Arsip Kategori: Artikel

Aliran Teologi Asy’ariyah

 Aliran Teologi ASY’ARIYAH

A. Pendahuluan

Dalam Islam di kenal beberapa aliran teologi. Awal terbentuknya aliran-aliran ini adalah dari adanya perbedaan pendapat pada masa kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib setelah terbunuhnya Ustman Bin Affan, yang menimbulkan adanya perpecahan yang terjadi di kalangan kaum muslimin pada masa itu. Persoalan itu kemudian mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan teologi dalam Islam. Timbulnya persoalan siapa yang kafir dalam arti siapa yang telah keluar dari Islam dan siapa yang masih dalam Islam dalam masalah ini.
Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam Islam, yaitu :
  1. Khawarij. Yaitu aliran yang mengatakan bahwa orang yang berdosa adalah kafir, dalam arti murtad sehingga ia wajib dibunuh.
  2. Murji’ah. Yaitu aliran yang menegaskan bahwa orang yang berdosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Adapun soal dosa yang dilakukan terserah kepada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak mengampuninya.
  3. Mu’tazilah. Yaitu aliran yang tidak menerima pendapat di atas. Bagi mereka orang yang berdosa bukan kafir tapi juga bukan mukmin. Selanjutnya kaum Mu’tazilah, dengan diterjemahkannya buku-buku filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani ke dalam Bahasa Arab, terpengaruh dengan pemakaian rasio atau akal yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kebudayaan Yunani. Pemakaian rasio itu dibawa oleh kaum Mu’tazilah ke dalam lapangan Teologi Islam dan dengan demikian mereka mengambil corak teologi liberal yang mengedepankan akal atau rasio. Aliran Mu’tazilah yang bercorak liberal ini mendapat tantangan dari golongan tradisional Islam yang disusun oleh Abu al Hasan al Asy’ari, yang pada awalnya adalah seorang Mu’tazilah, namun kemudian aliran itu ditinggalkannya, bahkan memberikan pukulan-pukulan hebat dan menganggapnya sebagai  lawan yang berbahaya.

B. Pembahasan

1. Riwayat Hidup

Al  Asy’ari yang bernama lengkap Abdul Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari, keturunan Abu Musa Al Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali Bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Beliau lahir pada tahun 260 H / 873 M, pada akhir masa Daulah Abbasiyah yang waktu itu banyak berkembang pesat berbagai aliran ilmu kalam, seperti : al Jahmiyah, Qodariyah, al Karomiyah, ar Rafidhah, Mu’tazilah, dll, dan wafat pada tahun 324 H / 935 M.
Sejak kecil beliau sudah yatim, kemudian ibunya menikah lagi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Abu Ali bin Jubba’i. Pada masa kecilnya berguru pada ayah tirinya, seorang Mu’tazilah  terkenal yaitu Al Jubba’i, mempelajari ajaran-ajaran Mu’tazilah dan mendalaminya sampai berumur 40 tahun dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemu’tazilahan. Ketika beliau berusia 40 tahun beliau menyatakan tidak lagi memegang pendapat itu dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahannya.
Sebab –sebab al Asy’ari keluar dari aliran Mu’tazilah, antara lain :
  1. Al Asy’ari bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang menyuruh beliau untuk meninggalkan ajaran Mu’tazilah.
  2. Al Asy’ari tidak puas dengan jawaban-jawaban dari gurunya mengenai beberapa masalah keagamaan.
  3. Al Asy’ari juga melihat bahwa aliran Mu’tazilah yang bersifat rasional dan percaya pada kebebasan dalam kemauan dan perbuatan, tidak dapat diterima pada umumnya umat Islam yang bersifat sederhana dalam pemikirannya, karena pada masa itu sebagian besar kaum muslimin bersifat tradisional dan fatalistik
Sebab lain Al Asy’ari meninggalkan Mu’tazilah adalah karena adanya perpecahan yang dialami oleh kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka jika tidak segera diakhiri. Sebagai seorang muslim yang mempunyai gairah akan keutuhan kaum muslimin, beliau sangat mengkhawatirkan Qur’an dan Hadits menjadi korban faham-faham Mu’tazilah yang menurut pendapatnya tidak  dapat dibenarkan, karena didasarkan atas pemujaan akal fikiran, sebagaimana juga dikhawatirkan menjadi korban ahli hadits anthropomorphis yang hanya memegangi nash-nash dengn meninggalkan jiwanya dan hampir menyeret Islam pada kelemahan, kebekuan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Karenanya Al Asy’ari mengambil jalan tengah diantara keduanya.
Disamping itu, Al Asy’ari yang bermadzhab Syafi’iyah, merasakan adanya perbedaan pendapat teologi  antara Mu’tazilah dengan madzhab yang dianutnya itu. Umpamanya, Al Syafi’i berpendapat bahwa Al Qur’an tidak diciptakan tetapi merupakan kalam ( firman Allah) bersifat qodim dan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat nanti, sedangkan menurut Mu’tazilah Al Qur’an itu diciptakan ( makhluk ) dan Allah tidak akan dapat dilihat manusia kelak di akhirat.

2. Pemikiran Al Asy’ari

a. Tentang Ketuhanan
Menurut al Asy’ari, Tuhan mempunyai sifat, wajib, mustahil, dan jaiz. Sifat-sifat Allah itu berbeda dengan Zat-Nya, tetapi tidak terpisah dengan Zat-Nya.  Mustahil Tuhan mengetahui dengan Zat-Nya, karena dengan demikian Zat-Nya adalah pengetahuan dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukan pengetahuan (‘Ilm ) tetapi yang mengetahui ( ‘alim ). Tuhan mengetahui dengan pengetahuan dan pengetahuan adalah Zat-Nya. Begitu pula sifat-sifat seperti hidup, berkuasa, mendengar, dan melihat.
Tuhan dapat dilihat di akhirat, dengan alasan bahwa sifat-sifat yang tidak bisa diberikan pada Tuhan hanyalah sifat-sifat yang membawa arti diciptakannnya Tuhan. Sifat Tuhan  dapat dilihat tidak membawa kepada hal itu; karena apa yang dapat dilihat tidak mesti  mengandung arti bahwa ia mesti bersifat diciptakan. Dengan demikian bahwa Tuhan dapat dilihat tidak berarti  bahwa Tuhan diciptakan. Hal itu sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an surat al Qiyamah : 22-23
Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”.
Perbuatan-perbuatan manusia bukanlah diwujudkan oleh manusia sendiri tetapi diciptakan oleh Tuhan. Istilah Al Asy’ari untuk perbuatan yang diciptakan Tuhan adalah al kasb. Dan dalam mewujudkan perbuatan yang diciptakan itu, daya yang ada dalam diri manusia itu tak mempunyai efek.
Mengenai anthromorphisme, al Asy’ari berpendapat bahwa Tuhan mempunyai muka, tangan, mata dan sebagainya seperti yang disebut dalam Al Qur’an  Surat Ar Rahman/ 55 : 27
 
 “Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”

 Dan Qur’an   Surat  al Qomar /54 : 14)
 “Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai belasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh)”.
Dengan tidak ditentukan bagaimana   (bila kaifa ) yaitu dengan tidak mempunyai bentuk dan batasan ( laa yukayyaf wa la yuhad ).
Tentang dosa besar beliau berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tetap dianggap muslim selama masih beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Ia hanya digolongkan orang yang fasik ( durhaka pada Allah ). Tentang dosanya diserahkan pada Allah, akan diampuni atau tidak.  Beliau juga menentang faham Mu’tazilah tentang keadilan Tuhan. Menurut pendapatnya, Tuhan berkuasa mutlak dan tidak ada suatu pun yang wajib bagi-Nya. Tuhan berbuat sekehendak-Nya, sehingga jika Dia memasukkan seluruh manusia ke dalam surga bukanlah Dia bersikap adil dan jika Dia memasukkan seluruh manusia ke dalam neraka bukanlah berarti  Dia bersifat dhalim.
b. Tentang Zat dan Sifat
Aliran Asy’ariyah, seperti golongan Mu’tazilah juga mengadakan pemisahan antara sifat-sifat salaby ( negatif ) dengan sifat-sifat ijaby (positif ). Pendiriannya mengenai sifat-sifat negatif sama dengan golongan Mu’tazilah, tetapi pendiriannya dalam sifat positif berbeda. Menurutnya, sifat ijabi berlainan dengan dengan Zat Tuhan dan antara sifat-sifat itu sendiri berlainan satu sama lain. Sifat-sifat itu bukan hakekat zat Tuhan sendiri. Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, berbicara, mendengar, dsb, artinya Dia mempunyai sifat ilmu, iradat (kehendak), qodrat ( kekuasaan ), dan seterusnya dan mempunyai sifat-sifat yang disebutkan Al Qur’an.
Sifat-sifat Tuhan semuanya azali. Karena itu tidak mungkin iradah-Nya baru, seperti yang diungkapkan oleh Mu’tazilah, sebab kalau dikatakan baru, maka timbul tiga kemungkinan :
  1. Tuhan mengadakan pada Zat-Nya sendiri.
  2. Tuhan mengadakan pada selain zat-Nya sendiri.
  3. Atau Iradah-Nya berdiri sendiri.
Ketiga-tiganya tidak dapat diterima, kemungkinan pertama akan berarti Tuhan menjadi tempat hal-hal baru. Kemungkinan kedua berarti yang ditempati iradah Tuhan mempunyai iradah karena iradah Tuhan. Kemungkinan ketiga akan mengakibatkan berbilangnya yang qodim.
Menurut Asy’ari, sifat-sifat Tuhan bukan zat-Nya, bukan pula lain dari zat-Nya. Bukan lain dari zat-Nya diartikan sifat-sifat  itu tidak bisa lepas dari dari zat-Nya Tuhan.
1) Tentang Sifat Ilmu
Al Asy’ari menyatakan bahwa kita tidak bisa mengetahui hakikat ilmu Tuhan, sebagaimana yang difikirkan-Nya sendiri dalam surat Al Baqoroh : 255 sebagai berikut:
 “ Mereka tidak meliputi sesuatu dari ilmu-Nya” 
Asy’ari menyinggung pendapat Mu’tazilah, kalau ilmu Tuhan itu zat-Nya sendiri, tentu ilmu itu sama dengan orang yang mempunyai ilmu. Karena itu sifat ilmu haruslah mempunyai pengertian sendiri, lain dari zat. Di sini beliau mempersamakan ilmu Tuhan dengan ilmu manusia. Karena ilmu adalah suatu kesempurnaan bagi manusia dan kebodohan adalah cela, maka Tuhan tentulah lebih berhak lagi akan sifat ilmu.
c. Tentang Al Qur’an
Menurut al Asy’ari, Al Qur’an tidaklah diciptakan tetapi merupakan kalam (firman Allah),  sebab jika diciptakan maka sesuai dengan ayat :
 
 “Sesungguhnya Perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: “kun (jadilah)”, Maka jadilah ia”.
Untuk penciptaan itu perlu kata kun, dan untuk menciptakannya, kun ini perlu pula kata kun yang lain. Begitulah seterusnya sehingga terdapat rentetan kata-kata kun yang tidak berkesudahan. Dan ini tak mungkin. Oleh karena itu Al Qur’an tidak mungkin diciptakan tapi qodim.

3. Karya-karya Aliran Asy’ariyah

Ajaran- ajaran Asy’ari dapat diketahui dari buku-bukunya, antara lain :
  • Kitab Al Luma Fi al Rad ‘ala Ahl al-Ziagh wa al Bida
  • Kitab al Ibanah ‘an Usul al Dianah
  • Maqalat al- Islamiyyin
Kitab – kitab yang disusun oleh pengikutnya, antara lain  :
a. Al Ghazali, kitab-kitabnya, antara lain :
  • Tahafut al-Falasifah
  • Ar Raddu ‘alal Bathiniyah
  • Al Iqtisad fi Ilmi al I’tikad
  • Ar Risalah al Qudsiyyah
b. As Sanusy, kitab-kitabnya, antara lain :
  • Akidah ahlit Tauhid ( Akidah tauhid besar )
  • Ummul Barahin ( akidah Tauhid kecil )

4. Karakteristik Aliran Asy’ariyah

Dua corak yang kelihatannya berlawanan pada diri al Asy’ari, akan tetapi sebenarnya saling melengkapi :
  1. Berusaha mendekati orang-orang aliran fikih sunni, sehingga ada yang mengatakan bahwa ia bermazhab Syafi’i, yang lain mengatakan bahwa ia bermazhab Maliki, lainnya mengatakan ia bermazhab Hambali.
  2. adanya keinginan menjauhi aliran-aliran fikih.
Dua hal tersebut adalah akibat pendekatan diri pada aliran-aliran (mazhab ) fikih Sunni dan keyakinannya adanya kesatuan aliran-aliran terdebut dalam soal-soal kecil ( furu’ ). Karena itu menurut pendapat Al Asy’ari, semua orang yang berijtihad adalah benar.
Asy’ari sebagai seorang yang pernah menganut faham Mu’tazilah, tidak menjauhkan diri dari pemakaian akal fikiran dan argumentasi fikiran. Ia menentang dengan kerasnya mereka yang mengatakan bahwa pemakaian akal-fikiran dalam masalah agama atau membahas hal-hal yang tidak disinggung Nabi Muhammad adalah salah. Sahabat-sahabat Nabi sendiri sesudah Rasulullah wafat banyak membicarakan soal-soal baru. Meskipun demikian , mereka tidak disebut-sebut sebagai orang sesat ( bid’ah ). Dalam kitabnya “  Istihsan al Khawdi fil Ilmi al Kalam “ia menentang keras orang yang berkeberatan membela ilmu agama dengan ilmu kalam dan argumentasi fikiran, keberatan itu tidak berdasarkan Al Qur’an maupun Hadist.
Dalam pada itu ia juga mengingkari orang yang berlebihan dalam menghargai akal-fikiran, yaitu golongan Mu’tazilah, karena golongan ini tidak mengakui sifat-sifat Tuhan, maka mereka dikatakan telah sesat, sebab mereka menjauhkan Tuhan dari sifat-sifat-Nya dan meletakannya dalam bentuk yang tidak dapat diterima dengan akal. Juga mereka mengingkari kemungkinan terlihatnya Tuhan dengan mata kepala. Apabila pendapat ini dibenarkan, maka akan berakibat tidak mengakui hadist-hadist Nabi.
Pendirian al Asy’ari itu merupakan tali penghubung antara dua aliran fikiran dalam Islam, yaitu aliran tekstualis dan aliran rasionalis. Akan tetapi pada akhirnya para pengikutnya ( Asy’ariyah ) lebih condong kepada segi akal fikiran semata-mata dan memberi tempat yang lebih luas dari pada nash-nash itu sendiri. Bahkan mereka mengatakan bahwa “akal menjadi dasar naqal ( nash )” karena dengan akallah kita menetapkan adanya Tuhan, pencipta alam dan yang Maha Kuasa. Pembatalan akal dengan nash berarti pembatalan dasar ( pokok ) dengan cabangnya, yang berakibat pula pembatalan pokok dan cabangnya sama sekali.

C. Analisis

Asy’ariyah, sebagai salah satu faham teologi yang berkembang dikalangan umat Islam, lebih banyak diterima di kalangan umat Islam . Apalagi sejak Nizamul Mulk, seorang menteri Saljuk yang mendirikan dua sekolah terkenal dengan namanya yaitu Nizamiyyah di Nizabur dan Baghdad, dimana hanya aliran Asy’ariyah saja yang boleh diajarkan. Sejak itu aliran ini menjadi resmi negara dan golongan Asy’ariyah menjadi golongan Ahli sunah. Di Indonesia aliran ini berkembang dengan kuat sehingga sebagian besar  umat muslim Indonesia adalah beraliran Asy’ariyah. Aliran ini banyak diajarkan di pesantren-pesantren dan sebagian besar menggunakan kitab Ummul Barahin ( akidah Tauhid kecil ) dan kitab-kitab Al Ghazali.
Ajaran Asy’ariyah mengenai sifat-sifat Allah yang meliputi Sifat wajib, sifat mustahil, sifat hakiki, banyak diajarkan di masjid-masjid dan mushola dengan metode si’iran, sehingga anak-anak kecil pun bisa hafal dan mengerti artinya.
Namun tidak bisa dipungkiri, Asy’ariyah sebagai suatu aliran teologi ternyata tidak mampu menjaga keaslian ajarannya, dimana Asy’ariyah yang menempatkan diri sebagai teologi yang berada diantara teologi yang mengedepankan akal dan teologi yang hanya menempatkan wahyu, pada akhirnya terpengaruh pada salah satu aliran teologi pada satu bidang dan terpengaruh oleh teologi yang lain pada bidang yang lain. Untuk masalah iradah dan al kasb Allah misalnya, Asy’ariyah menempatkan diri sebagai teologi yang fatalistik, yaitu menjadikan iradat Allah sebagai alasan manusia melakukan segala perbuatannya. Disini sebagaimana kaum fatalistik  ( jabariyah ) yang  menganggap manusia tidak punya daya dan akal untuk menentukan perbuatannya sendiri, Asy’ariyah juga tidak mengakui bahwa manusia itu mampu untuk melakukan perbuatan dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, karena segala sesuatu yang dilakukan manusia adalah hanya atas kehendak-Nya saja . Hal ini menurut pandapat penulis kurang sesuai dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunah. Dalam al-Qur’an surat  Ali Imron : 104, disebutkan :
“ Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.
Jelas disebutkan bahwasanya kita diperintahkan untuk menyeru kepada yang ma’ruf  ( baik ) dan mencegah dari kemungkaran, berarti pula kita mempunyai kemampuan dan pengetahuan mana yang baik dan mana yang buruk. Allah menganugerahkan kita akal untuk berfikir, hati untuk merasakan dan mengerti apa-apa yang baik dan harus kita laksanakan dan hal-hal yang buruk agar kita dapat meninggalkannya. Kalau Allahlah yang senantiasa berkehendak atas segala perbuatan kita, untuk apa akal manusia? Apakah hanya sebagai pelengkap saja?
Seharusnya sebagai aliran teologi yang menisbatkan diri sebagai aliran ahlussunnah wal jama’ah, aliran ini bisa menempatkan kemampuan manusia yang dikaruniai akal dan iradah Allah secara proporsional. Dimana kemampuan manusia untuk menentukan baik atau buruknya suatu perbuatan dan kemampuan manusia untuk menentukan apa yang akan menjadi pilihannya ketika akan berbuat, namun tidak menafikan kekuasaan Allah untuk menjadikannya mampu mencapai  atau tidak apa keinginan dan pilihan manusia itu. Sebagai contoh, seseorang berniat untuk berangkat kuliah karena dia ingin menuntut ilmu yang menurutnya adalah perbuatan baik yang dipilihmya. Namun di tengah jalan Allah punya  kehendak, di jalan  motornya macet sehingga dia tidak bisa berangkat kuliah, sehingga pilihan dan keinginannya tidak terlaksana karena Allah tidak berkehendak. Dengan seperti itu manusia punya pilihan dan kehendak, apakah dia akan berbuat baik atau buruk namun terlaksana atau tidaknya itu tergantung pada Allah, apakah Dia menghendaki atau tidak. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat al-Insaan : 30
 
” Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
 Kemudian dalam masalah keadilan Allah, Asy’ariyah berpandangan bahwa adalah hak Allah untuk memasukkan seseorang ke surga atau ke neraka sesuai yang dikehendaki-Nya, dan kehendak itu bukanlah karena Allah itu berbuat adil atau dhalim, tapi semata-mata kekuasaan mutlak oleh Allah untuk menghendakinya. Dalam hal ini Allah itu berhak memasukkan manusia yang dikehendakinya untuk masuk surga atau masuk neraka, tidakkah itu bertentangan dengan janji Allah dalam surat al-Zalzalah : 7-8
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”.
Disini Allah menjanjikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik dan berbuat kejahatan,  kalau Allah sudah menentukan akan dimasukkan kemana seseorang, apakah ke surga  atau neraka, berarti seandainya orang itu berbuat baik namun Allah sudah menghendaki orang itu masuk neraka, Allah tidak akan membalas perbuatan baik orang tersebut. Bagaimana mungkin Allah  yang Maha Adil mengingkari janjinya untuk membalas perbuatan manusia.
Kemudian Allah juga berfirman dalam al-Qur’an surat al-Bayinah : 6-7
” Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk”.
Dalam ayat diatas disebutkan bahwasanya orang yang kafir dan musyrik akan masuk ke dalam neraka dan orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh akan masuk ke dalam surga, disini Allah akan membalas perbuatan yang baik dengan surga dan membalas kemungkaran dengan neraka. Berarti keadilan Allah adalah ketika Dia membalas perbuatan manusia, tidak hanya karena Dia berkehendak.

D. Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat kami simpulkan hal-hal sebagai berikut :
  1. Asy’ariyah adalah faham teologi ahlussunah wal jamaah, dengan pendirinya adalah Abu Hasan al Asy’ari, yang pada awalnya berfaham Mu’tazilah namun kemudian mendirikan faham baru yang ajarannya banyak yang berbeda dengan ajaran Mu’tazilah.
  2. Beberapa pemahaman yang berbeda diantaranya mengenai sifat-sifat Allah, tentang qodimnya Al Qur’an,dll, timbul karena Asy’ariyah tidak hanya menggunakan akalnya saja semata dalam memahami Al Qur’an dan Hadist.
  3. Ajaran Asy’ariyah ini mempunyai banyak pengikut di seluruh dunia karena ajarannya yang bersifat sederhana dan didukung oleh banyaknya buku-buku yang dikarang oleh al Asy’ari sendiri maupun oleh pengikutnya sehingga lebih mudah dalam pengajaran dan penyebarannya.
  4. Teologi Asy’ariyah, masih tetap terpengaruh oleh teologi yang lain, baik teologi yang mengutamakan akal maupun yang hanya bercorak tekstual.
 Referensi
1. Toshihiko Izutsu, Konsep kepercayaan dalam Teologi Islam, Jogjakarta : PT. Tiara Wacana, 1994
2. Harun Nasution, Teologi Islam, Jakarta : UI Press, 2002
3. Ahmad Hanafi M.A., Theologi Islam ( Ilmu Kalam ), Jakarta : Bulan Bintang, 1974
4. M. Rifa,i dan Rs. Abdul Aziz, Belajar Ilmu Kalam , Semarang :1998
5. al-Qur’an digital
6. Dr. H. Abudin Nata, MA., Filsafat dan Tasawuf, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998

Uji Mikrobiologis Mutu Obat Tradisional Sediaan Serbuk

Setelah sebelumnya memposting tentang Pembuatan obat tradisional yang baik, kali ini akan di uraikan terkait Uji Mikrobiologis obat Tradisional Serbuk. Ada beberapa parameter yang akan di ulas, untuk lebih jelasnya silahkan di simak uraian di bawah ini.

Persiapan dan Homogenisasi Sampel Obat Tradisional Sediaan Serbuk MA PPOMN 94/MIK/06

a. Persiapan sampel

Diperlukan alat-alat untuk persiapan sampel seperti gunting, spatula, pinset dan lain-lain. Alat ini dapat disterilkan sesaat sebelum pengujian dengan pemanasan langsung. Bagian wadah yang akan dibuka dibersihkan dengan kapas beralkohol 70%, kemudian dibuka secara aseptik di dekat nyala api bunsen.

b. Homogenisasi sampel

Dengan cara aseptik ditimbang 10g cuplikan ke dalam wadah steril, ditambahkan 90 mL PDF. Jika jumlah sampel kurang dari 10 g, maka pengambilan cuplikan dan pengencer disesuaikan hingga diperoleh suspensi pengenceran 1:10 dan dikocok homogen.

Uji Angka Lempeng Total (ALT) MA PPOMN 95/MIK/06

a. Homogenisasi sampel

Dilakukan seperti MA No. 94/MIK/06, atau disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pengenceran

Disiapkan 5 tabung reaksi atau lebih yang masing-masing telah diisi dengan 9 mL PDF. Dari suspensi pengenceran 10-1 dipipet 1 mL ke dalam tabung ang berisi 9 mL pengencer PDF hingga diperoleh pengenceran 10-2. Dibuat pengenceran selanjutnya hingga 10-6 atau sesuai dengan yang diperlukan. Dari setiap pengenceran dipipet 1 mL ke dalam cawan Petri dan dibuat duplo. Ke dalam setiap cawan Petri dituangkan 15-20 mL media PCA-1% TTC suhu 45 ± 10C. Cawan Petri segera digoyang dan diputar sedemikian rupa hingga suspensi tersebar merata. Untuk mengetahui strerilitas media dan pengencer dibuat uji kontrol (blanko). Pada satu cawan diisi 1 mL pengencer dan media agar, dan pada cawan yang lain hanya diisi media. Setelah media memadat, cawan diinkubasi pada suhu 35-370C selama 24-48 jam dengan posisi dibalik. Jumlah koloni yang tumbuh diamati dan dihitung.

c. Perhitungan

  • Dipilih cawan Petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 25-250. Jumlah koloni rata-rata dari kedua cawan dihitung lalu dikalikan dengan faktor pengencerannya. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total dalam tiap gram atau mL sampel.
  • Bila salah satu dari cawan Petri menunjukkan jumlah koloni kurang dari 25 atau lebih dari 250 koloni, dihitung jumlah rata-rata koloni, kemudian dikalikan dengan faktor pengencerannya. Hasil dinyatakan sebagai Angka Lempeng Total dalam tiap gram atau mL sampel.
  • Jika terdapat cawan-cawan dari dua tingkat pengenceran yang berurutan menunjukkan jumlah koloni antara 25-250, maka dihitung jumlah koloni dari masing-masing tingkat pengenceran kemudian dikalikan dengan faktor pengencerannya. Apabila hasil perhitungan pada tingkat yang lebih tinggi diperoleh jumlah koloni rata-rata lebih besar dari 2 kali jumlah koloni rata-rata pengenceran dibawahnya, maka Angka Lempeng Total dipilih dari tingkat pengenceran yang lebih rendah (Misal pada pengenceran 10-2 jumlah koloni rata-rata 140, pada pengenceran 10-3 jumlah koloni rata-rata 32, maka dipilih jumlah koloni 140×10-2). Bila hasil perhitungan pada tingkat pengenceran lebih tinggi diperoleh jumlah koloni rata-rata kurang dari 2 kali jumlah raa-rata pada pengeceran dibawahnya maka Angka Lempeng Total dihitung dari rata-rata jumlah koloni kedua tingkat pengenceran tersebut. (Misal pada 10-2 jumlah koloni rata-rata 240, pada pengenceran 10-3 jumlah koloni rata-rata 41), maka Angka Lempeng Total adalah : (240+410)/2 x 102 = 325 x 102
  • Bila tidak satupun koloni dalam cawan maka Angka Lempeng Total diinyatakan sebagai < dari satu dikalikan faktor pengenceran terendah.
  • Jika seluruh cawan menunjukkan jumlah koloni lebih dari 250, dipilih cawan dari tingkat pengenceran tertinggi kemudian dibagi menjadi beberapa sektor (2,4, atau 8) dan dihitung jumlah koloni dari satu sektor. Angka Lempeng Total adalah jumlah kolni dikalikan denghan jumlah sektor, kemudian dihitung rata-rata dari

    1/8 bagan cawan lebih besar dari 200 x 8 dikalikan faktor pengenceran.

  • Penghitungan dan pencatatan hasil Angka Lempeng Total hanya ditulis dalam dua angka. Angka berikutnya dibulatkan ke bawah bila kurang dari 5 dan dibulatkan ke atas apabila lebih dari 5. Sebagai contoh : 523 x 103 dibulatkan menjadi 52 x 104,  Untuk 83,6 x 103 dibulatkan menjadi 84 x 103
  • Jika dijumpai koloni “spreader” meliputi seperempat sampai setengah bagian cawan, maka dihitung koloni yang tumbuh di luar daerah spreader. Jika 75% dari seluruh cawan mempunyai koloni “spreader” dengan keadaan seperti diatas, maka dicatat sebagai “spr”. Untuk keadaan ini harus dicari penyebabnya dan diperbaiki cara kerjanya (pengujian diulang).
  • Jika dijumpai koloni spreader tipe rantai, maka tiap satu deret koloni yang terpisah dihitung sebagai satu koloni, dan bila dalam kelompok spreader terdiri dari beberapa rantai, maka tiap rantai dihitung sebagai satu koloni.

Baca Juga : Tanaman Kosmetik Tradisional Yang Sehat

Uji Angka Kapang/Khamir (AKK) MA PPOMN 96/MIK/06

a. Homogenisasi sampel

Dilakukan seperti MA no. 94/MIK/00, disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pengenceran

Disiapkan 3 buah tabung yang masing-masing telah diisi 9 mL PDF. Dari hasil homogenisasi sampel, dipipet 1 mL ke dalam tabung PDF pertama, dikocok homogen hingga diperoleh pengenceran 10-1. Dibuat pengenceran selanjutnya hingga 10-4.

c. Inokulasi dan Inkubasi

Dari tiap pengenceran dipipet 0,5 mL ke permukaan lempeng media PDA, masing-masing dibuat duplo, segera lempeng digoyang dan diputar sedemikian rupa sehingga susupensi tersebar merata. Untuk mengetahui sterilitas media dan pengencer dilakukan uji blanko. Pada satu lempeng PDA diteteskan 0,5 mL pengencer disebar ratakan dan untuk diuji media digunakan satu lempeng PDA yang lain.

Seluruh lempeng PDA diinkubasi selama 5-7 hari pada suhu 20-25oC, dengan posisi tidak kebalik. Pengamatan dan penghitungan koloni kapang/khamir dilakukan mulai hari ke-2. Koloni khamir memiliki bentuk bulat kecil, putih, hampir menyerupai bakteri. Jumlah koloni yang tumbuh diamati dan dihitung.

d. Perhitungan

Dipilih cawan Petri dari satu pengenceran yang menunjukkan jumlah koloni antara 10-150. Jumlah koloni dari kedua cawan dihitung lalu dikalikan dengan faktor pengencerannya. Bila pada cawan petri dari dua tingkat pengenceran yang berurutan menunjukkan jumlah antara 10-150, maka dihitung jumlah koloni dan dikalikan faktor pengenceran, kemudian diambil angka rata-rata. Hasil dinyatakan sebagai Angka Kapang/ Khamir dalam tiap gram atau mL sampel.

Untuk beberapa kemungkinan lain yang berbeda dari pernyataan diatas, maka diikuti petunjuk sebagai berikut:

  • Bila hanya salah satu diantara kedua cawan Petri dari pengenceran yang sama menunjukkan jumlah anatara 10-150 koloni, dihitung jumlah koloni dari kedua cawan dan dikalikan dengan faktor pengenceran.
  • Bila pada tingkat pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni lebih besar dari dua kali jumlah koloni pada pengenceran dibawahnya, maka dipilih tingkat pengenceran terendah (Misal: pada pengenceran 10-2 diperoleh 60 koloni dan pada pengenceran 10-3 diperoleh 30 koloni, maka dipilih jumlah koloni pada pengenceran 10-2 yaitu 60 koloni). Bila pada pengenceran yang lebih tinggi didapat jumlah koloni kurang dari dua kali jumlah koloni pengenceran bawahnya, maka diambil angka rata-rata dari ujmlah koloni dari kedua pengenceran tersebut. Hasil dinyatakan sebagai Angka Kapang dan Khamir dalam tiap gram sampel (Misal pada pengenceran 10-2 diperoleh 60 koloni dan pengenceran 10-3 diperoleh 10 koloni, maka Angka Kapang/ Khamir adalah : (6 + 10 )/2x 103 = 8 x 103
  • Bila dari seluruh cawan Petri tidak ada satupun yang menunjukkan jumlah antara 10-150 koloni, maka dicatat angka sebenarnya dari tingkat pengenceran terendah dan dihitung sebagai Angka Kapang dan Khamir Perkiraan.
  • Bila tidak ada pertumbuhan pada semua cawan dan bukan disebabkan karena faktor inhibitor, maka Angka Kapang dan Khamir dilaporkan sebagau kurang dari satu dikalikan faktor pengenceran terendah (<1 x faktor pengenceran terendah).

Baca : Manfaat Dan Khasiat Teh Basi Untuk Rambut

Uji Escherichia coli MA PPOMN 97/MIK/06

a. Homogenisasi sampel

Dilakukan seperti pada MA No. 94/MIK/06, disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pengkayaan

Dengan cara aseptik dipipet 10 mL, suspensi hasil homogenisasi sampel kemudian diinokulasikan pada 10 mL TSB, diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 18-24 jam.

c. Isolasi

Dari biakan pengkayaan diinokulasikan 1 sengkelit pada permukaan EMB dan/atau Endo Agar, diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24-48 jam, dengan posisi lempeng dibalik. Diamati koloni spesifik yang tumbuh dengan ciri-ciri bentuk bulat, diamter 2-3 mm, warna hijau dengan kilap logam dan bentuk biru kehijauan ditengahnya, dan pada Endo Agar dengan ciri-ciri koloni bulat, diameter 2-3 mm, warna merah keunguan dengan kilap logam.

d. Identifikasi dan Konfirmasi

Dipilih dua atau lebih koloni spesifik pada EMB dan/atau Endo Agar diinokulasikan pada NA atau TSA miring, kemudian diinkubasi pada suhu 35-370C selama 18-24 jam. Dari NA atau TSA miring dilanjutkan dengan uji IMVIC sebagai berikut:

  • Uji Indol : Satu sengkelit biakan NA atau TSA miring diinokulasikan pada media Tryptone Broth dan diinkubasi pada suhu 37-370C selama 24-48 jam. Ke dalam biakan ditambahkan 1 mL pereaksi Indol (Kovac) dikocok dan didiamkan beberapa menit. Warna Cherry yang berbentuk cincin pada permukaan biakan menunjukkkan reaksi indol positif.
  • Uji Merah Metil : Satu sengkelit biakan NA atau TSA miring diinokulasikan pada media MR-VP dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24-48 jam. Setelah diinkubasi tambahkan 5 tetes larutan Merah Metil dikocok homogen dan didiamkan beberapa menit, bila biakan menjadi merah menunjukkan hasil uji positif.
  • Uji Voges Proskauer :
  • Satu sengkelit biakan NA atau TSA miring diinokulasikan pada media MR-VP dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24-48 jam. Setelah diinkubasi ditambahkan 3 tetes larutan alfa naftol dan 2 tetes larutan KOH 40%, dikocok kemudian didiamkan selama beberapa menit. Jika warna biakan menjadi merah muda hingga merah menyala menunjukkan reaksi positif.
  • Uji Sitrat : Satu sengkelit biakan NA atau TSA miring diinokulasikan pada Simmon’s Citrate Agar

    dan diinkubasi pada suhu 36-37oC selama 24-48 jam. Jika terjadi perubahan warna

    biakan menunjukkan hasil uji positif.

Uji Salmonella MA PPOMN 98/MIK/06

a. Homogenisasi Sampel

Dilakukan seperti pada MA No. 94/MIK/06, atau disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pra-Pengkayaan Non-Selektif

Dengan cara aseptik dipipet 10mL suspensi hasil homogenisasi, diinokulasikan ke dalam Erlenmeyer berisi 90mL BPW dan diinkubasi pada suhu 37±1oC selama 18±2 jam.

c. Pengkayaan Selektif 

Dengan cara aseptik dipipet biakan pra-pengkayaan masing-masing 1 mL ke dalam 10 mL MKTTn inkubasi pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam dan 0,1 mL ke dalam RVS inkubasi pada suhu 41,5±1oC selama 24±3 jam. Dijaga agar maksimum suhu inkubasi tidak melebihi 42,50C.

e. Inokulasi dan Identifikasi

Dari biakan MKTTn dan RVS diinokulasikan masing-msing sebanyak 1 sengkelit pada permukaan BGA dan XLD, kemudian diinkiubasi pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam, koloni yang tumbuh diamati. Biakan diduga Salmonella positif jika :

BGA : Tidak berwarna, merah muda hingga merah, translusen hingga keruh, lingkungan merah muda hingga merah.

XLD  : Koloni translusen dengan bintik hitam ditengahnya, dikelilingi zona transparan berwarna kemerahan.

f. Konfirmasi

Dipilih dua atau lebih koloni spesifik pada BGA dan XLD, diinokulasikan pada media TSA/NA miring dilakukan uji konfirmasi sebagai berikut:

  • TSIA : Koloni tersangka diinokulasikan dengan cara ditusuk dan gores pada media TSIA, diinkubasi pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam. Perubahan warna yang terjadi diamati.
  • Uji Urease : Koloni tersangka diinokulasikan pada media Urea Agar (Christensen) suhu 37±1oC. Perubahan warna biakan yang terjadi diamati.
  • Uji Dekarboksilasi Lysin : Koloni tersangka diinokulsikan pada media L-Lysine decarboxylase, diinkubasi pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam. Perubahan warna biakan dan kekeruhan yang terjadi diamati.
  • Uji Voges Proskauer : Koloni tersangka diinokulsikan pada media MR-VP pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam. Tiga tetes larutan α-naftol dan 2 tetes larutan KOH 40% ditambahkan. Perubahan warna biakan yang terjadi setelah 15 menit diamati.
  • Uji Indol : Koloni tersangka diinokuasikan pada media Tryptose Broth, inkubasi pada suhu 37±10C selama 24±3 jam. Beberapa tetes larutan kovac ditambhakan. Pembentukan cincin merah diamati.
  • Uji β-Galaktosidase : Disuspensikan 0,5 mL NaCl 0,85% pada biakan NA miring dalam tabung reaksi kecil steril. Sebuah cakram ONPG dimasukkan, diinkubasi pada suhu 37±1oC selama 24±3 jam.
  • Uji Serologi : Satu ose biakan diambil dari TSA/NA miring, disuspensikan dengan 1tetes NaCl 0,85% dan 1 tetes air, dan dicampurkan pada kaca objek. Apabila diamati dengan latar belakang gelap dan menggunakan kaca pembesar telah terjadi aglutinasi, sebaiknya tidak dilkaukan uji serologi dengan antisera polivalen O,H dan Vi, karena telah terjadi aglutinasi sendiri (self agglutination). Apabila tidak terjadi aglutinasi sendiri, dilakukan uji serologui ssperti diatas dengan anti sera polivalen O, H dan Vi, bila terjadi aglutinasi maka salmonella positif. Untuk anti sera polivalen H, biakan Salmonella diinokulasikan pada media Na- semi padat yang diinkubasi pada 37±1oC selama 24±3 jam.

Uji Staphylococcus aureus MA PPOMN 99/MIK/06

a. Homogenisasi sampel

Dilakukan seperti pada MA No. 94/MIK/06, atau disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pengkayaan

Dengan cara aseptik dipipet 10 mL suspensi dari homogenisasi sampel, ke dalam 90 mL TSB, setelah dikocok homogen diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam.

c. Isolasi

Siapkan lempeng media VJA. Dari biakan pengkayaan diambil dengan sengkelit untuk digoreskan pada lempeng VJA. Dilakukan pula untuk kontrol positif S. aureus. Semua lempeng diinkubasi pada suhu suhu 35-37oC selama 24-48 jam dengan posisi lempeng dibalik. Diamati koloni spesisfik yang tumbuh dengan ciri-ciri sebagai berikut:

VJA :  Cembung, berwarna hitam mengkilat dan media berubah menjadi kuning.

d. Konfirmasi

Dipilih koloni spesifik dari biakan VJA untuk diinokulasikan pada media BHIB, kemudian diinkubasi pada suhu suhu 35-37oC selama 24 jam dilanjutkan dengan uji koagulase. Dipipet 0,2-0,3 mL biakan BHIB ke dalam tabung reaksi kecil steril ditambhakan 0,5 mL plasma kelinci, diinkubasi pada suhu suhu 35-37oC selama 4-6 jam. Dimati adanya koagulasi plasma. Jika terjadi koagulasi dinyatakan s. aureus positif dalam sampel.

e. Uji Mikroskopik

Dari NA miring dibuat perwarnaan Gram.

S. aureus adalah gram positif bentuk kokus dan berwarna ungu atau biru.

Uji Pseudomonas aeruginosa MA PPOMN 101/MIK/06

a. Homogenisai Sampel

Dilakukan seperti pada MA No. 94/MIK/06, atau disesuaikan dengan jenis sampel yang diuji.

b. Pengkayaan

Dengan cara aseptik dipiet 10 mL suspensi dari hasil homogenisasi sampel ke dalam 90 mL TSB, setelah dikocok homogen diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24 jam.

Dilakukan uji juga terhadap biakan kontrol positif Pseudomonas aeruginosa.

c. Isolasi

Dari biakan pengkayaan digoreskan dengan sengkelit pada permukaan media lempeng CETA dan diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 24-72 jam. Diamati adanya pertumbuhan koloni spesifik berwarna kehijauan. Selanjutnya dibuat suspensi pekat dalam 0,5 mL TSB untuk diinokulasikan pada media lempeng PAP, PAF, dan NA miring. Semua media diinkubasi pada suhu 35-370C selama 24 jam untuk NA miring dan 72 jam untuk PAP dan PAF.

Uji Mikrobiologis Mutu Obat Tradisional Sediaan Serbuk

 

d. Konfirmasi

Dari biakan hasil isolasi dilakukan uji-uji sebagai beirkut:

  • Uji Pigmen : Koloni yang tumbuh pada PAF berwarna kuning kehijauan, di bawah sinal ultra violet akan berfluoresensi kekuningan. Sebagaian biakan berpigmen, diambil lebih kurang 1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahakan 1-2 mL air suling, dikocok kuat, kemudian ditambahkan 1-2 mL kloroform dan dikocok lagi. Pigmen fluoresin larut dalam air dan tidak larut dalam kloroform. Koloni yang tumbuh pda lempeng PAP yang berwarna hijau kebiruan di bawah sinar UV akan berfluroesensi kebiruan. Sebagian biakan berpigmen, diambil lebih kurang 1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 1-2 mL air suling, dikocok kuat, kemudian ditambakan 1-2 mL kloroform dan dikocok lagi. Pigmen piosianin larut dalam air dan kloroform.
  • Uji Oksidase : Dari NA miring diambil 1 sengkelit biakan menggunakan sengkelit platina atau batang kaca, kemudian ditotolkan pda kertas sitokrom atau kertas saring yang telah diimpregnasi (dijenuhkan) dengan N,N-N’N tetra metil p- fenilendiamin dihidroklorida 0,5%. Pembentukan warna merah muda yang berubah menjadia ungu pada bekas totolan dalam waktu 20-60 detik menunjukkan uji oksidase positif.
  • Uji Pertumbuhan Suhu 41-42oC : Dari baikan NA miring diambil 1 sengkelit untuk diinokulasikan pada 10 mL TSB dan diinkubasi pada suhu  41-42oC selam 24-48 jam.
  • Uji Mikroskopik : Dari NA miring dibuat pewarnaan gram dan diamati dengan mikroskop.

Baca : Kangker Leher Rahim (Serviks)

Refrensi

BBPOM, 2006, Metode Analisis PPOMN. Pusat Pengujian Obat dan Makanan, Jakarta.

Forsythe, S.J. dan Hayes P.R., 1998. Food Hygine, Microbiology and HACCP,Aspen Publisher, Inc. All right reseved, Maryland: 277-303.

Http://www.pom.go.id/public/balai/pdf/profile-yogya.pdf. Diakses tanggal 5 Februari 2012

Jenie, B.S.L., 1997. Sanitasi dan Hygine pada Pengolahan Pangan, Makalah Pelatihan Pengendalian Mutu dan Kemanan bagi Staf Pengajar, Pusat Studi Pangan dan Gizi (CFNS)-IPB, Bogor: 1-24.

Lestari dkk., 1986. Isolasi dan Identifikasi Cendawan-cendawan Toksisi pada Jamu, Dalam Kumpulan hasil-hasil Penelitian Bidang Obat-obatan Tradisional, Airlangga University Press, Surabaya: 1-5.

Siregar, L. 1990. Cemaran Mikroba Jamu. Ditjen POM Depkes RI, Jakarta. SK Menkes RI. 1994. Daftar Metode Mikrobiologi Obat Tradisional Nomor 661.Depkes:
Jakarta.

Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Perkembangan industri obat tradisional di Indonesia mengalami kemajuan cukup pesat. Menurut data Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, di Indonesia sampai tahun 2000 telah tercatat 400 lebih perusahaan jamu. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan adanya kenaikan penggunaan obat tradisional dari 19,9% pada tahun 1980 menjadi 23,2% pada tahun 1986 dan penurunan penggunaan obat modern dari 84,6% menjadi 69,7%. Penggunaan obat tradisional oleh rumah tangga Jawa dan Bali dinyatakan bahwa obat tradisional digunakan oleh 30,7% ART di Jawa dan Bali, dimana wanita lebih banyak menggunakannya dibanding pria, sebanyak 64,3 % penggunaan obat tradisional Indonesia ditujukan untuk menjaga kesehatan atau preventif dan 26,15% untuk pengobatan sakit, dimana ART yang berdiam di pedesaan lebih banyak menggunakannya dibandingkan di perkotaan (SKRT, 1995).

Sebagaimana halnya produk makanan, sediaan obat tradisional umumnya mengandung bahan nabati yang sensitif terhadap bahaya mikrobiologis. Di samping itu iklim di Indonesia yang mempunyai kelembaban udara dan temperatur tinggi sangat menunjang kemungkinan tumbuhnya spora atau konidia yang terikut pada bahan obat tradisional tersebut. Hasil penelitian Lestari dkk. (1986) menemukan adanya kapang toksik yaitu Aspregillus flavus dan Aspergillus niger pada sediaan jamu bentuk serbuk dari 3 buah pabrik jamu.

Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Pengujian rutin yang dilakukan oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) dalam rangka pengawasan terhadap produk obat tradisional dari berbagai bentuk sediaan yang beredar terdapat sampel yang tidak memenuhi syarat angka lempeng total atau kapang/khamir, sebagian besar yaitu 74% diantaranya jamu bentuk serbuk. Angka kuman yang tinggi pada produk yang dikonsumsi memungkinkan terjadinya penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare, disentri, tifus, dan lain-lain. Sedangkan jamur toksik dapat menyebabkan mikotoksikosis, diantaranya kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, suatu mikotoksin yang diproduksi oleh jamur Aspergillus sp.. Menurut Forsythe dan Hayes (1998) bahwa kejadian hepatoma (kanker hati) di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia.

Hasil penelitian tentang kontaminasi mikroorganisme memberikan isyarat bahwa produk tersebut tidak aman dan membahayakan kesehatan. Menurut Jenie (1997), pencemaran mikroba pada produk obat tradisional dan produk makanan pada umumnya bersumber dari bahan baku, pekerja dan lingkungan pengolahan termasuk perlatan produksi. Cemaran mikroba pada obat tradisional meliputi indikator ketinggian Angka Lempeng Total bakteri aerob mesofilik, bakteri golongan Coliform dan escherichia coli, bakteri patogen (Salmonella, Clostridium, dan Staphylococcus aureus), dan golongan kapang penghasil toksin seperti Aspergillus flavus (Fardiaz, 1989; Siregar, 1990).

Proses penerapan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), faktor-faktor kritis seperti tahapan proses atau prosedur yang berperan untuk mengeliminir atau mencegah pencemaran produk, belum teridentifikasi, sehingga tidak terlihat pengendalian yang spesifik untuk menjamin keamanan produk yang dihasilkan. HACCP (Hazzard Analysis Critical Control Point) adalah suatu sistem yang mengidentifikasi bahaya spesifik yang mungkin timbul dan cara pencegahan untuk mengendalikan bahaya tersebut. Keberhasilan dalam penerapan HACCP dapat diukur dari mutu mikrobiologi yang dihasilkan. Hasil pemeriksaan akan menunjukkan adanya peningkatan kandungan bakteri pada produk sebagai akibat langsung dari kelalaian atau penanganan yang salah oleh pabrik. Higiene atau masalah kesehatan dan kebersihan merupakan syarat penting bagi produsen obat tradisional yang akan menjamin dihasilkannya produk yang bebas mikroba atau tidak tercemar.

Baca : Uji Mikrobiologis Mutu Obat Tradisional  Serbuk

BBPOM, 2006, Metode Analisis PPOMN. Pusat Pengujian Obat dan Makanan, Jakarta.

Forsythe, S.J. dan Hayes P.R., 1998. Food Hygine, Microbiology and HACCP,Aspen Publisher, Inc. All right reseved, Maryland: 277-303.

Http://www.pom.go.id/public/balai/pdf/profile-yogya.pdf. Diakses tanggal 5 Februari 2012

Jenie, B.S.L., 1997. Sanitasi dan Hygine pada Pengolahan Pangan, Makalah Pelatihan Pengendalian Mutu dan Kemanan bagi Staf Pengajar, Pusat Studi Pangan dan Gizi (CFNS)-IPB, Bogor: 1-24.

Lestari dkk., 1986. Isolasi dan Identifikasi Cendawan-cendawan Toksisi pada Jamu, Dalam Kumpulan hasil-hasil Penelitian Bidang Obat-obatan Tradisional, Airlangga University Press, Surabaya: 1-5.

Siregar, L. 1990. Cemaran Mikroba Jamu. Ditjen POM Depkes RI, Jakarta.

SK Menkes RI. 1994. Daftar Metode Mikrobiologi Obat Tradisional Nomor 661.Depkes: Jakarta.

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Penulis : Dra. Desmita, M.Si.

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009, 304 hlm)

A. Konsep Dasar Perkembangan Peserta Didik

1. Hakikat Perkembangan

Menurut Chaplin, perkembangan adalah perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati; pertumbunhan; perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional; kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang dipelajari.  Menurut Reni Akbar Hawadi perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi-potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Sedangkan menurut F.J. Monks, perkembangan adalah suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja terulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali.
Dari beberapa definisi diatas, Desmita menyimpulkan bahwa perkembangan adalah perubahan yang terjadi secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju tahap-tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan, dan belajar.

2. Hukum-hukum Perkembangan

Selama hayatnya manusia sebagai makhluk individu mengalami perkembangan yang berlangsung secara berangsur-angsur, perlahan tapi pasti, mengalami berbagai fase, dan ada kalanya diselingi oelh krisis yang datangnya pada waktu-waktu tertentu.proese perkembangan yang berkesinambungan, beraturan, bergelombang, naik dan turun, yang berjalan dengan kelajuan cepat atau lambat, semuanya itu menunjukkan betapa perkembangan mengikuti patokan-patokan atau tunduk pada hukum-hukum tertentu yang disebut hukum perkembangan. Hukum-hukum perkembangan itu adalah:
a. Hukum Kesatuan Organis
Menurut hukum ini anak adalah satu kesatuan organis, bukan suatu penjumlahan atau suatu kumpulan unsur yang berdiri sendiri. Pertumbuhan dan perkembangan adalah differensiasi atau pengkhususan dari totalitas pada unsur-unsur atau bagian-bagian baru, bukan kombinasi dari unsur-unsur atau bukan suatu kumpulan dari bagian-bagian.
b. Hukum Tempo Perkembangan
Menurut hukum ini, setiap anak mempunyai tempo kecepatan perkembangan sendiri-sendiri. Artinya, ada anak yang mengalami perkembangan cepat, sedang, dan lambat.
c. Hukum Irama Perkembangan
Hukum irama berlaku untuk setiap manusia, baik perkembangan jasmani maupun rohani tidak selalu dialami perlahan-lahan dengan urutan-urutan yang teratur, melainkan merupakan gelombang-gelombang besar dan kecil silih berganti
d. Hukum Masa Peka
Masa peka adalah suatu masa ketika fungsi-fungsi jiwa menonjolkan diri keluar, dan peka akan pengaruh rangsangan yang datang. Menurut Maria Montessori asal Italia ini berpendapat bahwa masa peka merupakan masa pertumbuhan ketika suatu fungsi jiwa mudah sekali dipengaruhi dan dikembangkan.
e. Hukum Rekapitulasi
Menurut Hackle asal jerman ini menyebut hukum ini hukum biogenetis. Dalam hukum rekapitulasi ini perkembangan jasmani individu merupakan ulangan dari perkembangan jenisnya. Dengan kata lain, otogenese adalah rekapitulasi dari phylogenese. Otogenese adalah perkembangan individu sedangkan phylogenese adalah kehidupan nenek moyang suatu bangsa.
f. Hukum mempertahankan dan mengembangkan diri
Dalam diri anak terdapat hasrat dasar untuk mempertahankan dan mengembangkan diri. Hasrat mempertahankan diri terlihat dalam bentuk-bentuk nafsu makan dan minum, menjaga keselamatan diri. Sedangkan hasrat pengembangan diri seperti hasrat ingin tahu, mengenal lingkungan, ingin bergerak, kegiatan bermain-main, dan sebagainya.
g. Hukum Predistinasi
Menurut hukum predistinasi berarti betapapun sempurnanya pembawaan, bakat, dan sifat-sifat keturunan, betapapun baiknya lingkungan dan pemeliharaan anak, serta betapapun lengkapnya sarana dan sumber penghidupan, tetapi proses dan jalan perkembangan tidak akan berlangsung sebagaimana yang dikehendaki manusia seandainya nasib tidak membawanya demikian atau jika tidak diizinkan Allah.

3. Fase-fase Perkembangan

Fase perkembangan berarti penahapan atau periodesasi tentang kehidupan manusiayang ditandai ciri-ciri atau pola tingkah laku tertentu. secara garis besar ada empat dasar pembagian fase perkembangan yaitu:
a. Berdasarkan ciri-ciri biologis, perkembangan berdasarkan ciri biologis diungkapkan oleh para ahli sebagai berikut:
1) Aristoteles, membagi perkembangan manusiadalam tiga masa, dimana dalam setiap fase meliputi masa tujuh tahun, yiatu:
  • Fase anak kecil atau masa bermain (0-7 Tahun) yang diakhiri dengan tanggal atau pergantian gigi
  • Fase anak sekolah atau masa belajar (7-14 tahun), yang dimulaki dari tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelanjar kelamin.
  • Fase remaja (pubertas) atau masa peralihan dari anak menjadi dewasa (14-21 tahun), yang dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin sampai akan memamsuki masa dewasa.
2) Sigmun Freud, dasar-dasar pembagiannya adalah pada cara-cara reaksi-reaksi bagian-bagian tubuh tertentu. fase-fase itu adalah:
a) Fase infantile, umur 0-5 tahun. Fase ini dibedakan menjadi tiga yaitu:
  • Fase oral (0-1 tahun), dimana anak mendapatkan kepuasan seksuil melalui mulutnya.
  • Fase anal (1-3 tahun), dimana anak mendapat kepuasan seksuil melalui anusnya.
  • Fase phalis (3-5 tahun), dimana anaka mendapatkan kepuasan seksuil melalui alat kelaminnya .
b) Fase laten (5-12 Tahun),pada fase ini anak tampak pada keadaan tenang setelah terjadi gelombang dan badai (strumund drang)pada tiga fase pertama. Pada fase ini desakan seksuil anak mengendur. Anak dapat dengan mudah melupakan desakan seksuilnya dan mengalihkan perhatiannya pada masalah-masalah yang berkaitan dengan sekolah dan teman sejenisnya.
c) Fase Pubertas (12-18 Tahun), pada fase ini dorongan mulai muncul kembali dan apabila dorongan-dorongan ini dapat ditransfer dan disublimasikan dengan baik maka anak akan sampai pada  masa kematangan terakhir, yaitu fase genital.
d) Fase Genital (18-20 Tahun), pada fase ini dorongan yang pada masa laten boleh dikatakan sedang tidur kini berkobar kembali. 
b. Berdasarkan konsep didaktif
Dasar yang digunakan dalam menentukan pembagian fase-fase perkembangan adalah materi dan cara bagaimana mendidik anak pada masa-masa tertentu. Fase  perkembangan secara didaktif menurut Johann Amos Cornenius adalah sebagai berikut:
1) 0-6 tahun disebut sekolah ibu, merupakan masa pengembangan alat-alat indera dan memperoleh pengatahuan dasar di bawah asuhan ibunya di lingkungan keluarga.
2) 6-12 tahun disebut sekolah bahasa ibu, merupakan masa anak mengembangkan daya ingatnya di bawah pendidikan sekolah rendah. Pada masa ini mulai diajarkan bahasa ibu.
3) 12-18 tahun disebut sekolah bahasa Latin, merupakan masa mengembangkan daya pikir di bawah pendidikan sekolah menengah (gymnasium). Pada masa ini diajarkan bahasa Latin sebagai bahasa asing.
4) 18-24 tahun disebut masa sekolah tinggi dan pengembaraan, merupakan masa mengembangkan kemauannya dan memilih suatu lapangan hidup yang berlangsung di bawah perguruan tinggi.
c. Berdasarkan ciri psikologis
Periodisasi ini didasarkan atas ciri-ciri kejiwaan yang menonjol yang menandai masa dalam periode tersebut. periodesasi ini dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:
1) Oswald Krock,  ciri yang digunakan adalah yang dipandang terdapat pada anak-anak umumnya adalah pengalaman keguncangan jiwa yang dimanifestasikan dalam bentuk sifat trotz atau sifat keras kepala. Fase ini terdiri atas:

  • Fase anak awal (0-3 tahun), pada akhir fase ini terjadi trotz yang pertama, ditandai dengan anak serba membantah atau menentang orang lain. Hal ini disebabkan mulai timbulnya kesadaran akan kemampuannya untuk berkemauan sehingga menguji kemampuannya itu.
  • Fase keserasian sekolah (3-13 tahun), pada akhir masa  ini timbul trotz yang ke dua, di mana anak mulai serba membantah lagi, suka menentang orang lain terutama orang tua. Gejala ini sebenarnya merupakan gejala yang biasa, sebagai akibat kesadaran fisiknya, sifat berfikir yang dirasa lebih maju daripada orang lain, keyakinan yang dianggap benar dan sebagainya namun dianggap sebagai keguncangan.
  • Fase kematangan (13-21 tahun) yaitu mulai setelah berakhirnya gejala trotz kedua, anak mulai menyadari kekurang-kekurangan dan kelebihan-kelebihan dirinya, yang dihadapi dengan sikap yang sewajarnya, ia mulai dapat menghargai pendapat orang lain, dapat memberikan toleransi terhadap keyakinan orang lain, karena menyadari bahwa orang lain mempunyai hak yang sama. Masa inilah yang merupakan masa bangkitnya atau terbentuknya kepribadian menuju kemantapan.
2) Kohnstamm, ciri yang dilihat adalah dari sisi pendidikan dan tujuan luhur umat manusia, terbagi menjadi lima fase yaitu:
  • Periode vital, umur 0 – 1, 5 tahun, disebut juga fase menyusu.
  • Periode estetis, umur 1,5 – 7 tahun, disebut juga fase pencoba dan fase bermain. 
  • Periode intelektuil, umur 7 – 14 tahun, disebut juga masa sekolah.
  • Periode sosial, umur 14 – 21 tahun, disebut juga masa remaja.
  • Periode matang, umur 21 ke atas, disebut juga masa dewasa.
d. Konsep tugas perkembangan
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembanagn yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap anak pada setiap masa dalam periode perkembangannya. Periodesasi seperti ini diungkapkan oleh Robert J. Havighurst, yaitu:
  • Masa bayi dan anak-anak (infacy and early childhood), umur 0 – 6 tahun.
  • Masa sekolah atau pertengahan (middle childhood), umur 6 – 12 tahun.
  • Masa remaja (adolescence), umur 12 – 18 tahun.
  • Masa awal dewasa (early adulthood), umur 18 – 30 tahun.
  • Masa dewasa pertengahan (middle age), umur 30 -50 tahun.
  • Masa tua (latter maturity), umur 50 tahun ke atas.
e. Periodesasi perkembangan menurut konsep Islam
Periodesasi perkembangan berdasar ayat dan hadist secara garis besarnya terdiri atas tiga, yaitu:
1) Periodesasi prakonsepsi, yaitu masa perkembangan manusia sebelum masa pembuahan sperma dan ovum. Meskipun pada masa ini wujud manusia belum terbentuk, tetapi hal ini terkait dengan bibit manusia yang akan mempengaruhi generasi yang akan dilahirkan kelak.
2) Periodesasi pranatal, yaitu periode perkembangan manusia yang dimulai dari pembuahan sperma dan ovum sampai masa kelahiran. Periode ini dibagi menjadi empat fase:
  • Fase nuthfah (zigot), dimulai sejak pembuahan sampai 40 hari dalam kandungan.
  • Fase ‘alaqah (embrio) selama 40 hari.
  • Fase mudhghah (janin) selama 40 hari.
  • Fase peniupan ruh ke dalam jazad janin dalam kandungan setelah genap berusia 4 bulan.

3) Periodesasi kelahiran sampai meninggal dunia

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan

Perkembangan tiap individu berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
a) Faktor dari dalam
  • Bakat dan pembawaaan, anak dilahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. apabila bakat dan pembawaan itu dibina dengan baik maka akan mudah mencapai kecakapan-kecakapan yang berhubungan dengan bakat dan pembawaannya. Dengan demikian bakat dan pembawaan mempengaruhi perkembangan individu. 
  • Sifat-sifat keturunan, sifat yang diturunkan dari orang tua atau nenek moyang dapat berupa fisik dan mental. Sifat ini tentu saja mempengaruhi perkembangan individu, namun dengan pendidikan dan lingkungan yang bagus, maka sifat-sifat jelek yang diturunkan dapat dihambat dan sifat-sifat yang baik dapat dikembangkan.
  • Dorongan dan insting. Dorongan adalah kodrat hidup yang mendorong manusia melaksanakan sesuatu atau bertindak pada saatnya. Sedangkan insting atau naluri adalah kesanggupan atau ilmu tersembunyi yang menyuruh atau membisikkan kepada manusia bagaimana cara-cara melaksankan dorongan batin.
b) Faktor dari luar, beberapa faktor dari luar yang mempengaruhi perkembangan individu adalah: makanan,  iklim, kebudayaan, ekonomi, dan kedudukan anak dalam lingkungan keluarga.
c) Faktor-faktor umum, faktor-faktor umum yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah: intelegensi, jenis kelamin, kelenjar gondok, kesehatan, dan ras.

5. Aspek-aspek perkembangan, ada beberapa aspek yang ada dalam perkembangan peserta didik, yaitu perkembangan aspek fisik, perkembangan aspek kognitif, dan perkembangan aspek psikososial.

6. Karakteristik umum perkembangan peserta didik, meliputi:

  • Usia Sekolah Dasar (SD), pada masa ini anak senng bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
  • Usia Sekolah Menengah (SMP), pada masa ini mulai timbul ciri-ciri seks sekunder; kecenderungan ambivalensi; senang membandingkan kaedah, nilai dengan kehidupan orang dewasa; reaksi dan ekspresi emosi masih labil, kecenderungan minat dan pilihan karier relatif sudah stabil. 
  • Usia remaja (SMP/SMA), ditandai dengan mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya; menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efektif; memilih mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan kemampuannya; mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial; memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam bertingkah laku.

B. Teori-teori Perkembangan Peserta Didik

1. Teori-teori Psikologi tentang Hakikat Peserta Didik

a. Teori Psikodinamika
Menurut teori yang dikemukakan oleh Sigmund Freud, tingkah laku manusia menupakan hasil tenaga yang beroperasi di dalam pikiran, yang sering tanpa disadari oleh individu. Menurut pandangan ini tingkah laku manusia lebih ditentukan dan dikontro oleh kekuatan psikologis, naluri-naluri irrasional (terutama naluri menyerang dan naluri seks). Freud  membedakan kepribadian manusia atas tiga unit mental atau struktrur psikis, yaitu:
  • Id merupakan aspek biologis kepribadian karena berisikan unsur-unsur biologis termasuk di dalamnya dorongan-dorongan dan impuls-impuls instingtif yang lebih dasar (lapar, haus, seks, dan agresi)
  • Ego merupakan aspek psikologis kepribadian karena timbul dari kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia nyata dan menjadi perantara antara kebutuhan instingtif orgnisme dengan keadaan lingkungan.
  • Superego merupakan aspek sosiologis kepribadian karena merupakan wakil nilai-nilai tradisional dan cita-cita masyarakat sebagaiman yang ditasfsirkan orang tua kepada anak-anaknya melalui berbagai perintah dan larangan. Perhatian utama superego adalah memutuskan apakah sesuatu itu benar apa salah sehingga ia dapat bertindak sesuai dengan norma-norma moral yang diakui oleh masyarakat.
b. Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik manusia sepenuhnya adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor yang berasal dari luar, faktor lingkungan inilah yang menjadi penentu terpenting dari tingkah laku manusia. Menurut teori ini, orang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya melalui penaglaman-pengalaman terdahulu, menghubungkan tingkah laku tersebut dengan hadiah-hadiah. Tokoh teori ini adalah John B. Watson, dan Skinner.
c. Teori Humanistik
Tokoh teori ini adalah Carl Rogers dan Abraham Maslow, yang meyakini bahwa tingakh laku manusia tidak dapat dijelaskan sabagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun sebagai hasil pengkondisian (conditioning) yang sederhana. Teori ini menyiratkan penolakan pendapat bahwa tingkah laku menusia ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Sebaliknya teori ini melihat manusia sebagao aktor dalam drama kehidupan bukan reaktor terhadap insting atau tekanan  lingkungan. 
d. Teori Psikologi Transpersonal
Teori ini merupakan kelanjutan dari atau lebih tepatnya pengembangan dari psikologi humanistik. Psikologi ini menunjukkan bahwa di luar alam kesadaran biasa terdapat ragam dimensi lain yang luar biasa potensialnya serta mengajarkan prakterk-praktek untuk mengantarkan manusia pada kesadaran spiritual, di atas id, ego, dan superegonya Freud.

2. Teori Kebutuhan Peserta Didik

Individu adalah pribadi yang utuh dan kompleks. Kekompleksan tersebut dikaitkan dengan kedudukannya sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Menurut Afrooz (1996) need adalah a natural requerment we should be satisfied in order to socure a better organic compatibility. Sedangkan menurut chaplin (2002) mendefenisikan kebutuhan sebagai satu substansi seluler yang harus dimiliki oleh organisme tersebut dapat tetap dan sehat. Kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas. Kebutuhan itu timbul karena adanya dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Sumadi, 1971: 70; Lefton, 1982:137). Lefton (1982) menyatakan bahwa kebutuhan dapat muncul karena keadaan psikologis yang mengalami goncangan atau ketidakseimbangan. Munculnya kebutuhan tersebut untuk mencapai keseimbangan atau keharmonisan hidup.
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder. Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli. Contoh kebutuhan primer, antara lain adalah: makan, minum, bernapas, dan kehangatan tubuh. Pada tingkat remaja dan dewasa, kebutuhan primer ini dapat bertambah, yaitu kebutuhan seksual. Adapun kebutuhan sekunder umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari, seperti kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti   pola    hidup   bermasyarakat,   kebutuhan  akan  hiburan,  alat 
transportasi, dan semacamnya.
Cole dan Bruce (1959) (Oxendine, 1984:227) membedakan kebutuhan menjadi dua kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis dan kebutuhan psikologis. Pengelompokan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Murray (1938) (Oxendine, 1984:227) yang mengajukan istilah yang berbeda., yaitu kebutuhan viscerogenic dan kebutuhan psychogenic. Beberapa contoh kebutuhan fisiologis adalah: makan, minum, istirahat, seksual, perlindungan diri, sedangkan kelompok kebutuhan psikologis, seperti yang dikemukakan Maslow (1943) mencakup (i) kebutuhan untuk memiliki sesuatu, (ii) kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, (iii) kebutuhan akan keyakinan diri, dan (iv) 
kebutuhan aktualisasi diri.
Dalam perkembangan kehidupan yang semakin kompleks, pemisahan jenis kebutuhan yang didorong oleh motif asli dan motif-motif yang lain semakin sukar dibedakan. Kebutuhan social psikologis seorang individu terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kondisi kehidupannya yang semakin luas dan komleks. Freud mengemukakan bahwa sikap dan perilaku manusia didorong oleh factor seksual (dorongan seksual) dengan yang teorinya yang terkenal sebagai teori libido seksual. Pandangannya tentang konsep diri juga dikaitkan dengan teori libido seksual ini. Ia mengemukakan bahwa prinsip kenikmatan senantiasa mendasari perkembangan sikap dan perilaku manusia, dan dengan prinsip itu, ia menyatakan  bahwa  factor  pendorong   utama  perilaku  manusia  adalah dorongan seksual.
Namun Freud menjadi terkenal sehubungan dengan pandangannya yang pada pokoknya menyatakan bahwa dalam perkembangan manusia terjadi pertentangan antara kebutuhan insting pribadi dan tuntutan masyarakat. Dalam pendekatannya terhadap pembentukan kepribadian, ia mengemukakan perlunya penyelesaian pertentangan tersebut dengan pendekatan analisis psikologik, sehingga teori Freud itu terkenal dengan teori psikoanalisis. Menurut teori Freud, struktur kepribadian seseorang berunsurkan tiga komponen utama, yaitu ; id, ego, dan superego. Ketiganya merupakan factor-faktor penting yang mendorong terbentuknya sikap dan perilaku manusia serta struktur pribadi. Teori psikoanalisis Freud diawali dengan mengemukakan asumsi bahwa dorongan utama yang pada hakikatnya berada pada id, senantiasa akan muncul pada setiap perilaku. Kebutuhan psikologis muncul dalam kehidupan manusia, saperti apa yang dialami setiap hari secara emosional; yaitu: senang, puas, susah, lega, kecewa, dan semacamnya. Karena hidup bersama di dalam masyarakat, manusia ingin mengatur dan mengikuti peraturan yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat, sekalipun kadang-kadang hal ini amat sukar. Untuk itu, manusia belajar memahami norma-norma atau  sifat-sifat  norma, artinyo perilaku manusia diarahkan dan disesuaikan dengan kehidupan bermasyarakat.
Kebutuhan Dasar Individu
Pada bayi, perilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhm biologis, yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri. Kebutuhm ini disebut definciency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang diperlukan untuk hidup (survival). Kemudian, pada masa kehidupan berikutnya, muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri. Berkembangnya kebutuhan ini terjadi karena pengaruh faktor lingkungan dan faktor belajar, seperti kebutuhan akan cinta kasih, kebutuhan untuk memiliki (yang ditandai berkembangnya “aku” manusia kecil). Kebutuhan harga diri, kebutuhan akan kebebasan, kebutuhan untuk berhasil, dan munculnya kebutuhan untuk bersaing dengan yang lain. Menurut Maslow indikasi dari kebutuhan akan rasa aman pada anak-anak adalah kebergantungan. Kebutuhan yang paling mendasar adalah kebutuhan yang berkaitan dengan kepentingan jasmaniah atau organisme, baik  yang  berkaitan dengan usaha  mengembangkan   diri,  memperoleh  
 keamanan,   dan mempertahankan diri.

C. Perkembangan Pada Peserta Didik

1. Perkembangan Fisik Peserta Didik

Pertumbuhan fisik manusia merupakan perubahan fisik dari kecil atau pendek menjadi besar dan panjang, yang prosesnya terjadi sejak lahir hinggadewasa.
a. Pertumbuhan sebelum lahir
Manusia dimulai dari proses pembuahan ( pertemuan sel telur dan sperma) yang membentuk suatu sel kehidupan,yang yaitu embrio. Embrio yang telah berusia satu bulan berukuran sekitar setengah sentimeter. Pada umur dua bulan, ukuranya membesar menjadi dua setengah sentimeter yang disebut janin atau fetus. Satu bulan kemudian (kandungan telah berumur 3 bulan), janin trersebut telah terbentuk menyerupai bayi dalam ukuran kecil. Masa sebelum lahir merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang sangat kompleks, karena masa itu merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh dan tersusunnya jaringan syaraf yang membentuk system yang lengkap. Pertumbuhan dan perkembangan janin berakhir setelah kelahiran. Kelahiran merupakan kematangan biologis  dan  jaringan  syaraf masing-masing telah mampu berfungsi secara mandiri. 
b. Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan fisik manusia setelah lahir merupakan kelanjutan dari pertumbuhan sebelum lahir. Proses pertumbuhan fisik manusia berlangsung sampai masa dewasa. Dalam tahun pertama  pertumbuhannya, ukuran panjang badan bertambah sekitar sepertiga dari panjang semula, sedangkan berat badannya bertamabah sekitar tiga kalinya. Sejak lahir sampai umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu dari pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia. Pertumbuhan dan perkembangan fungsi biologis setiap orang memiliki pola urutan yang teratur. Ahli psikologi menyatakan bahwa pertumbuhan fisik dan perkembangan kemampuan fisik anak pada umumnya memiliki pola yang sama dan menunjukkan keteraturan. Secara umum pertumbuhan fisik anak dapat dibagi menjadi empat periode utama, dua periode ditandai dengan  pertumbuhan  yang cepat, dan  dua periode lainnya dicirikan 
oleh pertumbuhan yang lambat. 

2. Perkembangan Kognitif

Intelek atau daya pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena daya pikir menunjukkan fungsi otak, kemampuan  intelektual  dipengaruhi oleh kematangan otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik. 
Menurut Piaget,  perkembangan  kognitif  seseorang   mengikuti  tahapan 
berikut ini:
a. Masa sensori motoric (0-2.5 tahun)
Masa ini adalah masa ketika bayi menggunakan system penginderaan dan aktifitas motoric untuk mengenal lingkungannya.
b. Masa pra-operasional (2 – 7 tahun)
Ciri  khas  masa  ini  adalah  kemampuan  anak  dalam  menggunakan symbol yang mewakili suatu konsep. 
c. Masa konkreto pra-rasional (7 – 11 tahun)
Pada  tahap  ini  anak  sudah  dapat  melakukan  berbagai  tugas  yang konkrit dan mulai mengembangkan tiga macam operasi berpikir yaitu identifikasi, negasi, dan reprokasi.
d. Masa operasional (11 – dewasa)
Pada tahap ini  mampu mengambil kesimpulan dari suatu pernyataan.

3. Perkembangan emosional

Emosi atau perasaan merupakan salah satu potensi kejiwaan yang khas dimiliki oleh manusia. Pada awal pertumbuhannya yang dibutuhkan bayi adalah kebutuhan primer, yaitu makan, minum dan kehangatan tubuh. Apabila tidak terpenuhi bayi akan menangis. Jadi emosi merupakan perasaan yang disertai oleh perubahan atau perilaku fisik. 

4. Perkembangan sosial 

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya setiap individu tidak dapat berdiri sendiri tapi memerlukan bantuan individu lainnya. Pada umumnya setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebaya yang sama jenis kelaminnya. Selanjutnya manusia mengenal kehidupan bersama,berkeluarga, dan bermasyarakat, atau berkehidupan social. 

5. Perkembangan Bahasa

Fungsi pokok bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan dengan sesama.bahasa sebagai alat komunikasi dapat diartikan sebagai tanda, gerak,dan suara untuk menyampaikan isi pikiran dan perasaan kepada orang lain. Berbicara adalah bahasa lisan. Dalam perkembangan awal berbahasa lisan, bayi menyampaikan isi pikiran atau perasaannya dengan menangis,tersenyum, atau ocehan.iamenangis atau mungkin menjerit jika tidak senang atau sakit dan mengoceh atau meraba jika sedang senang.syarat itu semakin lama semakin jelas hingga ia mampu menirukan bunyi-bunyi bahasa yang di dengarnya.
Perkembangan lebih lanjut, yang telah berusia 6-9 bulan, ia mulai berkomunikasi dengan satu kata atau dua kata, seperti mama, maem dan sebagainya.

6. Perkembangan Bakat khusus

Bakat adalah kemampuan khusus yang di miliki oleh setiap individu  yang  memerlukan  rangsangan atau latihan agar berkembang 
dengan baik.

7. Perkembangan Moral dan Spiritual 

Proses pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan bentuk sikap dan tingkah laku merupakan proses kejiwaan yang bersifat muskil. Seseorang individu yang ada waktu tertentu melakukan perbuatan tercela ternyata tidak selalu kerena ia tidak mengetahui bahwa perbuatan itu tercela, atau tidak sesuai dengan perbuatan baik dan norma sosial. Berbuat sesuatu secara fisik adalah bentuk tingkah laku yang mudah dilihat dan diukur. Akan tetapi, di dalamnya tidak cukup sikap mental yang tidak selalu mudag ditangapi, kecuali ia tidak langsung, misalnya melalui ucapan  atau  perbuatan yang sangat dapat menggambarkan sikap
mental tersebut.
Dalam kaitanya dengan nilai, moral merupakan kontrol dalam sikap dan tingkah laku sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dimaksud, misalnya dalam pengamalan nilai tenggang rasa, dalam melakukannya seseorangakan selalu memerhatikan perasaan orang, sehingga tidak berbuat sekendak hatinya. Menurut Santrock, 1995 berpendapat bahwa moral adalah sesuatu yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Nilai-nilai kehidupan menyangkut persoalan baik dan buruk, sehinga berkaitan denga persoalan, dalam hal ini aliran psikonalisis tidak tidak membedakan antara sosial, norma, dan nilai (Sarlito, 1991:91). Semua konsep itu menurut Freud menyatu dalam konsepnya tentang seperego. Seper ego dalam teori Freud merupakan bagian dari jiwa yang berfungsi untuk mengendalikan tingkah laku (ego) sehinga tidak bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat.
a. Karakteristik Moral dan Spiritual
Salah satu tugas perkembangan yang harus dilakukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok masyarakatnya. Remaja diharapkan menggati konsep-konsep moral yang berlaku umum dan merumuskan ke dalam kode moral yang berfungsi sebagai pedoman perilakunya. Michael mengemukakan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh remaja, yaitu sebagai berikut:
  1. Pandangan moral individu makin lama menjadi lebih abstrak.
  2. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah.
  3. Penilaian moral yang semakin kognitif mendorong remaja untuk berani mengambil keputusan terhadap berbagai masalah yang dihadapi.
  4. Penilaian  moral  secara  psikologis  menjadi  lebih mudah dalam arti bahwa penilaian moral menimbulkan ketegangan emosi.
b. Tahap-Tahap Perkembangan Moral 
Menurut Santrock perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. 
Tahap perkembangan moral dapat dibagi sebagai berikut:
1) Tingkat prakonvensional
Anak tanggap terhadap aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Akan tetapi hal ini semata-mata ditafsirkan darisegi sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran kebaikan), tingkat ini dapat di bagi dua tahap:
  1. Tahap orientasi hukuman dan keputusan
  2. Tahap orientasi relativitas-instrumental
2 Tingkat konvensional
Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut bernilai bagi dirinyasendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata tertib sosial, melaikan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang tua kelompok yang terlihat di dalamnya.
Tingkatan ini memiliki dua tahap:
  1. Tahap orientasi kesempatan antara pribadi atau orientasi
  2. Tahap orientasi hukuman dan ketertiban
3) Tingkat pasca-konvensional (otonom/berdasarkan prinsip)
Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu dan selepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok tersebut. 
Ada dua tahap pada tingkat ini:
  1. Tahap orientasi kontrak sosial legalitas 
  2. Tahap orientasi prinsip etika universal
c. Faktor-Faktor  yang  Memengaruhi  Perkembangan Moral
Perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai model. Bagi anak-anak usia 12-16 tahun, gambaran ideal yang diidentifikasikan adalah orang-orang dewasa yang berwibawa atau simpatik, orang-orang terkenal, dan hal-hal yang ideal yang diciptakan sendiri. Para sosiolog berangapan bahwa masyarakat mempunyai peran penting dalam pembentukan moral. Tingkah laku yang terkendali disebabkan oleh adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri yang mempuyai sangsi-sangsi tersendiri buat si pelangar. Teori perkembangan moral yang di kemukakan oleh Kohlberg menunjukan bahwa sikap moral bukan hasil sosialisasi yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan nilai kebudayaan. Tahap perkembangan moral terjadi dari aktivitas spotan pada masa anak-anak. Anak memang berkembang melalui interaksi sosial tetapi interaksi ini  mempunyai  corak  yang  khusus  dan faktor pribadi anak
ikut berperan.
d. Perkembangan Spiritual 
Menurut Ingersoll spiritual adalah wujud dari karakter spiritual, kualitas atau sifat dasar. sedangkan Witmer mendefinisikan spiritual sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari diri sendiri. Sedangkan menurut Aliah B. Purwakania Hasan, spiritual memiliki kata kunci yaitu:

  1. Meaning (makna), yaitu sesuatu yang signifikan dalam kehidupan manusia, merasakan situasi, memiliki dan mengarah pada suatu tujuan.
  2. Values (nilai-nilai) yaitu kepercayaan, standar dan etika yang dihargai.
  3. Transcendence ( transedensi) merupakan pengalaman, kesadaran, dan penghargaan terhadap dimensi transedental bagi kehidupan di atas diri seseorang.
  4. Connecting (bersambung) adalah meningkatkan kesadaran terhadap hubungan diri sendiri, orang lain, Tuhan, dan alam.
  5. Becoming (menjadi) yaitu membuka kehidupan yang menuntut refleksi dan pengalaman, termasuk siapa seseorang dan bagaimana seseorang mengetahui.

Strategi Pembelajaran Al Qur’an Hadist

PEMBELAJARAN MENGHAFAL AL QUR’AN DAN HADIST

A. Pendahuluan
Al Qur’an adalah intisari dan sumber pokok ajaran Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Pada awal dakwahnya pembelajaran Al Qur’an adalah salah satu materi utama yang diajarkan kepada umatnya. Dalam pelaksanaannya, Nabi dan para sahabat berkumpul di rumah Arqam bin Abi Al Arqam untuk membaca Al Qur’an, memahami kandungan ayat dengan jalan dibaca dan kemudian dihafalkan bersama-sama. 
Untuk pembelajaran hadist diawali dari kesadaran umat Islam yang pada masa selanjutnya untuk mendapatkan hadist-hadist dari para sahabat untuk dikumpulkan dan dibukukan. Maka sejak itu menghafalkan hadist menjadi materi yang diajarkan di masjid, kuttab (tempat anak-anak belajar dan menulis, mengajarkan Al Qur’an dan pengetahuan dasar lainnya). 
Untuk materi pembelajaran Al Qur’an Hadist di Indonesia sudah dijadikan mata pelajaran yaitu Al Qur’an Hadist. Materi ini mulai diajarkan dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah sampai perguruan tinggi.
Menghafal merupakan salah satu Kompetensi Dasar yang ada dalam mata pelajaran Al Qur’an Hadist. Karena itu guru harus mampu menentukan strategi dan metode pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
B. PEMBAHASAN

Ada beberapa strategi dan metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran menghafal materi Al Qur’an Hadist, diantaranya:
1. Strategi Indeks Card Match
Stategi ini cukup menyenangkanyang digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun materi barupun tetap bisa diajarkan dengan strategi ini dengan catatan siswa diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas mereka sudah memiliki bekal pengetahuan. 
Dalam pembelajaran menghafal Al Qur’an Hadist strategi ini bisa digunakan untuk mengulang materi hafalan Al Qur’an Hadist dan terjemahnya. Yaitu anak untuk mencocokkan antara ayat/hadist dengan terjemahnya.
Langkah-langkah pembelajaran:
  1. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada dalam kelas.
  2. Bagi kelas-kelas tersebut menjadi dua bagian yang sama.
  3. Pada separuh bagian, tulis ayat/hadist  yang sudah dihafalkan siswa.
  4. Pada separuh kertas yang lain, terjemah dari ayat/hadist yang sudah ditulis.
  5. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban.
  6. Setiap siswa di beri satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktifitas yang dilakukan berpasangan. Separuh siswa akan mendapatkan ayat/hadist dan separuh yang lain akan mendapatkan terjemahnya.
  7. Minta siswa untuk menemukan pasangan, minta mereka untuk duduk berdekatan. Terangkan juga agar mereka tidak memberitahu ayat/hadist dan terjemahnya yang mereka dapatkan pada teman yang lain.
  8. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, minta setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan ayat yang diperoleh dengan keras pada teman-teman yang lain. Selanjutnya ayat/hadist  tersebut diterjemahkan oleh pasangannya.
  9. Akhiri proses ini dengan membuat klarifikasi dan kesimpulan
2. Strategi teks acak
Strategi teks acak adalah strategi pembelajaran yang menghadirkan teks yang diacak untuk memahami materi yang ada pada teks tersebut.  
Strategi teks acak ini bisa digunakan dalam pembelajaran menghafal Al Qur’an Hadist, untuk materi di MI kelas 1 misalnya bisa digunakan dalam mengajarkan anak tentang huruf Hijaiyah. Yaitu dengan mengacak huruf Hijaiyah dan kemudian anak supaya mengurutkannya. Dalam pembelajaran di kelas tinggi penggunaan teks acak ini dapat dilaksanakan dengan mengacak potongan-potongan ayat, kemudian siswa diminta untuk mengurutkannya menjadi ayat yang benar.
3. Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
Metode pemberian tugas dan resitasi adalah suatu cara dalam proses pembelajaran yang mana guru memberikan tugas kepada siswa dan siswa harus mempertanggungjawaban kepada guru. 
Metode ini dapat digunakan untuk pembelajaran Al Qur’an Hadist, yaitu anak diberi tugas untuk menghafalkan ayat/hadist kemudian guru meminta anak untuk menghafalkannya di depan kelas agar guru mengetahui hasil dari tugas yang diberikan itu.
Selain strategi dan metode diatas, agar siswa lebih mudah menghafal Al Qur’an dan Hadist, guru bisa membiasakan siswa untuk bersama-sama menghafalkan Al Qur’an dan Hadist, di awal atau akhir pembelajaran. Selain itu guru bisa memperdengarkan surat atau ayat dan hadist yang ditarjetkan untuk dihafal siswa melalui kaset/CD murattal, dengan seperti itu siswa lebih mudah menghafal karena sudah biasa mendengar surat atau ayat dan hadist tersebut.
C. PENUTUP
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan dalam pembelajaran menghafal Al Qur’an Hadist, diantaranya: strategi indeks card match, teks acak dan metode pemberian tugas dan resitasi. Dari beberapa strategi dan metode diatas, guru bisa menggabungkannya sehingga siswa bisa lebih cepat dalam menghafal Al Qur’an dan Hadist.