Arsip Kategori: Inspirasi

Jika Calon Suami Belum Punya Penghasilan

Jika Calon Suami Belum Punya Penghasilan – Hal paling penting saat usia sudah dewasa adalah tentang pekerjaan dan pernikahan. Dua hal, yang apesnya, akan saling mempengaruhi satu sama lain. Pernikahan akan gampang ditunaikan apabila sudah mempunyai pekerjaan.

Jika Calon Suami Belum Punya Penghasilan

Jika Calon Suami Belum Punya Penghasilan

Pentingnya pekerjaan ketika kita memutuskan untuk melakukan pernikahan tentu saja alasannya adalah kenyamanan. Kepastian, jaminan hidup secara ekonomi untuk membayar kebutuhan kehidupan. Mempunyai pekerjaan menjadi syarat mutlak untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Pria, dalam budaya timur menjadi pihak yang paling bertanggung jawab masalah keuangan. Idealnya memang seperti itu, tapi kita tahu tahu hidup tak selalu seperti yang kita bayangkan. Lelaki itu, lelaki yang sudah kita yakini, yang sudah kita tambatkan hati padanya, belum mempunyai penghasilan atau bahkan pekerjaan. Padahal rencana pernikahan sudah kita pikirkan, sudah ditargetkan.

Lalu kamu akan dihadapkan pada pilihan yang membuat kegalauan dan kebingungan, meninggalkan atau menunggu sampai dia mapan. Pilihan pertama tentu berat untuk dipilih, ada banyak hal yang sudah selama ini dilalui, sudah banyak janji dan rencana yang dicita-citakan, sudah bertemu dan diperkenalkan masing-masing orang tua, jelas ini adalah pilihan yang mustahil untuk dijalankan.

Mau tidak mau kita dihadapkan pada sisa pilihan, yaitu menunggu. Tapi pertanyaannya kemudian adalah, sampai kapan?

Menangis adalah hal wajar, apalagi bagi perempuan. Jangan tahan tangisanmu untuk meluapkan kepedihan. Dan setelah puas menangis, cobalah untuk segera merenungkan, memikirkan jalan keluar.

Hal yang pertama yang harus kamu sadari adalah, anggap ini adalah suatu cobaan, ujian yang Tuhan berikan untuk melihat kesungguhan dan komitmen yang dulu dibuat bersama. Mungkin Tuhan sengaja memberikan ujian sangat awal, bahkan saat pernikahan belum dilaksanakan sama sekali, Dia sedang menguji hal yang paling penting dalam sebuah hubungan, pondasi keyakinan. Jika kamu mampu survive, mempu menjalani ujian ini, selanjutnya kamu akan mudah melaluinya.

Setelah itu, karena ini adalah hal yang menyangkut dua pihak, bahkan dua keluarga, kamu harus membicarakan ini kepada calon suamimu. Ungkapkan apa yang selama ini menjadi beban pikiran, apa yang selama ini kamu rasakan. Katakan pula apa-apa saja yang kamu inginkan dan harapkan, tanpa disertai rasa emosi. Katakanlah, jangan takut hal ini akan membuat calon suamimu itu kecewa, ingat ini masalah pernikahan, sebuah hal besar yang harus dipersiapkan matang-matang, sebuah hal yang akan dijalani seumur hidup.

Dengan mengungkapkan kepadanya, kamu tidak harus mendapatkan jawaban. Karena kau pasti tahu, calon suamimu itu sedang bingung memikirkan, sedang bekerja keras menguapayakan, berusaha siang dan malam. Kadang beban akan berkurang setelah kamu ungkapkan.

Baca juga :

Setelah kamu mengungkapkan, pahami reaksinya, kamu akan tahu dia hanya sekedar mencintaimu atau mencintaimu dengan segala konsekuensinya. Jika dia bisa menerima apa yang kamu ungkapkan dan rasakan, dan semakin terpancing untuk berusaha lebih keras maka hubungan anda harus terus diperjuangkan. Tapi jika reaksinya marah dan akan terjadi pertengkaran, maka mungkin (hanya mungkin) ini saatnya hubungan kalian harus dipikirkan ulang.

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan) – Melihat kesuksesan beberapa teman saat masih di bangku sekolah dulu dengan segala prestasi yang sudah didapat, rasa senang ikut mengembang dalam sebuah senyuman saat kita bisa berkumpul beberapa hari yang lalu.

Biasa, saat ketemu teman sekolah dulu hal pertama yang selalu kita bicarakan adalah mengingat-ingat masa sekolah dulu, dimulai dari kenakalan hingga percintaan yang tak pernah ada ujung.

Sebagai seorang yang biasa-biasa saja waktu sekolah dulu, yang tak pernah aktif dikegiatan sekolah baik OSIS maupun Pramuka dan kegiatan-kegiatan yang lain. Aku pun berteman dengan anak-anak yang biasa-biasa pula.

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Bukan anak yang penting di sekolah seperti pengurus OSIS atau punggawa-punggawa yang lain dalam bidang tertentu yang bisa mengharumkan nama baik sekolah.

Tak banyak cerita mengenai kegiatan di sekolah, yang banyak justru dari perjalanan cinta dan kenakalan remaja pada saat itu.

Terlahir dari keluarga biasa dengan tampang yang biasa juga, aku tak mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkan termasuk soal cinta. Heemm

Berbicara soal cinta jangan salah bro, meski dengan segala keterbatasan yang ada, aku termasuk pejuang cinta yang hebat. Entah hebat atau gak tau malu juga sih sebenarnya., Soalnya bolak-balik di tolak cewe tetep aja maju. Haha

Cerita dikit boleh ya. Waktu dulu zaman SMP aku suka dengan seseorang cewe sebut saja namanya “Upil” dia anak yang pintar, aktif di organisasi, cantik, putih, aduhai dan segala kata yang menggambarkan dia sebagai sosok perempuan yang nyaris sempurna.

Melihat gadis seperti itu naluri aku sebagai laki-laki memuncak (bukan horny), aku mulai mendekati gadis itu secara serampangan, dimulai dari memaksa mengajak berkenalan, sok-sokan mengirimkan bunga (plastik). Sampai mengajak berkelahi pacarnya. Haha

Hampir setiap jam istirahat aku ke kelas si do’i dengan harapan bisa bertatap muka dengannya. Ehh harapan hanya tinggal harapan, jangankan mau bertatap muka, ketika si do’i lihat aku saja langsung kabur.

Mungkin si do’i takut kali melihat aku yang bermuka hitam (areng) dengan tubuh kecil rambut dan baju kucel, bagai melihat penampakan di pojok sekolah yang konon dulu ada.

Perjuangan belum berakhir bro, tidak bisa ketemu di jam istirahat tidak masalah, masih ada waktu yang lebih senggang yaitu saat pulang sekolah. Saat mendengar bel pulang sekolah saat itu pula sebuah kebahagiaan bagi saya.

Dengan cepat aku bergegas ketempat sepeda, menyiapkan sepeda si do’i agar tidak terhalang oleh sepeda lain. Jika sepeda si do’i sudah dipastikan terparkir dengan baik dan siap untuk digunakan maka aku hanya tinggal menunggu si do’i untuk (berharap) mau pulang bersama.

Hemm… aku pikir si do’i senang, eh malah nyuruh orang untuk mengambilkan sepedanya. Karena do’i sudah tau melihat dari kejauhan, bahwa aku sedang berada di dekat sepedanya.

Aduh malang bener nasibku ini, tak masalah. Aku kan bisa membuntuti dia dari belakang pikirku, dengan sepeda tua yang rantainya mudah copot, aku mengikuti do’i dari belakang, dalam perjalanan aku sapa dia, dengan harapan ada obrolan yang tercipta.

Lagi-lagi aku dibuat kecewa, hingga bersepeda sampai ke rumahnya tidak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya. Rasa jengkel, marah, sebel mengeruak. Dari situ siapapun yang berani mendakati si do’i akan saya hajar termasuk pacarnya. Haha

Dulu memang aku termasuk jagoan di sekolah, meski dengan tubuh yang relatif mungil banyak anak yang segan denganku, meski lebih banyak juga yang berani sih. Haha

Proses mendekati si do’i hampir setiap hari, kurang lebih berjalan hingga 1 tahun. Hingga waktu juga yang tak bisa diajak berkompromi, karena kita sudah dinyatakan sama-sama lulus di sekolah tersebut. Selepas lulus. Hampir tiga tahun jarang sekali berkomunikasi, dia berada di sekolah negeri favorit sedangkan aku di sekolah swasta biasa.

Hingga waktu juga yang akhirnya menemukan kita kembali. Tanpa disangka-sangka akhirnya kita kuliah di kampus yang sama. Rasa yang dulu juga masih sama dengan perilaku yang berbeda tentunya.

Memasuki bangku kuliah sudah banyak perubahan dihidupku. Aku termasuk anak yang aktif, banyak kegiatan yang aku ikuti yang akhirnya membentuk diri menjadi lebih baik (menurutku). Dari organisasi kampus seperti BEM dan organisasi luar kampus pun tak luput dari lahan prosesku.

Bertemu dengan orang yang dulu pernah menghiasi pikiranku (meski dia tak pernah mememikirkanku) rasanya sungguh menyenangkan, ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cieh

Melihat berubah dan berkembangnya aku nampaknya si do’i lumayan kaget, dulu dimata dia aku hanya seorang anak hitam yang nakal dan hobi berkelahi.

Tapi sekarang coba lihat (sambil ngaca) berubah menjadi remaja yang gagah rupawan jadi Dewan Mahasiswa pula. Hahaha

Pernah suatu hari kita juga dipertemukan saat lomba karya tulis ilmiah di kampus, aku harus mempresentasikan hasil penelitian dihadapan dewan juri melawan kelompok yang salah-satu anggonya adalah si do’i.

Dalam hati aku berkata (dengan pandangan sinis) “heem inilah saatnya aku buktikan pada dia bahwa aku sudah berubah”. Tak disangka-sangka ternyata hasilnya diluar dugaan. Kelompokku yang menang dan berhak mewakili kampus dalam tingkatan lomba yang lebih tinggi.

Tapi itu tidak cukup membuat hati si do’i luluh, dia tetap saja pada pendirian yang sama seperti 8 tahun yang lalu dia kembali menolakku.

Sekarang apa hubunganya kisah di atas dengan kalimat “hidup ini milik para pejuang”. Jadi begini bro “bahwa hidup itu perjuangan”, kita perlu memperjuangkan atas apa yang kita inginkan (termasuk cita-cita).

Kisah di atas mengambarkan kalau aku tidak ketemu si doi, aku mungkin tidak pernah tahu makna perjuangan itu seperti apa? Yang kita tahu mungkin hanya sekedar kata-kata pemanis benner saja, dalam praktik kita bingung.

Segala sesuatu di dunia ini tidak gratis bro, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk dapat memperoleh hasil yang pantas, jangan hanya duduk manis di rumah saja. Mari keluar rumah. Perjuangkan apa yang menjadi keyakinan kita.

Bersyukur dulu aku dipertemukan dengan si do’i, karena dengan bertemu dia, aku bisa menjadi pejuang, mengajarkan hal yang jauh lebih besar melampaui sekedar kata cinta.

Menjadi pejuang itu perlu latihan, siapa yang terlatih dia yang akan mendapat ganti yaitu kemudahan. Lagi-lagi aku harus katakan terimakasih pada si do’i karena berkat dia, aku terlatih untuk berjuang sedari kecil.

Sekarang kita sudah sama-sama tumbuh menjadi dewasa, kau sudah ada pasangan dan aku. Hemm,, masih sendiri. Namun ada hal yang jauh lebih penting, yaitu soal makna perjuangan. Minimal berjuang untuk bisa bertahan hidup.

Semoga bermanfaat, biarkan semua mengalir apa-adanya kita hanya tinggal menjalankan yang terbaik yang bisa kita lakukan.

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia – Bukan uang yang utama, tapi nilai-nilai luhur dan pengalaman pengabdian pada bangsa dan negara merupakan sebuah kebanggaan. Berguna bagi bangsa dan sesama, dikenang karena pengabdian dan totalitasnya, menjadi pelaku dalam perubahan bangsa merupakan tujuanku. Memulai dari diri sendiri untuk mengabdi, lalu bercita-cita menjadi contoh generasi-generasi selanjutnya.

Mari kobarkan semangat perjuangan, dedikasikan ilmu dan pengalaman kita untuk bangsa dan negara Indonesia. Mari jadikan batas terluar negara dijamah pembangunan. Lalu ajarkan dan ceritakan besarnya Indonesia untuk membangun nasionalisme masyarakat perbatasan.

Jargon “Ayo bercita-cita mengabdi di perbatasan”.

Ikut membantu masyarakat yang belum terjamah kesehatan dan pendidikan. Kalimantan dan Papua, saya bermimpi ketanahmu mengabdikan segenap ilmu dan kemampuanku.

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Kami Juga Indonesia

Kemajuan Indonesia akhir-akhir ini mulai bergeliat. Pertumbuhan ekonomi selama 8 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pertumbuhan di atas 6% yang ditargetkan pemerintah dalam RAPBN mencapai target menggembirakan. Pertumbuhan tersebut berdampak pada pembangunan berjenjang di kota-kota besar dan rasa iri di daerah tertinggal.

Pendapatan perkapital warganya mengalami lonjakan namun perbatasan tidak sepeserpun kebagian. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling dilirik investor asing untuk menanamkan modal jutaan dolar, tapi perbatasan hanya dilempar receh yang hanyut di tengah perjalanan. Indonesia sedang menuju pembangunan, namun perbatasan hanya mendengarkan.

Hasil pembangunan diharapkan terasa sampai ke tingkat desa-desa. Salah satu Contoh desaku, Desa Kalitapen, Purwojati, Banyumas, Jawa Tengah. Dana lebih dari 1 milyar rupiah dikucurkan untuk pembangunan pasar. Meskipun baru beberapa bulan diresmikan. Namun dampaknya sudah mulai terlihat.

Sejak itu perekonomian desa kami mulai membaik. Lowongan pekerjaan baru terbuka. Arus perputaran uang mampu dimanfaatkan benar oleh sebagian besar warganya. Banyak warga yang tadinya merantau kini pulang ke kampung halaman. Mereka ikut menikmati hasil pembangunan. Tapi bagaimana di daerah terpencil perbatasan?.

“Indonesia sedang menuju perubahan”.

Sebuah kalimat sederhana muncul dalam perdebatan masyarakat. Kalimat ini muncul sebagai harapan dari kemajuan yang terlihat, atau hanya ejekan sederhana para pengkritisi pemerintah. Sila ke-2 dan ke-5 dalam Pancasila menyebutkan “ Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Kedua sila sudah kita perjuangkan sejak 68 tahun yang lalu. Pertanyaanya apakah sila ke dua dan ke lima telah menemui tujuannya sekarang??

Semangat Pengabdian Di Perbatasan Terluar Indonesia

Kita Bineka Tunggal Ika

Masyarakat semakin terdidik oleh informasi dan pengetahuan. Hal ini berdampak pada perilaku warganya. Kebiasaan hidup mewah dan berkecukupan dirasakan golongan menengah ke atas. Sementara untuk golongan menengah ke bawah cita-cita tersebut masih di alam bawah sadar. Sukses dan berkecukupan adalah target setiap masyarakat negeri ini. Anak-anak merekapun diprogramkan untuk sukses. Menjadi sukses merupakan mimpi setiap manusia. Bahkan manusia perbatasan. Mereka menjerit untuk makan dan kesehatan. Boro-boro berfikir tentang pendidikan.  Siapa yang mendengar, siapa yang perduli, dan siapa yang salah?.

Di tengah kemajuan dan perubahan ada beberapa hal yang terlupakan, termasuk daerah perbatasan. Salah satunya lupa menanamkan pada diri setiap anak bangsa sebuah semangat nasionalisme dan patriotisme. Semangat untuk mengabdi pada bangsa dan negara. Merasa bangga menjadi Indonesia dan rasa cinta terhadap tanah air. Indonesia lupa, atau sistem pendidikan yang tidak peka dengan nilai-nilai tersebut.

Sekarang, kebanyakan anak-anak didorong oleh orang tua mereka untuk menjadi dokter, sarjana atau pengusaha. Harapan mereka adalah hidup nyaman dan berkecukupan. Mentalitas yang didapat pun hanya sebatas sukses materi semata.

Menurunya nilai-nilai kepekaan terhadap lingkungan, lalu merosotnya budaya gotong-royong serta berkurangnya rasa toleransi dan saling membantu antar sesama merupakan hal yang harus dibenahi bangsa ini. Untuk mewujudkan bunyi sila ke dua dan ke lima perlu adanya peran dari seluruh lapisan masyarakat. Mari mengajarkan nilai kecintaan dan pengabdian terhadap negara sejak dini. Peran pemerintah dalam membuat program-program untuk mewujudkan sila ke-2 dan sila ke-5 sangat dibutuhkan.

