Arsip Kategori: Motivasi

Buat Apa Kuliah dan Berpendidikan? Nyatanya Gelar Sarjana Tak Menjamin Kesuksesan !

Nasehat Berharga untuk Para Fresh graduate

Anda baru saja lulus? Anda seorang freshgraduate? Silahkan Anda melanjutkan untuk menyimak artikel ini.

Seseorang yang baru saja berhasil meraih gelar sarjananya entah itu S1 atau S2 yang mana belum mempunyai pengalaman pekerjaan dalam masa waktu kurang dari satu tahun, itu biasanya masih mempunyai rasa idealism yang tinggi.

Mereka sangat berambisi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai bidang studinya, gaji yang besar dan pelayanan pihak kantor yang menyenangkan. Prinsip tersebut biasanya membawa kebanyakan orang freshgraduate tersebut menjadi sangat pilah pilih mengenai pekerjaan yang hendak mereka lamar.

Faktor tersebut kadang membawa sebagian freshgraduate hanya menghabiskan waktu freshgraduate nya untuk berpikir tanpa bergerak.

Lantas setelah kejenuhan dalam diri freshgraduate tersebut meradang, entah itu setelah habis masa freshgraduate nya atau dalam masa freshgraduatenya, mereka barulah membuka diri mereka untuk menghilangkan prinsip idealism tersebut.

Nasehat untuk Fresh Graduate

Fresh Graduate

Mereka mulai bergerak kreatif dengan mencari-cari peluang yang lain dengan segala cara agar ia mendapatkan pekerjaan. Namun tak semua dari mereka dapat melempar rasa idealism begitu saja hingga mereka mendapatkan pekerjaan yang apapun, ada sebagian mereka yang menjadi depresi karena prinsipnya tak segera terwujud, ada yang menganggur bertahun-tahun hingga lupa rasanya ambisi mencari pekerjaan atau pun kemungkinan yang lainnya.

Anda yang termasuk freshgraduate baru tidak usah takut atau pun cemas dengan keadaan yang seperti itu. Disini kami akan sedikit berbagi trik dalam menghadapi masa freshgraduate.

Masalah rezeki dan pekerjaan sebenarnya itu masalah nasib seseorang. Namun Allah telah menjajikan kepada seseorang yang mau berusaha dan berdoa maka ia dapat merubah nasibnya untuk menjadi lebih baik.

Hal yang paling utama Anda lakukan hendaknya Ana bertaubat terlebih dahulu kepada Allah SWT. Bertaubat agar segera diampuni atas dosa-dosa kita yang telah lalu. Karena sesuatu dosa yang pernah dilakukan seseorang juga dapat menutupi atau menghalangi rezeki mereka.

Hal Kedua setelah bertaubat adalah beribadah dan berdoa yang rajin agar selalu ditunjukan jalan yang diridloiNya dan ditunjukan jalan untuk mendapatkan rezeki yang halal dan thayyiban.

Orientasi dalam mencari pekerjaan Anda jangan lah untuk uang, namun untuk ibadah. Dengan bekerja kita dapat membantu biaya untuk kehidupan orang tua kita, istri kita, bisa menambah sedekah kita dan ibadah lainnya. Yang menunjukan tempat pekerjaan yang menjamin rizki dan kehidupan seseorang adalah Allah SWT, pasrahkan saja, yang penting kita wajib melakukan ikhtiar lho yah…

Maka kita harus selalu berusaha dekat denganNya dengan cara menambah ibadah-ibadah kita. Menyadari bahwa hidup adalah tentang kita dengan Tuhan, dan kita dengan alam.

Trik yang ketiga adalah terus berusaha mencari info lowongan pekerjaan. Carilah pekerjaan yang benar-benar halal, pekerjaan yang tidak menjauhkan kita dengan rasa syukur dan yang pastinya pekerjaan yang direstui oleh keluarga kita. Jangan pernah gegabah dan stress, tetap bersabar dan terus lah berusaha dengan rasa optimis diri.

Hal terakhir adalah tawakal. Kita wajib menyerahkan segala hasil atas jerih payah kita setelah berdoa dan berusaha. Karena hanya Allah lah yang berhak memutuskan itu semua. Lakuka segalanya secara ikhlas lillahita’ala.

Waktu luang yang Anda dapatkan dalam masa pengangguran ini adalah cobaan bagi Anda tentang bagaimana Anda akan melaluinya, bagaimana Anda akan tetap bersuykur atau tidak, bagaimana Anda akan tetap dengan Allah atau tidak.

Anggap saja semua waktu luang ini adalah hadiah emas Anda untu merehatkan badan Anda dari kesibukan duniawi, namun tak berarti Anda menjadi pengangguran Anda juga menjauh dari kesibukan akhirat. Manfaatkan waktu luang Anda sebaik mungkin.Mungkin Allah ingin melihat kita sholat berjamaah tiap waktu di masjid.

Baca juga : Sarjana Pengangguran

Mungkin Allah ingin melihat Anda tilawah yang rajin. Mungkin Allah ingin melihat Anda mempunyai waktu berkumpul silaturahmi dan birul walidain dengan keluarga. Dan segala kemungkinan positif lainnya.

Menuju Jiwa Yang Merdeka

Menuju Jiwa Yang Merdeka

Menuju Jiwa Yang Merdeka – Kehidupan memang unik bahkan saking uniknya kadangkala kita menertawakan diri sendiri. Memusuhinya bahkan mengutuk.

Loh kok bisa? Ya memang seperti itulah adanya, contohnya kita seringkali kalah dalam “pertarungan”, kita merasa prustasi lalu mengatakan diri kita bodoh.

Hidup terdiri dari dua sisi kebahagiaan dan kesedihan, keduanya sama-sama mempunyai porsi yang seimbang. Tidak ada manusia yang selamanya merasa bahagia dan tidak pula ada manusia yang selamanya menderita.

Namun kenapa kita seringkali mengeluh untuk menjalankan hidup ini? Secara sederhana jawabnya mungkin kita kurang bersyukur, namun apakah hanya karena itu?.

Ilustrasi olah jiwa

Toh ketika kita sudah bersyukur pun, masih saja mengeluh dan berprasangka tidak baik kepada Sang pencipta.

Ya memang tidak sesederhana menyebut kata syukur saya pikir, namun lebih kepada esensi syukur yang diaplikasikan lewat aktifitas sehari-hari.

Mensyukuri apa yang sudah kita punya saat ini, misalnya kita sudah punya pekerjaan maka bentuk rasa syukur itu adalah kita bekerja sebaik mungkin dalam pekerjaan yang sudah kita dapat. Ini bentuk paling riil dari syukur.

Apabila kita menginginkan sesuatu berusahalah dengan sekuat daya untuk mencapai apa yang kita inginkan. Untuk itu kita perlu jiwa yang merdeka, jiwa yang bersih dari segala nafsu dan prasangka.

Karena jiwa yang merdeka akan melekat pada kecerdasan otak, kemampuan memahami sesuatu dan nalar baik untuk berpikiran maju.

Memang untuk mencapai ketingkatan sana tidak mudah, namun kita juga berhak untuk memperjuangkanya. Bukankah tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini apalagi jika Ia sudah berkehendak.

Penghalang utama manusia untuk “sukses” adalah “nafsu”. Sudah menjadi hal lumrah memang manusia memiliki itu. Namun bila tidak bisa dikontrol dengan baik nafsu juga yang akan mengantarkan manusia kepada jiwa yang kerdil.

Manusia seringkali menjadi jahat karena nafsu yang tidak terkendali. Contohnya ada orang yang menginginkan uang banyak namun tidak mau bekerja, alhasil ia menjadi koruptor.

Sexsualitas juga tak kalah penting untuk dicermati dalam dinamika nafsu ini, kebanyakan orang mengabaikan itu semua. Imbasnya sekarang banyak terjadi pencabulan, dan tindak pemerkosaan.

Orang yang sudah terjerat nafsu ini akan sulit keluar, karena menurut penelitian para ahli otak manusia akan memikirkan sex puluhan kali dalam sehari.

Selain itu juga ada beberapa hal yang bisa membelenggu jiwa manusia, seperti dendam dan iri hati.

Cobalah untuk mengiklaskan apa yang sudah terjadi, membuang sisa-sisa sakit hati dan membuang jauh-jauh dari ingatan kita.

Hal yang sudah terjadi takkan bisa kembali, lagian untuk apa dipikirkan. Menambah beban pikiran kita saja yang sudah dijubeli berbagai masalah yang ada.

Iya tidah mudah, namun ingat kita harus berusaha. Kita harus memperjuangkan jiwa kita untuk bisa merdeka.

Bila itu semua sudah bisa kita lakukan saya yakin, kita akan menjadi pribadi yang berkualitas, pribadi yang tenang, kuat, dan tentunya bersahaja.

Perkara hubungan kita dengan Tuhan urusan masing-masing. Kita tidak boleh mendikte orang. Belum tentu orang yang ritual agamanya rajin maka secara otomatis dia orang baik.

Tidak juga, yang sedang kita bicarakan esensinya bukan wujud fisik yang kasap mata, banyak juga pemuka agama yang taat beribadah namun terjerat banyak kasus kejahatan.

Kita harus berusaha melepaskan belenggu-belenggu di atas yang seringkali dominan dalam jiwa setiap orang. Mari berusaha bersama untuk menuju jiwa yang tenang, jiwa yang merdeka.

Baca Juga: Tidah Hanya Tubuh Jiwa Kita Juga Perlu Eksistensi

Tips Menjadi Pelajar Berprestasi

Tips Menjadi Pelajar Berprestasi – Menjadi berprestasi adalah keinginan semua pelajar. Berprestasi adalah berhasil mencapai hasil maksimal dengan mengungguli competitor/pesaing disekitarnya, dalam hal ini adalah siswa lain.

Pelajar Berprestasi

Pelajar Berprestasi

Prestasi belajar bukan hanya kamu dapat nilai tertinggi dalam raport. Tapi berprestasi banyak jenisnya. Ada 5 aspek yang membedakan prestasi belajar, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Jadi jika kamu merasa sangat sulit untuk menyaingi temanmu dalam bidang nilai kognitif, kamu bisa mendapatkan prestasi dalam aspek yang lain, olahraga misalnya. Karena Tuhan menciptakan manusia dengan bakat yang berbeda.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa membuatmu untuk menjadi pelajar berprestasi:

Punya Mainset Pemenang

Mainset adalah pola piker. Bahasa lebih sederhananya adalah kepercayaan dan keyakinan untuk dapat meraih prestasi tinggi. Untuk berprestasi kita harus percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki.

Temukan Potensi Diri

Prestasi berhubungan dengan potensi. Potensi adalah kemampuan atau kekuatan yang dapat dikembangkan. Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda-beda, temukan potensimu sedini mungkin, karena engkau akan mempunyai waktu yang lebih panjang untuk mengembangkan. Potensi biasanya berawal dari hobby.

Punya Ambisi tapi Bukan Ambisius

Jika ingin berpestasi kamu harus punya target yang tinggi. Kamu jangan bercita-cita menjadi biasa saja. Kamu harus melakukan apapun untuk dapat meraih target yang ditentukan tersebut. Tapi ingat, walau begitu kamu harus tetap menggunakan cara-cara yang positif, tidak boleh bermain curang misalnya. Lakukan dengan segala cara tapi tidak boleh menghalalkan segala cara.

Mau Terus Berlatih

Jika mau berprestasi, kamu harus terus melatih apa yang menjadi keinginanmu itu. Kegagalan adalah hal biasa, jadi yang harus kamu lakukan adalah bangkit kembali. Kelemahan kebanyakan orang adalah karena rasa malas, enggan memaksa dirinya. Rajin dan tekunlah melatih diri, maka prestasi hanya akan menunggu waktu.

Memanfaatkan Waktu

Waktu adalah hal sesuatu yang tak bisa berulang. Setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam, tidak ada yang lebih dan tak ada yang kurang, sama. Tapi kadang orang berbeda dalam pemanfaatannya. Orang yang akan berprestasi akan disiplin memanfaatkan waktu yang ada. mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Sebagai pelajar, kita harus mempunyai agenda dan jadwal kegiatan. Mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi. Mau memaksa diri untuk berdisiplin adalah kunci prestasi, sekaligus konsisten.

