Untuk anda, yang memandang rendah orang lain

Untuk anda, yang memandang rendah orang lain – Mengawali artikel ini, saya mau bercerita sedikit. Begini ceritanya…

Saya baru saja pulang dari rumah tetangga, saya dimintai bantuan untuk membujuk anaknya yang masih SMP, anak tersebut tidak mau berangkat sekolah gara-gara di sekolah dia mendapat bully dari teman-teman kelasnya. Awalnya saya mengalami kesulitan untuk membujuk dia, tapi dengan usaha yang tak menyerah akhirnya anak tersebut mau juga berangkat sekolah..Alhamdulillah..

Pernah tidak anda megalami hal serupa? Mengalami di bully? Kalau saya pernah mengalami hal tersebut pada saat SMP juga, di kelas memang saya adalah anak yang paling kecil dan tidak mempunyai banyak teman, karena hal seperti itulah saya sering diejek dan menjadi suruhan. Memang begitu menyakitkan pada saat itu, rasanya untuk berangkat sekolah saja tidak ada motivasi, rasanya malas. Tapi berkat kesabaran dan keteguhan diri, akhirnya saya bisa melewati fase itu. Hingga akhirnya sekarang kemampuan dan pemikiran saya lebih dari mereka-mereka yang dulu pernah membully saya.

Bagi yang yang pernah membully dan dibully, marilah kita renungkan hal dibawah ini,

Sering kali keindah manusia diukur dari sudut yang salah, keindahan hidung diukur dari mancung dan peseknya, kesempurnaaan kulit dilihat dari warna dan kehalusannya, bisar lingkar dada, panjang kaki sampai sampai bentuk alis mata dijadikan standard kesempurnaan menurut pandangan manusia. Setuju atau tidak memang itulah fenomenanya..

Kita mungkin pernah memandang rendah terhadap manusia yang bentuk fisiknya (menurut pandangan kita) jelek, tapi kita tidak pernah merenungkan bahwa siapa tahu dia punya rasa syukur yang lebih daripada kita. Kita mungkin juga menyepelekan orang-orang desa yang “katro” dan berpendidikan rendah, tapi siapa tahu mereka mempunyai krtulusan dan kemurnia yang melebihi kita.

Firman Allah dalam QS An Nisa 139 “…Maka Sesungguhnya semua kehormatan (al ‘izzah) kepunyaan Allah.

Juga dalam surat Ali Imran ayat 73, “… Katakanlah, sesungguhnya kemuliaan ( al fadhl) berada di tangan Allah…”

Berdasarkan dua ayat diatas, manusia sesunggunya tak mempunyai hak dan kuasa untuk menilai dan menentukan nilai, derajat, kemuliaan orang lain. Dialah dzat esa yang berkuasa untuk memberikan penilaian terhadap apa-apa yang manusia kerjakan.

Kita itu sama dihadapan Allah, tidak ada yang dibeda-bedakan, kecuali ketaqwaannya. Jadi walaupun kita perlu juga memperhatikan fisik, memperjuangkan jabatan dan mencari kekayaan, yang lebih utama dan penting adalah bagaimana kita melakukan hal-hal yang akan membuat kita menjadi manusia yang taqwa.

Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin surganya oleh Allah saja masih berjuang menjadi manusia yang bertaqwa dihadapan Allah, Beliau masih berjuang untuk memuliakan manusia, tabah dari segala terpaan dan cobaan yang amat sangat berat. Untuk apa? Bukan untuk surge, tapi untuk memuliakan dirinya dimata Allah.

Kita semua tahu, Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling suci, tapi Beliau merasa bukan orang suci, hingga akan melakukan hal-hal bajik untuk mensucikan dirinya. Beliau merasa masih hina, hingga beliau melakukan hal yang bisa memuliaknnya dihadapan Allah. Itulah definisi ikhlas & cinta sejati  yang Rasulullah contohkan. Surga dan neraka bukanlah hal penting lagi, yang lebih penting adalah bertemu dan kembali disisi Allah.

Baca juga : Kita yang akan mempesona

Allah selalu Ar-Rahman, kitapun manusia mempunyainya, marilah kita berikan ar rahman kita kepada semua makhluk, kepada semua manusia semurah-murahnya. Marilah kita belajar untuk memuliakan manusia, mari kita berusaha untuk memanusiakan manusia. Kita itu ciptaan Allah, dan penciptanyalah satu-satunya yang berhak menilai. Muliakalah manusia, karena termasuk pada manusialah Dzat Allah bertajalli.

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !