Arsip Kategori: Edukasi

Contoh Makalah Komprehensif IAIN “Urgensi Pendidikan Agama Sejak Dini”

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA SEJAK DINI

A. Pendahuluan

Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral dan krisis identitas. Banyaknya perilaku negatif yang dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, orang dewasa maupun remaja bahkan anak-anak, orang yang terpelajar maupun yang putus sekolah, dari kalangan orang yang berada maupun yang miskin. Banyaknya kasus korupsi yang dilakukan para pejabat dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, kasus tawuran pelajar, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) dan minuman keras, perjudian, pelecehan seksual, peredaran video porno yang pelakunya adalah mahasiswa dan pelajar, dan juga perilaku-perilaku negatif lainnya. Semua gangguan perilaku (behaviour disorder) dan gangguan karakter (character disorder) itu menyebabkan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dan pengembangan diri bagi pelakunya, dan tentu saja berdampak buruk bagi ketenangan dan keharmonisan dirinya.

Tindakan yang diduga mampu menyelesaikan masalah sosial itu adalah perbaikan budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah). Budi pekerti dapat diturunkan dari berbagai sumber. Pertama, dari ajaran agama, semua agama menghendaki umatnya untuk berlaku dan bertindak yang baik. Kedua, falsafah hidup, semua negara mempunyai falsafah hidup yang menjadi pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku baik.

Dalam Islam, misi utama kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak umatnya. Hal itu berdasarkan hadis riwayat Imam Malik bin Anas dari Anas bin Malik, yaitu :

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”

Agama Islam adalah agama yang sempurna yang meliputi aspek kepercayaan (tauhid), perbuatan (amaliah), dan etika (akhlak/moral). Dalam pengajarannya, pendidikan menjadi hal yang sangat sangat penting. Pendidikan juga menjadi penentu kualitas sumber daya manusia. Pendidikan yang baik dan berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan berkualitas juga.

Pendidikan Agama Islam memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, karena Pendidikan Agama Islam mencakup semua aspek yang saling terkait, sistem akidah, syariah, dan akhlak, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor(1).

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang secara sadar dan sengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilaksanakan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung secara terus menerus[2).

Menurut Ngalim Purwanto[3], pendidikan itu sangat penting karena dilihat dari berbagai segi:

1. Segi anak

Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh oleh karena itu pendidikan sangat penting sekali karena mulia sejak lahir anak belum mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya,baik untuk mempertahankan hidup maupun untuk merawat diri, semua kebutuhannya tergantung orang tua.

Oleh karena itu anak atau bayi memerlukan bantuan, tuntunan, pelayanan dan dorongan dari orang lain demi mempertahankan hidup dengan mendalami belajar setahap demi setahap untuk memperoleh sikap dan tingkah laku sehingga lambat laun dapat berdiri sendiri yang semuanya itu memerlukan waktu yang cukup lama.

2. Segi Orang Tua

Dalam hati nurani orang tua yang terdalam mempunyia sifat kodrati untuk mendidik anak baik dari segi fisik, sosial, emosi maupun intelegensinya agar memperolah keselamatan, kepandaian, agar mendapat kebahagiaan hidup yang mereka idam-idamkan, sehingga ada tanggung jawab moral atas hadirnya anak tersebut yang diberikan Tuhan untuk dapat dipelihara dan dididik sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang.

Anak-anak adalah manusia yang masih kecil yang belum dewasa dan memiliki berbagai potensi laten untuk tumbuh dan berkembang. Potensi tersebut adalah potensi jasmani yang berkaitan dengan fisik (motorik) dan juga potensi rohani yang berkaitan dengan kemampuan intelektual maupun spiritual dan termasuk di dalamnya nilai-nilai agama.

Anak lahir dalam keadaan fitrah sebagaiman yang disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari Muslim, yaitu :

“Tiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Menurut hadist ini, manusia lahir membawa kemampuan-kemampuan (fitrah), potensi, dan pembawaan. Sedangkan ayah ibu disini adalah orang tua dan lingkungan sebagaimana yang dimaksud oleh para ahli pendidikan[4].

Muzayyin Arifin seperti yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat[5] mengartikan fitrah berdasarkan pendapat para ulama sebagai suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya, di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang saling terkait dan saling menyempurnakan bagi kehidupan manusia, yaitu:

1. Kemampuan dasar beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada Islam saja. Sehingga manusia bisa dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani bahkan anti agama (ateis). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Islam antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.

2. Kemampuan dasar untuk beragama Islam, dimana faktor iman adalah intinya. Pendapat ini dikemukan oleh Muhammad Abduh, Ibnul Qayyim, Abu A’la Al Maududi, Sayyid Quthb, yaitu bahwasanya fitrah mengandung kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah dan identik dengan fitrah. Ali Fikry berpendapat bahwa faktor hereditas kejiwaan ( faktor keturunan psikologis ) dari orang tua merupakan salah satu aspek dari adanya kemampuan dasar manusia itu.

3. Mawahib (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Fitrah mengandung komponen psikologis yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang muslim merupakan elan vita (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi semangat untuk selalu mencari kebenaran hakiki dari Allah.

4. Fitrah adalah kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Dalam fitrah tidak terkandung komponen psikologis apapun. Pendapat ini dikemukakan oleh Al Gazhali.

Karena adanya fitrah ini, maka manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Manusia merasa di dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa tempat mereka memohon dan berlindung.

Anak lahir dalam keadaan suci, dan faktor penentu kualitas keagamaan sangat tergantung pada orang tua dan lingkungan. Jika keadaan anak yang masih suci itu tidak dikembangkan secara maksimal untuk hal-hal positif maka mereka akan tumbuh liar tak terkendali. Karena itulah pendidikan di usia dini sangat diperlukan agar potensi (fitrah) anak dapat berkembang dan tertanam kuat dalam diri anak.

B. Pembahasan

Anak selalu mengalami pertumbuhan secara fisik dan perkembangan secara psikis. Perkembangan anak berlangsung sejak terjadi konsepsi yaitu sejak masih dalam kandungan sampai akhir hayat.

Menurut Aristoteles[6] masa perkembangan dapat dibagi menjadi tiga fase:

1. Fase I adalah usia 0 tahun sampai 7 tahun. Fase ini disebut masa anak kecil, masa bermain. Pendidik perlu memberikan aktivitas bermain dan selalu senang, kalau senang anak akan berkembang secara wajar dan sehat. Masa ini digunakan sebagai pedoman batas bawah atau usia untuk masuk ke pendidikan dasar. inilah yang paling tepat untuk membentuk kepribadian anak melalui bermain.oleh karena itu guru harus memberikann permainan yang mengandung norma, nilai, dan kaidah yang berguna bagi anak di kemudian hari.

2. Fase II adalah usia 7 tahun sampai dengan 14 tahun. Fase ini disebut masa anak, masa belajar, dan masa sekolah rendah.perkembangan anak usia ini harus memperhatikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional disamping juga kecerdasan-kecerdasan yang lain.

3. Fase III adalah usia 14 tahun sampaidengan 21 tahun. Masa ini disebut masa remaja atau masa pubertas. Pasa masa ini anak sudah mualin berfikir secara rasional dan sudah mampu berfikir abstrak.

Fase I perkembangan manusia menurut batasan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, masuk dalam kategori usia dini. Anak usia dini adalah sosok individu sebagai makhluk sosiokultural yang sedang mengalami masa perkembangan yang sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya dan memiliki sejumlah karakteristik tertentu.

Anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur dan perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Anak usia dini mengalami suatu proses perkembangan yang fundamentalis dalam arti bahwa dalam pengalaman perkembangan pada usia dini dapat memberikan pengaruh yang membekas dan berjangka waktu lama sehingga melandasi perkembangan anak selanjutnya. Setiap anak memiliki potensi fisik-psikologis, kognisi, maupun sosio-emosi. Anak mengalami proses perkembangan yang sangat cepat sehingga membutuhkan pembelajaran yang aktif dan energik. Stimulasi dini sangat diperlukan guna memberikan rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak, yang mencakup penanaman nilai-nilai agama dan moral, pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar[7]

Anak usia dini berada pada fase perkembangan kosa kata yang sangat pesat. Seperti yang diungkapkan oleh Elisabeth B.H. setiap anak belajar berbicara, mereka bicara seperti tidak ada putus-putusnya Rata-rata anak pada usia ini menggunakan 15.000 kata setiap hari. Ketrampilan baru yang diperoleh menimbulkan rasa penting bagi mereka. Kondisi semacam ini sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan nilai-nilai agama pada diri mereka dengan cara memperkenalkam istilah, ungkapan dan bacaan yang bersifat agamis. Seperti memperkenalkan istilah-istilah dalam agama Islam seperti shalat, haji, hafalan doa, hafalan surat-surat pendek, dan sebagainya, disamping juga untuk pengembangan verbal mereka[8].

Nilai-nilai agama akan tumbuh dan berkembang pada jiwa anak melalui proses pengalaman dan pendidikan yang dialami sebelumnya. Seorang anak yang tidak mengalami pengetahuan dan pendidikan agama sebagai pengalaman belajarnya, akan dimungkinkan menimbulkan ketidakpedulian yang cukup tinggi dalam menghayati apa yang dipelajarinya di masa remaja dan dewasanya. Berbeda dengan anak yang dalam keluarga yang membiasakan anak untuk belajar agama sejak dini, lingkungan yang agamis, teman sebaya yang taat beribadah, ditambah lagi pengalaman-pengalaman dan pendidikan di sekolah maupun ditempat ibadah, maka dengan sendirinya anak itu akan memiliki kecenderungan untuk hidup dalam warna dan kebiasaan nilai-nilai agama yang dianutnya. Anak akan merasa terbiasa menjalankan ibadah, merasa takut jika melanggar aturan agaman dan mempunyai rasa sebagai hamba Allah.

Pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah, serta pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam pekerjaan, keikutsertaan dalam organisasi sosial/keagamaan memberikan pengaruh yang sangat berarti dalam kehidupan manusia. Jika pendidikan yang diikuti adalah pendidikan yang baik, kemudian lingkungan dan pergaulannya juga baik maka pengaruhnya akan baik bagi perkembangan rasa keberagamaannya. Dalam Kitab Tarbiyah wa Ta’lim, Juz II[9], disebutkan:

“Pendidikan tidak terbatas dalam pendidikan sekolah dan pada waktu kecil dan pada usia remaja saja. Maka manusia dalam setiap tahap perkembangan hidupnya akan terpengaruh oleh bentuk-bentuk pendidikan yang berbeda, dari tempat tinggal (lingkungan), sekolah, pekerjaan, kekuasaan/pemerintahan yang beradab, organisasi sosial,lingkungan yang baik dan agama, sama saja dalam hal itu merupakan keikutsertaan yang baik dan nasehat yang bagus, atau keikutsertaan yang sudah berjalan dengan keadaan masyarakat. Dan yang jelas bahwa manusia menerima bentuk pengaruh segala hal selama hal itu masuk akal dan yang memberikan pengaruh paling besar adalah rumah dan sekolah”.

Anak usia dini adalah anak yang berusia 0 sampai 6 tahun. Pada tiga tahun yang pertama, anak mengalami masa peka atau golden age, dimana ini adalah masa yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak yang mendapatkan stimulasi, pendidikan yang tepat akan dapat berkembang secara optimal. Namun jika masa ini terlewat maka perkembangan anak akan terganggu.

Dalam melaksanakan pendidikan agama, harus diperhatikan tahapan-tahapan perkembangan moral/spiritual anak sehingga lebih tepat dalam pelaksanannya. Perkembangan moral/spiritual pada anak adalah sebagai berikut[10]:

1) Masa kanak-kanak (sampai usia 7 tahun), tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

a) Sikap keagamaan represif meskipun banyak bertanya

b) Pandangan ketuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan)

c) Penghayatan secara rohaniyah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka salah melakukan atau partisipasi dalam kegiatan ritual

d) Hal ketuhanannya secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai taraf kemampuan kognitifnya yang masih bersifat egosentris (memandang segala sesuatu dari sudut pandang dirinya)

2) Masa anak sekolah (7-12 Tahun)

a) Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian.

b) Pandangan dan paham ketuhanannya diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta yang sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungannya.

c) Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.

Nilai-nilai keagamaan pada anak akan tumbuh dan berkembang pada jiwa anak melalui proses pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya sejak kecil. Seorang anak yang tidak memperoleh pendidikan tentang nilai-nilai keagamaan, akan menimbulkan ketidakpedulian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Pengembangan nilai agama pada anak akan berkisar pada kehidupan sehari-hari, secara khusus penanaman nilai keagamaannya adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian/budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai kemampuan anak. Rasa keagamaan dan nilai-nilai agama akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak.

Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan tertib dalam upacara-upacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orangtua dan lingkungan sekitar ketika menjalankan peribadahan. Perkembangan nilai keagamaan pada anak akan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Faktor pembawaan karena setiap manusia yang lahir kedunia, menurut fitrah kejadiannya telah memiliki potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta ini. Hanya saja kadarnya berbeda-beda, sehingga tingkat kecepatan perkembangannya juga berbeda-beda untuk masing-masing individu. Sedangkan faktor lingkungan berpengaruh karena faktor pembawaan masih merupakan potensi, sehingga lingkunganlah yang akan menentukan apakah potensi keagamaan dan keimanan seseorang akan berkembang secara optimal atau tidak.

Ketika rasa keagamaan itu sudah tumbuh pada diri anak, maka kita perlu memberikan latihan-latihan keagamaan. Apabila latihan itu dilalaikan sejak kecil atau dengan cara yang kurang tetap, bukan mustahil ketika mereka menginjak dewasa nanti tidak akan memiliki kepedulian yang tinggi pada kehidupan beragama dalam kesehariannya. Begitu pula sebaliknya, bila kita rajin melatih anak dalam hal keagamaan melalui kegiatan berdoa, beribadah menurut agamanya masing-masing serta berperilaku sesuai ajaran agama, diyakini sang anak akan menjadi orang yang agamis, taat beribadah dan berkepedulian tinggi terhadap aktivitas keagamaan.

Fitrah keagamaan pada anak harus benar-benar dijaga dan dikembangkan agar nantinya rasa keberagamaan itu akan melekat dengan kuat pada diri mereka di saat mereka telah dewasa. Karena tanpa adanya pendidikan, pelatihan dan bimbingan yang memadai fitrah itu akan “hilang”.

