Arsip Kategori: Islam

Jadi Netizen cerdas

Tiga Potensi dalam Diri Manusia ( Spiritualitas, Fisik, dan Intelektualitas )

Tiga Potensi dalam Diri Manusia ( Spiritualitas, Fisik, dan Intelektualitas ) – Alkisah, seorang bapak pergi mengendarai sepeda ke sebuah rumah sakit besar di kota. Ia berjalan tergopoh-gopoh sekali. Kaosnya basah oleh keringat.

“Saya mau dirawat dok!” Ujar bapak tadi begitu ia bertemu seorang pemuda berpakaian serba putih.

“Saya cuma perawat pak.” Koreksi pemuda berpakaian serba putih tadi.

“Terserah, pokoknya saya mau dirawat di UGD.” Bapak tadi bersikukuh sambil selingukan mencari ruangan bertuliskan UGD.

“Lho, bapak memang sakit apa?” Tanya si perawat bingung demi melihat penampilan si bapak yang segar bugar.

“Um, enggak tahu. Pokoknya saya mau dirawat di sini. Kalau perlu dioperasi!”

“lho koq?”

“Koq, lho? Mana ruang operasinya? Saya mau dioperasi saja !”

“???”

“Koq, bengong. Ya, sudah kalau begitu saya di-USG sajalah !

“Security !”.

Sifat manusia ibarat sebuah penyakit. Saat kita ingin melakukan sesuatu atas diri kita. Maka kita harus tahu “penyakit” apa yang kita derita. Sehingga kita benar-benar bisa tepat melakukan apa yang harus kita lakukan. Maka, kenalilah diri. Dan begitu kita mengenal diri kita, kita pun bisa mengenal Allah. Seperti ucapan Ali bin Abi Thalib r.a yang terkenal, “barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.”

Tiga dalam satu Kita (Manusia)

Setiap kita diciptakan dengan tiga potensi dalam dirinya : ruhiyah, jasdiyah, dan fikriyah (spiritualitas, fisik, dan intelektualitas). Ketiga potensi tadi merupakan modal dasar untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya, sebagaimana fitrah dirinya sebagai makhluk Allah SWT yang diberi banyak kesempurnaan.

Potensi ruhiyah berkaitan dengan unsur keyakinan, kehendak, dan kebebasan memilih. Potensi ini dikendalikan oleh segumpal darah diri kita : hati. Hakikatnya, hati adalah pemimpin dalam diri kita. Bahkan Rasulullah pun sudah menegaskan dalam sebuah haditsnya.

Dalam tubuh ini terdapat segumpal daging yang mengotori semua anggota tubuh lainnya. Jika ia baik, semuanya pun menjadi baik; dan jika ia rusak, semuanya pun macet dan malfungsi. Itulah yang disebut hati
(H.R. Bukhari dan Muslim).

Potensi Spiritualitas

Potensi ruhiyah ini harus kita rawat dan “beri makan” berupa ibadah yang bersifat mahdhah, seperti puasa, shalat, tilawah atau lainnya. Hakikatnya adalah, bagaimana kita bisa menjalin hubungan yang dekat dengan Allah. Hingga pada akhirnya; langkah kaki kita, gerak tangan kita, segala keputusan dan keinginan yang kita kehendaki, selalu berada dalam bimbingan Allah.

Potensi Fisik

Potensi kedua yang dimiliki setiap manusia adalah jasadiyah. Allah telah menganugerahkan kepada kita jasad yang bisa menunjukkan kepada kita sebuah eksistensi diri secara lahir. Dan potensi inilah yang benar-benar bisa kita lihat dari diri kita. Layaknya piring pinjaman, saat kita mengembalikannya maka haruslah dalam keadaan seperti saat kita meminjamnya.

Potensi Intelektualitas

Bila kita dilahirkan dalam keadaan jasad yang bagus maka sudah seharusnya kita tidak merusaknya. Jagalah jasad kita dengan makanan yang halal dan thayib, olah raga yang teratur dan perawatan lainnya yang telah Rasulullah ajarkan. Bahkan, karena terlalu pentingnya hal ini maka Rasulullah pun mewasiatkannya kepada kita melalui haditsnya :

Sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu….”
(H.R. Bukhari)

Penuhilah hak tubuh kita. Jangan sampai kita menjadi orang-orang dzalim yang mendzalimi diri kita sendiri. Bukankah Rasulullah pernah menegur dengan keras seorang sahabat yang hendak melakukan shaum sehari semalam tanpa terbuka. Karena Islam tidak pernah mengajarkan sesuatu yang bisa membuat dampak negatif bagi para pemeluknya. Bahkan, jika kita peka dengan beberapa penelitian yang dilakukan baik oleh ummat Islam dan non muslim tentang manfaat beberapa ibadah dan ajaran Islam, maka kita akan menemukan bahwa ibadah-ibadah itu bermanfaat bagi kesehatan tubuh kita. Ambillah contoh gerakan shalat, hadits tentang lalat yang masuk ke dalam gelas, dan banyak hal lainnya.

Dan potensi terakhir yang dimiliki manusia adalah fikriyah. Potensi inilah yang membedakan antara manusia dengan hewan. Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir. Tidak seperti hewan yang hanya mengandalkan instingnya. Mengenai potensi ini, kita sebagai generasi pendidik maka haruslah mengerti apa yang harus kita berikan untuk mengasah dan mengembangkan potensi ini : ilmu. Tentu saja, ilmu yang bermanfaatlah yang harus kita pelajari. Janganlah mempersempit memori otak kita untuk sesuatu yang tak berguna.

Dan ketiga potensi itu harus kita perhatikan secara seimbang satu sama lainnya. Tak boleh pikir kita melebihi ruh dan jasad kita. Atau sebaliknya. Lihatlah para koruptor yang terlalu mengasah kemampuan pikir mereka tanpa memperdulikan ruh mereka. Hingga tak peduli dengan sifat pekerjaannya. Adillah atas diri kita, sebagaimana Rasulullah mengajarkan kita : kuat spiritual, fisik dan intelektual.

Jadikan Diri Pribadi Sukses

Saat kita bisa menyeimbangkan potensi yang kita miliki, maka kita bisa disebut sebagai pribadi sukses. Untuk contoh nyata, umat Islam sudah punya contoh yang riil : Muhammad SAW. Semua sisi kehidupannya adalah sumber keteladanan. Beliau bukanlah pribadi terpecah (mutamazziqah atau schizfrenia) yang bisa bermaksiat pun beribadah. Beliau adalah pribadi yang utuh menyeluruh. Sebagaimana seharusnya kita mencontohnya.

“Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan ….”
(QS. AL-Baqarah : 208)

Begitupun dengan potensi kita. Kembangkan dan asahlah potensi kita secara menyeluruh. Jadikanlah diri kita sukses, pribadi sukses yang hakiki. Sukses dunia dan akhirat (aminin, dong !).
Untuk melihat karakteristik pribadi muslim yang bisa menjadi pembaharu atas segala keterpurukan yang ada, kita bisa melihat dalam Buku Pedoman Hidup kita :

Hai orang-orang yang berima, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan–Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan, seraya mereka tunduk (kepada Allah)
(QS. Al-Maidah 54-55)

Karakteristik pertama yang harus dimiliki adalah mencintai dan dicintai Allah. Salah satu tanda-tanda cinta adalah yang mencintai akan melakukan apa yang dicintainya sukai lakukanlah apa yang Allah sukai dan jauhilah apa yang dibenci. Dan percayalah, bahwa cinta Allah tidak akan bertepuk sebelah tangan.

Karakteristik kedua adalah bersikap lemah lembut kepada sesama muslim dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Yang perlu diperhatikan adalah, sikap keras hanyalah diberlakukan kepada orang-orang kafir yang nyata-nyata memerangi Islam. Bukan kepada setiap orang kafir. Islam adalah rahmatan lil alamin rahmat untuk seluruh alam semesta bukan hanya ummat Islam saja.

Karakteristik ketiga adalah berjihad atau bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah. Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh pula dalam menjauhi dan memerangi kemungkaran. Karena harga kinerja akan sebanding dengan usaha yang kita lakukan. Allah tidak akan pernah salah menghitung usaha kita atas perjuangan di jalan-Nya. Hanya saja, kita yang kadang salah hitung. Merasa sudah maksimal, padahal tak ada apa-apanya.

Karakteristik berikutnya adalah tidak takut celaan orang-orang yang mencela. Ingatlah bahwa celaan tidak sama dengan kritikan. Celaan hanya bersifat menjatuhkan tanpa ada sifat memberi kebaikan. Hadapilah celaan yang dilontarkan oleh musuh Islam dengan keyakinan yang teguh. Yakin bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kebaikan yang benar-benar bersumber kepada Al-Qur’an dan Assunnah.

Untuk apa takut jika kita yakin bahwa yang kita lakukan benar. Dan saat yang kita lakukan adalah kebenaran, maka yakinlah bahwa Allah bersama kita. Tak perlu ada yang di takuti jika kita bisa selalu bersama Maha Penguasa alam semesta, Raja dari setiap raja yang ada.

Dan karakteristik yang terakhir adalah beriman dan bertaqwa kepada Allah. Keimanan yang disertai dengan sebuah keyakinan tauhidullah yang kuat. Sehingga kita bisa pasrah tunduk kepada Allah SWT. Sebuah ketundukkan yang tak perlu banyak pertanyaan.

Sifat-sifat tadi-lah yang harusnya menjadi akhlaq seorang muslim. Ketika seorang muslim memiliki akhlaq yang demikian, maka ia bisa disebut sukses.

Binalah Diri Mulai Saat Ini

Banyak orang berkata bahwa, hal yang paling menentukan perubahan seseorang adalah orang itu sendiri. Saat kita memutuskan untuk mengubah diri menjadi pribadi sukses, maka hal yang tidak bisa kita hindari adalah pembinaan diri sendiri (tarbiyah dzatyah). Tarbiyah dzatiyah adalah sebuah proses penempaan yang dilakukan secara fardhi’ atau secara individu. Tarbiyah dzatiyah dilakukan karena ada beberapa penempaan diri yang tidak bisa dilakukan secara jama’i karena kebutuhan tiap orang yang berbeda. Dalam tarbiyah dzatiyah ini, setidaknya ada lima kunci rahasia yang harus kita miliki :

1. Al Fahmu Ad Daqiq (Pemahaman Rinci)

Tak mungkin perubahan terjadi dalam diri kita tanpa tahu dengan pasti apa dan bagaimana perubahan itu. Dan pemahaman yang dimaksud haruslah pemahaman yang bersumber kepada sumber wajib ummat Islam : Al-Qur’an dan As Sunnah. Selain itu juga, kita bisa berpedoman kepada sumber lain yang tetap mengacu kepada dua hal pokok tadi. Selain itu pemahaman di sini termasuk pula pemahaman diri dan pemahaman masalah yang harus dihadapi. Untuk itu, kita bisa mengadopsi cara dalam ilmu manajemen, yaitu analisis SWOT (Strengtheness, Weakness, Opportunities, dan Treatments).

Dalam analisis ini kita mencari kekuatan atau modal apa yang kita punya, kekurangan yang kita punya, hingga kita bisa mencari kesempatan yang mampu dilakukan dan jalan yang dapat digunakan. Dengan menggunakan analisis ini, diharapkan kita bisa memahami lebih dalam diri dan masalah di sekitar kita yang harus dihadapi.

2. Al-Iman Al-Amiq (Iman yang Mendalam)

Yakinkan kepada diri kita bahwa perubahan yang kita lakukan adalah semata-mata karena Allah. Jangan sampai semuanya jadi sia-sia karena tidak adanya keimanan yang mendalam dan utuh dalam setiap gerak-gerik kita. Karena energi iman adalag energi terbesar yang membuat seseorang mampu mengubah dirinya. Dengan kekuatan inilah Rasulullah dan para sahabat mampu mengubah Islam yang hanya berwilayah sempit menjadi berwilayah hampir sepertiga dunia. Energi inilah yang membuat seorang Ismail A.S. berani mengorbankan dirinya, pun Ibrahim A.S. yang rela mentyerahkan putranya kepada Maha Pemilik alam semesta. Subhanallah. Hingga seorang ulama besar menyebut keimanan mereka sebagai keimanan yang hidup. Keimanan yang tak hanya basah dilidah namun meresap basah ke dalam hati kita. Keimanan yang mengantarkan kita dari kegelapan menuju cahaya.

“Allah pelindung orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya …”
(Q.S. Al-Baqarah 257)

3. Al-Ittishal Al-Watsiq (Hubungan yang Kokoh)

Allahusshamad. Jadikanlah Allah sebagai tempat kita bergantung. Karena hanya Ia-lah yang bisa tetap kokoh saat semuanya roboh. Hanya Ia-lah yang bisa tetap terjaga saat semuanya terlelap. Dan hanya Ia-lah yang tetap ingat saat yang lainnya khilaf. Bangunlah hubungan yang kokoh tadi dengan interaksi yang kuat pula. Layaknya kita membangun hubungan yang kokoh dengan seseorang, maka interaksi menjadi modal pokok di sana.

“Maka ingatlah kepada-Ku, aku pun akan ingat kepadamu ….”
(QS. Al-Baqarah 152)

Sempatkanlah untuk bermunajat kepada Nya dalam sepertiga malam terakhir kita. Itulah waktu yang utama.

“Sesungguhnya, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa);
dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.”
(QS. Al-Muzzammil : 6)

4. Al-Hubb Al-Kamil (Cinta yang Sempurna)

Tumbuhkanlah cinta kepada Nya sebagai sumber ar’i energi perubahan kita. Ingatlah, cinta bisa meringankan perkara berat, mendekatkan yang jauh, menjadikan yang sulit terasa lebih mudah. Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa syarat diterima ibadah tidak hanya sekedar ittiba syar’I dan ikhlas tapi juga harus dilandasi rasa cinta yang murni.

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku,
Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”…
( QS. Ali Imran 31)

Adakah yang lebih berharga dari pada cinta Maha Pemilik cinta ?

5. Al -Amal Al – Mutawashil (Amal yang Berkesinambungan)

Kesuksesan tidak akan bisa tahan lama jika tidak ada kesinambung-an. Perubahan akan terus berubah, teruslah memperbaiki diri kita dari hari ke hari. Tak ada kata henti dalam proses kesuksesan diri menuju perubahan yang lebih baik. Selalu ada yang lebih baik dari kita, selalu ada yang kurang dari setiap kita yang harus terus kita perbaiki.
Namun, pembinaan diri tidak akan bisa berjalan dengan baik tanpa adanya pembinaan secara berjama’ah. Karena serigala akan lebih mudah memangsa domba yang sendiri. Sertailah pembinaan diri kita dengan bergabung dalam jamaah yang bisa membangun perubahan menuju sukses yang hakiki. Bergabunglah bersama mereka yang bisa menjadi cermin evaluator diri kita.

Sosok Muhammad SAW, Kaulah Idolaku

Sosok Muhammad SAW, Kaulah Idolaku

Sosok Muhammad SAW, Kaulah Idolaku – Rasanya tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak marah jika orang yang dicintainya dihina atau diolok-olok oleh orang lain. Bahkan kalau mampu, ia akan membalas.

Jadi, kalau dipikir benar juga reaksi umat Islam di seluruh dunia dalam kasus karikatur yang diakui oleh pembuat dan penerbitnya sebagai sosok Nabi Muhammad saw. Betapa tidak, beliau adalah sosok yang (wajib) diagungkan dan dicintai lebih dari makhluk-Nya yang lain oleh setiap diri yang mengaku muslim. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ”Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kalian tidaklah beriman, hingga kalian mencintai aku lebih dari orang tua dan anak kalian” (HR Imam Bukhari).

Sahabat Umar ra juga pernah ditanya oleh Rasulullah saw: “Apakah kamu cinta kepada Rasulullah wahai Umar?” Beliau menjawab: “Betul wahai Rasulullah saw, tapi tidak melebihi kecintaan saya kepada diri saya sendiri.” Rasulullah berkata: “Tidak, wahai Umar. Kalau kamu cinta kepada Rasulullah, kecintaan itu harus melebihi dari kecintaan kamu kepada diri kamu sendiri.” Sejenak Umar diam, lalu berkata: “Saya mencintai engkau wahai Rasulullah lebih dari kecintaan saya pada diri saya sendiri.” Rasulullah kemudian berkata: “Itulah makna kecintaan kepada Rasulullah wahai Umar” (Hadits).

Jangankan umat muslim, salah seorang profesor yang non-muslim di Jerman sempat berkomentar sambil geleng-geleng kepala yang memperlihatkan rasa gusarnya: “Das ist wirklich eine schwere Beleidigung” (Itu benar-benar suatu penghinaan yang berat).

manfaat mengenal dan mencintai Allah

Ternyata, rasa kesal dan marah kepada orang yang menghina Rasulullah saw itu merupakan manifestasi adab (kewajiban) seorang muslim untuk membenci dan memusuhi orang yang beliau benci. Sebaliknya, kita juga wajib mencintai sesuatu atau orang yang beliau cintai, misalnya para sahabat beliau.

Kita perlu mengenal lebih jauh adab (kewajiban) apa saja bagi seorang muslim sebagai wujud rasa cinta yang mendalam kepada beliau. Mengapa? Supaya kita termasuk golongan yang benar-benar mengikuti beliau. Beliau bersabda “Kaum Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, sedangkan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata “Yaitu yang berada di atas sebagaimana yang aku dan sahabatku lalui hari ini.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim).

Cinta pada Rasulullah juga berarti menjadikan beliau panutan atau idola. Sejarah menunjukkan, ada tiga golongan manusia yang umumnya dijadikan panutan atau idola yaitu para raja/pemimpin atau tokoh masyarakat atau tokoh populer, lalu para filsuf atau pemikir, serta para nabi dan rasul. Di antara ketiganya, para nabi as. khususnya Nabi Muhammad saw jelas jauh lebih layak untuk dijadikan suri teladan (uswatun hasanah). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab 21).

Namun menokohkan beliau bukan sekedar mengidolakan dan memajang kaligrafi namanya pada dinding rumah, tapi juga mencontoh, mengikuti jejak, dan meniru langkahnya, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Jika beliau mengucapkan basmallah sebelum berbuat sesuatu dan hamdallah setelah selesai mengerjakannya, maka kita ikuti langkahnya.

Jika beliau menjaga kebersihan diri dan lingkungannya, maka kita tiru jejaknya. Bahkan lebih dari itu, sunnah atau ajarannya kita hidupkan, syariat atau perintahnya kita syiarkan, dakwah atau seruannya kita teruskan, dan wasiat atau pesannya kita laksanakan. Tidaklah terhitung wasiat beliau, di antaranya menyantuni anak yatim, memberi makan orang miskin, mengkonsumsi makanan yang halaalan thoyyiban (bukan sekedar bergizi, tapi bahan dan cara memperolehnya juga halal).

Kita wajib mengimani apa-apa yang beliau kabarkan, baik tentang agama, urusan dunia, maupun perkara ghaib di dunia dan di akhirat. Misalnya, kita wajib percaya dan taat bahwa beliau telah menjalankan Isra’ dan Mi’raj dan membawa perintah shalat fardlu lima waktu. Kita juga percaya dan taat bahwa beliau pernah bercakap-cakap dengan bangsa jin. Beliau memerintahkan agar manusia tidak tersesat hingga minta bantuan jin karena termasuk perbuatan syirik (menyekutukan Allah). Bahkan, kita juga wajib percaya dan taat bahwa Al-Qur’an itu bukan hasil karangan beliau tapi wahyu dari Allah SWT baik secara langsung dan melalui malaikat Jibril.

Maukah Anda turut didoakan oleh malaikat? Maka muliakan dan agungkan nama beliau dengan mengucapkan shalawat (doa agar kesejahteraan dilimpahkan pada beliau) dan salam (doa agar beliau terhindar dari bahaya dan fitnah). Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku, maka malaikat juga mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya dilakukan, meski sedikit atau banyak” (HR Imam Ibnu Majah dan Imam Thabrani).

Oleh sebab itu, setiap doa akan lebih mungkin dikabulkan jika sebelumnya didahului membaca hamdallah (pujian untuk Allah SWT), serta shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Gelar Shalallaahu ‘alaihi wasallam di samping sebagai shalawat dan salam, juga untuk membedakan panggilan beliau dengan orang lain, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)” (QS. An Nuur: 63)

manfaat mengenal dan mencintai Allah

Manfaat Mengenal dan Mencintai Allah

Manfaat Mengenal dan Mencintai Allah – Ternyata jikalau manusia mau dan mampu mengenal Alloh, banyak sekali hasil manfaat yang kita dapat, diantaranya:

