Arsip Kategori: Panduan

Analisis Landscape

Penjelasan Metode Analisis Landscape dan Contohnya

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk lahan (landform), proses-proses yang menyebabkan adanya pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi. Termasuk yang terdapat di dasar laut ataupun yang ebrada di samudera. Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan.

Bentuklahan atau landform adalah permukaan lahan yang mempunyai relief khas karena pengaruh kuat dari struktur kulit bumi dan akibat proses alam yang bekerja pada batuan di dalam ruang tertentu, masing-masing bentuk lahan berbeda dalam struktur, proses geomorfologi, relief/topografi dan materi penyusunnya. Studi tentang bentuklahan ini disebut geomorfologi.

Istilah bentang lahan berasal dari kata landscape (Inggris) atau landscape (Belanda) atau landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Bentuk lahan atau landform adalah bentukan alam dipermukaan bumi khususnya didaratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu. Bentanglahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform). Bentuk lahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang baik bentuk maupun ukurannya bervariasi / berbeda-beda, dengan aliran air sungai di sela-selanya.

Tinjauan

Bentang lahan merupakan gabungan dari bentuk lahan (landform). Bentuklahan merupakan kenampakan tunggal, seperti sebuah bukit atau sebuah lembah sungai. Kombinasi dari kenampakan tersebut membentuk suatu bentanglahan, seperti daerah perbukitan yang bervariasi bentuk dan ukurannya dengan aliran air sungai di selaselanya.

Bentang lahan ialah sebagian ruang permukaan bumi yang terdiri atas sistem-sistem, yang dibentuk oleh interaksi dan interdependensi antara bentuklahan, batuan, bahan pelapukan batuan, tanah, air, udara, tetumbuhan, hewan, laut tepi pantai, energi dan manusia dengan segala aktivitasnya yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan.

Analisis Landscape

Bentanglahan merupakan bentangan permukaan bumi dengan seluruh fenomenanya, yang mencakup: bentuklahan, tanah, vegetasi, dan atribut-atribut lain yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Pada aspek fisik geomorfologi dapat memberikan informasi melalui kajian dengan pendekatan geomorfologi. Pendekatan geomorfologi digunakan dalam melakakukan analisis dan klasifikasi medan (terrain analysis and classification) dengan beberapa parameter seperti yang dikemukakan oleh Zuidam, dimana pada intinya dalam analisis dan klasifikasi medan dapat dikemukakan sebagai berikut: Relief/morfologi meliputi bagian lereng, ketinggian, kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng, bentuk lembah, dan aspek relief yang lain. Yang kedua adalah Proses geomorfologi meliputi erosi dan tipe erosi, kecepatan dan daerah yang terpengaruh; banjir yang meliputi tipe, frekuensi, durasi, kedalaman, dan daerah yang terpengaruh; gerakan massa yang meliputi tipe, kecepatan, daerah yang terpengaruh. Yang ketiga adalah tipe material batuan meliputi batuan induk, material permukaan, kedalaman pelapukan. Yang keempat adalah vegetasi dan penggunaan lahan meliputi tipe vegetasi, kepadatan, tipe penggunaan lahan, periode, durasi, dan konservasi. Yang kelima adalah air tanah mencakup kelembaban permukaan, kedalaman air tanah, fluktuasi air tanah, dan kualitas air tanah. Yang terakhir adalah tanah mencakup kedalaman, kandungan humus, tekstur, drainase, dan daerah berbatu.

Geografi fisik mempelajari bentang lahan (landscape), yaitu bagian ruang dari permukaan bumi yang dibentuk oleh adanya interaksi dan interdependensi bentuk lahan. Perhatian utama geografi fisik adalah lapisan hidup (life layer) dari lingkungan fisik, yaitu zona tipis dari daratan dan lautan yang di dalamnya terdapat sebagian besar fenomena kehidupan.

Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Dalam biologi perikanan pengukuran morfologi (analisis morfometri) digunakan untuk mengukur ciri-ciri khusus dan hubungan variasi dalam suatu taksonomi suatu stok populasi ikan.

Tanah-tanah volkan biasanya ditemukan di wilayah volkan, terbentuk dari bahan-bahan volkan, yaitu abu volkan, batuan basaltik, batuan andesitik, serta horison-horison tanahnya memenuhi persyaratan sifat andik sesuai dengan “Taksonomi Tanah” . Andisol merupakan grup tanah yang menunjuk kepada tanah yang berkembang dari bahan-bahan volkanik. Nama internasionalnya secara umum yaitu Andosol (FAO, Peta Tanah Dunia) atau Andisol (Taksonomi Tanah, USDA).

Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Setiap ikan mempunyai ukuran yang berbeda-beda, tergantung pada umur, jenis kelamin, dan keadaan lingkungan hidupnya.

Variasi morfometri suatu populasi pada kondisi geografi yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan struktur genetik dan kondisi lingkungan. Oleh karena itu sebaran dan variasi morfometri yang muncul merupakan

Berdasarkan uraian tentang pengertian geografi fisik seperti di atas,maka dapat disebutkan bahwa geomorfologi merupakan unsur geografi fisik dengan penekanan nya pada bentuk lahan beserta karakteristiknya. Oleh karena itu geomorfologi memiliki keterkaitan yang erat.Dalam studi geomorfologi dapat memberikan informasi yang berharga bagi geografi fisik.

Peranan geomorfologi adalah sebagai berikut: a.Geomorfologi elementer, yang memanfaatkan bentuk lahan untuk identifikasi batuan kerucut gunung api dan lain sebagainya, b.geomorfologi suplemen: memanfaatkan kejadian atau gejala geomorfologi untuk memecahkan masalah geologi misalnya erosi selektif untuk mengetahui jenis batuan dan struktur. c. Geomorfologi komplementer: memanfaatkan gejala geomorfologi untuk melacak fenomena geologi yang tidak jelas seperti penyimpangan arah aliransungai untuk melacak sesar. d. Geomorfologi independen: menerapkan geomorfologi untuk studi geologi pada daerah yang miskin singkapan , dengan kajian geomorfologi yang mendalam dapatmemberikan informasi yang bermanfaat.

Faktor geomorfologi yang terdiri atas bentuk lahan, proses, material penyusun, dan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembagian tanah dari suatu daerah dan tingkat perkembangan tanah. Factor pembentuk tanah seperti batuan induk,iklim, relief, vegetasi, waktu, dan organisme sebagian merupakan aspek geomorfologi.satuan bentuk lahan yang menjadi sasaran utama dalam geomorfologi banyak digunakan untuk satuan pemetaan tanah. Jadi ada hubungan logis antara bentuk lahan dengan satuan peta tanah.

Lanskap dapat diartikan sebagai: (a)    suatu gabungan yang dari kenampakan-kenampakan bentuk lahan. (b)   Sebagai suatu ruang dipermukaan bumi yang terdiri dari sistem-sistem yang dibentuk oleh interaksi dan interdependesiantara bentuk lahan , batuan, tanah, air,udara, tetumbuhan, hewan, tepi pantai,energi dan manusia yang secarakeseluruhan membentuk satu kesatuan. (c)    Permukaan bumi dengan seluruh fenomenanya, yang mencakup bentuk lahan, tanah, vegetasi, dan atribut-atribut yang dipengaruhi oleh manusia.

Klasifikasikan bentuk lahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan asal proses,

yaitu:

1. Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera.

2. Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.

3. Bentuklahan asal fluvial (F), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.

4. Bentuklahan asal proses solusional (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan ini.

5. Bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.

6. Bentuklahan asal proses eolin (E), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal.

7. Bentuklahan asal proses marine (M), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini adalah: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan estuari.

8. Bentuklahan asal glasial (G), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.

9. Bentuklahan asal organik (O), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang.

10. Bentuklahan asal antropogenik (A), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, dan pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik.

Prosedur Kerja

  1. Landform yang akan di analisis didatangi oleh para praktikan.
  2. Landform yang di analisis ditentukan aspek morfometrinya, yaitu : kemiringan bentuk lahan, kelas lereng dan tinggi tempatnya.
  3. Kemudian ditentukan aspek morfografi umumnya yaitu : group bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan.
  4. Landform yang di analisis ditentukan aspek morfogenesis umumnya, yaitu ditentukannya proses yang sedan dan sudah terjadi. Yang terdiri dari proses pasif, aktif dan dinamis.
  5. Kajian morfokronologi umumnya menentukan umur suatu bentuk lahan , torehan dan pola drainase.
  6. Aspek tanah dan tumbuh – tumbuhan dilihat untuk menentukan proses pembentukan tanah yang dominan, factor pembentuk tanah yang menguassainya dan pemberiaan nama.

Pembahasan

Pada praktikum Analisis Landscape ini praktikan mempelajari tentang menganalisis morfometri, morfografi, morfogenesis dan morfokronologi. Dan praktikan pun mempelajari berbagai macam tutupan lahan. Dari pengertiannya Landscape (inggris) adalah  bentanglahan, atau landscap  (Belanda) dan landschaft (Jerman), yang secara umum berarti pemandangan. Arti pemandangan mengandung 2 (dua) aspek, yaitu: (a) aspek visual dan (b) aspek estetika pada suatu lingkungan tertentu. Dan berdasarkan pengertian bentanglahan tersebut, maka dapat diketahui bahwa terdapat 8 (delapan) unsur penyusun bentanglahan, yaitu: udara, batuan, tanah, air, bentuklahan, flora, fauna, dan manusia, dengan segala aktivitasnya. Kedelapan unsur bentanglahan tersebut merupakan faktor-faktor penentu terbentuknya bentanglahan, yang terdiri atas: faktor geomorfik (G), litologik (L), edafik (E), klimatik (K), hidrologik (H), oseanik (O), biotik (B), dan faktor antropogenik (A). Dengan demikian, berdasarkan faktor-faktor pembentuknya, bentanglahan (Ls) dapat dirumuskan :

Ls = f (G, L, E, K, H, O, B, A)

Keterangan :

Ls : bentanglahan

G : geomorfik

L : litologik

E : edafik

K : klimatik

H : hidrologik

O : oseanik

B : biotic

A : antropogenik

Geomorfologi adalah ilmu atau seni yang mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera. Pada aspek fisik geomorfologi dapat memberikan informasi melalui kajian dengan pendekatan geomorfologi. Pendekatan geomorfologi digunakan dalam melakakukan analisis dan klasifikasi medan (terrain analysis and classification) dengan beberapa parameter seperti, dimana pada intinya dalam analisis dan klasifikasi medan dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Relief/morfologi meliputi bagian lereng, ketinggian, kemiringan lereng, panjang lereng, bentuk lereng, bentuk lembah, dan aspek relief yang lain.
  2. Proses geomorfologi meliputi erosi dan tipe erosi, kecepatan dan daerah yang terpengaruh; banjir yang meliputi tipe, frekuensi, durasi, kedalaman, dan daerah yang terpengaruh; gerakan massa yang meliputi tipe, kecepatan, daerah yang terpengaruh.
  3. Tipe material batuan meliputi batuan induk, material permukaan, kedalaman pelapukan.
  4. Vegetasi dan penggunaan lahan meliputi tipe vegetasi, kepadatan, tipe penggunaan lahan, periode, durasi, dan konservasi.
  5. Air tanah mencakup kelembaban permukaan, kedalaman air tanah, fluktuasi air tanah, dan kualitas air tanah.
  6. Tanah mencakup kedalaman, kandungan humus, tekstur, drainase, dan daerah berbatu.

Kajian utama dari geomorfologi untuk bentang lahan adalah  morfologi (bentuk lahan) yang terdiri dari, morfografi ( uraian dari bentuk lahan), morfometri (ukuran bentuk lahan), morfogenesis ( proses pembentukan bentuk lahan), morfokronologi ( umur bentuk lahan) dan morfoarangemen ( tata ruang alamiah bentuk lahan). Kajian morfometri umumnya adalah  untuk  menentukan kemiringan bentuk lahan, bentuk wilayah, kelas lereng, dan tinggi tempat. Sedangkan morfografi adalah menentukan Group  bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan. Kajian morfogenesis adalah menentukan proses yang sedang dan sudah terjadi, kedua proses ini terdiri dari pasif, aktif dan dinamis. Sedangkan kajian morfokronologi umumnya menentukan umur, torehan dam pola drainase suatu bentuk lahan. Faktor  geomorfologi  yang  terdiri  atas  bentuk lahan, proses, material penyusun, dan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembagian tanah dari suatu daerah dan tingkat perkembangan tanah. Faktor pembentuk tanah seperti batuan induk, iklim, relief, vegetasi, waktu, dan organism sebagian merupakan aspek geomorfologi. Satuan bentuk lahan yang menjadi sasaran utama dalam geomorfologi banyak digunakan untuk satuan pemetaan tanah. Jadi ada hubungan logis antara bentuk lahan dengan satuan peta tanah.

Bentuk lahan atau Iandform adalah bentukan alam dipermukaan bumi khususnya didaratan yang terjadi karena proses pembentukan tertentu dan melalui serangkaian evolusi tertentu pula , menjelaskan bahwa bentuk lahan merupakan suatu kenampakan medan yang terbentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual dengan jalur tertentu yang terjadi dimanapun bentuk lahan tersebut terdapat. Berdasarkan pengertian bentuk lahan tersebut, jelas bahwa bentuk lahan yang berada dipermukaan bumi sangat bervariasi sehingga, dapat menampilkan berbagai macam potensi seperti potensi keindahan, potensi energi, dan lain sebagainya.

Klasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi 10 (sepuluh) macam bentuklahan asal proses, yaitu:

  1. Volkanik (V)

Bentuklahan asal proses volkanik (V), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas gunung api. Contoh bentuklahan ini antara lain: kerucut gunungapi, madan lava, kawah, dan kaldera.

  1. Struktural (S)

Bentuklahan asal proses struktural (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat struktur geologis. Pegunungan lipatan, pegunungan patahan, perbukitan, dan kubah, merupakan contoh-contoh untuk bentuklahan asal struktural.

  1. Fluvial (F)

Bentuklahan asal fluvial (F), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas sungai. Dataran banjir, rawa belakang, teras sungai, dan tanggul alam merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan ini.

  1. solusional (S)

Bentuklahan asal proses solusional (S), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses pelarutan pada batuan yang mudah larut, seperti batu gamping dan dolomite, karst menara, karst kerucut, doline, uvala, polye, goa karst, dan logva, merupakan contoh-contoh bentuklahan ini.

  1. Denudasional (D)

Bentuklahan asal proses denudasional (D), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses degradasi seperti longsor dan erosi. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: bukit sisa, lembah sungai, peneplain, dan lahan rusak.

  1. Eolin (E)

Bentuklahan asal proses eolin (E), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses angin. Contoh satuan bentuklahan ini antara lain: gumuk pasir barchan, parallel, parabolik, bintang, lidah, dan transversal.

  1. Marine (M)

Bentuklahan asal proses marine (M), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses laut oleh tenaga gelombang, arus, dan pasang-surut. Contoh satuan bentuklahan ini adalah: gisik pantai (beach), bura (spit), tombolo, laguna, dan beting gisik (beach ridge). Karena kebanyakan sungai dapat dikatakan bermuara ke laut, maka seringkali terjadi bentuklahan yang terjadi akibat kombinasi proses fluvial dan proses marine. Kombinasi ini disebut proses fluvio-marine. Contoh-contoh satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses fluvio marine ini antara lain delta dan estuari.

  1. Glasial (G)

Bentuklahan asal glasial (G), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat proses gerakan es (gletser). Contoh satuan bentuklahan ini antara lain lembah menggantung dan morine.

  1. Organik (O)

Bentuklahan asal organik (O), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat pengaruh kuat aktivitas organisme (flora dan fauna). Contoh satuan bentuklahan ini adalah mangrove dan terumbu karang.

  1. Antropogenik (A)

Bentuklahan asal antropogenik (A), merupakan kelompok besar satuan bentuklahan yang terjadi akibat aktivitas manusia. Waduk, kota, dan pelabuhan, merupakan contoh-contoh satuan bentuklahan hasil proses antropogenik.

Dari 10 klasifikasi bentuklahan (landform) tersebut kita dapat membedakan antara satu lahan dengan lahan yang lainnya. Identifikasi Satuan BentukLahan Marin. Pengaruh proses marin berlangsung intensif pada daerah pantai pesisir, khususnya pada garis pantai di wilayah pesisir tersebut, bahkan ada diantaranya yang sampai puluhan kilometer masuk ke pedalaman. Selain itu, berbagai proses lain seperti proses tektonik pada masa lalu, erupsi gunung api, perubahan muka air laut, dan lain – lain sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi medan pantai dan pesisir beserta karakteristik lainnya. Adakalanya proses marin di kawasan ini berkombinasi dengan proses angin (aeolin). Medan yang terbentuk dari kombinasi dus proses ini bersifat spesifik. Berbagai proses berlangsung di daerah pantai dan pesisir, yang tenaganya berasal dari ombak, arus, pasang surut, tenaga tektonik, menurunnya permukaan air laut maupun lainnya. Proses ini berpengaruh terhadap medan dan karakteristikya, serta mempengaruhi perkembangan wilayah pantai maupun pesisir tersebut. Secara garis besar perkembangan pantai atau pesisir secara alami dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Perkembangan daratan

  1. Penyusutan daratan.

Daerah pantai merupakan daerah yang masih terkena pengaruh dari aktifitas marin. Berdasarkan morfologinya, daerah pantai dibedakan menjadi empat kelompok,yaitu:

2. Daerah Pantai Bertebing Terjal

Pantai bertebing terjal di daerah tropik basah pada umumnya menunjukkan kenampakan yang mirip dengan lereng dan lembah pengikisandi daerah pedalaman. Aktifitas pasang-surut dan gelombang mengikis bagian tebing ini sehingga membentuk bekas-bekas abrasi seperti: tebing (cliff), tebing bergantung (notch), rataan gelombang (platform), dan bentuk lainnya.

3. Daerah Pantai Bergisik

Endapan pasir yang berada di daerah pantai pada umumnya memiliki lereng landai. Kebanyakan pasirnya berasal dari daerah pedalaman yang tersangkut oleh aliran sungai, kemudian terbawa arus laut sepanjang pantai, dan selanjutnya dihempas gelombang ke darat.

4. Daerah Pantai Berawa Payau

Rawa payau juga mencirikan daerah pesisir yang tumbuh. Proses sedimentasi merupakan penyebab bertambahnya daratan pada medan ini. Material penyusun umumnya berbutir halus dan medan ini berkembang pada lokasi yang gelombangnya kecil atau terhalang, pada pantai yang relative dangkal.

5. Terumbu Karang

Terumbu karang terbentuk oleh aktifitas binatang karang dan jasad renik lainnya.

Pada praktikum analisis landscape ini didapatkan sebuah hasil analisis berbentuk table yang terdiri dari table pengamatan morfometri, table pengamatan morfografi, table pengamtan morfogenesis dan table pengamtan morfokronologi. Dari 4 tabel pengamtan tersebut hasilnya didapatkan dari lokasi yang sama yaitu di Rempoh Baturaden, Jembatan Linggamas, Kaliori, Buntu, Gelempang Pasir dan Pantai Sodong. Dan berikut adalah paparan hasil dari keempat table pengamatan tersebut :

Contoh hasil pengamatan morfografi

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Pola aliran           : Dendritik

Pada pengamatan lokasi pertama yang bertempat dirempoah ini memiliki landform grup vulkanik, seub-grup kerucut vulak dan sub-sub grupnya lereng bawah. Pola aliran sungai dendritik memiliki bentuk yang tidak teratur, berkembang pada daerah dengan curah hujan tinggi serta tidak ada kenampakan struktur geologi yang dominan & komposisi batuan sama dan bentuk pola aliran ini menyerupai percabangan pohon.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Pola aliran           : Paralel

Pada lokasi kedua bertempat di Jembatan Linggamas, Desa Petir dimana memiliki bntuk lahan teras sungai, teras bawah dan alluvial pada sub-sub grupnya. Pola aliran sungai pada lokasi kedua ini adalah parallel yaitu : Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Pola aliran           : Dendritik

Pada lokasi ketiga yang bertempat di kaliori memiliki landform grup tektonik dan structural, sub-grup landform lipatan dan sub-sub gruopnya adalah pinggung antiklin. Sedangkan pola aliran sungai yang terdapat di daerah kaliori ini adalah dendritik, sama dengan lokasi pertama yaitu memiliki bentuk yang tidak teratur, berkembang pada daerah dengan curah hujan tinggi serta tidak ada kenampakan struktur geologi yang dominan & komposisi batuan sama dan bentuk pola aliran ini menyerupai percabangan pohon.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Pola aliran           : Paralel

Pada lokasi keempat bertempat di buntu, di daerah mbuntu memiliki landform aluvail, dataran banter dan rawa belakang. Dimana pola aliran yang terdapat pada lokasi tersebut adalah parallel  yaitu : Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Pola aliran           : Anular

Pada lokasi pengamatan kelima berlokasi di Glempang Pasir disini memilik landform grup tektonik structural, sub-grup brute, sub-sub grup bukit sisa. Dan pola aliran yang terdapat pada lokasi tersebut adalah anular, Pola aliran ini hampir sama dengan pola aliran radial, tetapi pada pola aliran anular aliran yang menyebar tadi kemudian masuk ke sungai subsekuen, pola ini terbentuk pada daerah dengan struktur kubah/dome.

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Pola aliran           : Paralel

Lokasi yang terakhir adalah pantai sodong, dimana memiliki landform grup marine, sub-grup pesisir dan sub-sub grupnya adalah punggung dan cekungan pasir. Pada daerah pantai sodong ini memiliki pola aliran sungai parallel yaitu, Pola aliran ini memiliki arah yang saling sejajar, terkendali oleh proses dan struktur geologi, pola ini terbentuk pada daerah yang kemiringan lerengnya dapat menghambat kerja angin atau faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembengkokan alur.

Pengamatan Morfometri

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Tinggi tempat    : 283 mdpl

Kemiringa            : 10%

Bentuk Wilayah                : Bergelombang

Kelas lereng       : 8 – 15%

Batuan                  : Qvis, Lava Andesit dan Berongga

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada pengamatan lokasi pertama ini memiliki bentuk wilayah bergelombang, dengan kelas kelerengan 8 -15%  ini merupakan daerah yang landai, dan memiliki daerah yang tidak tertoreh.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Tinggi tempat    : 62 mdpl

Kemiringan         : 50%

Bentuk Wilayah: Agak datar

Kelas lereng       : 1 – 3%

Batuan                  : Q.A Aluvial (krikil pasir)

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada pengamatan kedua yang berlokasi di jembatan linggamas memiliki kemiringan 50% dengan kelas kelerengan 1 – 3 % yang artinya daerah tersebut datar. Dan tidak tertoreh.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Tinggi tempat    : 119 mdpl

Kemiringan         : 35%

Bentuk Wilayah: Berbentuk kecil

Kelas lereng       : 15 – 30%

Batuan                  : TPT (formasi tapak) Batu pasir berbutir kasar

Tingkat Toreh    : Agak Tertoreh

Pada lokasi ketiga ini bertempat di Kaliori dimana ketinggannya adaah 119 mdpl dengan tingkat kemiringannya 35 % dan kelas kelerengannya 15 – 30 % yang artinya daerah tersebut curam.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Tinggi tempat    : 32 mdpl

Kemiringan         : 20%

Bentuk Wilayah: Cekung

Kelas lereng       : < 1

Batuan                  : Endapan Undak (krikil Pasir)

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada lokasi keempat berlokasi dibuntu dengan ketinggian tempat 32 mdpl, kemiringan 20% dan bentuk wilayah yang cekung. Pad alokasi ini meiliki kelas kelerengan yang < 1 yang artinyadatar atau hamper datar.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Tinggi tempat    : 30 mdpl

Kemiringan         : 40%

Bentuk Wilayah: Bukit

Kelas lereng       : 15 – 30%

Batuan                  :Perselingan tuff gelas, Tuf Kristal

Tingkat Toreh    : Agak tertoreh

Pada lokasi kelima ini berlokasi di Gelempang pasir dimana ketinggiannya 30 mdpl dan memiliki kelas kelerengan 15 – 30 % yang artinya curam dan agak tertoreh.

  1. Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Tinggi tempat    : 0 mdpl

Kemiringan         : 5%

Bentuk Wilayah: Datar

Kelas lereng       : 1 – 3%

Batuan                  :Endapan Undak

Tingkat Toreh    : Tidak Tertoreh

Pada lokasi terakhir pengamatan morfometri bertempat di Pantai Sodong diman ketingganya netral karena berada atau hamper setara dengan permukaan laut. Dengan kelas kelerengan 1 – 3 % yang artinya datar dan tidak tertoreh.

Pengamatan Morfogenesis

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Proses

–              Pasif                      : pelapukan : sudah lanjut

–              Aktif                      : Tektonik : Endogen

–              Dinamis                : –

Pada lokasi pertama ini proses yang pasif adalah pelapukan yang sudah lanjut, dan proses yang aktif adalah endogen. endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar) tetapi akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit, atau pegunungan.

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Erosi : Kuat, Pengendapan : ada

Pada lokasi kedua ini prosesnya hanyalah dinamis, dimana terjadi erosi yang kuat dan adanya pengendapan. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi.

Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Pergerakan massa : Aktif

Pada lokasi ketiga yang bertempat di kaliori ini proses yang terjadi dinamis, dimana adanya pergerakan masa yang aktif.

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Pengendapan : Aktif

Pada lokasi keempat yang bertempat di Buntu Jawa Tengah ini, memiliki proses yang dinamis dimana pengendapannya aktif.

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Proses

–              Pasif                      : Pelapukan : massa

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : Erosi : Sedikit, Pengendapan : Tidak ada

pada lokasi kelima yang bertempat di gelempang pasir ini memiliki proses pasif dan dinamis, dimana proses pasif itu adalah pelapukan massanya dan proses dinamisnya adalah terjadinya sedikit erosi. Erosi adalah peristiwa pengikisan padatan (sedimen, tanah, batuan, dan partikel lainnya) akibat transportasi angin, air atau es, karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain di bawah pengaruh gravitasi.

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Proses

–              Pasif                      : –

–              Aktif                      : –

–              Dinamis                : –

Dan pada okais terakhir yaitu Pantai Sodong, tidak memiliki proses sama sekali. Maupun proses aktif , pasif dan dinamis.

Pengamatan Morfokronologi

Lokasi : Rempoah, Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah

Koordinat            : 7021’49’’S – 109014’19’’E

Landform

–              Grup                      : Vulkanik

–              Sub-grup             : Kerucut Vulkan

–              Sub-sub grup     : Lereng Bawah

Perkiran umur   : Quarter, Jaman Plistosen

Tingkat torehan                : Tidak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis

–              Proses pendogen: Kuartil Berlanjut

–              Nama                    : Andosol coklat dan Regosol coklat

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Pemukiman, Kebun campur

Lokasi : Jembatan Linggamas, Desa Petir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7028’19’’S – 109019’20’’E

Landform

–              Grup                      : Teras Sungai

–              Sub-grup             : Teras Bawah

–              Sub-sub grup     : Aluvial

Perkiran umur   : Quarter Holosen

Tingkat torehan                : Tidak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           :  160 cm

–              Proses pendogen: Lanjut

–              Nama                    : Endapan sungai dan Inceptisol Basah

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Sawah, Kebun campur

  1. Lokasi : Kaliori, Jawa Tengah

Koordinat            : 7029’23’’S – 109018’36’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik dan Struktural

–              Sub-grup             : Landform Lipatan

–              Sub-sub grup     : Punggung Antiklin

Perkiran umur   : Tersier Kliose

Tingkat torehan                : Agak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis (500 cm)

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Ultisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         :  Campuran

Lokasi : Buntu, Jawa Tengah

Koordinat            : 7o35’40’’S – 109016’72’’E

Landform

–              Grup                      : Aluvial

–              Sub-grup             : Dataran Banjir

–              Sub-sub grup     : Rawa Belakang

Perkiran umur   : Quarter Plitosen

Tingkat torehan                : Tidak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Cukup Tebal

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Inceptisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         :  Sawah

Lokasi : Gelempang Pasir, Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’48’’S – 109010’30’’E

Landform

–              Grup                      : Tektonik Struktural

–              Sub-grup             : Brute

–              Sub-sub grup     : Bukit Sisa

Perkiran umur   : Miosen awal

Tingkat torehan                : Agak tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis

–              Proses pendogen: Tidak adak

–              Nama                    : Entisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Sawah dan Perbukitan

Lokasi : Pantai Sodong, Cilacap Jawa Tengah

Koordinat            : 7041’29’’S – 109010’30”E

Landform

–              Grup                      : Marine

–              Sub-grup             : Pesisir

–              Sub-sub grup     : Punggung dan Cekungan Pesisir

Perkiran umur   : Pleistosen

Tingkat torehan                : Tidak Tertoreh

Tanah

–              Ketebalan           : Tipis, Batuan induk

–              Proses pendogen: Tidak ada

–              Nama                    : Entisol

Vegetasi

–              Alami     : –

–              Dibudidaya         : Campuran

Dan itulah hasil dari pengamatan praktikum analisis landscape yang menyangkut morfografi, morfometri, morfogenesis dan morfokronologi. Dimana pada setiap pengamatan memiliki 6 lokasi yang berbeda –beda.

Kesimpulan

  1. Geomorfologi adalah ilmu atau seni yang mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera.
  2. Kajian morfometri umumnya adalah untuk  menentukan kemiringan bentuk lahan, bentuk wilayah, kelas lereng, dan tinggi tempat.
  3. morfografi adalah menentukan group bentuk lahan, bahan induk dan sifat atau pemeriaan bentuk lahan.
  4. Kajian morfogenesis adalah menentukan proses yang sedang dan sudah terjadi, kedua proses ini terdiri dari pasif, aktif dan dinamis. Sedangkan kajian.
  5. morfokronologi umumnya menentukan umur, torehan dam pola drainase suatu bentuk lahan.

Dikutip dari berbagai sumber :

Miller, M.,. dan 1961 Modigliani, F. Analyze Landscape on Netherland, Journal of Geomorphological. Netherland.

Misra, R.K dan Easton, M.D.L. 1999. A note on the number of morphometric characters used in fish stock delineation studies employing a MANOVA. 711 Bay St., Apt 1115, Toronto, Ont., Canada M5G 2J8, International EcoGen, 2015 McLallen Court, North Vancouver, BC, Canada V7P 3H6. Journal Fisheries Research 42 (1999) 191—194.

Turan, C., 1998. A note on the examination of morphometric differentiation among the rocks: The truss system. Turk. J. Zool., 23: 259-263.

Soil survey Staff, 1998. Kunci Taxonomi tanah. Edisi Kedua Bahasa Indonesia 1999. Pusat Penelititan Tanah dan Agroklimat. Badan Pengembangan Dan Penelitian Pertanian. IPB. Bogor.

Surastopo. dan Hadisumarno, Bintarto, R. 1982. Metode Analisis Geografi. LP3ES. Jakarta.

Suprapto Dibyosaputro, 1988. Bahaya Kerentanan Banjir Daerah Antara Kutoarjo – Prembun, Jawa Tengah (Suatu Pendekatan Geomorfologi). Fakultas Geografi, UGM. Yogyakarta

Sunarto dan Hartono, A. (1999). Perkembangan bentuk lahan wilayah jawa bagian timur: Rineka Cipta

Verstappen, H.Th, 1983. Applied Geomorphology. Geomorphological Surveys for Environmental Development. New York, El sevier.

Vink, A.P.A., 1983, in Davidson, D.A. (Ed)., Landscape Ecology and Land Use, Longman, London

Widiyanto, L. Santosa, M. Luthfi. 2006. Pengenalan Bentanglahan Jawa Bagian Tengah. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta

Zuidam, R.A. & Zuidam Cancelado, F.I.,1979and 1985, Terrain Analysis and Classification Using Areal Photographs, A Geomorphologycal Approach, Netherland, Enschede: ITC.

Contoh Analisis Usaha Budidaya Lele

Contoh Analisis Usaha Budidaya Lele

Komponen komponen yang menjadi perhitungan

#1. Biaya

#2. Biaya tetap

Asumsi :

5 kolam terpal (5 x 10 m2) untuk 2 tahun @ Rp. 750.000

Masa pemeliharaan lele 3 bulan                                                             Rp.93.750 +

Total biaya tetap                                                                                    Rp.93.750

  1. Biaya variabel
  • Lele 57 @ Rp. 200,- kepadatan 150 ekor / m2

(150 ekor x 10 m2 x 5 kolam = 7.500)                                                                            Rp.   1.500.000

  • Pakan lele E1 30 kg @ Rp. 11.500      345.000
  • Pellet biasa 600 kg @ Rp. 6.500    3.900.000
  • Tenaga kerja @ Rp. 30.000 / HKO selama 3 bulan    2.700.000
  • Resiko kematian / angka kematian 10 %       150.000 +

Total biaya variabel                                                                                                            Rp.   8.595.000

 

Total Biaya (TC)         = FC + VC

= Rp. 93.750 + Rp. 8.595.000

= Rp. 8.688.750

#3. Pendapatan dan keuntungan

  • Pendapatan = P x Q

= Rp. 18.000 x 750

= Rp. 3.500.000

  • Keuntungan = TR – TC

= Rp. 13.500.000 – Rp. 8.688.750

= Rp. 4.811.250

#4. BEP produksi

BEP Produksi = Total biaya / Harga

= Rp. 8.688.750 / Rp. 18.000

= 482,70 kg

  • 750 kg lele yang dihasilkan = untung / usaha ini layak secara BEP Produksi

Kesimpulannya, hasil tersebut menandakan bahwa pada saat produksi mencapai 482,70 kg usaha tersebut tidak untung dan atau tidak rugi.

#5. BEP harga

BEP harga  = Total biaya /  Produksi

= Rp. 8.688.750 /  750

= Rp. 11.585

  • Hasil tersebut menandakan bahwa pada saat harga mencapai Rp. 11.585 usaha tesebut tidak untung dan atau tidak rugi.
  • Harga jual lele Rp. 18.000 / kg (untung) dan layak.

#6. R/C ratio

R/C ratio  = Total pendapatan /  Total biaya

= Rp. 13.500.000 /  Rp. 8.688.750

= 1,55

R/C ratio usaha ini >1 maka usaha ini layak, karena setiap mengeluarkan Rp. 1,00 akan mendapat pengembalian sebesar Rp. 1,55.

#7. ROI

ROI  = (Keuntungan usaha lele / Modal usaha lele) x 100%

= Rp. 4.811.250 / Rp. 8.688.750 x 100%

= 55,37

Nilai ROI sebesar 55,37% menggambarkan bahwa dari Rp. 100 akan memperoleh keuntungan Rp. 53,71 (layak)

#8. Produktivitas tenaga kerja

Produktivitas tenaga kerja =      r/ HKO

= Rp. 13.500.000 /  90 hari

= Rp. 150.000

Upah tersebut lebih besar dari upah per hari yang telah dianggarkan, mak usaha tersebut layak dijalankan dilihat dari aspek produktivitas tenaga kerja.

Produksi ASAM LEMAK OMEGA-3

10 Langkah Produksi Asam Lemak Omega-3 Mikroorganisme

Asam-asam lemak alami yang termasuk kelompok asam lemak omega-3 adalah asam linolenat (C18:3), EPA atau Eicosapentanoic acid (C20:5) dan DHA atau Docosaheksanoic acid (C22:6), sedangkan yang termasuk kelompok asam lemak omega-6 adalah asam linoleat (C18:2) dan asam arachidonat (C20:4). Asam lemak ini dinamakan omega-3 dan biasanya disimbolkan dengan n-3 (Wang et al. 1990).

Asam lemak omega-3 merupakan zat gizi yang sangat berperan dalam aktivitas biologi di bidang kesehatan. Asam lemak tidak jenuh linoleat berperan pada per-kembangan otak anak yang sedang tumbuh, meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah berbagi jenis penyakit degeneratif (Crawford, 1987). Asam lemak omega-3 termasuk asam lemak esensial karena manusia seperti mamalia lain tidak bisa membuat atau memproduksinya sendiri (Simopoulos, 2013).

Asam lemak omega-3 selain dapat diproduksi dari ikan, mikroorganisme seperti kapang juga dapat memproduksi asam lemak omega-3. Rhizopus oligosporus merupakan kapang yang secara tradisional digunakan dalam pembuatan tempe kedelai, kapang ini mampu memproduksi asam lemak omega-3 rantai panjang, khususnya linolenat (Kristifikosa, 1991).

Produksi ASAM LEMAK OMEGA-3

Menurut penelitian Affandi dan Yuniati (2012) dengan menggunakan substrat ampas sawit dan penambaan sukrosa dalam proses fermentasi Rhizoporus oligoporus dapat meningkatkan kandungan asam lemak linolenat. Penambahan sukrosa ini berfungsi untuk meningkatkan sumber karbon pada substrat.

Langkah-langkah produksi asam lemak omega-3 dengan menggunakan Rhizopus oligoporus menurut Affandi dan Yuniati (2012) adalah:

1. Rhizopus oligosporus ditumbuhkan pada media PDA (Potato Dextrose Agar) kemudian diinkubasi 2 hari pada suhu 300C. Kemudian inokulum diinokulasikan pada 10 mL aquades.

3. Ampas sawit 15,25 gr ditambahkan sukrosa 9,75 gr dalam labu Erlenmeyer, ditambah NaCl fisiologis 150 ml.

4. Substrat disterilkan pada suhu 1210 C selama 15 menit. Kemudian didinginkan.

5. Suspensi spora 0,5 % dari substrat ditumbuhkan pada substrat pada suhu ruang.

6. Inkubasi dilakukan selama 7 hari pada suhu kamar dan dilakukan pengocokkan dengan meletakkan substrat fermentasi pada shaker.

7. Lakukan uji komposisi asam lemak dianalisa menggunakan Kromatografi Gas. Sebelumnya hasil fermentasi dimasukkan ke dalam cawan dan dimasukkan ke tanur (muffle) suhu 600-6500 C sehingga diperoleh abu.

8. Kemudian abu ditimbang dan diekstraksi dengan pelarut khloroform dan metanol dengan perbandingan 2:1 (v/v).

9. Campuram tersebut dikocok selama 5 menit dan disimpan selama satu malam. Lapisan atas metanol dibuang dan lapisan organik yang mengandung lemak diekstraksi kembali dengan kloroform dan dikeringkan dengan gas nitrogen dan ekstrak tersebut dianalisis asam lemaknya.

10. Ekstrak lemak dan substrat dikonversikan menjadi asam lemaknya dan dimetilisasi dengan BF3/metanol dan komposisi asam lemak ditentukan dengan GC-MS (BIP5995A integrator 3392, Hawlet Packard, Avondale, PA). Dimensi kolom yang digunakan adalah 20×0,2 mm i.d dan dielusi dengan gas helium.

Suhu kolom selama 3 menit pertama diatur pada 200O C. Standar asam lemak diperoleh dari Alltecch Associate, Inc., Deerfield, IL).

Menurut Affandi dan Yuniati (2012)  penambahan sukrosa pada substrat dapat meningkatkan kandungan asam lemak menjadi 31,67%.

Asam lemak palmitat (C:16)  meningkat menjadi 44,73%, asam lemak stearat (C:18) meningkat 15,48%, asam lemak oleat (18:1) meningkat 23,85%, asam lemak linoleat (18:2) meningkat 51,81% dan asam lemak linolenat (C18:3) meningkat 103,12%. Jadi penambahan sumber karbon akan meningkat produksi asam lemak tidak jenuh.

Perawatan benih persemaian

Cara Budidaya Tanaman Melon Lengkap

Cara Budidaya Tanaman Melon – Tahapan budidaya melon yaitu sebagai berikut: Persiapan Lahan, Pengapuran serta Pemberian pupuk dasar.Baik berikut estimasi jika kita budidaya melon seluas 0,3 hektar. Untuk mengenal lebih dekat dengan tanaman melon bisa membaca artikel berjudul Mengenal Tanaman Melon, Klasifikasi dan Morfologinya.

#1. Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan dalam budidaya melon misalnya seluas 0.3 hektar. Bahan dan alat yang harus dipersiapkan dalam pengapuran yaitu cangkul, parit, kapur dolomit. Persiapan lahan melon yaitu meliputi penyiangan gulma yang ada disekitar tanaman, setelah gulma yang ada sudah selesai dibersihkan dilakukan pengapuran yang berfungsi sebagai penambah unsur hara kalsium yang diperlukan untuk dinding sel tanaman.

Pengapuran serta Pemberian pupuk dasar

Pengapuran dapat menggunakan dolomit/calmag (CaCO3 MgCO3) kalsit/kaptan (CaCO3). Setelah diperoleh pH rata-rata, penentuan kebutuhan dapat dilakukan dengan menggunakan data berikut ini :

  1. a) < 4,0 (paling asam): jumlah kapur >10,24 ton/ha
  2. b) 4,2 (sangat asam): jumlah kapur 9,28 ton/ha
  3. c) 4,6 (asam): jumlah kapur 7,39 ton/ha
  4. d) 5,4 (asam): jumlah kapur 3,60 ton/ha
  5. e) 5,6 (agak asam): jumlah kapur 2,65 ton/ha
  6. f) 6,1 – 6,4 (agak asam): jumlah kapur <0,75 ton/ha

Pada lahan melon sebanyak 3000 m2 dilakukan pengapuran awal dengan tanah agak asam yaitu sebesar 3,75 kg/3000 m2. Tanah yang telah dicampur kemudian diberi kapur dan didiamkan selama 3 hari. Setelah gulma dan pengapuran kapur dilakukan pencangkulan ulang dengan mencampur pupuk kandang sebanyak 6 ton pupuk kandang dan pupuk NPK sebanyak 450 kg untuk lahan seluas 3000 m2 serta membuat bedengan dengan jarak 180 cm antar bedengan ketinggian sekitar 50 cm.

Pemasangan Mulsa serta pemberian jarak tanam melon

Alat dan bahan yang digunakan dalam pemasangan mulsa adalah mulsa, bambu untuk mengikat mulsa ke tanah, alat pencetak mulsa, arang, korek api, minyak tanah. Pemasangan mulsa dilakukan apabila tanah sudah tercampur rata dengan pupuk dengan mengikat ujung ujung mulsa plastik dan menancapkan ke tanah. Pemasangan mulsa sebaiknya dilakukan pada saat panas matahari terik agar mulsa dapat memuai sehingga menutup bedengan dengan tepat. Mulsa terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan berwarna perak di bagian atas dan warna hitam dibagian bawah dengan berbagai keuntungan.

Warna perak pada mulsa akan memantulkan cahaya matahari sehingga proses fotosintesis menjadi lebih optimal, kondisi pertanaman tidak terlalu lembab, mengurangi serangan penyakit, dan mengusir serangga-serangga penggangu tanaman seperti Thirps dan Oteng-oteng. Sedangkan warna hitam pada mulsa akan menyerap panas sehingga suhu di perakaran tanaman menjadi hangat.

Akibatnya, perkembangan akar akan optimal. Selain itu warna hitam juga mencegah sinar matahari menembus ke dalam tanah sehingga dapat menekan pertumbuhan benih gulma. Bedengan yang sudah diberi mulsa dibuat lubang tanam yang berjarak 70 cm x 70 cm antar tanaman. Pemberian jarak tanam dengan cara melubangi mulsa dengan kaleng susu bekas dengan diameter 10 cm yang dibuat sedemikian rupa  yang berisi arang panas yang kemudian dicetak diatas mulsa. Mulsa yang sudah dilubangi berfungsi sebagai tempat penanaman bibit melon dan pemberian pupuk.

Budidaya melon

Gambar pelubangan mulsa

#2. Persemaian Tanaman Melon

Cara Persemaian

Alat dan bahan yang diperlukan untuk persemaian adalah benih melon, media persemaian yang meliputi pupuk kandang, sekam, polybag. Persemaian dilakukan selama 2 hari 1 malam dengan merendam benih melon yang akan disemai, setelah direndam didiamkan selama satu malam hingga benih berkecambah.  Ciri-ciri benih yang sudah berkecambah yaitu benih sehat, warna pada benih sedikit pudar, benih berukuran sekitar 3-5 cm.

Benih yang mempunyai kriteria tersebut selanjutnya dimasukan kedalam polybag dengan ukuran polybag 7 x 10 cm. Benih disemaikan dalam posisi tegak dan ujung calon akarnya menghadap ke bawah.  Polybag diisi dengan tanah, sekam dan pupuk kandang dengan perbandinagn 2:1:1. Penanaman dilakukan dengan cara menyiram tanah dengan hand sprayer terlebih dahulu agar tanah tidak kering, membuat lubang sedalam 2 cm dengan jari, lalu benih dimasukkan dengan bagian berakar dibawah.

Setelah semua benih dimasukan kedalam polybag, ditutup dengan pasir yang telah disiapkan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, tidak mudah rebah. Untuk merangsang perkecambahan benih dengan menciptakan suasana hangat maka tutuplah permukaan persemaian dengan kertas korandidiamkan selama 12 hari.

Gambar Persiapan persemaian bibit melon

Gambar Persiapan persemaian bibit melon

Perawatan benih persemaian

Benih harus disimpan ditempat yang kering mengingat umur benih hanya selama 10–12 hari, untuk melindungi benih tanaman yang masih muda dari terik sinar matahari, air hujan, dan serangan hama maupun penyakit tanaman melon. Benih yang disemaikan dibuat rumah persemaian dengan atap dari plastik pada pagi hari atau dibuka agar benih mendapatkan sinar matahari sehingga proses perkembangan benih sempurna, kemudian pada siang hari penutup plastik ditutup untuk menghindari dari sinar matahari, air hujan dan serangan hama. Selain itu, alas pembibitan tempat polibag diletakkan dilapisi kertas koran agar perakaran bibit tidak menembus ke dalam tanah.

Perawatan benih persemaian

Perawatan benih persemaian

#3. Penjarangan Tanaman Melon

Penjarangan dilakukan dengan tujuan untuk menyiapkan bibit-bibit yang sehat dan kekar untuk ditanam. Penjarangan ini mulai dilakukan 3 hari sebelum penanaman bibit ke lapangan. Bibit yang mempunyai pertumbuhan seragam dikumpulkan menjadi satu. Bibit-bibit yang pertumbuhannya merata disingkirkan dan tidak ditanam.

bibit melon yang sudah dilakukan penjarangan

Bibit melon yang sudah dilakukan penjarangan

#4. Penanaman Benih Melon

Penanaman dilakukan apabila bibit berdaun 3, warna bibit hijau ketinggian bibit 10-12 cm. Penanaman dilakukan pada sore hari atau cuaca mendung, hindari penanaman pada pagi hari jika dilakukan pada pagi hari kemungkinan tanaman stress karena tanaman melon yang masih muda akan stress bila terkena sinar matahari lama. Penyinaran matahari yang lama akan membuat benih melon layu dan tidak berkembang sempurna. Pada saat penanaman, tanah dibedengan harus lembab. Cara penanaman benih melon yaitu dengan membasahi lubang tanam kemudian membuka polybag, memasukan bibit melon kedalam tanah dan pastikan daun melon tidak masuk bersama akar melon kemudian menutup kembali tanah dan menyiramnya kembali. Bibit melon harus serasi agar pertumbuhan buah melon seragam.

Bibit melon siap panen

Bibit melon siap panen

#5. Pemeliharaan Tanaman

Pemasangan Lanjaran

Melon merupakan tanaman merambat jenis tanaman merambat membutuhkan lanjaran sebagai penopang rambatan serta penopang buah agar tidak jatuh ke tanah. Melon yang jatuh dalam tanah akan cepat membusuk. Lanjaran dibuat dengan tinggi 180 cm dipasang diantara lubang tanam dengan menancapkan kedalam tanah. Setelah pemasangan lanjaran pertama selesai selanjutnya pemasangan lanjaran kedua yaitu dengan meyilangkan lanjaran pada sisi bedengan yang berfungsi mengikat tali penopang melon tumbuh.

Pemasangan lanjaran berbentuk x dipasang di depan dan dibelakang lubang tanam kemudian mengikat lanjaran lanjaran dengan tali rafia agar lanjaran berdiri dengan sempurna. Batang tanaman mulai diikat pada ajir dengan tali rafia setelah tanaman berumur 17 hari atau setelah memiliki 7 daun, dengan ikatan model huruf 8 agar batang melon tidak luka. Pengikatan dilakukan 3 hari sekali sampai ikatan mencapai ujung ajir.

Pemasangan lanjar untuk menjalar tanaman melon

Pemasangan lanjaran untuk menjalar tanaman melon

Penyulaman

Penyulaman dilakukan agar panen melon seragam serta menekan pertumbuhan benih yang tidak tumbuh pada bedengan. Penyulaman di lakukan dengan tujuan untuk mengganti tanaman yang mati atau tumbuhnya tidak normal satu sampai tiga hari setelah tanam atau paling lambat satu minggu setelah tanam dengan cara menanam bibit cadangan yang berumur sama. Tanaman yang tidak tumbuh diganti dengan tanaman baru. Pertumbuhan melon yang seragam akan menekan biaya perawatan tanaman.

Penyulaman tanaman melon

Penyulaman tanaman melon

Pengairan

Pengairan dilakukan sesering mungkin agar melon dapat menyerap air sebagai energy tumbuhnya. Jika musim hujan pengairan tidak dilakukan pengairan hanya mengandalkan air hujan karena apabila air yang tersedia teralalu banyak menyebabkan tanaman mudah roboh atau membusuk. Pada musim kemarau pengairan dilakukan seminggu sekali dengan cara mengalirkan air diantara bedengan.

Pemangkasan Tunas

Pemangkasan dilakukan untuk membuang calon tunas (cabang) yang merugikan atau yang tidak diinginkan, terutama tunas yang muncul diketiak daun. Pemangkasan dilakukan dari ruas ke-1 sampai dengan ruas ke-8 dan diatas ruas ke-11, cabang pada ruas ke-9 sampai ke-11 tidak perlu dipangkas untuk dijadikan tempat munculnya calon buah yang akan dibesarkan. Cabang melon akan menghasilkan buah selanjutnya batang ujung dipotong agar tidak ada ruas yang tumbuh kembali. Pelaksanaannya pada saat tunas melon mulai tumbuh. Bahan dan alat yang digunakan dalam pemangkasan tunas adalah ember dan gunting.

Pemangkasan yang dilakukan pada tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai dengan yang dikehendaki. Tinggi tanaman dibuat rata-rata antara titik ke-20 sampai ke-25 (bagian ruas, cabang atau buku dari tanaman tersebut). Pemangkasan dilakukan pada saat  udara cerah dan kering, agar bekas luka tidak diserang jamur. Waktu pemangkasan dilakukan setiap 5 hari sekali, yang paling awal dipangkas adalah cabang yang dekat dengan tanah dan sisakan dua helai daun, kemudian cabang-cabang yang tumbuh lalu dipangkas dengan menyisakan 2 helai daun. Pemangkasan dihentikan, jika ketinggian tanamannya sudah mencapai pada cabang ke-20 atau 25.

Pemangkasan tunas tanaman melon

Pemangkasan tunas tanaman melon

Pemupukan Susulan

Pupuk merupakan faktor penunjang dalam pertumbuhan tanaman, yaitu sebagai penyedia unsur hara selain unsur hara yang tersedia dalam tanah. Setelah pemberian pupuk dasar, tanaman melon memerlukan pupuk susulan yang berfungsi sebagai makanan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Pemberian pupuk harus sesuai dengan kebutuhan tanaman melon. Pemberian pupuk berupa N,P, dan K sebagai faktor penunjang pertumbuhan tanaman melon agar melon yang dihasilkan sesuai dengan kriteria melon yang baik. Pupuk yang diberikan harus sesuai dengan intensitas pemberian pupuk. Intensitas pemberian pupuk tergantung pada hari setelah tanam tanaman melon, pada saat tanaman melon berumur 5 HST pemberian pupuk diperkecil setelah umur 5 HST intensitas pemberian pupuk diperbesar.

Alat dan bahan yang digunakan dalam pemupukan susulan yaitu pupuk KNO3, pupuk NPK, air, ember, gayung, gelas ukur.

Pemupukan 5 HST

Pupuk yang digunakan pada 5 HST yaitu pupuk KNO3 cara pemberian pupuk yaitu pupuk KNO3 dilarutkan terlebih dahulu dengan air sebanyak 15 liter kemudian masukan air sebanyak 15 liter kembali yang selanjutnya ambil KNO3 yang sudah dilarutkan dengan takaran 100 ml.

Pemupukan 12 HST dan 17 HST

Pemupukan 12 hari setelah tanam dan 17 hari setelah tanam umumnya sama seperti pemupukan sebelumnya. Pupuk KNO3 dilarutkan sebanyak 2 kg dengan air sebanyak 15 liter. Kemudian isi ember dengan air 15 liter serta larutan KNO3 yang telah dilarutkan sebanyak 100 ml. Tuangkan larutan pupuk yang telah tercampur sebanyak 50 ml untuk 1 tanaman.

Pemupukan 30 HST

Pemupukan pada umur 30 HST dilakukan setiap 5 hari sekali. Intensitas pemupukan lebih besar daripada sebelumnya. Hal ini karena melon yang tumbuh memerlukan banyak unsur hara agar tumbuh secara optimal. Tanaman melon diberikan pupuk dengan takaran 2 kg gram pupuk untuk 15 liter air. Setelah pupuk tercampur dengan air, dicoba dengan air sebanyak 15 liter yang selanjutnya disiram pada tanaman melon 5 ml.

Pemupukan 45 HST

Intensitas pemupukan dilakukan sesering mungkin pada usia 45 HST tanaman melon memerlukan unsur hara yang lebih tinggi karena usia. Tanaman melon diberikan pupuk yang beragam setiap harinya. Takaran pupuk sama dengan takaran sebelumnya. Yaitu 2 kg gram pupuk dilarutkan 15 liter air. Setelah itu, setiap 5 ml pupuk yang telah tercampur air dilarutkan kembali dengan air sebanyak 15 liter kembali.

Pemupukan tanaman melon

Pemupukan tanaman melon

#6. Pengendalian Hama dan Penyakit

Alat dan bahan yang digunakan dalam pengendalian hama dan penyakit adalah spray fungisida, sprayer insektisida manual, mesin sancin, ember, gayung. Usaha pengendalian hama dan penyakit termasuk faktor penting dalam teknis budidaya. Tanaman melon tidak lepas dari kendala hama dan penyakit faktor inilah yang bisa menurunkan jumlah produksi, bahkan dapat mengagalkan panen.

Jenis hama dan Penyakit yang menyerang tanaman antara lain :

1. Oteng-oteng (Aulacophora similis)

Hama oteng-oteng (kumbang daun) ini berwarna kuning-kecoklatan dan penyebarannya luas. Hama ini mampu bertahan hidup sekitar 4-6 bulan. Gejala serangan hama oteng-oteng dengan cara memakan daun atau pucuk daun sehingga nampak berlubang-lubang seperti lingkaran pada daun yang terserang.

Pengendalian oteng oteng yaitu dengan Penyemprotan insektisida Dupont Prevathon 50 Sc (Klorantranilipon 50 gr) dengan Topdoa 10 WP (Imidaklropid 10%) pada tanaman dengan dosis masing-masing 5 ml/14 liter disemprot kan pada daun dan batang tanaman.

2. Fusarium (Fusarium Oxysporium)

Serangan fusarium pada tanaman melon adalah tanaman layu seperti kekurangan air dan segar kembali setelah turun hujan. Mula-mula pada bagian batang retak yang diikuti dengan keluarnya lendir, mengering dan mengkerut. Pada serangan berat tanaman akan layu dan akhirnya mati.

Pengendalian fusarium yaitu Penyemprotan fungisida sistemik Rampak dengan dosis 1-2 ml/14 liter yang disemprot kan pada tanaman melon apabila diatas ambang ekonomi. Fungisida Mazenta 82 WP (Mancozeb 83%) dengan konsentrasi 2–3 ml/14 liter disemprot kan pada daun yang terkena jamur atau pada tanaman langsung.

3. Virus keriting

Daun yang terserang virus menunjukan adanya bercak kuning dan beberapa daun menjadi keriting hingga tanaman tidak dapat memproduksi buah secara sempurna. Virus dapat ditularkan melalui serangga trips pada serangan berat tanaman akan mengalami kerdil bahkan mati.

Pengendalian virus keriting dengan cara membuang tanaman yang terserang virus keriting agar tidak menular pada tanaman lain serta dengan penyemprotan insektisida Dupont Prevathon 50 Sc (Klorantranilipon 50 gr) dengan Topdoa 10 WP (Imidaklropid 10%) pada tanaman dengan dosis masing-masing 5 ml/14 liter disemprot kan pada daun dan batang tanaman.

4. Busuk Tangkal

Gejala busuk tangkal ditandai dengan ujung tangkai berlendir berwana kehitaman yang menyerang ujung tangkai melon. Gejala ini bisanaya menyerang tanaman melon pada umur 30 HST pada saat muncul tunas melon. Busuk tangkal menyerang ujung tangkai melon yang telah dilakukan pemangkasan tunas.

Pengendaliannya yaitu dengan insektisida Dupont Prevathon 50 Sc (Klorantranilipon 50 gr) dengan Topdoa 10 WP (Imidaklropid 10%) pada tanaman dengan dosis masing-masing 5 ml/14 liter disemprot kan pada daun dan batang tanaman.

#7. Panen dan Pascapanen Budidaya Melon

Alat dan bahan yang digunakan dalam pemanenan yaitu gunting, karung, krat melon, timbangan. Panen dilakukan pada tanaman berumur 65-70 hari sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Ciri ciri buah yang siap panen meliputi: net penuh, buah berukuran optimal 1,6 kg hingga 2,5 kg, jika ditekan bawah melon tidak lembek, tidak ada bercak penyakit atau bekas hama. Alat yang digunakan dalam pemanena yaitu gunting atau pisau tajam untuk memetik buah melon. Tangkai melon dipotong dengan gunting berbentuk huruf t pada tangkai melon. Hindari melon jatuh atau berbentur karena akan mengurangi harga jual di pasar, melon yang sudah dipanen selanjutnya disimpan ke gudang penyimpanan untuk disortasi menjadi bagian grade. Pascapanen dilakukan setelah melon dipanen tahapan pascapanen yaitu:

1. Pengumpulan dan sortasi

Melon yang telah dipanen selanjutnya dikumpulkan serta diangkut kedalam gudang penyimpanan. Melon yang busuk atau memliki bercak atau bekas hama dan penyakit dipisahkan kedalam keranjang lain. Sedangkan melon yang baik ditempatkan pada keranjang melon yang akan diangkut.

2. Grading

Grading sama seperti sortasi hanya saja lebih spesifik dalam memilih melonnya yaitu memisahkan ukuran melon. Melon yang terlalu besar atau terlalu kecil biasanya dipasarkan ke pasar tradisional. Kriteria melon pada PT Bumi Sari Lestari yaitu berukuran 1,6 kg hingga 2,5 kg apabila tidak memenuhi kriteria tersebut melon dikatakan sebagai BS atau barang sisa.

3. Penyimpanan

Ruang penyimpanan melon sebelum diangkut ke gudang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan melon. Gudang terhindar dari adanya binatang yang dapat merusak melon. Penyimpanan melon tidak boleh terlalu lama untuk mencegah melon yang terlalu matang sehingga apabila terlalu matang melon sampai tangan konsumen sudah busuk.

Tips Menjadi Pelajar Berprestasi

Tips Menjadi Pelajar Berprestasi – Menjadi berprestasi adalah keinginan semua pelajar. Berprestasi adalah berhasil mencapai hasil maksimal dengan mengungguli competitor/pesaing disekitarnya, dalam hal ini adalah siswa lain.

Pelajar Berprestasi

Pelajar Berprestasi

Prestasi belajar bukan hanya kamu dapat nilai tertinggi dalam raport. Tapi berprestasi banyak jenisnya. Ada 5 aspek yang membedakan prestasi belajar, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Jadi jika kamu merasa sangat sulit untuk menyaingi temanmu dalam bidang nilai kognitif, kamu bisa mendapatkan prestasi dalam aspek yang lain, olahraga misalnya. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan bakat yang berbeda.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa membuatmu untuk menjadi pelajar berprestasi:

Punya Mainset Pemenang

Mainset adalah pola piker. Bahasa lebih sederhananya adalah kepercayaan dan keyakinan untuk dapat meraih prestasi tinggi. Untuk berprestasi kita harus percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Temukan Potensi Diri

Prestasi berhubungan dengan potensi. Potensi adalah kemampuan atau kekuatan yang dapat dikembangkan. Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda-beda, temukan potensimu sedini mungkin, karena engkau akan mempunyai waktu yang lebih panjang untuk mengembangkan. Potensi biasanya berawal dari hobby.

Punya Ambisi tapi Bukan Ambisius

Jika ingin berpestasi kamu harus punya target yang tinggi. Kamu jangan bercita-cita menjadi biasa saja. Kamu harus melakukan apapun untuk dapat meraih target yang ditentukan tersebut. Tapi ingat, walau begitu kamu harus tetap menggunakan cara-cara yang positif, tidak boleh bermain curang misalnya. Lakukan dengan segala cara tapi tidak boleh menghalalkan segala cara.

Mau Terus Berlatih

Jika mau berprestasi, kamu harus terus melatih apa yang menjadi keinginanmu itu. Kegagalan adalah hal biasa, jadi yang harus kamu lakukan adalah bangkit kembali. Kelemahan kebanyakan orang adalah karena rasa malas, enggan memaksa dirinya. Rajin dan tekunlah melatih diri, maka prestasi hanya akan menunggu waktu.

Memanfaatkan Waktu

Waktu adalah hal sesuatu yang tak bisa berulang. Setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam, tidak ada yang lebih dan tak ada yang kurang, sama. Tapi kadang orang berbeda dalam pemanfaatannya. Orang yang akan berprestasi akan disiplin memanfaatkan waktu yang ada. mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Sebagai pelajar, kita harus mempunyai agenda dan jadwal kegiatan. Mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Mau memaksa diri untuk berdisiplin adalah kunci prestasi, sekaligus konsisten.

Mempunyai Mentor

Sehebat apapun Christiano Ronaldo, Justien Bieber dan tokoh-tokoh hebat lainnya tidak akan dapat menorehkan berbagai prestasi gemilang tanpa adanya mentor/pelatih. Peran seorang mentor adalah membantumu untuk menggali potensimu secara maksimal, membagi pengalaman untuk selanjutknya ditularkan ke kamu.

Baca juga : 6 Musuh pelajar

Kamu bisa mencari mentor sesuai dengan potensi yang kamu miliki, misalnya kamu ingin berprestasi dalam olahraga basket berarti kamu harus dekat dengan pelatih atau pemain senior basket.

Menjaga Pergaulan

Menjadi gaul itu harus. Tapi pergaulan yang sebebas-bebasnya itu jangan. Kamu harus pintar-pintar memilih teman, mana yang kira-kira akan membawa kebaikan dan keburukan, bukan cuma sekedar senang-senang.

Gaya Hidup yang Baik

Gaya hidup yang buruk menciptakan disiplin yang buruk pula. Orang yang kurang terkontrol tidak akan menjadi orang yang berprestasi. Hedonis, tidur larut malam, merokok, bahkan minum-minuman keras adalah contoh dari hal buruk yang harus kamu hindari.

Berbakti dan Berdoa

Kita harus sadar bahwa ada kekuatan lain diluar diri kita yang akan mempengaruhi prestasi. Yaitu kehendak Tuhan dan ridho orang tua. Berdoalah dan minta restu setiap akan melakukan/mengerjakan sesuatu, dengan begitu segala kesulitan pasti akan dimudahkan.