Selain itu Rasulullah juga memerintahkan untuk memilih pasangan yang baik dalam membina rumah tangga dalam hadist yang diriwayatkan oleh yang berbunyi :

“Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia”. (Muttafaq Alaihi)

Lingkungan yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan rasa keberagamaan pada anak adalah institusi formal seperti sekolah maupun nonformal seperti perkumpulan dan organisasi. Sekolah memegang peranan penting dalam perkembangan rasa keberagamaan. Apalagi pada anak usia dini dimana fungsi sekolah dalam pendidikan anak usia dini adalah sebagai dasar bagi pendidikan selanjutnya. Pendidikan usia dini juga merupakan tahun persiapan anak secara sosial emosional untuk menerima pendidikan pada tingkat selanjutnya dan juga sebagai dasar dalam pembentukan kebiasaan dan perilaku. Seperti yang diungkapkan oleh Harry L. Gracey[11]:

“Taman Kanak-kanak umumnya diterapkan oleh pendidik sebagai tahun persiapan untuk sekolah. Hal ini dianggap sebagai tahun di mana anak-anak kecil, berusia lima atau enam tahun, disiapkan secara sosial dan emosional untuk pembelajaran akademik yang akan berlangsung selama dua belas tahun ke depan. Diharapkan dasar perilaku dan sikap yang akan diletakkan di TK di mana anak-anak kemudian dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan mereka yang akan diajarkan di kelas-kelas” .

C. PENUTUP

Pendidikan agama yang dilakukan sejak dini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan perkembangan moral/spiritual anak. Dengan pendidikan sejak dini akan mampu mengembangkan fitrah manusia karena setiap manusia yang lahir kedunia, menurut fitrah kejadiannya telah memiliki potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta ini.

Dengan adanya fitrah keagamaan yang dimiliki oleh setiap anak dan dengan adanya bimbingan, pelatihan, pembiasaan pelaksanaan kegiatan keagamaan maka akan mengembangakan rasa keberagamaan pada dirinya, sehingga menjadikan orang yang agamis, taat beribadah dan berkepedulian tinggi terhadap aktivitas keagamaan.

[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal. 25

[2] Mukhlison Effendi, Ilmu Pendidikan (Ponoroga: STAIN Ponorogo Press, 2008), hal. 4

[3] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, hal. 4

[4] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya , 2001), hal. 35

[5] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafido Persada, 2002), hal.96

[6] Soegeng Santoso, Dasar-dasar Pendidikan TK ( Jakarta: Penerbit UT, 2008), hal. 1.13

[7] Soegeng Santoso, Dasar-dasar Pendidikan TK, hal. 9-11

[8] Otib Satibi Hidayat, Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama (Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2008), hal. 8.19-8.20

[9]Tim Penyusun, Tarbiyah wa Ta’lim (Gontor: Penerbit Darussalam, 1992), hal.68

[10] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hal.69-70

[11] Jeanne H. Ballantine and Joan Z. Spade (ed.), School and Society A Sociological Approach to Education (Canada: Thomson wadsworth, Inc., 2004), hal.145

Pengaruh Dikotomi Pendidikan

PENGARUH DIKOTOMI PENDIDIKAN

A.    PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan salah satu sarana yang sangat menentukan untuk tercapainya tujuan pembangunan nasional, karena lewat pendidikanlah akan dibentuk Sumber Daya Manusia yang bermutu untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Pendidikan yang bermutu akan menciptakan manusia yang bermutu, pendidikan yang seadanya akan membentuk manusia yang seadanya juga. Itulah mengapa pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam mensukseskan Pembangunan Nasional. 
Indonesia  sebelum datangnya para penjajah  adalah negara yang terdiri dari beberapa kerajaan besar maupun kecil. Indonesia  kaya sumber daya alam, tanah yang subur dan memiliki kekayaan laut yang melimpah merupakan penyebab kaya dan makmurnya kerajaan-kerajaan tersebut. Bahkan Sriwijaya yang pada saat itu menjadi sebuah kerajaan besar dengan wilayah hampir meliputi seluruh Nusantara sudah mampu menjalin hubungan dengan Kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sofyan ( 661 M) dan Khalifah Umar Bin Abd. Aziz (717-720 M).  Hal itu membuktikan bahwa Sriwijaya adalah sebuah kerajaan besar yang berpengaruh di dunia. Selain itu di Sriwijaya juga berdiri perguruan tinggi, hal itu menjadi bukti bahwa wilayah Nusantara saat itu adalah wilayah yang maju baik dalam bidang ekonomi, keagamaan, maupun pendidikan.
Datangnya penjajah, Portugis yang kemudian disusul oleh  Belanda   membawa banyak perubahan besar pada bangsa Indonesia, wilayah yang awalnya adalah wilayah yang gemah ripah loh jinawi akhirnya menjadi wilayah yang miskin karena kekayaan alamnya diangkut oleh para penjajah. Tidak hanya kemiskinan, penjajah  juga membawa Indonesia menjadi bangsa yang dilingkupi keterbelakangan dan kebodohan.
Sekolah Dasar yang pertama untuk kaum pribumi berdiri tahun 1819 atas inisiatif Gubernur Jenderal Van de Capellen, yang bertujuan agar penduduk pribuni bisa baca tulis huruf Latin sehingga bisa membantu pemerintah Belanda, disamping itu juga sebagai “pesaing” pesantren dan pendidikan keagamaan yang dilangsungkan di masjid dan mushola oleh para ulama saat itu. Pendidikan yang diadakan oleh pemerintah Belanda menerapkan sistem pendidikan yang dikotomis, dimana mereka hanya mengajarkan ilmu pengetahuan yang kering dari nilai-nilai spiritualitas, bahkan mereka kemudian membatasi kegiatan pendidikan yang diadakan oleh para ulama karena mereka melihat pendidikan di pesantren itu kemudian melahirkan perlawanan terhadap penjajahan dan jihad membebaskan bangsa ini dari Kristenisasi dan westernisasi dari para penjajah.
Sementara selama masa pendudukan Jepang pendidikan di Indonesia secara umum terbengkelai, karena murid-murid tiap hari hanya disuruh gerak jalan, baris berbaris, kerja bakti ( romusha), bernyanyi dan sebagainya.
Pada awal kemerdekaan, pendidikan di Indonesia diserahkan pada Departemen Agama dan Departemen P dan K (Depdikbud). Oleh karena itu maka dikeluarkan peraturan-peraturan bersama antara kedua departemen itu untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum (negeri atau swasta). Adapun pembinaan pendidikan agama ditangani oleh Departemen Agama sendiri. Pendidikan Agama baru diajarkan  pada kelas IV Sekolah Rakyat, kecuali untuk daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat maka diajarkan mulai dari kelas I. Itu saja jika ada orang tua yang keberatan, siswa tersebut boleh tidak mengikuti pelajaran agama. Baru setelah tahun 1966 pendidikan agama menjadi pelajaran wajib bagi seluruh siswa dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi Umum di seluruh Indonesia.
Jadi pada awal kemerdekaan Indonesia pemerintah masih mendikotomikan pendidikan, dimana lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu umum berada dibawah naungan Depdikbud sedangkan lembaga pendidikan keagamaan berada dibawah Departemen Agama. Meskipun dalam lembaga pendidikan umum juga ada pendidikan agama namun dengan porsi yang sedikit.

B.    ISI

a.    Sejarah Dikotomi Ilmu Pengetahuan

Sepanjang sejarahnya sejak awal pemikiran Islam terlihat dua pola yang saling berlomba mengembangkan diri, dan mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan pola pendidikan Islam. Dari pola pemikiran yang bersifat tradisional, yang selalu mendasarkan diri pada wahyu, yang kemudian berkembang menjadi pola pemikiran sufistik dan pola pendidikan sufi yang sangat memperhatikan aspek-aspek batiniyah dan akhlak. Sedangkan dari pola pendidikan yang rasional, yang mementingkan akal pikiran, menimbulkan pola pendidikan yang empiris rasional. Pola pendidikan ini sangat memperhatikan pendidikan intelektual dan penguasaan material. Pada masa kejayaan Islam yaitu abad VIII sampai abad XIII M, kedua pola pemikiran itu menghiasi dunia Islam sebagai dua pola yang terpadu dan saling melengkapi.
Selanjutnya diungkapkan oleh M.M Syarif bahwa pemikiran Islam menurun pada abad XIII, diantaranya karena telah berkelebihannya filsafat Al Ghazali yang bercorak sufistik di dunia Islam bagian Timur dan filsafat Ibn Rusy yang bercorak rasional, menimbulkan pertentangan yang pada akhirnya menimbulkan ketakutan dari kaum muslimin untuk mendekati ilmu filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya dan mereka membiarkan orang-orang  Eropa mengambil ilmu-ilmu itu.
Setelah pola pemikiran rasional diambil alih oleh dunia barat, maka pola pemikiran orang Islam hanya pada hal-hal yang bersifat non materi sehingga  tidak ada lagi perhatian terhadap pendidikan intelektual. Ditambah lagi dengan hancurnya kota Baghdad dan Granada sabagai pusat-pusat kebudayaan dan pendidikan Islam menyebabkan kemunduran pendidikan Islam terutama yang berkaitan dengan bidang material dan intelektual. Untuk Eropa mengalami banyak kemajuan dalam bidang ilmu pengatahuan sedangkan kaum muslimin semakin lemah dan lebih banyak memfokuskan pada bidang keagamaan yang kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran tradisional yang hanya mengembalikan segala sesuatu kepada Tuhan, tanpa ada usaha keras, karena menganggap segala sesuatu terjadi hanya karena kehendak-Nya.
Pola pemikiran diatas akhirnya mendikotomikan ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Maka  mulailah pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama.

b.    Akibat Dikotomi Ilmu Pengetahuan bagi sistem pendidikan di Indonesia

Adanya dikotomi ilmu yang pernah diterapkan oleh penjajah di Indonesia mempunyai pengaruh yang cukup signifikan sampai sekarang meskipun Indonesia telah merdeka selama 67 tahun. Tujuan pendidikan masih menyerupai tujuan pendidikan di jaman penjajahan yaitu untuk menghasilkan golongan teokrat elit dengan memberi bekal ilmu pengetahuan modern, ketrampilan dan keahlian yang dibutuhkan dengan sistem pendidikan yang dikotomis dan jauh dari sentuhan spiritualitas. Hal itu dapat dilihat dari  minimnya jam pelajaran agama terutama di sekolah-sekolah negeri.
Untuk satu minggu jadwal mata pelajaran agama hanya 2 jam saja. Dan pelajaran agama hanya dianggap sebagai “pelengkap penderita”, karena di dunia kerja, lapangan pekerjaan  untuk orang yang ahli di bidang agama hanya sebatas pekerjaan yang berkaitan dengan keagamaan saja, seperti pegawai Kementrian Agama, guru agama, penceramah, dll, dan sulit bagi lulusan sekolah agama untuk bekerja di bidang yang lain. Hal ini tentu berbeda dengan bidang pengetahuan yang lain yang mempunyai lebih banyak lapangan kerja. Dan dalam bidang pengetahuan yang lain itu bisa terjadi pertukaran profesi dari satu bidang kebidang yang lain.
Yang cukup riskan dari adanya dikotomi ilmu pengetahuan ini, terbentuklah lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lemah dalam ranah metodologi. Lemahnya daya kreatifitas dan metodologi ini akhirnya mengarahkan pendidikan Islam pada pola belajar mengajar yang lazimnya di sebut Paulo Freire dengan banking concept of education, dimana peserta didik dijadikan sebagai tempat menanam saham, mereka disuplai, sehingga mereka tidak memikirkan apa-apa lagi dan menjadikan peserta didik pasif dan tidak dapat berfikir kreatif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang problematis. Sementara lembaga-lembaga pendidikan umum dalam pengajarannya lebih mengutamakan ilmu-ilmu sains, sehingga terjadi penganak-tirian ilmu agama.
Hal ini tentu saja menjadikan ilmu umum itu menjadi ilmu yang kering dari nilai-nilai agama. Sehingga pada akhirnya lulusan dari lembaga pendidikan agama menjadi santri yang tidak tahu ilmu pengetahuan umum, dan lulusan lembaga pendidikan umum, menjadi murid yang jauh dari nilai-nilai keagamaan.
Pengembangan pendidikan yang intergratif sebagai kebalikan dari pendidikan yang dikotomis, sebenarnya sudah menjadi agenda negara. Dalam UU SISDIKNAS disebutkan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk lebih berkembangnya peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan  serta bertanggung jawab.

C.    ANALISISA KONSEPTUAL

Dikotomi ilmu pengetahuan meskipun secara teori telah di”hapus”, namun pada kenyataannya masih kita lihat adanya pendikotomian secara terselubung, dimana ilmu-ilmu umum lebih dianak emaskan dibanding dengan ilmu agama. Hal itu karena masih terkungkungnya pemikiran para pendidik dan masyrakat pada umumnya yang menganggap bahwa antara ilmu pengetahuan umum tidak ada hubungannya dengan ilmu agama, karena ilmu umum bersifat rasional-material, sedangkan ilmu agama mendasarkan pada keyakinan yang bersifat dogmatis. Pemikiran dan keyakinan seperti itu belum dapat sepenuhnya hilang dari pemikiran dan keyakinan masyarakat dan pandangan yang menganggap bahwa pendidikan agama hanya berkaitan dengan urusan ibadah saja, antara makhluk dengan Tuhannya. Sedangkan ilmu umum adalah ilmu untuk mendapatkan kehidupan dunia. Sarana untuk mencari kerja dan penghasilan.
Pemikiran ini bertentangan dengan pemikiran para beberapa tokoh dan pemerhati pendidikan. Karena menurut para ahli pendidikan agama dan umum itu harus berintegrasi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan seperti yang tertuang dalam UU SISDIKNAS th.2003
Indonesia, sebagai negara muslim terbesar dan sebagai negara yang berketuhanan, seharusnya mampu menghilangkan dikotomi pendidikan, karena pada intinya semua ilmu itu berasal dari Tuhan, yang dipelajari manusia lewat ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Pendidikan yang ideal untuk menjadikan Indonesia sebagi negara yang maju namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan adalah sistem pendidikan yang benar-benar mampu mengintegrasikan semua ilmu, dimana ilmu-ilmu itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan.
Karakter pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan agama (Islam) yang berintegrasi dengan ilmu-ilmu umum. Karakteristik Pendidikan Islam yang diharapkan adalah sebagai berikut :
  1. Pendidikan yang integralistik: pendidikan yang berorientasikan Rabbaniyyah (ketuhanan), insaniyyah (kemanusiaan), dan ‘alamiyyah (alam jagat raya), ketiganya berintegral mewujudkan manusia yang rahmatan lil ‘alamin
  2. Pendidikan yang humanistik: model pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk hidup, mampu melangsungkan kehidupannya
  3. Pendidikan pragmatik: pendidikan yang memandang manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan mengembangkan dan mempertahankan kehidupannya, serta peka terhadap masalah-masalah sosial kemanusiaan
Kemudian, Pendidikan yang diharapkan adalah  pendidikan yang menonjolkan dan mengutamakan pendidikan agama dan pendidikan akhlak, bersifat menyeluruh, memperhatikan manusia seutuhnya, meliputi intelektual, psikologis, sosial, spiritual, seimbang mencakup berbagai ilmu pengetahuan, seni, jasmani, militer, tekhnik, kejuruan, bahasa-bahasa asing, sesuai perkembangan dan kebutuhan dinamis, menggalakkan percobaan dan penelitian.
Pendidikan yang dinamis dan mampu mengantarkan kebahagiaan bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat adalah pendidikan yang bersifat komprehensif, universal, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, bersifat intergral, tidak saja berkaitan dengan ilmu-inlmu untuk kebahagiaan di akhirat saja, tetapi juga untuk kebahagiaan di dunia sesuai dengan tuntutan kehidupan manusia yang dinamis.
Al Quran dan Al Hadist sebagai sumber utama sekaligus konsep dasar pendidikan (Islam), sangat konsen terhadap manusia dan melihatnya secara utuh tanpa pandangan dikotomis antara yang bersifat materi dengan yang bersifat non materi. Ini bukti konkrit bahwa pendidikan Islam yang berdasarkan Al Qur’an itu sangat memperhatikan perkembangan alam dan perkembangan kehidupan manusia serta watak manusia itu sendiri . 
Hai tu sesuai dengan al Qur’an surat al Ahzab :72
 “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat  kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh”.
Dengan melihat sisi emas peradaban Islam yang pernah mengalami perkembangan pesat pada abad pertengahan dengan banyak menelorkan banyak ilmuwan khususnya filosof yang sekaligus ilmuwan. Kondisi umat Islam sekarang terekonsialiasi pada karakteristik peradaban yang pernah dikembangkan saat itu berlandaskan pada dua hal :
  1. Berkembangnya nilai-nilai masyarakat yang terbuka (open society) yang menghasilkan kontak dengan kebudayaan-kebudayaan lain.
  2. Perkembangan humanisme yang melahirkan perhatian terhadap masalah hubungan antar sesama manusia.
Kedua prinsip ini yang menjadi spirit untuk membangun kehidupan yang modern. Artinya adalah nilai-nilai toleran, terbuka dan juga nilai kebebasan merupakan akar peradaban Islam untuk mencapai perkembangan yang cemerlang.
Oleh sebab itu, agar pola belajar mengajar dengan pola pikir nomatif- doktriner banyak direkonstruksi oleh para praktisi pendidkan agar out put dari sistem pandidikan Islam dapat bersaing dengan out put pendidikan sekuler. Disamping itu agar umat Islam bisa bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan dari sistem pendidikan sekuler, maka perlu  minimalisasi dikotomi pendidikan Islam dengan langkah-langkah konstruktif, antara lain :
  1. Wajib atas kaum muslim untuk memahami dan mensosialisasi secara intensif dan simultan adanya pandangan bahwa segala ilmu yang baik, benar, manfaat dan kemaslahatannya adalah sama nilainya di sisi Allah. Tidak ada pembedaan dan dikotomi ilmu pengetahuan.
  2. Ulama dan tokoh-tokoh Islam, hendaknya mengkampanyekan secara sistematis, simultan dan berkelanjutan tantang pentingnya ekplorasi itu dikalangan umat Islam.
  3. Ulama dan tokoh Islam harus memelopori penyusunan dan penjelasan konsep riil atas intergalitas dan integrasi ilmu.
  4. Pemerintah dan pengelola/penyelenggara pendidikan hendaknya membuat sebuah sistem pendidikan yang terpadu dan profesional, dengan melibatkan seluruh komponen terkait sehingga tercipta generasi yang berkualitas tinggi dalam IMTAK dan IPTEK.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Syaibaniy, Omar Muhammad Al-Toumi. Falsafah Pendidikan Islam. Terj. Hasan    Langgulung.  Jakarta : Bulan Bintang. 1975.
Arifin, Anwar. Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Sisdiknas. Jakarta : Dirjen Kelembagaan Agama Islam. 2003.
Baharuddin, H, dkk. Dikotomi Pendidikan Islam. Bandung :Rosda Karya. 2011.
Fajar, A. Malik. Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta : Fajar Dunia.1999.
Raharjo, M. Dawam. Gerakan Rakyat dan Negara. Jakarta : Prisma. 1985.
Saidan.  Perbandingan Pemikiran Hasan al-Bana dan M. Natsir. Jakarta : Kementrian Agama RI.  2011
Zuhairi,dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara. 2010.
NB: untuk karya yang dimuat katanya penulis diberi SG, tapi saya belum menerima untuk SG yang memuat karya saya bulan ini.

Contoh Makalah Komprehensif GURU SEBAGAI FASILITATOR DALAM STRATEGI ACTIVE LEARNING

GURU SEBAGAI FASILITATOR
DALAM STRATEGI ACTIVE LEARNING

A. Pendahuluan
Guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Seorang guru mempunyai beberapa peranan yang sangat penting untuk mendukung proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru tidak dapat digantikan, meskipun di jaman yang modern seperti sekarang ini. Seberapapun canggihnya peralatan yang ada tidak dapat menggantikan posisi guru, karena masih banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran.
Tugas dan peran guru merupakan salah satu dari kewajiban sebagai guru dalam melaksanakan tugasnya, yaitu dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dan bernegara. Hal ini penting karena guru merupakan orang tua kedua setelah keluarga yang memiliki beberapa peranan dalam membentuk anak didik yang memiliki kepribadian yang baik dan pengetahuan yang luas sehingga dapat bersaing di dunia pendidikan baik lokal, nasional, maupun internasional.
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, salah satunya adalah guru berperan sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang dapat memberikan kemudahan dalam kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar yang tidak menyenangkan, suasana ruang kelas yang pengap, meja dan kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia menyebabkan anak didik malas belajar. Disinilah tugas guru sebagai fasilitator, yaitu bagaimana menyediakan fasilitas untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Strategi active learning merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Karena ketika menerapkan strategi active learning maka siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik mental maupun fisik.

B. Pembahasan
1. Guru Sebagai Fasilitator
Kosa kata guru berasal dari kosa kata yang sama dalam bahasa India yang artinya “orang yang mengajarkan tentang kelepasan dan sengsara”. Dalam tradisi agama Hindu, guru dikenal sebagai “maharesi guru” yakni para pengajar yang berttugas untuk menggembleng para calon biksu di bhinaya panti (tempat pendidikan bagi para biksu).
Sementara guru dalam bahasa jawa adalah menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru oleh semua murid dan bahkan masyaarakatnya. Harus digugu artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Seorang guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri teladan (panutan) bagi semua muridnya.
Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, guru yang juga disebut tenaga pengajar adalah tenaga pendidik yang khusus dengan tugas mengajar, yang pada jenjang pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan pada jenjang pendidikan tinggi disebut dosen.  Sedangkan dalam Undang-undang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Menurut Warsono dan Hariyanto fasilitator adalah seorang yang membantu peserta didik untuk belajar dan memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam mencapai tujuan pembelajaran .
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Guru sebagai fasilitator adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki keterampilan-keterampilan untuk membantu peserta didik belajar secara mandiri.
2. Strategi Active Learning
a. Pengertian Strategi Active Learning
Dalam KBBI, strategi adalah ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijakan tertentu dalam perang dan damai.
Menurut Pat Hollingsworth dan Gina Lewis, Active learning adalah siswa belajar secara aktif ketika mereka terlibat secara terus menerus, baik mental maupun fisik. Pembelajaran aktif itu penuh semangat, hidup, giat, berkesinambungan, kuat, dan efektif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental, dan bisa memahami pengalaman yang dialami.
Menurut Melvin L. Silberman,  Active learning atau belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategi-strategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berfikir tentang materi pelajaran. Juga terdapat teknik-teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas, bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain.
Dari penjelasan ini, dapat diambil satu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan strategi active learning adalah suatu cara atau strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisioasi peserta didik seoptimal munngkin sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efisien dalam kehidupan mereka sehari-hari.
b. Latar belakang penerapan active learning
Secara historis, perlunya pembelajaran aktif sudah dirasakan oleh Sophocles (Yunani), 5 (lima) abad SM yang lalu mengatakan: “Seseorang harus belajar dengan cara melakukan sesuatu, karena walaupun Anda berfikir telah mengetahui sesuatu, Anda tidak akan memiliki kepastian tentang hal tersebut sampai Anda mencoba melakukannya sendiri .” Identik dengan pendapat Sophocles, Seorang filosof dari Cina (Konfusius) mengatakan:
What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa)
What I see, I remember (apa yang saya lihat, saya ingat)
What I do, I understand (apa yang saya lakukan, saya paham)
Kata-kata bijak konfusius tersebut dijabarkan oleh Melvin L. Silberman menjadi paham belajar aktif sebagai berikut:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit
Apa yang saya dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan ketrampilan
Apa yang saya ajarkan kepada orang lain, saya kuasai
Oleh karena itu belajar aktif sangat diperlukan oleh siswa untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Belajar aktif adalah cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan salah satu atau dua indera saja mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama.
Berikut merupakan alasan mengapa active learning sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum menurut Hisyam Zaini, dkk :
1) Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.
2) Realita bahwa peserta didik mempunyai cara belajara yanng berbeda-beda.
3) Dari sisi pengajar/guru, sebagai penyampai materi, strategi active learning akan sangat membantu dalam melaksanakan tugas-tugas keseharian.
c. Prinsip-Prinsip Strategi Active Learning
Dalam penerapan Strategi Active Learning seorang guru harus mampu membuat pelajaran yang diajarkan itu merangsang daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan bagi siswa. Untuk itu, seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam menerapkan Strategi Active Learning. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Semiawan (2002) dan Zuhairini (1993), prinsip-prinsip penerapan Strategi Active Learning sebagai berikut :

1) Prinsip Motivasi
Menurut Richard I. Arends, Motivation is usually defined as the processes that stimulate our behavior or arouse us to take action. It is what makes us act the way we do . Sebagai seorang guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan, bahkan ditingkatkan dalam diri siswa.
Adapun cara memberi motivasi menurut pendapat Abdulloh ‘Uluwan, yaitu:
 ومن هذهالوسائل تشجيع الولد بالهدية في كل أمريحسنه
 ,أودراسة  يتفوّق بها.
2) Prinsip Latar atau Konteks
Para guru perlu menyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilah, sikap, dan pengalaman yang telah dimiliki para siswa. Dengan demikian, para siswa akan lebih mudah menangkap dan memahami bahan pelajaran yang baru.
3) Prinsip Keterarahan pada Titik Pusat atau Fokus Tertentu
Seorang guru diharapkan dapat membuat suatu bentuk atau pola pelajaran agar pelajaran tidak terpecah-pecah dan perhatian murid terhadap pelajaran dapat terpusat pada materi tersebut. Untuk itu, seorang guru harus merumuskan dengan jelas masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab.
4) Prinsip Hubungan Sosial atau Sosialisasi
Dalam belajar, para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak.
5) Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Pada hakikatnya, anak-anak melakukan belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya.
6) Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Menurut Zuhairini dkk (1993), masing-masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Untuk itu para guru diharapkan tidak memperlakuka sama terhadap siswa-siswanya. Seorang guru diharapkan dapat mempelajari perbedaan itu agar kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapat ditumbuhkembangkan dengan seoptimal mungkin.
7) Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa informasi yang telah dimiliki. Jika para siswa diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah menggairahkan.
8) Prinsip Pemecahan Masalah
Guna mencapai tujuan-tujuan, para siswa diharapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah. Para guru hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh taraf kemampuan para siswa.
d. Macam-macam Strategi Active Learning
Melvin L. Silberman, mengklasifikasikan strategi pembelajaran aktif sebagai berikut :
Tabel 1
Strategi Pembelajaran Aktif
No Klasifikasi Strategi
1 Pembentukan Tim 1. Bertukar Tempat
2. Siapa Saja yang Ada di kelas
3. Resume Kelompok
4. Prediksi
5. Iklan Televisi
6 Teman yang Kita Miliki
7. Benar-benar Kian Mengenal
8. Benteng Pertahanan
9. Mengakrabkan Kembali
10. Hembusan Angin Kencang
11. Menyusun Aturan Dasar Kelas
2 Penilaian Sederhana 12. Pertanyaan Penilaian
13. Pertanyaan yang Dimiliki Siswa
14. Penilaian Instan
15. Sempel Perwakilan
16. Persoalan Pelajaran
3
Pelibatan Belajar Langsung
17. Berbagi Pengetahuan secara Aktif
18. Merotasi Pertukaran Pendapat Kelompok Tiga Orang
19. Kembali ke Tempat Semula
20. Menyemarakan Suasana Belajar
21. Bertukar Pendapat
22. Benar Atau Salah
23. Bertanggung Jawab Terhadap Mata
Pelajaran
4 Belajar dalam Satu
Kelas Penuh 24. Pikiran yang Penuh Tanya Selalu Ingin
Mengetahui
25. Tim Pendengar
26. Membuat Catatan dengan Bimbingan
27. Mata Pelajaran ala Permainan Bingo
28. Pengajaran Sinergis
29. Pengajaran Terarah
30. Menemui Pembicara Tamu
31. Mempraktikan Materi yang Diajarkan
32. Yang Manakah Kelompok Saya?
33. Menjadi Kritikus Tayangan Vidio
5 Mestimulasi Diskusi Kelas 34. Debat Aktif
35. Rapat Dewan Kota
36. Keputusan Terbuka Tiga Tahap
37. Memperbanyak Anggota Diskusi Panel
38. Argumen dan Argumen Tandingan
39 Membaca Keras-keras
40. Pengadilan oleh Majelis Hakim
6 Pengajuan Pertanyaan 41. Belajar Berawal dari Pertanyaan
42. Pertanyaan yang Disiapkan
43. Pertanyaan Pembalikan Peran
7 Belajar Bersama 44. Pencarian Informasi
45. Kelompok Belajar
46. Pemilihan Kartu
47. Turnamen Belajar
48 Kekuatan Dua Kepala
49. Quiz Tim
8 Pengajaran Sesama Siswa 50. Pertukaran Kelompok dengan Kelompok
51. Belajar ala Permainan Jigsow
52. Setiap Siswa Bisa Menjadi guru
53. Pemberian Pelajaran Antar Siswa
54. Studi Kasus Bikinan Siswa
55. Pemberitaan
56. Poster
9 Belajar Secara Mandiri 57. Imajinasi
58. Menulis Disini dan Pada Saat Ini
59. Peta Pikiran
60. Belajar Sekaligus Bertindak
61. Jurnal Belajar
62. Kontrak Belajar
10 Belajar Yang Efektif 63. Mengetahui Yang Sebenarnya
64. Pemeringkatan pada Papan
Pengumuman
65. Apa? Lantas Apa? Dan Sekarang
Bagaimana?
66. Penilaian Diri Secara Aktif
67. Peraga Peran
11 Pengembangan Keterampilan 68. Formasi Regu Tembak
69. Pengamatan dan Pemberian Masukan
Secara Aktif
70. Pemeranan Lakon yang Tidak Membuat
Grogi Siswa
71. Pemeranan Lakon oleh Tiga Orang
Siswa
72. Menggilir Peran
73. Memperagakan Caranya
74. PemeragaanTanpa Bicara
7 5. Pasangan dalam Praktik Pengulangan
76. Pemberian Peran
77. Lempar Bola
78. Kelompok Penasehat
12 Peninjauan Kembali 79. Pencocokan Kartu Indeks
80. Peninjauan Ulang Topik
81. Memberikan Pertanyaan dan
Memberikan Jawaban
82. Teka-teki Silang
83. Meninjau Kesulitan pada Materi
Pelajaran
84 Bowling Kampus
85. Ikhtisar Siswa
86. Tinjauan ala Permaianan Bingo
87 Tinjauan ala Permainan “ Hollywood
Squeres”
13 Penilaian Sendiri 88. Mempertimangkan Kebali
89. Keuntunagan dan Investasi
90. Galeri Belajar
91. Penilaian Diri Secara Fisik
92. Mozaik Penilaian
14 Perencanan Masa Depan 93. Tetaplah Bersama
94. Stiker yang Sangat lengket
95. Dengan ini Saya Tetapkan bahwa…
96. Kuesioner Lanjutan
97. Berpegang Erat
15 Ucapan Perpisahan 98. Papan Scrabble Perpisahan
99. Menjalin Hubungan
100. Foto Bersama
101. Ujian Akhir

e. Kelebihan Strategi Active Learning
Menurut Silberman (1996) yang dikutip oleh Agus N. Cahyo, active learning dalam pembelajaran mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1) Peserta didik lebih termotivasi
2) Mempunyai lingkungan yang aman
3) Partisipasi oleh seluruh kelompok belajar
4) Setiap orang bertanggung jawab dalam kegiatan belajarnya sendiri
5) Kegiatan bersifat fleksibel dan ada relevansinya
6) Informasi menjadi lebih mudah untuk diterima dan diterapkan
7) Pendapat induktif distimulasi (tidak sebatas diberikan, tetapi juga dieksplorasi)
8) Berpartisipasi mengunngkapkan proses berfikir mereka
9) Memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
10) Memberi kesempatan untuk mengambil resiko

f. Kelemahan Strategi Active Learning
Sedangkan Menurut Silberman (1996) yang dikutip oleh Agus N. Cahyo, kelemahan-kelemahan dalam penerapan strategi Active Learning adalah sebagai berikut :
1) Keterbatasan waktu
2) Kemungkinan bertambahnya waktu untuk persiapan
3) Ukuran kelas yang besar akan mempersulit terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan active learning.
4) Keterbatasan materi, peralatan, dan sumber daya akan menghambat kelancaran penerapan active learning dalam pembelajaran.
5) Keengganan pendidik untuk mengambil resiko seperti, resiko peserta didik tidak akan berpartisipasi, menggunakan kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau mempelajari isi sampai selesai.

C. Guru Sebagai Fasilitator dalam Penerapan Strategi Active learning
Peran fungsional guru dalam pembelajaran aktif adalah sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator, guru menyediakan fasilitas pedagogis, psikologis, dan akademik bagi pengembangan dan pembangunan struktur kognitif siswa. Dengan kata lain, guru wajib menguasai teori pendidikan dan metode pembelajaran serta mumpuni dalam penguasaan bahan ajar agar pembelajaran aktif bergulir dengan lancar.
Menurut Tylee (2000) yang dikutip oleh Warsono dan Hariyanto, menyatakan tugas pokok seorang fasilitator atau peran guru pada saat tatap muka dikelas terutama adalah sebagai berikut:
1. Menilai para siswa
Tugas menilai siswa sebagai prasyarat awal agar observasi terhadap siswa yang dinilai dapat secermat mungkin, guru harus berupaya akrab dengan siswa. Aspek penting dari siswa yang harus dinilai antara lain kemauan belajar dan kecakapan siswa. Kemauan belajar siswa terkait dengan  nilai-nilai, sedangkan kecakapan siswa dalam belajar mengacu kepada pemahaman belajar dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran.
2. Merencanakan pembelajaran
Rencana pembelajaran dapat disusun lebih baik oleh para guru jika para guru telah memahami apa yang akan dinilai dari para siswanya. Selain itu, rancangan pembelajaran juga harus dibuat sesuai dengan kebutuhan dan minat para siswa.
3. Mengimplementasikan rancangan pembelajaran
Terkait dengan implementasikan rancangan pembelajaran, hal utama yang harus diperhatikan oleh guru adalah bagaimana cara mengelola kelas dengan sebaik-baiknya, serta mengimplementasikan strategi pembelajaran yang mengakomodasikan berbagai gaya belajar siswa.
4. Melaksanakan evaluasi proses pembelajaran
Dalam hal ini, guru sebagai fasilitator harus merevisi hasil asesmen siswa. Maksudnya hasil asesmen kelas harus menjadi bahan perbaikan bagi pembelajaran berikutnya.
Menurut Clarke (2005) yang dikutip oleh Warsono dan Hariyanto, menyatakan bahwa fasilitator yang baik harus memiliki karakteristik pribadi tertentu yang mampu mendorong anggota kelompok untuk berpartisipasi. Karakteristik pribadi itu termasuk sikap rendah hati, murah hati, dan kesabaran, yang digabungkan dengan pemahaman, kesediaan menerima dan menyetujui. Teknik-teknik yang sering dilaksanakan oleh seorang fasilitator yang baik antara lain adalah sebagai berikut :
1. Meminta anggota kelompok untuk saling berbagi informasi melalui paparan yang menggunakan gambar-gambar, diagram, atau bantuan media visual lain, ini akan membantu anggota yang lambat belajar.
2. Membagi para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mendorong keberanian anggota yang pemalu atau bersifat tertutup untuk berpartisipasi.
3. Menggunakan diskusi kelompok dan kegiatan kelompok yang menyediakan kesempatan bagi peserta yang lambat belajar untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
4. Meminta kelompok untuk mnyetujui aturan-aturan dasar permainan seperti tidak melakukan interupsi saat anggota lain sedang bicara, menghargai pendangan yang berbeda, serta menyepakati keputusan yang telah disepakati oleh sebagian besar anggota kelompok.
5. Memberikan tugas khusus bagi peserta yang dominan sehingga ada ruang dan waktu untuk berpartisipasi bagi yang lain sambil menjaga agar setiap siswa terlibat aktif.
6. Menangani konflik dengan cara dan pendekatan yang sensitif, sehingga setiap perbedaan yang ada selalu memiliki nilai yang dihargai.
Menurut Yager (1991) yang dikutip oleh R. Rohandi, ada beberapa petunjuk yang diberikan kepada para guru dalam mengembangkan pembelajaran yang bertujuan untuk membantu anak dalam proses konstruksi pengetahuan yang memberi fasilitas untuk memberdayakan anak, yakni sebagai berikut :
1) Mintalah anak untuk bertanya, serta gunakan pertanyaan dan ide anak untuk memulai pembelajaran.
2) Berilah kesempatan dan doronglah anak untuk mengemukakan ide-idenya secara bebas.
3) Tingkatkan kepemimpinan anak, kerja sama, penelusuran informasi, dan melakukan kegiatan/tindakan sebagai hasil dari proses belajarnya.
4) Pergunakan pemikiran, pengalaman dan minat anak sebagai alternatif pengambangan pembelajaran.
5) Doronglah anak untuk menggunakan sumber informasi lain (selain buku paket yang dianjurkan guru), yang berupa tulisan ilmiah atau bahkan tulisan para pakar di bidang sains.
6) Gunakan pertanyaan open-ended dan doronglah anak untuk mengelaborasi pertanyaan dan respon yang disampaikan.
7) Doronglah anak untuk mencari penyebab suatu kejadian, dan doronglah mereka untuk meramalkan konsekuensiya.
8) Doronglah anak untuk menguji ide mereka.
9) Mintalah pendapat/gagasan anak sebelum anak memaparkan idenya atau sebelum menjelaskan konsep/ide yang bersumber dari buku paket.
10) Doronglah anak untuk mengevaluasi konsep/ide yang dilontarkan oleh temannya.
11) Pergunakanlah belajar kelompok yang memungkinkan terjadinya proses saling menghargai dan bekerja sama.

