Arsip Kategori: Artikel

Identifikasi dan Determinasi Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Identifikasi dan Determinasi Hewan Avertebrata dan Vertebrata – Identifikasi penting artinya bila ditinjau dari segi ilmiahnya, sebab seluruh urutan pekerjaan berikutnya sangat tergantung kepada hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies yang sedang diteliti. Dalam melakukan identifikasi, peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan (Darbohoesodo, 1976). Identifikasi makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu makhluk hidup. Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling populer yakni dengan membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui dengan gambar didalam buku atau antara tumbuhan dengan material herbarium yang sudah diketahui identitasnya (Suhardi, 1983).

Identifikasi dan pengenalan kelompok dan jenis hewan merupakan bagian yang sangat penting dalam taksonomi. Salah satu alat bantu identifikasi adalah kunci (identifikasi) yang dipakai untuk menentukan kedudukan hewan dalam sistematika hayati. Ada kunci untuk menentukan Filum (Phylum), Kelas (Class), Bangsa (Ordo), Suku (Family), Marga (Genus) dan Jenis (Species) hewan (Saanin, 1986).

Ada berbagai cara untuk menyusun sebuah kunci. Susunan yang paling praktis adalah kunci dengan deskripsi umum dan singkat yang disusun secara berpasangan (dikotom). Kunci ini dapat digunakan untuk memilih satu diantara dua kemungkinan yang ada. Jika spesimennya sangat unik, biasanya salah satu diantara dua pilihan deskripsi yang diberikan kunci akan cocok. Kunci merupakan alat bantu yang sangat penting dalam taksonomi. Kunci juga dapat bersifat membatasi upaya identifikasi. Sebuah spesimen yang unik atau menyimpang dari karakteristik umum akan mustahil teridentifikasi oleh kunci yang bersifat umum (Jasin, 1989).

Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya, yaitu yang berhubungan dengan kontiguitas (kontak), kemiripan atau keduanya. Klasifikasi dapat berdasarkan hubungan evolusi, habitat dan cara hidupnya. Klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri yang dimiliki) (Darbohoesosdo, 1976).

Hewan avertebrata pertama kali dikelompokan berdasarkan banyaknya sel penyusun tubuh (uniseluler atau multiseluler). Hewan uniseluler atau protozoa dibedakan atas cara dan lokomosinya yaitu menggunakan silia, flagella atau pseudopodia. Pembedaan hewan yang lainnya dilakukan berdasarkan kesimetrian tubuhnya, yaitu simetri radial atau bilateral, berdasarkan bentuk tubuh (bulat, memanjang dan elips), ada tidaknya insang, segmen, cangkang, antenna dan ciri-ciri pembeda lainnya. Hewan vertebrata meliputi kelompok craniata (hewan yang sudah memiliki tulang tengkorak atau cranial), sudah memiliki tulang penyokong tubuh yang disebut columna vertebralis serta pembagian tubuhnya sudah lengkap dan jelas (Darbohoesodo, 1976).

 

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah:

  1. Mengenali ciri-ciri hewan avertebrata dan vertebrata yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu.
  2. Melakukan identifikasi dan determinasi hewan avertebrata dan vertebrata.
  3. Mendeskripsikan hewan yang telah diidentifikasi dan dideterminasi.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu paku, baut, skrup, buku gambar dan alat tulis.

B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

  1. Paku, baut dan skrup disusun berdasarkan kemiripan yang dimilikinya.
  2. Paku, baut dan skrup tersebut digambar dan dibuat pohon filogenik.
  3. Kunci determinasi dari paku-pakuan dibuat berdasarkan pohon fiogenik.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Pohon Filogeni

IDENTIFIKASI DAN DETERMINASI HEWAN (AVERTTEBRATA DAN VERTEBRATA)

Kunci Determinasi
1.a. Paku berujung runcing
…………………………………………………………(2)
  b. Paku
berujung tumpul ………………………………………………………….(6)
2.a. Paku yang berkepala corong………………………………..(Paku corong
berulir)
   b. Paku
yang berkepala bulat………………………………………………………(3)
3.a. Paku dengan berkepala bertanda…………………………………………….(Skrup
runcing)
   b. Paku dengan berkepala tidak
tanda……………………………………………………………(4)
4.a. Paku yang berulir………………………………………………………………………(Paku
asbes)
   b. Paku yang tidak
berulir……………………………………………………………………………(5)
5.a. Paku yang berkepala payung………………………………………………………..(Paku
seng)
   b. Paku yang tidak berkepala
payung……………………………………………….(Paku kayu)
6.a. Paku dengan kepala yang tidak bersegi enam……………………………………………..(7)
   b. Paku dengan kepala segi
enam………………………………………………………………….(8)
7.a. Paku yang bertanda (+)……………………………………………………………………..(Skrup)
   b. Paku yang bertanda
(-)…………………………………………………………..(Skrup tumpul)
8.a. Paku yang berwarna perak………………………………………………….(Segi
enam perak)
   b. Paku yang berwarna
emas………………………………………………………………………..(9)
9.a. Paku besar……………………………………………………………………………….(Emas
besar)
   b. Paku
kecil………………………………………………………………………………..(Emas
kecil)

B. Pembahasan

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beranekaragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi berbeda sekali dengan pengertian klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki). Peranan buku kunci identifikasi adalah mutlak diperlukan dalam melakukan identifikasi. Determinasi merupakan cara untuk mengidentifikasi suatu makhluk hidup dengan mencocokkan dengan buku panduan kunci determinasi (Mayr, 1969).

Klasifikasi merupakan salah satu cara penyederhanaan terhadap objek (dalam hal ini, makhluk hidup) yang berjumlah besar dan beragam.. Secara umum, klasifikasi dapat diartikan sebagai suatu proses mengelompokkan sesuatu berdasarkan aturan-aturan tertentu. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi terhadap makhluk hidup yaitu pencandraan sifat-sifat makhluk hidup, pengelompokan berdasarkan ciri-ciri, dan pemberian nama kelompok, dalam pencandaraan (identification), setiap ciri baik secara morfologi, anatomi, fisiologi, biokimia, maupun genetika spesies yang tengah diteliti harus diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (main data). Langkah selanjutnya yaitu pengelompokkan (classification). Data utama yang telah diperoleh dibandingkan dengan data acuan yang telah ada, ketika ditemukan suatu pola kemiripan, maka masukkan spesies tersebut pada kelompok acuan. Misal, objek utama : merpati, objek acuan : bebek dan ayam. Merpati dapat dikelompokkan dengan bebek dan ayam berdasarkan bentuk tubuh (adanya paruh, sayap, dan merupakan hewan ovipar). Terakhir, setelah dikelompokkan, maka kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik umum spesies-spesies yang ada di dalamnya (Widiyadi, 2009).

Sampai saat ini ada dua pendekatan untuk merekonstruksi hubungan evolusi dari sebuah kelompok organisme biologi, yaitu fenetik dan filogenik. Pendekatan pertama menaksir hubungan evolusi berdasarkan kepemilikan karakter atau ciri yang sama (overall similarity) dari anggota-anggota suatu kelompok. Pendekatan kedua mendasari sebuah hubungan pada perjalanan evolusi karakter atau ciri dari setiap anggota suatu kelompok yang sedang dipelajari. Di dalam pendekatan filogenetika, sebuah kelompok organisme dimana anggota-anggotanya memiliki banyak kesamaan karakter atau ciri dianggap memiliki hubungan yang sangat dekat dan diperkirakan diturunkan dari satu nenek moyang. Nenek moyang dan semua turunannya akan membentuk sebuah kelompok monofiletik. Dalam analisis filogenetika kelompok outgroup sangat dibutuhkan dan menyebabkan polarisasi karakter atau ciri, yaitu karakter apomorfik dan plesiomorfik. Karakter apomorfik adalah karakter yang berubah dan diturunkan dan terdapat pada ingroup, sedangkan karakter plesiomorfik merupakan karakter primitive yang terdapat pada outgroup. Karakter sinapomorfik adalah karakter yang diturunkan dan terdapat pada kelompok monofiletik (Jasin, 1989).

Berdasarkan hasil praktikum terdapat berbagai paku , baut dan skrup dengan jenis yang sama dan berbeda dari hal tersebut dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu paku berujung runcing dan paku berujung tumpul dari kedua paku tersebut dapat diketahui nama macam-macam paku berdasarkan pengelompokannya. Pengelompokannya meliputi paku dengan kepala corong, paku dengan kepala bulat lalu paku dengan kepala bertanda, paku dengan kepala tidak bertanda setelah itu paku yang berulir dan paku yang tidak berulir kemudian paku yang berkepala payung, paku yang tidak berkepala payung lalu paku yang berkepala segi enam , paku yang tidak berkepala segi enam, paku yang bertanda (+), paku yang bertanda (-), paku yang berwarna perak, paku yang berwarna emas, paku besar dan kecil. Berdasarkan hal tersebut dapat dibuat kunci determinasinya, penggunaan kunci identifikasi dalam identifikasi telah lama digunakan. Kunci identifikasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Lamarck telah menggunakan kunci modern untuk tujuan identifikasi lebih dahulu. kunci analisis merupakan salah satu kunci identifikasi yang digunakan, yaitu menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan kuplet, terdiri dari dua bait atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri yang saling berlawanan, sehingga disebut kunci dikotomis. Jika salah satu ada yang sesuai atau cocok, maka alternatif lainnya akan gugur (Saanin, 1968).

Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan klasifikasi yaitu pencandraan sifat-sifat, pengelompokan berdasarkan ciri-ciri dan pemberian nama kelompok. Pencandaraan (identification), setiap ciri, yang tengah diteliti harus diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (main data). Langkah selanjutnya yaitu pengelompokkan (classification). Data utama yang telah diperoleh dibandingkan dengan data acuan yang telah ada. Masukkan spesies tersebut pada kelompok acuan ketika ditemukan suatu pola kemiripan. Langkah terakhir setelah dikelompokkan, kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik umum spesies-spesies yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, sapi, kucing, dan anjing dapat dikelompokkan dalam mammalia (memamah biak). (Widiyadi, 2009).

Filogenetik hubungannya di antara 20 spesies nominal kakap lutjanine tropis (Lutjanidae) dari barat Atlantik, satu dari Pasifik timur dan tujuh dari Indo-Pasifik yang disimpulkan berdasarkan 2206 dari tiga gen penyandi protein mitokondria. Juga termasuk dalam analisis adalah sekuens DNA dari dua individu, yang diidentifikasi awalnya sebagai Lutjanus apodus, yang diambil contohnya di lepas pantai Bahia Negara di Brasil (barat Atlantik) dan dari tiga orang dicap sebagai ‘kakap merah’ dipasar ikan di Puerto Armuelles, Panama (timur Pasifik). Bayesian posterior probabilitas dan maximum like lihood persentase bootstrap sangat didukung monophyly dari semua lutjanines sampel dan hipotesis bahwa barat Atlantik lutjanines berasal dari garis keturunan lutjanine Indo-Pasifik (John et al., 2011).

Determinasi adalah membandingkan suatu hewan yang sudah diketahui atau diidentifikasi sebelumnya berdasarkan karakter morfologi yang dimiliki kemudian mengetahui nama dari spesies tersebut. Penggunaan pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Namun, sebenarnya (Gunarto, 2004) juga pernah menggunakan kunci modern untuk identifikasi. Salah satu kunci identifikasi ada yang disusun dengan menggunakan ciri-ciri taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut terdiri atas dua alternatif (dua ciri yang saling berlawanan) sehingga disebut kunci dikotomis.

Cara menggunakan kunci determinasi antara lain sebagai berikut :
  1. Bacalah dengan teliti kunci determinasi mulai dari permulaan, yaitu nomor.
  2. Cocokkan ciri-ciri tersebut pada kunci determinasi dengan ciri yang terdapat pada makhluk hidup yang diamati.
  3. Jika ciri-ciri pada kunci tidak sesuai dengan ciri makhluk hidup yang diamati, harus beralih pada pernyataan yang ada di bawahnya dengan nomor yang sesuai.
  4. Jika ciri-ciri yang terdapat pada kunci determinasi sesuai dengan ciri yang dimiliki organisme yang diamati, catatlah nomornya. Lanjutkan pembacaan kunci pada nomor yang sesuai dengan nomor yang tertulis di belakang setiap pernyataan pada kunci.
  5. Jika salah satu pernyataan ada yang cocok atau sesuai dengan makhluk hidup yang diamati, alternatif lainnya akan gugur. Sebagai contoh, kunci determinasi memuat pilihan: (a) paku kayu, atau (b) paku seng.
  6. Begitu seterusnya hingga diperoleh nama famili, ordo, kelas dan divisio atau filum dari makhluk hidup yang diamati.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam kelompok tertentu berdasarkan kekerabatannya.
  2. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson.

B. Saran

Sebaiknya pada saat praktikum praktikan harus lebih paham tentang kunci determinasi, supaya tidak bingung dalam proses melakukan klasifikasi.

Baca juga : Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

DAFTAR REFERENSI

Darbohoesodo, R.B. 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi Avertebrata. Fakultas Biologi Universitas Jenderel Soedirman, Purwokerto.

Gunarto. 2004. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian. 23 (1).

Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya.

John R. Goldi, G. V. 2011. Phylogenetic relationships of tropical western Atlantic. Biological Journal of the Linnean Society , 1-15.

Mayr, E. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. Tata McGraw-Hill Publishing Company, New Delhi.

Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta, Jakarta.

Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI-Press, Jakarta.

Widiyadi, E. 2009. Penerapan Tree dalam Klasifikasi dan Determinasi Makhluk Hidup. Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi, Bandung.

Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata – Lebih dari sejuta spesies hewan masih hidup saat ini, dan terdapat kemungkinan bahwa setidaknya sejuta organisme baru akan diidentifikasi oleh generasi ahli biologi masa depan. Hewan dikelompokkan ke dalam sekitar 35 phylum, namun jumlah sebenarnya tergantung pada perbedaan pandangan para ahli sistematika. Hewan menempati hampir semua lingkungan di bumi, tetapi anggota terbanyak sebagian besar phylum adalah spesies akuatik. Lautan yang kemungkinan merupakan tempat asal mula jenis-jenis hewan pertama, masih merupakan rumah bagi sejumlah besar phylum hewan. Fauna air tawar sangatlah banyak tetapi tidak sekaya keanekaragaman fauna laut.

Kingdom Animalia atau kerajaan hewan merupakan kingdom yang diduga memiliki jumlah spesies paling banyak. Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang, hewan dibagi
menjadi avertebrata dan vertebrata. Semua hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam invertebrata. Adapun hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam vertebrata.

Di dunia ini terdapat 40 phyla hewan avertebrata. Hewan avertebrata dikelompokkan atas dasar banyaknya sel penyusun tubuh, banyaknya lapisan tubuh pada perkembangan embrio Metazoa, struktur atau konstruksi tubuh hewan Metazoa, kesimetrian tubuh, pembentukan mulut dan anus, kondisi rongga tubuh, ada tidaknya lofofora, metamerisme dan tagmatisasi. Berdasarkan kedelapan pengelompokan tersebut, yang termasuk ciri morfologi diantaranya kesimetrian tubuh dan ada tidaknya
segmentasi tubuh.

Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar.

Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit.

Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan (morfologi) hewan tersebut. Morfologi adalah bentuk tubuh (termasuk warna) yang kelihatan dari luar. Oleh karena itu, untuk membuat suatu pengklasifikasian dibutuhkan adanya pengamatan morfologi dari parameter yang sudah ditentukan, sehingga dari parameter morfologi dapat dilakukan pengenalan dan pengklasifikasian hewan vertebrata dan avertebrata khususnya pada hewan yang dipraktikumkan yaitu belalang, burung Kutilang, kelinci, ular Cincin, udang Galah, bulu babi, ikan Nilem dan cacing Tanah.

Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata

Pada dasarnya morfologi dari setiap jenis hewan air yang masih dekat kekerabatanya mempunyai kemiripan-kemiripan, seperti anatomi dan morfologi udang, kepiting dan lobster hampir sama. Hal yang sama juga akan kita dapati pada berbagai jenis ikan serta pada berbagai jenis hewan lainnya. Kita mengenal berbagai jenis hewan air, diantaranya yang paling umum kita kenal adalah ikan, udang, molusca, amphibi dan sebagainya.

Adapun yang dimaksud dengan ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin, hidup di air, bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan sirip dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paru-paru.

Peninjauan pada jumlah lapisan tubuh, dinding tubuh hewan avertebrata dapat terdiri atas 2 lapisan yaitu ektoderm dan endoderm (diploblastik) dan dapat terdiri atas 3 lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm (tripobalstik). Menurut kesimetrian tubuh, hewan avertebrata memiliki kesimetrian berbeda-beda.

Simetri radial adalah tipe simetri dimana tubuh secara mendasar membentuk silindris dan bagian-bagian tubuh secara radial mengelilingi satu sumbu tunggal, yang mengarah ke kedua ujung. Simetri bilateral adalah tipe simetri tubuh yang jika dibagi dua menurut antero-posterior akan menghasilkan paruhan yang sama seperti suatu benda dengan banyangannya dicermin. Dari segi pembentukan anus dan mulut, hewan avertebrata memiliki proses pembentukan mulut dan anus yang berbeda pada saat perkembangan embrio, terutama pada saat tahap gastrula. Jika lebih dahulu pembentukan mulut (bukaan abterior) daripada anus (bukaan posterior) disebut “Protostomia”, dan kelompok hewannya disebut Protostomata. Jika yang terjadi sebaliknya disebut Deuterotomia, sedangkan kelompok hewannya disebut Deuterostomata.

Menurut kondisi rongga tubuh, hewan avertebrata ada yang tidak memiliki rongga tubuh disebut Aselomata. Hewan yang memiliki rongga tubuh semu, yaitu rongga tubuh belum dilengkapi dengan peritonieum (mesoderm) disebut Pseudoselomata. Hewan yang telah memliki rongga tubuh yang sempurna, yaitu telah memiliki peritonium di bagian luar dan dalam untuk melindungi saluran pencernaan disebut peritoneum visceralis atau selomata. Serta ada tidaknya lofofora dan segmentasi tubuh, beberapa hewan avertebrata mengalami proses metamerisme dan tagmanisasi.

Di dunia ini terdapat 40 phyla hewan avertebrata. Terdapat berbagai parameter untuk mengelompokkan hewan-hewan avertebrata diantaranya dikelompokkan atas dasar banyaknya sel penyusun tubuh, hewan avertebrata dibagi atas 2 kelompok yaitu avertebrata bersel satu (uniseluler, Protozoa) yang dapat hidup secara soliter atau berkoloni dan avertebrata bersel banyak (Metazoa) yang dapat berkonstruksi seluler, jaringan atau organ. Berdasarkan konstruksi tubuh, Struktur tubuh hewan avertebarata dapat berupa kontruksi  seluler (pada Porifera), berkontruksi jaringan (Cnidaria dan Ctenophora) dan berkonstruksi organ (Metazoa).

Metamerisme adalah suatu gejala tubuh hewan avertebrata yang terdiri atas satu seri segmen atau somit yang tersusun secara linier sepanjang tubuh anterior – posterior. Tagmatisasi adalah suatu pola tubuh hewan avertebrata matamerik dimana beberapa atau banyak segmennya berfungsi menyusun beragam fungsi (disebut tagma). Setiap tagma secara struktural dan fisiologis berbeda, tagma kepala berfungsi dalam makan, tagma thorax berfungsi dalam lokomosi, dan tagma abdomen berfungsi dalam reproduksi.

Filum Echinodermata memiliki tubuh simetrik radial, umumnya pentameri yang mengelilingi oro-aboralis. Filum Annelida biasanya bertubuh panjang, bersegmen dan memiliki rambut untuk bergerak. Kelas Insecta kebanyakan dilengkapi sayap di daerah dada, tubuh mengalami tagmatisasi menjadi kepala, dada dan perut. Sedangkan kelas Crustacea umumnya hidup di air  dan melakukan respirasi dengan insang.

Mari mengenal dan Mengklasifikasikan  hewan vertebrata dan avertebrata lebih detail ;

Klasifikasi merupakan pengelompokan individu-individu ke dalam suatu kelompok tertentu. Pengelompokan ini disusun secara runtut sesuai dengan tingkatannya (hirarkinya), yaitu mulai dari yang lebih kecil tingkatannya hingga ke tingkatan yang lebih besar. Ilmu yang mempelajari prinsip dan cara klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi atau sistematik. Anggota dari masing-masing kelompok memiliki sifat atau ciri khas tertentu yang membedakan dengan anggota dari kelompok lainnya, atau sering disebut dengan karakter taksonomi. Karakter taksonomi meliputi karakter kualitatif (diekspresikan dengan gambar atau kata-kata), misalnya warna dan bentuk, dan karakter kuantitatif (dapat dihitung atau diukur), misalnya jumlah kaki dan jari Karakter taksonomi meliputi karakter morfologi, etiologi, ekologi, fisiologi dan biogeografi.

Berdasarkan ada tidaknya sistem tulang belakang, hewan dibagi menjadi dua yaitu hewan vertebrata dan hewan avertebrata. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata yang mencakup semua hewan yang memiliki tulang belakang yang disusun dari tulang rawan dan tulang sejati.

Tulang-tulang yang menyusun tulang belakang disebut vertebrae. Hewan vertebrata memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan avertebrata, dan memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung (avertebrata).

Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki sistem kerja dan sefalisasi yang lebih sempurna dibandingkan hewan avertebrata. Peredaran darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.

Hewan vertebrata memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut :

1.   Mempunyai rangka internal.

2.   Mempunyai tulang yang terentang dari balakang kepala sampai bagian ekor.

3.   Mempunyai otak yang dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak.

4.   Tubuh berbentuk simetris bilateral.

5.  Mempunyai sepasang mata, sepasang kuping, kepala, leher, badan dan ekor walaupun ekor dan leher tidak mutlak ada contohnya pada katak.

6. Mempunyai kelenjar bundar, endoksin yang menghasilkan hormon untuk pengendalian, pertumbuhan dan proses fisiologis atau faal tubuh.

7.   Susunan saraf terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang.

8.  Alat pencernaan memanjang mulai dari mulut sampai ke anus yang terletak di sebelah vertran (depan) dan tulang belakang.

9.   Memiliki sistem sirkulasi tertutup.

Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuhnya dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium, di dalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium ini vertebrata dikenal juga sebagai craniata. Notochhord sebagai penyongkong berakhir pada cranium dan pada tingkat yang telah maju diganti oleh unsur-unsur tulang rawan atau tulang sejati yang membentuk tulang belakang.

Kelompok ini dikatakan vertebrata karena mempunyai tulang belakang yang beruas-ruas (vertebrae). Pemenuhan kebutuhannya, hewan vertebrata memiliki sistem kerja yang sempurna, peredaran darah berpusat pada organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.

Avertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana daripada kelompok hewan bertulang belakang. sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Menurut kondisi rongga tubuh, hewan avertebrata ada yang tidak memiliki rongga tubuh, disebut Aselomata.

Hewan yang memiliki rongga tubuh semu, yaitu rongga tubuh belum dilengkapi dengan peritonieum (mesoderm) yang disebut Pseudoselomata. Hewan yang telah memiliki rongga tubuh yang sempurna, yaitu telah memiliki peritonium di bagian luar dan dalam untuk melindungi saluran pencernaan disebut Peritoneum visceralis atau selomata. Beberapa hewan avertebrata mengalami proses metamerisme dan tagmatisasi.

Simetri adalah suatu keadaan pada tubuh organisme yang apabila dibagi oleh suatu bidang tertentu maka kedua belahannya yang satu merupakan bayangan cermin dari yang lain. Simetri tubuh terdiri atas dua bangun, yaitu simetri radial dan simetri bilateral. Simetri radial adalah suatu tipe simetri pada tubuh yang secara radial mengelilingi suatu
sumbu pusat tunggal. Tubuh hewan, tidak jelas sisi kanan dan kirinya, karena masing-masing busur sisi tubuh, identik terhadap busur lainnya.

Apabila suatu irisan diarahkan ke setiap dua radius yang berlawanan, maka irisan tersebut akan membagi tubuh hewan avertebrata simetri radial menjadi dua tengahan yang serupa. Contoh: hewan-hewan dari phyla Cnidaria dan Ctenophora. Ctenophora adalah sebuah divisi dari metazoa laut. Morfologi ctenophore ditandai dengan adanya satu set delapan baris sisir yang disebut dengan cilia dan digunakan untuk berenang. Kebanyakan ctenophora memiliki sepasang tentakel makanan yang mengandung sel-sel khusus yang disebut perekat colloblasts.

Hewan dengan simetri bilateral berarti mampu menjadi dibelah dua menjadi dua bagian
yang sama sehingga satu bagian adalah bayangan cermin dari yang lain. Tubuh hewan simetri bilateral, menunjukan pembagian yang jelas antara kepala, thoraks dan abdomen.

Contoh : classis Insecta dari phylum Arthtropoda

Tubuh hewan avertebrata ada pula yang terdiri atas segmen-segmen atau metamer. Metamerisme adalah suatu gejala tubuh hewan avertebrata yang terdiri atas satu seri segmen atau somit yang tersusun secara linier sepanjang tubuh anterior–posterior.

Tagmatisasi adalah suatu pola tubuh hewan avertebrata matamerik dimana beberapa atau banyak segmennya berfungsi menyusun beragam fungsi (disebut tagma). Setiap tagma secara struktural dan fisiologis berbeda, tagma kepala berfungsi dalam makan, tagma thorax berfungsi dalam lokomosi, dan tagma abdomen berfungsi dalam reproduksi.

Contoh Hewan Vertebrata dan Avertebrata Dan Penjelasan Lengkapnya ;

Ikan Nilem (Osteochilus hasselti), burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster), ular Taliwangsa (Boiga dendrophila), dan kelinci (Brachylagus sp). Sedangkan hewan avertebrata contohnya belalang (Valanga sp), cacing tanah (Pheretima sp), Bulu Babi (Diadema sp), dan udang Galah (Macrobrachium rosenbergii).

1.   Ikan Nilem (Osteochilus hasselti)

Ikan Nilem tergolong dalam ordo Ostariophysi dan famili Cyprinida seperti ikan Mas dan ikan Tawes. Bentuk badannya mirip ikan Mas tetapi badannya lebih memanjang dengan sirip punggung yang relatif lebih panjang. Warna badan ikan Nilem adalah coklat hijau kehitaman dan merah, mulut relatif lebar dengan mulut yang berkerut-kerut.

Tubuh ikan Nilem terdiri atas caput, truncus dan cauda dimana tak ada batas yang nyata sebagai batas antara truncus dan ekor di pandang anus. Osteochilus hasselti banyak terdapat di daerah Jawa Barat. Ikan Nilem ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi produk unggulan perikanan budidaya dari kawasan Priangan.

Dari sisi ekonomi, budidaya ikan ini sangat menguntungkan. Nilai ekonomis ikan ini akan meningkat setelah dijadikan berbagai produk olahan, misalnya baby fish goreng, dendeng dan pindang, di asap dan di kalengkan (Mulyasari, 2010).

Menurut Jasin (1989), Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) diklasifikasikan dalam:

Phylum :  Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class :  Pisces

Ordo :  Ostariophysi

Familia :  Cyprinidea

Genus  :  Osteochilus

Spesies :  Osteochilus hasselti

2. Cacing tanah (Pheretima sp.)

 Annelida (Cacing Gelang/ Cincin) merupakan binatang triploblastik selomata, tubuhnya bersegmen. Setiap segmen dibatasi oleh sekat (septum). Sudah memiliki sistem syaraf,
pencernaan, ekskresi, reproduksi dan sistem pembuluh. Hidup di air tawar, laut, darat atau parasit. Peranan Annelida dalam kehidupan: Menyuburkan tanah, karena membantu menghancurkan tanah dan membantu aerasi tanah misal Cacing Palolo.

Sebagai makanan, misal Cacing Palolo dan Cacing Wawo. Menghasilkan zat hirudin atau  zat antikoagulan atau zat anti pembekuan darah, misal lintah. Cacing tanah termasuk hewan tingkat rendah karena tidak mempunyai tulang belakang (invertebrata).

Menurut Saanin (1968), cacing tanah (Pheretima sp.) diklasifikasikan dalam:

Kingdom : Animalia

Phylum : Annelida

Classis : Oligochaeta

Ordo : Ophistopora

 Famillia : Megascolecidae

 Genus : Pheretima

 Species : Pheretima sp.

3. Burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster)

Burung kutilang adalah sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20 cm. Sisi atas tubuh (punggung, ekor) berwarna coklat kelabu, sisi bawah (tenggorokan, leher, dada dan perut) putih keabu-abuan. Bagian atas kepala, mulai dari dahi, topi dan jambul, berwarna hitam.

Tungging (di muka ekor) nampak jelas berwarna putih, serta penutup pantat berwarna jingga. Iris mata berwarna merah, paruh dan kaki hitam.

Menurut Jasin(1989), klasifikasi burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class :Aves

Ordo : Passeriformes

Familia :Pycnonotidae

Genus :Pycnonotus

Spesies : Pycnonotus aurigaster        

3. Udang Galah (Macrobachium rosenbergii)

Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai maupun laut atau danau. Udang menjadi dewasa dan bertelur hanya di habitat air laut. Betina mampu menelurkan 50.000 hingga 1 juta telur, yang akan menetas setelah 24 jam menjadi larva (nauplius). Nauplius kemudian bermetamorfosis memasuki fase ke dua yaitu zoea
(jamak zoeae).

Zoea memakan ganggang liar. Setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis (jamak myses). Mysis memakan ganggang dan zooplankton. Setelah tiga sampai empat hari kemudian mereka bermetamorfosis terakhir kali memasuki tahap postlarvae: udang muda yang sudah memiliki ciri-ciri hewan dewasa.

Menurut Jasin (1989), klasifikasi udang galah adalah sebagai berikut :

Phylum : Arthropoda

Classis : Crustacea

Ordo : Decapoda

Family : Plaemonidea

Genus : Macrobachium

Spesies : Macrobachium rosenbergii

4. Kelinci (Brachylagus sp.)

Kelinci memiliki panjang tubuh sekitar 260-400 mm dan memiliki empat gigi seri (dua di atas, dua di bawah) yang tumbuh terus menerus sepanjang hidupnya, dan dua pasang gigi di bagian atas belakang gigi seri, berbeda dengan para tikus (hanya memiliki 2 gigi seri atas dan bawah). Kelinci punya telinga panjang, kaki belakang besar dan pendek, ekor berbulu halus. Kelinci bergerak dengan melompat-lompat, dengan kaki panjang dan belakang mereka yang kuat. Jari-jari kaki kelinci panjang, dan berselaput untuk menjaga dari penyebaran selain sebagai binatang melompat.

Menurut Jasin (1989), klasifikasi Kelinci (Brachylagus sp.) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia

Superphylum : Chordata

Phylum : Vertebrata

Class : Mammalia

Ordo : Lagomorpha

Family : Leporidae

Genus : Brachylagus

Spesies : Brachylagus sp.

5. Belalang (Valanga sp.)

Belalang (Valanga sp.) merupakan hewan yang berciri-ciri antenna pendek, pronotum tidak memanjang ke belakang, tarsi beruas 3 buah, femur kaki belakang membesar, ovipositor pendek. Ukuran tubuh betina lebih besar dibandingkan dengan yang jantan. Sebagian besar berwarna abu-abu atau kecoklatan dan beberapa mempunyai warna cerah pada sayap belakang. Mempunyai alat suara (tympani) yang terletak di ruas abdomen pertama.

Belalang ditemukan di daerah berumput, daerah kering, pepohonan, padi, t3mbakau, jagung, tebu. Induk meletakkan telur-telurnya di tanah dalam suatu kantung dengan lapisan cukup kuat. Setelah menetas nimfa naik untuk mulai merusak tanaman, biasanya menggigit daun dari tepi atau bagian tengah, aktif pada siang hari. Jenis jantan menyanyi dengan cara menggosokkan sisi dalam femur belakang dengan sisi bawah sayap depan atau dengan menggetarkan sayap belakang saat terbang. Mampu bermigrasi ke tempat yang jauh.

Menurut Lilies (1991), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Orthoptera

Familia : Acrididae

Genus : Valanga

Species : Valanga sp. 

6. Ular Cincin Emas (Boiga dandrophila)

Boiga adalah besar genus dari agak berbisa, belakang bertaring, colubridular biasanya dikenal sebagai ular bermata kucing atau kucing ular saja. Ular jenis ini merupakan ular yang hidup di daerah mangrove, sehingga disebut ular mangrove. Mereka terutama ditemukan di tenggara Asia, India dan Australia.

Namun karena sifat mereka sangat kuat dan kemampuan beradaptasi sudah menyebar ke banyak habitat yang cocok lainnya di seluruh dunia.

Menurut Brotowidjojo (1990), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Reptilia

Ordo : Squamata

Sub Order : Serpentes

Familia : Colubridae

Sub Familia : Colubrinae

Genus : Boiga

Spesies : Boiga dandrophila

Ular cincin emas memiliki simetri bilateral berarti mampu dibelah menjadi dua bagian yang sama sehingga satu bagian adalah bayangan cermin dari yang lain. Tubuh hewan
simetri bilateral, menunjukkan pembagian yang jelas antara kepala, thoraks dan abdomen, dan mengalami tagmatisasi.

8. Bulu Babi (Diadema sp.)

Echinodermata merupakan salah satu komponen penting dalam hal keanekaragaman fauna di daerah terumbu karang. Hal ini karena terumbu karang berperan sebagai tempat berlindung dan sumber pakan bagi fauna echinodermata. Secara ekologi fauna Echinodermata berperan sangat penting dalam ekosistem terumbu karang, terutama dalam rantai makanan (food web), karena biota tersebut umumnya sebagai pemakan detritus dan predator.

Bulu Babi termasuk filum Echinodermata, bentuk dasar tubuh segi lima. Mempunyai lima pasang garis kaki tabung dan duri panjang yang dapat digerakkan. Kaki tabung dan duri memungkinkan binatang ini merangkak di permukaan karang dan juga dapat digunakan untuk berjalan di pasir. Cangkang luarnya tipis dan tersusun dari lempengan-lempengan yang berhubungan satu sama lain.

Ekosistem lamun merupakan habitat dari berbagai jenis fauna invertebrata, salah satunya kelompok Echinodermata yang merupakan kelompok biota penghuni namun yang cukup menonjol, terutama dari kelas Echinoidea (Bulu Babi).

Kelompok Echinodermata ini dapat hidup menempati berbagai macam habitat seperti zona rataan terumbu, daerah pertumbuhan algae, padang lamun, koloni karang hidup dan karang mati dan beting karang (rubbles  dan  boulders).

Hewan ini memiliki kaki tabung yang langsing panjang, mencuat diantara duri-durinya. Duri dan kaki tabungnya digunakan untuk bergerak merayap di dasar laut. Ada yang mempunyai duri yang panjang, lancip, pendek dan tumpul. Mulutnya terletak dibagian bawah menghadap kedasar laut sedangkan anusya menghadap keatas di puncak bulatan cangkang. Makanannya terutama alga, tetapi ada beberapa jenis yang juga memakan hewan-hewan kecil lainnya.

Menurut Darbohoesodo (1976), sistem klasifikasinya adalah:

Kingdom : Animalia

Phylum : Echinoderm

Class : Echinoidea

Subclass : Euchinoidea

Ordo : Cidaroidea

Familia : Diadematidae

Genus : Diadema

Spesies : Diadema setosum

Kesimpulan Tentang Hewan Vertebrata dan Avertebrata ;

1. Ciri-ciri yang tampak pada hewan vertebrata adalah mempunyai tulang belakang yang beruas-ruas (vertebrae) sedangkan pada hewan avertebrata tidak memiliki tulang belakang.

2. Cacing Tanah, udang Galah, belalang dan bulu babi termasuk hewan avertebrata.
Ular Taliwangsa, ikan Nilem dan burung Kutilang  termasuk hewan vertebrata.

Demikian ulasan seputar Pengenalan Hewan Avertebrata dan Vertebrata, semoga bermanfaat.

Bacaan Lebih Lanjut ;

Campbell, A. Neil, et al. 2004. Biology Edisi Kelima Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta.

Jenis-Jenis Fungi Dan Klasifikasinya

Jenis-Jenis Fungi Dan Klasifikasinya – Banyak jenis jamur dari golongan edible dan medicinal telah dikenal di dunia, juga di Indonesia, serta telah dibudidayakan. Kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar baik termasuk dalam Basidiomycetes, maupun Ascomycetes. Chang (2003) membagi cendawan menjadi 4 kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu jamur yang dapat dimakan, khasiat obat, beracun, dan jamur yang belum diketahui manfaatnya atau disebut miscellaneous.

Cendawan adalah suatu kelompok jasad hidup yang menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena mempunyai dinding sel, tidak bergerak, berkembang biak dengan spora, tetapi tidak mempunyai klorofil. Cendawan tidak mempunyai batang, daun, akar dan system pembuluh seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Umumnya cendawan berbentuk benang, bersel banyak dan semua bagian cendawan tersebut memiliki potensi untuk tumbuh. Tubuhnya dinamakan miselium dan benangnya disebut hifa yang tebalnya antara 0,5-100 mikron atau lebih (anonym, 2011).

Identifikasi dapat dilihat dari karakteristik morfologi, baik makromorfologi maupun mikromorfologi, termasuk di dalamnya warna tubuh buah, ukuran, bentuk, tangkai atau stipe, tipe lamella, pori, ukuran hifa, ukuran spora, tipe himenium, dan cirri-ciri koloni jamur lainnya. Hal utama yang perlu diperhatikan yaitu ciri khusus dan struktur jamur tersebut yang mencirikan dalam kelasnya (Ratnaningtyas, 2010).

Tujuan

Tujuan dalam praktikum ini anntara lain:

1. Mengetahui jenis-jenis jamur makroskopis yang ada di sekitar kita (edible).

2. Mengetahui karakteristik makromorfologi jamur makroskopis yang diperoleh di sekitar kita.

3. Mengetahui karakteristik mikromorfologi jamur makroskopis yang diperolah di sekitar kita.

Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop cahaya, objek glass, cover glass, dan cawan petri.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah jenis-jenis jamur yang diperoleh di sekitar kita (edible) dan larutan lactophenol cotton blue.

Cara Kerja

1. Pengamatan karakteristik makromorfologi jamur

a. Amati bentuk, ukuran, dan warna tudung.

b. Amati ada tidaknya tangkai, ukuran tangkai dan letak tangkai terhadap tudung.

c. Amati karakter makromorfologi sebalik tudung tubuh buah jamur. Jika terdapat lamella, gambar gill spacing nya. Adapun bila memiliki pori, hitung jumlah pori pada 1mm2.

2. Pengamatn karakteristik mikromorfologi jamur

a. Iris melintang tudung jamur setipis mungkin.

b. Letakn irisan tersebut pada gelas benda, kemudian tetesi dengan lactophenol cotton blue.

c. Amati mnggunakan mikroskop dengan perbesaran lemah dan kuat, gambar adanya lapisan himenium, basidium/askus, basidiospora, dan struktur lain yang terlihat.

Pembahasan

Kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar baik termasuk dalam Basidiomycetes, maupun Ascomycetes. Alexopoulus (1996), membagi cendawan menjadi 4 kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu jamur yang dapat dimakan (edible), khasiat obat (medicinal), beracun (poisonous), dan jamur yang belum diketahui manfaatnya (miscellaneous).

Berdasarkan hasil, jamur yang dapat dimakan yaitu Auricularia auricula, Agaricus brunescens, Lentinus edodes, Pleurotus ostreatus dan Volvariella volvaceae. Jamur yang berkhasiat sebagai obat (medicinal) yaitu Ganoderma lucidum. Tidak ditemukan jamur yang beracun. Mikoriza yaitu jamur yang berasosiasi dengan akar tumbuhan. Dibagi menjadi 2 yaitu ektomikoriza dan endomikoriza.

Untuk klasifikasi jamur, baik jamur mikro dan makro, anda bisa membacanya di Struktur jamur makro dan mikro beserta klasifikasinya.

Menurut Chang dan Miles cendawan atau mushroom adalah kelompok jamur yang mempunyai tubuh buah cukup besar sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat dipetik oleh tangan, tidak selalu berdaging, tidak selalu dapat dimakan. Cendawan dikelompokan menjadi empat kategori berdasarkan khasiatnya, yaitu:

  1. Jamur yang dapat dimakan, biasanya berdaging dan dapat dimakan, contoh Agaricus brunescens;
  2. Jamur yang mempunyai khasiat obat, contoh Ganoderma lucidum;
  3. Jamur yang beracun, termasuk di dalamnya jamur yang diketahui beracun atau diduga beracun, contoh Amanita phallolides;
  4. Jamur yang khasiatnya belum diketahui atau disebut kelompok miscellaneous.

Tabung merupakan saluran tempat keluarnya spora. Tabung ini baru ditemukan pada Ganoderma lucidum.

Media tumbuh jamur ling zhi seperti halnya jamur kayu lainnya yaitu bahan yang mengandung selulosa dan lignin. Salah satu media yang umum digunakan yaitu limbah serbuk gergajian. Serbuk kayu albasiah merupakan jenis serbuk yang banyak digunakan untuk media tumbuh jamur karena sifatnya yang lunak dan mudah lapuk (Aditya, 2010).

Setelah mengamati histologi preparat awetan Ganoderma lucidum dapat dilihat pada potongan membujur dan melintang terdapat kutis dan tabung. Kutis yaitu hifa yang terdiferensiasi. Tabung di dalamnya terdapat himenium, basidium, dan basidiospora, yang kemudian akan keluar dan lepas melalui porus. Porus yakni suatu pangkal dimana spora keluar. Basidium adalah tempat dimana basidiospora terbentuk. Basidiospora itu terbentuk di luar basidium.

Tipe hifa dibagi 3, yaitu :

  1. Hifa generatif, yaitu hifa yang mampu memproduksi basidia, ciri-ciri : bercabang, dinding tipis, berseptat
  2. Hifa dinding, yaitu hifa untuk menyatukan hifa satu dengan yang lain, cirinya bercabang
  3. Hifa skeletal, yaitu hifa untuk memperkuat basidiocarp, cirinya tidak bercabang.

Jika basidiocarp terdiri dari hifa generatif disebut hifa monomitik, terdiri dari hifa dinding dan hifa skeletal disebut hifa dimitik. Jika terdiri dari hifa generatif, hifa dinding dan hifa skeletal disebut hifa trimitik.

Menurut Chang (1993) berdasarkan kategori taksonomi jamur dibedakan atas dasar tipe spora, morfologi hifa dan siklus seksualnya menjadi 5 kelompok diantaranya Oomycetes, Zygomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes.

Manfaat yang dapat diambil dari pengetahuan tentang bentuk dan bagian dari jamur itu sendiri adalah mengetahui jenis-jenis jamur yang dapat dimakan, di jadikan obat ataupun jamur beracun. Bentuk dan bagian jamur memang sangat penting untuk dipelajari dimana warna yang mencolok biasanya menandakan bahwa jamur memiliki sifat beracun. tempat hidup jamur juga akan mempengaruhi kandungan yang ada di dalam tubuh jamur (Dwidjoseputro, 1978).

Bacaan lebih lanjut ;

Anonim. 2011. Tentang Cendawan. http:// WordPress.com/2011/10/20/cendawan. Diakses tanggal 15 Oktober 2011.

Aditya, Rial. 2010. Budidaya Jamur Lingzhi / Reishi / Ganoderma lucidum Bagian 2. http://organikganesha.wordpress.com/2010/04/06/budidaya-jamur-lingzhi- reishi-ganoderma-lucidum-bagian-2/. Diakses 16 Oktober 2011.

Agromania. 2010. http://groups.yahoo.com/group/agromania/message/61217. Diakses tanggal 22 November 2010

Alexopoulos, C.J., C. W. Mims and M. Blackwell. 1996. Introductory Mycology. John willey and Sons Inc., New York.

Chang, L.M. Antioxidant Activity and Total Phenolic of Edible Mushroom Extract Food Chem. 81,pp. 249-25.

Dwidjoseputro. 1978. Pengantar Mikologi. Penerbit Alumni, Bandung.

MycoBank.org. 2010. Fungal Databases Nomenclature and Species Banks Online Taxonomic Novelties Submission. http://www,mycobank.org /MycoTaxo.aspx?Link=T&Rec=239416

Ratnaningtyas, N. I. 2010. Petunjuk Praktikum Biologi Jamur Makroskopis. Laboratorium Mikologi-Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Otak Manusia Modern Alami Penyusutan

Otak Manusia Modern Alami Penyusutan – Para ilmuan di Cambridge University mengklaim, manusia modern bukan saja lebih kecil dan pendek dibandingkan leluhurnya, tapi juga memiliki otak lebih kecil. Para ilmuwan menjelaskan dalam kurun 10 ribu tahun terakhir struktur fisik manusia modern menjadi lebih kecil dan lebih pendek hingga 10 persen dibandingkan nenek moyang mereka. Hal ini terutama disebabkan oleh pertanian, pola makan yang kian ketat serta proses urbanisasi yang bisa membahayakan kesehatan serta berujung pada penyebaran penyakit.

Perkembangan Sejarah Otak Manusia

Teori ini muncul dari beberapa studi tentang sejumlah fosil manusia yang ditemukan di Afrika, Eropa dan Asia. Ahli evolusi manusia Dr Marta Lahr menjelaskan 10 ribu tahun lalu manusia memiliki bobot rata-rata 77 hingga 83 kilogram. Namun saat ini manusia memiliki berat rata-rata 69 kilogram hingga 75 kilogram. Manusia terus mengalami evolusi, tapi perubahan ukuran tubuh ini  terjadi secara signifikan setelah 10 ribu tahun lalu, kenapa ? , penjelasan akan ditemukan diisi.

Otak adalah organ pengintegrasi dalam tubuh hewan ataupun manusia. Ia mempengaruhi segala sistem yang lain dan mengkoordinasi segala tindakan. Ia memprojeksi segala inplus intern, dan menerima serta mentafsirkan segala stimuli extern. Oleh karena itu otak merupakan rekaman evolusi hewan yang terlengkap. Secara teoritis tidak mungkin ada perubahan adaptif dalam perilaku hewan yang tidak mempengaruhi struktur otaknya.

Otak Manusia Modern Alami Penyusutan

Gaya hidup dari berburu menjadi bertani, yang dimulai sekira 9 ribu tahun lalu, menjadi pemicu awal terjadinya evolusi menyusutnya otak. Di satu sisi kehidupan bertani memastikan manusia memiliki cukup makanan, namun karena hanya terpaku dengan sejumlah kecil makanan biasa mengakibatkan manusia kekurangan vitamin dan mineral sehingga menghambat pertumbuhan mereka. Volume otak manusia mengalami penurunan secara signifikan. Otak pria 20 ribu tahun lalu diketahui mencapai 1.500 centimeter kubik. Namun otak pria modern rata-rata hanya mencapai 1.350 centimeter kubik. Jika diukur, volume yang ‘hilang’ dari otak pria modern memiliki ukuran sama seperti bola tenis.

Ini Tentang Efektivitas Dan Efisiensi

Antropolog menegaskan penyusutan otak merupakan hal yang tak terlalu mengejutkan. Pasalnya, semakin kuat dan besar, maka makin besar tenaga pengendali yang dibutuhkan otak. Manusia Neanderthal yang hilang 30 ribu tahun silam, diyakini memiliki otak lebih masif dan besar.

Otak Homo Sapiens yang semakin menyusut tidak berarti semakin bodoh, justru sebaliknya. Manusia melakukan evolusi karena terdorong  keadaan lingkunganya. Manusia telah belajar memaksimalkan fungsi otak mereka dengan lebih efisien. Manusia Cro-Magnon atau lebih dikenal sebagai Homo Sapiens memiliki otak yang cukup besar. Tak heran, mereka lebih kuat dibanding keturunan lainnya. Profesor psikologi University of Missouri David Geary mengatakan, penyusutan ini merupakan salah satu cara bertahan di lingkungan yang ada.

Dalam proses evolusi terjadi penghematan energi besar-besaran yang menjadikan otak semakin kecil tapi lebih efisien. Sama halnya seperti yang kita lihat terjadi pada prosesor computer, yang pada perkembanganya semakin mengecil dan efisien.

Poin Penting !

Evolusi otak manusia semakin menyusut karena terdorong untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang semakin sulit, kebiasaan makan, gaya hidup diduga mejadi faktor yang mempercepat evolusi otak. Manusia juga belajar memaksimalkan kerja otak menjadi semakin efisien dari waktu kewaktu.

Demikian artikel kami berjudul Otak Manusia Modern Alami Penyusutan, semoga bermanfaat.

Bacaan lebih lanjut ;

Anonym . 2011. Meski otak menyusut, manusia tetap lebih pintar . Artikel Kementerian Riset & Teknologi. diakses tanggal 11 Oktober 2011.

Jacob, T. 1975.  Evolusi Otak Primates.  Berkala  Ilmu Kedokteran Gajah Mada Jilid VII : 1. Unuversitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Simpan

Simpan

Isolasi dan Identifikasi Bacillus sp.

Cara Isolasi dan Identifikasi Bacillus sp. – Populasi mikroba di alam merupakan populasi campuran dari berbagi mikroorganisme atau disebut juga biakan campuran. Teknik biakan murni digunakan untuk memisahkan berbagai macam bakteri tersebut. Peranan bakteri baik yang menguntungkan ataupun yang merugikan dalam kehidupan kita dapat diketahui melalui proses isolasi dan identifikasi. Prinsip isolasi adalah memisahkan suatu mikroba dari mikroba lainya sehingga diperoleh kultur murni. Suatu organism harus diklasifikasikan sebelum diidentifikasi.

Identifikasi dilakukan untuk mengetahui spesies bakteri wild tipe yang diperoleh untuk selanjutnya digunakan untuk berbagai keperluan; selain itu proses tersebut juga berfungsi untuk mengecek ulang (uji konfirmasi) isolasi yang telah diketahui spesies dan karakternya, sehingga dapat memperkecil kesalahan pada hasil uji yang dilakukan. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam uji identifikasi yaitu dengan pendekatan konvensional (mikrobiologis) dan pendekatan molekuler.

Bacillus sp. Dapat diisolasi dari tanah. Bacillus.sp merupakan bakteri gram positif dengan sel batang berukuran 0,3-2,2 x 1,27-7 mikro meter, sebagian bersifat motil, jika di panaskan akan membentuk endospora, bersifat aerob sampai anaerob fakultatif, metabolism dengan fermentasi dan respirasi. Untuk memastikan bahwa koloni koloni tersebut adalah bacillus, maka dilakukan serangkaian pengujian yang bersifat spesifik yaitu pewarnaan gram, pewarnaan negative dan motilitasnya.

Bacillus diformulasikan dalam family Bacillaceae pertama kali oleh Fisher pada tahun 1895 (Gordon,1981). Bacillus dibedakan dari anggota familia Bacillaceae lainya berdasarkan sifat-sifatnya yaitu ;keseluruhanya merupakan pembentuk spora,hidup pada kondisi aerob sampai anaerob fakultatif, selnya berbentuk batang, dan memproduksi katalase. Spora Bacillus memiliki daya tahan terhadap panas, iridiasi, dan desikasi 1000 kali lebih kuat dibandingkan dengan sel vegetative (Levin et.al.,1992). Bacillus adalah bakteri yang tahan terhadap pemanasan,termasuk gram positif, membentuk spora, bersifat aerob sampai anaerob fakultatif, dan bacillus kebanyakan adalah saprofit. Masing-masing bacillus hanya menghasilkan satu spora yang resisten terhadap perlawanan suhu, radiasi,desikasi dan desinfektan.

Materi Dan Metode

A. Materi

Materi yang digunakan dalam praktikum ini meliputi alat dan bahan. Peralatan yang digunakan dalam praktikum adalah jarum ose, objek glass, mikroskop, micrometer, kertas merang, tabung reaksi, pipet tetes, beaker glass, cawan petri, oven, pembakar sepirtus, incubator, wrapper.

Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah akuades, alcohol 70%, medium Nutrient Agar (NA), Nitrat Broth (NB), malachite green, starch agar (SA), SIMA semisolid, SMA (skin milk agar), simone citrat, MR-VP Broth, KOH-alfanaftol, reagen A dan B, NaCl (6,5 dan 10%), Kristal violet, lugol’s iodine, safranin, etanol 96%, reagen H2O2, medium NB + NaCl ,reagen laktosa dan rafinosa, reagen oksidase.

B. Metode

Pengambilan sampel

1. Pengambilan dilakukan secara aseptis

2. Alumunium foil disiapkan yang sebelumnya disterilkan terlebih dahulu dengan alcohol 70%

3. Sampel diambil dengan cepat dan dengan hati-hati dimasukan kedalam alumunium foil steril kemudian ditutup rapat

Tahap isolasi bacillus

1. Preparasi

Tahap Pemurnian dengan Metode Streak Kuadran

 1. Dipilih satu koloni yang nampak terdiri satu tipe sel

2. Jarum ose dibakar, setelah dingin disentuhkan ke permukaan koloni bakteri yang akan distreak pada plating NA.

3. Streak ini dianggap sebagai streak primer pada permukaan NA

4. Jarum ose dibakar, angkat lalu didinginkan dan distreakan melewati streak primer kesatu atau kedua dan kemudian dilanjutkan streak sekunder tanpa kembali ke streak primer

5. Jarum ose dibakar, angkat lalu didinginkan dan distreakan melewati streakan sekunder dan kemudian dilanjutkan streak tersier tanpa kembali ke streak sekunder dan primer

6. Plating diinkubasi pada suhu 300C selama 2x24jam.

Pengamatan Morfologi Koloni

1. Pengamatan morfologi koloni dilakukan pada koloni tunggal yang terbentuk setelah pemurnian dengan streak kuadran

2. Bentuk koloni, bentuk tepi, elevasi dan lainnya diamati.

Pengamatan morfologi koloni

1. Dibuat biakan pada media Nutrien Agar (NA) cawan

2. Inkubasi 2×24 jam pada suhu 300C

3. Perbedaan bentuk koloni, bentuk tepi, elevansi dan lainya diamati.

Pengukuran Panjang dan Lebar Sel

1. Disiapkan mikroskop yang telah dipasang micrometer okuler yang telah terkalibrasi

2. Dibuat preparat ulas bakteri uji dan bakteri control positif maupun negatif.

3. Diukur panjang dan lebar sel kemudian dihitung panjang dan lebar sel sebenarnya

Uji Pewarnaan Gram

1. Dibuat ulasan bakteri pada object glass,difiksasi

2. Ditetesi dengan gram A (Kristal violet), dibiarkan selama 60 detik

3. Cuci dengan air mengalir , kering anginkan

4. Ditetesi dengan gram B (lugol’s iodine), dibiarkan selama 60 detik

5. Dicuci dengan air mengalir, dikeringanginkan

6. Dicuci dengan gram C (etanol 96%) setetes demi setetes sampai etanol yang jatuh berwarna bening dan jangan sampai terlalu banyak

7. Ditetesi dengan gram D (safranin), dibiarkan selama 45 detik, dicuci dan dikering anginkan

8. Diamati di bawah mikroskop

Uji pewarnaan endospora

1. Dibuat ulasan bakteri pada objek glass lalu ditutup dengan kertas merang

2. Ditetesi dengan malachite green di atas kertas merang dan diletakan di atas air mendidih. Dibiarkan selama 5 menit, jika pinggir mulai mongering tambahkan lagi Malachite green.

3. Setelah dingin, object glass dibilas dengan akuades mengalir.

4. Tetesi dengan safranin sebagai counter stain.

5. Didiamkan selama 45 detik

6. Dicuci dan dikeringanginkan

7. Diamati di bawah mikroskop

Uji Motilitas

1. Isolat dari stok ditanam pada SIMA (Sulphide Indole Motility Agar)

2. Inkubasi pada suhu 300C selama 2×24 jam

3. Amati motilitas dari pertumbuhan bakteri yang terbentuk.

Uji hidrolisis starch

1. Diinokulasikan bakteri uji pada medium padat starch agar sebanyak 1 ose

2. Inkubasi pada suhu 300C selama 2×24 jam

3. Kemudian permukaan media digenangi dengan larutan lugol’s iodine

4. Diamati perubahan yang terjadi, jika terbentuk zona jernih di sekitar koloni menandakan hasil uji positif, dan jika tidak terbentuk zona jernih menandakan hasil uji negative

Uji hidrolisis kasein

1. Diinkubasi bakteri uji pada medium padat SMA sebanyak 1 ose

2. Dinkubasi pada suhu 300C selama 2×24 jam

3. Diamati perubahan yang terjadi , jika terbentuk zona jernih di sekitar koloni menandakan hasil uji positif, dan jika warna media tetap menandakan hasil uji negative

Uji VP (Voges Proskauer)

1. Bakteri uji ditumbuhkan pada medium cair MR-VP sebanyak 1 ose

2. Bakteri uji diinkubasi selama 2×24 jam pada temperatur 300C

3. Bakteri uji ditetesi KOH 40% 2 tetes-alfanaftol 3 tetes

4. Hasil positif jika terbentuk kompleks warna pink

Uji Katalase

1. Preparat ulas bakteri uji dibuat

2. Preparat ulas ditetesi dengan reagen H2O2

3. Perubahan diamati, hasil positif jika terbentuk gelembung gas dan hasil negatif jika tidak terbentuk gelembung gas.

Uji Oksidase

1. Dibuat preparat ulas bakteri pada objek glass, tutup dengan potongan tissue

2. Ditetesi dengan reagen oksidase

3. Diamati perubahan yang terjadi

4. Hasil positif jika berwarna biru marun, hasil negative tidak terbentuk warna biru marun

Uji Penggunaan Sitrat

1. Diinokulasikan bakteri uji pada medium agar miring simon citrate sebanyak 1 ose

2. Dinkubasi pada suhu 300C selama 2×24 jam

3. Diamati perubahan yang terjadi, jika hasil positif media berwarna biru sedangkan hasil negative tetap berwarna hijau

Uji Karbohidrat (Raffinosa/ laktosa)

1. Bakteri uji ditumbuhkan pada medium laktosa dan Raffinosa

2. Bakteri uji diinkubasi selama 2×24 jam pada temperatur 300C

3. Perubahan diamati, hasil positif jika media berubah warna dari ungu menjadi kuning dan hasil negatif jika media tetap berwarna ungu.

Uji Toleransi NaCl

1. Dibuat tiga buah tabung Nutrient broth yang mengandung NaCl 0%, 6,5 %, dan 10%

2. Diinokulasikan dengan streak kontinyu

3. Dinkubasi pada suhu 300C selama 2×24 jam

4. Amati hasilnya

Demikian artikel tentang Cara Isolasi dan Identifikasi Bacillus sp, semoga bermanfaat.