Arsip Kategori: Biologi

Buah Pala

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala

Klasifikasi, Morfologi dan Syarat Hidup Tanaman Pala. Tanaman pala (Myristica fragrans H) merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah terkenal di Indonesia dan produsen pala terbesar di dunia (70 – 75%). Negara produsen lainnya adalah Grenada sebesar 20 – 25 % kemudian selebihnya India, Srilangka dan Malaysia.

Pala memiliki banyak kegunaan yaitu untuk bumbu masak, ramuan kecantikan, kesehatan dan juga dijadikan pewangi ruangan. Semakin banyaknya kegunaan pala sehingga di pasar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Pala Indonesia memiliki nilai tinggi di pasar dunia karena aromanya yang khas dan rendemen minyaknya tinggi.

1. Klasifikasi

Pala (Myristica fragrans Houtt) merupakan jenis tanaman perkebunan yang tumbuh baik pada daerah tropis. Tanaman pala merupakan tanaman asli Indonesia karena berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman ini terkenal karena biji buahnya yang tergolong rempah-rempah dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Biji dan selaput biji (fuli) merupakan komoditas ekspor Indonesia dan menduduki sekitar 60% dari jumlah ekspor pala dunia.

Klasifikasi tanaman pala menurut Cronquist (1981) adalah sebagai berikut:

Kingdom: Plantae; Subkingdom: Tracheobionta; Super Divisi: Spermatophyta; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Sub Kelas: Magnolidae; Ordo: Magnoliales; Famili: Myristicaceae, Genus: Myristic; Spesies: Myristica fragrans Houtt.

2. Morfologi

Akar tanaman pala merupakan akar tunggang yang dalam akar lateralnya (feeder alias penghisap zat makanan) berakar serabut yang cukup tebal, dangkal letaknya dibawah permukaan tanah. Oleh karena itu mudah diserang erosi air dan mudah menderita kekeringan.

Batang pokok tanaman bisa mencapai ketinggian 18-20 meter lebih. Tumbuhnya tegak, bentukny bulat agak berbonggol-bonggol. Cabang primernya membentuk krans ( karangan ) melingkari batang pokok abu-abu kelam atau hijau tua. Mahkota pohon berbentuk pyramid yang indah dan sempurna bila tumbu sendiri.

Daun tanaman pala memiliki ukuran yang berbeda antara jantan dan betina.  “ ukuran daun pala jantan lebih kecil daripada daun pala betina. Bentuknya seperti telur elip, dengan pangkal dan pucuknya meruncing. Warna bagian bawah hijau kebiru-biruan muda, sedangkan bagian atasnya hijau tua”.

Tanaman merupakan tanaman berumah dua (dioecus) yaitu dalam satu tanaman berbunga betina saja atau bunga jantan saja. Namun, tanaman pala biasanya berumah satu yaitu dalam satu pohon terdapat bunga betina dan jantan. Kemungkinan-kemungkinan tampilnya tiga jenis tanaman tersebut berbanding 55% tanaman berbunga betina, 40% tanaman berbunga jantan, dan 5% tanaman berumah satu.

Bunga pala berbentuk malai (tandan) karena termasuk bunga majemuk. Malai bunga jantan terdiri dari 1-10 bunga, sementara malai bunga betinahanya 1-3 bunga. Bunga jantan tumbuh lebih tegak pada ranting buah, tetapi ukurannya lebih kecil dari bunga betina. Bunga betina tumbuh pada ketiak daun dengan kekhasannya yang berbau harum, berwarnakuning muda, dan halus. Persarian bunga pala terjadi jika ada bantuan dari semut dan angin.

Jenis kelamin bunga dapat diketahui dari arah tumbuhnya cabang-cabang primer. Pohon penghasil bunga betina cabang primernya mendatar (vertical) tumbuhnya, sedang yang menghasilkan bunga jantan membentuk siku sampai lancip dengan batang pokoknya. Cirri-ciri pohon betina dan jantan tersebut akan lebih dipertegas lagi, bila sudah mulai berbunga, atau umur +5 tahun.

Ciri utama marga myristica adalah tumbuhan pohon, percabangan monopodial, daun tunggal berseling dengan permukaan bawah daun agak kasar, pangkal daun meruncing, dan ujung daun runcing. Bunga terdapat pada ketiak daun, terdiri dari 2-4 bunga, berumah satu, dua atau lebih. Bunga jantan, perhiasan bunga berbentuk tabung dengan bagian luar berbulu halus kecoklatan, terdiri dari tiga ruang (kadang 2-4), keseluruhan bunga jantan berupa kolum dengan benang sari berjumlah 8-30.

Bunga betina lebih besar dari bunga jantan, ovarium gundul atau berbulu halus, dan putik berupa ruang. Buah bulat sampai agak lonjong dengan panjang antara 1-10 cm dan berdaging tipis samapai agak tebal. Biji dengan kulit yang keras dan diselubungi oleh salut biji (arilus) bersifat aromatik dengan kandungan senyawa utama myristicin.

Tanaman mulai berbuah pada umur 5-8 tahun setelah tanam. Sebelum fase berbuah antara pohon jantan dan betina sulit dibedakan. Pada pertanaman dewasa, cukup satu jantan untuk 10 tanaman betina. Pala berproduksi penuh setelah umur 15 tahun dan dapat berproduksi sampai umur 15 tahun dan dapat berproduksi  sampai umur 50 tahun dengan produksi dapat mencapai 2000 butir per pohon, namun umumnya 1000 butir per pohon.

Umumnya pohon pala mulai berbuah pada umur 7 tahun dan pada umur 10 tahun telah berproduksi secara menguntungkan. Produksi pada akan terus meningkat dan pada umur 25 tahun mencapai produksi tertinggi. Pohon pala terus berproduksi sampai umur 60–70 tahun.

Buah tanaman pala berbentuk bulat, berwarna hijau kekuning kuningan buah ini apabila masak terbelah dua. Garis tengah buah berkisar antara 3-9 cm, daging buahnya tebal dan asam rasanya. Biji berbentuk lonjong sampai 5 Universitas Sumatera Utara 18 bulat, panjangnya berkisar antara 1,5-4,5 cm dengan lebar 1-2,5 cm. Kulit biji berwarna coklat dan mengkilat pada bagian luarnya. Kernel biji berwarna keputi hputihan, sedangkan fulinya berwarna merah gelap dan kadang-kadang putih kekuning-kuningan dan membungkus biji menyerupai jala.

Minyak pala dengan kualitas baik dapat dilihat dari kualitas biji pala yang baik pula, terutama umur buah pala harus sungguh-sungguh tua. Kadar minyak atsiri yang terbesar adalah pada buah yang berumur 3-4 bulan di pohon. Jika mengalami kesulitan dalam memilih buah pala yang umurnya seragam yakni 3-4 bulan, maka buah-buah pala dari berbagai umur petik dapat dicampur dan diusahakan agar perbandingan umur petik 3-4 bulan, 4-5 bulan, 5-6 bulan adalah 2 : 1 : 1.

Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, kandungan yang terdapat pada buah pala yaitu kadar air (83%), protein (0,28%), lemak (0,28%), pectin (6,87%), dan minyak pala (7-15%). Bila minyak pala tersebut diproses kimia lebih lanjut akan dihasilkan lemak/mentega (8,05%), 16 komponen terpenoid (73,91%), dan 8 komponen aromatik (18,04%). Komponen utama dari senyawa aromatik ini disebut miristin.

3. Ekologi

Tanaman pala merupakan penghuni daerah tropis, untuk dapat berkembang biak, tumbuh, dan menghasilkan buah yang banyak tidak luput dari pengaruh lingkungan mikro maupun makro.

Tanaman pala bisa berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Untuk itu membutuhkan lingkungan yang tentunya sangat berbeda dengan tanaman yang berumur pendek.

Lingkungan hidup tanaman pala harus disesuaikan dengan factor-faktor yang mempengaruhi ekosistemnya diantaranya adalah sebagai berikut:

4. Iklim

Kepulauan banda merupakan pusat tanaman pala jenis M. fragans  yang menyebar hingga Sulawesi utara, pantai barat sumatera, Bengkulu dan jawa barat. Daerah tersebut termasuk wilayah basah karena curah hujan yang turun lebih dari 100 ppm. Curah hujan yang baik bagi pertumbuhan tanaman pala lebih kurang 2175-3550 mm/tahun. Namun setelah diteliti ternyata tanaman pala bisa beradaptasi di daerah panas dan lembab dengan suhu udara sekitar 25-30º C.

5. Angin

Tanaman pala agak peka terhadap angin yang kencang, karena dapat mengganggu penyerbukan tanaman dan mengakibatkan buah dan pucuk tanaman berguguran sebelum wakrunya.

6. Tanah

Tanaman pala yang berumur panjang memiliki kedalam akar hampir sama dengan ketinggian pohonnya yaitu 18 m. sehinnga tanaman pala membutuhkan tanah yang cerul (porous), dalam arti tanahnya gembur, mudah meyimpan air, remah strukturnya, solum dalam atau lapisan tanahnya tebal, draenase dan aerasinya baik, serta tidak pecah-pecah pada musim kemarau. Tanah yang porous dapat meresap air hujan kedalam tanah sehingga tidak mengganggu pertumbuhan akarnya. Karena itu, pH tanah harus disesuaikan dengan tanaman pala, yaitu berkisar 5,5-6,5.

7. Ketinggian tempat diatas permukaan laut

Tanaman pala dapat tumbuh dengan optimal pada ketinggian 500-700 meter di bawah permukaan laut.

8. Air tanah

Air tanah yang letaknya dalam tidak masalah bagi tanaman pala karena akarnya bisa menembus jauh kedalam tanah. Namun, air tanah yang dangkal berakibat fatal terhadap tanaman karena bisa mengakibatkan busuk akar yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Mekanisme pernafasan manusia

4 Jenis Mekanisme Pernapasan Pada Manusia

4 Jenis Mekanisme Pernapasan Pada manusia. Sistem pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah.

Sistem Pernapasan atau Respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen (O2), pengeluaran karbondioksida (CO2) hingga penggunaan energi di dalam tubuh.

Sistem respirasi itu sendiri mencakup semua proses pertukaran gas yang terjadi antara atmosfir melalui rongga  hidung → faring  → laring  → trakea → bronkus  → paru-paru  → alveolus → sel-sel melalui dinding kapiler darah. Organ-organ sistem pernapasan meliputi hidung, faring, laring, trakea,paru-paru atau pulmo yang terdiri dari bronkus, brokiolus dan alveolus.

#1. Mekanisme pengaturan pernafasan sistem saraf pusat

Pengendalian pernafasan oleh sistem persarafan Pengaturan pernafasan oleh persarafan dilakukan oleh korteks serebri, medula oblongata, dan pons.

Korteks serebri

Korteks serebri berperan dalam pengaturan pernafasan yang bersifat volenter, sehingga memungkinkan kita dapat mengatur nafas dan menahan nafas, misalnya pada saat bicara atau makan.

Medulla oblongata

Medulla oblongata terletak pada batang otak, berperan dalam pernafasan otomatis atau spontan. Pada medulla oblongata terdapat dua kelompok neuron, yaitu : Dorsal Respiratoriy Group (DRG) yang terletak pada bagian dorsal medulla dan Ventral Respiratory Group (VRG) yang terletak pada ventro lateral medulla. Kedua kelompok neuron ini berperan dalam pengaturan irama pernafasan.

Pons

Pada pons terdapat dua pusat pernafasan, yaitu pusat apneutik dan pusat pneumotaksis.Pusat apneutik terletak di formasio retikularis pons bagian bawah. Fungsi pusat apneutik adalah mengkoordinasi transisi antara inspirasi dan ekspirasi dengan cara mengirimkan rangsangan impuls pada area inspirasi dan menghambat ekspirasi. Sedangkan pusat pneumotaksis terletak di pons bagian atas.Impul dari pusat pneumotaksis menghambat aktivitas neuron inspirasi, sehingga inspirasi dihentikan dan terjadi ekspirasi. Fungsi dari pusat pnemotaksis adalah membatasi durasi inspirasi, tetapi meningkatkan frekuensi respirasi sehingga irama respirasi menjadi lebih halus dan teratur, proses inspirasi dan ekspirasi berjalan secara teratur pula.

Baca juga : Penyakit Pneumonia

Terdapat beberapa mekanisme yang berperan membawa udara ke dalam paru sehingga pertukaran gas dapat berlangsung. Fungsi mekanisme pergerakan udara masuk dan keluar dari paru disebut ventilasi. Mekanisme ini dilaksanakan oleh sejumlah komponen yang saling berinteraksi. Pompa pernafasan merupakan pompa yang bergerak maju mundur dan mempunyai dua komponen penting yaitu  volume elastis paru itu sendiri dan dinding yang mengelilingi paru.

Mekanisme pernafasan manusia

Dinding tersebut terdiri dari rangka, jaringan rangka thoraks, diafragma, isi abdomen serta dinding abdomen. Otot-otot pernafasan yang merupakan bagian dinding thoraks adalah sumber kekuatan untuk menghembuskan pompa. Diafragma dibantu oleh otot-otot yang dapat mengangkat tulang iga dan sternum merupakan otot utama yang ikut berperan dalam peningkatan volume paru dan rangka thoraks selama inspirasi.

Otot-otot pernafasan diatur oleh pusat pernafasan yang terdiri dari neuron dan reseptor pada pons dan medulla oblongata. Pusat pernafasan merupakan bagian sistem saraf yang mengatur semua aspek pernafasan. Faktor utama pada pengaturan pernafasan adalah respon dari pusat kemoreseptor dalam pusat pernafasan terhadap tekanan parsial (tegangan) karbondioksida (PaCO2) dan pH darah arteri. Peningkatan PaCO2 atau penurunan pH merangsang pernafasan.

Penurunan tekanan parsial O2 dalam darah arteri PaO2 dapat juga merangsang ventilasi. Kemoreseptor perifer yang terdapat dalam badan karotis pada bifurkasio arteria karotis komunis dan dalam badan aorta pada arkus aorta peka terhadap penurunan PaO2 dan pH serta peningkatan PaCO2. Akan tetapi PaO2 harus turun  dari nilai normal kira-kira sebesar 90 sampai 100 mmHg hingga mencapai sekitar 60 mmHg sebelum ventilasi mendapat rangsangan yang cukup berarti.

Pada saat inspirasi mencapai batas tertentu terjadi stimulasi pada reseptor regangan dalam otot polos paru untuk menghambat  aktivitas neuron inspirasi. Dengan demikian reflek ini mencegah terjadinya over inflasi paru-paru saat aktivitas berat. Mekanisme ini disebut dengan Hering Breuer Refleks.

Refleks ini dibagi menjadi:

Refleks Inflasi

Untuk menghambat over ekspansi paru-paru saat pernafasan kuat. Reseptor reflek ini terletak pada jaringan otot polos di sekeliling bronkiolus dan distimulasi oleh ekspansi paru-paru.

Refleks Deflasi

Untuk menghambat pusat ekspirasi dan menstimulasi pusat inspirasi  saat paru-paru mengalami deflasi. Reseptor reflek ini terletak di  dinding alveolar. Berfungsi secara normal hanya ketika ekshalasi maksimal, saat pusat inspirasi dan ekspirasi aktif.

#2. Mekanisme pernafasan secara baroreseptor dan kemoreseptor

Kendali Kimia

Banyak faktor yang mempengaruhi laju dan kedalaman pernapasan yang sudah diset oleh pusat pernapasan, yaitu adanya perubahan kadar oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen dalam darah arteri. Perubahan tersebut menimbulkan perubahan kimia dan menimbulkan respon dari sensor yang disebut kemoreseptor. Ada 2 jenis kemoreseptor, yaitu kemoreseptor pusat yang berada di medulla dan kemoreseptor perifer yang berada di badan aorta dan karotid pada sistem arteri.

  • Kemoreseptor pusat, dirangsang oleh peningkatan kadar karbon dioksida dalam darah arteri, cairan serebrospinal peningkatan ion hidrogen dengan merespon peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan.
  • Kemoreseptor perifer, reseptor kimia ini peka terhadap perubahan konsentrasi oksigen, karbon dioksida dan ion hidrogen. Misalnya adanya penurunan oksigen, peningkatan karbon dioksida dan peningkatan ion hidrogen maka pernapasan menjadi meningkat.

Pengaturan Oleh Mekanisme Non Kimiawi

Beberapa faktor non kimiawi yang mempengaruhi pengatuan pernapasan di antaranya :  pengaruh baroreseptor, peningkatan suhu tubuh, hormon epineprin, refleks hering-breuer.

  • Baroreseptor, berada pada sinus kortikus, arkus aorta atrium, ventrikel dan pembuluh darah besar. Baroreseptor berespon terhadap perubahan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah arteri akan menghambat respirasi, menurunnya tekanan darah arteri dibawah tekanan arteri rata-rata akan menstimulasi pernapasan.
  • Peningkatan suhu tubuh, misalnya karena demam atau olahraga maka secara otomatis tubuh akan mengeluarkan kelebihan panas tubuh dengan cara meningkatkan ventilasi.
  • Hormon epinephrin, peningkatan hormon epinephrin akan meningkatkan rangsangan simpatis yang juga akan merangsang pusat respirasi untuk meningkatkan ventilasi.
  • Refleks hering-breuer, yaitu refleks hambatan inspirasi dan ekspirasi. Pada saat inspirasi mencapai batas tertentu terjadi stimulasi pada reseptor regangan dalam otot polos paru untuk menghambat aktifitas neuron inspirasi. Dengan demikian refleks ini mencegah terjadinya overinflasi paru-paru saat aktifitas berat.

#3. Mekanisme kompensasi pernafasan hiperventilasi dan hipoventilasi

Hiperventilasi

Tujuan ventilasi adalah menghasilkan tegangan karbon dioksida di arteri yang normal (PaCO2) dan mempertahankan tegangan oksigen di arteri yang normal (PaO2). Hiperventilasi merupakan suatu kondisi ventilasi yang berlebih, yang dibutuhkan untuk mengeliminasi karbon dioksida normal di vena, yang diproduksi melalui metabolisme seluler. Hiperventilasi dapat disebabkan oleh ansietas, infeksi, obat-obatan, ketidakseimbangan asam-basa, dan hipoksia yang dikaitkan dengan embolus paru atau syok.

Ansietas akut dapat mengarah kepada hiperventilasi dan menyebabkan kehilangan kesadaran akibat ekshalasi karbon dioksida yang berlebihan. Demam menyebabkan hiperventilasi. Untuk setiap peningkatan satu derajat Fahrenheit, terdapat peningkatan kecepatan metabolism sebesar 7%, sehingga menyebabkan peningkatan produksi karbon dioksida. Respons klinis yang dihasilkan ialah peningkatan frekuensi dan kedalaman pernapasan. Hiperventilasi juga disebabkan kimiawi. Keracunan salisilat (aspirin) menyebabkan kelebihan stimulasi pada pusat pernapasan karena tubuh berusaha mengompensasi kelebihan karbon dioksida. Amfetamin juga meningkatkan ventilasi dengan meningkatkan produksi karbon dioksida.

Hiperventilasi juga dapat terjadi ketika tubuh berusaha megompensasi asidosis metabolic dengan memproduksi alkalosis respiratorik. Ventilasi meningkat untuk menurunkan jumlah karbon dioksida yang tersedia untuk membentuk asam karbonat. Hemoglobin tidak membebaska oksigen ke jaringan dengan mudah sehingga terjadi hipoksia jaringan. Apabila gejala memburuk, klien menjadi lebih terganggu, yang pada tahap lanjut akan meningkatkan frekuensi pernapasan dan menyebabkan alkalosis respiratorik.

Hipoventilasi

Hipoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat memenuhi kebutuhan oksigen tubuh atau mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat. Apabila ventilasi alveolar menurun, maka PaCO2 akan meningkat. Atelektasis akan menghasilkan hipoventilasi. Atelektasis merupakan kolaps alveoli yang mencegah pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam pernapasan. Karena alveoli kolaps, maka paru yang diventilasi lebih sedikit dan menyebabkan hipoventilasi.

Pada klien yang menderita penyakit obstruksi paru, pemberian oksigen yang berlebihan dapat mengakibatkan hipoventilasi. Klien ini beradaptasi terhadap kadar karbon dioksida yang tinggi dan kemoreseptor yang peka pada karbondioksida pada hakikatnya tidak berfungsi. Klien ini terstimulus untuk bernapas jika PaO2 menurun. Apabila jumlah oksigen yang diberikan berlebihan, maka kebutuhan oksigen dipenuhi dan stimulus untuk bernapas negatif.

