Arsip Kategori: Ilmiah

tips memilih telur

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar – Membran ekstra embrional merupakan perluasan-perluasan berlapis membran dari jaringan-jaringan embrio. Pada dasarnya membran-membran tersebut adalah lipatan-lipatan yang pada akhirnya tumbuh mengelilingi embrio dan menghasilkan empat kantung pada embrio yang sedang tumbuh. Masing-masing membran terbentuk dari sel-sel yang berasal dari dua lapisan nutfah berbeda. Pada akhirnya, membran ini akan mati dan tertinggal setelah perkembangan embrional selesai, baik pada saat kelahiran ataupun pada masa penetasan (Soeminto, 2000).

Reptil merupakan hewan yang memiliki kulit berupa sisik dan bernafas dengan paru-paru. Reptil pada umumnya bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar. Ovovivipar yaitu perkembangbiakan hewan dengan cara bertelur dan beranak. Reptil ovovivipar melakukan perkembangan embrionya di dalam tubuh induk betinanya. Embrio hewan ini berkembang di dalam telur yang masih berada di dalam tubuh induknya. Setelah cukup umur, anak hewan menetas dan keluar dari tubuh induknya sehingga tampak seperti melahirkan. Saat yolk sac telah habis, cangkang akan mengelupas dan embrio mengalami proses kelahiran. Contoh hewan ovovivipar adalah hiu, ular boa, ular garter, dan Membran Ekstra Embrional Kadal. Membran ekstra embrional yang dimiliki oleh reptil ovovivipar antara lain berupa amnion, chorion, yolk sac dan allantois.

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar

Terdapat empat macam membran ekstra embrional yang umum terdapat pada reptil ovovivipar, antara lain:

  1. Kantung yolk (Yolk sac) atau disebut juga Saccus vitelinus merupakan  suatu selaput splanknopleura, sangat erat fungsinya dalam nutrisi pada embrio kelompok burung dan reptil yang mempunyai yolk sangat banyak. Yolk sac  dibangun oleh splanknopleura dengan endoderm di sebelah dalam dan mesoderm splanknik di luarnya. Mesoderm splanknik akan terdapat pembuluh-pembuluh darah vitelin. Terbentuknya yolk sac sejalan dengan pelipatan lapisan endoderm yang menjadi atap arkenteron untuk membentuk saluran pencernaan makanan. Fungsi yolk sac adalah sebagai sumber nutrisi selama perkembangan embrio, dan tempat asalnya sel kelamin. Mesoderm splankniknya merupakan sumber sel-sel darah dan merupakan organ hemopoletetik paling awal (Sumantadinata, 1981).
  2. Amnion, seperti kantung tipis yang berasal dari somaotopleura, membentuk suatu kantung menyelubungi embrio dan berisi dengan cairan. Somatopleura merupakan gabungan antara selaput mesoderma dan ektoderma. Melipatnya somatopleura ke arah dorsal kanan-kiri kemudian bersatu pada dorso median sehingga terbentuk kantong yang menyelimuti embrio (Sumantadinata, 1981). Keberadaan selaput ini sangat khas pada reptil, burung dan mamalia sehingga kelompok ini sering disebut dengan kelompok amniota, sedangkan ikan dan amfibia tidak mempunyai amnion dan disebut anamniota.
  3. Chorion merupakan selaput embrio yang terluar. Terbentuk oleh lipatan ke arah luar dari amnion. Susunan lapisan ektoderm (di luar) dan mesoderm somatik (di dalam) chorion berlawanan dengan amnion, oleh karena itu chorion kadang-kadang disebut amnion palsu (false amnion). Chorion akan membungkus selaput-selaput embrio lainnya.
  4. Allantois, merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai suatu evaginasi dari bagian ventral usus belakang pada tahap awal. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat penampung dan penyimpanan urin dan sebagai organ pertukaran gas antar embrio dan lingkungan luarnya. Pada reptil, allantois merupakan suatu sistem tertutup, maka  allantois harus memisahkan sisa-sisa metabolisme nitrogen agar tidak menimbulkan efek toksik terhadap embrio. Bagian proximal allantois membentuk tangkai allantois yang pangkalnya akan tetap berada dalam tubuh embrio bagian distal allantois, membentuk kantung yang tumbuh membesar ke dalam coelum kestrel embrio, yang hampir memenuhi rongga telur, selain itu allantois berada di bawah chorion. Allantois berfungsi  untuk menampung dan membebaskan sisa-sisa metabolisme yang berupa urea ataupun asam urat. Urin akan dinetralisir oleh air yang terkandung dalam albumen telur, sedangkan urin ditampung dalam selaput cangkang (Soeminto, 2000).

Pembentukan membran ekstra embrional pada reptil diawali dengan pembentukan kantong yolk (Saccus vitelinus). Dinding-dinding dari kantong yolk dibentuk dari splanknopleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan endoderma yang melipat ke arah ventral embrio. Pembentukan amnion, mula-mula terjadi lipatan amnion kepala yang juga menerus ke lipatan-lipatan lateral, pada hari kedua terjadi lipatan-lipatan amnion ekor. Kedua macam lipatan ini akan bertemu dan membentuk amnion. Lipatan-lipatan amnion dibangun oleh somatopleura yang dibentuk dari ektoderma dan mesoderma somatis. Lipatan amnion ekor dibangun oleh dua lapisan terpisah yang disebut serosa (chorion), dibangun oleh ektoderma dan mesoderma. Ektoderma amnion menerus pada kulit janin diantara amnion dan chorion terdapat rongga seroamnion (solom ekstra embrional). Chorion tumbuh sekitar kantong yolk dan membungkus seluruh kantong yolk tersebut lalu melekat pada cangkanag telur. Allantois terbentuk melalui evaginasi (pelekukan ke arah luar) spanknopleura. Seiring pertumbuhan embrio, kantung allantois membesar dan akan mengisi ruang antara amnion dan chorion, selanjutnya dinding allantois bersatu dengan lapisan mesoderma somatis dari chorion dan disebut allantochorion (Nishikawa, 2006).

Secara umum membran ekstra embrional memiliki tiga macam fungsi, yaitu proteksi, nutrisi dan ekskresi. Membran ekstra embrional melindungi embrio dari goncangan dan gangguan luar. Fungsi proteksi ini dilakukan oleh amnion dan korion. Dalam masa perkembangannya embrio membutuhkan nutrisi, fungsi tersebut dilakukan oleh yolk sac (saccus vitellinus). Seiring dalam masa perkembangannya, embrio melakukan metabolisme tubuh dan hasil sisa metabolisme tersebut ditampung dalam allantois. Allantois inilah yang merupakan membran ekstra embrional yang menjalankan fungsinya dalam ekskresi.

Macam-macam membran ekstra embrional pada masing-masing classis itu berbeda-beda. Pada pisces dan amfibi hanya memiliki membran ekstra embrional berupa kantong yolk saja. Membran ekstra embrional reptil meliputi: amnion, korion, yolk sac dan allantois (Sumantadinata, 1981). Aves dan mamalia mempunyai membran ekstra embrional yang sama dengan reptil, darimana hewan tersebut berkembang (Djuhanda, 1981).

Djuhanda, Tatang. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico. Bandung

Nishikawa, T., Kazuya M., Masahiko M., Yasuhiro T., Kenji K., Akio T. 2006. Calcification at The Interface Between Titanium Implants and Bone: Observation With Confocal Laser Scanning Microscopy. Journal of Oral Implantology Vol. 32 (213) : 211-217.

Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia. Sastra Budaya, Bogor.

Soeminto, dkk. 2000. Embriologi Vetebrata. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH – Pemberian pakan pada ternak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis ternak, baik untuk kebutuhan pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot badan, sedangkan kebutuhan produksi untuk memproduksi air susu, pertumbuhan, dan reproduksi. Jika pakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, maka bobot badan sapi tidak akan naik dan tidak akan turun, dan produksi susu tidak ada. Sebaliknya, jika pakan dapat melebihi kebutuhan hidup pokok, maka kelebihan pakan akan diubah menjadi bentuk – bentuk produksi seperti produksi susu, pertumbuhan atau peningkatan bobot hidup dan tenaga. Bahan pakan berserat berupa hijauan merupakan pakan utama sapi perah. seperti rumput dan legum. Hijauan merupakan pakan utama sapi perah yang mengandung kadar serat tinggi.

Jenis-jenis Hijauan yang diberikan pada ternak sapi perah

Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi enjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan(Rumput gajah ( Pennisetum purpureum), Rumput Raja (King grass), setaria, benggala (Pennisetum maximum), rumput lapang dan BD (Brachiaria decumbens)), kacang-kacangan (leguminosa) seperti lamtoro, turi, gamal dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

Hijauan berdasarkan kualitasnya dibagi atas 3 kelompok:

1. Kelompok hijauan yang berkualitas rendah:

  •  Protein kasar di bawah 4% dari bahan kering
  • Energi di bawah 40% TDN dari bahan kering
  • Sedikit atau tidak ada vitamin.

Hijauan yang termasuk kelompok ini antara lain adalah jerami padi, jerami jagung dan pucuk tebu.

2. Kelompok hijauan yang berkualitas sedang:

  •  Protein kasar berkisar antara 5-10% dari bahan kering
  • Energi berkisar antara 41 – 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium sekitar 0,3%

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah rumput alam, rumput lapangan,rumput gajah, rumput benggala dan rumput kultur lainnya.

3. Kelompok hijauan yang berkualitas tinggi:

  • Protein kasar di atas 10% dari bahan kering
  • Energi di atas 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium di atas 1,0% .
  • Kandungan vitamin A tinggi

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah leguminosa (lamtoro,kaliandra, gliricidia, alfalfa), dan daun umbi-umbian.

Inokulasi Virus Telur Ayam Berembrio

Inokulasi Virus Telur Ayam Berembrio – Peternakan unggas khususnya ayam kampung mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha meningkatkan produksi yang dapat menambah penghasilan dengan cara pemeliharaan ayam yang masih bersifat tradisional. Wabah Newcastle Disease (ND) merupakan hambatan dalam pemeliharaan ayam kampung. Wabah biasanya terjadi pada waktu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. ND telah lama menjadi masalah di indonesia karena penyakit yang menyerang unggas ini merupakan penyakit yang akut dan menyerang unggas segala umur dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. ND merupakan penyakit strategik yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi terbesar, serta menjadi hambatan bagi kegiatan perdagangan internasional.

Ayam kampung merupakan ayam lokal yang ada di Indonesia, mempunyai ciri yang mudah dikenali, sehingga mudah dibedakan dari ayam ras. Penyakit yang menyerang ayam dapat disebabkan oleh parasit, virus, bakteri, jamur, defisiensi zat makanan, atau karena gangguan lainnya. Kasus penyakit yang paling sering ditemukan adalah penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND). Penyakit ini disebabkan oleh virus Newcastle Disease (NDV).

Telur ayam berembrio merupakan sistem yang telah lama digunakan secara luas untuk isolasi. Embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda. Telur merupakan sumber sel murah untuk isolasi virus, sehingga cara in ovo ini sering digunakan dalam laboratorium. Telur ayam memiliki empat membran ekstra embrional yaitu kantung vitelus, amnion, serosa dan alantois. Alantois mulai terdapat pada janin ayam yang berumur 27 jam inkubasi, terjadi sebagai suatu divertikulum pada dasar usus belakang di daerah kloaka yang mula-mula menyerupai kantung dan tumbuh cepat sekali. Rongga alantois berisi cairan-cairan yang berasal dari kotoran-kotoran janin, ketika selama pertumbuhan dilepaskan. Dinding alantois dibentuk oleh splanknopleura, pendarahannya diatur oleh arteri dan vena alantois yang disebut vena dan arteri umbilikalis.

Beberapa kemungkinan yang terjadi bila virus ditanam atau disuntikan pada telur berembrio:

a. Embrio ayam akan mati

b. Pocks atau plaque akan tumbuh

c. Pembentukan antingen

Membran kulit telur yang fibrinous terdapat di bawah kerabang. Membran membatasi seluruh permukaan dalam telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membran kulit telur bersama dengan cangkang telur memban untuk mempertahankan intregitas mikrobiologi dari telur, sementara terjadinya difusi gas ke dalam dan ke luar telur. Distribusi gas di dalam telur dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat vaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio. Telur ayam berembrio merupakan salah satu media penumbuh berbagai jenis virus seperti virus Newcastle Disease (ND), Avian Influenza, dan Campak.

Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit infeksi yang penting untuk dikaji dalam peternakan. Newcastle disease juga dikenal dengan nama sampar ayam atau tetelo. Deteksi yang cepat dan identifikasi dari virus ini merupakan tahap yang paling efektif untuk mengontrol pertumbuhan penyakit ini. Newcastle Disease disebabkan oleh Paramyxovirus yang merupakan anggota dari familia Paramyxoviridae. Newcastle Disease virus biasanya berbentuk bola dengan diameter 100-300 nm. Genom dari virus ND adalah suatu rantai tunggal RNA. virus ND mempunyai amplop yang mengandung dua protein yaitu protein hemaglutinin neuraminidase (HN) dan protein peleburan. Kedua protein ini bersifat penting dalam menentukan keganasan dan infektivitas virus. Protein HN melaksanakan dua fungsi, yaitu hemaglutinin mengikat selaput sel inang dan bagian neuraminidase dilibatkan di dalam pelepasan virus dari selaput sel inang. Protein peleburan digunakan untuk peleburan amplop virus kepada selaput sel inang, sehingga genom dari virus dapat masuk sel. Fungsi ini dapat dilaksanakan dengan pembelahan protein peleburan oleh suatu protease sel inang.

Virus ND menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan sangat patogen. Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musim peralihan, dimana saat tersebut stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk.

Newcastle disease berpotensi menginfeksi kebanyakan pada spesies burung dan dan kerentanan pada unggas sangat tinggi penularannya, biasanya menyebabkan kematian. Penyakit ini adalah salah satu penyakit infeksi yang paling mudah penularannya di seluruh dunia, karena distribusinya dan potensi untuk merusak. Hal ini terjadi paling sedikit 6 dari 7 benua di dunia dan enzootic pada beberapa negara.  Newcastle Disease virus (NDV) juga dikenal sebagai avian paramyxovirus serotype-1 (APMV-1), masuk dalam genus Avulavirus dengan family Paramyxoviridae yang merupakan untai tunggal negatif, tidak bersegmen, merupakan virus RNA yang mempunyai envelop. Genom NDV tersusun atas 6 gen dan menyandikan gen-gen tersebut bersamaan dengan 6 struktur protein yaitu nukleoprotein (NP), pospoprotein (P), matrix (M), fusi (F), hemaglutinin-neuraminidase (HN) dan RNA polimerase (L). RNA dari hasil protein ditambah protein non struktural V dan mungkin W, ketika virulensi dari NDV tergantung pada banyak gen, fusi tempat pembelahan protein adalah tempat secara kritis bertanggung jawab untuk perubahan utama dalam virulensi. Virus sedikit virulen (loNDV) mempunyai asam amino utama lebih sedikit pada tempat ini dan leusin daripada penilalanin pada posisi 117. Menggunakan teknik genetik terbalik telah menunjukkan bahwa penilalanin pada posisi 117 dan asam amino utama mengelilingi Q 114 adalah kebutuhan untuk virulensi.

Embrio yang terinokulasi virus akan mengalami lesi pada CAM seperti edema atau perkembangan plak karena adanya hemaglutinasi, pada buku-buku kaki akan menjadi berwarna kehijauan, perkembangan otot yang abnormal, organ visceral yang abnormal, tubuh sangat lunak dan mengalami kematian. Gejala klinis anak ayam dan ayam fase bertelur penderita ND dijelaskan sebagai berikut:

1. Anak ayam, ditemukan penderita mati tiba-tiba tanpa gejala penyakit. Pernapasan sesak, batuk, lemah, nafsu makan menurun, mencret dan berkerumun. Terlihat gejala syaraf  berupa paralisis total atau parsial. Penderita mengalami tremor atau kejang otot, bergerak melingkar dan jatuh. Sayap terkulai dan leher terputar (torticolis). Mortalitas pada penderita bervariasi.

2. Ayam fase produksi, umur 2 sampai dengan 3 minggu terlihat gejala gangguan pernapasan, depresi dan nafsu makan menurun, namun gejala syaraf jarang terlihat. Produksi telur menurun secara mendadak. Morbiditas dapat mencapai 100%, sedangkan mortalitas bisa mencapai 15%.

Perubahan pasca mati pada unggas penderita antara lain, meliputi ptechiae, berupa bintik-bintik perdarahan pada proventrikulus dan seca tonsil, eksudat dan peradangan pada saluran pernapasan serta nekrosis pada usus.

Trakhea penderita ND terlihat lebih merah daripada trakhea normal, karena adanya peradangan. Gejala lain yang nampak pada ayam yang terkena virus Newcastle Disease (NDV) adalah sebagai berikut:

  1. Excessive mucous di trakhea.
  2. Gangguan pernapasan dimulai dengan megap-megap, batuk, bersin dan ngorok waktu bernapas.
  3. Ayam tampak lesu.
  4. Nafsu makan menurun.
  5. Produksi telur menurun.
  6. Mencret, kotoran encer agak kehijauan bahkan dapat berdarah.
  7. Jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, otot tubuh gemetar, kelumpuhan hingga gangguan saraf yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

Pengujian yang dilakukan terhadap adanya penularan virus dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu:

a. Pembiakan virus dengan hewan percobaan (In vivo)

Pembiakan virus dengan hewan percobaan digunakan untuk isolasi primer virus tertentu, untuk penelitian patogenesis virus dan onkogenesis virus. Jenis hewan percobaan, umur, jenis kelamin, serta cara penyuntikannya berbeda-beda tergantung jenis virus. Virus yang sering diteliti secara in vivo pada binatang percobaan antara lain virus polio, virus rabies dan virus dengue.

b. Pembiakan virus pada kultur jaringan (In vitro)

Biakan sel yang dapat digunakan untuk membiakan virus secara in vitro adalah biakan primer dan biakan sel yang dapat hidup terus menerus. Biakan sel primer adalah biakan yang diambil dalam keadaan segar dari binatang. Biakan yang berasal dari embrio ayam akan menghasilkan sel jenis fibroblast.

c. Pembiakan virus dalam telur berembrio (In ovo)

Telur juga merupakan perbenihan virus yang sudah steril dan embrio telur yang tumbuh didalamnya tidak membentuk zat anti yang dapat mengganggu pertumbuhan virus.

Cara pembiakan virus pada telur berembrio adalah sebagai berikut:

1. Menyuntikan virus pada lapisan luar selaput korioalantois telur berembrio 10 hari.

Cara penanaman ini berguna untuk isolasi virus yang menyebabkan kelainan dermatotropik seperti virus variola, virus vaccinia dan virus herpes.

2. Menyuntikan virus ke dalam ruang amnion telur berembrio yang  berumur 10-15 hari. Cara ini terutama untuk isolasi virus influenza dan virus parotitis karena virus ini tumbuh di dalam sel epitel paru-paru embrio yang sedang berkembang.

3. Menyuntikan virus pada kantung kuning telur berembrio 9-12 hari. Teknik penanaman ini menggunakan penyuntikan langsung melalui lubang kecil pada kulit telur ke dalam kantung kuning telur.

Faktor yang menyebabkan suksesnya penyebaran NDV adalah karena kemampuan virus untuk bertahan pada inang yang mati atau pada hasil ekskresi. Infeksi dalam karkas virus ND dapat bertahan selama beberapa minggu pada temperatur pendingin dan beberapa tahun dalam karkas beku. Feses unggas yang mengandung virus dalam jumlah yang tinggi merupakan medium yang sesuai untuk virus ND bertahan hidup pada 37o C infektif bertahan selama lebih dari sebulan.

Keberhasilan inokulasi virus pada telur ayam berembrio dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur dan status imun, embrio yang berumur sekitar 7-9 hari mempunyai bagian organ yang sempurna dan mempunyai sistem imun yang baik, sehingga pada saat terinfeksi virus akan mudah diamati gejalanya. Dosis virus yang diinokulasikan, semakin banyak volume virus yang diinokulasikan, maka semakin banyak sel yang terinfeksi, sehingga akan semakin cepat kematiannya. Jarak dan waktu inkubasi, inokulasi virus pada embrio membutuhkan jarak dan waktu inkubasi yang sesuai untuk menumbuhkan virus pada embrio. Faktor eksternal seperti temperatur, virus yang menular dapat bertahan hidup hingga berbulan-bulan dalam temperatur kamar pada telur ayam yang terinfeksi virus. Aplikasi rute pemberian terhadap bagian dari telur (embrio, alantois, kantung kuning telur, kantung hawa, amnion), virus mempunyai bagian sel tertentu untuk menginfeksi, misalnya NDV hanya akan menginfeksi bagian yang nantinya akan menjadi pembuluh darah seperti  chorioalantois. Kemampuan penyerapan bahan oleh embrio, dan struktur farmakologi dari bahan itu sendiri juga dapat mempengaruhi keberhasilan inokulasi.

Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan inokulasi pada embrio ayam adalah sebagai berikut:

1. Rute Inokulasi

Inokulasi pada embrio dimana virus akan segera mendapatkan tempat untuk menginfeksi organ. Hasil paling baik adalah ketika embrio mengalami abnormal organ sejak 24 jam setelah inokulasi.

2. Strain virus

Strain virus menentukan efek infeksi pada masing-masing embrio yang diinokulasikan virus. Strain yang paling virulen merupakan strain yang paling baik untuk digunakan pada uji in ovo karena mudah terlihat gejalanya.

3. Titer Virus

Banyaknya titer virus yang diinokulasikan merupakan hal yang penting untuk mencapai keberhasilan inokulasi dan akan menyebabkan efek infeksi yang terlihat jelas pada embrio yang diujikan dengan kontrolnya.

4. Tahapan perkembangan embrio

Perkembangan embrio yang sudah mengalami tahap dewasa akan lebih resisten terhadap virus karena sudah dibekali sistem imun pada tubuhnya, sebaliknya embrio dengan umur yang lebih muda akan lebih rentan terkena virus karena sistem imunnya belum berkembang.

Upaya pencegahan agar ayam tidak mudah terinfeksi NDV menurut Isharmanto (2010) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  1. Ayam yang tertular harus dikarantina atau bila sudah pada stadium berbahaya maka harus dimusnahkan.
  2. Vaksinasi harus dilakukan untuk memperoleh kekebalan, yaitu dengan cara:

a. Vaksinasi pertama, dilakukan dengan cara pemberian melalui tetes mata pada hari ke dua.

b. Untuk berikutnya pemberian vaksin dilakukan dengan cara suntikan di intramuskuler otot dada.

Vaksinasi adalah suatu tindakan dimana hewan dengan sengaja dimasuki agen penyakit (antigen) yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan tubh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman serta tidak menimbulkan penyakit (Akso, 1998). Tizard (1998) menyatakan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu vaksinasi sebagai pengendali adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi mutlak organisme penyebab

2. Tanggap kebal melindungi hewan terhadap penyakit

3. Resiko vaksinasi tidak melebihi resiko kemungkinan mengidap penyakit tersebut.

Selain upaya pencegahan di atas, bisa juga dilakukan dengan antiviral terhadap NDV dengan menggunakan buah srikaya (Annona squamosa L.). Sebagaimana menurut Sulistyani et al. (2009), Newcastle Disease Virus (NDV) adalah salah satu virus yang dapat menggumpalkan eritrosit (hemaglutinasi) karena hemaglutinin virus berinteraksi dengan permukaan eritrosit. Hemaglutinin terdapat pada amplop virus. Pemanfaatan bahan alam merupakan salah satu alternatif untuk mencari antiviral baru. Telah dilaporkan bahwa ekstrak gubal biji Annona squamosa L. (srikaya) mengandung RIP (Ribosome-Inactivating Protein) karena dapat memotong DNA superkoil. RIP terbukti mempunyai efek sebagai antiviral, baik pada virus tanaman maupun hewan. Infusa biji srikaya mempunyai kemampuan sebagai antiviral terhadap NDV dengan IC50 3.2369 g/mL. Langkah selanjutnya dapat dilakukan melalui keadaan sanitasi lingkungan baik dan tidak berdekatan dengan ayam yang sakit, keadaan nutrisi unggas harus dicukupi. Keberhasilan vaksinasi dapat diketahui dengan mengukur titer antibodi pada ayam 2 – 3 minggu setelah divaksin.

Adi, A., Astawa., Ketut., dan Yasunobu M. 2008. Deteksi Virus Penyakit Tetelo Isolat Lapangan dengan Metode Nested Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction. Jurnal Veteriner, Vol. 9 (3) : 128-134.

Akso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Alexander, D.J. 1990. Paramyxoviridae (Newcastle Disease and others). In : Poultry Disease. FTW Jordan (editor) 3rd ed. Bailliere Tindall, London.

Allan, W.H., Lancaster, J.E., Thoth, B. 1978. Newcastle Disease Vaccines. Their production and use. FAO Animal Production and Health Series No. 10. FAO, Rome.

Berad, C.W. 1984. Serologic Procedures In : A Laboratory Manual for the Identification of Avian Pathogenes. Kenneth Sguare, Pennyslavia, pp. 192-200.

Darminto. 1992. Efisiensi Penyakit Tetelo pada Ayam Boiller. Jurnal Penyakit hewan, Vol. 24 (2) : 4-8.

Johnston, D.A., H. Liu, T. O’connell, P. Phelps, M. Bland, J. Tyczkowski, A. Kemper, T. Harding, A. Avakian, E. Haddad, C. Whitfill, R. Gildersleeve And C.A. Rick. 1997. Applications in in ovo technology. J. Poult Sci, Vol. 76, pp. 165-178.

Juhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. CV. Armico, Bandung.

Kaleta, E. F. Dan U. Neumann. 1975. Detection of Newcastle Disease Virus in Chicken Tracheal Organ Cultures by the Fluorescent Antibody Technique and by the Embryonated egg method. Journal Avian Pathology,  Vol. 4 (1) : 227-232.

Merchant and Packer. 1956. Veterinary Bacteriology and Virology. Iowa State University Press, USA.

Miller, P.J., Decanini, E.L., Afonso, C.L. 2010. Newcastle disease: Evolution of genotypes and the related diagnostic challenges. Journal Infection, Genetics and Evolution, Vol. 10, pp. 26-35.

Radji, M. 2010. Imunologi dan Virologi. PT. Isfi Penerbitan, Jakarta.

Smietanka, K., Z. Minta dan K. D. Blicharz. 2006. Detection of Newcastle Disease Virus in Infected Chicken Embryos and Chicken Tissues by RT-PCR. Bull Vet Inst Pulawy, Vol. 50, pp. 3-7.

Sudardjat, S. 1996. Peranana Vaksinasi ND Terhadap Peningkatan Produksi Ayam Buras serta Dampaknya ditinjau dari Sudut Ekonomi Veteriner. Tesis. Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Bogor.

Sulistyani, N., Ibnatul Azizah dan M. Kuswandi. 2009. Aktivitas Antiviral Ekstrak Etanolik Biji Srikaya (Annona squamosa L.) terhadap Virus Newcastle Disease pada Telur Ayam Berembrio. Majalah Farmasi Indonesia, Vol. 20 (2) : 62-67.

Williamson, A. P., R. J. Blattner, dan G. G. Robertson. 1953. Factors Influencing the Production of Developmental Defects in the Chick Embryo Following Infection with Newcastle Disease Virus. The Journal of Immunology, Vol. 71, pp. 207-213.

Yuan, Ping., K. A. Swanson,. G. P. Leser., R. G. Paterson., R. A. Lamb, and T. S. Jardetzky. 2011. Structure of the Newcastle Disease Virus Hemagglutinin-neuraminidase (HN) Ectodomain Reveals a Four-helix Bundle Stalk. PNAS. No. 36 Vol. 108. Doi 10.1073/pnas. 1111691108.

Tizard, I. 1998. Pengantar Immunologi Veteriner. Airlangga University Press, Surabaya.

Zuckerman, A. J., J. E. Banatvala, dan J. R. Pattison. 2000. Principles and Practice of Clinical Virology. John Wiley & Sons, New York.

Memasak telur dan daging

Pentingnya Protein Bagi Tubuh Manusia

Pentingnya Protein Bagi Tubuh Manusia – Nutrisi adalah komponen yang dikandung dalam bahan makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh hewan. Nutrisi dikelompokkan menjadi nutrisi makro dan nutrisi mikro. Nutrisi makro yaitu nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tubuh meliputi karbohidrat, protein, dan lemak. Sedangkan nutrisi mikro yaitu nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit oleh tubuh meliputi vitamin dan mineral.

Protein merupakan polimer yang terdiri dari asam amino (polipeptida) dan merupakan salah satu senyawa organik yang terpenting bagi hewan. Fungsi utama protein yaitu sebagai zat pembangun yang diperlukan pada masa pertumbuhan. Pada masa bayi hingga remaja, kebutuhan protein lebih besar persentasinya dibandingkan dengan pada masa dewasa dan manula.

Pada masa dewasa dan manula protein dibutuhkan untuk mempertahankan jaringan-jaringan tubuh dan mengganti sel-sel yang telah rusak. Selain itu protein digunakan tubuh untuk kepentingan struktur maupun fungsi seperti pembentukan kolagen dalam tulang, kartilago dan membran sel, pembentukan enzim dan hormon, pembentukan antibodi untuk kekebalan tubuh, dan yang paling penting dalam proses ekspresi gen. Berdasarkan sumbernya, protein dibedakan menjadi dua yaitu protein nabati dan protein hewani.

Protein nabati adalah protein yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan, seperti beras dan kacang-kacangan. Sedangkan protein hewani adalah protein yang bersumber dari hewan, seperti telur, daging, ikan dan susu. Kebutuhan protein tiap orang berbeda-beda. Kekuranga protein dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tubuh, selain itu juga dapat menimbulkan beberapa penyakit. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa penyakit karena kekurangan protein, mekanisme terrjadinya kekurangan protein, dan cara penanggulangannya.

Perhatikan Penjelasan Penting Di Bawah Ini !

Protein merupakan nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang banyak (makro nutrient). Protein tersusun atas asam amino-asam amino. Asam amino terdiri dari sebuah gugus amino, sebuah gugus karboksil, dan sebuah atom hydrogen. Asam amino terbagi menjadi dua, yaitu asam amino essensial dan asam amino non essensial.

Asam amino essensial yaitu asam amino yang dapat dibentuk oleh tubuh manusia, contohnya lysin, arginin, leusin, isoleusin, teronin, metionin, valin, venilalanin, histidin, dan originin. Arginin tidak essensial bagi anak-anak dan orang dewasa tetapi berguna bagi pertumbuhan bayi, sedangkan histidin essensial bagi anak-anak tetapi tidak essensial bagi orang dewasa. Asam amino non essensial yaitu asam amino yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh manusia, sehingga diperoleh dari makanan sehari-hari. Kandungan asam amino essensial pada protein dapat membedakan penggolongan protein, yaitu protein sempurna dan protein tidak sempurna.

Pentingnya Protein Bagi Tubuh Manusia

Protein sempurna merupakan protein yang mengandung semua asam amino essensial yang dapat diperoleh dari bahan pangan hewani, misalnya telur, daging, ikan, ayam, susu, dan sebagainya. Protein sempurna juga dapat diperoleh dari bahan pangan nabati, tetapi dari kelompok kacang-kacangan saja. Sedangkan protein tidak sempurna merupakan protein yang tidak mengandung semua jenis asam amino essensial yang dapat diperoleh dari bahan pangan nabati, misalnya semua bahan pangan dari tumbuhan kecuali kelompok kacang-kacangan.

Protein tidak sempurna dari dua bahan nabati apabila digabungkan akan saling mengisi, sehingga dapat membentuk protein yang sempurna. Untuk memperoleh asam amino yang berbeda sehingga dapat saling mendukung pembentukan protein tubuh, maka sebaiknya jangan mengkonsumsi dua bahan makanan nabati yang sejenis, seperti beras dan jagung. Tetapi harus mengkonsumsi dua jenis bahan makanan yang berbeda, seperti jagung dan kacang hijau. Sehingga tanpa harus mengkonsumsi bahan pangan hewani, kita sudah dapat memenuhi kebutuhan akan asam amino essensial jika variasi bahan makanan yang dikonsumsi cukup.

Selain kandungan asam amino essensial, faktor lain yang menentukan protein adalah nilai cerna. Nilai cerna menunjukkan persentase protein dari bahan makanan yang dapat diserap oleh dinding usus untuk membentuk protein tubuh. Sebagai contoh, nilai cerna telur adalah 100, ini berarti 100% protein telur dapat diserap untuk protein tubuh. Nilai cerna beras adalah 96, berarti hanya 96% dari protein beras yang dapat diserap oleh tubuh.

Fungsi protein bagi tubuh yaitu sebagai berikut :

  1. Untuk membangun sel-sel jaringan tubuh manusia
  2. Untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak atau aus
  3. Menjaga keseimbangan asam basa pada cairan tubuh
  4. Sebagai penghasil energi
  5. Sebagai zat pembangun
  6. Sebagai zat pertumbuhan
  7. Untuk kepentingan struktur maupun fungsi seperti pembentukan kolagen dalam tulang, kartilago dan membran sel, pembentukan enzim dan hormon, pembentukan antibodi untuk kekebalan tubuh, dan yang paling penting dalam proses ekspresi gen.

Kebutuhan protein bagi manusia dapat ditentukan dengan cara menghitung protein yang diganti dalam tubuh. Hal ini dapat dilakukan dengan menghitung jumlah unsur nitrogen yang ada dalam protein makanan dan menghitung pula jumlah unsur nitrogen yang dikeluarkan tubuh melalui air seni dan feses. Jumlah unsur nitrogen yang dikeluarkan dari tubuh laki-laki dewasa yang berat badannya 70 kg ± 3 gram sehari.

Tiga gram nitrogen ini ekuivalen dengan 3 x 6,25 gram protein atau 18,75 gram protein (1 gram zat putih telur mengandung 0,16 gram unsur nitrogen). Secara teori hal ini berarti seorang laki-laki dewasa yang berat badannya 70 kg hanya akan memerlukan 18,75 gram protein. Tetapi jika kita lihat bahwa penggunaan protein dalam tubuh dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga dalm prakteknya jumlah protein itu belum dapat memenuhi kebutuhan tubuh. Berdasarkan hal tersebut ditetapkan bahwa kebutuhan protein bagi orang dewasa adalah 1 gram untuk 1 kilogram berat badannya setiap hari. Untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, diperlukan protein dalam jumlah yang lebih banyak, yaitu 3 gram untuk setiap kilogram berat badan.

Perbedaan ini disebabkan karena pada anak-anak protein dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan, sedangkan pada orang dewasa fungsi protein hanya untuk mempertahankan jaringan tubuh dan mengganti sel-sel yang telah rusak.

Protein dapat dikatakan merupakan zat terpenting bagi tubuh manusia. Manusia tanpa protein akan mengalami berbagai gangguan kesehatan bahkan akan mengalami keadaan yang menghantarkan kepada kematian. Kekurangan protein pada anak-anak dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan badan si anak. Pada orang dewasa kekurangan protein mempunyai gejala yang kurang spesifik, kecuali pada keadaan yang sudah sangat parah.

Buah Pala

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala. Tanaman pala (Myristica fragrans H) merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah terkenal di Indonesia dan produsen pala terbesar di dunia (70 – 75%). Negara produsen lainnya adalah Grenada sebesar 20 – 25 % kemudian selebihnya India, Srilangka dan Malaysia.

Pala memiliki banyak kegunaan yaitu untuk bumbu masak, ramuan kecantikan, kesehatan dan juga dijadikan pewangi ruangan. Semakin banyaknya kegunaan pala sehingga di pasar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pala Indonesia memiliki nilai tinggi di pasar dunia karena aromanya yang khas dan rendemen minyaknya tinggi.

1. Klasifikasi

Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan jenis tanaman perkebunan yang tumbuh baik pada daerah tropis. Tanaman pala merupakan tanaman asli Indonesia karena berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman ini terkenal karena biji buahnya yang tergolong rempah-rempah dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Biji dan selaput biji (fuli) merupakan komoditas ekspor Indonesia dan menduduki sekitar 60% dari jumlah ekspor pala dunia.

Klasifikasi tanaman pala menurut Cronquist (1981) adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Magnolidae; Ordo: Magnoliales; Famili: Myristicaceae, Genus: Myristic; Spesies: Myristica fragrans Houtt.

2. Morfologi

Akar tanaman pala merupakan akar tunggang yang dalam akar lateralnya (feeder alias penghisap zat makanan) berakar serabut yang cukup tebal, dangkal letaknya dibawah permukaan tanah. Oleh karena itu mudah diserang erosi air dan mudah menderita kekeringan.

Batang pokok tanaman bisa mencapai ketinggian 18-20 meter lebih. Tumbuhnya tegak, bentukny bulat agak berbonggol-bonggol. Cabang primernya membentuk krans ( karangan ) melingkari batang pokok abu-abu kelam atau hijau tua. Mahkota pohon berbentuk pyramid yang indah dan sempurna bila tumbu sendiri.

Daun tanaman pala memiliki ukuran yang berbeda antara jantan dan betina.  “ ukuran daun pala jantan lebih kecil daripada daun pala betina. Bentuknya seperti telur elip, dengan pangkal dan pucuknya meruncing. Warna bagian bawah hijau kebiru-biruan muda, sedangkan bagian atasnya hijau tua”.

Tanaman merupakan tanaman berumah dua (dioecus) yaitu dalam satu tanaman berbunga betina saja atau bunga jantan saja. Namun, tanaman pala biasanya berumah satu yaitu dalam satu pohon terdapat bunga betina dan jantan. Kemungkinan-kemungkinan tampilnya tiga jenis tanaman tersebut berbanding 55% tanaman berbunga betina, 40% tanaman berbunga jantan, dan 5% tanaman berumah satu.

Bunga pala berbentuk malai (tandan) karena termasuk bunga majemuk. Malai bunga jantan terdiri dari 1-10 bunga, sementara malai bunga betinahanya 1-3 bunga. Bunga jantan tumbuh lebih tegak pada ranting buah, tetapi ukurannya lebih kecil dari bunga betina. Bunga betina tumbuh pada ketiak daun dengan kekhasannya yang berbau harum, berwarnakuning muda, dan halus. Persarian bunga pala terjadi jika ada bantuan dari semut dan angin.

Jenis kelamin bunga dapat diketahui dari arah tumbuhnya cabang-cabang primer. Pohon penghasil bunga betina cabang primernya mendatar (vertical) tumbuhnya, sedang yang menghasilkan bunga jantan membentuk siku sampai lancip dengan batang pokoknya. Cirri-ciri pohon betina dan jantan tersebut akan lebih dipertegas lagi, bila sudah mulai berbunga, atau umur +5 tahun.

Ciri utama marga myristica adalah tumbuhan pohon, percabangan monopodial, daun tunggal berseling dengan permukaan bawah daun agak kasar, pangkal daun meruncing, dan ujung daun runcing. Bunga terdapat pada ketiak daun, terdiri dari 2-4 bunga, berumah satu, dua atau lebih. Bunga jantan, perhiasan bunga berbentuk tabung dengan bagian luar berbulu halus kecoklatan, terdiri dari tiga ruang (kadang 2-4), keseluruhan bunga jantan berupa kolum dengan benang sari berjumlah 8-30.

Bunga betina lebih besar dari bunga jantan, ovarium gundul atau berbulu halus, dan putik berupa ruang. Buah bulat sampai agak lonjong dengan panjang antara 1-10 cm dan berdaging tipis samapai agak tebal. Biji dengan kulit yang keras dan diselubungi oleh salut biji (arilus) bersifat aromatik dengan kandungan senyawa utama myristicin.

Tanaman mulai berbuah pada umur 5-8 tahun setelah tanam. Sebelum fase berbuah antara pohon jantan dan betina sulit dibedakan. Pada pertanaman dewasa, cukup satu jantan untuk 10 tanaman betina. Pala berproduksi penuh setelah umur 15 tahun dan dapat berproduksi sampai umur 15 tahun dan dapat berproduksi  sampai umur 50 tahun dengan produksi dapat mencapai 2000 butir per pohon, namun umumnya 1000 butir per pohon.

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun.

Buah tanaman pala berbentuk bulat, berwarna hijau kekuning kuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara 3-9 cm, daging buahnya tebal dan asam rasanya. Biji berbentuk lonjong sampai 5 Universitas Sumatera Utara 18 bulat, panjangnya berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklat dan mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputi hputihan, sedangkan fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala.

Minyak pala dengan kualitas baik dapat dilihat dari kualitas biji pala yang baik pula, terutama umur buah pala harus sungguh-sungguh tua. Kadar minyak atsiri yang terbesar adalah pada buah yang berumur 3-4 bulan di pohon. Jika mengalami kesulitan dalam memilih buah pala yang umurnya seragam yakni 3-4 bulan, maka buah-buah pala dari berbagai umur petik dapat dicampur dan diusahakan agar perbandingan umur petik 3-4 bulan, 4-5 bulan, 5-6 bulan adalah 2 : 1 : 1.

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, kandungan yang terdapat pada buah pala yaitu kadar air (83%), protein (0,28%), lemak (0,28%), pectin (6,87%), dan minyak pala (7-15%). Bila minyak pala tersebut diproses kimia lebih lanjut akan dihasilkan lemak/mentega (8,05%), 16 komponen terpenoid (73,91%), dan 8 komponen aromatik (18,04%). Komponen utama dari senyawa aromatik ini disebut miristin.

3. Ekologi

Tanaman pala merupakan penghuni daerah tropis, untuk dapat berkembang biak, tumbuh, dan menghasilkan buah yang banyak tidak luput dari pengaruh lingkungan mikro maupun makro.

Tanaman pala bisa berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Untuk itu membutuhkan lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan tanaman yang berumur pendek.

Lingkungan hidup tanaman pala harus disesuaikan dengan factor-faktor yang mempengaruhi ekosistemnya diantaranya adalah sebagai berikut:

4. Iklim

Kepulauan banda merupakan pusat tanaman pala jenis M. fragans  yang menyebar hingga Sulawesi utara, pantai barat sumatera, Bengkulu dan jawa barat. Daerah tersebut termasuk wilayah basah karena curah hujan yang turun lebih dari 100 ppm. Curah hujan yang baik bagi pertumbuhan tanaman pala lebih kurang 2175-3550 mm/tahun. Namun setelah diteliti ternyata tanaman pala bisa beradaptasi di daerah panas dan lembab dengan suhu udara sekitar 25-30º C.

5. Angin

Tanaman pala agak peka terhadap angin yang kencang, karena dapat mengganggu penyerbukan tanaman dan mengakibatkan buah dan pucuk tanaman berguguran sebelum wakrunya.

6. Tanah

Tanaman pala yang berumur panjang memiliki kedalam akar hampir sama dengan ketinggian pohonnya yaitu 18 m. sehinnga tanaman pala membutuhkan tanah yang cerul (porous), dalam arti tanahnya gembur, mudah meyimpan air, remah strukturnya, solum dalam atau lapisan tanahnya tebal, draenase dan aerasinya baik, serta tidak pecah-pecah pada musim kemarau. Tanah yang porous dapat meresap air hujan kedalam tanah sehingga tidak mengganggu pertumbuhan akarnya. Karena itu, pH tanah harus disesuaikan dengan tanaman pala, yaitu berkisar 5,5-6,5.

7. Ketinggian tempat diatas permukaan laut

Tanaman pala dapat tumbuh dengan optimal pada ketinggian 500-700 meter di bawah permukaan laut.

8. Air tanah

Air tanah yang letaknya dalam tidak masalah bagi tanaman pala karena akarnya bisa menembus jauh kedalam tanah. Namun, air tanah yang dangkal berakibat fatal terhadap tanaman karena bisa mengakibatkan busuk akar yang dapat menghambat pertumbuhannya.