1. Keimanan dan Ketakwaan Meningkat

Iman adalah sebuah keyakinan, bukan hanya percaya tetapi juga yakin sepenuhnya bahwa Alloh itu benar-benar ada. Iman itu tidak akan lengkap jika tidak diiringi taqwa karena mereka ibarat “dua sejoli”.Ada sebuah haist yang mengisahkan riwayat Umar bin Khattab ketika ditanya oleh Rasul tentang taqwa, dan beliau menjawab: “Taqwa adalah seperti ketika dihadapan kita dihamparkan pecahan kaca, lalu kita harus berjalan di atasnya. Maka kita akan berjalan perlahan dan hati-hati agar tidak kena pecahannya”. Maksudnya adalah jika kita yakin Alloh itu ada dan mengawasi kita maka kita akan berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalani hidup. Bagaimana cara merasakan peningkatan Iman da Taqwa? Mari kita renungkan ayat di bawah ini:

“Tak satupun binatang melata di bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya. Dia mengetahui tempat berdiam binatang-binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfudz)”. (An-Nuur:45)

2. Kebebasan dan ketenangan

Setelah kita kenal dengan Allah, rasa bebas dan tenang akan kita peroleh. Bebas dari ketergantungan dan keterikatan kepada selain Allah. Dalam bentuk apapun. Bebas terhadap perbudakan nafsu, bebas terhadap perbudakan akal yang sering mengajarkan pada keingkaran kepada Alloh, dan bebas pada segala hal yang menjerat diri kita untuk merdeka!

manfaat mengenal dan mencintai Allah

3. Barakah dan Kehidupan yang Baik

Dengan mengenal Alloh maka kita akan menegetahui apa yang Alloh kehendaki dari kita, sehingga kita akan mendapatkan keberkahan dan kehidupan yang baik.

“Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dengan apa yang mereka telah kerjakan”. (An-Nahl:97)

4. Keridhaan Alloh dan Surga

Jika kita mengenal dan menaati Alloh, menjalankan kehidupan sesuai dengan aturan-Nya, maka Insya Alloh kita akan mendapatkan Ridha dan surga-Nya. Sudah bahagia dan hidup mulia di dunia, mati masuk surga, abadi selamanya! Enaknya….. 

Makna Cinta Kepada Allah

Cinta adalah yang sangat dikenal tidak adayang tidak mengetahuinya tetapi pemahaman dan pendapat orang tentangnya berbeda. Pemahaman cinta disini akan dikembalikan kepada Islam mengartikan kata cinta itu.

Cinta berarti suka atau senang terhadap sesuatu dan akan berganti dengan kesedihan (pada orang yang mencintai) bila sesuatu tidak ada padanya. Mencintai Allah berarti menjadikan Allah SWT sesuatu yang akan dicintai yang akan mendatangkan ketentraman bila kita mengingat-Nya dan mendatangkan kebahagiaan bila ia senantiasa hadir dalam kehidupan. Buah dari mencintai-Nya adalah ibadah yan semakin dirasakan kenikmatan serta nilainya.

Perbedaan Cinta Karena Iman dan Cinta Karena Syahwat

Cinta imani adalah cinta yang motivasinya iman kepada Allah. Landasannya adalah fitrah manusia sebagai hamba yang wajib beribadah kepada-Nya. Lawan dari cinta imani adalah cinta syahwati. Motif cinta syahwati adalah mencintai berdasarkan selera pribadi dimana selera setiap orang berbeda. Cinta ini diidentikan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Dalam Islam setiap keinginan untuk memiliki sesuatu dan sesuatu itu dicntainya dikatan sebagai cinta syahwati seperti keinginan untuk terkenal, berkuasa dan banyak harta. Cinta imani yuang dominan akan dapat mengendalikan cinta Syahwati.

Empat hal berikut yang dapat ditempuh oleh kita dalam rangka meraih derajat mencintai Alloh (dari uraian Ibnul Qayyim Al-jauziyyah)

  1. Membaca Al-Qur’an dengan khusu penuh penghayatan
  2. Memperbanyak ibadah sunah
  3. Dzikir dalam segala tingkah laku
  4. Harus menjauhi semua sebab yang menghalangi antara kalbu dari Allah

Tiga pintu yang harus dijauhi agar ikatan hati dengan Allah tetap terjaga antara lain:

  1. Pintu syubhat yang selalu mewariskan keragu-raguan tentang agama Allah
  2. Pintu syahwat yang selalu mewariskan tradisi mendahulukan hawa nafsu dari pada taat dan ridhha-Nya
  3. Pintu amarah yang selalu mewariskan permusuhan di antara makhluk Allah.
Molekul air berbentuk segi enam yang sangat berkilauan sangat cantik.

Tuhan Sebagai Sumber Motivasi

Tuhan Sebagai Sumber Motivasi –  Ican baru aja jadian sama cewek sekelasnya yang rambutnya dikepang dua. la begitu bersemangat ke sekolah karena di sekolah ia bisa bertemu dengan sang pacar. Pagi-pagi ia sudah berangkat ke sekolah dengan semangat. Bokap nyokap­ya juga bingung kenapa si Ican jadi semangat ’45 berangkat ke sekolah. Setelah tiga bulan, tiba-tiba pacarnya bilang, “Gue bosen sama Ioe, mulai hari ini kita putus yah..,” akhirnya Ican malas sekolah dan nggak semangat lagi ke sekolah karena sang pacar yang selama ini membuat ia termotivasi sekolah. Berarti, apakah pacar bisa menjadi sumber motivasi yang abadi?

Ichi punya sahabat baru di sekolah sehingga ia begitu semangat ke sekolah karena ingin bertemu dengan sahabatnya. Mereka begitu dekat dan kemana aja pasti mereka berduaan ­kaya’ amplop sama perangko. Pulang berdua, ngeceng di Mall berdua. Mereka saling bercerita apa pun yang mereka alami dan mereka janji akan saling menjaga rahasia. Suatu ketika mereka bertengkar hebat dan memutuskan untuk. tidak bersahabat lagi. Akhirnya semua rahasia Ichi menjadi cerita gosip di sekolahnya. Ichi jadi malas ke sekolah karena sahabatnya telah mengkhianatinya. Kesimpulannya, apakah sahabat bisa menimbulkan motivasi yang abadi?

Ongki semangat sekolah karena orang tua. Pokoknva sungguh-sungguh untuk membuat orang tuanya bangga. Ia belajar abis-abisan untuk menyenangkan orang tuanya. Suatu ketika orang tuanya kecelakaan dan meninggal dunia. Ia langsung kehilangan semangat untuk ke sekolah karena ia berpikir, “Buat apa belajar, ortuku sudah meninggal”. Berarti, apakah orang tua bisa menjadi sumber motivasi yang abadi?

Kalau kamu menjadikan pacar sebagai sumber motivasi kamu, maka suatu saat nanti pacarmu akan hilang dan bisa meninggalkanmu. Kalau kamu menjadikan sahabat sebagai sumber motivasi dalam hidupmu maka suatu saat sahabatmu akan meninggal dan bisa jadi mengkhianatimu. Kalau kamu menjadikan orang tuamu sebagai sumber motivasi dalam hidupmu maka orang tuamu pun suatu saat akan meninggal dunia. Jadi siapa dong sumber motivasi yang ggak akan pernah hilang? Dialah Allah SWT Sang Maha Abadi yang tak kan pernah hilang dan senantiasa ada untukmu.

Taukah kamu, matahari, bulan, bintang, dan galaksi adalah ciptaan Allah SWT yang luar biasa. Kebesaran, ­keagungan, dan kesempurnaan terlihat begitu nyata. Tuhan Sang Pencipta itu pula yang menciptakan manusia, dengan melihat keagungan dan kebesaran ciptaannya, tentu sang Maha Pencipta nggak ingin ciptaan lainnya yaitu manusia menjadi hina. Ia menciptakan manusia dengan sempurna. Ia ingin agar manusia yang menjadi wakil di dunia itu juga menjadi mulia.

Dalam diri setiap manusia, udah ada sifat ingin selalu indah, dan ingin selalu mulia. Inilah hakikat jiwa yang ­diberikan oleh Yang Maha Kuasa, yang menjadi modal dasar keberhasilan, maka pergunakanlah energi tersebut-suara-suara hati itu.

Bercita-citalah besar dan berpikirlah maju, kamu gak diciptakan untuk menjadi orang kalah, namun kamu diciptakan sebagai wakil Allah di muka bumi untuk memberikan kemajuan dan kesejahteraan. Setiap langkah yang kamu buat di permukaan bumi ini, haruslah merupakan langkah-langkah kemenangan.

Ingat, Allah SWT berada sedekat dengan urat nadi kita. Ia gak ingin kamu jatuh, namun Ia ingin kamu berhasil. Ia senantiasa mendampingimu, dengan suara-suara hati yang merupakan bisikan dari Allah SWT.

Kalo aja kamu gagal, sadarlah, itu artinya masih banyak ilmu Allah yang belum kamu ketahui. Pelajari kesalahan tersebut, cari jawaban mengapa kamu gagal. Ambil jurus kedua dan bangkitlah kembali. Allah menunggu kemenanganmu, karena engkau diciptakan Dia Yang Mahaagung.

Kalo aja manusia menyadari bahwa dirinya memiliki sifat-sifat yang diturunkan oleh Allah tersebut, maka akan muncul kekuatan sekaligus motivasi yang dahsyat. Dengan keberanian dan kekuatan yang berlandaskan pada iman tersebut, maka akan tercipta kesejatian diri (eksistensi) yang bernilai tinggi.

Doktrin diri kamu dengan mengingat kebesaran Allah, isi sanubari dengan menyebut “Maha Besar Allah” setiap waktu. Kekuatan energi akan mengalir dan membakar semangatmu. Tetapkan kemauan kamu. Bedakan antara kemauan ‘biasa’ dengan kemauan yang ‘membara’. Rahasia sebuah keberhasilan adalah terus-menerus mengingat bahwa kamu lebih baik daripada yang kamu pikirkan. Orang yang berhasil bukan orang super.

Keberhasilan nggak memerlukan kecerdasan yang luar biasa. Pun keberhasilan nggak disebabkan oleh keberuntungan. Namun sesungguhnya Ia ditentukan oleh besar nggaknya keyakinan kamu dalam meraih kemenangan. Kesuksesan juga ditentukan oleh ukuran serta cita-cita kamu.

Bercita-citalah setinggi-tingginya, ingatlah Allah yang Maha Besar, yang telah meciptakan hati kamu dengan sedemikian sempurnanya. Ia gak ingin kamu merangkak-rangkak. Ia ingin energi dan kreativitas kamu mengalir mencari jalan untuk mencapai cita-citamu. Dorong terus energi itu, doktrin diri kamu dengan ucapan “Allah Akbar” setiap hari, sehingga kamu sungguh terobsesi untuk berhasil. Ikuti suara hati Sang Mahabesar itu. 

Kamu ingin tahu siapa diri kamu?

Baru-baru ini ditemukan bahwa semua makhluk hidup memiliki alphabet basa DNA yang sama, yaitu A (Adenine), C *Cytosine), G (Guanine) dan T (Thymine). Dalam struktur helix ganda DNA, basa A berpasangan dengan T, sedang C berdampingan dengan G. Dalam tubuh manusia diperkirkan terdapat 100 trilyun sel! Dan dalam setiap inti sel terdapat 23 pasang kromosom yang disusun oleh tiga milyar huruf alphabet tadi. Jika DNA dalam setiap tubuh manusia direntangkan, maka panjangnya akan melebihi 600 kali jarak bumi dan matahari!

Cobalah untuk membayangkan sejenak, betapa dahsyat dan sempurnanya manusia ciptaan Allah itu yaitu diri kamu sendiri. Semua ini diciptakan Allah gak lain karena manusia adalah makhluk kepercayaan-Nya, wakil Allah yang memiliki fungsi “Rahmatan lil ‘Alamin”.

Jangan sekali-sekali meremehkan diri kamu, karena kamu telah cukup memiliki modal. Bahkan kalo seluruh komputer ditumpuk di muka bumi ini hingga mencapai bulan pun, nggak akan mampu menandingi kamu selaku manusia ciptaan Allah. Jangan sia-siakan kepercayaan Allah ini.

Kamu dirancang dan diciptakan untuk meraih kemenangan. Apabila kamu mendengar suara azan memanggil-manggil suara hatimu, maka terimalah hal tersebut dengan baik, itu adalah motivasi langsung dari Allah SWT.

Kamu akan mendengar dorongan pemberi semangat ini lima kali dalam sehari, dan oleh karenanya, yakinlah bahwa kekuatan iman itulah yang menyebabkan seorang manusia selalu taqarrub atau mendekat kepada Allah. Senantiasalah berdoa: “Wahai Tuhan yang menguasai jiwa, mantapkan jiwa ini dalam agama-Mu”.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk , seperti pohon yang buruk, tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun, dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Ibrahim (14): 24-27

Bukti-bukti adanya Allah

Pertama, organ tubuh kita berjalan tanpa perintah yang menunjukan ada mekanisme yang menakjubkan dalam tubuh kita, pencernaan, hormon, peredaran.

Kedua, keteraturan alam tidak mungkin terjadi begitu saja, kecuali ada yang mengaturnya, yaitu dzat yang menciptakannya.

Ketiga, manusia memiliki kecendrungan fitrah untuk mencari dzat yang memiliki kekuatan melebihi dirinya.

Langkah-langkah mengenal Allah

Untuk mengenal Alloh lebih jauh siapa Pencipta kita, maka Alloh SWT telah memfasilitasi kita dengan berbagai hal dan cara, diantaranya:

1. Akal

Apakah yang menjadikan manusia itu makhluk yang sempurna diantara sekian banyak ciptaan-Nya? Karena manusia diberi bekal akal untuk berfikir dan dan merenung (tentunya berfikir dan merenungkan hal yang semestinya). Itulah keistimewaan manusia.

Tetapi tidak semua orang sadar kalua bukti itu sudah nyata. Fenomena-fenomena sudah ada dalam Al-Qur’an sudah sejak zaman dahulu, yaitu:

– Melihat tanda-tanda kekuasaan Alloh (Ayat kauniyah)

Yaitu tanda-tanda adanya Alloh yang dapat dilihat di alam semesta. Meskipun dalam Al-Qur’an dan Hadist banyak terdapat ayat tentang ala, itu bisa dijadikan bahan penelitian bagi kita, dan pastinya akan menambah keimanan kepada Alloh SWT

Contohnya Al-Qur’an surat Al-anbiyaa:30 dan Al-maidah: 47 tentang awal mula teori Big Bang sebelum ditemukan oleh fisikiawan asal rusia, George Garnow. Hal lainnya adalah Hadist Rasululloh tentang lalat, bunyinya:

“Apabila seekor lalalt hinggap di bejana salah seorang di antara kamu hendaklah membenamkan lalat itu lalu membuangnya. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat kuman dan di sayap yang satunya lagi ada antikuman”.

– Merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an (Ayat qouliyah)

Yaitu tanda-tanda yang disebutkan atau tertulis dalam kitabullah yakni Al-Qur’an dan Al-Hadist. “Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran”. (Shad:29)

Namun sejatinya , untuk memahami ayat kauliyah ini harus dibekali iman yang kokoh dan ketundukkan akan adanya “penguasa” atas akal dan fikiran kita. Karena dengan sekuat apapun dalili kauliyah yang didengungkan, jika akal kita masih belum tunduk  dan iman masih belum teguh di dada, sering kali yang muncul adalah keingkaran, kemunafikan, dan kefasikan.

2. Para Rasul

Manusia juga bisa mengenal Alloh melalui kisah rasul-rasul yang diutus-Nya untuk menyebarkan risalah-Nya. Rasul-rasul yang merupakan pembawa rsalah langsung dari Alloh, sekaligus memberikan teladan bagi setiap ummat. Dengan mengenal dan mencintai Rasul-Nya, kita pun sedang  “belajar” untuk menyintai dan mengenal Alloh SWT.

3. Asma dan Sifat Alloh

Ketika kita menyintai sesuatu, hal itu akan menumbuhkan perasaan untuk bisa dekat, untuk selalu isa menyukai apa yang disukai, untuk senantiasa menjadi orang yang paling mengerti, mengenal, menyintai, bahkan menyontoh segala perilaku. Maka begitu pun dengan asma dan sifat Alloh yang dipenuhi keagungan. Ketika kita berkrar dengan sebuah kecintaan pada-Nya, sedianya kita lebih mengenal dan menyintai asma dan sifat Alloh untuk senantiasa dekat dengan-Nya.

Penjelasan Mengapa Islam Adalah Agama yang Sempurna

Penjelasan Mengapa Islam Adalah Agama yang Sempurna

1. Islam adalah agama yang lengkap. Lengkap disini adalah maksudnya Islam mampu memecahkan semua permasalahan dari manusia. Jadi segala permasalahan manusia sebenarnya telah mampu dipecahkan dan diatur dalam Islam.

Permasalahan manusia itu apa saja , Yang pertama adalah permasalahan manusia dengan tuhannya. Islam telah mengatur bagaimana hubungan manusia dengan tuhannya baik itu keimanannya (Akidah) dan juga ibadahnya. Islam telah memberikan solusi atas kebenaran dan kebutuhan fitrah manusia yang menyembah akan adanya satu Tuhan yaitu bahwasanya Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan juga islam memberikan tatacara bagaimana menyembahnya, dan kewajiban untuk menyembahnya.

Permasalahan manusia yang kedua adalah masalah manusia dengan dirinya sendiri. Yaitu bagaimana manusia mengatur yang menyangkut dengan dirinya sendiri, seperti bagaimana manusia itu makan, berpakaian, akhlak atau berperilaku dll. Islam telah mengaturnya dan memberikan solusi agar tidak menimbulkan permasalahan mengenai bab ini. Sebagaimana islam telah mengatur bagaimana mendapatkan makan yang halal, jenis makanan yang halal dan bahkan bagaimana tata cara ketika makan. Dan juga islam juga mengatur bagaimana tata cara berpakaian dan juga bertingkah laku.

Yang ketiga dari permasalahan manusia adalah masalah manusia satu dengan orang lain. Atau sering disebut bermualah, islam telah mengatur bagaimana tata cara berhubungan yang menyangkut orang lain. Seperti jual beli, berpolitik, bermasyarakat, waris, bernegara dll segala permasalahan dengan orang lain. Disamping itu islam juga mengatur bagaiamana manusia berhubungan dengan alam semesta ini.

2. Islam adalah agama yang luas. Maksud dari kata luas disini adalah Islam memecahkan permasalahan masa yang dulu – sekarang – dan yang akan datang. Jadi Islam sebagaimana ketika diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada jaman itu adalah telah mampu memecahkan segala permasalahannya yang akan datang. Jadi cukuplah Islam menjadi segala pedoman dalam permasalahan saat ini. Ketika ada yang mengatakan Islam itu hanya sesuai dengan atau untuk permasalahan yang dahulu dan tidak relevan dengan permasalahan saat ini, atau hukum Islam hanya dapat diterapkan pada jaman dulu sedangkan jaman sekarang ini tidak relevan maka itu hanyalah suatu kebodohan. Baik itu kebodohan karena ketidak pengetahuannya bagaimana seharusnya mampu mengambil hukum islam terhadap permasalahan itu ataupun kebodohan karena ketidak mauan dalam melaksankannya atau dikalahkan oleh hawa nafsunya.

3. Hukum Islam bersifat amali. Hukum Islam ini bukan hanya bersifat teori yang tidak mampu dilakasanakan secara teknis oleh manusia.Ya hukum Islam ini dapat dilaksanakan oleh manusia bukan hanya dalam tataran teori saja tetepi bersifat amali atau bisa dilaksanakan. Yang menjadi pertanyaannya maukah kita melaksanakan ataupun rela atau tidak untuk diatur oleh hukum islam

Islam adalah bersaksi tidak ada illah selain Alloh, Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadan dan haji bagi yang mampu melaksanakannya.

Karakteristik Islam

Rabbaniyah

Islam menjadikan tujuan akhirnya adalah ridha Alloh, dan bahwa sumber konsep Islam adalah wahyu Alloh, bukan buatan manusia

Insaniyah

Islam memberikan ruang luas kepada manusia untuk berijtihad dan berikhtikaf. Selain itu, Islam mengajarkan prinsip persamaan hukum diantara manusia.

Syamil

Islam bersifat menyeluruh, suatu sistem yang tidak terhenti hanya pada stu aspek atau masa tertentu saja. Islam bersifat komprehensif, segala aturan kehidupan telah diatur. Islam adalah aqidah, ibadah, kenegaraan, toleransi, mu’amalah, dan lain-lain.

Wasathaniyah

Bahwa aturan-aturan Islam selalu berada di pertengahan dalam segala hal. Tidak meninggalkan dunia seperti orang timur dan tidak meninggalkan akhirat seperti orang Barat. Islam sangat memberikan porsi yang seimbang antara akal, jasad, dan ruhiyyah. Antara dunia dan akhirat, antara individu dan jama’ah. Islam mengajarkan kemudahan bagi setiap hamba-Nya.

Baca juga : Kalimat Indah Bernama Syahadat