Konsentrasi oksigen yang tinggi (misalnya lebih besar dari 24% sampai 28%[1 sampai 3 liter]) mencegah penurunan PaO2dan menghilangkan stimulus untuk bernapas, sehingga terjadi hipoventilasi. Retensi CO2 yang berlebihan menyebabkan henti napas. Apabila tidak ditangani, maka kondisi klien akan menurun dengan cepat. Akibatnya, dapat terjadi kebingungan, tidak sabar dan kematian. Terapi untuk menangani hipoventilasi dimulai dengan mengobati penyebab yang mendasari gangguan tersebut, kemudian tingkatkan oksigenasi jaringan, perbaiki fungsi ventilasi, dan upayakan keseimbangan asam-basa.

#4. Mekanisme klinis pasien yang mengalami hipoventilasi dan hiperventilasi

Hiperventilasi

Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O2 dalam paruparu agar pernafasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena kecemasan, infeksi, keracunan obat-obatan, keseimbangan asam basa seperti osidosis metabolik Tanda-tanda hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada, pusing, sakit kepala ringan, disorientasi, paretesia, baal (pada ekstremitas, sirkumoral), tinitus, penglihatan yang kabur, tetani (spasme karpopedal)

Hipoventilasi

Terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada keadaaan atelektasis (Kolaps Paru). Tanda-tanda dan gejalanya pada keadaan hipoventilasi adalah pusing, nyeri kepala (dapat dirasakan di daerah oksipital hanya saat terjaga), letargi, disorientasi, penurunan kemampuan mengikuti instruksi, disritmia jantung, ketidakseimbangan elektrolit, konvulsi, koma, henti jantung.

#5. Masalah keperawatan terkait hipoventilasi dan hiperventilasi (berdasarkan NANDA 2015-2017)

Masalah-masalah tersebut tergantung dari keadaan dan kondisi masing-masing terkait pasien. Diantaranya adalah sebagai berikut

  • Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi dan hipoventilasi sindrom.
  • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan abnormalitas ventilasi-perfusi sekunder terhadap hipoventilasi.
  • Perfusi jaringan kardiopulmonal tidak efektif b/d gangguan afinitas   Hb oksigen, penurunan konsentrasi Hb, Hipervolemia, Hipoventilasi, gangguan transport O2, gangguan aliran arteri dan vena.
  • Perfusi jaringan cerebral tidak efektif b/d gangguan afinitas Hb oksigen, penurunan konsentrasi Hb, Hipervolemia, Hipoventilasi,      gangguan transport O2, gangguan aliran arteri dan vena
  • Perfusi jaringan gastrointestinal tidak efektif b/d gangguan afinitas Hb oksigen, penurunan konsentrasi Hb, Hipervolemia, Hipoventilasi, gangguan transport O2, gangguan aliran arteri dan vena.
4 Proses Pernafasan Pada Manusia

4 Proses Pernapasan Pada Manusia

4 Proses Pernapasan Pada Manusia. Semua sel mengambil oksigen yang akan digunakan dalam bereaksi dengan senyawa-senyawa sederhana dalam mitokondria sel untuk menghasilkan senyawa-senyawa yang kaya energi, air, dan karbondioksida. senyawa yang kaya energi tersebut digunakan dalam aktivitas yang menggunakan energi. Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara sel-sel tubuh serta lingkungan disebut pernapasan.

Bernafas merupakan salah satu dari ciri-ciri mahluk hidup yang sangat penting. Tanpa melakukan proses bernafas, mahluk hidup tidak akan hidup. Saat bernafas, oksigen didapatkan melalui proses bernafas yakni menghirup nafas. Selain membutuhkan oksigen, sel juga mengeluarkan gas karbondioksida hasil dari metabolisme. Gas karbondioksida sangat berbahaya bagi tubuh maka harus dikeluarkan dengan cara proses pernafasan.

Oksigen dibawa ke jaringan-jaringan, dan karbondioksida dibawa dari jaringan-jaringan ke dalam darah (melalui sistem sirkulasi darah). Fungsi sistem pernapasan adalah untuk memungkinkan ambilan oksigen dari udara kedalam darah, dan memungkinkan karbondioksida terlepas dari darah ke udara bebas. Perpindahan gas dari satu tempat ke tempat lain bergantung sepenuhnya pada perbedaan tekanan gas yang ada antara satu tempat dengan tempat yang lain. Suatu gas selalu berdifusi dari tempat bertekanan tinggi menuju tempat yang tekanannya lebih rendah.

4 Proses Pernafasan Pada Manusia

Atmosfer mengandung oksigen pada tekanan 150 mmHg dan hampir tidak ada karbondioksidanya. Sedangkan jaringan mengandung oksigen pada tekanan 40 mmHg dan karbondioksida dengan tekanan 46 mmHg. Tekanan ini berbeda karena pertukaran gas.Kecepatan dimana gas-gas ini bertukaran tergantung pada luasnya pemajanan darah terhadap udara di dalam paru-paru.

#1. Proses Ventilasi

Ventilasi paru adalah proses masuk dan keluarnya udara melalui sistem respirasi. Secara harafiah, respirasi atau pernafasan merupakan pergerakan oksigen dari atmosfer menuju sel-sel dan keluarnya karbon dioksida dari sel-sel ke udara bebas. Orang dewasa normal bernafas sekitar 16 kali per menit. Pertukaran udara ini di bantu dengan pergerakan otot yang berguna untuk melakukan proses inspirasi dan ekspirasi.

Ventilasi atau bernafas adalah proses pemasukan ke dan pengeluaran udara dari paru secara bergantian sehingga udara alveolus lama yang telah ikut serta dalam pertukaran O2 dan CO2 dengan darah kapiler paru dapt ditukar dengan udara atmosfer segar. Ventilasi adalah proses masuk dan keluarnya udara dari dalam paru.

#2. Proses Difusi

Setelah alveoli ditukar dengan udara segar, tahapan yang selanjutnya terjadi dalam proses respirasi adalah difusi oksigen dari alveoli ke pembuluh darah paru dan difusi karbondioksida kearah sebaliknya. Dinding alveolus sangat tipis dan di Universitas Sumatera Utara 14 dalamnya terdapat jaringan kapiler yang padat dan saling berhubungan, sehingga jelas bahwa gas alveolus berada sangat dekat dengan darah kapiler. Pertukaran gas antara udara alveolus dan pembuluh darah paru terjadi melalui membran di seluruh bagian terminal paru, yaitu membran alveolus berkapiler tipis. Yang mendorong untuk terjadinya pertukaran ini adalah selisih tekanan parsial antara daerah dan fase gas. Difusi adalah peristiwa pertukaran gas antara alveolus dan pembuluh darah

#3. Proses Perfusi

Proses perfusi adalah penyebaran darah yang sudah teroksigenasi ke seluruh paru dan jaringan tubuh. Bila oksigen telah berdifusi dari alveoli ke dalam darah paru, oksigen terutama ditranspor dalam bentuk gabungan dengan hemoglobin ke kapiler jaringan dimana oksigen dilepaskan untuk dipergunakan oleh sel. Adanya hemoglobin di dalam sel darah merah memungkinkan darah mengangkut 30 sampai 100 kali jumlah oksigen yang dapat ditranspor dalam bentuk oksigen terlarut di dalam cairan darah (plasma).

Dalam sel jaringan oksigen bereaksi dengan berbagai bahan makanan membentuk sejumlah besar karbondioksida. Karbondioksida ini masuk ke dalam kapiler jaringan dan ditranspor kembali ke paru. Karbondioksida, seperti oksigen, juga bergabung dengan bahan-bahan kimia dalam darah yang meningkatkan transportasi karbondioksida 15-20 kali lipat. Gangguan perfusi terjadi apabila ada emboli pada pembuluh darah. Perfusi adalah distribusi darah yang sudah teroksigenasi.

#4. Proses Transport Gas

Setelah difusi maka selanjutnya terjadi proses transportasi oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan pengangkutan karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler paru. Sekitar 97 – 98,5% Oksigen ditransportasikan dengan cara berikatan dengan Hb (HbO2/oksihaemoglobin,) sisanya larut dalam plasma. Sekitar 5 – 7% karbondioksida larut dalam plasma, 23 – 30% berikatan dengan Hb (HbCO2/karbaminahaemoglobin) dan 65 – 70% dalam bentuk HCO3 (ion bikarbonat).

Proses tranport gas

Saat istirahat, 5 ml oksigen ditransportasikan oleh 100 ml darah setiap menit. Jika curah jantung 5000 ml/menit maka jumlah oksigen yang akan diberikan ke jaringan sekitar 250 ml/menit. Saat olah raga berat dapat meningkat 15 – 20 kali lipat.

Baca juga :

Transportasi gas dipengaruhi oleh :

– Cardiac Output

– Jumlah eritrosit

– Aktivitas

– Hematokrit darah

Simbiosis mutualisme

Simbiosis Mutualisme Tanaman Kacang-Kacangan dan Bakteri Rhizobium

Simbiosis Mutualisme Tanaman Kacang-Kacangan dan Bakteri Rhizobium – Atmosfer mengandung 79% gas nitrogen bebas. Nitrogen digunakan untuk membentuk asam amino dan protein. Hanya saja tidak setiap makhluk hidup dapat mengambil nitrogen bebas, hanya beberapa organisme yang dapat mengikat/ menfiksasi  gas N2 (Nitrogen bebas) yang di atmosfer diantaranya adalah bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan akar kacang-kacangan.

Oleh karenanya banyak organisme tergantung makhluk hidup lain untuk mendapatkan nitrogen. Organisme heterotrof mengambil nitrogen dalam bentuk makanan yang mengandung protein sementara tumbuhan hijau mengambil nitrogen dalam bentuk nitrat. Protein terbentuk melalui proses fotosintesis .

Nitrogen adalah unsur yang diperlukan untuk membentuk senyawa penting di dalam sel, termasuk protein, DNA dan RNA. Tanaman harus mengekstraksi kebutuhan nitrogennya dari dalam tanah. Sumber nitrogen yang terdapat dalam tanah, makin lama makin tidak mencukupi kebutuhan tanaman. Udara yang menyelubungi bumi mengandung gas nitrogen sebanyak 80 %, sebagian besar dalam bentuk N2 yang tidak dapat dimanfaatkan. Tanaman dan kebanyakan mikroba tidak mempunyai cara untuk mengikat nitrogen menjadi senyawa dalam selnya.

Nitrogen sangatlah penting untuk berbagai proses kehidupan di bumi. Nitrogen adalah komponen utama dalam semua asam amino, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam protein. Pada tumbuhan, banyak dari nitrogen digunakan dalam molekul klorofil, yang penting untuk fotosintesis dan pertumbuhan lebih lanjut. Meskipun atmosfer bumi merupakan sumber berlimpah nitrogen, sebagian besar relatif tidak dapat digunakan oleh tanaman.

Simbiosis mutualisme

Simbiosis mutualisme

Pengolahan kimia atau fiksasi alami (melalui proses konversi seperti yang dilakukan bakteri rhizobium), diperlukan untuk mengkonversi gas nitrogen menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh organisme hidup, oleh karena itu nitrogen menjadi komponen penting dari produksi pangan. Nitrogen hadir di lingkungan dalam berbagai bentuk kimia termasuk nitrogen organik, amonium (NH4+), nitrit (NO2-), nitrat (NO3-), dan gas nitrogen (N2). Nitrogen organik dapat berupa organisme hidup, atau humus, dan dalam produk antara dekomposisi bahan organik atau humus.

Tanaman dan mikroba umumnya mendapatkan nitrogen dari senyawa seperti ammonium (NH4+) dan nitrat (NO3-). Nitrogen dalam bentuk gas, dimanfaatkan oleh para pakar bioteknologi dengan memusatkan perhatiannya pada hubungan simbiosis antara tanaman dengan jenis mikroba tertentu yang dapat menambat nitrogen dari udara dan menyusun atom nitrogen ke dalam molekul ammonium, nitrat, atau senyawa lain yang akan digunakan oleh tumbuhan.

Leguminose termasuk ke dalam classis dicotyledoneus dimana embrio mengandung dua daun biji/cotyledone. Famili legume dibagi menjadi 3 kelompok sub famili, yaitu: mimisaceae, tanaman kayu dan herba dengan bunga “regular”, caesalpinaceae, tanaman dengan bunga “irregular” dan papilonaceae, tanaman kayu dan herba mempunyai ciri khas berbentuk bunga menyerupai kupu-kupu.

Putri malu (Mimosa pudica) termasuk tumbuhan leguminosae. Tumbuhan jenis leguminose (polong-polongan) memiliki sifat yang berbeda dengan jenis rumput-rumputan, jenis legume umumnya kaya akan protein, Ca dan P. Leguminose memiliki bintil-bintil akar yang berfungsi dalam pensuplai nitrogen, dimana di dalam bintil-bintil akar inilah bakteri bersimbiosis, bertempat tinggal dan berkembang biak serta melakukan kegiatan fiksasi nitrogen bebas dari udara. Itulah sebabnya penanaman campuran merupakan sumber protein dan mineral yang berkadar tinggi dan juga  memperbaiki kesuburan tanah.

Tanaman inang mendapatkan senyawa nitrogen dari bakteri untuk melangsungkan kehidupannya sedangkan bakteri mendapatkan zat hara yang kaya energi dari tanaman inang. Sehingga terjadi simbiosis antara tanaman dan bakteri yang saling menguntungkan untuk kedua pihak. Bakteri jenis Rhizobium adalah bakteri penambat nitrogen yang terdapat didalam akar kacang-kacangan. Jenis bakteri ini masuk melalui rambut-rambut akar dan menetap dalam akar tersebut sehingga membentuk bintil pada akar yang bersifat khas pada kacang-kacangan.

Tanaman kacang-kacangan  atau leguminose akarnya mempunyai bintil-bintil berisi bakteri yang mampu menambat nitrogen udara, sehingga nitrogen tanah yang telah diserap tanaman dapat diganti. Simbiosis antara tanaman dan bakteri saling menguntungkan untuk kedua pihak. Bakteri mendapatkan zat hara yang kaya energi dari tanaman inang sedangkan tanaman inang mendapatkan senyawa nitrogen dari bakteri untuk melangsungkan kehidupannya. Bakteri penambat nitrogen yang terdapat di dalam akar kacang-kacangan adalah jenis bakteri Rhizobium.  Bakteri ini  masuk melalui rambut-rambut akar dan menetap dalam akar tersebut dan membentuk bintil pada akar yang bersifat khas pada kacang-kacangan (Ratna, 2007). Spesies pelopor yang baik pada tanah-tanah yang miskin atau baik untuk pupuk hijau.

Proses Interaksi Simbiosis Mutualisme

Proses interaksi simbiosis antara bakteri pengikat nitrogen (Rhizobium) dengan tumbuhan leguminose yaitu diawali dari masuknya bakteri Rhizobium ke dalam akar utama atau cabang akar melalui akar rambut. Proses masuknya Rhizobium sampai ke korteks pada clovers dan lucerne  adalah dimulai dari bulu akar normal melepaskan senyawa organik terjadi akumulasi Rhizobium pada daerah perakaran. Selanjutnya terjadi perubahan senyawa triptofan menjadi asam indolasetat (Indole Acetic Acid) yang mengakibatkan perubahan bentuk pada bulu akar menjadi melingkar. Untuk membentuk organizer polisakarida bereaksi dengan penyusun sel bulu akar.

Penggabungan Rhizobium ke dalam dinding sel berperan dalam intussusceptions sehingga mengakibatkan terbentuknya lubang pada dinding sel bulu akar yang merupakan tempat terjadinya infeksi. Kemudian bakteri berbentuk batang menyusup ke dalam sel bulu akar yang dikendalikan oleh inti sel bulu akar, yang akhirnya bakteri Rhizobium masuk ke dalam korteks akar dan percabangannya.

Bakteri ini menggunakan enzim nitrogenase untuk menambat nitrogen dimana enzim ini akan menambat gas nitrogen di udara dan merubahnya menjadi gas amoniak dan kemudian mengubah asetylen menjadi ethylen. Hubungan antara tanaman dan mikroorganisme terjadi di daerah rizosfer, mikroorganisme dapat hidup dari substrat yang dikeluarkan oleh tanaman melalui akar  ataupun tanaman yang mati, disamping itu juga merangsang pengeluaran unsur hara dan dari akar dapat menghasilkan senyawa-senyawa yang mempercepat pertumbuhan.

Bintil akar merupakan suatu bentuk asosiasi antara akar tanaman legume dengan bakteri Rhizobium. Rhizobium memfiksasi N dari udara sebagai pemenuhan kebutuhan unsur N bagi pertumbuhan tanaman. Menurut ketahanan hidup Rhizobium di alam sangat tergantung pada kondisi tanah, terutama pH, kelembaban, bahan organik, dan lamanya jarak antara tanaman budidaya yang menjadi inangnya.

Apa itu Simbiosis Mutualisme dan contohnya ?

Mutualisme merupakan interaksi antara dua makhluk hidup yang hidup berdampingan serta saling menguntungkan satu sama lain, dan bersifat sangat spesifik dan tidak dapat digantikan perannya oleh spesies lain yang mirip. Simbiosis antara dua jenis organisme ini terjalin karena diantara makhluk hidup tersebut memerlukan makhluk hidup lain untuk mempertahankan kehidupannya atau dalam proses perkembangbiakan.

Simbiosis mutualisme merupakan asosiasi/ hubungan antara dua spesies atau sebuah populasi makhluk hidup yang keduanya saling ketergantungan dan saling menguntungkan.

Baca juga : Interaksi Ekologi

Contohnya bakteri Rhizobium sp. yang hidup pada bintil akar tanaman putri malu.

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya – Kingdom Animalia merupakan salah satu kingdom yang memiliki anggota cukup banyak, sehingga dibutuhkan suatu cara dalam mengelompokkan hewan-hewan tersebut ke dalam suatu tingkatan berdasarkan pembeda tertentu agar dapat lebih memudahkan dalam mempelajarinya. Ilmu taksonomi hewan mengatur aturan atau tata cara dalam menyusun dan mengelompokkan hewan ke dalam tingkatan tertentu.

Ciri-ciri hewan avertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang, tidak memiliki otak yang terlindungi tengkorak, terdiri atas segmen-segmen atau metamer, dan tidak mempunyai sepasang mata dan kuping lengkap.

Terdapat delapan filum yang termasuk dalam kelompok Avertebrata, diantaranya yaitu Porifera, Coelenterata atau Cnidaria, Plathyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Moluska, dan Arthropoda, serta Echinodermata. Avertebrata merupakan kelompok hewan yang berhabitat di daerah terestrial, akuatik, dan semi akuatik. Contok spesies yang termasuk avertebrata adalah Valanga nigricornis, Anadara sp., dan Taenia saginata.

Vermes

Anggota dari filum Platyhelminthes meliputi 10.000 – 15.000 spesies dan berdasarkan sifat- sifat khusus hewan dewasanya filum Platyhelminthes dibagi menjadi 3 kelas yaitu: Tubellaria, Trematoda dan Cestoda. Turbellaria tergolong predator dan pemakan bangkai atau kotoran dengan lubang mulut di partengahan tubuh bagian ventral.

Bergerak dengan bulu getar yang menutupi tubuhnya. Bersifat hermaprodit, berkembang biak secara sexual dan asexual. Memiliki alat indra yang berupa bintik mata, dan indera aurikel yang terdapat dibagian kepala. Bintik mata berupa titik hitam, masing-masing dilengkapi dengan sel-sel pigmen yang tersusun dalam bentuk mangkok yang dilengkapi dengan sel-sel syaraf sensoris yang sangat sensitive terhadap sinar.

Contoh spesies Turbellaria adalah  Dugesia sp. Kelas Trematoda saat ini dikenal kurang lebih 8.000 jenis, mirip dengan Turbellaria tetapi tidak memiliki bulu getar, dan mulut terletak pada bagian anterior tubuh dan biasanya dilengkapi dengan alat penghisap (sucker). Organ ini terdapat dibagian ventral dan berfungsi sebagai alat untuk menempel pada hospes.

Ada tidaknya sucker di bagian oral atau ventral tubuhnya menjadi salah satu dasar pembagian kelas ini ke dalam beberapa ordo. Karakter kelas Cestoda berlapis kutikula, mirip dengan Trematoda namun Cestoda belum memiliki saluran pencernaan dan semua hidup endoparasit. Bagian anterior tubuhnya berstruktur khas yang disebut scolex. Kelas Cestoda terdiri dari dua sub kelas yaitu Cestodaria dan Eucestoda. Sub kelas cestodaria memiliki karakter tubuh tidak bersegmen, tidak ada scolex.

Contoh Amphilina yang hidup dalam coelom ikan. Filum Annelida memiliki karakter antara lain  dinding tubuh, rongga tubuh dan saluran makanan merupakan selom yang sebenarnya  Tubuh beruas-ruas dan  pada bagian anterior memiliki prostomium. Tubuh dilapisi oleh kutikula. Rongga tubuh terdapat sekat chitin yang disebut septum. Filum Annelida terdiri dari dua kelas yaitu Polychaeta dan Clitellata.

Contoh-contoh Vermes

Gambar 1

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Eye spot
  2. Auricle
  3. Kepala
  4. Trunk
  5. Rongga gastrovaskuler
  6. Pharynk

Nama ilmiah: Dugesia sp

Klasifikasi 

Kingdom : Animalia

filum : Platyhelminthes

Kelas : Turbellaria

Ordo : Tricladida

Famili : Paludicola

Genus : Dugesia

Spesies : Dugesia sp

Deskripsi

Dugesia sp memiliki karakter adanya eye spot untuk sensor cahaya, auricle sebagai sensor arus air, kepala, Trunk, rongga gastrovaskuler, dan Pharynk pada bagian ventral.

Gambar 2

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Setae
  2. metamer
  3. Protosmium

Nama ilmiah: Tubifex sp

Klasifikasi 

Kingdom  : Animalia

Filum        : Annelida

Kelas        : Oligochaeta

Ordo         : Haplotaxida

Famili       : Tubifisidae

Genus       : Tubifex

Spesies      : Tubifex sp

Deskripsi   

Tubifex sp merupakan anggota filum Annelida. Karakter yang dimiliki Tubifex sp antara lain adanya setae, memiliki segmen pada tubuhnya atau metamerik, dan memiliki protosmium.

Mollusca

Ciri-ciri molusca adalah Tubuh simetri bilateral, lunak dan tidak bersegmen. Kebanyakan anggotanya memiliki cangkang yang terbuat dari zat kapur dengan bentuk beragam. Cangkang dapat terdapat di luar atau di dalam tubuh. Cangkang dalam umumnya kecil, terbuat dari zat kapur atau kitin. Mollusca hidup di perairan laut, estuarin, tawar, dan di darat. Anggotanya sebagian besar hidup bebas namun ada beberapa yang parasit, komensal maupun simbiotik.

Dugesia sp memiliki karakter tubuh panjang, seperti panah, mempunyai dua bintik mata, dan mulut disekitar tubuh bagian ventral, tidak memiliki anus, tubuh tidak beruas,  memiliki saluran pencernaan dan tidak memiliki sucker.  kerang darah (Anadara sp) merupakan jenis bivalvia yang hidup pada dasar perairan dan mempunyai ciri khas yaitu ditutupi oleh dua keping cangkang (valve) yang dapat dibuka dan ditutup karena terdapat sebuah persendian berupa engsel elastis yang merupakan penghubung kedua valve tersebut.

Kerang darah mempunyai dua buah cangkang yang dapat membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkang pada bagian dorsal tebal dan bagian ventral tipis. Cangkang ini terdiri atas tiga lapisan, yaitu periostrakum adalah lapisan terluar dari kitin yang berfungsi sebagai pelindung, lapisan prismatic tersusun dari kristal-kristal kapur yang berbentuk prisma, lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan paralel.

Tubifex sp Disebut cacing merah karena sekujur tubuhnya berwarna merah, disebut cacing rambut karena bentuknya menyerupai rambut dengan panjang dua sampai tiga sentimeter, Tubifex memiliki ruas-ruas pada tubuhnya. Cacing ini memiliki saluran pencernaan. Mulutnya berupa celah kecil, terletak di daerah terminal. Saluran pencernaannya berujung pada anus yang terletak pada bagian sub-terminal.

Chiton sp termasuk dalam kelas polyplacophora. Chiton sp memiliki struktur yang sesuai dengan kebiasaan melekat pada batu karang dan cangkang mirip hewan lainnya. Apabila disentuh, akan melekat erat pada batu karang. Hewan ini merayap perlahan-lahan pada dasar laut di batu-batuan yang lunak. Sendi-sendi yang dimilikinya dapat dibengkokkan sehingga tubuhnya dapat dibulatkan seperti bola.

Bentuk tubuh elips, bagian dorsal dilindungi delapan lembar kapur yang pipih dan tersusun seperti genting, di kelilingi oleh girdle (gelang) yang tebal, diantara kaki dan mantel di permukaan ventral ada alur yang dangkal di sebut alur pallial dan pada alur itu terdapat 6-80 pasang insang yang panjang, tidak punya mata dan tentakel. Dalam mulut punya alat untuk memarut disebut radula dengan deretan gigi yang banyak. Jantung terletak disporior, terdiri dua atrium dan satu ventrikel,  ekskresi nephridia. Beberapa chiton punya titik yang kecil mata di dalam epidermis pada lembaran. Jenis kelamin terpisah, telurnya banyak, fertilisasi eksternal.

Bagian dorsal tubuhnya dilindungi oleh delapan keping cangkang yang tersusun tumpang tindih seperti genting. Cangkang Chiton sp hanya terdiri dari dua lapisan yaitu. Lapisan terluar disebut tegmentum. Tersusun atas konsiolin dan CaCO. Lapisan terdalam yang disebut antikulamentum yang bersifat kalkareus.

Sotong atau Sepia officinalis merupakan moluska yang termasuk kelas cephalopoda (kaki hewan terletak di kepala) yang terdiri dari cangkang internal yang terletak didalam mantel, berwarna putih, berbentuk oval dan tebal, serta terbuat dari kapur. Tubuh relatif pendek menyerupai kantung. Mantelnya berwarna merah jambu kehitaman dan di selubungi selaput tipis dan pada kedua sisinya terdapat sirip lateral yang memanjang dari ujung dorsal sampai ventral.

Contoh Mollusca

Gambar 3

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Mulut
  2. Anus
  3. Mantel
  4. Headfoot
  5. Insang
  6. Anterior valve
  7. Posterior Valve

Nama Ilmiah: Chiton sp

Klasifikasi 

Kingdom  : Animalia

Filum        : Mollusca

Kelas        : Amphineura

Ordo         : Polyplacophora

Famili       : Chitondae

Genus       : Chiton

Spesies      : Chiton sp

Deskripsi

Chiton sp merupakan hewan yang termasuk anggota dari filum moluska. Bagian-bagian dari Chiton sp adalah mulut, anus, mantel, insang, headfoot, anterior valve, dan posterior valve.

Gambar 4

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Umbo
  2. Ventral
  3. Dorsal
  4. Anterior
  5. Posterior
  6. Bekas Otot Abductor
  7. Garis palial
  8. Celah palial

Nama Ilmiah: Anadara sp

Klasifikasi 

Kingdom : Animalia

Filum    : Mollusca

Kelas        : Bivalvia

Ordo         : Veneroida

Famili       : Cardiidae

Genus       : Anadara

Spesies      : Anadara sp

Deskripsi

Anadara sp merupakan anggota kelas bivalvia. Bagian-bagian dari Anadara sp adalah Umbo, ventral, dorsal, anterior, posterior, bekas otot abductor, garis palial, dan celah palial.

Gambar 5

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Tentakel
  2. Lengan
  3. Mata
  4. Mantel
  5. Sirip
  6. Mulut

Nama Ilmiah: Sepia officinalis

Klasifikasi 

Kingdom  : Animalia

Filum        : Mollusca

Kelas        : Cephalopoda

Ordo         : Sepiida

Famili       : Sepiidae

Genus       : Sepia

Spesies      : Sepia officinalis

Deskripsi

Sepia officinalis merupakan anggota dari kelas Cephalopoda. Bagian-bagiannya adalah tentakel, lengan, mata, mantel, sirip, dan mulut.

Gambar 6

Hewan Vermes dan Mollusca Beserta Contohnya

Keterangan:

  1. Anterior
  2. Posterior
  3. Sutura
  4. Whorl
  5. Body
  6. Protoconh
  7. Operculum

Nama Ilmiah: Turritella cingulifera

Klasifikasi

Kingdom : Animalia

Filum    : Mollusca

Kelas        : Gastropoda

Ordo         : Sorbeoconcha

Famili       : Turritellidae

Genus       : Turritella

Spesies      : Turritella cingulifera

Deskripsi

Bagian-bagian dari Turritella cingulefera adalah anterior, posterior, sutura, whorl, body, protoconh, dan operculum.

Kunci Identifikasi dari Hewan Vermes dan Mollusca dan hewan di atas;

1) Selom

  1. Aselomata…………………………………………………..(Dugesia sp)
  2. Selomata…………………………………………………….(2)

2) Metamer

  1. Metameristik………………………………………………..(Tubifex sp)
  2. Nonmetameristik………………………………………….(3)

3) Lempeng

  1. Pipih……………………………………………………………(Chiton sp)
  2. Tidak pipih……………………………………………………(4)

4) Kepala

  1. Tidak tereduksi………………………………………………(Gastropoda)
  2. Tereduksi…………………………………………………….(5)

5) Cangkang

  1. Cangkang dalam……………………………………………..(Sepia officinalis)
  2. Cangkang luar…………………………………………………(Anadara sp)

Morfologi merupakan poin penting dalam identifikasi invertebrata. Kunci identifikasi disebut juga kunci determinasi. Penggunaan kunci determinasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Kunci identifikasi yang sampai saat ini masih digunakan adalah kunci dikotomi. Kunci dikotomi adalah  langkah dalam memngidentifikasi dengan menggunakan ciri makhluk hidup yang berlawan atau berisi dua alternatif. Bila salah satu alternatif gugur maka dapat menggunakan alternatif jawaban lainnya.

Penjelasan lengkapnya;

Dugesia sp

Dugesia sp memiliki karakteristik aselomata, kontruksi organ, berbentuk pipih, triploblastik, dan simetri bilateral. Dugesia sp termasuk dalam filum platyhelminthes. Bagian-bagian tubuh yang terdapat pada Dugesia sp adalah Eyes spot, Auricle, kepala, Trunk, rongga gastrovaskuler, dan Pharynk. Eyes spot atau bintik mata berfungsi untuk sensor cahaya. Auricle  berfungsi sebagai sensor arus. Pharynk terletak dibagian ventral. Ketika Dugesia sp akan memakan organisme, Pharynk ini akan mengeluarkan juluran-juluran berbentuk silinder dan berongga untuk meyerap makanan.

Tubifex sp

Tubifex sp atau cacing sutra termasuk dalam kelas Oligochaeta karena memiliki sedikit seta pada tubuhnya. Tubifex sp dibedakan dari Dugesia sp karena Tubifex sp memiliki segmen, bentuknya gilig, dan memiliki selom sesungguhnya. Bagian-bagian dari Tubifex sp adalah setae, metamer, dan protosmium.

Chiton sp.

Chiton sp. merupakan salah satu spesies yang termasuk dalam kelas gastropoda. Ciri khas kelas Gastropoda adalah adanya head foot dan massa visceral. Chiton sp merupakan Gastropoda perairan, oleh karena memiliki insang. Chiton sp memiliki karakter lain seperti mulut, anus, mantel, anterior valve, dan posterior valve, dan lempeng yang berbentuk pipih sebanyak delapan buah. Spesies yang termasuk kelas moluska selanjutnya adalah Anadara sp. Anadara sp memiliki kepala yang tereduksi dan cangkang luar yang berjumlah dua buah dan tidak pipih. Bagian-bagian dari Anadara sp dianataranya, umbo, ventral, dorsal, anterior, posterior, bekas otot abductor, garis palial, dan celah palial.

Sepia officinalis

Sepia officinalis termasuk dalam kelas cephalopoda. Kelas cephalopoda adalah kelompok hewan yang memiliki karakter cangkang yang tereduksi, beberapa tanpa cangkang luar; alat gerak termodifikasi menjadi tentakel dan siphon; massa visceral pada bagian kepala; habitat marine. Bagian-bagian dari Sepia officinalis diantaranya tentakel, lengan, mata, mantel, sirip, dan mulut.

Turritella cingulifera

Cangkang tersebut milik Gastropoda dan spesiesnya adalah Turritella cingulifera. Klasifikasi Turritella cingulifera adalah sebagai berikut:

Kingdom  : Animalia

Filum : Mollusca

Kelas  : Gastropoda

Ordo  : Sorbeoconcha

Famili : Turritellidae

Genus: Turritella

Spesies : Turritella cingulifera

Baca juga :

Demikian artikel tentang Hewan Vermes dan Mollusca, semoga bermanfaat.

Bacaan lebih lanjut :

Brotowidjoyo, D.M. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga: Jakarta.

Fernando, G.K.A.W., Amarasinghe, U.S. 2011. Morphological Differentiation of Two Cichlid Species in Sri Lanka Using Truss Networks. Sri Lanka Journal Aquat. Vol. 16 : 1-10.

Hickman, C. F. 1972. Biology of Animal. The C. V. Mosby Company, Saint Louis.

N. Kongtjandre, T. Ridgway. L. G. Cook, T. Huelsken, A.F. Budd, O. Hoegh-Guldberg. 2012. Taxonomy And Species Boundaries In The Coral Genus Favia Milne Edwards And Haime, 1857 (Cnidaria: Sclerectinia) From Thailand Revealed By Morphological And Genetic Data. Coral Reefs. 31: 581-601.

Mayr, Ernest. 1982. Principles Of Systematic Zoologi. New Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Company.

Radiopoetro, 1988. Zoology. Jakarta: Erlangga.

Skelton, Peter W. 2013. Rudist kelasification for the revised Bivalvia volumes of the    Treatise on Invertebrate Paleontology’. Geological Society of Jamaica. The     Open University.

Tyo R Karmana. 2008. Determinasi dan Kunci Determinasi. Jakarta: Erlangga.

Vignon, Mathias. 2010. Inference in morphological taxonomy using collinear data and small sample size: Monogenean sclerites (Plathyhelminthes) as case study. The Norwegian Academy Of Science and letters. 1(1): 306-316.

Widiyadi, E. 2009. Penerapan Tree dalam Klasifikasi dan Determinasi Makhluk Hidup. Jakarta: Erlangga.