C. Penutup
1. Kesimpulan
Salah satu peran guru adalah sebagai fasilitator. Yang dimaksud dengan Guru sebagai fasilitator adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki keterampilan-keterampilan untuk membantu peserta didik belajar secara mandiri.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru terkait dengan peranannya sebagai fasilitator adalah dengan menerapkan strategi Active Learning pada proses pembelajaran. Strategi active learning adalah suatu cara atau strategi belajar mengajar yang menuntut keaktifan dan partisioasi peserta didik seoptimal munngkin sehingga peserta didik mampu mengubah tingkah lakunya secara efektif dan efisien dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Tugas pokok seorang fasilitator atau peran guru pada saat tatap muka dikelas adalah menilai para siswa, merencanakan pembelajaran, mengimplementasikan rancangan pembelajaran, dan melaksanakan evaluasi proses pembelajaran.
Teknik-teknik yang sering dilaksanakan oleh seorang fasilitator dalam strategi Active Learning adalah meminta anggota kelompok untuk saling berbagi informasi, membagi para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil, menyediakan kesempatan bagi peserta yang lambat belajar untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, memberikan tugas khusus bagi peserta yang dominan sehingga ada ruang dan waktu untuk berpartisipasi bagi yang lain sambil menjaga agar setiap siswa terlibat aktif, dan menangani konflik dengan cara dan pendekatan yang sensitif

DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard I. Learning to Teach. New York: Mc Graw Hill, 2007.
Cahyo, Agus N. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar. Jogjakarta: Diva Press, 2013.
Hollingsworth, Pat dan Gina Lewis. Pembelajaran Aktif: Meningkatkan Keasyikan Kegiatan di Kelas. Terj. Jakarta: Indeks, 2008.
Isriani Hardini dan Dewi Puspita Sari, Strategi Pembelajaran Terpadu …, Hlm.11
Rohandi, R. Memberdayakan Anak Melalui Pendidikan Sains. Yogyakarta: Kanisius, 2009.
Roqib, Moh. dan Nurfuadi. Kepribadian Guru Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru yang Sehat di Masa Depan. Purwokerto: STAIN Press, 2011.
Silberman, Melvin M.,  dkk. Active learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif (Terj). Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2009.
Warsono dan Hariyanto. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013.
Zaini, Hisyam,  Bermawy Munthe, dan Sekar Ayu Aryani, Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008.
عبد الله ناصح علوان . ١٤١٨ه  ـ ١٩٩٧ م . تربية الأولاد الإسلام . بيروت: دار السلام.

Ironi Guru Honorer / Wiyata Bakti

Ironi Guru Honorer / Wiyata Bakti

Ironi Guru Honorer / Wiyata Bakti
guru honorer/wiyata bakti
Di televisi mungkin kita sudah sering menjumpai demontrasi yang dilakukan para guru honorer/wiyata bakti. Mereka menuntut agar mereka segera diangkat menjadi PNS ataupun menuntut untuk mendapatkan penghasilan yang lebih manusiawi.
Yah memang mereka selama ini tidak dimanusiawikan, para guru honorer/wiyata bakti melaksanakan tugas yang sama atau bahkan ada yang lebih berat dari para guru PNS tapi mereka digaji dengan upah yang sangat kecil. Sangat ironi.
 
Yang menjadi permasalahan pokok para “the real pahlawan tanpa tanda jasa” tersebut memang masalah gaji. Mereak mendapatkan gaji yang sangat jauh untuk sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi.
 
Bagi guru honorer/wiyata bakti perempuan mungkin tidak terlalu menjadi permasalahan, karena tentunya tanggung jawab perempuan dalam kehidupan ekonomi keluarga tidak besar.
 
Tapi bagi guru laki-laki yang wajib mencari nafkah tentu itu sangat menjadi masalah. Setidaknya ada 2 teman laki-lakiku yang awalnya menjadi guru honorer/wiyata bakti tapi kemudian memilih untuk tidak lagi melanjutkan pengabdiannya.
 
Pertama seorang sarjana pendidikan yang sudah mengajar kurang lebih 5 tahun, usianya 26 tahun. Dengan usia yang sudah matang tentunya dia ingin menikah, tapi melihat penghasilannya selama ini dia merasa tidaklah cukup untuk mencukupi kebutuhan nikah dan sesudah nikah. Makanya dia memilih untuk keluar dari sekolah.
 
Satu lagi temanku berhenti sebagai guru setelah 5 bulan menikah. Istrinya hamil, harus membeli kebutuhan bayi, membeli susu dan kebutuhan lainnya. Gajinya perbulan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dia memilih keluar dan terakhir aku lihat dia menjadi pedagang makanan keliling.

Lalu berapa sih gaji guru honorer/wiyata bakti?

Berbeda dengan gaji seorang guru PNS, gaji guru honorer/wiyata bakti berbeda antar satuan pendidikan. Tergantung dari jumlah siswa setiap sekolah. Sekolah yang memiliki siswa banyak tentunya akan mendapatkan pendapatan yang banyak, lalu alokasi untuk menggaji guru akan semakin besar. Namun bagi sekolah dengan jumlah siswa sedikit ya pendapatnnya juga semakin sedikit, alokasi uang untuk membayar guru juga sedikit.
 
Besar kecilnya gaji guru juga dipengaruhi oleh banyaknya jam mengajar dan lamanya dia mengajar disekolah tersebut.
 
Namun dari beberapa informasi yang saya peroleh, gaji para guru tersebut masih dibawah UMR. Untuk yang mengajar di tingkat dasar kira-kira 300-500 ribu perbulan. Untuk tingkat SMP, temanku yang kebetulan menjadi guru honorer mengatakan dia mendapat sekitar 800 ribu perbulan.

Cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhan?

Mungkin sebagian dari kita akan heran. Dengan gaji yang begitu kecil kok mereka masih bisa hidup. Memang saya sering mengajukan pertanyaan diatas kepada temanku yang menjadi guru honorer/wiyata bakti. Jawaban mereka adalah “jelas tidak cukup, tapi kami cukup-cukupkan”.
 
Aku bingung, bagaimana mereka mengatur neraca keuangannya? Prinsip ekonomi apa yang mereka gunakan? Salut untuk mereka

Kan ada berbagai macam tunjangan dan bantuan untuk guru honor/wiyata bakti?

Memang pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk para guru honorer/wiyata bakti. Tapi itu diberikan bukan perbulan, tapi per semester(6 bulan sekali), itupun dengan jumlah yang sangat sedikit.
 
Belum lagi persyaratan ini itu yang harus dipenuhi, tak jarang banyak pula yang tidak mendapat bantuan/tunjangan dari pemerintah karena sulitnya memenuhi persyaratan yang diberikan.

Lalu mengapa masih bertahan?

Setidaknya ada dua alasan yang membuat mereka para guru honorer tetap bertahan. Alasan pertama adalah mereka masih mempunyai asa dan harapan bahwa suatu saat dapat diangkat menjadi PNS. Alasan kedua adalah karena mereka merasa mengajar sudah menjadi passion, jadi walaupun dengan honor yang sedikit mereka tetap bertahan.
 
Tapi mungkin sebenarnya ada alasan lain, ya karena tidak ada pekerjaan lain yang mereka lakukan makanya mereka masih tetap rela mengajar. Tapi entahlah..

Harapan Mereka

Harapan terbesar semua guru honorer/wiyata bakti tentu saja agar pemerintah segera mengangkat mereka menjadi pegawai negeri sipil, mengingat mereka selama ini telah cukup lelah berjuang dan mengabdi.
Selain itu juga mereka berharap agar mereka mendapatkan gaji minimal sesuai dengan standar gaji di daerah masing-masing.
 
-RianNova-