Mempunyai Mentor

Sehebat apapun Christiano Ronaldo, Justien Bieber dan tokoh-tokoh hebat lainnya tidak akan dapat menorehkan berbagai prestasi gemilang tanpa adanya mentor/pelatih. Peran seorang mentor adalah membantumu untuk menggali potensimu secara maksimal, membagi pengalaman untuk selanjutknya ditularkan ke kamu.

Baca juga : 6 Musuh pelajar

Kamu bisa mencari mentor sesuai dengan potensi yang kamu miliki, misalnya kamu ingin berprestasi dalam olahraga basket berarti kamu harus dekat dengan pelatih atau pemain senior basket.

Menjaga Pergaulan

Menjadi gaul itu harus. Tapi pergaulan yang sebebas-bebasnya itu jangan. Kamu harus pintar-pintar memilih teman, mana yang kira-kira akan membawa kebaikan dan keburukan, bukan cuma sekedar senang-senang.

Gaya Hidup yang Baik

Gaya hidup yang buruk menciptakan disiplin yang buruk pula. Orang yang kurang terkontrol tidak akan menjadi orang yang berprestasi. Hedonis, tidur larut malam, merokok, bahkan minum-minuman keras adalah contoh dari hal buruk yang harus kamu hindari.

Berbakti dan Berdoa

Kita harus sadar bahwa ada kekuatan lain diluar diri kita yang akan mempengaruhi prestasi. Yaitu kehendak Tuhan dan ridho orang tua. Berdoalah dan minta restu setiap akan melakukan/mengerjakan sesuatu, dengan begitu segala kesulitan pasti akan dimudahkan.

Orang Hidup Harus Cemas, Harus banyak Pertanyaan

Orang Hidup Harus Cemas, Harus Banyak Pertanyaan

Orang Hidup Harus Cemas, Harus Banyak Pertanyaan – Melihat tayangan salah-satu produk iklan yang mengemasnya dalam bentuk mini film ispiratif membuat aku ingin menulis tentang ini, sebuah dilema rasa yang mungkin setiap orang alami.

Siapa orang yang tidak merindukan kenyamanan? Hampir seluruh dari kita sebagai manusia merindukan itu. Namun kenyataanya tidak sesederhana apa yang kita bayangkan. Ada hal lain yang tidak mudah kita ucapkan yaitu soal kejenuhan.

Dikiranya kalau hidup kita sudah enak kita bisa merasakan kebahagiaan, belum. Belum tentu juga. Bahagia itu soal rasa. Bukan berwujud benda atau materi glamour yang menyilaukan mata.

Ilustrasi kecemasan seseorang

Untuk mencapai kebahagiaan mau tidak mau kita dipaksa untuk menjalankan penderitaan terlebih dahulu. Ketidakbahagiaan merupakan bagian dari hidup ini. Maka tak usalahlah kaget karena memang sudah seperti itu adanya.

Pernah berpikir kenapa kita diberi rasa cemas?

Bahwa memang manusia mungkin diciptakan untuk cemas. Untuk bisa merasakan kegundahan. Mencari sesuatu yang membuatnya tenang. Karena kita harus terus berjalan. Ketika tidak ada rasa cemas manusia akan stragnan.

Padahal rumus hidup adalah bergerak, manusia yang stagnan adalah manusia mati. Bisa dikatakan mayat. Kalau kita sudah mati barulah manusia mempunyai hak untuk diam.

Selama manusia masih menghirup udara secara gratis maka dia harus membayarnya dengan gerak. Dengan aktivitas yang menandakan bahwa dia masih hidup.

Kecemasan membuka jalan manusia untuk terus berjalan untuk mencari kebahagiaan, untuk terus berpikir, meski prosesnya tidak gampang, perlu perjuangan untuk melewati semua.

Masalah adalah energi untuk menggerakan alam, agar seimbang, karena dengan adanya masalah, kehidupan akan terus berputar, dengan segala warna-warninya, keluh-kesahnya dan kemudian akan kembali ke biasa (bahagia).

Orang yang berbahagia adalah orang yang bisa menyelesaikan masalah, sedangkan masalah identik dengan cemas. Maka kalau ingin merasa bahagia kita mesti mau merasakan cemas.

Kenapa hidup harus banyak pertanyaan?   

Ada beberapa orang yang bilang bahwa “hidup adalah rangkaian pertanyaan yang tak berputus”. Di dalam penemuan jawaban akan muncul pertanyaan baru, demikian seterusnya hingga nalar tak bisa menerka.

Lalu kenapa hidup kita banyak pertanyaan. Ya karena manusia memang dianugerahi akal, sedangkan akal akan banyak memunculkan pertanyaan.

Proses mencari pertanyaan ini yang membuat hidup terasa tak monoton bukan, membuat penasaran akan jalan keluar apa yang bisa dilalakukan kita dalam segala problematika yang ada.

Namun masalahnya adalah tidak semua orang terlahir sudah dengan pemikiran yang mapan, ada beberapa orang yang memulai semua dari awal untuk memapankan pikiranya menjadi mudah mencerna tentang masalah kehidupan.

Bila pola pikirnya sudah terbentuk. Tidak masalah dengan kecemasan-kecemasan yang melanda kehidupuan. Namun bila tidak? Masalah adalah momok yang menakutkan. Tak jarang karena itu manusia mengambil jalan pintas. Mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Hidup memang penuh tekanan, dimana tekanan hidup kadang membuat manusia menjadi depresi, bila mental tidak siap kita bisa gila. Beruntung bagi kita yang masih waras. Meski perilaku kita kadang melampaui orang gila.

Dikiranya hidup itu kebahagiaan. Tidak. Hidup adalah penderitaan, dikiranya hidup itu pilihan. Bukan, hidup adalah paksaan. Memaksa diri kita untuk bisa bertahan di atas kerasnya dan munafiknya manusia sebagai sosok dewa baru penghuni bumi.

Semoga bermanfaat !

Baca juga :

Simpan

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Hidup Ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan) – Melihat kesuksesan beberapa teman saat masih di bangku sekolah dulu dengan segala prestasi yang sudah didapat, rasa senang ikut mengembang dalam sebuah senyuman saat kita bisa berkumpul beberapa hari yang lalu.

Biasa, saat ketemu teman sekolah dulu hal pertama yang selalu kita bicarakan adalah mengingat-ingat masa sekolah dulu, dimulai dari kenakalan hingga percintaan yang tak pernah ada ujung.

Sebagai seorang yang biasa-biasa saja waktu sekolah dulu, yang tak pernah aktif dikegiatan sekolah baik OSIS maupun Pramuka dan kegiatan-kegiatan yang lain. Aku pun berteman dengan anak-anak yang biasa-biasa pula.

Hidup ini Milik Para Pejuang (sebuah perjalanan)

Bukan anak yang penting di sekolah seperti pengurus OSIS atau punggawa-punggawa yang lain dalam bidang tertentu yang bisa mengharumkan nama baik sekolah.

Tak banyak cerita mengenai kegiatan di sekolah, yang banyak justru dari perjalanan cinta dan kenakalan remaja pada saat itu.

Terlahir dari keluarga biasa dengan tampang yang biasa juga, aku tak mudah untuk mendapatkan apa yang diinginkan termasuk soal cinta. Heemm

Berbicara soal cinta jangan salah bro, meski dengan segala keterbatasan yang ada, aku termasuk pejuang cinta yang hebat. Entah hebat atau gak tau malu juga sih sebenarnya., Soalnya bolak-balik di tolak cewe tetep aja maju. Haha

Cerita dikit boleh ya. Waktu dulu zaman SMP aku suka dengan seseorang cewe sebut saja namanya “Upil” dia anak yang pintar, aktif di organisasi, cantik, putih, aduhai dan segala kata yang menggambarkan dia sebagai sosok perempuan yang nyaris sempurna.

Melihat gadis seperti itu naluri aku sebagai laki-laki memuncak (bukan horny), aku mulai mendekati gadis itu secara serampangan, dimulai dari memaksa mengajak berkenalan, sok-sokan mengirimkan bunga (plastik). Sampai mengajak berkelahi pacarnya. Haha

Hampir setiap jam istirahat aku ke kelas si do’i dengan harapan bisa bertatap muka dengannya. Ehh harapan hanya tinggal harapan, jangankan mau bertatap muka, ketika si do’i lihat aku saja langsung kabur.