Saya seorang mahasiswa disebuah Universitas Negeri di Purwokerto. Rasa bangga menjadi Indonesia terpupuk sejak saya kecil. Pertama kali saya mengenal Indonesia dari  peta di tembok sekolah dasar. Saya dijelaskan oleh guru tentang Indonesia dari Sabang sampai Marauke, dari kerajaan Pasai sampai Ternate. Dari situ rasa cinta dan bangga menjadi Indonesia mendasari setiap pemikiran. Fanatisme ini berlanjut, dimulai dari ketidaksengajaan mengkopi sebuah filem dari Kaset CD berjudul” Tanah Surga Katanya”. Dari situ saya semakin tergerak ingin mengabdi di perbatasan dan membantu masyarakat di sana. Melihat mewahnya Jakarta yang kontras dengan keadaan perbatasan, seharusnya membuat kita sebagai Indonesia merinding dan malu, kenyataanya Garuda Pancasila belum menjaga setiap bulunya.

Mengabdi di perbatasan Indonesia dengan Malaysia di pulau Kalimantan

Karena banyaknya titik perbatasan Indonesia Malaysia, maka hanya beberapa yang akan saya kemukakan. Daerah-daerah ini sangat membutuhkan perhatian pemerintah dan peran pemuda bangsa yang perduli perbatasan. Informasi ini saya dapat dari beberapa situs online dan jurnal.

Kecamatan Puring Kencana merupakan sebuah daerah di Kalimantan Barat. Sebelum menuju ke kecamatan tersebut terlebih dahulu akan melewati jalan yang menghubungkan Kecamatan Badau dan Kecamatan Ampanang. Perjalanan menuju Kecamatan Puring akan disuguhi pohon-pohon kelapa sawit di kanan kiri jalan. Kondisi kecamatan ini sangat memperihatinkan.

Jalan disana belum diaspal, tidak ada jembatan penghubung antar satu daerah ke daerah lain sehingga mereka terisolasi. Belum ada aliran listrik yang mengalir di daerah tersebut. Pendidikan dan kesehatan pun masih sangat minim. Jiwa nasionalisme masyarakatnya meragukan. Tidak adanya pasokan informasi membuat banyak warga di daerah ini bahkan tidak mengenal siapa Presiden Republik Indonesia saat ini.

Menuju ke timur, tepatnya di daerah Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ada lima desa yang terancam diklaim oleh Malaysia. Desa tersebut adalah Desa Labang, Logos, Ngawol, Simantipal dan Bulu Lawun Hilir. Tidak adanya perhatian serius dari pemerintah benar-benar dimanfaatkan oleh Malaysia untuk membangun fasilitas publik dan mengambil hati masyarakatnya. Jiwa nasionalisme warganya lama-lama bisa luntur dan memilih untuk pindah ke negara tetangga Malaysia.

Perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini di Pulau Papua

Dari Kalimantan, sekarang kita ke Pulau Papua. Tanah Papua yang indah dengan laut dan gunung-gunung menjulang akan membuat setiap mata berdecak kagum. Mutiara Hitam memang pantas disematkan pada tanah Papua. Secara geografis pulau ini berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. Mengunjungi Papua dan mengabdikan diri membantu masyarakatnya adalah mimpi besarku.

Desa Skow adalah salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Desa ini hanya dibatasi oleh pagar pembatas dengan Desa Wutung di sisi Papua Nugini. Seperti tanah Papua pada umumnya, desa ini menyuguhkan pemandangan yang cantik. Ini merupakan Sumber Daya Alam yang potensial dijadikan daerah wisata. Kurangnya Sumber Daya Manusia yang mendukung menjadikan kawasan ini seperti halnya daerah perbatasan-perbatasan lain di Indonesia. Semuanya serba minim. pendidikan, kesehatan bahkan barang-barang kebutuhan susah dan mahal.

Masih banyak daerah-daerah perbatasan yang lain yang butuh bantuan. Yang saya terangkan hanya beberapa contoh saja. Mereka seperti terasingkan dan terpinggirkan. Padahal daerah ini merupakan kulit terluar bangsa ini. Di sini peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan.

Mimpi

Ratusan ribu sarjana lulus dari universitas setiap tahun, termasuk saya tahun beberapa tahun lalu. Namun hanya beberapa dari mereka yang mau mengabdi di perbatasan terluar Indonesia. Itupun dengan alasan susahnya mencari pekerjaan. Alasan umum lainya, kita tidak mau susah dan hidup menderita.

Mentalitas seperti ini terbentuk karena masyarakat semakin materialistis. Banyak pemuda yang menggaungkan cinta Indonesia, tapi mereka melempem saat diminta berbakti di perbatasan. Padahal ini saatnya pemuda berperan nyata dalam membangun Indonesia. Terutama sarjana-sarjana muda yang ilmu dan pengabdianya sangat dibutuhkan.

Program transmigrasi sudah dari dulu dilakukan oleh pemerintah. Namun, tidak ada perkembangan yang berarti. Ini dikarenakan tidak adanya sosok pionir yang punya ilmu untuk membangun daerah tersebut. Pada umumnya masyarakat yang ditransmigrasikan adalah masyarakat yang kurang mampu.

Mereka ditempatkan di daerah-daerah terpencil dan diharapkan mampu membangun daerah tersebut. Saya punya mimpi untuk mengabdi di daerah perbatasan. Membentuk sebuah komunitas peduli perbatasan. Anggotanya adalah masyarakat yang punya kemampuan dan ide-ide untuk mengembangkan perbatasan. Mereka yang benar-benar peduli dan mau membantu saudara-saudara kita yang ada di perbatasan.

Setidaknya kita benar-benar berperan nyata dalam membantu pemerintah mengembangkan daerah perbatasan. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk besar, potensi Sumber Daya Manusia kita sangat besar. Saya optimis kita akan menjadi negara besar dan mampu mewujudkan cita-cita luhur Pancasila dalam sila ke-2 dan sila ke-5.

Baca juga :

Pesan Penting

Sebuah negara  yang makmur adalah ketika  masyarakatnya merasa nyaman hidup dan merasa tercukupi kebutuhanya. Tapi bukan per individu saja, melainkan menjadi sebuah kesatuan bangsa. Yang sukses membantu yang miskin, yang berpendidikan membantu yang bodoh. Jangan tinggalkan nilai ketimuran kita sebagai bangsa yang berbudaya gotong-royong.

Untuk mewujudkan hal itu, peran pemerintah dan masyarakat sangat penting. Masyarakat harus mau turut serta dan berpartisipasi berbakti mewujudkannya. Kepekaan terhadap lingkungan, serta semangat nasionalisme harus digalakan. Mari kita wujudkan “Kemanusiaan yang adil dan beradab, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Salam Indonesia

iblis vs malaikat (sumber : islamcendekia.com)

Percakapan Malaikat dan Iblis di Bulan Ramadhan

Percakapan Malaikat dan Iblis di bulan Ramadhan – Bulan Ramadhan telah tiba, dalam tulisan ini aku tak akan menjelaskan pengertian dan hal yang perlu disiapkan dalam menyambutnya, karena belio Ustd. Agus Prasetio sudah menjelaskan dalam tulisannya tentang persiapan ramadan yang agak-agak mainstream itu. Ataupun curhat tentang tradisi-tradisi kampung(an) pada bulan ini, karena itu sudah dijelaskan oleh pemuda tua yang sukanya mencak-mencak tak jelas.

Jika manusia akan meng-aku, pastilah dan tentulah ada sikap baik dan sikap buruk yang ada dalam dirinya, positif dan negatif, alim dan dzalim, beradab dan biadab, atau jika diumpamakan adalah sikap malaikat dan sikap iblis.

iblis vs malaikat (sumber : islamcendekia.com)

iblis vs malaikat (sumber gambar : islamcendekia.com)

Setelah kurang lebih 11 bulan mendominasi otak manusia, hegemoni iblis terkikis drastis oleh sifat malaikat di bulan Ramadhan ini.  Manusia akan berubah menjadi alim, saling tubruk memperebutkan microphone masjid untuk adzan, saling overlape ayat suci Tuhan demi sampai duluan di garis khatam, pokoknya itu-itu lah..

Bisa dikatakan, di bulan Ramadhan ini, malaikat sedang sireng-sireng, malaikat bisa sedikit sombong jika patokannya adalah sikap dan perilaku manusia.

Dibalik permusuhan yang layak disejajarkan dengan kerasnya laga el classico, ternyata dua makhluk ghaib ini menyimpan keakraban melebihi petinggi parpol yang baru islah. Berikut adalah transkip rekaman percakapan mereka :

Malaikat : “Blis, piye kabarmu? “

Iblis : “Mumet ndasku Mal?”

Malaikat : “Pusing gimana? Ndang beli obat di warung gih

Iblis : “Bukan pusing penyakit bro, rumangsamu. Aku ini sedang pusing mikirin manusia. Dibulan ini aku ditinggalin mereka, dicuekin, di-php-in, padahal selama sebelas bulan terakhir kita itu sahabat karib. Kemana-mana bareng, aku selalu ada dan menemaninya setiap saat”.

Malaikat : “Wah kayanya kok ngenes banget dirimu ya Blis. Sini lanjutkan curhatmu sama kakak..”

Iblis melanjutkan ceritanya dengan muka manja dan memelas.

Iblis :“Aku selalu disampingnya, menjadi pasangan serasi, bahai kaus kaki kanan dan kiri, bagai bagai tukang parker liar dan peluitnya, bagai g-string dengan bh. Tapi apa?! Apa?! Sekarang kok aku ditinggalin kaya gini, jahat! Dasar iblis!”

Malaikat : “Woy! Yang iblis itu situ..”

Iblis : “Oh iya Mal, map kebawa esmosi”

Malaikat :”Memangnya selama ini kamu menemani manusia dimana dan kemana saja Blis, kok segitu teganya manusia ya”

Iblis :”Ya dimana dan kemana aja, everytime, 24 jam buka full, kaya toko-toko kapitalis Apamart dan Idomart dikota-kota itu. Aku menemaninya ketika ujian semester, menemaninya ketika manusia hanya berdua dengan pacarnya, menahan manusia untuk menyaksikan serunya Boy dan Reva saat akan beranjak shalat, bahkan aku sering juga menemaniya ketika shalat itu sendiri, dan masih banyak lagi pokoknya, toh mereka selama ini mau-mau aja tuh..”

Malaikat : “Hahaha..syukurin!”

Iblis : “Celeng tenan koen! Malah ngece! Tak keplaki ndasmu lho Mal!

Malaikat : “Sabar-sabar…orang sabar disayang Tuhan..”

Iblis :”Aku iblis je! Bukan orang!”

Malaikat : “Hehe sorry-sorry, lupa. Sebenarnya dibalik kegiranganku ini aku juga menyimpan kesedihan dan keprihatinan Blis..”

Iblis : “Kasian tenan…Sini curhat sama adik…”

Malaikat :”Gini Blis! Dengerin yo! Jangan mbudeg! Apalagi ditinggal nghayal sama Ameri Ichinose. Dengerin..”

Iblis ngangguk-ngangguk dengan bibir yang melongo tanda serius.

Malaikat :“Bukan cuma kamu aja yang digituin sob. Manusia juga sering mengabaikan aku, meninggalkan aku, menganggap aku tak ada, padahal aku selalu disampingnya mencatat apa yang dilakukan seluruh anggota tubuhnya. Bahkan aku lebih ngenes daripada kamu blis! Kamu dicuekinya cuma sebulan, aku itu sebelas bulan ndes! Bayangin! Bayangin!”

Jelas malaikat yang mulai agak mewek

Iblis “ Sik! Sik! Tunggu! Aku gak salah dengar! Seorang malaikat bisa juga sedih dan prihatin tho?”

Malaikat : “ Aku malaikat je! Bukan orang!”

Iblis :”Asyik…1-1 ya, lanjutkan!”

Malaikat :“Ya jelas aku bisa sedih dan prihatin lah, orang aku mah apa atuh, aku kan cuma malaikat-malaikatan karangannya mamas manis yang nulis dialog ini. Bukan malaikat beneran. Kamu juga iblis-iblisan kok, kamu sukanya gitu lah Blis, pura-pura gak tau, aktingmu garing tau!”

Iblis :”Hehehe…

Mereka berdua cengar-cengir dan beranjak pergi untuk main petasan.

setiap anah itu hebat

Pada Dasarnya Setiap Anak itu Hebat !

Pada Dasarnya Setiap Anak itu Hebat ! Anak bagi para orang tua merupakan pelengkap kebahagiaan berkeluarga, tak jarang demi anak orang tua bisa melakukan apa saja asalkan dapat membahagiakan anak yang dicintainya.

Tidak ada orang tua di dunia ini yang tidak menginginkan anaknya untuk mendapatkan kebahagiaan, curahan kasih sayang seakan tak pernah henti meski anaknya sudah dikatakan dewasa.

Meski saya belum mempunyai anak, hampir setiap hari saya berinteraksi dengan anak-anak, mengamati gerak-gerik mereka yang sering kali mempunyai saya tertawa sendiri.

Anak memang hal yang luar biasa yang dihadirkan di dunia ini, dengan canda tawanya, kepolosannya seakan membuat dunia ini menarik, hidup dan berwarna.

Bagi pasangan yang belum dikaruniahi anak pun demikian, kehadirannya dinantikan, segala bentuk cara  dilakukan demi mendapatkan anak.

Memang anak itu sesuatu yang istimewa, bahkan sesekali dalam pikiran orang dewasa pun kerap menginginkan kembali ke masa anak-anak dulu, yang begitu riang menjalani hidup.

Tidak semua orang tua paham cara mendidik anak, dengan latar belakang keluarga dan pendidikan yang berbeda, ini yang merupakan faktor utama dalam membesarkan  seorang anak.

Seorang ibu lebih dominan untuk meletakkan pondasi karakteristik moral dan intelektual seorang anak, tak jarang laki-laki sekarang cenderung memilih pasangan yang mempunyai pengetahuan yang baik untuk mendidik keturunannya.

Pengetahuan mendidik anak ini perlu supaya anak kita kelak menjadi pribadi yang tangguh, cakap dan berbudi luhur.

Dalam proses membesarkan anak memang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, ada konflik-konflik dalam dinamika berkeluarga termasuk soal membesarkan anak.

Perbedaan pendapat seringkali mucul dengan pasangan hidup kita tentang cara mengasuh anak yang baik.

Ketika anak sudah tumbuh menjadi besar pun justru perselisihan semakin banyak, kalau di atas tadi perselisihan antara ayah dan ibu, nah sekarang anak bisa juga dengan Si anak.

Orang tua sekarang cenderung menginginkan anaknya menjadi semacam robot, harus ini, harus itu, harus nurut sesuai kehendak orang tauanya.

Anak menjadi korban keinginan orang tua, bila komunikasi dengan anak tidak terjalin dengan baik, kita sebagai orang tua juga harus membuang ego, mau membuka ruang untuk anak, membiarkan dia memilih apa yang dia inginkan termasuk juga soal cita-cita.

Kebanyakan antara cita-cita seorang anak dan orang tua cenderung berbeda, sebagai orang tua seharusnya tidak memaksa, bairkan saja anak yang memilih jalan hidupnya sendiri.

Dalam kenyataan sekarang anak yang dikatakan pandai adalah anak yang dalam mata pelajaran tertentu mendapatkan nilai yang baik, semisal pelajaran matematika anak mendapatkan nilai 100, berarti dalam pengertian sekarang anak tersebut dalam kategori pandai.

Padahal setiap anak mempunyai kecederungan dan keahlian tertentu, kita juga jangan keburu menjustifikasi bahwa anak yang katakanlah matematikanya jelek, berati anak itu bodoh.

Bisa juga dalam mata pelajaran yang lain semisal Bahasa Inggris anak itu mendapatkan nilai yang baik.

Ada juga anak yang dalam hal akademik kurang menonjol tetapi dalam nilai ketrampilan luar biasa hebat.

Bahwa dalam perkembangan anak ada yang namanya Hard skill dan Soft skill, hard skill lebih keranah pikiran, sementara soft skill  lebih ke ranah ketrampilan.

Kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus tahu itu, supaya cara mendidik anak tidak salah, sejak dini orang tua harus paham kecerendungan anak kita diwilayah mana karena pada dasarnya setiap anak itu hebat.

Satu hal yang dikesampingkan dalam dunia sekolah sekarang adalah karakter (sikap), sikap baik ini penting ditanamkan sedari kecil. Masalahnya pintar saja tidak cukup untuk menjadi manusia yang sesungguhnya.

Semoga Bermanfaat !