonesia

Bulan Puasa Datang, Mari Sambut Tradisi Lebaran Khas Indonesia – Kata Bulan ‘Ramadan’ atau Bulan ‘Ramadhan’, mana ya yang baku?, hehe. Yang baku adalah Bulan ‘PUASA’, itulah Indonesia. Kami menyebut bulan Ramadan =baku/ Ramadhan= tidak baku dan lebih sering disebut bulan puasa. Sebutan kami orang desa.

Ada lagu yang saya sangat ingat sekali waktu saya kecil tentang bulan puasa;

“Lebaran sebentar lagi, lebaran sebentar lagi”,

Nah, lagu itu kalau tidak salah dinyanyikan oleh artis kecil yang saya lupa namanya. Mungkin sekarang sudah sebesar saya kali ya..haha..

Apa yang kita tunggu dari bulan puasa sewaktu kecil ?

Saya sendiri entah kenapa ada sebuah rasa bahagia dari alam bawah sadar ketika mendengar bahwa bulan Puasa /Ramadan akan kembali saya lalui.

Mungkin perasaan ini bawaan dari masa kecil, Bahwa Bulan Ramadan / Ramadhan di pedesaan itu sungguh membuat terpatri akan suasana momentum indahnya berpuasa.

Kenapa si bro?

Pertama, Tradisi Sekolah diliburkan

Dulu saya pernah merasakan libur satu bulan penuh ketika bulan puasa. Di Desa, dulu saya bisa menghabiskan keseharian saya dengan banyak sekali hal.

Saya ingin sedikit rangkumkan untuk anda ;

Setelah sholat subuh, kami anak-anak kecil di desa menghabiskan waktu berjalan-jalan pagi menyusuri jalanan pedesaan yang masih asri dan hijau. Membawa petasan dan memainkanya sepanjang jalan.

Sekitar pukul 7 kami baru pulang ke rumah.

Siang hari, sekitar pukul 11 an kami tidur siang, bangun sekitar pukul 12 siang, lepas itu kami menuju masjid, jujur motivasi paling menyenangkan ke masjid sewaktu kecil adalah bercengkrama dengan teman-teman sebaya, bermain petasan dan “mengejek” teman lain yang ternyata sudah batal puasanya. Jangan di tiru sob..

Selesai mengaji, sekitar pukul 2 kami akan menghabiskan waktu kami di masjid dan di langgar-langgar, ada yang bermalas-malasan di teras-teras masjid, ada yang membaca Al’quran (Anak yang lebih dewasa”) dan ada juga yang pulang kerumah untuk bermain “Bledugan”, sebuah petasan yang terbuat dari bambu memanjang yang tengahnya dilubangi, lalu di isi dengan minyak tanah, bunyi terjadi karena perbedaan tekanan panas dan udara akan mendorong panas untuk dikeluarkan disertai dengan bunyi “BUMMM” ketika di picu dengan pemetik api.

Bulan Puasa Datang, Mari Sambut Tradisi Lebaran Khas Indonesia

Ada juga yang pulang kerumah untuk sekedar menonton serial favorit TV “Lorong Waktu”..

Jika hari jum’at datang, selepas  sholat jumat biasanya rutinitas mengaji di liburkan, kami pasti mengambil sepeda dan mulai pergi mengelilingi jalanan desa yang sempit, berjalan dari desa ke desa lain, berhenti ketika sholat ashar dan sampai kembali ke rumah ketika menjelang berbuka puasa.

Biasanya waktu sholat ashar adalah waktu kami beristirahat, mengajipun sudah tidak begitu bersemangat karena rutinitas kami yang menguras energi disiangnya. Selepas mengaji, ba’da ashar kami memilih untuk tidur-tiduran di teras mushola.

Jika sudah menjelang adzan maghrib, kami pasti jadwalkan untuk “Ngabuburit”. Berbeda dengan Ngabuburit masa kini, dulu kami habiskan waktu ngabuburit dengan memancing belut di sawah, biasanya kami berangkat pukul 5 sore dan pulang pukul 6 sore.

Kami sengaja mencari waktu tersebut karena belut akan keluar mencari makan ketika matahari sudah mulai “lingsir / lengser” (Sendekala Sore)/ menjelang malam atau mulai mengurangi sinar panas yang dipancarkan.

Kami sebut rutinitas terseut adalah tradisi bulan puasa oleh kami sebagai anak-anak dari pedesaan.

Kedua, Jika malam datang, kami anak-anak bersemangat ikut Tradisi  “sholat” tarawih

Tradisi membawa makanan ketika tarawih istilah kami “Jawa” Medangan, di manfaatkan kami anak-anak untuk kembali makan bersama. Padahal ketika berbuka puasa di rumah biasanya kami sudah kekenyangan. Namun, ketika momentum selepas sholat taraweh, kami akan kembali lapar.

Kami bersama-sama dengan bersuka cita makan bersama di masjid atau langgar-langgar. Bercengkrama dan menghabiskan waktu ketika malam.

Jika menjelang pukul 10, kami anak-anak pulang kerumah, sementara orangtua kami menyempatkan membaca al’quran, biasanya sampai menjelang saur suara-suara lantunan alquran akan terdengan bersautan menemani tidur kami anak-anak pedesaan.

Ketiga, Tradisi Berpakaian Serba Baru

Bukan cuma kami anak-anak, hampir semua masyarakat mewajibkan / berusaha selalu tampil dengan pakaian baru di hari raya Idul Fitri. Bukan hanya hati yang baru, kami masyarakat pedesaan akan memperbarui baju, rambut bahkan merenovasi rumah-rumah kami.

Alasan yang paling saya sukai adalah, “Nanti di waktu Hari Raya, akan banyak tetangga berdatangan, kami keluarga akan menyambut mereka dengan maksimal semampu kami”. Itulah alasanya.

Keempat, Nyekar Ke Kuburan (Ziarah Kubur)

Ziarah kubur dilakukan menjelang bulan puasa dan di pertengahan bulan ramadan.

Perlu pembaca ketahui, kami orang desa berziarah bukan sama sekali untuk meminta berkah pada orang yang sudah meninggal. Kami hanya ingin mendoakan dan melakukan relfleksi diri bahwa setiap orang akan mati. Bahwa dalam memori kita pernah bersama mereka, kita melakukan refleksi dan kemudian introspeksi diri.

Kami melakukan introspeksi diri, merenung, mengingat setiap kebaikan-kebaikan. Doa-doa kami untuk mereka yang terlebih dahulu tiada agar di terima amal dan ibadahnya. Sekaligus sebagai rasa hormat dan penghargaan pada jasa-jasa mereka.

Baca juga :

Cukup tiga saja dulu, lain waktu akan saya sambung artikel ini

Semoga  tulisan berjudul Bulan Puasa Datang, Mari Sambut Tradisi Lebaran Khas Indonesia, dapat bermanfaat.

2 thoughts on “Bulan Puasa Datang, Mari Sambut Tradisi Lebaran Khas Indonesia

  1. Nehandmedia

    Kalo ditempat saya biasanya tiap menjelang sahur mukul-mukul kentongan yang disebut oklek keliling kampung untuk bangunin orang yang keesokaannya ikut berpuasa,
    btw selamat meunggu bulan puasa tiba yah mas.salam kenal dr saya

    Reply
    1. Tohir Post author

      wah,,iya salam kenal juga mas,,terimakasih telah berkunjung..di tempat saya juga ada yang seperti itu,,tapi biasanya itu di lakukan oleh anak yang di sedikit sudah dewasa…dulu ketika saya kecil belum boleh ikut..hehe

      Reply

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !