Wisata Biovillage Berbasis Kearifan Lokal

Setelah sebelumnya berbagi artikel tentang “Wisata Grebeg Suro” pada postingan kali ini Wisata sains akan memposting artikel berjudul Wisata Biovillage Berbasis Kearifan Lokal. Biovillage dan kearifan lokal mempunyai hubungan yang erat. Bagi saya dua hal tersebut diatas merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Wisata Biovillage Berbasis Kearifan Lokal
Hari Lingkungan hidup sedunia

Pengertian Biovillage

Biovillage adalah suatu model pedesaan yang memanfaatkan segala aspek sumber daya alam yang ada, dan diaplikasikan ke dalam kehidupan tanpa menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Konsep biovillage sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia, karena Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal terutama di daerah pedesaan. Biovillage berbasis kearifan lokal merupakan sebuah model pengembangan pedesaan dengan memanfaatkan segala aspek sumber daya alam yang ada dan dengan tanpa meninggalkan pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama di masyarakat tersebut.

Kearifan Lokal

Kearifan lokal (local wisdom) dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengan kebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Menurut Mitchell (2003) konsep sistem kearifan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional karena hubungan yang dekat dengan lingkungan dan sumber daya alam, masyarakat lokal, tradisional, atau asli, melalui “uji coba” telah mengembangkan pemahaman terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal yang telah dianggap mempertahankan sumber daya alam, serta meninggalkan kegiatan-kegiatan yang dianggap merusak lingkungan.

Biovillage berbasis kearifan lokal ini dapat diwujudkan dalam suatu pedesaan, dengan mengembangkan segala aspek dari ilmu mikrobiologi yang dimiliki untuk diaplikasikan dalam kehidupan di masyarakat desa itu. Desa yang menjadi sasaran pengembangan biovillage merupakan desa yang nantinya akan diubah menjadi desa yang ramah lingkungan dari segala aspek kehidupan. Pengembangan biovillage ini harus diprakarsai oleh orang-orang yang mengerti mikrobiologi. Pendirian “biocenter” menjadi penting bagi masyarakat biovillage, yaitu sebagai pusat informasi, data,  konsultasi dan pelaksanaan program-program desa hayati tersebut. Kerja sama dan prinsip gotong royong yang sesuai dengan kearifan lokal desa tersebut menjadikan konsep ini akan berjalan dan terlaksana dengan baik sesuai dengan peran serta masing-masing masyarakat biovillage tersebut.

Beberapa hal yang harus  diperhatikan dan dilakukan dalam pengembangan biovillage berbasis kearifan lokal sebagai upaya penanggulangan kemiskinan di suatu pedesaan, antara lain adalah:

  • Pemanfaatan limbah rumah tangga:
  1. Pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel.
  2. Pendaur ulangan sampah plastik, menjadi kerajinan tangan.
  • Pemanfaatan limbah kandang:
  1. Pemanfaatan sisa buangan dari peternakan sebagai bio gas,
  2. Pemanfaatan urine binatang ternak sebagai pupuk organik cair.
  3. Penggunaan sisa buangan hasil pembuatan biogas menjadi pupuk organik padat
  • Pengembangan sumber energi alami:
  1. Pemanfaatan tenaga matahari, angin, dan air, sebagai pembangkit tenaga listrik atau yang lainnya.
  2. Menciptakan sumber energi alternatif, seperti biogas, biodiesel, bioetanol, dan lain-lain.
  • Penggunaan mikrobiologi dalam perladangan, untuk mempertahankan ketahanan pangan desa tersebut:
  1. Mengelola bibit unggul yang ada sebagai plasma nutfah masa depan.
  2. Membuat pangan dari hasil perladangan, seperti pembuatan tempe dari kedelai yang memanfaatkan Rhizopus untuk fermentasi, pembuatan kecap dengan bantuan mikroba Aspergilus, dan sebagainya.
  • Pengembangan sumber energi alami.
  1. Pemanfaatan tenaga matahari, angin, dan air, sebagai pembangkit tenaga listrik atau yang lainnya.
  2. Menciptakan sumber energi alternatif, seperti biogas, biodiesel, bioetanol, dan lain-lain.
Semoga Artikel Ini Bermanfaat
Baca artikel yang terkait berjudul ” 5 destinasi wisata di Banyumas

Berkomentarlah dengan bijak,,No Spam !