Arsip Kategori: Pen. Tinggi

Belajar Tentang Peristiwa Tutur dan Tindak Tutur

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Jadi, bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang memiliki pola tersendiri yang dibentuk oleh sejumlah komponen yang dapat dimengerti dan diterima. Penggunaan bahasa untuk setiap individu akan berbeda-beda karena berdasarkan pengetahuan atau kemampuan dalam menguasai bahasa itu sendiri yang disebut repertoire. Tentu saja kemampuan berbahasa tersebut akan digunakan juga untuk berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Komunikasi tersebut terjalin dengan maksudnya masing-masing.

 #1. Peristiwa Tutur

Peristiwa tutur (inggris: speech event) adalah terjadinya interaksi linguistik dalam suatu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak, yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan, di dalam waktu, tempat dan situasi tertentu. Misalnya, interaksi yang berlangsung antara seorang pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu mengunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Peristiwa serupa kita dapati juga dalam acara diskusi di ruang kuliah, rapat dinas di kantor, sidang di pengadilan, dan sebagainya.

Sebuah percakapan baru dapat di sebut sebagai sebuah peristiwa tutur kalau memenuhi syarat seperti yang disebutkan di atas. Atau seperti dikatakan oleh Dell Hymes (1972), bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen, yang bila huruf-huruf pertanyaan dirangkaikan menjadi akronim speaking. Kedelapan komponen itu adalah (diangkat dari Wadhaugh 1990) :

S : Setting and scene (tempat dan suasana tutur);

P : Participants (peserta tutur);

E : Ends= purpose and goal (tujuan tutur);

A : Act sequences (pokok tuturan);

K : Keys= tone or spirit of act (nada tutur).

I : Instrumentalities (sarana tutur).

N : Norms of interaction and interpretation (norma tutur).

G : Genres (Jenis tuturan).

1) Setting and Scene

Dipakai untuk menunjuk kepada aspek tempat dan waktu dari terjadinya sebuah tuturan. Secara umum karakter ini menunjuk kepada keadaan dan lingkungan fisik tempat tuturan itu terjadi. Suasana tutur berkaitan erat dengan faktor psikologis sebuah tuturan. Dapat juga suasana tutur dipakai untuk menunjuk batasan kultural dari tempat terjadinya tuturan tersebut.

Jadi jelas bahwa tempat tutur (setting) tidaklah sama dengan suasana tutur (scenes) karena yang pertama menunjuk kepada kondisi fisik tuturan sedangkan yang kedua menunjuk kepada kondisi psikologis dan batasan kultural sebuah tuturan. Dimungkinkan pula bagi seorang penutur untuk beralih dari kode yang satu ke dalam kode yang lain dalam suasana tertentu di tempat (setting) yang sama. Sebagai contoh dalam peristiwa transaksi / tawar menawar sandang di sebuah pasar, seorang pedagang mendadak akan berubah dari cara bertutur yang ramah menjadi sangat ketus terhadap calon pembeli karena mungkin dia sangt lamban dan berbelit dalam menawar.

2) Participants

Dipakai untuk menunjuk kepada minimal dua pihak dalam bertutur. Pihak yang pertama adalah orang kesatu atau sang penutur dan pihak kedua adalah mitra tutur. Dalam waktu dan situasi tertentu dapat pula terjadi bahwa jumlah peserta tutur lebih dari dua, yakni dengan hadirnya pihak ketiga. Pemilih kode yang terkait dengan komponen tutur ini akan melibatkan dua dimensi sosial manusia, yakni dimensi horisontal (solidarity) yang menyangkut hubungan penutur dengan mitra tutur yang telah terbangun sebelumnya dan dimensi vertikal (power), yakni yang berkaitan dengan masalah umur, kedudukan, status sosial dan semacamnya dari pada peserta tutur itu. Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang berbeda bila berbicara dengan orangtuanya atau gurunya, bila dibandingkan kalau dia berbicara terhadap teman-temannya.

3) Ends = Purpose and Goal

Tujuan suatu peristiwa dalam suatu perintah diharapkan sejalan dengan tujuan lain warga masyarakat itu. Sebuah tuturan mungkin sekali dimaksudkan untuk menyampaikan informasi atau sebuah pikiran. Barangkali pula tuturan itu dipakai untuk merayu, membujuk, mendapatkan kesan, dan sebagainya. Dalam bertutur pastilah orang itu berharap agar tuturannya tidak dianggap menyimpang dari tujuan masyarakatnya. Sebuah tuturan mungkin juga ditunjukkan untuk merubah perilaku diri seseorang dari seseorang dalam masyarakat.

Tuturan yang dimaksudkan untuk merubah perilaku seseorang itu sering pula disebut sebagai tujuan konotatif dari penutur. Tuturan dapat juga dipakai untuk memelihara kontak antara penutur dan mitra tutur dalam suatu masyarakat. Demikianlah, orang yang bertutur pastilah memiliki tujuan dan sedapat mungkin penutur akan berupaya untuk bertutur sejalan dengan tujuan dari anggota masyarakat tutur itu.

4) Act Sequences

Pokok tuturan merupakan bagian dari komponen tutur yang tidak pernah tetap, artinya bahwa pokok pikiran itu akan selalu berubah dalam deretan pokok-pokok tuturan dalam peristiwa tutur. Perubahan pokok tuturan itu sudah barang tentu berpengaruh terhadap bahasa atau kode yang dipilihnya dalam bertutur. Dengan perkataan lain pula perpindahan pokok tuturan dalam bartutur itu dapat pula menyebabkan terjadinya alih kode.

5) Key

Nada tutur menunjuk kepada nada, cara, dan motivasi di mana suatu tindakan dapat dilakukan dalam bertutur. Nada tutur ini berkaitan eret dengan masalah modalitas dari kategoti-kategori gramatikal dalam sebuah bahasa. Nada ini dapat berwujud perubahan-perubahan tuturan yang dapat menunjuk kepada nada santai, serius, tegang, kasar, dan sebagainya. Nada tutur dapat pula dibedakan menjadi nada tutur yang sifatnya verbal dan non verbal.

Nada tutur verbal dapat berupa nada, cara, dan motivasi yang menunjuk pada warna santai, serius, tegang, cepat yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun nada tutur non verbal dapat berupa tindakan yang bersifat para linguistik yang melibatkan segala macam bahasa tubuh (body language), kial (gestur), dan juga jarak selama bertutur (proximis). Nada tutur yang bersifat non verbal ini sangat penting perannya dalam komunikasi. Bahkan dalam masyarakat tutur Jawa, nada yang non verbal ini dipakai sebagai salah satu parameter tata krama dari seseorang.

Orang yang berbicara dengan jari yang menunjuk kepada mitra tutur dapat dipakai dalam indikasi bahwa penutur itu kurang sopan/tidak bertatakrama dan bukan berciri “Jawa”. Demikian juga apabila seorang penutur bertutur dengan mitra tutur yang lebih tua dan penutur itu bertutur dengan memandang wajah mitra tuturnya dapatlah dikatakan bahwa penutur itu juga belum njawani.

6) Intrumentalities

Sarana tutur menunjuk kepada salutar tutur (channels) dan bentuk tutur (form of speech). Adapun yang dimaksud dengan saluran tutur adalah alat di mana tuturan itu dapat dimunculkan oleh penutur dan sampai kepada mitra tutur. Sarana yang dimaksud dapat berupa saluran lisan, saluran tertulis, bahkan dapat pula melalui sandi-sandi atau kode tertentu. Saluran lisan dapat pula berupa nyanyian, senandung, dan sebagainya.

Adapun bentuk tutur dapat berupa bahasa, yakni bahasa sebagai sistem yang mandiri, dialek dan variasi-variasi bahasa yang lainnya. Bentuk tutur akan lebih banyak ditentukan oleh saluran tutur yang dipakai oleh penutur itu dalam bertutur. Bentuk tutur orang bertelepon pastilah berbeda dengan orang bertutur dengan tanpa menggunakan pesawat telepon. Dalam peristiwa transaksi barang mewah terjadi tawar menawar dilakukan lewat pesawat telepon, pasti bentuk tuturnya berbeda dengan tawar menawar langsung yang dilakukan dengan tanpa peasawat telepon.

7) Norms Of Interaction and Interpretation

Norma tutur dibedakan atas dua hal yakni norma interaksi (interaction norm) dan norma interpretasi (interpretation norms) dalam bertutur. Norma interaksi menunjuk kepada dapat/tidaknya sesuatu dilakukan oleh seseorang dalam bertutur dengan mitra tutur. Sebagai contoh dalam masyarakat tutur Jawa, manakala ada orang sedang bertutur dengan orang lain, kendatipun kita amat sangat berkepentingan dengan seseorang yang telibat dalam peristiwa tutur itu, kita tidak boleh memenggal tuturan mereka. Artinya bahwa pemenggalan percakapan yang sedang berlangsung dan pihak ketiga akan dianggap sebagai pelanggar norma, yakni norma kesopanan yang ada dalam masyarakat tutur Jawa itu.

Di dalam masyarakat tutur Jawa juga tidak diperkenankan orang bertutur dengan tidak memperhatikan keberadaan sang mitra tutur. Artinya bahwa dominasi waktu dan kesempatan yang dilakukan oleh penutur saja akan mengakibatkan kesan tidak baik dari pihak mitra tutur terhadap penutur itu. Di samping itu norma interpretasi masih memungkinkan pihak-pihak yang telibat dalam komunikasi untuk memberikan interpretasi terhadap mitra tutur khususnya manakala yang terlibat dalam komunikasi para mahasiswa dalam hal norma interpretasi.

Para mahasiswa Arab lebih sering melakukan pertentangan dan pertengkaran yang dilakukan dengan berhadapan muka. Namun demikian, mereka juga sering duduk berdampingan antara yang satu dengan yang lainnya. Para mahasiswa Arab juga sering berbicara denga suara yang lebih keras dari pada mahasiswa Amerika (Graves, 1996 dalam Gumpers, 1972). Akhirnya dapat pula disampaikan bahwa norma interpretasi erat sekali kaitannya dengan sistem kepercayaan masyarakat tutur itu. Orang Jawa percaya bahwa mereka yang berumur lebih tua adalah sesepuh mereka. Oleh karenanya mereka akan lebih cenderung dihargai dalam bertutur.

Menyampaikan hal yang sama akan lebih diinterpretasikan dengan arti yang berbeda jika itu disampaikan oleh orang yang sebaya atau bahkan lebih muda dari sesepuh itu. Hal demikian dapatlah digunakan sebagai bukti bahwa norma interaksi dalam suatu masyarakat tutur pastilah tidak dapat dipisahkan dari sisitem kepercayaan dan adat istiadat yang terdapat dan berlaku di daerah itu.

8) Genres

Menunjuk kepada jenis kategori kebahasaan yang sedang dituturkan. Maksudnya adalah bahwa jenis tutur ini akan menyangkut kategori wacana seperti percakapan, cerita, pidato dan semacamnya. Berbeda jenis tuturnya akan berbeda pula kode yang dipakai dalam bertutur itu. Orang berpidato tentu menggunakan kode yang berbeda denga kode orang bercerita. Demikian pula orang yang bercerita tidak dapat disamakan dengan kode orang yang sedang bercakap-cakap.

Berdasarkan keterangan di atas, maka pemakalah dapat menyimpulkan betapa kompleksnya peristiwa tutur yang yang telah terlihat, atau dialami sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari.

#2. Tindak Tutur

Kalau peristiwa tutur merupakan gejala sosial, maka tindak tutur merupakan gejala individual, bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa si penutur dalam menghadapi situasi tertentu.

Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Universitas Harvard pada tahun 1956. Teori yang berasal dari materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O Urmson (1965) dengan judul How to Do Thing with Word? Tetapi teori tersebut baru menjadi terkenal dalam studi linguistik setelah Searle (1969), menerbitkan buku berjudul Speech Act and Essay in the Philosophy of Language.

Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang teori tindak tutur, terlebih dahulu kita harus memahami tentang jenis kalimat. Menurut tata bahasa tradisional, ada tiga jenis kalimat, yaitu kalimat deklaratif, kalimat interogatif dan kalimat imperatif.

a. Kalimat deklaratif adalah kalimat yang isinya hanya meminta pendengar untuk menaruh perhatian saja, sebab, maksud pengujar hanya memberitahukan saja.

b. Kalimat interogatif adalah kalimat yang isinya meminta agar pendengar memberi jawaban secara lisan.

c. Kalimat imperatif adalah kalimat yang isinya meminta agar si pendengar atau yang mendengar kalimat itu memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan yang diminta.

Pembagian kalimat atas kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif adalah berdasarkan bentuk kalimat itu secara terlepas. Kalau kalimat-kalimat tersebut dipandang dari tataran yang lebih tinggi, misalnya dari tingkat wacana, maka kalimat tersebut dapat saja menjadi tidak sama antara bentuk formalnya dan bentuk isinya. Ada kemungkinan sebuah kalimat deklaratif atau kalimat interogatif tidak lagi berisi pernyataan dan pertanyaan, tetapi menjadi suatu bentuk perintah.

Austin membedakan kalimat deklaratif berdasarkan maknanya menjadi kalimat konstatif dan kalimat performatif. Kalimat konstatif adalah kalimat yang berisi pernyataan belaka, seperti, “Ibu dosen kami cantik sekali”, atau “Pagi tadi dia terlambat bangun”. Sedangkan kalimat performatif adalah kalimat yang berisi perlakuan. Artinya, apa yang diucapkan oleh si pengujar berisi apa yang dilakukannya, misalnya, “Saya menamakan kapal ini “Liberty Bell”, maka makna kalimat itu adalah apa yang diucapkannya.

Sebuah kalimat performatif harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :

1. Prosedur konvensional harus ada untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Prosedur tersebut harus menentukan siapa yang harus mengatakan, dan melakukan apa, serta dalam situasi apa.

2. Semua peserta harus melaksanakan prosedur ini dengan patut dan melaksanakannya secara sempurna.

3. Pemikiran, perasaan dan tujuan tentang hal tersebut harus ada pada semua pihak.

Kalimat performatif ini lazim digunakan dalam upacara pernikahan, perceraian, kelahiran, kematian, kemiliteran dan sebagainya. Dalam pengucapannya, kalimat performatif biasanya ditunjang oleh tindakan atau perilaku yang nonlinguistik, seperti pemukulan gong, pengetukan palu dan sebagainya.

Kalimat performatif dapat dibagi atas situasi resmi dan yang tidak resmi. Yang pertama sudah dijelaskan sebelumnya. Yang kedua, adalah kalimat yang tidak terikat oleh ketiga syarat yang disebutkan di atas. Kita dapat memberikan contoh, “Saya berjanji…”, Kami minta maaf atas…”, Kami peringatkan Anda…, dan Saya bersedia hadir dalam…”.

Kalimat performatif dapat juga digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara eksplisit dan implisit. Secara eksplisit artinya menghadirkan kata-kata yang mengacu pada pelaku seperti saya dan kami. Umpamanya, “Saya berjanji akan mengirimkan uang itu secepatnya”, “Kami minta maaf atas keterlambatan pembayaran hutang itu”, dan “Saya peringatkan, kalau Anda sering bolos, Anda tidak boleh ikut ujian”.

Kalimat performatif yang implisit adalah kalimat yang tanpa menghadirkan kata-kata yang menyatakan pelaku, misalnya, “jalan ditutup” atau “ada perbaikan jalan” dan “ada ujian”. Di balik kalimat-kalimat performatif yang implisit itu tentu ada pihak yang meminta kita melakukan apa yang dimintanya.

Austin membagi kalimat performatif menjadi lima kategori, yaitu :

1. Kalimat verdiktif, yakni kalimat perlakuan yang menyatakan keputusan atau penilaian, misalnya,” Kami menyatakan terdakwa bersalah”.

2. Kalimat eksersitif, yakni kalimat perlakuan yang menyatakan perjanjian, nasihat, peringatan, dan sebagainya, misalnya, “Kami harap kalian setuju dengan keputusan ini”.

3. Kalimat komisif, adalah kalimat perlakuan yang dicirikan dengan perjanjian; pembicara berjanji dengan anda untuk melakukan sesuatu, “Besok kita menonton sepak bola.

4. Kalimat behatitif, adalah kalimat perlakuan yang berhubungan dengan tingkah laku sosial karena seseorang mendapat keberuntungan atau kemalangan, misalnya, “Saya mengucapkan selamat atas pelantikan Anda sebagai siswa teladan”.

5. Kalimat ekspositif adalah kalimat perlakuan yang memberi penjelasan, keterangan atau perincian kepada seseorang, misalnya, “Saya jelaskan kepada Anda bahwa dia tidak bersalah”.

Tindak tutur yang dilangsungkan dengan kalimat performatif oleh Austin, dirumuskan sebagai tiga peristiwa tindakan yang berlangsung sekaligus, yaitu:

1. Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti terbatas, atau tindak tutur dalam kalimat yang bermakna dan dapat dipahami, misalnya, “Ibu guru berkata kepada saya agar saya membantunya”.

2. Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang biasanya diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. Tindak tutur ini biasanya berkaitan dengan pemberian izin, ucapan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan, misalnya, “Ibu guru menyuruh saya agar segera berangkat”.

3. Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur yang berkaitan dengan adanya ucapan orang lain sehubungan dengan sikap dan perilaku non-linguistik dari orang lain, misalnya, karena adanya ucapan dokter, “Mungkin Ibu menderita penyakit jantung koroner”, maka si pasien akan panik atau sedih. Ucapan si dokter adalah tindak tutur perlokusi. Dalam suatu peristiwa tutur, peran pembicara dan pendengar dapat berganti-ganti. Dalam kaitan ini, Austin melihat tindak tutur dari pembicara, sedangkan Searle melihat tindak tutur dari pihak pendengar. Menurut Searle, tujuan pembicara sukar diteliti, sedangkan interpretasi pendengar mudah dilihat dari reaksi-reaksi yang diberikan terhadap pembicara.

Menurut Searle kita bisa memperlihatkan tiga jenis tindakan ketika kita berbicara, yaitu tindakan tuturan, tindakan proposisi, dan tindakan ilokusi. Tindakan tuturan sama dengan tindakan lokusi oleh Austin. Tindakan tuturan mengacu pada fakta bahwa kita harus menggunakan kata-kata dan kalimat jika kita ingin mengatakan apapun. Tindakan proposisi adalah hal-hal yang berkaitan dengan acuan atau ramalan, sedangkan tindakan lokusi berkaitan dengan tujuan pembicara yaitu pernyataan, pertanyaan, janji, atau perintah.

Apabila dilihat dari konteks situasi, ada dua macam tindak tutur, yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Tindak tutur yang pertama mudah dipahami oleh si pendengar karena ujarannya berupa kalimat dengan makna-makna lugas, sedangkan yang kedua hanya dapat dipahami oleh si pendengar yang sudah cukup terlatih dalam memahami kalimat yang bermakna konteks situasional.

Selain bentuk ujaran di atas, kita mengenal bentuk ujaran yang disebut dengan tipe fatis, seperti kata-kata “Udara hari ini cerah ya?” atau “Bagaimana kabarmu?”, dan “Anda terlihat cemerlang hari ini!”. Kita menggunakan ungkapan tersebut bukan ditujukan untuk isi ujaran, tetapi lebih pada nilai-nilai afektif sebagai suatu indikator bahwa seseorang ingin berkomunikasi dengan orang lain, untuk membuka percakapan, atau menjaga hubungan tetap terbuka dengan orang lain. Ungkapan fatis tidak bermaksud untuk benar-benar membicarakan sesuatu, tetapi lebih cenderung untuk membuka suatu aktifitas percakapan. Menurut Malinowski, ungkapan fatis atau phatic communion ini adalah salah satu tipe percakapan yang ikatan hubungannya diciptakan dengan bertukar kata-kata. Dalam keadaan tersebut, kata-kata tidak membawa arti, tetapi membawa fungsi sosial, dan hal tersebut adalah tujuan yang prinsipil.

Nadhom Latin Khoridatul Bahiyah

Nadhom Latin Khoridatul Bahiyah
KHORIDATUL BAHIYAH
Bismillahirrohmaanirrohiim

1.    Yaqulu roojii rohmatal qodiiri ۞ ai ahmadul masyhuuru biddardiiri
2.    Alhamdulillahil ‘aliyil wahidi ۞ al ‘alimil fardil ghoniyyil maajidi
3.    Wa afdholu sholaati watasliimi ۞ ‘ala nabiyyil mushthofal kariimi
4.    Wa alihi washohbihil athhaari ۞ laasiyyamaa rofiiqihii fil ghoori
5.    Wahaa dihii ‘aqidatun saniyyah ۞ samaituhal khoridatal bahiyyah
6.    Lathifatun shoghirotun fil hajmi ۞ laakinnahaa kabirotun fil ‘ilmi
7.    Takfiika ‘ilman inturid antaktafii ۞ liannahaa bizubdatil fanni tafii
8.    Walloha arjuu fii qobuulil ‘amali ۞ wannaf’i minhaa tsumma ghofrizalali

Bayaanul hukmil ‘aqliyyi
9.    Aqsaamu hukmil ‘aqli laa mahaalah ۞ hiyal wujuubu tsummal istihaalah
10.    Tsummal jawaazu tsaalitsul aqsaami ۞ fafham munihta ladzatal afhami
11.    Wawajibun syar’an ‘alal mukallafi ۞ ma’rifatullohil ‘aliyyi fa’rifi
12.    Ay ya’riful waajiba wal muhaala ۞ ma’jaaizin fii haqqihii ta’aala
13.    Wa mitsludzaa fii haqqi ruslillahi ۞ ‘alaihimu tahiyyatul ilaahi
Bayaanul waajibi walmustahiili wal jaaizi
14.    Fal waajibul ‘aqliyyu maa lam yaqbal ۞ al intifaa fii dzaatihi fabtihili
15.    Walmustahiilu kullu maa lam yaqbali ۞ fii dzatihi tsubuuta dhiddal awwali
16.    Wakullu amrin qoobili lil intifaa ۞ walitsubuuti jaaizi bilaa khofaa

Bayaanu huduutsil ‘aalami
17.    Tsumma’laman bianna haadzal ‘aalamaa ۞ ai maa siwallohil ‘aliyyil ‘aalimaa
18.    Huduutsuhu wujuuduhu ba’dal ‘adam ۞ wadhissuhu huwal musammaa bil qidam

Bayanush Shifaatil ‘isyriina
19.    Fa’lam biannual washfa bil wujuudi ۞ min waajibaatil waahidil ma’buudi
20.    Idzdhohirun bianna kullu atsari ۞ yahdii ilaa muatsirin fa’tabiri
21.    Wadzii tusamma shifatan nafshiyyah ۞ tsumma taliihaa khomsatun salbiyyah
22.    Wahyal qidam bidzati fa’lam wal baqoo ۞ qiyaamuhu binafsihi niltattuqoo
23.    Mukhoolifun lilghoiri wahdaaniyyah ۞ fidzaati awshifaatihil ‘aliyyah
24.    Wal fi’lu fiittaktsiiri laisa illaa ۞ lilwaahidil qohhaari jalla wa ‘alaa
25.    Waman yaqul bithob’I aw bil’illah ۞ fadzaaka kufrun ‘inda ahlil millah
26.    Waman yaqul bil quwwatil muuda’ati ۞ fadzaaka bid ‘iyyun falaa taltafiti
27.    Laulam yakun muttashifan bihaa lazim ۞ huduutsuhu wahwa muhaalun fastaqim
28.    Liannahu yufdhi ilaat tasalsuli ۞ waddauri wahwal mustahiilul munjalii
29.    Fahwal jaliilu wal jamiilu walii ۞ wadhoohirul qudduusu warrobbul ‘alii
30.    Munazzahun ‘anil huluuli wal jihah ۞ wal ittishoolil infishooli washifah
31.    Tsummal ma’aanii sab’atun lirrooi ۞ ai ‘ilmuhul muhiithu bil asyyaai
32.    Hayaatuhu wa qudrotun iroodah ۞ wa kullu syai in kaainun aroodah
33.    Wa in yakun bidhiddihii qod amaroo ۞ fal qoshdu ghoirul amri fathrohil miroo
34.    Faqod ‘alimta arba’an aqsaamaa ۞ fil kaainaati fahfadhil maqoomaa
35.    Kalaamuhu wassam’u wal ibshooru ۞ fahwal ilaahul faa’ilul mukhtaaru
36.    Wawajibun ta’liqudzi shifaati ۞ hatman dawaaman maa ‘adal hayaati
37.    Fal ‘ilmu jazzman wal kalaamus saamii   ۞ ta’allaqoo bisaairil aqsaami
38.    Waqudrotun iroodatun ta’allaqoo ۞ bil mumkinaati kullihaa akhottuqoo
39.    Wajzim bianna sam’ahu wal bashoroo ۞ ta’allaqoo bikulli maujuudin yuroo
40.    Wakulluhaa qodiimatun bidzaati ۞ li annahaa laisat bighoiridzaati
41.    Tsummal kalaamu laisa bil huruufi ۞ wa laisa bit tartiibi kalmakluufi
42.    Wa yastahiilu dhiddu maa taqoddamaa ۞ minash shifaati syaamikhooti fa’lamaa
43.    Liannahu laulam yakun maushuufaa  ۞ bihaa likaana bissiwaa ma’ruufaa
44.    Wakullu man qooma bihi siwaahaa ۞ fahwal ladzii fiil faqri qod tanaahaa
45.    Wal waahidul ma’buudu laa yaftaqiru ۞ lighoirihii jallal ghoniil muqtadiru

Bayaanul Jaaizi fii haqqihi ta’aalaa
46.    Wajaaizun fii haqqihil iijaadu ۞ wattarqu wal isyqoou wal is’aadu
47.    Wa man yaqul fi’lish sholaahi wajabaa ۞ ‘alal ilaahi qod asaa al adabaa
48.    Wajzim akhii birukyatil ilaahi ۞ fii jannatil khuldi bilaa tanaahii
49.    Idzil wuquu’u jaaizun bil ‘aqli ۞ waqod ataa fiihi daliilun naqli

Bayaanul waajibi fii haqqir rusuli
50.    Washif jamii’ar rusli bil amaanah ۞ washidqi wattabliighi wal fathoonah
51.    Wa yastahiilu dhidduhaa ‘alaihim ۞ wajaaizun kal akli fii haqqihimi
52.    Irsaaluhum tafadholun warohmah ۞ lil’aalamiina jalla muuliin ni’mah

Bayaanu maa yajibu’ tiqooduhu
53.    Wa yalzamul iimaanu bil hisaabi ۞ wal hasyri wal ‘iqoobi watsawaabi
54.    Wannasyri washiroothi wal miizaani ۞ wal haudhi wanniirooni wal jinaani
55.    Wal jinni wal amlaaki tsummal ambiyaa ۞ wal huuri wal wildaani tsummal auliyaa
56.    Wa kullumaa jaa a minal basyiiri ۞ min kulli hukmin shooroka dhoruuri

Khootimatun
57.    Wa yanthowi fii kilmatil islaami ۞ maa qod madhoo min saairil ahkaami
58.    Fa aktsiron min dzikrihaa bil adabi ۞ tarqoo bihaadza dzikri a’lar rutabi
59.    Wa ghollibil khoufa ‘alar rojaa i ۞ wasir limaulaaka bilaa tanaai

Bayaanu wujuubit taubati
60.    Wa jaddidit taubata lil auzaari ۞ laa taiasan min rohmatil ghoffaari
61.    Wakun ‘alaa aalaa ihii syakuuroo ۞ wakun ‘alaa balaa ihii shobuuroo
62.    Wakullu amrin bil qodhooi wal qodar ۞ wakullu maqduurin famaa ‘anhu mafar
63.    Fakun lahu musalliman kai taslamaa ۞ watba’ sabiilan naasikiinal ‘ulamaa
64.    Wa khollishil qolba minal aghyaari ۞ bil jiddi wal qiyaami fil ashaari
65.    Wal fikri wadzikri ‘alad dawaami ۞ mujtaniban lisaairil atsaami
66.    Murooqiban lillahi fil ahwaali ۞ litartaqii ma’aalimal kamaali
67.    Waqul bidzullin robbi laa taqtho’nii ۞ ‘anka biqoothi’in wa laa tahrimnii
68.    Min sirrikal abhal muziili lil ‘ama ۞ wakhtim bikhoirin yaa rohiimar ruhamaa
69.    Walhamdulillahi  ‘alal itmaami ۞ wa afdholush sholaati wassalaami
70.    ‘alannabiyyil haasyimiyyil khootami ۞ wa aalihi washohbihil akaarimi

TAMAT
Wallohu a’lamu bishshowaab

METODE PENDEKATAN PEMBELAJARAN IPS

kegiatan belajar mengajar
Melihat kondisi saat ini tentang Pembelajaran IPS di Sekolah dan Madrasah, pembelajaran IPS dimaknai hanya sebagai tranfer ilmu pengetahuan dan belum menjadi bagian dari upaya internalisasi sikap, nilai, dan norma dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 
Pembelajaran IPS pada umumnya dianggap mata pelajaran yang mudah dan kurang penting dibandingkan mata pelajaran lainnya, seperti matematika dan IPA. Anggapan ini semakin dipupuk oleh kebijakan yaitu IPS tidak dimasukan dalam Ujian Nasional. Bukan berarti IPS perlu dimasukan dalam mata ujian nasional, namun kebijakan Ujian Nasional tersebut berdampak negatif terhadap kurangnya perhatian siswa, guru, dan masyarakat terhadap mata pelajaran IPS.
Selama ini mata pelajaran IPS banyak diajarkan dengan metode ceramah, dan satu arah. Guru terbiasa menggunakan metode ceramah dan kurang memanfaatkan metode yang lebih interaktif. Akibatnya siswa kurang tertarik terhadap pelajaran IPS. Hal ini dikarenakan guru kurang memahami teori dari metode pendekatan pembelajaran IPS.
Oleh karena itu, kelompok kami akan membahas tentang metode pendekatan pembelajaran IPS.

A.    Pengertian Metode Mengajar
Kata metode berasal dari bahasa latin yaitu “methodo” yang berarti “jalan”. Sedangkan secara istilah metode adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai yang diharapkan.

Winarno Surachmad (1976:76), menyatakan bahwa metode adalah cara yang didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.
 Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa, metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif.

B.    Kriteria Menentukan Metode Pembelajaran
Menurut Husein Akhmad, dkk (1981:58), seorang guru IPS dalam memilih metode hendaknya memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinnya.

Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Pengajar (guru)
Seorang guru dalam memilih metode hendaknya mempertimbangkan pengetahuan yang dikuasai, pengalaman mengajar, dan personalitas yang dimiliki. Personalitas yang cocok dengan siswa akan mendorong kegiatan belajar, karena terbinanya sarana komunikasi yang efektif.
2.    Siswa
Cara-cara yang dipilih guru hendaknya memperhitungkan lingkungan siswa dari mana dia berasal, tingkat intelektual dan latar belakang siswa, pengalaman praktik siswa serta lingkungan dan budaya siswa.
3.    Tujuan yang akan dicapai
Tujuan yang akan dicapai merupakan pedoman bagi guru dalam memilih bahan yang akan disajikan dan memikirkan metode apa yang paling efektif.
4.    Materi/bahan
Materi itu memiliki karakteristik yang berbeda-beda, karenanya menuntut cara mengajar yang serasi dengan materi tersebut. Metode untuk materi yang bersifat abstrak akan berbeda dengan metode untuk materi yang bersifat konkrit.
5.    Waktu
Masalah waktu harus diperhatikan dalam memilih metode antara lain : waktu untuk persiapan, waktu yang tersedia untuk mengajar, waktu yang menunjukan saat mengajar apakah mengajar pagi hari, siang hari atau sore hari.
6.    Fasilitas yang tersedia
Fasilitas yang tersedia akan menunjukan seberasa jauh orang dapat leluasa dalam memilih metode pembelajaran. Setelah guru memilih metode yang tepat bagi suatu materi tertentu, hendaknya metode tersebut dijadikan sebagai alat untuk menyajikan bahan pelajaran dan sekaligus sebagai alat bantu siswa untuk mempermudah proses belajar mengajar.

C.    Macam-macam metode pendekatan pembelajaran IPS

1.    Metode Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray)
Metode Dua Tinggal Dua Tamu merupakan salah satu teknis pembelajaran cooperative learning. Metode ini memberi kesempatan pada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lain. 
Metode ini dapat diterapkan pada materi perkembangan teknologi (produksi, komunikasi, dan transportasi.
Langkah-langkahnya adalah :
  • Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
  • Setelah selesai, dua orang dalam masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke dua kelompok yang lain.
  • Dua orang yang tinggal dalam kelompokbertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka kepada tamu mereka.
  • Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
  • Kelompok mencocokan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
2.    Metode Karyawisata
Metode karyawisata dapat dilaksanakan dengan mengadakan perjalanan dan kunjungan yang hanya beberapa jam saja ketempat atau daerah yang tidak begitu jauh dari sekolah.
Metode ini dapat diterapkan pada materi tentang lingkungan alam dan lingkungan buatan.
Langkah-langkah metode karyawisata :
  • Tahap persiapan, meliputipersiapan materi atau topik karyawisata, persiapan teoritis, perlengkapan, dan aspek-aspek lain yang menunjang pelaksanaan karyawisata.
  • Tahap pelaksanaan karyawisata dilapangan
  • Tindak lanjutan pelaksanaan karyawisata (setelah kembali ketempat).
3.    Metode Role Playing (bermain peran)
Metode Role Playing adalah salah satu bentuk permainan pendidikan yang dipakai untuk menjelaskan peranan, sikap tingkah laku, nilai dengan tujuan menghayati perasaan, sudut pandang, dan cara berfikir orang lain.
Metode ini dapat diterapkan pada materi Kedudukan dan peranan anggota dalam keluarga dan lingkungan tetangga.
Langkah-langkah role playing :
a)    Pemanasan (pengatur serta pembahasan cerita dari guru)
b)    Memilih siswa yang akan berperan
c)    Menyiapkan penonton yang akan mengobservasi
d)    Mengatur panggung atau ruang
e)    Permainan
f)    Diskusi dan evaluasi
4.    Metode Simulasi
Istilah simulasi berasal dari kata “simulate” yang berarti pura-pura dan “simulation” yang berarti tiruan atau perbuatan yang hanya pura-pura. Sebagai metode mengajar, simulasi diartikan sebagai suatu usaha untuk memperoleh pemahaman akan hakikat dari suatu konsep prinsip atau suatu ketrampilan tertentu melalui proses kegiatan atau latihan dalam situasi tiruan.
Metode ini dapat diterapkan pada materi kegiatan jual beli.
5.    Card Sort
Metode card sort merupakan kegiatan kolabiratif yang bisa digunakan untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang objek atau mereview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan.
Metode ini dapat diterapkan pada materi jenis-jenis pekerjaan.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
  • Guru menyiapkan card sort yang bertuliskan jenis-jenis pekerjaan
  • Guru memberikan apersepsi tentang melimpahnya sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.bisa saja guru menerangkan sekilas tentang kekayaan sumber daya alam Indonesia.
  • Selanjutnya kelas dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok diberi nama :
1)    Kelompok pantai
2)    Kelompok dataran rendah
3)    Kelompok pegunungan
4)    Kelompok perkotaan
5)    Kelompok tepian sungai
  • Guru menyampaikan cara permainannya yaitu kartu secara acak akan dibagikan kepada masing-masing kelompok. Masing-masing kelompok, sesuai dengan nama kelompoknya harus mengambil kartu yang jenis pekerjaan yang ada didaerahnya. Jika tidak terpilih, kartu harus diserahkan kepada kelompok lain. Permainan ini akan lebih baik jika masing-masing anggota kelompok dilarang berbicara apalagi meminta kelompok dari kelompok lainnya. Selain itu, masing-masing siswa hanya diperkenankan memegang kartu dalam jumlah tertentu.
  • Kemudian dievaluasi bersama dengan guru, apakah setiap siswa dalam kelompok benar mengambil jenis pekerjaan yang sesuai.
6.    Inquiri
Gulo (2002) menyatakan bahwa inquiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analisis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Sasaran utama kegiatan pembelajaran inquiri adalah (1) keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar, (2) keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran,dan (3) mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inquiri.
Metode ini dapat diterapkan pada materimengenal permasalahan sosial.
7.    Peta pemikiran
Peta pemikiran adalah salah satu teknik menggambarkan lintasan gagasan yang ada pada otak secara keseluruhan dalam satu halaman dengan menggunakan citra visual dan perangkat grafisnya.
Metode ini dapat diterapkan pada materi mengenal permasalahan sosial.
Contoh cara memetakan pikiran yang diaplikasikan untuk pemetaan masalah penelitian diawali dengan menancapkan suatu topik masalah, lalu mulai menjalar ke berbagai sudut dengan cara membuat garis dan simbol-simbol visual yang mengingatkan kita pada pengalaman di masa lalu. Dari pusat titik ikat, menyebar menjadi empat cabang, setiap cabang terdapat ranting-ranting dan seterusnya. Pada teknik menelusur dan menemukan terkesan sangat kaku dengan garis-garis tanpa ilustrasi, maka pada teknik ini simbol-simbol visual lebih kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

SM, Ismail. Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM. Semarang : RaSAIL Media Group
Universitas Muhammadiyah Purwokerto. 2012.  Modul PLPG Guru SD. Purwokerto
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media
Yani, Ahmad. 2009. Pembelajaran IPS. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia
Bahri Djamarah, Syaiful. 2012. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta : Rineka Cipta

Pengenalan Produk Syariah di Pasar Modal

Produk syariah di pasar modal antara lain berupa surat berharga atau efek. Berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM), Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.
Sejalan dengan definisi tersebut, maka produk syariah yang berupa efek harus tidak bertentangan dengan prinsip syariah.Oleh karena itu efek tersebut dikatakan sebagai Efek Syariah. Dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah disebutkan bahwa Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip – prinsip syariah di Pasar Modal. Sampai dengan saat ini, Efek Syariah yang telah diterbitkan di pasar modal Indonesia meliputi Saham Syariah, Sukuk dan Unit Penyertaan dari Reksa Dana Syariah.

 1.Saham Syariah

Secara konsep, saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan tersebut. Konsep penyertaan modal dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Prinsip syariah selain tidak mengenal riba, juga mengenal konsep saham syariah ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah.Berdasarkan analogi tersebut, maka secara konsep saham merupakan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah.Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Emiten dan Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh:

  1. Emiten dan Perusahaan Publik yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah.
  2. Emiten dan Perusahaan Publik yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usaha Emiten dan Perusahaan Publik tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi kriteria sebagai berikut:
  • kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah sebagaimana diatur dalam peraturan IX.A.13, yaitu tidak melakukan kegiatan usaha:
  1. perjudian dan permainan yang tergolong judi;
  2. perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
  3. perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu;
  4. bank berbasis bunga;
  5. perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
  6. jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian(gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional;
  7. memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI; dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat;
  8. melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah);
  • rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan total ekuitas tidak lebih dari 82%, dan
  • rasio total pendapatan bunga dan total pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha dan total pendapatan lainnya tidak lebih dari 10%.
2. Sukuk

Sukuk merupakan istilah baru yang dikenalkan sebagai pengganti dari istilah obligasi syariah (islamic bonds). Sukuk secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata ”sakk” dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Sementara itu, Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 memberikan definisi Sukuk sebagai berikut :

“Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu’/undivided share) atas: 

aset berwujud tertentu (ayyan maujudat);
nilai manfaat atas aset berwujud (manafiul ayyan) tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada;
  1. jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada
  2. aset proyek tertentu (maujudat masyru’ muayyan); dan atau
  3. kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah)”
Karakteristik Sukuk
Sebagai salah satu Efek Syariah sukuk memiliki karakteristik yang berbeda dengan obligasi. Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan bukti kepemilikan bersama atas suatu aset/proyek. Setiap sukuk yang diterbitkan harus mempunyai aset yang dijadikan dasar penerbitan (underlying asset ). Klaim kepemilikan pada sukuk didasarkan pada aset/proyek yang spesifik. Penggunaan dana sukuk harus digunakan untuk kegiatan usaha yang halal. Imbalan bagi pemegang sukuk dapat berupa imbalan, bagi hasil, atau marjin, sesuai dengan jenis akad yang digunakan dalam penerbitan sukuk.

Jenis Sukuk
Jenis sukuk berdasarkan Standar Syariah AAOIFI No.17 tentang Investment Sukuk, terdiri dari :

  1. Sertifikat kepemilikan dalam aset yang disewakan.
  2. Sertifikat kepemilikan atas manfaat, yang terbagi menjadi 4 (empat) tipe : Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset yang telah ada, Sertifikat kepemilikan atas manfaat aset di masa depan, sertifikat kepemilikan atas jasa pihak tertentu dan Sertifikat kepemilikan atas jasa di masa depan.
  3. Sertifikat salam.
  4. Sertifikat istishna.
  5. Sertifikat murabahah.
  6. Sertifikat musyarakah.
  7. Sertifikat muzara’a.
  8. Sertifikat musaqa.
  9. Sertifikat mugharasa.
3. Reksa Dana Syariah

Dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 Reksa Dana syariah didefinisikan sebagai reksa dana sebagaimana dimaksud dalam UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang pengelolaannya tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal.

Reksa Dana Syariah sebagaimana reksa dana pada umumnya merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas.
Reksa Dana Syariah dikenal pertama kali di Indonesia pada tahun 1997 ditandai dengan penerbitan Reksa Dana Syariah Danareksa Saham pada bulan Juli 1997.
Sebagai salah satu instrumen investasi, Reksa Dana Syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Perbedaan ini terletak pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Perbedaan lainnya adalah keseluruhan proses manajemen portofolio, screeninng (penyaringan), dan cleansing (pembersihan).
Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:

•    Risiko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.

Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, sukuk, dan surat berharga syariah lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut. Ini berkaitan dengan kemampuan manajer investasi reksadana dalam mengelola dananya.

•    Risiko Likuiditas

Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas sebagian besar unit penyertaan yang dipegangnya kepada Manajer Investasi secara bersamaan. dapat menyulitkan manajemen perusahaan dalam menyediakan dana tunai. Risiko ini hanya terjadi pada perusahaan reksadana yang sifatnya terbuka (open-end funds). Risiko ini dikenal juga sebagai redemption effect.

•    Risiko Wanprestasi

Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana pada umumnya kekayaan reksa dana diasuransikan kepada perusahaan asuransi. Risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksa Dana tersebut tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, wanprestasi dimungkinkan akibat dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana.

•    Risiko politik dan ekonomi

Risiko yang berasal dari perubahan kebijakan ekonomi dan politik yang berpengaruh pada kinerja bursa dan perusahaan sekaligus, sehingga akhirnya membawa efek pada portofolio yang dimiliki suatu reksadana.

Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
Jl. Lapangan Banteng Timur 1-4
Jakarta 10710

Mengenal Derivatif

Efek derivatif merupakan Efek turunan dari Efek “utama” baik yang bersifat penyertaan maupun utang.Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari Efek “utama” maupun turunan selanjutnya. Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini disebut sebagai underlying assets.

Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak finansial antara 2 (dua) atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual assets/commodities yang dijadikan sebagai obyek yang diperdagangkan pada waktu dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak pembeli.Adapun nilai di masa mendatang dari obyek yang diperdagangkan tersebut sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada di spot market. 
                

Derivatif Keuangan

Derivatif yang terdapat di Bursa Efek adalah derivatif keuangan (financial derivative).Derivatif keuangan merupakan instrumen derivatif, di mana variabel-variabel yang mendasarinya adalah instrumen-instrumen keuangan, yang dapat berupa saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata uang (currency), tingkat suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.  

Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar (pemodal dan perusahaan efek) sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai (hedging) atas portofolio yang mereka miliki.

Dasar Hukum

  1.  UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
  2.  Peraturan Pemerintah no.45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal.
  3.  SK Bapepam No. Kep.07/PM/2003 Tgl. 20 Februari 2003 tentang Penetapan Kontrak Berjangka atas Indeks Efek sebagai Efek
  4.  Peraturan Bapepam No. III. E. 1 tgl. 31 Okt 2003 tentang Kontrak Berjangka dan Opsi atas Efek atau Indeks Efek
  5.  SE Ketua Bapepam No. SE-01/PM/2002 tgl. 25 Februari 2002 tentang Kontrak Berjangka Indeks Efek dalam Pelaporan MKBD Perusahaan Efek
  6.  Persetujuan tertulis Bapepam nomor S-356/PM/2004 tanggal 18 Pebruari 2004 perihal Persetujuan KBIE-LN (DJIA & DJ Japan Titans 100)
Beberapa Jenis Produk Turunan yang diperdagangkan di BEI:

1. Kontrak Opsi Saham (KOS)

OPTION adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. Option pertama kali secara resmi diperdagangkan melalui Chicago Board Exchange (CBOE) pada tahun 1973

KOS (Kontrak Opsi Saham) adalah Efek yang memuat hak beli (call option) atau hak jual (put option) atas Underlying Stock (saham perusahaan tercatat, yang menjadi dasar perdagangan seri KOS) dalam jumlah dan Strike Price (harga yang ditetapkan oleh Bursa untuk setiap seri KOS sebagai acuan dalam Exercise) tertentu, serta berlaku dalam periode tertentu.

Call Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut.Sebaliknya, Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut.

Opsi tipe Amerika memberikan kesempatan kepada pemegang opsi (taker) untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo.Sedangkan Opsi Eropa hanya memberikan kesempatan kepada taker untuk meng-exercise haknya pada saat waktu jatuh tempo.
2. KONTRAK BERJANGKA INDEKS EFEK (KBIE)

 1). LQ45 Futures

Kontrak Berjangka atau Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu underlying (dapat berupa indeks, saham, obligasi, dll) di masa mendatang.Kontrak indeks merupakan kontrak berjangka yang menggunakan underlying berupa indeks saham.

LQ45 Futures menggunakan underlying indeks LQ45, LQ45 telah dikenal sebagai benchmark saham-saham di Pasar Modal Indonesia. Di tengah perkembangan yang cepat di pasar modal Indonesia, indeks LQ45 dapat menjadi alat yang cukup efektif dalam rangka melakukan tracking secara keseluruhan dari pasar saham di  Indonesia.
2). Mini LQ45 Futures

  • Mini LQ45 Futures adalah kontrak yang menggunakan underlying yang sama dengan LQ45 Futures yaitu indeks LQ45, hanya saja Mini LQ45 Futures memiliki multiplier yang lebih kecil (Rp 100 ribu / poin indeks atau 1/5 dari LQ45 Futures) sehingga nilai transaksi, kebutuhan marjin awal, dan fee transaksinya juga lebih kecil.
  • Produk Mini LQ45 Futures ditujukan bagi investor pemula dan investor retail yang ingin melakukan transaksi LQ45 dengan persyaratan yang lebih kecil. Dengan demikian Mini LQ45 dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran investor retail yang baru akan mulai melakukan transaksi di indeks LQ45
3). LQ45 Futures Periodik
Kontrak yang diterbitkan pada Hari Bursa tertentu dan jatuh tempo dalam periode Hari Bursa tertentu.
4). Mini LQ45 Futures Periodik
Kontrak yang diterbitkan pada Hari Bursa tertentu dan jatuh tempo dalam periode Hari Bursa tertentu.
5). Japan (JP) Futures

Produk ini memberikan peluang kepada investor untuk melakukan investasi secara global sekaligus memperluas rangkaian dan jangkauan produk derivatif BEI ke produk yang menjadi benchmark dunia. Dengan JP Futures memungkinkan investor menarik manfaat dari pergerakan pasar jepang sebagai pasar saham paling aktif setelah pasar AS.

Lirik Mars dan Dirgahayu PGRI

Lirik Mars dan Dirgahayu PGRI

Lirik Mars PGRI

PGRI abadi
Tetap mempersatukan diri
Dengan nama nan sentosa
Lahir Negara kita

Wahai kaum guru semua
Bangunlah rakyat dari glita
Kitalah penyuluh bangsa
Pembimbing melangkah ke muka

Insyaflah kan kewajiban kita
Mendidik mengajat praputra
Kitalah pembangun jiwa
Pencipta kekuatan negara

Lirik Mars dan Dirgahayu PGRI
Lirik Mars dan Dirgahayu PGRI


Lirik Dirgahayu PGRI

Bagai secercah cahaya
Bagai sebutir embun
Di kala alam gelap bumi gersang

Pewujud mimbar cendekia
pembukti karya mulia
Bagi Bangsa Negara
Indonesia bahagia

Oh… Tuhan berkatilah dia
Oh… Tuhan lindungilah dia

Dirgahayu PGRI
Dirgahayulah dikau
Dirgahayu slamanya