Untukmu kekasihku

 Untukmu Kekasihku

Dahulu, kamu meminta perjanjian diri “bukankah aku ini kekasihmu?” aku bersama semua perasaanku serentak menjawab “iya.”  Itu berarti aku sudah terikat perjanjian denganmu kekasih. Berjanji untuk mengakui engkau sebagai satu-satunya kekasih, sebagai satu-satunya yang berkuasa atas diri ini. Kamu yang memilikiku. Aku tak sendiri, aku bersama kekasihku.

Sejak itu kita larut dalam percintaan, kamu memberi cinta dan aku menikmatinya. Kita menyatu dalam pergumulan mesra, engkau memelukku dan aku hangat karenanya.

Untukmu kekasihku

Aku terlena, aku terlupa, aku lupa akan diriku, aku lupa dirimu, aku lupa tentang hubunganku padamu, tentang hubungan kita.  Aku lupa memanjakanmu, aku lupa mengucap “I love you” padamu, aku lupa memelukmu. Padahal kamu itu manja, mintanya disayang-sayang, mintanya dipeluk berkali-kali.

Aku terlalu sibuk sendiri. Terlalu sibuk menghafal dan mengemis teori, hingga akhirnya aku lupa bahwa kamulah yang harusnya aku mintai teori. Aku terlalu sibuk memperelok diri,aku lupa bahwa seelok-elok diriku takan menandingi cantiknya dirimu.  Dan aku sangat sibuk menumpuk materi. Aku lupa bahwa kamu itu tak butuh materi, kamu hanya membutuhkan cinta dariku.

Aku terbawa arus kematian yang seolah-olah hidup. Aku terombang-ambing oleh inkonsistensi omong kosong mereka. Aku kusam, wajahku kusut dipenuhi kotoran-kotoran ketamakan tak berbatas. Dalam kebuntuan keputus asaan aku temui dirimu, setidaknya kamu bisa mendengar segala keluh kesahku. Aku lihat wajahmu, kamu hanya tersenyum, kamu hanya menertawaiku.

Aku lupa lagi dirimu, aku menyibukkan diri. Lagi-lagi aku tertekan dalam situasi yang tak bisa aku kendalikan. Aku terjebak dalam kubangan darah akibat luka ketidak harmonisan. Aku terjerat dan tak bisa lari dari sistem-sistem kepicikan. Dalam kebuntuan keputus asaan aku temui dirimu, setidaknya kamu bisa mendengar segala keluh kesahku. Aku lihat wajahmu, kamu hanya tersenyum, kamu hanya menertawaiku.

Aku tenang sejenak, lalu kuteruskan pengembaraanku. Aku main-main mencari cinta selain cintamu. Sejenak kunikmati itu, aku terhenyak, ternyata mereka hanya palsu, mereka hanya menyakiti dibalik manis setiap tutur yang mereka ucap. Mereka kebanyakan hanya membawaku kepada kesengsaraan, kemunafikan dikala terjebak dalam suatu himpitan kebosanan. Dalam kebuntuan keputus asaan aku temui dirimu, setidaknya kamu bisa mendengar segala keluh kesahku. Aku lihat wajahmu, kamu hanya tersenyum, kamu hanya menertawaiku.

Entah sampai kapan aku akan terus hidup dengan segala keegoisan dan keangkuhanku, ketidak pedulianku terhadapmu. Entah sampai kapan aku akan menemuimu hanya ketika aku dalam keterpurukan dan keputus asaan. Entah sampai kapan  kamu akan terus tersenyum dan menertawaiku. Entah sampai kapan juga aku akan berterima untuk senyum yang selalu kau kembangkan itu. Entahlah..

Untuk dirimu kekasihku, bahwa sebenarnya hanya kamulah yang benar-benar memberi kasih. Bahwa pandangan sayu mata ini tak bisa lepas dari ikatan penglihatanmu. Bahwa aku takan melangkah kecuali melangkah menuju rumahmu, menemuimu. Kamulah satu-satunya yang aku kehendaki untuk menemuiku dijalan pulangku. Bahwa aku dengan keterpurukan dan keputus asaanku, aku takkan pernah sendiri, aku bersamamu kekasihku.

Tapi sekali lagi aku terlalu sombong selama ini padamu. Sampai akhirnya aku sadar bahwa aku sesungguhnya tak berlaku, aku hanya laku kekasihku, aku tak bisa membuat kata cinta, aku tak bisa membuat bismillah selain bismillah-mu. Aku berhutang padamu, aku berhutang mengembalikan cintamu, aku bertugas mengembalikan diriku padamu. Harus mengerti tentang kata cintamu “innalillahi wainnailaihi rajiun”.

*Pantaskah seorang pendosa menyebut Kekasihmu, meski Engkau maha pengampun?.

-RianNova-

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !