Arsip Kategori: Biologi

Belajar Istilah Anatomi Biologi ( sel, jaringan dan Kerangka )

Belajar Istilah Anatomi Biologi ( sel, jaringan dan Kerangka )

Cabang-cabang Anatomi

Anatomi dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu :

1. anatomi makroskopik

2. anatomi mikroskopik

Anatomi makroskopik mempelajari struktur dan bentuk bagian-bagian yang dapat terlihat mata biasa. Yang termasuk dalam lingkup ini adalah :

1. anatomi deskriptif/sistematika : uraian disajikan secara sistem persistem. Anatomi deskriptif memuat :

a. Osteologia (sistem skletale) yang membahas bentuk, susunan dan fungsi tulang dan tulang rawan

b. Arthrologia (sistem articulare) yang membahas bentuk, susunan dan peranan hubungan antar tulang termasuk persendian

c. Myologia (sistem musculare) yang membahas bentuk, susunan dan peranan otot-otot

d. Angiologia (sistem vasculare) membahas sitem sirkulasi dan limfe

e. Neurologia (sistem nervosum) membahas sistem saraf pusat dan saraf tepi

f. Apparatus digestoria (sistem digestive) membahas sistem pencernaan makanan

g. Apparatus respiratorius (sistem respirasi) membahas saluran-saluran udara pernafasan dari hidung sampai paru . Apparatus urogenitalis (sistem urogenitale) membahas sistem perkemihan dan reproduksi

i. Glandula endokrin membahas kelenjar-kelenjar hormon

j. Integumentum commune membahas sistem pelindung permukaan tubuh yaitu kulit dan alat-alat yang terdapat padanya sepertirambut dan kuku.

2. Anatomi topographica/regional : mempelajari kedudukan suatu alat tertentu terhadap alat lainnya, terdiri dari :

a. Sintopia : mempelajari suatu letak alat tubuh terhadap alat tubuh lainnya

b. Skletopia : mempelajari suatu letak alat tubuh terhadap tulang atau kerangka

c. Holotopia : mempelajari letak sebenarnya suatu alat tubuh

3. Anatomi terapan : anatomi yang uraiannya lebih dikhususkan pada kepentingan diagnosa dan terapi

4. Anatomi permukaan : anatomi yang mediskripsikan tanda-tanda pada permukaan tubuh sebagai penentu kedudukan alat-alat dalam.

Anatomi mikroskopik adalah anatomi yang mempelajari struktur dan bentuk bagian-bagian tubuh dengan menggunakan bantuan alat optik (misal mikroskop). Yang dipelajari adalah sel (cytologi), jaringan (histologi) dan organ (organologi).


Terminologi Anatomi

Posisi anatomis adalah posisi tubuh tertentu, yaitu :

– posisi badan berdiri tegak

– kepala, mata dan jari kaki menghadap ke depan

– anggota badan atas berada di samping dan merapat sehingga telapak tangan menghadap ke depan

– arah ibu jari menjauhi bidang median

kata-kata istilah yang menunjukkan bidang anatomis :

– bidang median : bidang vertikal yang berjalan longitudinal melalui tubuh dan membagi tubuh menjadi dua bagian kiri dan kanan secara simetris

– bidang sagittal : bidang vertikal yang sejajar bidang median

– bidang frontal : bidang vertikal yang tegak lurus bidang median dan membagi tubuh menjadi bagian depan dan belakang

– bidang coronal : bidang frontal yang khusus digunakan pada kepala

– bidang horizontal : bidang yang tegak lurus terhadap bidang median dan frontal dan membagi tubuh atas dan bawah.

Garis anatomis adalah suatu garis khayal yang terletak pada tubuh pada posisi tertentu, antara lain :

– linea mediana anterior : merupakan garis potong anatara bidang median dengan permukaan tubuh

– linea mediana posterior : garis potong antara bidang median dengan permukaan belakang tubuh

– linea sternalis : garis khayal pada tepi lateral sternum

– linea medioclavicularis : sejajar linea mediana dan melalui pertengahan clavicula

– linea mammilaris : sejajar garis media dan melalui papilla mammae

Istilah yang menunjukkan arah dan posisi :

– medial : lebih dekat ke bidang median

– lateral : lebih jauh dari bidang median

– anterior (ventral) : ke arah muka

– posterior (dorsal) : ke arah belakang, lebih dekat dengan punggung

– superior (cranial) : ke arah atas (ke arah tengkorak)

– inferior (caudal) : ke arah bawah (ke arah ekor, di bawah)

Istilah yang berlaku bagi lengan, tungkai dan tengkorak :

– proximal : ke arah pangkal, pada pangkal

– distal : ke arah ujung, menjauhi pagkal, di ujungnya

– volar atau palmar : kearah yang sama dengan telapak tangan

– plantar : ke arah yang sama dengan telapak kaki

– radial : ke arah letak radius

– ulnar : ke arah letak ulnar

– tibial : ke arah letak tibia

– fibular : ke arah letak fibula

– frontal : ke arah muka, berlaku bagi kepala

– oksipital : ke arah belakang/disebelah belakang, berlaku di kepala

SEL DAN JARINGAN TUBUH MANUSIA

Komponen – komponen sel

Sel terdiri atas dua bagian utama : sitoplasma dan nukleus

Membran plasma : semua sel eukaryotik dibungkus oleh membran pembatas yang terdiri dari fosfolipid, protein dan polisakarida. Berfungsi sebagai barrier yang mengatur secara selektif zat-zat yang kedalam dan ke luar sel.

Retikulum endoplasmikum dan ribosom, tampak sebagai vesikel pipih atau bundar atau tubuler yang sering beranastomosis satu dengan yang lain

Apparatus golgi, tampak sebagai vesikel pipih yang bertumpuk-tumpuk

Lisosom, vesikel yang dibungkus membranyang mengandung semacam enzim litik yang fungsi utamanya berhubungan dengan pencernaan intrasitoplasmik.

Mitokondria, umumnya disusun oleh suatu membran luar dan dalam mempunyai lipatan-lipatan ke bagian dalam, membentuk krista. Berperan membentuk energi.

Nukleus, merupakan bagian bulat atau oval, biasanya di bagian tengah sel. Terdiri dari bungkus, kromatin, nukleolus dan nukleoplasma.

JARINGAN

Jaringan adalah struktur yang dibentuk oleh kumpulan sel-sel yang sering mempunyai sifat morfologik dan fungsi yang sama. Meskipun sangat kompleks, tubuh manusia hanya terdiri dari 4 jaringan utama : EPITEL, PENYAMBUNG, OTOT DAN SARAF.

Jaringan penyambung ditendai dengan banyaknya bahan intrasel yang dihasilkan oleh sel-selnya.

Jaringan otot terdiri atas sel panjang yang mempunyai fungsi khusus yaitu kontraksi.

Jaringan saraf terdiri dari sel-sek dengan prosessus panjang yang menonjol dari badan sel dan berfungsi khusus yaitu menerima, membangkitkan, dan menghantarkan rangsang saraf.

Jaringan epitel berfungsi :

1. menutupi dan melapisi permukaan

2. absorpsi/penyerapan

3. sekresi/pengeluaran misal epitel kelenjar

4. sensoris misal neuroepitel

5. kontraktil misal mioepitel

SYSTEMA SKELETALE

DEFINISI

Istilah osteologi berasal dari bahasa yunani : osteon dan logos. Osteon berarti tulang dan logos berarti ilmu. Jadi osteologi adalah cabang anatomi yang mempelajari tulang. Tulang sebagai suatu sistem dipelajari dalam systema skletale; istilah ini berasal dari bahasa latin skeleton yang berarti kerangka.

STRUKTUR DAN JARINGAN TULANG

Skeleton terdiri dari 2 bagian yaitu bagian tulang (pars ossea) dan bagian tulang rawan (pars cartilagenosa).

Pars ossea. Berdasarkan bentuk dan ukuran tlang dapat diklasifikasikan menjadi os longum (tulang panjang), os breve (tulang pendek), os planum (tulang pipih), os irregulare (tulang tidak beraturan), dan os pneumaticum (tulang berongga).

Os longum mempunyai ukuran panjang melebihi lebar dan tebalnya, misal os humerus dan os femur. Terdiri dari 3 bagian :

1. diaphysis : bagian batang

2. epiphysis : bagian ujung, dipisahkan dari diaphysis oleh jaringan cartilago yang disebut discus epiphysialis

3. metaphysis, bagian diaphysis yang berdekatan dengan epiphysis, memgandung zona pertumbuhan

struktur os longum terdiri atas :

– periosteum : jaringan pengikat yang melapisi tulang dari sebelah luar

– endosteum : jaringan pengikat yang melapisi tulang dari sebelah dalam

– substantia compacta : bagian yang padat

– susbstantia spongiosa : bagian yang berongga

– cavitas medullaris : ronga dalam tulang yang berisi medulla ossium rubra dan medulla ossium flava

Os breve, mempunyai ukuran panjang, lebar dan tebal seimbang, contoh os carpi

Os planum, memiliki tebal lebih kecil dari panjang dan lebarnya, misal os costae dan sternum.

Os irregulare, punya bentuk tidak beraturan, contoh os coxae dan os sphenoidale

Os pneumaticum, tulang yang dalamnya empunyai rongga dan berisi udara, contoh os frontale dan ethmoidale.

Pars cartilaginosa. Cartilago adalah jaringan ikat yang ulet, lenting yang disusun oleh sel-sel dan serabut-serabut dan dikelilingi oleh matrik interseluler serupa gel yang keras. Berdasarkan jenis dan jumlah jaringan ikat penyusun matriksnya cartalago dapat diklasifikasikan menjadi :

1. cartilago hyalin

2. cartilago fibrosa

3. cartilago elastica

cartilago hyalin mempunyai karakteristik sebagai berikut :

– paling banyak dijumpai

– matriks jernih, tembus cahaya

– indeks bias matrik dan kolagen sama

– dapat dijumpai pada cartilago articularis, costalis, trachea, larynx dan septum nasi

Cartilago fibrosa mempunyai karakteristik :

– serabut-serabut yg ada dalam matriks adalah kolagen

– jumlah matriks lebih sedikit

– terdapat pada articulatio cartilaginea misal pada artic. Temporomandibularis

Cartilago elastica mempunyai karakteristik :

– matriks penyusunnya adalah elastik

– jarang mengalami pengapuran

– terdapat pada auricula, tuba auditiva, larynx

SKELETON HUMANUM (KERANGKA MANUSIA)

Terdiri dari :

1. Cranium (tulang tengkorak)

2. skeleton trunci (kerangka badan)

3. cingulum superius (gelang bahu)

4. skeleton extremitas superior (anggota gerak atas)

5. cingulum inferius (gelang panggul)

6. skeleton extremitas inferius (anggota gerak bawah

CRANIUM

Terdiri atas dua :

a. neurocranium (yang meliputi otak)

1. os frontale (dahi)

2. os parietale

3. os temporale (pelipis)

4. os sphenoidale

5. os occipitale (tulang belakang kepala)

6. os ethmoidale

b. viscerocranium (yang membentuk muka) :

1. os maxillare (rahang atas)

2. os palatinum (langit-langit

3. os nasale (hidung)

4. os lacrimale (air mata)

5. os zygomaticum (pipi)

6. concha nasalis inferior

7. vomer (sekat hidung)

8. os mandibulare (rahang bawah)

SKELETON TRUNCI

1. columna vertebralis (tulang belakang) :

– vertebra cervicalis (leher) 7 ruas

– vertebra thoracalis (punggung) 12 ruas

– vertebra lumbalis (pinggang) 5 ruas

– os sacrum 5 ruas

– os cocygeus (ekor) 3-4 ruas

Lengkung ke ventral lordosis, ke belakang kyphosis, ke lateral skoliosis.

2. Costa (tulang iga/rusuk), ada yang berbentuk tulang disebut os costae dan ada yang berbentuk tulang rawan atau cartilago costalis, pada manusia berjumlah 12 pasang

3. os sternum (tulang dada) terdiri dari

– manubrium sterni

– corpus sterni

– processus xypoideus

CINGULUM SUPERIUS

1. clavicula (tulang selangka, 1 pasang)

2. scapula (tulang belikat, 1 pasang)

SKELETON EXTREMITAS SUPERIOR, terdiri dari :

1. os humerus (lengan atas) 1 pasang

2. os radius (pengumpil) 1 pasang

3. os ulna (hasta) 1 pasang

4. ossa carpalia (pergelangan tangan) 8 pasang

5. ossa metacarpalia (telapak tangan) 5 pasang

6. os phalanges (jari tangan)

CINGULUM INFERIUS atau TULANG PELVIS, terdiri dari :

a. os sacrum

b. os cocygeus

c. os coxae, terdiri dari os illium, os ischii, os pubis

rongga yang dibatasi oleh kedua os coxae, sacrum dan cocygeus disebut cavitas(rongga pelvis), cavitas pelvis dibagi oleh linea terminalis menjadi dua bagian :

1. pelvis major disebelah atas

2. pelvis minor disebelah bawah

pintu masuk ke dalam pelvis minor disebut aditus pelvis (apertura pelvis superior/pintu atas panggul/PAP), pintu keluar dari pelvis minor disebut exitus pelvis (apertura pelvis inferior/pintu bawah panggul/PBP)

Menurut bentuk aditus pelvis, pelvis wanita dapat dibagi menjadi :

1. pelvis gynecoid, bentuk hampir bulat, tedapat pada 50% wanita

2. pelvis android, seperti gambaran jantung

3. pelvis anthropoid, bentuk oval, sempit dan memanjang dengan sumbu panjang ke arah anteroposterior

4. pelvis platypelloid, bentuk ellips, sumbu panjang ke arah transversal

Perbedaan pelvis wanita dan laki-laki :

1. arcus pubis pada wanita lebih besar (>90 derajat)

2. aditus pelvis wanita hampir bulat laki-laki seperti jantung

3. ala ossis illi wanita lebih lebar

4. os sacrum pada wanita lebih pendek, lebar dan kurang melengkung

5. spina ischiadica wanita tidak menonjol

Pelvimetri (ukuran-ukuran pada pelvis)

1. conjugata anatomica : jarak antara promontorium dan tepi atas simpisis pubis

2. conjugata obstetrica (gynaecologica) : jarak antara promontorium dan dinding posterior simpisis pubis

3. conjugata diagonalis : jarak antara promontorium dan tepi bawah simpisis pubis

4. diameter transversa : ukuran transversal terbesar pada aditus pelvis

5. diameter obliqua I : jarak antara artic. Sacroiliaca dexta dan eminentia iliopectinea sin

6. diameter obliqua II : jarak antara artic. Sacroiliaca sin dan eminentia iliopectinea dextra

SKELETON EXTREMITAS INFERIOR, terdiri dari :

1. os femur (paha) 1 pasang

2. os patella (lutut) 1 pasang

3. os tibia (tulang kering) 1 pasang

4. os fibula (tulang betis) 1 pasang

5. ossa tarsi (pergelangan kaki) 7 pasang

6. ossa metatarsi (telapak kaki) 5 pasang

7. phalanges (tulang jari kaki)

Mari Belajar Tentang Pertumbuhan dan Perkembangan, Apa Bedanya?

Mari Belajar Tentang Pertumbuhan dan Perkembangan, Apa Bedanya? – Pertumbuhan adalah sintesis protoplasma, biasanya diikuti oleh perubahan bentuk dan penambahan massa yang dapat lebih besar dari penambahaan plasma itu. Selain perubahan bentuk, pertumbuhan juga menyebabkan terjadinya aktivitas fisiologis, susunan biokimianya, serta struktur dalamnya. Pertumbuhan adalah pertambahan massa, ukuran, volume yang bersifat irreversibel (tidak dapat balik).

Pertumbuhan diikuti dengan diferensiasi, yaitu perubahan bentuk fisiologi sesuai fungsinya atau proses perkembangan.

Pengertian pertumbuhan membutuhkan ukuran secara tepat dan dapat dibaca dengan bentuk kuantitatif yang dapat diukur. Analisis pertumbuhan merupakan suatu cara untuk mengikuti dinamika fotosintesis yang diukur oleh produksi bahan kering. Pertumbuhan tanaman dapat diukur tanpa mengganggu tanaman, yaitu dengan pengukuran tinggi tanaman atau jumlah daun, tetapi sering kurang mencerminkan ketelitian kuantitatif.

 Mari kita contohkan apa itu Pertumbuhan

Tinggi pohon merupakan salah satu karakteristik pohon yang mempunyai arti penting dalam penafsiran hasil hutan. Tinggi pohon adalah jarak tegak antara puncak pohon terhadap permukaan tanah. Pengukuran tinggi pohon dapat dilakukan pada ketinggian tertentu dari batang. Pengukuran yang baik dilakukan adalah pohon-pohon yang telah ditebang dan pohon-pohon yang berdiri, khususnya untuk penaksiran yang berhubungan dengan Volume.

Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat merupakan faktor penentu utama yangmempengaruhi keotentikan data yang diperoleh. Semakin bagus alat yang dipergunakan maka semakin baik pula hasil pengukuran yang akan didapat.

Pengukuran tinggi pohon dengan menggunakan beberapa alat yang berbeda akan menghasilkan data yang berbeda pula. Dengan demikian, perbedaan relatif dari keakuratan data yang diperoleh diantara alat yang berbeda akan terlihat. Sehingga dapat diketahui pula kelebihan dan kelemahan suatu alat tertentu.

Pertumbuhan merupakan istilah kuantitatif yang berkaitan dengan perubahan ukuran dan masa. Pada sel pertumbuhan merupakan pertambahan volume yang tidak dapat balik. Pada jaringan dan organ, pertumbuhan secara normal mencerminkan pertambahan jumlah sel dan ukuran sel. Pertumbuhan dapat diukur secara kuantitatif.

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel.

Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa centimeter dibawah ujung (tunas). Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan dengan cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti panjang (tinggi batang) atau luas (diameter batang), atau luas (luas daun.

Tinggi pohon adalah jarak tegak antara puncak pohon terhadap permukaan tanah. Pengukuran tinggi pohon dapat dilakukan pada ketinggian tertentu dari batang. Pengukuran tinggi sperti pengukuran diameter atas batang adalah pengukuran tak langsung yang dilakukan dengan alat-alat optik dan konsikuensinya memerlukan banyak waktu. Pada waktu memilih metoda penaksiran volume dalam inventore hutan harus dicek dengan hati-hati apakah pengukuran tambahan ini pada semua sampel dapat dipeertanggung jawabkan.

Pengukuran tinggi dari pohon-pohon terdiri dari jarak vertikal sedang pengukuiran panjang dapat dibuat pada bagian-bagian yang sumbunya terpangkal dari bagian vertikal. Dapat ditambahkan, tinggi kayu yang dapat dijual dapat termasuk beberapa bagian yang cacat dibawah titk yang ditentukan sebagai batas atas dari kayu yang dapat dijual. Untuk hasil yang akurat pepohonan tidak boleh lurus dari 5 vertikal dan jarak horizontal harus ditentukan oleh pita ukur atau langkah yang hati-hati.

Lihat Vidionya yah…jangan lupa like dan subscribe akun YT kami…

Beberapa macam pengukuran tinggi pohon, antara lain yaitu;

  1. Tinggi pohon total, yaitu tinggi pangkal pohon dari permukaan tanah hingga puncak pohon.
  2. Tinggi bebas cabang atau permukaan tajuk, yaitu tinggi pohon dari pangkal batang hingga cabang pertama yang membentuk tajuk.
  3. Tinggi batang komersial, yaitu tinggi batang pada saat itu laku dijual dalam perdagangan (Dephut, 1992)

Kesimpulan;

Jadi sudah jelas ya, apa itu perbedaan pertumbuhan dan perkembangan. Bahwa Pertumbuhan diikuti dengan diferensiasi, yaitu perubahan bentuk fisiologi sesuai fungsinya atau proses perkembangan.

Jika kita kaji dari umum ke khusus maka pertumbuhan lebih umum, sedangkan perkembangan masuk ke pengertian lebih khusus dalam konteks pertumbuhan.

Salam

Transformasi dan Transfeksi DNA Plasmid Rekombinan

Transformasi sel E. coli dengan DNA plasmid rekombinan adalah salah satu teknik klasik manipulasi gen.

Teknik-teknik transformasi dan transfeksi merupakan cara sederhana yang tersedia untuk mendapatkan DNA rekombinan ke dalam sel. Dalam konteks kloning dalam sel E. coli, transformasi mengacu pada serapan DNA plasmid, dan transfeksi dengan penyerapan DNA faga. Transformasi juga umumnya digunakan untuk menggambarkan penyerapan DNA oleh berbagai sel dan juga dapat digunakan dalam konteks yang berbeda ketika berbicara tentang transformasi pertumbuhan seperti yang terjadi di dalam produksi sel kanker.
Transformasi pada bakteri pertama kali ditunjukkan pada tahun 1928 oleh Frederick Griffith, dalam eksperimennya yang dikenal dengan ‘prinsip transformasi’ merupakan suatu percobaan yang membuka jalan bagi penemuan yang akhirnya menunjukkan bahwa gen terbuat dari DNA. Namun, tidak semua bakteri dapat ditransformasikan dengan mudah, dan itu tidak sampai pada awal tahun 1970-an bahwa transformasi ditunjukkan dalam E. coli, andalan teknologi manipulasi gen. Untuk efek transformasi E. coli, sel-sel perlu dibuat kompeten.
Transformasi dan Transfeksi DNA Plasmid Rekombinan
Hal ini dicapai dengan merendam sel dalam larutan dingin kalsium klorida, yang menginduksi kompetensi dalam cara yang masih belum sepenuhnya dipahami. Transformasi sel kompeten dilakukan keluar dengan mencampur DNA plasmid dengan sel, inkubasi pada es selama 20 – 30 menit, dan kemudian memberikan kejutan panas singkat (2 menit pada 42 ◦ C sering digunakan), yang tampaknya memungkinkan DNA untuk masuk ke dalam sel. Sel-sel berubah biasanya diinkubasi dalam kaldu gizi 37º  C selama 60-90 menit untuk mengaktifkan plasmid menjadi mapan dan mengizinkan ekspresi fenotipik sifat mereka. Sel-sel kemudian dapat berlapis keluar ke media selektif untuk pembiakan sel-sel menyimpan plasmid.
Kemasan dari DNA bakteriofaga. (a) Sebuah molekul DNA concatemeric terdiri dari DNA faga tipe liar (λ+). Individu genom bergabung di situs cos. (b) genom rekombinan (λrec) menunjukan sedang dikemas in vitro. Sebuah campuran lisat dari dua strain bakteri memasok prekursor kepala dan ekor dan protein diperlukan untuk pembentukan partikel λ matang. Pada penambahan campuran ini ke concatemer, DNA yang dibelah di situs cos (arrowed) dan dikemas ke dalam partikel faga individu, masing-masing berisi genom rekombinan.
Transformasi adalah suatu proses yang tidak efisien, karena persentase sel kompeten yang ditransformasikan sangat sedikit, hanya mewakili sebagian kecil penyerapan dari DNA plasmid yang tersedia. Dengan demikian, prosesnya dapat menjadi langkah penting dalam percobaan kloning ketika sejumlah besar individu rekombinan diperlukan, atau ketika bahan awal terbatas.
Meskipun berpotensi merugikan, transformasi merupakan teknik penting, dan dengan hati-hati dapat menghasilkan sampai 109 sel yang ditransformasi (transforman) per mikrogram DNA yang dimasukan, meskipun frekuensi transformasi sekitar 106 atau 107 transforman per mikrogram lebih sering dicapai dalam praktek. Banyak perusahaan biologi pensuplai yang menawarkan berbagai strain sel kompeten sebelum diujikan ke lapangan untuk mendapatkan frekuensi transformasi yang tinggi. Untuk sementara lebih mahal daripada sel kompeten ‘buatan’, sel ini  ready to go dan menjadi terkenal karena mereka menghemat waktu persiapan. Transfeksi adalah proses yang sama dengan transformasi, perbedaannya adalah bahwa DNA faga digunakan sebagai pengganti DNA plasmid. Proses ini tidak efisien, dan sebagian besar telah digantikan oleh kemasan in vitro untuk aplikasi yang memerlukan pengenalan DNA faga ke dalam sel E. coli.
Baca juga : Teknologi Kloning
Daftar istilah penting !
Transformasi : Memasukkan DNA rekombinan ke dalam sel bakteri.
Bakteriofage (Faga) : Virus yang menyerang bakteri.
Plasmid : bagian ekstrasomal dari DNA bakteri.

Pewarnaan Tulang Alizarin Red Kadal

Pewarnaan Tulang Alizarin Red Kadal – Tulang merupakan hasil perkembangan dari kartilago atau lanjutan dari sel-sel mesenkim embrional (membrane tulang). Kartilago dan sel-sel mesenkim embrional tersebut diproduksi oleh sel-sel tulang (osteoblast). Tulang dilapisi oleh fibrous periosteum yang berfungsi untuk pertumbuhan dan perbaikan sel. Substansi mineralnya disimpan dalam lapisan tipis atau lamela. Lamela-lamela bentuk silindris membentuk sistem-sistem harversi, yang bagian tengahnya terdapat Canal Haversi.

Alizarin Red merupakan suatu metode untuk mengetahui pembentukan tulang pada embrio atau untuk mendeteksi proses kalsifikasi pada tulang embrio. Tulang yang diwarnai oleh Alizarin Red akan berwarna merah tua, yang menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna merah tua terbentuk karena zat warna yang diberikan terikat oleh kalsium pada matriks tulang.

Metode pewarnaan alizarin red digunakan untuk mengidentifikasi bagian-bagian kerangka yang sudah terbentuk pada masa embrio serta proses kalsifikasinya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan warna tulang menjadi merah tua. Perubahan warna ini menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna merah tua ini dikarenakan adanya pengikatan zat warna alizarin red pada matriks tulang. Pewarnaan ini dilakukan dengan beberapa tahapan dalam pewarnaan secara berurutan pada embrio agar didapat informasi mengenai proses kalsifikasinya.

Tulang merupakan komponen utama dalam rangka tubuh vertebrata. Tulang-tulang pada kadal terdiri dari tengkorak, radius, humerus, tulang jari, ulna, tulang belikat, tulang rusuk, tulang belakang, tulang panggul, tulang paha, tulang betis, tulang telapak kaki, tulang ruas jari, dan tulang ekor. Berikut ini merupakan gambaran mengenai sistem rangka pada kadal:

Baca Juga : Membran Ekstra Embrional Kadal

Proses kalsifikasi tulang ada dua proses, yaitu: osifikasi intra membran dan osifikasi endokondral. Jaringan tulang berkembang dari osifikasi intra membran yang terjadi di dalam suatu lapisan jaringan penyambung atau dengan osifikasi endokondral yang terjadi di dalam suatu model tulang rawan. Model tersebut secara berangsur-angsur dihancurkan dan digantikan oleh tulang yang dibentuk dari sel-sel yang berasal dari jaringan penyambung periosteum di dekatnya. Jaringan tulang yang muncul pertama kali primer atau imatur, merupakan suatu jaringan sementara dan segera digantikan oleh jenis tulang definitip yang berlapis-lapis. Selama pertumbuhan tulang, daerah tulang primer, daerah resorpsi dan daerah tulang yang berlapis-lapis nampak saling berdampingan.

Pewarnaan alizarin red digunakan untuk mengidentifikasi bagian-bagian kerangka yang sudah terbentuk pada masa embrio serta proses kalsifikasinya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan warna tulang menjadi merah tua. Perubahan warna ini menandakan bahwa tulang tersebut telah mengalami kalsifikasi. Warna merah tua ini dikarenakan adanya pengikatan zat warna alizarin red pada matriks tulang. Pewarnaan ini dilakukan dengan beberapa tahapan dalam pewarnaan secara berurutan pada embrio agar didapat informasi mengenai proses kalsifikasinya.

Pertama, embrio kadal dibersihkan dari membran ekstra embrional untuk mempermudah identifikasi tulang. Setelah bersih, embrio kadal dimasukkan ke dalam larutan alkohol 95 %, direndam selama 15 jam, kemudian dipindahkan ke dalam akuades, direndam selama 10 menit. Selanjutnya, embrio kadal dipindahkan ke larutan KOH 1 %, direndam selama 11 jam. Embrio kadal dipindahkan ke larutan pewarna alizarin red, direndam selama 10 jam., kemudian embrio kadal dipindahkan ke larutan KOH 2 %, direndam selama 30 menit (dilakukan secara bertahap dalam selang waktu 10 menit), supaya skeleton benar-benar transparan. Embrio kadal dipindahkan ke larutan penjernih A, direndam selama 1 jam, kemudian ke dalam larutan penjernih B dan C masing-masing 1 jam. Setelah itu, tulang pada embrio kadal yang terwarnai baru bisa diamati.

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum alizarin red adalah pinset, gunting, gelas arloji atau petri dish, botol spesimen, dan pipet tetes.

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum alizarin red adalah embrio Kadal (Mabouya multifasciata), larutan alkohol 95 %, larutan pewarna alizarin red, larutan penjernih (A, B, C), larutan KOH 1 %, larutan KOH 2 %, dan akuades.

Metode alizarin red adalah :

  1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan.
  2. Embrio kadal diletakkan di atas gelas arloji atau petri dish.
  3. Embrio kadal dibersihkan dari membran ekstra embrional.
  4. Setelah bersih, embrio kadal dimasukkan ke dalam botol spesimen yang telah berisi larutan alkohol 95 %. Embrio direndam dalam larutan alkohol 95 % selama 15 jam, kemudian difoto.
  5. Embrio kadal dipindahkan ke botol spesimen yang berisi akuades, direndam selama 10 menit, kemudian difoto.
  6. Embrio kadal dipindahkan ke botol spesimen yang berisi larutan KOH 1 %, direndam selama 10 jam, kemudian difoto.
  7. Embrio kadal dipindahkan ke botol spesimen yang berisi larutan pewarna alizarin red, direndam selama 11 jam, kemudian difoto.
  8. Embrio kadal dipindahkan ke botol spesimen yang berisi larutan KOH 2 %, direndam selama 30 menit (dilakukan secara bertahap dalam selang waktu 10 menit), kemudian difoto.
  9. Embrio kadal dipindahkan ke botol spesimen yang berisi larutan penjernih A, direndam selama 1 jam, kemudian ke dalam larutan penjernih B dan C masing-masing 1 jam (masing-masing difoto sebelum dipindahkan ke larutan berikutnya).
  10. Tulang pada embrio kadal yang terwarnai diamati.

Embrio kadal sebagai spesimen yang akan diamati proses kalsifikasi tulangnya dengan metode pewarnaan alizarin red. Pewarnaan alizarin red digunakan untuk mengidentifikasi bagian-bagian kerangka yang sudah terbentuk pada masa embrio serta proses kalsifikasinya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan warna tulang menjadi merah tua. Pewarnaan ini dilakukan dengan beberapa tahapan dalam pewarnaan secara berurutan pada embrio agar didapat informasi mengenai proses kalsifikasinya. Alizarin red digunakan dalam uji biokimia untuk menentukan adanya pengendapan kalsifikasi oleh sel secara kuantitatif dengan kalorimeter dari garis keturunan osteogenik.

Pertama, embrio kadal dibersihkan dari membran ekstra embrional untuk mempermudah identifikasi tulang. Setelah bersih, embrio kadal dimasukkan ke dalam larutan alkohol 95 %, direndam selama 15 jam. Larutan ini berfungsi sebagai fiksatif. Embrio kadal dipindahkan ke dalam akuades, direndam selama 10 menit untuk membersihkan alkohol yang masih melekat. Selanjutnya, embrio kadal dipindahkan ke larutan KOH 1 %, direndam selama 10 jam untuk memperjelas skeleton. Embrio kadal dipindahkan ke larutan pewarna alizarin red, direndam selama 11 jam, sebagai pewarna skeleton sehingga tulang-tulang pada kadal terlihat jelas dan transparan. Kemudian embrio kadal dipindahkan ke larutan KOH 2 %, direndam selama 30 menit (dilakukan secara bertahap dalam selang waktu 10 menit), supaya skeleton benar-benar transparan. Embrio kadal dipindahkan ke larutan penjernih A, direndam selama 1 jam, kemudian ke dalam larutan penjernih B dan C masing-masing 1 jam. Larutan penjernih ini berfungsi untuk mengurangi kelebihan pewarna yang masuk ke dalam jaringan otot sehingga otot menjadi tampak jernih transparan. Setelah itu, tulang pada embrio kadal yang terwarnai baru bisa diamati.

Hasil pengamatan tulang-tulang pada embrio kadal yang terwarnai oleh metode pewarnaan alizarin red dari kelompok 2 yaitu Trunk vertebrae, humerus, ulna, radius, carpals, metacarpals, phalanges, skull, cervical vertebrae, caudal vertebrae, metatarsals, tarsals, femur, fibula, tibia, sacral vertebrae. Hasil tersebut menandakan bahwa tulang pada embrio kadal tidak terwarnai secara keseluruhan.

Tulang kadal secara lengkap terdiri dari tengkorak, radius, humerus, tulang jari, ulna, tulang belikat, tulang rusuk, tulang belakang, tulang panggul, tulang paha, tulang betis, tulang telapak kaki, tulang ruas jari, dan tulang ekor.

Hasil pengamatan pada masing-masing kelompok berbeda. Jika dibandingkan dengan kelompok lain, tulang-tulang yang terwarnai pada kelompok 2 belum terwarnai semua, kelompok yang lain juga belum terlihat semua. Hal ini bisa disebabkan karena lamanya waktu perendaman dalam setiap tahap berbeda tiap kelompok atau tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Selain itu juga bisa dikarenakan umur embrio kadal pada tiap kelompok berbeda.

Baca Juga : Rantai Makanan Di Alam

Kesimpulan :

  1. Alizarin red merupakan metode pewarnaan yang digunakan untuk mengidentifikasi bagian-bagian kerangka yang sudah terbentuk pada masa embrio serta proses kalsifikasinya. Hal ini dapat dilihat dari perubahan warna tulang menjadi merah tua.
  2. Tahap-tahap pewarnaan alizarin red yaitu pembersihan embrio kadal dari membran ekstra embrional, perendaman dalam larutan alkohol 95 % selama 15 jam, perendaman dalam akuades selama 10 menit, perendaman dalam larutan KOH 1 % selama 10 jam, perendaman dalam larutan pewarna alizarin red selama 11 jam, perendaman dalam larutan KOH 2 % selama 30 menit (dilakukan secara bertahap dalam selang waktu 10 menit), perendaman dalam larutan penjernih A selama 1 jam, kemudian ke dalam larutan penjernih B dan C masing-masing 1 jam, setelah itu tulang pada embrio kadal yang terwarnai baru bisa diamati.
  3. Proses pembentukan tulang disebut kalsifikasi atau osifikasi. Proses kalsifikasi tulang ada dua proses, yaitu osifikasi intra membran dan osifikasi endokondral.

Sumber

Junqueira, L. 1982. Basic Histology. Appeleton and Lange, New York.

Lesson. 1990. Atlas of Histology. W. B. Sounders, London.

Mahanthesha K.R. B.E. Kumara Swamy, Umesh Chandra, Yadav D. Bodke, K. Vasanth Kumar Pai and B.S Sherigara. 2009. Cyclic Voltammetric Investigations of Alizarin at Carbon Paste Electrode using Surfactants. Int. J. Electrochem. Sci., 4 1237 – 1247.

Yatim, W. 1983. Embryologi. Tarsito, Bandung

Budidaya Infusoria Sebagai Pakan Ikan Alami

Budidaya Infusoria Sebagai Pakan Ikan Alami – Ciliata atau Infusoria merupakan kelas terbesar dari protozoa. Ciliata adalah hewan yang berbulu getar. Ciliata memiliki silia yang berfungsi untuk bergerak, menangkap makanan dan untuk menerima rangsangan dari lingkungan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel. Ciliata memiliki 2 inti sel (nukleus), yaitu makronukleus (inti besar) yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara mensisntesis RNA, disamping berfungsi juga untuk reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil) yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual.

Pada Ciliata terdapat vakuola kontraktil yang berfungsi menjaga keseimbangan air dalam tubuh. Di samping itu juga terdapat vakuola makanan yang berfungsi untuk mencerna dan mengedarkan makanan, serta vakuola berdenyut untuk mengeluarkan sisa makanan. Infusoria banyak ditemukan di laut maupun di air tawar. Mempunyai bentuk tubuh yang tetap, dan oval. Cilliata ada yang bersifat parasit dan non parasit, yang non parasit diantaranya adalah  Paramecium caudatum sedangkan yang parasit adalah Nyctoterus ovalis yang hidup di dalam usus kecoa, serta Balantidium coli  yang parasit pada babi dan dapat menyebabkan penyakit balantidiosis (disentri balantidium).

Paramecium caudataum  memperbanyak diri atau bereproduksi dengan cara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan pembelahan biner yaitu membelah menjadi dua secara mitosis, kemudian dilanjutkan oleh makronukleis secara amitosis. Tampak satu sel membelah menjadi 2, kemudian menjadi 4, 8, dan seterusnya. Pembelahan ini diawali dengan mikronukleus yang membelah dan diikuti oleh pembelahan makronukleus. Kemudian akan terbentuk 2 sel anak setelah terjadi penggentingan membran plasma.

Bahan Dan Alat

– Ember/baskom volume 10 L

– Planktonet

– Tali plastik/rafia

– Rebusan daun kol/sawi/daun selada

– Rebusan jerami, kulit pisang

– Mikroskop

– Cover dan Object glass

– Tissue

– Air sungai, kolam, sawah yang mengandung bibit infusoria

Cara Budidaya

  1. Siapkan ember volume 10 L
  2. Isikan air kolam/sungai sebanyak 5 – 7 L
  3. Endapkan selama 2 hari
  4. Siapkan media pemeliharaan Infusoria berupa air rebusan jerami, kulit pisang atau air rebusan sayur seperti kacang selada dan daun kol/sawi.
  5. Dinginkan rebusan sayuran (media pemeliharaan Infusoria) tersebut diatas
  6. Masukkan media pemeliharaan Infusoria tersebut ke dalam wadah (ember/baskom)
  7. Tutup wadah/ember dengan menggunakan kain, agar tidak didatangi nyamuk
  8. Letakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari, dan dari air hujan.
  9. Inkubasi media tersebut sekitar 5 – 6 hari.
  10. Masukkan bibit Infusoria ke dalam wadah pemeliharaan (bibit Infusoria dapat diperoleh di areal sawah yang banyak jerami busuk, sungai/kolam yang mengandung banyak bahan organik, gunakan pipet atau seser plankton untuk menangkap bibit Infusoria).
  11. Panen Infusoria dapat dilakukan setelah 4 – 6 hari kemudian
  12. Ambil air sebanyak 1 ml dari media tersebut, dan amati di bawah mikroskop
  13. Gambar dan hitunglah organisme akuatik yang terlihat dalam 1 tetes air yang berasal dari media

Baca juga : Maggot Dari Kotoran Ayam Sebagai Pakan Ikan