TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata. Kehilangan air dari jaringan tanaman melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Sebab itu, dalam perhitungan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata (Dwidjoseputro, 1980). Menurut Salisbury (1995), proses transpirasi berlangsung selama tumbuhan hidup. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah :

1. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme buka-tutup stomata.

2. Kelembapan udara sekitar tanaman.

3. Suhu udara

4. Suhu daun tanaman

Berdasarkan hasil pengamatan, uap air yang banyak ditranspirasikan terjadi pada lubang 2 dengan sisi 2 x 1 cm. Volume awal pada selang 30 ml setelah dicelupkan potongan tumbuhan kedalam tabung tersebut dengan disinari matahari, beberapa menit kemudian volume air berkurang 4 ml menjadi 26 ml. Tentunya berkurangnya air yang terdapat dalam selang  tersebut karena terserap oleh tumbuhan tersebut. Terserapnya air oleh tumbuhan disebabkan karena kemampuan tumbuhan untuk menyerap air melalui proses difusi dengan daya kapilaritas. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ting (1982) bahwa difusi melalui pori tunggal yang berbentuk lingkaran lebih besar daripada pori-pori kecil dalam jumlah banyak. Peningkatan jumlah air yang hilang disebabkan oleh peningkatan diameternya. Semakin besar diameter pori maka semakin besar pula uap air yang hilang.

Air yang diserap oleh tumbuhan selain digunakan untuk fotosintesis juga digunakan untuk transpirasi. Tumbuhan melakukan transpirasi salah satu tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan tubuhnya terhadap air yang diserap. Tumbuhan melakukan transpirasi memiliki kecepatan tertentu. Hasil praktikum menunjukan bahwa  kecepatan transpirasi pada tumbuhan perlakuan adalah 0,04 ml/menit. Kecepatan ini dipengaruhi oleh faktor internal dari tumbuhan maupun faktor eksternal.

Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi. Angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembapan nisbinya lebih rendah) dari udara di sekitar tumbuhan tersebut. Dalam proses transpirasi, air menguap dari dinding sel-sel parenkima palisade dan parenkima spongy ke ruang interseluler. Kedua jenis sel-sel parenkima ini secara kolektif disebut sebagai sel-sel mesofil. Rongga udara yang relatif luas yang berada di bawah posisi stomata di dalam daun disebut sebagai rongga substomatal (Lakitan, 2001).

Menurut Hopkins (1995), walaupun ada beberapa tumbuhan yang tidak melakukan proses transpirasi, namun transpirasi yang berlangsung pada tumbuhan memiliki beberapa keuntungan bagi tumbuhan tersebut, misalnya dalam mempercepat laju pengangkutan unsur hara melalui pembuluh xilem, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap pada kondisi optimal dan sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun. Beberapa hasil pengujian didapatkan bahwa pengangkutan unsusr hara tetap dapat berlangsung jika transpirasi tidak terjadi. Akan tetapi laju pengangkutan terbukti akan berlangsung leih cepat jika transpirasi berlangsung secara optimum.

Contoh pada tanaman tomat terjadi difesiensi kalsium pada daun-daun mudanya jika laju transpirasi dihambat dengan cara meningkatkan kandungan CO2 (sehingga stomata hampir menutup) dan kelembapan udara yang tinggi. Sel tumbuhan diyakini akan berfungsi optimal pada tingkat turgiditas tertentu, dimana jika turgiditasnya menjadi lebih tinggi atau lebih rendah maka sel tersebut akan menurun fungsinya. Tekanan internal sel (turgor) melampaui batas elastisitas dinding sel, maka sel tersebut akan pecah.

Cara visual sering terlihat terjadinya pecah buah pada berbagai jenis tanaman dengan buah berdaging, misalnya tomat, anggur, cherry dan jenis cabai tertentu. Transpirasi jelas merupakan suatu proses pendinginan (sebagaimana halnya juga evaporasi). Pada siang hari, radiasi matahari yang diserap daun akan meningkatkan suhu daun. Jika transpirasi berlangsung maka peningkatan suhu daun ini dapat dihindari. transpirasi tidak berlangsung, suhu daun tetap akan didinginkan melalui proses fisika lainnya yaitu secara konduksi. Tetapi kehilangan panas secara konduksi ini hanya akan berlangsung jika suhu daun lebih tinggi dari suhu udara sekitarnya (Ting, 1982).

Setiap tumbuhan kebutuhan terhadap ZPT berbeda-beda baik jenis maupun konsentrasi. Misalnya pada praktikum dormansi dibutuhkan ZPT yaitu giberelin yang macamnya adalah GA3 dan NAA, dimana fungsi dari ZPT ini adalah untuk memacu perkecambahan biji cabai. Konsentrasi yang sesuai atau tepat dapat mempercepat poses perkecambahan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa NAA lebih cepat daripada GA3,  yaitu memacu perkecambahan pada konsentrasi yang lebih besar yaitu 60 ppm daripada 0 ppm,  20 ppm dan 40 ppm.

Menurut Marschner (1986), selain jenis dan konsentrasi ZPT, proses perkecambahan ini juga dipengaruhi oleh waktu, semakin lama waktunya maka jumlah biji yang berkecambah semakin banyak. Hari ke 6 jumlah biji yang berkecambah paling banyak, hal ini mungkin disebabkan pada waktu pemberian ZPT yaitu GA3 dan NAA embrio / biji baru beradaptasi atau melakukan persiapan untuk bermetabolisme. Metabolisme akan meningkat pada hari-hari sesudahnya sehingga jumlah biji yang berkecambah lebih banyak (Salisbury and Ross, 1992).

Mekanisme perkecambahan biji diawali dengan berakhirnya dormansi dengan adanya imbibisi air yang diperlukan biji untuk melakukan metabolisme tinggi sel-sel dalam embrio dan organel subseluler berorganisasi yang akhirnya terjadi pemunculan kecambah. Sel-sel dalam akar, daun, batang membesar dan memanjang dengan pengambilan air. Fase perkembangan ini semua didorong oleh ZPT seperti GA3 dan NAA

KESIMPULAN

1. Kecapatan transpirasi pada tumbuhan perlakuan sebesar 0,04 ml/menit

2. Transpirasi bertujuan untuk menjaga keseimbangan air dalam tumbuhan

3. Kecepatan transpirasi dipengaruhi faktor dalam dan luar

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta

Hopkins, W.G. 1995. Introduction to Plant Physiology. John Willey and Sons Inc., Canada.

Lakitan, B. 2001. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB. Bandung.

Ting, I.P. 1982. Plant Physiology. Addison Wesley Publishing Company Inc., London.

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !