Arsip Kategori: Artikel

Agregat Tanah

Agregat Tanah – Tanah secara umum tersusun oleh senyawa anorganik, senyawa organik, udara, dan air serta mengandung bagian yang terbentuk jasad hidup yang secara umum terdiri dari mikroorganisme. Mikroba tanah terdiri dari bakteri, jamur dan mikroalgae. Sifat-sifat tanah bergantung pada besar kecilnya partikel-partikel yang merupakan komponen-komponen tanah tersebut; misalnya, tanah pasir berbeda dengan tanah liat dalam hal kemampuan menahan air, kemampuan mengurung udara, dan karenanya juga berbeda dalam hal menahan panas. Komponen-komponen anorganik maupun organik tanah merupakan substrat ataupun medium yang baik bagi kehidupan mikroorganisme ( Dwidjoseputro, 2003).

Tanah terdiri atas beberapa lapisan, lapisan pertama yang merupakan lapisan teratas disebut sebagai lapisan O, yaitu lapisan yang kaya akan bahan organik. Di bawah lapisan O terdapat lapisan A. Lapisan A terdiri dari komposisi mineral dan bahan organik terdekomposisi. faktor-faktor lingkungan dan aktivitas organisme, memiliki sifat kaya akan nutrien dan cukup oksigen sehingga lapisan ini selalu mengalami pelapukan. Lapisan dibawah lapisan A adalah lapisan E, yaitu lapisan ini mengalami pengkayaan mineral yang berasal dari penindihan mineral. Di bawahnya disebut lapisan B yang memiliki cukup mineral, senyawa organik dan karbonat sebagai akibat dari pencucian dan pelapukan lapisan di atasnya. Lapisan selanjutnya adalah lapisan C. Lapisan ini dicirikan dengan mineral-mineral yang tidak mengalami pelapukan dan terletak di atas batuan induk (Irianto,2002).

Agregat merupakan kumpulan pasir, pasir halus, tanah liat serta partikel organik seperti sel mikroba sendiri yang menggumpal karena adanya gum, polisakarida atau metabolit lainnya yang disekresi mikroba. Agregat yang dibentuk sangat ditentukan oleh batuan induk penyusunnya, iklim dan aktivitas biologis yang berlangsung dilingkungan tersebut. Agregat tanah yang terbentuk ditentukan oleh batuan induk penyusunnya, iklim, dan aktivitas biologi yang langsung di lingkungan tersebut. Distribusi materi pasir, pasir halus (slit) dan tanah liat merupakan tekstur tanah, sedangkan tekstur tanah menunjukkan sifat agregat (Irianto, 2002).

Menurut Tate (1995), agregat tanah dihasilkan dari interaksi komunitas mikrobial tanah, mineral tanah, tumbuh-tumbuhan alami yang jatuh ke tanah, dan ekosistem yang terkombinasi acak pada organik tanah dan komponen mineral yang berkumpul ke dalam mikroagregat (diameter < 50 μm) dan makroagregat (diameter > 50 μm). Menurut Lawton (1955), peranan agregat bagi ekosistem tanah adalah untuk mikroba sendiri, mikroagregat tanah dapat melindungi mikroba terutama bakteri dari protozoa pemangsa, selain itu interaksi yang menguntungkan (simbiosis mutualisme) diantara mikroorganisme. Budiyanto (2002), menambahkan agregat tanah juga berperan dalam pengontrol kandungan unsur hara tanah, menjaga stabilitas tanah dan aerasi. Beberapa contoh jamur yang berperan penting dalam proses pembentukan agregat tanah adalah Aspergillus sp., Fusarium sp., Phytium dan Actinomycetes. Sedangkan beberapa bakteri yang berperan dalam proses agregat tanah yaitu Bacillus sp., Clostridium sp., dan Pseudomonas sp.

Penambahan suspensi jamur menghasilkan tekstur tanah yang cukup padat, keras dan mampu membentuk agregat yang lebih luas dibandingkan penambahan suspensi bakteri. Buckman dan Brady (1982), menyatakan bahwa peranan jamur berfilamen dalam tanah lebih penting dibanding bakteri. Jamur berfilamen ini berperan dalam pembentukan humus, kemantapan agregat dan aerasi tanah. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Pelczar and Chan (1988), menyatakan bahwa suspensi jamur menghasilkan tekstur tanah yang lebih keras dibandingkan penambahan suspensi bakteri, hal ini dikarenakan jamur memiliki filamen dan mampu menghasilkan enzim ekstraseluler atau metabolit lain, sehingga tekstur tanah menjadi keras. Tate (1995) menambahkan bahwa jamur mempunyai kemampuan mensintesis eksopolisakarida dan humus.

Sotedjo et al., (1991), menyatakan bahwa konsorsia mikroba dalam membentuk agregat tanah melibatkan jamur. Jamur merupakan golongan terpenting dalam populasi tanah, tersebar secara luas, bentuk-bentuk tertentu merupakan karakteristik dari suatu tipe tanah sebagai medium alami bagi perkembangannya. Keberadaan jamur dalam tanah merupakan miselium vegetatif dan spora-spora. Buckman dan Brady (1982), jamur paling cepat menyesuaikan diri dengan keadaan, dan paling tahan dibanding golongan lain karena selulosa, tepung getah, lignin, maupun protein dan gula mudah tersedia baginya.

Menurut Irianto (2002), mikroba yang dapat membentuk agregat tanah terdiri dari kelompok jamur dan bakteri gram positif dan gram negatif, diantaranya yaitu Azotobacter chroococcum (penghasil polisakarida) dan Mucor hiemalis. Sedangkan golongan jamur yang dapat membentuk agregat tanah adalah penicillium dan Aspergillus terutama dalam komposisi bahan organik, beberapa spesies Peicillium mampu memproduksi antibiotik, serta beberapa mikoriza berinteraksi mutualistik denagna tumbuhan. Caesar dan Cochran (2001), menambahkan golongan jamur Basidiomycetes yang bersifat sabroba juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan stabilitas pembentukan agregat tanah.

Proses pembentukan agregat tanah melibatkan organisme seperti benang-benang hifa pada jamur yang mampu mengikat partikel tanah dengan partikel lain. Organisme juga memproduksi sejumlah bahan kimia/asam-asam yang dapat merekatkan tanah. Pertumbuhan struktur miselium akan semakin meningkat apabila semakin lama waktu inkubasi. Hal ini akan berdampak pada semakin mantapnya pembentukan agregat tanah. Struktur miselium yang terdapat pada jamur serta polisakarida memiliki pengaruh dalam memantapkan agregat tanah.

Polisakarida ternyata mengandung gkukosa, rhamnosa, manosa, glukosamin dan asam 4-0-metil-glukoronat sebagi komponen utama. Diantara karbohidrat yang diisolasi dari tanah, diketahui bahwa dekstran yang mengandung adam uronat dalam jumlah yang besar dan resisten terhadap degradasi mikroba ternyata memiliki kualitas tertinggi dalam membentuk agregrat tanah (Rao, 1994).

Bakteri mampu mengeluarkan suatu polisakarida berupa lendir yang berfungsi sebagai gum (perekat) dan metabolit lain untuk membentuk agregat tanah. Sedangkan jamur/kapang dari struktur tubuhnya berupa hifa mampu mengikat partikel tanah untuk membentuk agregat tanah (Anas, 1989). Bakteri gram positif dan negatif memiliki perilaku berbeda dalam menghuni agregat. Bakteri gram positif cenderung menempati bagian luar mikroagregat karena lebih kering, sedangkan bakteri gram negatif cenderung berada pada bagian dalam karena lebih lembab (Irianto, 2002).

Agregat tanah dalam proses pembentukannya tidak lepas dari proses organik yang bersifat tidak spesifik (zat yang dihasilkan umum). Komponen biotik berperan dalam menjalankan proses dan menghasilkan zat yang tidak spesifik (Schnitzer, 1978). Pembentukan agregat tanah disebabkan oleh partikel koloid bermuatan listrik negatif, sehingga molekul-molekul air dipolar akan terabsorbsi ke permukaan liat.

Rantai molekul air secara otomatis dapat merangkai koloid liat bersama-nama dengan kation. Kelompok bahan koloid tanah (bahan perekat) dalam proses pembentukan agregat tanah yaitu: mineral-mineral liat, oksida-oksida besi, dan mangan yang bersifat koloid dan bahan organik koloidal, termasuk gum yang dihasilkan oleh aktivitas-aktivitas jasad renik. Agregasi hakekatnya dipengaruhi oleh kegiatan mikroba-mikroba dalam tanah dan juga dibantu oleh sejumlah bahan organik (Hakim, 1986). Kemampuan suatu organisme tanah dalam membentuk agregat tanah menurut Irianto (2002) spesifik sesuai jenis dan organismenya. Faktor-faktor yang menentukan terbentuknya agregat tanah misalnya batuan induk penyusun tanah, iklim dan aktivitas biologi dalam tanah (Hakim, 1986).

Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah, yang disebabkan akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah akan berakibat terhadap penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran tanaman dan mikroorganisme tanah. Penurunan ketiga agen pengikat agregat tanah tersebut selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah dan menyebabkan terbentuknya kerak di permukaan tanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering (Suprayogo et al., 2005).

Menurut Reichert & Norton (1994) menyatakan bahwa pembasahan lambat menghasilkan pengrusakan agregat yang kecil, dan menggambarkan kondisi pembasahan alami melalui proses kapilaritas air tanah. Lebih lanjut dikatakan bahwa semakin lebar selisih dari kedua pembasahan mencerminkan kepekaan tanah terhadap erosi permukaan. Menurut Yusmandhany (2001), untuk meningkatkan stabilitas agregat tanah dan memperbaiki kemantapan agregat tanah, perlu ditambahkan aktivitas biologis tanah dan biofertilizer seperti unsur N, P, dan K dalam tanah. Seperti bakteri Azotobacter beijerinckii sebagai pemantap agregat tanah, Aeromonas punctata pelarut P dan K, Aspergillus niger untuk pelarut P, dan Azospirillum lipoverum sebagai penambat N dari udara.

Menurut Handayani dan Sunarminto (2002), menyatakan penentuan stabilitas agregat dengan metode penyaringan pembasahan dilakukan dengan 3 metode yaitu:

  1. Pembasahan lambat. Agregat kering diletakkan di atas kertas saring kemudian ditaruh diatas bed pasir basah samapi diperoleh kondisi jenuh (15-30 menit).
  2. Pembasahan cepat. Agregat kering langsung diletakkan dalam air dan dibiarkan ± 10-15 menit.
  3. Pembasahan alkohol, agregat kering dibuat kondisi jenuh dengan alkohol secara perlahan-lahan. Pembasahan dapat melalui kertas saring.

Anas, I. 1988. Biologi Tanah dalam Praktek. Pusat Antar Universitas Biotek IPB, Bogor.

Buckman, H. O. dan N. C. Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.

Budiyanto, M. A. 2002. Mikrobiologi Terapan. UMM, Madang.

Caesar T. C. dan V. L. Cochron. 2008. Role of Sabrophytic Basidiomycete Soil Fungus in Agrégate Stabilization. Agricultural Research Laboratory, Sydney.

Dwidjoseputro, D. 1993. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan, Jakarta.

Hakim, N. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung Press, Lampung.

Handayani, S dan Sunarminto, B. H. 2002. Kajian Sruktural Tanah Lapis oleh Agihan ukuran dan Disperditas Agregat. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 3 (1) : 10-17.

Irianto, A. 2002. Mikrobiologi Lingkungan. Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta.

Lawton, K. 1955. Chemical Composition of Soil. Reinhold Pulb, N. Y.

Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan. 1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi 2. UI Press, Jakarta.

Rao, N. S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. UI Press, Jakarta.

Reichert, J.M. & L.D. Norton. 1994. Aggregate stability and rain-impacted sheet erosion of air-dried and prewetted clayey surface soils under intense rain. Soil Sci. 158: 159-169.

Schnitzer, M. 1978. Soil Organic Matter. Elsevier Scientific publishing Company, Amsterdam.

Sutedjo, M. M. dan Kartasaputro, A. G. 1988. Pengantar Ilmu Tanah. PT Bima Aksara, Jakarta.

Suprayogo, D., Widianto, P. Purnomosidi, R. H. Widodo, F. Rusiana, Z. Z. Aini, N. Khasanah, dan Z. Kusuma. 2005. Degradasi Sifat Fisik Tanah Sebagai Akibat Alih Guna Lahan Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang.

Tate, R. L. 1995. Soil Microbiology. John Wiley and Sons,Inc, New Jersey.

Yusmandhany, E. S. 2001. Teknik Pemberian Biofertilizer Emas pada Tanah Podsolik (Ultisols) Rangkasbitung. Buletin Teknik Pertanian Vol. 7, Nomor 1, 2001.

PENYAKIT BULAI PADA JAGUNG

Penyakit bulai pada jagung masih mendominasi penyebab kegagalan panen pada pertanaman jagung. Akhir-akhir ini banyak dilaporkan terjadinya ledakan penyakit bulai pada tanaman jagung seperti yang terjadi di Kediri (Jawa Timur), Simalungun (Sumatera Utara) , dan Bengkayang (Kalimantan Barat). Penyakit bulai yang sudah mewabah akan menyebabkan kehilangan hasil minimal 30 % bahkan tanaman tidak akan menghasilkan sama sekali. 
Penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh cendawan jenis Peronosclerospora sp. sangat merusak pertanaman jagung di Indonesia. Penyakit ini dilaporkan dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 100 % pada varietas yang rentan. Pada fase vegetatif (0 – 14 hari setelah tanam) adalah masa riskan pada tanaman jagung diserang bulai. Di Indonesia ada 2 jenis cendawan yang dapat menyebabkan penyakit bulai yaitu P. maydis (Rac.) Shaw di Jawa dan P. philippinensis (Westo Shaw di Minahasa. Namun pada tahun 2003 telah ditemukan P. sorghi di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara.
Salah satu kendala dalam usahatani jagung di lahan kering maupun lahan rawa pasang surut dan lahan lebak di Kalimantan Selatan adalah penyakit bulai yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis. Pada musim hujan maupun kemarau, penyakit ini selalu menyerang pertanaman jagung di daerah Kalimantan Selatan. Dengan demikian penyakit bulai ini merupakan penyakit utama tanaman jagung di Kalimantan.Selatan

Gejala penyakit bulai 

  1. Ada bercak berwarna klorotik memanjang searah tulang daun dengan batas yang jelas.
  2. Adanya tepung berwarna putih pada bercak tersebut (terlihat lebih jelas saat pagi hari).
  3. Daun yang terkena bercak menjadi sempit dan kaku.
  4. Tanaman menjadi terhambat petumbuhannya bahkan bisa tak bertongkol.
  5. Tanaman muda yang terserang biasanya akan mati (umur tanaman dibawah 1 bulan).
  6. Kadang-kadang terbentuk anakan yang banyak, daun menggulung dan terpuntir 
Gejala yang disebabkan P. philippinensis berbeda dengan P. maydis daun berklorotik cenderung lebih bergaris-garis, Batang sangat kurang memanjang sehingga tanaman sering berbentuk kipas. 
Pada waktu permukaan daun berembun, miselium membentuk konidiofor yang keluar melalui mulut kulit. Dari satu mulut kulit dapat keluar satu konidiofor atau lebih. Mula-mula konidiofor berbentuk batang,dan segera membentuk cabang-cabang dikotom, yang maing-masing membentuk cabang lagi. 
Penyakit bulai dapat menimbulkan gejala sistemik yang meluas keseluruh badan tanaman dan dapat menimbulkan gejala lokal (setempat). Ini tergantung dari meluasnya cendawan penyebab penyakit di dalam tanaman yang terinfeksi. Gejala sistemik hanya terjadi bila cendawan dari daun yang terinfeksi dapat mencapai titik tumbuh sehingga dapat menginfeksi semua daun yang dibentuk oleh titik tumbuh itu. Pada tanaman yang masih muda, daun-daun yang baru saja membuka mempunyai bercak klorotis kecil-kecil. 
Bercak ini akan berkembang menjadi jalur yang sejajar dengan tulang induk, sehingga cendawan penyebab penyakit berkembang menuju kepangkal daun.Pada umumnya daun di atas daun yang berbecak itu tidak bergejala. Daun-daun yang berkembang sesudah itu mempunyai daun klorotis merata atau bergaris-garis. Di waktu pagi haripada sisi bawah daun terdapat lapisan beledu putih yang terdiri dari konidiofordan konidium. Konidium yang masih muda berbentuk bulat, dan yang sudah masak dapat menjadi jorong, dengan ukuran 12 – 19 x 10 – 23 μm dengan rata-rata 19,2 x 17,0 μm untuk P. maydid sedangkan untuk P. philippinensis ukuran konidiofornya 260 – 580 μm, konidiumnya berukuran 14 – 55 x 8 – 20 μm dengan rata-rata 33,0 x 13,3 μm. Adanya benang-benang cendawan dalam ruang antarselnya maka daun-daun tampak kaku, agak menutup, dan lebih tegak. 
Tanaman waktu terinfeksi masih sangat muda, biasanya tanaman tidak membentuk buah, tetapi bila terjadi pada tanaman yang lebih tua tanaman dapat tumbuh terus dan membentuk buah. Buah yang terbentuk sering mempunyai tangkai yang panjang, dengan kelobot yang tidak menutup pada ujungnya, dan hanya membentuk sedikit biji. Bila cendawan didaun terinfeksi pertama kali tidak dapat mencapai titik tumbuh, gejala hanya terdapat pada daun-daun sebagai garis-garis klorotik, yang disebut juga sebagai gejala lokal (Semangun,1968 dalam Semangun, 2004).

Siklus hidup :

Cendawan tidak dapat bertahan hidup secara saprofitik, tidak terdapat tanda-tanda bahwa cendawan bertahan dalam tanah.Pertanaman dibekas pertanaman yang terserang berat oleh bulai dapat sehat sama sekali. Oleh karena itu cendawan harus bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup.

Epidemiologi :

Pembentukan konidia jamur ini menghendaki air bebas, gelap, dan suhu tertentu, P. maydis di bawah suhu 24 oC, P. philippinensis 21-26 oC. Ada beberapa faktor yang mendorong percepatan perkembangan penyakit bulai yaitu, suhu udara yang relatif tinggi yang disertai kelembaban tinggi.

Tanaman Inang :

Beberapa jenis serealia yang dilaporkan sebagai inang lain dari patogen penyebab bulai jagung adalah Avena sativa (oat), Digitaria spp. (jampang merah), Euchlaena spp. (jagung liar), Heteropogon contartus, Panicum spp.(millet, jewawut), Setaria spp.(pokem/seperti gandum), Saccharum spp.(tebu), Sorghum spp., Pennisetum spp. (rumput gajah), dan Zea mays (jagung).

Komponen pengendalian penyakit bulai pada jagung ada lima yaitu :

  1. perlakuan fungisida metalaksil pada benih jagung 
  2. menanam varietas jagung tahan penyakit bulai; 
  3. eradikasi tanaman jagung terserang penyakit bulai; 
  4. penanaman jagung secara serempak dan 
  5. periode bebas tanaman jagung 
Dari 10 varietas jagung yang diuji ketahanannya, varietas/galur BISI-8-16, BMD-2 dan BIMA-3 memiliki persentase serangan penyakit bulai yang terendah yaitu berturut-turut 1,5; 6,5 dan 12,0%. Sedangkan ketujuh varietas jagung lainnya memiliki persentase serangan penyakit bulai lebih tinggi berkisar antara 18,5-59,5%. 
Pada percobaan lain dengan ditingkatkannya pemberian fungisida saromil ternyata pemberian seromil tidak berpengaruh terhadap serangan penyakit bulai pada tanaman jagung, di mana dengan ditingkatkan pemberian dosis seromil justru dapat meningkatkan serangan penyakit bulai. Hal ini diduga pemberian fungisida tidak efektif lagi karena varietas jagung yang ditanam memang memiliki ketahanan yang sangat rendah terhadap serangan penyakit bulai. 
Dilihat dari Tabel 3 dan 4 bahwa di Kab. Bengkayang (Kal-Bar) penggunaan fungisida saromil untuk seed treatment sudah tidak effektif lagi, walaupun dengan meningkatkan dosis fungisida.Ini berarti bahwa cendawan yang menyebabkan penyakit bulai di daerah ini sudah resisten. 

PENYAKIT BULAI DI SULAWESI SELATAN

Sulawesi selatan (Kab. Maros dan Sidrap) serangan penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh cendawan P. maydis karena setelah dilihat di mikroskop konidiumnya berbentuk bulat , yang membuktikan bahwa pathogen bulai yang menyerang tanaman jagung masih tetap sama yaitu P. maydis.
Evaluasi ketahanan calon hibrida QPM terhadap serangan bulai pada musim hujan 2008/2009 di Maros ada enam entri F1 yang menunjukan serangan bulai lebih rendah dari Anoman (59%) yakni MSQ.K1CO.8-1-1 x Mr14Q, Mr4Q x Mr14Q, MSQ.K1CO.45-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.61-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.76-1-1 x Mr14Q, MSQ.K1CO.153-1-1 x Mr14Q, dan CML161xCML165.
Hasil penelitian di Maros penggunaan Saromil yang berbahan aktif metalaksil sebagai seed treatment masih efektif untuk pengendalian penyakit bulai.
Hasil pengamatan terhadap serangan penyakit bulai yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis, pada saat 14 hst terlihat bahwa intensitas kerusakan dapat mencapai 25-30% pada tanam awal bulan januari dan Februari sedangkan yang terendah adalah pada saat tanam awal bulan oktober dan Nopember dengan tingkat kerusakan sekitar 2-3%. 
Adapun Gejala serangan terlihat pada permukaan daun yaitu terdapat garis-garis sejajar dengan tulang daun yang berwarna putih sampai kuning, diikuti dengan garis-garis khlorotik sampai coklat bila infeksi makin lanjut. Tanaman terlihat kerdil dan tidak berproduksi. Jamur berkembang secara sistemik sehingga bila patogen mencapai titik tumbuh, maka seluruh daun muda yang muncul mengalami khlorotik sedangkan daun pertama sampai keempat sebagian masih hijau. Ini merupakan ciri-ciri infeksi patogen melalui udara. Bila biji jagung sudah terinfeksi maka bibit muda yang tumbuh memperlihatkan gejala khlorotik pada seluruh daun sehingga tanaman cepat mati. Pada permukaan bawah daun yang terinfeksi banyak terbentuk tepung putih yang merupakan spora patogen tersebut. 
Hasil analisis data intensitas kerusakan pada pengamatan 21 hst, menunjukkan berbedaan yang sangat nyata, dimana kerusakan terendah 3,33% pada perlakuan tanam pada awal bulan Oktober, dimana pada sat ini curah hujan hanya 65 mm. Sedangkan pada perlakuan tanam awal Jbulan anuari dan Februari kerusakan dapat mencapai 60,77 % dan 67,37%. Tingginya intensitas kerusakan tanaman oleh penyakit bulai disebabkan oleh keadan curah hujan yang cukup tinggi yaitu berkisar antara 345 mm-360 mm. Dengan keadaan curah hujan yang cukup tinggi ini dapat meningkatkan kelebaban yang tinggi pula. Dengan kelembaban yang tinggi ini dapat memicu berkembangnya yang baik bagi cendawan tersebut. Karena pembentukan spora patogen membutuhkan udara yang lembab (> 90%) dan hangat pada suhu sekitar 23oC serta gelap. 
Produksi sporangia (sporulasi) sangat banyak terjadi pada malam hari antara pukul 03.00-05.00. Kemudian spora tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila spora menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam spora tersebut akan berkecambah kemudian menginfeksi daun melalui stomata. Penyebaran penyakit bulai ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, dengan kerugian yang diakibatkannya mencapai 100% (Sudjadi, 1988). Begitu juga dengan pengamatan pada 28 hst serangan penykit bulai selalu meningkat terutanam pada perlakuan tanam awal bulan Desember, awal Januari dan awal Februari, masing-masing dengan intensitas kerusakan 60,60%, 98,50% dan 99,80%. (Tabel). Tingginya intensitas kerusakan tanaman jagung oleh penykit bulai ini disebabakan oleh adanya faktor pendungkung terutama keadaan curah hujan yang tinggi dan hujan sering terjadinya pada malam hari sehingga dapat meningkatkan kelembaban yang tinggi sehingga perkembangan penyakit bulai juga meningkat. Sudjadi (1988) melaporkan bahwa pembentukan spora patogen membutuhkan udara yang lembab (> 90%) dan hangat pada suhu sekitar 23oC serta gelap. 
Produksi sporangia (sporulasi) sangat banyak terjadi pada malam hari antara pukul 03.00-05.00. Hal ini sesuai dengan Asikin (2002 dan 2003), melaporkan bahwa cuhan hujan yang tinggi sangat membantu perkembangan dari sporan dari penyakit bulai ini yang terjadi didaerah pasang surut dan lebak. Kemudian spora tersebar oleh tiupan angin di pagi hari sampai beberapa kilometer dan bila spora menempel pada daun jagung muda yang basah maka dalam waktu satu jam spora tersebut akan berkecambah kemudian menginfeksi daun melalui stomata. 
Penyebaran penyakit bulai ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti di wilayah lahan rawa (rawa pasang surut dan lebak) dengan kerugian yang diakibatkannya mencapai 100%. Penyebab meningkatnya serangan penyakit bulai tersebut selain faktor curah hujan dan kelembaban disebabkan jugaoleh faktor varietas yang sudah rentan, penanaman jagung berkesenambungan. 
Hal ini terbukti bahwa pada lokasi penelitian tersebut merupakan lahan yang terus-menerus selalu ditanami jagung atau monokultur jagung. Penyakit bulai tersebut dapat hidup pada inang seperti jenis teki dan rerumputan lainnya yang ada disekitar lokasi penelitian tersebut. Dan selin itu juga penyakit bulai ini dapat bertahan pada bekas atau tunggul-tunggul dari batang jagung tersebut untuk sementara. Tetapi pada saat yang menguntungkan seperti curah hujan dan kelembaban yang mulai tinggi penyakit tersebut mulai mengembangkan sporanya lagi pada inang utamanya seperti jagung.

PEMBUATAN MEDIA Potato Dextrose Agar (PDA) DAN Potato Dextrose Yeast Broth (PDYB)


  • Pembuatan
    medium PDA (Potato Dextrose Agar)
    (Ekowati et al., 2013)
Sebanyak 200 g kentang yang sudah dibuang kulitnya
dipotong dadu kecil-kecil kemudian direbus dengan 500 ml aquades dan disaring.
Agar sebanyak 15 g dicampur dengan 300 ml aquades kemudian dipanaskan. Agar
yang telah larut dalam aquades tersebut kemudian dicampur air rebusan kentang
dan ditambah 20 g dextrose. Campuran medium ditambahkan aquades hingga mencapai
volume 1000 ml. medium tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 500 ml
dan disumbat dengan kapas, kemudian di sterilisasi menggunakan autoklaf pada
suhu 121˚C dengan tekanan 2 atm selama 20 menit. Medium steril kemudian dituang
ke dalam cawan petri steril secara aseptis dan digunakan untuk peremajaan isolat
Trichoderma. 

  • Pembuatan medium PDYB (Potato Dextrose Yeast Broth) (Sudarmaji et al., 1984)

Sebanyak 200 g kentang yang sudah
dibuang kulitnya dipotong dadu kemudian direbus dengan 800 ml aquades hingga
kentang lunak. Air rebusan tersebut kemudian disaring dan ditambahkan dextrose sebanyak 20 g kemudian yeast
extract sebanyak 3 g. Campuran kemudian ditambahkan aquades hingga 1 L. setelah
itu dituangkan kedalam Erlenmeyer 250 ml masing-masing sebanyak 100 ml. Media
kemudian disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121˚C, tekanan 2 atm
selama 20 menit.
  • Pengukuran bobot basah
    miselium Trichoderma spp.

Isolat
fungi Trichoderma spp. yang telah
ditumbuhkan dalam medium kultivasi dan pada limbah cair tahu ditimbang bobot basah miseliumnya.
Bobot basah miselium pada media kultivasi sebagai bobot basah awal yang
nantinya diinokulasikan ke limbah,  bobot
basah miselium pada limbah cair tahu sebagai bobot basah akhir. Penyaringan
dilakukan dengan menyaring miselium menggunakan alat berupa kertas Whattman
no.1 dan vakum. Penyaringan dilakukan
hingga air tidak menetes, miselium yang telah disaring airnya lalu ditimbang
bobot basah miseliumnya menggunakan timbangan analitik dengan satuan gram.  

CONTOH PROKER DEFINITIF KKN

I.              PENDAHULUAN
A.     Analisis Situasi Desa dan Dusun
1.      Kondisi Geografis
Penduduk Indonesia sebagian besar berada di wilayah pedesaan sesuai dengan kondisi Indonesia yang bersifat agraris. Kehidupan di pedesaan dapat dikatakan jauh berbeda dengan kehidupan di perkotaan. Perbedaan ini menyangkut berbagai tatanan kehidupan yang kontras. Desa Patutrejo berada di kecamatan Grabag, kabupaten Purworejo yang terletak di kawasan pesisir selatan kabupaten Purworejo. Desa Patutrejo terdiri dari 9 RT dan 4 Dusun dengan 2 RW, yaitu meliputi:
a.       Dusun I terdiri dari RW 1 dengan tiga RT
b.      Dusun II terdiri dari RW 1 dengan tiga RT
c.       Dusun III trediri dari dua wilayah RW yaitu RW III dengan satu RT dan RW IV dengan satu RT
d.      Dusun IV terdiri dari RW 1 dengan satu RT.
Desa Patutrejo memiliki batas-batas desa yaitu:
a.       Sebelah barat     : Desa Ketawangrejo
b.      Sebelah timur     : Desa Harjobinangun
c.       Sebelah utara     : Desa Aglik
d.      Sebelah selatan  : Samudera Hindia
Desa Patutrejo memiliki luas wilayah sebesar 340.148 ha dengan topografi datar yaitu sekitar 0-3%. Berikut adalah tabel luas lahan dan penggunaan lahan, yaitu:
  Tabel 1. Luas Lahan dan Penggunaan Lahan
No.
Luas Lahan (ha)
Penggunaan Lahan
1.       
64.3
Pertanian/ sawah
2.       
142.398
Pertanian/ ladang
3.       
11
Perhutani
4.       
0.3
Irigasi
5.       
127.43
Perumahan
6.       
1
Lapangan olahraga
7.       
9
Pemakaman
8.       
0.050
Tempat ibadah
9.       
0.008
Industri
10.   
0.5
Pendidikan
Organisasi kemasyarakatan desa terdiri dari pertanian 1 (Sedyo Rahayu), P3A1 (Warih Sedyo Rahayu), sosial masyarakat yaitu 5 karang taruna. Objek wisata yang terdapat di Desa Patutrejo yaitu Pantai Jetis.
2.      Kondisi Penduduk
Desa Patutrejo memiliki jumlah kepala keluarga (KK) anatar 500-1.000 dengan jumlah penduduk antara 2000-3000 jiwa yang terdiri atas 1.274 laki-laki dan 1.270 perempuan. Berikut adalah tabel data kependudukan desa Patutrejo.
a.      Tingkat Pendidikan Penduduk Desa Patutrejo
No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah (Orang)
1.
Tamat SD
1.069
2.
Tamat SLTP
836
3.
Tamat SLTA
617
4.
Tamat Akademi (D1-D3)
9
5.
Sarjana (S1)
13
a.      Jenis Mata Pencaharian Penduduk Desa Patutrejo
No.
Pekerjaan
Jumlah
1.
Petani
1.256
2.
Buruh tani
636
3.
Karyawan Swasta
127
4.
ABRI/POLRI
4
5.
PNS
16
6.
Pedagang
256
7.
Pensiunan
4
8.
Tukang
25
9.
Lain-lain
223
3.      Potensi Desa
Potensi umum yang dimiliki Desa Patutrejo antara lain dibidang ekonomi  dan kewirausahaan yaitu industri rumahtangga dalam memproduksi makanan dan minuman terdapat 5 buah, untuk pengolahan makanan yaitu dalam produksi emping melinjo, dodol terong, dan gula merah. Bidang budidaya lingkungan yaitu terdapat banyak pemanfaatan lahan pekarangan yang ditanami banyak sayuran dan buah-buahan serta potensi ternak yaitu unggas (ayam, bebek dll), kambing, dan sapi. Bidang pendidikan di desa Patutrejon didukung dengan adanya fasilitas seperti jumlah sekolah dasar (SD)/MI ada 2, taman kanak-kanak ada 1, PAUD ada 1, TPQ ada 2, majelis taklim ada 5. Bidang kesehatan yaitu adanya posyandu balita dan lansia.
B.            Profil Posdaya
Pos Pemberdayaan Keluarga Bina Mandiri, disingkat dengan POSDAYA Bina Mandiri didirikan pada bulan Januari 2012. Posdaya Bina Mandiri terletak di Dusun 1 desa Patutrejo, kecamatan Grabag, kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Nama posdaya tersebut yaitu Bina Mandiri yang memiliki susunan pengurus terdiri atas:
a.       Ketua                                 : Turino Junaidi
b.      Sekretaris                           : Mulyono
c.       Bendahara                          : Sudarningsih
d.      Bidang pendidikan  : Ngaminah (Koordinator)
  Rosiyanti Desi (Staff)
e.       Bidang kesehatan                : Dwi Karyati (Koordinator)
  Sunarti Rubinganti (Staff)
f.        Bidang ekonomi                  : Tumijo (Koordinator)
   Supriyono Dadi (Staff)
g.       Bidang lingkungan   : Puji Sutarjo (Koordinator)
  Marsodo Mujiono (Staff)
Cakupan wilayah posdaya Bina Mandiri yaitu jumlah RT ada satu, RW ada dua, dukuh ada 3, dusun ada 4, banjar ada lima, kelurahan/desa ada enam.
            Posdaya Bina Mandiri adalah forum komunikasi yang terbuka untuk seluruh warga Dusun Desa Bantar tanpa membedakan suku, keturunan, agama, kedudukan sosial, dan gender serta berwatak kebangsaan Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial yang berlandaskan Pancasila. Tujuan umum Posdaya adalah sebagai wadah sosial bersama untuk membantu memberdayakan keluarga yang tidak mampu agar dapat menjadi keluarga yang sejahtera.
Fungsi Posdaya Bina Mandiri adalah menghimpun, merumuskan, dan memperjuangkan aspirasi anggota Posdaya secara nyata dalam hal pemberdayaan keluarga dan masyarakat, memberdayakan dan menggerakan anggota Posdaya untuk berperan aktif dalam pelaksanaan pembangunan, berpartisipasi dalam penyelenggaraan Posdaya dan atau melakukan kontrol sosial secara kritis, korektif, konstruktif, dan konsepsional, serta melaksanakan kaderisasi kepemimpinan yang demokratis dalam rangka peningkatan kualitas pengabdian organisasi yang berwibawa.

II.           PERMASALAHAN POSDAYA DAN STRATEGI PEMECAHANNYA
Permasalahan posdaya dan strategi pemecahannya pada masing-masing bidang yaitu:
A.     Bidang Kesehatan
No.
Permasalahan Posdaya
Strategi Pemecahannya
1. 
Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi
Penyuluhan “Persiapan sebelum dan setelah melahirkan sehat.”
2. 
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan   selama dan setelah kehamilan.
3. 
Tingginya angka terjadinya penyakit hipertensi dan diabetes melitus
Penyuluhan “Hipertensi dan Kencing Manis pada Lansia”
4. 
Hipertensi dan diabetes merupakan suatu penyakit yang dapat
5. 
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gaya hidup yang ternyata sangat mempengaruhi kekambuhan diabetes dan hipertensi.
6. 
Banyaknya penyakit yang timbul karena kesalahan gaya hidup
Penyuluhan “Kesehatan remaja”
7. 
Tingginya angka kenakalan remaja yang memberikan dampak besar dalam kehidupan terutama dalam bidang kesehatan
8. 
Kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penyakit menular seksual
9. 
Kurangnya pengetahuan tentang dampak pemakaian obat – obatan terlarang dan minuman keras.
10.   
Tingginya angka gizi buruk di Indonesia
Penyuluhan “Pemilihan, Pengolahan, dan Penyediaan Makanan Sehat”
11.   
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemilihan, pengolahan, hingga penyediaan makanan sehat
12.   
Persepsi keliru masyarakat yang mengatakan bahwa makanan sehat cenderung mahal
13.   
Banyaknya penyakit yang muncul karena kesalahan pola makan
14.   
Kecuekan masyarakat tentang makanan sehat dan tidak karena hanya berprinsip “asal kenyang”
15.   
Kurangnya pengetahuan anak tentang pentingnya mencuci tangan
Demo Mencuci Tangan
16.   
kurangnya pengetahuan anak mengenai cara mencuci tangan yang benar
17.   
Banyaknya penyakit yang sering mengenai anak dikarenakan kebiasaan mencuci tangan yang jarang dilaksanakan
18.   
Kurangnya pengetahuan dan rendahnya kebiasaan para ibu dan lansia dalam berolahraga
Senam Ibu dan Lansia
19.   
Olahraga merupakan cara menjaga kesehatan yang paling mudah dan murah untuk dilakukan sekaligus
20.   
Banyaknya materi penyuluhan yang diberikan serta penting untuk daat diingat oleh para peserta
Penyebaran pamflet
21.   
Keterbatasan ingatan manusia dalam menyimpan memori tentang materi penyuluhan
B.     Bidang Pendidikan
No.
Permasalahan Posdaya
Strategi Pemecahannya
1. 
Rendahnya minat membaca masyarakat
Sosialisasi “Gemar Membaca”
2. 
Jarang ditemukannya toko buku maupun penjual surat kabar
3. 
Kurangnya antusias masyarakat desa terhadap pentingnya pendidikan anak usia dini yang ditandai dengan jumlah siswa PAUD yang rendah
Penyuluhan “Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini”
4. 
Belum adanya lembaga atau kelompok belajar di desa
Kegiatan kelompok belajar
5. 
Sedikitnya jumlah pengajar TPQ
TPQ
6. 
Belum adanya penerapan sains dalam bentuk eksperimen kecil-kecilan untuk siswa SD
Sains experiment
C.     Bidang Ekonomi
No.
Permasalahan Posdaya
Strategi Pemecahan
1.       
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya memiliki label untuk hasil produksi
Penyuluhan “Labeling dan Perijinan”
2.       
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya perijinan
3.       
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya strategi dalam memasarkan produk
Sosialisasi “Strategi Pemasaran”
4.       
Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya strategi pemasaran yang baik
5.       
Usaha yang dilakukan masyarakat masih bersifat individualis
Pembentukkan kelompok usaha
6.       
Tidak adanya wadah yang menaungi jika bentuk usaha masih bersifat perseorangan
7.       
Sulitnya terbangun kerjasama dengan instansi atau dinas apabila bentuk usaha bersifat perseorangan
8.       
Komoditas pepaya yang melimpah
Pembuatan Manisan Pepaya dan Sari Buah Pepaya
9.       
Belum adanya pengolahan buah pepaya menjadi produk lain yang lebih menarik dan awet
10.   
Melimpahnya jumlah melinjo
Pembuatan emping melinjo aneka rasa
11.   
Sudah terbentuknya kelompok usaha emping dan hanya tersedia satu rasa
12.   
Penyuluhan saja dirasa kurang cukup untuk memmastikan bahwa masyarakat sudah membentuk kelompok kerja
Pendampingan labeling dan perijinan
13.   
Penyuluhan saja dirasa kurang cukup untuk memmastikan bahwa masyarakat sudah mendapat perijinan
D.     Bidang Lingkungan
No.
Permasalahan Posdaya
Strategi Pemecahan
1.       
Adanya sampah plastik
Penyuluhan “Kebersihan Lingkungan dan Manfaat penghijauan”
2.       
Kondisi lingkungan yang panas
3.       
Kuranganya kemauan dalam pemanfaatan lahan pekarangan yang luas
Penyuluhan “Pemanfaatan Lahan Pekarangan”
4.       
Kurangnya kebersihan lingkugan
Gerakan Kerja Bakti
5.       
Belum adanya usaha dalam pengembangan kolam ikan
Pembuatan  Kolam Ikan Percontohan

III.        TUJUAN DAN MANFAAT
          Tujuan dan manfaat program kerja pada masing-masing bidang, yaitu:
A.     Bidang Kesehatan
No.
Program Kerja
Tujuan dan Manfaat
1.       
Penyuluhan “Persiapan Sebelum dan Setelah Melahirkan yang Sehat”
Untuk memberikan penyuluhan dengan tujuan kedua orangtua semakin dapat memaksimalisasikan apa yang harus dipersiapkan baik dari segi psikologi, gizi, maupun faktor lain yang mempengaruhi kelahiran anak. Besar harapan kami untuk dapat membuat para orangtua agar tidak sedemikian sederhana atau bahkan tanpa persiapan dalam mempersiapkan calon bayi yang sehat.
2.       
Penyuluhan Hipertensi dan Kencing Manis pada Lansia
a.       Meningkatkan pengetahuan tentang pengontrolan penyakit hipertensi dan diabetes melitus
b.      Membantu masyarakat untuk mengurangi terjadi komplikasi penyakit diabetes melitus dan hipertensi dengan mengelola gaya hidup menjadi lebih sehat
3.       
Penyuluhan Kesehatan Remaja
a.       Memberikan wawasan mengenai penyakit menular seksual terutama AIDS
b.      Memberikan wawasan tentang bahaya penggunaan obat – obatan terlarang, alkohol, dan rokok
4.       
Penyuluhan Pemilihan, Pengolahan, dan Penyediaan Makanan Sehat
a.      Memberikan wawasan mengenai arti dasar dari makanan sehat
b.      Masyarakat dapat membedakan yang mana yang termasuk dalam makanan sehat dan mana yang bukan
c.       Menambah pengetahuan masyarakat tentang cara memilih, mengolah, hingga menyediakan makanan sehat
d.      Meluruskan persepsi masyarakat bahwa makanan sehat bisa pula didapatkan dengan harga ekonomis
5.       
Demo Mencuci Tangan
a.      Menambah pengetahuan anak mengenai pentingnya mencuci tangan
b.      Menambah pengetahuan anak mengenai cara mencuci tangan yang benar dengan langsung mempraktikkan
c.       Mengurangi angka kejadian penyakit pencernaan dikarenakan kebiasaan mencuci tangan yang kurang benar
6.       
Senam Ibu dan Lansia
a.      Menambah pengetahuan, minat, dan niat para ibu dan lansia untuk dapat meluangkan   waktunya dengan berolahraga bersama
b.      Memberikan pengertian akan pentingnya olahraga bagi kesehatan
7.       
Penyebaran Pamflet
a.      Pamflet dapat digunakan untuk me-review materi penyuluhan
b.      Pamflet dapat disebarkan kepada para warga yang berhalangan datang sehingga ilmu dapat menyebar semakin luas
B.     Bidang Pendidikan
No.
Program Kerja
Tujuan dan Manfaat
1.       
Sosialisasi Gemar Membaca
a.       memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya membaca untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan.
b.      masyarakat dapat mengetahui pentingnya membaca dan dapat memberikan motivasi, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun sesama masyarakat.
2.       
Penyuluhan Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
a.       untuk memotivasi masyarakat Desa Patutrejo yang memiliki anak-anak berusia antara 2-6 tahun agar mau mendaftarkan anak-anaknya ke dalam PAUD.
b.      bertambahnya jumlah peserta atau murid yang terdaftar di PAUD Desa Patutrejo.
3.       
Kelompok Belajar
a.       melatih dan mengembangkan kemampuan akademis anak SD di Desa Patutrejo.
b.      mengembangkan potensi anak-anak desa Patutrejo melalui bidang pendidikan.
4.       
TPQ
a.       melatih dan mengembangkan kemampuan anak-anak dalam beribadah.
b.      untuk menambah keimanan dan ketakwaan siswa atau anak-anak selama bulan Ramadhan
5.       
Sains Experiment
a.       Memberikan informasi ilmiah dalam suatu experiment
b.      Menambah dan mengembangkan wawasan ilmiah
C.     Bidang Ekonomi
No.
Program Kerja
Tujuan dan Manfaat
1.       
Penyuluhan Labeling dan Perijinan
a.        pengetahuan dan informasi masyarakat mengenai pentingnya labeling untuk hasil produksi
b.      Menambah pengetahuan dan informasi masyarakat mengenai pentingnya perijinan untuk hasil produksi
2.       
Sosialisasi Strategi Pemasaran
a.       Menambah pengetahuan dan informasi tentang strategi pemasaran produk
b.      Agar masyarakat dapat meningkatkan jumlah pemasaran produksi
3.       
Pembentukkan kelompok usaha
a.       Terdapat wadah yang bisa menaungi usaha para warga
b.      Kerjasama dengan instansi / diinas dapat lebih mudah terjalin
4.       
Pembuatan manisan pepaya dan sari buah pepaya
a.       Mengurangi jumlah pepaya yang busuk sebelum di konsumsi
b.      Menghasilkan produk olahan lain dari buah pepaya
5.       
Pembuatan emping aneka rasa
a.       Menghasilkan emping dengan beraneka rasa agar dapat lebih menarik konsumen
b.      Menghasilkan emping dengan beraneka rasa agar dapat meningkatkan jumlah produksi dan keuntungan
6.       
Pendampingan labeling dan perijinan
a.      agar produk memiliki kemasan yang menarik
b.      Agar dapat terdistribusikan secara luas karena sudah mendapat ijin resmi
c.      Masyarakat dapat mengenal produk karena sudah memiliki nama / merk (label)
D.     Bidang Lingkungan
No.
Program Kerja
Tujuan dan Manfaat
1.       
Penyuluhan Kebersihan Lingkungan dan Manfaat Penghijauan
a.       membangkitkan kembali semangat warga untuk mengadakan hari bersih desa (kerja bakti).
b.      diharapkan agar masyarakat sadar akan kebersihan lingkungan dan manfaat penghijauan.
2.       
Penyuluhan Pemanfaatan Lahan Pekarangan
a.       Masyarakat mampu memanfaatkan lahan pekarangan dengan optimal
b.      Dapat memperoleh penghasilan tambahan bagi dirinya dan keluarganya.
3.       
Kerja bakti
a.       Agar lingkungan menjadi bersih dan hijau
b.      Keadaan lingkugan yang bersih dapat mencermikan kesehatan diri
4.       
Pembuatan kolam percontohan dan pendampingan kelompok usaha petani ikan
a.       Memberikan pelatihan pembuatan kolam di lahan sempit dan teknik budidaya ikan.
b.      Warga desa dapat membudidayakan ikan di kolam

IV.              PROGRAM KERJA DAN JADWAL KEGIATAN
No.
Jenis Kegiatan
Volume
Sasaran
Waktu Pelaksanaan (Hari Ke)
Anggaran
Penanggung Jawab
A.      
BIDANG KESEHATAN
1.)     
PROGRAM NON FISIK
·        Penyuluhan persiapan sebelum dan sesudah melahirkan yang sehat
1 X
Ibu-ibu PKK
9
Rp. 20.000
Dina (FKIK) dan Uwais (FISIP)
·        Penyuluhan kesehatan remaja
1 X
Remaja
7
Rp. 20.000
·        Penyuluhan hipertensi dan kencing manis serta penimbangan lansia
1 X
Masyarakat lansia
8
Rp. 20.000
·        Penyuluhan pemilihan, pengelolaan hingga penyediaan makanan sehat
1 X
Ibu-ibu PKK
27
Rp. 20.000
2.)     
PROGRAM FISIK
·        Gerakan mencuci tangan
2 X
Siswa SD
18-19
Rp. 20.000
Tim KKN
·        Senam ibu-ibu dan lansia
4 X
Ibu-ibu dan lansia
13, 20, 27, dan 34
Rp. 10.000
Tim KKN
·        Pembagian pamflet
4 X
Peserta penyuluhan
9, 7, 8, dan 27
Rp. 50.000
Tim KKN
B.      
BIDANG PENDIDIKAN
1.)     
PROGRAM NON FISIK
·  Penyuluhan pentingnya   Pendidikan Anak Usia Dini
1 X
Masyarakat
9
Rp. 20.000
Rico (Pertanian) dan Romi (Sains dan Teknik)
·  Sosialisasi Gemar Membaca
1 X
Masyarakat
27
Rp. 20.000
2.)
PROGRAM FISIK
·  Kegiatan kelompok belajar
8 X
Siswa SD kelas 5 dan 6
14, 16, 18, 21, 23, 25, 28, dan 30
Rp. 50.000
Dwi Meilana (Sains dan Teknik “Matematika”)
·  Kegiatan TPQ
8 X
Anak-anak
10, 13, 17, 20, 24, 27, 31, dan 34
Rp. 100.000
Tochirun (Biologi)
·    Sains experiment
1 X
Siswa  SD
19
Rp. 105.000
Tia (Biologi)
·    Kuliah tujuh menit (Kultum)
23 X
Jama’ah Salat Taraweh
12-34
Mu’min (Sains dan Teknik)
C.      
BIDANG EKONOMI
1.)     
PROGRAM NON FISIK
·  Penyuluhan labeling dan perijinan
1 X
Kelompok Usaha
15
Rp. 20.000
Rinna (Ekonomi) dan Mu’min (Perikanan)
·  Sosialisasi strategi pemasaran
1 X
Masyarakat
26
Rp. 20.000
2.)     
PROGRAM FISIK
·  Pembentukkan   kelompok usaha
1 X
Masyarakat
15
Rp. 20.000
Tim KKN
·  Pembuatan manisan pepaya dan sari buah pepaya
1 X
Masyarakat
21
Rp. 150.000
Tim KKN
·  Pembuatan emping aneka rasa
1 X
Masyarakat
22
Rp. 150.000
Tim KKN
·  Pendampingan   labeling dan perijinan
1 X
Masyarakat
28
Rp. 100.000
Tim KKN
D.     
BIDANG LINGKUNGAN
1.)     
PROGRAM NON FISIK
·  Penyuluhan kebersihan lingkungan dan manfaat penghijauan
1 X
Masyarakat
10
Rp. 25.000
Wildan (Biologi) dan Dhanu (Pertanian)
·  Penyuluhan pemanfaatan lahan pekarangan
1 X
Masyarakat
11
Rp. 25.000
2.)     
PROGRAM FISIK
·  Gerakan kerja bakti
1 X
Masyarakat
6
Tim KKN
·  Pembuatan percontohan kolam ikan dan pendampingan
1 X
Masyarakat
14
Rp. 500.000
Tim KKN

MAKALAH ILMIAH DEKOMPOSISI SERASAH HUTAN

PENDAHULUAN
Lantai hutan merupakan tempat terjadinya pembusukkan. Dekomposisi atau pembusukkan adalah proses ketika makhluk-makhluk pembusuk seperti jamur dan mikroorganisme pengurai tumbuhan dan hewan yang mati dan mendaur ulang material-material serta nutrisi-nutrisi yang berguna. Kawasan hutan dengan serasah yang menutupi tanah diareal itu berfungsi sebagai spons yang akan menahan air hujan dan melepaskannya secara perlahan. Air hujan yang tertahan diserasah ini lalu meresap kedalam tanah (Wikipedia, 2008).
Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekologi. Organisme-organisme yang telah mati mengalami penghancuran menjadi pecahan-pecahan yang lebih kecil, dan akhirnya menjadi partikel-partikel yang lebih kecil lagi (Arisandi, 2002). Dekomposisi serasah adalah salah satu dari tingkatan proses terpenting daur biogeokimia dalam ekosistem hutan (Hardiwinoto dkk., 1994). Menurut Wikipedia serasah yaitu tumpukan dedaunan kering, rerantingan dan berbagai sisa vegetasi lainnya diatas lantai hutan atau kebun. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah.
Tumbuhan Serasah dapat mempengaruhi pola regenerasi semai di hutan hujan tropis melalui suatu jumlah proses yang mempengaruhi kedua lingkungan fisik dan kimia (Facelli& Pickett, 1991 dalam Brearley et al., 2003). Di tingkat perkecambahan benih, serasah dapat menahan cahaya, yang akan menghambat perkecambahan dengan mengubah perbandingan red/far-red (Vazquez-Yanes et al., 1990 dalam Brearley et al., 2003); hal itu dapat bertindak sebagai suatu penghalang fisik untuk kemunculan semai (Molofsky& Augspurger, 1992 dalam Brearley et al., 2003), terutama untuk jenis yang small-seeded yang tidak mempunyai suatu persediaan sumber daya besar (Metcalfe& Turner, 1998 dalam Brearley et al., 2003), dan dapat mencegah calon akar baru berkecambah mencapai tanah. Serasah dapat juga mencegah pendeteksian benih oleh pemangsa benih, dengan demikian meningkatkan kesempatan sukses perkecambahan (Cintra, 1997 dalam Brearley et al., 2003).
Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan berbagai ekosistem mangrove dan sebagai sumber detritus bagi (Zamroni dan Immy, 2008). tanaman pada tingkat semai, serasah dapat menciptakan lingkungan mikro setempat berbeda dengan pelepasan nutrisi atau campuran phytotoxic selama pembusukannya, mengurangi erosi lahan dan evapotranspiration (tetapi mungkin juga menahan curah hujan) dan mengurangi temperatur tanah maksimum. Serasah juga dapat bertindak sebagai suatu faktor mekanik, merusakkan atau membunuh semai ketika gugur ke tanah. Disana dapat juga terjadi efek tidak langsung pada serasah daun, sebagai contoh, kelembaban yang lebih tinggi di dalam lapisan serasah dapat menunjang pertumbuhan jamur patogen yang dapat kemudian menyerang semai.
Hutan hujan tropis tingkat serasah gugur sangat tinggi, dan merupakan jalan siklus hara yang paling penting dalam ekosistem (Vitousek & Sanford, 1986; Proctor,1987 dalam Brearley et al., 2003). Disana dapat dipertimbangkan ruang dan heterogenitas temporer pada gugur serasah (Burghouts et al, 1994 dalam Brearley et al., 2003) mungkin lebih lanjut ditekankan oleh faktor seperti angin badai, pembukaan hutan dan pembagian hutan. Heterogenitas Serasah dapat juga meningkat dengan tingkat pembusukan berbeda daun-daun dari jenis yang berbeda. Heterogenitas serasah pada lantai hutan dapat menciptakan relung regenerasi berbeda (sensu Grubb, 1977 dalam Brearley et al., 2003) dan karenanya membantu menyumbangkan untuk keanekaragaman jenis yang begitu tinggi dalam hutan hujan tropis.
Tujuan praktikum yaitu mengetahui kecepatan dekomposisi serasah daun oleh konsorsia mikroba. Manfaat praktikum yaitu mengetahui proses terjadinya dekomposisi oleh mikroorganisme, dan mengetahui perannya mikroorganisme dalam proses dekomposisi.
MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol nescafe 5 unit, oven, timbangan analitik, aluminium foil, pipet filler dan pinset. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain: daun sirsak yang dikeringkan, lumpur steril, lumpur nonsteril, suspensi bakteri dan suspensi jamur.
B. Metode
Cara kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
  1. Siapkan 5 unit botol nescafe, diisi lumpur dengan air (sehingga cukup basah), 4 botol disterilkan, 1 botol disterilkan terlebih dahulu, selanjutnya diberi lumpur (untuk dekomposisi secara alami).
  2. Daun yang telah kering dimasukkan kedalam botol nescafe dan dibenamkan kedalam lumpur, selajutnya 3 botol digunakan sebagai kontrol negatif, 1 botol sebagai kontrol positif dan botol terakhir diberi suspensi J1J2.
  3. Kelima botol tersebut diinkubasi selama 2 minggu, setiap minggu ditimbang berat keringnya. Caranya daun dikeluarkan dari botol nescafe, dicuci bersih, selanjutnya dikeringkan dan ditimbang. Daun yang sudah ditimbang, dikembalikan kedalam botol nescafe dan dibenamkan ke dalam lumpur hingga seminggu berikutnya. Dilakukan penimbangan kembali. 
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dekomposisi merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap bahan organik (bahan-bahan hayati yang telah mati). Tanaman yang gugur akan mengalami dekomposisi dengan ciri-ciri daunnya hancur seperti tanah dengan warna coklat kehitaman. Proses dekomposisi secara umum terjadi pada tiga tahapan: tahap dekomposisi aerobik yang mendominasi seluruh proses, prosesnya sangat pendek hal ini disebabkan karena jumlah oksigen yang terbatas, BOD tinggi hasil sampah darat. Tahap kedua dari proses anerobik terjadi ketika jumlah populasi bakteri methanoigenesis tinggi proses. Stevenson (1982) dalam Rahmawaty (2000), menyatakan bahwa proses dekomposisi mempunyai tiga tahapan, yaitu:
  • fase perombakan bahan organik segar. Proses ini merubah ukuran bahan menjadi lebih kecil.
  • fase perombakan lanjutan, pada proses ini melibatkan kegiatan enzim mikroorganisme tanah. Fase perombakan terdiri menjadi beberapa tahapan yaitu:
  1. tahapan awal, mempunyai ciri-cicri kehilangan secara cepat bahan-bahan yang mudah terdekomposisi sebagai akibat pemanfaatan bahan organik sebagai sumber karbon dan energi oleh mikroorganisme tanah, terutama bakteri. Proses ini menghasilkan sejumlah senyawa sampingan seperti NH3, H2S, CO2, asam organik dan lain-lain.
  2. Tahapan tengah: terbentuk senyawa organik tengahan atau antara (intermediate products dan biomassa baru sel organisme)
  3. Tahapan akhir: dicirikan oleh terjadinya dekomposisi secara berangsur bagian jaringan tanaman atau hewan yang lebih resisten (misal:lignin). Peran fungi dan Actomycetes pada tahapan ini sangat dominan.
  • fase perombakan dan sintesis ulang senyawa –senyawa organik (humifikasi) yang akan membentuk humus
Berdasarkan hasil perhitungan kecepatan dekomposisi serasah menunjukkan bahwa V1 pada sampel daun 2, 3 dan 5 pada bobot daun penimbangan ke-2 (G­1) mengalami kenaikkan yang seharunya mengalami perununan bobot sehingga menimbulkan nilai V1 menjadi negatif, hal ini dimungkin terjadi kesalahan pada saat penimbangan. Hasil V2 dari semua sampel daun menunjukan hasil yang positif artinya proses dekomposisi berjalan karena bobot sampel daun mengalami penurunan. Barges dan Raw (1976) dalam Rahmawaty (2000), menyatakan bahwa proses perombakan berawal dari perombakan yang besar oleh makrofauna dengan meremah-remah substansi habitat yang telah mati, sehingga menghasilkan butiran-butiran feases. Butiran tersebut akan dimakan oleh mesofauna sperti cacing tanah dan sama dengan hasil akhir butiran-butiran feases. Materi terakhir akan dirombak oleh mikroorganisme khususnya bakteri dan jamur. Mekanisme dekomposisi serasah daun oleh organisme dan mikroorganisme yaitu jamur dan bakteri yang memiliki peranan penting dalam proses dekomposisi. Dekomposer seperti jamur dan bakteri akan memanfaatkan bahan organik dalam bentuk terlarut. Kelembaban rendah peran jamur dalam mendekomposisi lebih dominan daripada bakteri, sehingga serasah yang mengalami dekomposisi akan berubah menjadi humus dan akhirnya menjadi tanah.
Suhu dan kelembaban udara mempengaruhi jatuhkan serasah tumbuhan. Naiknya suhu udara akan menyebabkan menurunnya kelembaban udara sehingga transpirasi akan meningkat, dan untuk menguranginya maka daun harus segera digugurkan (Salisbury, 1992 dalam Zamroni dan Immy, 2008). Menurut Soeroyo (2003) dalam Zamroni dan Immy 2008, faktor lain yang mempengaruhi guguran serasah adalah curah hujan.
Proses dekomposisi serasah antara lain dipengaruhi oleh kualitas (sifat fisika dan kimia) serasah tersebut dan beberapa faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang terdiri dari organisme dalam tanah, curah hujan, suhu dan kelembaban tempat dekomposisi berlangsung. Faktor penting yang berpengaruh terhadap proses dekomposisi suatu bahan atau serasah adalah kualitas (sifat fisika dan kimia). Tingkat kekerasan daun dan beberapa sifat kimia seperti kandungan awal (initial content) lignin, selulosa, dan karbohidrat berpengaruh terhadap tingkat dekomposisi serasah daun (Hardiwinoto dkk., 1994).
Tingkat penutupan (tebal tipisnya) lapisan serasah pada permukaan tanah berhubungan erat dengan laju dekomposisinya (pelapukannya). Semakin lebat terdekomposisi maka keberadaannya dipermukaan tanah menjadi lebih lama (Hairiah et al., 2000). Laju dekomposisi serasah ditentukan oleh kualitas nisbah C:N, kandungan lignin dan polyphenol. Serasah dikategorikan berkualitas tinggi apabila nisbah C:N <25, kandungan lignin<15% dan polyphenol <3%, sehingga proses pelapukan berlangsung cepat. Kecepatan pelapukan suatu jenis bahan organik ditentukan oleh kualitas bahan tersebut. Penepatan kualitas dilakukan dengan menggunakan seperangkat tolak ukur, yang berbeda untuk tiap jenis unsur hara. Kecepatan melapuk bahan organik ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kelembaban, suhu tanah, dan kualitas bahan organik. Bahan organik berkualitas tinggi akan cepat dilapuk dan akibat unsur hara (misalkan N) dilepaskan dengan cepat menjadi bentuk tersedia.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagi berikut:
Kemampuan konsorsia mikroba menunjukkan bahwa pada sampel daun sirsak mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme jamur (­J1J2).
B. Saran
Perlu adanya ketelitian dalam penimbangan berat kering daun sehingga dalam perhitungan kecepatan dekomposisi serasah daun tidak terjadi kesalahan.
DAFTAR REFERENSI
Arisandi, P. 2002. Dekomposisi Serasah Mangrove. Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah-ECOTON.
Brearley, F., Q. Malcolm C. P. and Julie D. S. 2003. Nutrients Obtained From Leaf Litter Can Improve The Growth Of Dipterocarp Seedling. Phytologist 160: 101-110
Hairiah, Kurniawan, D. S., Widianto, Berlian, Erwin, S., Aris, M., Rudy. H. W., Cahy, P dan Subekti, R. 2003. Alih Guna Lahan Huta menjadi Lahan Agroforestri Berbasis Kopi:Ketebalan Serasah, Popilasi Cacing Tanah dab Makroporositas Tanah. World Agroforestry Center: 68-80.
Hardiwinoto, S. Haryono, S. Fasis, M. Sambas, S. 1994. Pengaruh Sifat Kimia Terhadap Tingkat Dekomposisi. 2(4):25-36.
Rahmawaty. 2000. Keanekaragaman Serangga Tanah dan Perannya pada Komunitas Rhizopora spp. Dan Konitas Ceriops tagal di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara. Tesis Program paska Sarjana. IPB, Bogor. 
Wikipedia. 2008. Dekomposisi. http://id.wikipedia.org/wiki/Dekomposisi. diakses tanggal 6 juni 2009.
Zamroni, Y. dan Immy, S. R. 2008. Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat. Volume 9, Nomor 4 Oktober 2008 Halaman: 284-287