Sastra

Untukmu Matahari Pagiku

Untukmu Matahari Pagiku – Kata-kata sederhana ini kutulis ketika malam hujan, bersamaan dengan tangisan langit itu juga rasa gundah yang membanjiri setiap molekul darahku. Rasa itu membuatku malah semakin hidup dan terhidupi. Saat itu Tuhan menunjukkan rasa cinta melalui Ar-Rahman-nya kepadaku. Sambil berbisik Dia mengajariku bahwa cinta itu seharusnya tentang keikhlasan dan ketulusan. Cinta adalah jalan tertinggi untuk realisasi diri dan pencapaian insani yang termulia. Aku bahagia dalam kebahagiaanmu. Meskipun aku tak melihat jelas akan tafsir dan dimensi pandanganmu tentang cinta dan bahagia. Setidaknya itu yang kupersepsikan.

Aku ingin sekali melukis beberapa gambaran kehidupan. Aku larut dalam imajinasi bentangan pijakanmu. Tetapi tak ada tempat, meski sejengkalpun. Tak ada sudut, meski sederajat. Aku seperti cahaya kecil yang berharap menerangi lintas raya, membuat hidup disetiap kehidupanmu yang mati.

Entah mengapa aku sangat menyukai malam. Suatu waktu bila aku terjatuh ke lembah dalam, atau terperangkap diheningnya suasana. Seperti itulah yang kuambil dari sifat malam. Aku selalu merasakannya. Meskipun aku mengerti, aku akan tetap sulit. Kesulitan yang selalu kuhadapi tentang engkau datang dari suatu kekerdilan atau ketakutan dalam diriku.

Aku memasrahkan sepenuhnya pada hatimu.  Ikuti hatimu. Itu adalah pemandu yang benar dalam setiap hal besar. Pun hatiku, hatiku demikian terbatas. Lakukan saja apa yang engkau ingin lakukan. Lakukanlah semuanya tanpa beban. Pastikan kamu berpijak pada unsur ilahi yang ada pada setiap kita. Aku takan mendistrosi makna dari setiap tuturmu demi pembanggaanku. Hubungan antara kau dan aku adalah hal paling indah dalam hidupku. Itu adalah hal paling hebat yang aku pernah tahu dalam kehidupan apa pun. Menuju jalan yang dituju, selalu ada jalan yang mesti dilaluinya. Demi sebuah cahaya, meskipun kaki ini berdarah.

Teringat saat itu, entah apa yang mengarahkanku. Tidak sengaja ku selami keindahan perasaan. Pengagumanku muncul begitu cepat. Tanpa disadari seluruh saraf  tak terkendali. Ku tawarkan kedamaian, tawarkan cinta dan persahabatan. Kuberikanmu kekerabatan, kasih sayang. Aku melihat kecantikanmu, mengistimewakanmu, merasakan apa yang kamu rasakan. Perasaanku mengalir dari sumber tertinggi.

Hal yang terdalam, pengakuan itu, ekspresi hasrat  itu, rasa gila itu, dan itu masih sama dari dulu sampai sekarang, hanya mungkin seribu kali lebih dalam dan lebih lembut. Menggubah masa depan.

Waiting For You
Waiting For You

Hal terindah, saat kubermimpi kupegang erat  tanganmu itu, melebihi erat dan lembutnya cahaya mentari dikepagian. Saat hanya aku dan engkau dipelataran bumi. Indah mengagumkan. Kupegang tangan itu, begitu luas bahagiaku bak luas langit penurun warna-warni.

Kupelajari setiap waktu yang singgah dan pergi dipenetapan hatiku. Kadang aku menangis, tangisanku begitu keras kudengar. Senyumku juga kadang tak terbendung, saat ku visualkan lekuk wajah manis itu dihadapanku. Itu wajahmu.

Sekuat apapun nyatanya hasrat dan penetapan hatiku tak bisa meruntuhkan penetapan–Nya. Setahuku Dia telah mempunyai catatan tetap terhadap diriku. Ibarat gumpalan awan, aku akan “taklid” mengikuti setiap perintah angin. Yang pada akhirnya deras akan menurunkan ar-rahmanku pada yang Dia kehendaki.

Jaga jiwa dan ragamu. Ingatlah akan ada berbagai rasa yang mengisi hati silih berganti. Ingatlah ada aku disini yang menunggu matahari pagi semalaman.  Teguh dan sandarkan hatimu pada-Nya. Dia yang menebus sedih dengan segala kasih. Terima kasih engkau telah begitu manis dan ramah kepada kehidupanku. Dan tanpa memperdulikan siapapun, aku ingin bicara “aku mencintai kamu”.

RianNova

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !