Arsip Kategori: Artikel

MAKALAH TENTANG MASLAHAH MURSALAH

MASLAHAH MURSALAH
Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah landasan hukum bagi umat Islam. Didalamnya terdapat banyak sekali aturan yang harus kita taati. Kita juga dapat menyelesaikan berbagai masalah melalui Al-Quran dan Al-Hadits.
Tetapi tidak semua masalah bisa diselesaikan melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Apalagi di zaman sekarang ini, banyak sekali masalah-masalah yang rumit yang tidak pernah terjadi pada zaman Nabi. Maka dari itu, tidak ada dalil baik dalam Al-Qur’an atau pun Al-Hadits yang dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaikan masalah tersebut. 
Maka dari itulah muncul yang namanya al-mashlahah al-mursalah, sehingga jika terdapat suatu kejadian yang tidak ada ketentuan syariat dan tidak ada ‘illat yang keluar dari syara’ yang menentukan kejelasan hukum kejadian tersebut, dengan melalui al-mashlalah al-mursalah dapat ditemukan sesuatu yang sesuai dengan hukum syara’, yakni suatu ketentuan yang berdasarkan pemeliharaan kemadhorotan atau untuk menyatakan suatu manfaat.
Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang apa itu al-mashlalah al-mursalah. Mulai dari pengertian, dasar hukum, objek, dalil-dalil dan syarat-syarat menjadikan hujjah al-mashlalah al-mursalah.

A.    PENGERTIAN AL-MASHLAHAH AL-MURSALAH

Dari segi bahasa, kata al-mashlahah adalah seperti lafadz al-manfa’at baik artinya wazannya, yaitu kalimat mashdar yang sama artinya dengan kalimat ash-shalah, seperti halnya lafadz al manfa’at sama artinya dengan al-naf’u.
Bisa juga dikatakan bahwa al-mashlahah itu merupakan bentuk tunggal (mufrod) dari kata al-mashalih. Pengarang kamus Lisan Al-‘arob menjelaskan dua arti, yaitu al-mashlahah yang berarti ash-shalah dan al-mashlahah yang berarti bentuk tunggal dari al-mashalih. Semuanya mengandung arti adanya manfaat baik secara asal maupun melalui suatu proses, seperti menghasilkan kenikmatan dan faedah, ataupun pencegahan dan penjagaan, seperti menjauhi kemadharatan dan penyakit.[1]
Manfaat yang dimaksud oleh pembuat hukum syara’ (Allah) adalah sifat menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan hartanya untuk mencapai ketertiban nyata antara pencipta dan makhluknya. 
Dengan demikian, al-mashlahah al-mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidk mempunyai dasar dalil, tapi juga tidak ada pembatalnya.
Setiap hukum yang didirikan atas dasar mashlahat dapat ditinjau dari tiga segi yaitu :
  1. Melihat mashlahah yang terdapat pada kasus yang dipersoalkan. Kemaslahatan ditinjau dari sisi ini disebut al-mashlahah al-mursalah.[2]
  2. Melihat sifat yang sesuai dengan tujuan syara’ (al-washf al-munasib) yang mengharuskan adanya suatu ketentuan hukum agar tercipta suatu kemashlahatan. Istilah tersebut digunakan oleh Ibnu Hajib dan Baidawi.
  3. Melihat proses penetapan hukum terhadap suatu mashlahah yang ditunjukan oleh dalil khusus. Istilah tersebut digunakan oleh Al-Ghozali dalam kitab al-Mustasyfa. atau dipakai istilah al-isti’dalal-mursalah, seperti dipakai asy-syatibi dalam kitab al-muafaqot.

Di bawah ini akan di bahas beberapa pandangan para ulama tentang hakikat dan pengertian al-mashlahah al-mursalah.
  1. Menurut Abu Nur Zuhair, al-mashlahah al-mursalah adalah suatu sifat yang sesuai dengan hukum, tetapi belum tentu diakui atau tidaknya oleh syara’.( Muhammad Abu Zuhair, IV : 185)
  2. Menurut Abu Zahrah, al-mashlahah al-mursalah adalah suatu mashlahah yang sesuai dengan maksud-maksud pembuat hukum (Alloh) secara umum, tetapi tidak ada dasar yang secara khusus menjadi bukti diakui atau tidaknya. (Abu Zahrah : 221)
  3. Menurut Asy-Syatibi, al-mashlahah al-mursalah adalah suatu masalah yang tidak ada nash tertentu, tetapi sesuai dengan tindakan syara’.
  4. Menurut Imam Malik, al-mashlahah al-mursalah adalah suatu mashlahah yang sesuai dengan tujuan, prinsip, dan dalil-dalil syara’, yang berfungsi untuk mengghilangkan kesempitan, baik yang bersifat dharuriyat (primer) maupun hajjiyat (sekunder). (Al-I’tisham, juz II : 1229) [3]

B.     DASAR HUKUM AL-MASHLAHAH AL-MURSALAH

Para ulama yang menjadilkan al-mashlahah al-mursalah sebagai salah satu dalil syara’, menyatakan bahwa dasar hukum al-mashlahah al-mursalah, ialah :
  1. Persoalan yang dihadapi manusia selalu tumbuh dan berkembang, demikian pula kepentingan dan keperluan hidupnya. Kenyataan menunjukan bahwa banyak hal-hal atau persoalan yang tidak terjadi pada masa Rosululloh SAW, kemudian timbul dan terjadi pada masa-masa setelah Rosulloh SAW meninggal dunia. Seandainya tidak ada dalil yang dapat memecahkan hal-hal yang demikian berarti akan sempitlah kehidupan manusia. Dalil itu adalah dalil yang dapat menetapkan mana yang merupakan kemashlahatan manusia dan mana yang tidak sesuai dengan dasar-dasar umum dari agama islam. Jika hal itu telah ada, maka dapat direalisir kemashlahatan manusia pada setiap masa, keadaan dan tempat.
  2. Sebenarnya para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan para ulama yang datang sesudahnya telah melaksanakannya, sehingga mereka dapat segera menetapkan hokum sesuai dengan kemashlahatan kaum muslimin pada masa itu. Contoh, Khalifah Abu Bakar telah mengumpulkan Al-Qur’an, Khalifah Umar telah menetapkan talak yang dijatuhkan tigs ksli sekaligus jatuh tiga, padahal pada masa rosululloh SAW hanya jatuh satu, Khalifah Utsman telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an dalam satu mushaf dan Khalifah Ali pun teklah menghukum bakar hidup golongan Syi’ah Radidhah yang memberontak, kemudian diikuti oleh para Ulama yang datang sesudahnya.[4]

C.    OBJEK AL-MASHLAHAH AL-MURSALAH

Yang menjadi objek al-mashlahah al-mursalah, ialah kejadian atau peristiwa yang perlu ditetapkan hukumnya, tetapi tidak ada satu pun nash (Al-Qur’an dan Al-Hadits) yang dapat dijadikan dasarnya. Prinsip ini disepakati oleh kebanyakan pengikut madzhab yang ada dalam fiqh, demikian kenyataan Imam Al-Qarafi Ath-Thufi dalam kitabnya mashalihul mursalah menerangkan bahwa  al-mashlahah al-mursalah itu sebagai dasar untuk menetapkan hukum dalam bidang muamalah dan semacamnya.[5]

D.    DALIL-DALIL ULAMA YANG MENJADIKAN HUJJAH AL-MASHLAHAH AL-MURSALAH

Jumhur Ulama umat Islam berpendapat, bahwa al-mashlahah al-mursalah itu adalah hujjah syari’at yang dijadikan dasar pembentukan hukum, dan bahwasannya kejadian yang tiodak ada hukumnya dalam Nash dan Ijma atau Qiyas atau Istihsan itu disyari’atkan padanya hukum yang dikehendaki oleh mashlahah umum, dan tidaklah berhenti pembentukan hukum atas dasar mashlahah ini karena adanya saksi syari’ yang mengakuinya.
Dalil mereka mengenai hal ini ada dua, yaitu :
Pertama, yaitu bahwa mashlahah umat manusia itu selalu baru dan tidak ada habisnya. Maka seandainya tidak disyari’atkan hukum mengenai kemashlahatan manusia yang baru dan mengenai sesuatu yang dikehendaki oleh pengembangan mereka, serta pembentukan hukum itu hanya berkisar atas mashlahah yang diakui olrh syari’ saja, maka berarti telah ditinggalkan beberapa kemashlahatan umat manusia pada berbagai zaman dan tempat.
Kedua, bahwasannya orang yang meneliti pembentukan hukum para sahabat, tabi’in dan para para mujtahid, maka jadi jelas bahwa mereka telah mensyari’atkan beberapa hukum untuk merealisir mashlahah secara umum, bukan karena adanya saksi yang mengakuinya.[6]

E.     SYARAT-SYARAT MENJADIKAN HUJJAH AL-MASHLAHAH AL-MURSALAH

Para ulama yang menjadikan hujjah al-mashlahah al-mursalah, mereka berhati-hati dalam hal itu, sehingga tidak menjadi pintu bagi pembentukan hukum syari’at menurut hawa nafsu dan keinginan perorangan. Karena itu mereka mensyaratkan dalam  al-mashlahah al-mursalah yang dijadikan dasar pembentukan hukum itu ada tiga syarat yaitu sebagai berikut :
  1. Berupa mashlahah yang sebenarnya, bukan mashlahah yang bersifat dugaan. Yang dimaksud dengan ini, yaitu agar dapat direalisir pembentukan hukum kejadian itu, dan dapat mendatangkan keuntungan atau menolak madhorot.
  2. Berupa mashlahah yang umum, bukan mashlahah yang bersifat perorangan. Yang dimaksud dengan ini, yaitu agar dapat direalisir bahwa dalam pembentukan hukum suatu kejadian dapat mendatangkan keuntungan kepada kebanyakan umat manusia, atau dapat menolak kemadhorotan dari mereka, dan bukan mendatangkan keuntungan kepada seseorang atau beberapa irang saja diantara mereka.
  3. Pembentukan hukum bagi mashlahah ini tidak bertentangan dengan prinsip yang telah ditetapkan okeh nash atau ijma. Jadi tidak sah mengakui mashlahah yang menuntut adanya kesamaan hakdiantar anak laki-laki dan perempuan dalam hal pembagian harta pusaka karena masalah ini adalah masalah yang dibatalkan.[7]

DAFTAR PUSTAKA
•Khallaf, Abdul Wahab.1996.Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqh).Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
•Muchtar, Kamal,dkk.1995.Ushul Fiqh.Yogyakarta:PT Dana Bhakti Wakaf
•Syafe’I, Rahmat.2007.Ilmu Ushul Fiqih.Bandung:Pustaka Setia
________________________________________
[1] Rachmat Syafe’I,Ilmu Ushul Fiqih,Bandung:Pustaka Setia,2007,hal.117
[2] Maslhahah yang terlepas dari dalil khusus
[3]Op.cit,Hal.119.
[4] Kamal Muchtar,Ushul Fiqih,Yogyakarta:PT Dana Bhakti Wakaf,1995,Hal.145
[5]Ibid,Hal.146
[6] Abdul Wahab Khallaf,Kaidah-Kaidah Hukum Isla(Ilmu Ushulul Fiqh),Jakarta:PT Raja Grafindo,1996,Hal.128-129
[7]Ibid,Hal.130-131

15 Amalan Sederhana Sama dengan Pahala Pergi Haji

15 Amalan Sederhana Sama dengan Pahala Pergi Haji

Anda belum bisa melaksanakan ibadah Haji? Janganlah berkecil hati dengan kekurangan yang Anda miliki tersebut, karena banyak jalan yang Allah SWT sediakan untuk para umat Islam dalam mendapatkan limpahan pahala dari-Nya. 

Berikut ini, akan dijelaskan beberapa tips ibadah yang harus Anda lakukan untuk menyongsong Hari Arofah ( 9 Dzulhijjah ) bagi Anda yang belum bisa berziarah ke Mekah dan melaksanakan ibadah Haji. Ibadah-ibadah ini rutin dilaksanakan oleh para sahabat Nabi yang tidak mampu atau berhalangan untuk melaksanakan ibadah Haji. Bacalah dengan penuh perhatian kemudian praktekkan pada hari “H” nya!

1. Tidurlah lebih awal di malam Arafah ( 9 Dzulhijjah ) untuk menyimpan energi, sebagai persiapan karena Anda akan melaksanakan ibadah penuh kepada Allah SWT. di hari Arofah ( 9 Dzulhijjah ). 

2. Bangunlah lebih awal untuk melaksanakan sholat sunnah Tahajjud. Lakukan sholat Tahajjud minimal 4 roka’at dengan cara 2 roka’at salam. Niat sholat sunnah Tahajjud adalah sebagai berikut :

اصلّى سنّة التّهجّد ركعتين لله تعالى
Ejaan : Ushallii sunnatat-tahajjudi rak’ataini lillahi ta’ala.
Artinya : “ Aku niat sholat sunah Tahajjud dua raka’at karena Allah Ta’ala”.

Dikala sujud berdoalah untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat. Semoga Rahmat dan Ampunan Allah SWT turun untuk kita di malam itu. Kemudian tutuplah tahajjud dengan shalat witir minimal 3 raka’at. Yaitu 2 raka’at salam dan 1 rakaat salam.

Niat shalat witir 2 raka’at :
 اصلّى سنّة الوتر ركعتين لله تعالى  
Ejaan : Ushallii sunnatal-witri rak’ataini lillahi ta’ala.
Artinya : “ Aku niat sholat sunah Witir dua raka’at karena Allah Ta’ala”.

Niat shalat witir 1 raka’at :
 اصلّى سنّة الوتر ركعة لله تعالى  
Ejaan : Ushallii sunnatal-witri rak’atan lillahi ta’ala.
Artinya : “ Aku niat sholat sunah Witir satu raka’at karena Allah Ta’ala”.

3. Kemudian makanlah sahur secukupnya, karena jika terlalu banyak akan membuat Anda malas melaksanakan ibadah setelah sahur nanti. Jangan lupa membaca niat puasa sunah Arofah, yaitu sebagai berikut :
نويت صوم ترويه سنة لله تعالى
Ejaan : Nawaitu Shouma Tarwiyata Sunnatal Lillahi Ta’ala.
Artinya : “ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah Ta’ala”.

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) adalah hari di mana jama’ah haji melakukan wukuf di padang Arafah. Sehari sebelumnya yaitu tanggal 8 Dzulhijjah disunahkan juga berpuasa yang disebut puasa Tarwiyah. Menurut ulama yang bernama Inan Dailami telah meriwayatkan hadits yang bersumber dari Rosulullah SAW, Beliau bersabda, “Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun (yang telah terlewati), dan puasa hari Arofah menghapuskan (dosa) dua tahun (1 tahun lalu dan 1 tahun yang akan datang).”

4. Setelah sahur, manfaatkanlah waktu sebelum subuh dengan beristighfar sehingga kita termasuk golongan orang yang beristighfar dikala sahur.

5. Menjelang adzan subuh, gunakan waktu sejenak untuk instropeksi diri ( النفس مهسبة (. Berwudhulah dan rasakan ketika itu dosa-dosa kita gugur satu persatu bersama tetesan akhir air wudhu kita. Jangan lupa bacalah do’a setelah wudhu.

6. Sholatlah subuh berjama’ah, karena shalat berjama’ah pahalanya 27 derajat lebih tinggi dari pada shalat sendirian. Bayangkan jika itu adalah shalat terakhir kita, agar kita dapatkan suasana khusyu’ beribadah kepada Allah SWT.

7. Setelah selesai shalat subuh, duduklah bersila. Teruskan berzikir, awali zikir dengan takbir. Lanjutkan dengan tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan seterusnya. Baca juga Adzkar Pagi hingga masuk waktu syuruq.

8. Setelah berlalu 15 menit pasca syuruq shalatlah 2 raka’at agar ibadah kita pagi itu tercatat sama pahalanya dengan haji dan umroh. Jangan sekali-kali kita sia-siakan kesempatan itu.

9. Setelah itu boleh pilih, tidur ( istirahat ) satu jam dengan niat menyimpan energi untuk ibadah selanjutnya. Atau gunakan seluruh kesempatan itu untuk berzikir, tilawah qur’an dan berdo’a.

10. Setelah satu jam berlalu, berwudhulah kembali dan lakukan shalat dhuha minimal 4 raka’at dengan 2 raka’at salam. Lakukan variasi ibadah untuk menghindari kejenuhan.

Niat shalat Dhuha :
اصلّى سنّة الضّحى ركعتين لله تعالى
Ejaan : Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillahi ta’ala.
Artinya : “ Aku niat sholat sunah Dhuha dua raka’at karena Allah Ta’ala”.

11. Shalat dhuhur berjama’ah, lalu bertakbir, bertasbih dan baca Al-Qur’an.

12. Jika memungkinkan akses internet, buka program yang menyiarkan live khutbah Arafah. Simak pesan-pesan khutbahnya dan ikrarkan diri bahwa tahun ini adalah tahun penerapan pesan-pesan Illahi seutuhnya dalam kehidupan kita sehari-hari.

13. Shalat asar berjama’ah, kemudian disambung dengan takbir dan adzkar sore.

14. Bacalah Al-Qur’an hingga menjelang satu jam sebelum maghrib. Lalu mulailah berdo’a dengan khusyu apa yang ingin kita minta kepada Allah SWT. bayangkan kita sedang berdiri dihadapan Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalal. Jangan lupa mendo’akan saudara-saudari muslim yang teraniaya, terzhalimi diluar sana, dimanapun mereka berada. Berdo’a juga pada Allah SWT agar sebelum matahari terbenam kita telah terbebas dari siksa neraka.

15. Ketika Adzan maghrib berkumandang, pastikan kita langsung makan ta’jil buka puasa. Ingat!!! Do’a orang berbuka puasa tidak pernah ditolak oleh Allah SWT.

Jangan sia-siakan kesempatan kita untuk panen pahala dari Allah SWT. kesempatan ibadah ini hanya sekali dalam setahun. Semoga kita mendapatkan taufik dan hidayah dari Allah SWT dalam menjalankan ibadah dan ketaatan ini. Dan mudah-mudahan juga Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang menerima segala usaha, amal sholeh, dan pendidikan kita. Jangan lupa ingatkan kepada keluarga dan kerabat serta orang-orang yang kita cintai dengan amalan agung ini, karena Syurga terlalu luas kalau hanya kita masuki seorang diri. insyaAllah syurga Firdaus dengan segala kenikmatannya kan menanti kita. 

LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER I KELAS I MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

LATIHAN ULANGAN TENGAH SEMESTER I KELAS I
MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK

NAMA : No Absen:
I. Pilihlah tanda silang (X) pada huruf a, b, atau c di depan jawaban yang benar!

1. Rukun artinya….
a. Dasar b. Yakin c. Percaya
2. Iman artinya….
a. Dasar b. Pondasi c. Percaya
3. Rukun iman yang pertama adalah iman kepada……
a. Allah b. Malaikat c.Kitab
4. Orang yang beriman disebut……
a. Muslim b. Mukmin c. Muhsin
5. Syahadat ada ……
a. 3 b. 4 c. 2
6. Asyhadu anlaa ilaaha illallah adalah bunyi syahadat…..
a. Rasul b. Tauhid c. Muslim
7. Waasyhadu anna Muhammadar rasulullah
adalah bunyi syahadat……
a. Rasul b. Tauhid c. Muslim
8. Dua kalimat syahadat disebut…..
a. Syahadat tauhid
b. Syahadat rasul
c. Syahadatain
9. Nama-nama Allah yang baik disebut….
a. Asmaul husna
b. Asma wa sifat
c. Syahadat
10. Al ahad artinya….
a. Maha Esa c. Maha Suci
b. Maha Pencipta
11. Nama ayah nabi Ibrahim adalah….
a. Azar B. Ismail c. Namrud
12. Pekerjaan ayah nabi Ibrahim adalah…..
a. Pembuat kue
b. Pembuat patung
c. Pembuat rumah
13. Raja yang hidup pada masa Nabi Ibrahim adalah…..
A. Namrud b. Fir’aun c. Abrahah
14. Allah menciptaka langit beserta isinya, asmaul husna yang berarti Maha  Pencipta adalah…….
a. Al Ahad b. Al Khalik c. Al Husna

15. Tuhan yang harus disembah adalah…..
a. Allah b. Berhala c. Malaikat

II. Jawablah pertanyaan ini dengan singkat dan tepat
1. Rukun iman yang ketiga adalah iman kepada…..
2. Iman kepada malaikat adalah rukun iman yang ke……
3. Iman kepada hari akhir adalah rukun iman
yang ke……
4. Nabi yang mendapat mukjizat dibakar tidak hangus adalah…..
5. Iman artinya….
6. Kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah…..
7. Sebelum masuk Islam diharuskan membaca…..
8. Syahadatain artinya…….
9. Iman kepada qadha dan qadhar adalah rukun iman yang ke…..
10. Siapakan yang menghancurkan patung-patung sesembahan Raja namrud?

Resep Rendang Daging Sapi ala Masakan Padang

gambar rendang ala masakan Padang

By : Dwi Respatiningrum (pengalaman Pribadi Nih…..)

Bahan dan bumbu :

1 Kg daging sapi, Bungkus dengan daun pepaya selaam 30 menit agar daging empuk
Potong-potong sesuai selera jangan terlalu besar dan tebal
Cuci bersih
Siapkan santan kental dari 2-3 kelapa (hanya yang kental saja)
1 lembar daun kunyit
3 lembar daun jeruk purut
1 batang serai, digeprek
3 butir asam kandis

Haluskan :

7 buah cabe merah besar
7 buah cabe merah keriting
10 butir bawang merah
6 siung bawang putih
4 cm jahe (memarkan)
5 cm lengkuas (memarkan)
1 sdm garam

CARA MEMBUAT RENDANG DAGING SAPI :

1. Haluskan bumbu
2. Masukkan ke dalam santan masukkan juga daging dan bumbu lainya
3. Masak sampai santan mendidih
4. Setelah santan mendidih, kecilkan api dan masak sampai santan mengental sambil sesekali diaduk
5. Jika ingin kuah yang cukup matikan saat santan masih agak banyak
6. Jika menginginkan rendang kering masak terus sampai mengering

Tips: jika ingin cepat membuat rendang kering namun tidak terlalu lama mamasak (irit bahan bakar) matikan dulu kemudian setelah dingin panaskan lagi, demikian dilakukan beberapa kali, maka akan didapat rendang yang empuk, nikmat, dan “hitam” seperti rendang khas Padang

Ayam Masak Kecombrang

AYAM GORENG RASA KECOMBRANG

By Esti Kristiyaningsih

Bahan-bahan :
~ 1 ekor Ayam , dipotong menjadi 8 bagian ( Kalo aku di Fillet )
~ 10 helai kelopak Bunga kecombrang dirajang diiris halus
~ 1 sendok teh Gula merah jawa
~ 2 sendok makan air Asam jawa …
~ 2 batang Serai, diambil putihnya, dimemarkan
~ 2 cm Lengkuas, diparut halus
~ 1-2 sendok teh Garam ( selera)
~ 400 ml Santan dari 1/ 2 butir kelapa .
~ 1 lembar daun Salam
~ minyak untuk menggoreng

Bumbu yang dihaluskan :
~ 10 butir Bawang merah
~ 3 siung Bawang putih
~ 3 butir Kemiri, disangrai
~ 3 cm Kunyit, dibakar
~ 2 cm Jahe
~ 1/ 2 sendok makan Ketumbar
~ 1/ 4 sendok teh Jintan

Cara Memasak :
~ Rebus santan, bumbu halus, ayam, kelopak bunga kecombrang, daun salam, serai, lengkuas, garam, gula merah, dan air asam jawa. Masak sampai meresap dan bumbu kering.

~ Kemudian Goreng ayam dalam minyak yang sudah dipanaskan di atas api sedang sampai matang. Sajikan selagi hangat