Mungkin si do’i takut kali melihat aku yang bermuka hitam (areng) dengan tubuh kecil rambut dan baju kucel, bagai melihat penampakan di pojok sekolah yang konon dulu ada.

Perjuangan belum berakhir bro, tidak bisa ketemu di jam istirahat tidak masalah, masih ada waktu yang lebih senggang yaitu saat pulang sekolah. Saat mendengar bel pulang sekolah saat itu pula sebuah kebahagiaan bagi saya.

Dengan cepat aku bergegas ketempat sepeda, menyiapkan sepeda si do’i agar tidak terhalang oleh sepeda lain. Jika sepeda si do’i sudah dipastikan terparkir dengan baik dan siap untuk digunakan maka aku hanya tinggal menunggu si do’i untuk (berharap) mau pulang bersama.

Hemm… aku pikir si do’i senang, eh malah nyuruh orang untuk mengambilkan sepedanya. Karena do’i sudah tau melihat dari kejauhan, bahwa aku sedang berada di dekat sepedanya.

Aduh malang bener nasibku ini, tak masalah. Aku kan bisa membuntuti dia dari belakang pikirku, dengan sepeda tua yang rantainya mudah copot, aku mengikuti do’i dari belakang, dalam perjalanan aku sapa dia, dengan harapan ada obrolan yang tercipta.

Lagi-lagi aku dibuat kecewa, hingga bersepeda sampai ke rumahnya tidak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya. Rasa jengkel, marah, sebel mengeruak. Dari situ siapapun yang berani mendakati si do’i akan saya hajar termasuk pacarnya. Haha

Dulu memang aku termasuk jagoan di sekolah, meski dengan tubuh yang relatif mungil banyak anak yang segan denganku, meski lebih banyak juga yang berani sih. Haha

Proses mendekati si do’i hampir setiap hari, kurang lebih berjalan hingga 1 tahun. Hingga waktu juga yang tak bisa diajak berkompromi, karena kita sudah dinyatakan sama-sama lulus di sekolah tersebut. Selepas lulus. Hampir tiga tahun jarang sekali berkomunikasi, dia berada di sekolah negeri favorit sedangkan aku di sekolah swasta biasa.

Hingga waktu juga yang akhirnya menemukan kita kembali. Tanpa disangka-sangka akhirnya kita kuliah di kampus yang sama. Rasa yang dulu juga masih sama dengan perilaku yang berbeda tentunya.

Memasuki bangku kuliah sudah banyak perubahan dihidupku. Aku termasuk anak yang aktif, banyak kegiatan yang aku ikuti yang akhirnya membentuk diri menjadi lebih baik (menurutku). Dari organisasi kampus seperti BEM dan organisasi luar kampus pun tak luput dari lahan prosesku.

Bertemu dengan orang yang dulu pernah menghiasi pikiranku (meski dia tak pernah mememikirkanku) rasanya sungguh menyenangkan, ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Cieh

Melihat berubah dan berkembangnya aku nampaknya si do’i lumayan kaget, dulu dimata dia aku hanya seorang anak hitam yang nakal dan hobi berkelahi.

Tapi sekarang coba lihat (sambil ngaca) berubah menjadi remaja yang gagah rupawan jadi Dewan Mahasiswa pula. Hahaha

Pernah suatu hari kita juga dipertemukan saat lomba karya tulis ilmiah di kampus, aku harus mempresentasikan hasil penelitian dihadapan dewan juri melawan kelompok yang salah-satu anggonya adalah si do’i.

Dalam hati aku berkata (dengan pandangan sinis) “heem inilah saatnya aku buktikan pada dia bahwa aku sudah berubah”. Tak disangka-sangka ternyata hasilnya diluar dugaan. Kelompokku yang menang dan berhak mewakili kampus dalam tingkatan lomba yang lebih tinggi.

Tapi itu tidak cukup membuat hati si do’i luluh, dia tetap saja pada pendirian yang sama seperti 8 tahun yang lalu dia kembali menolakku.

Sekarang apa hubunganya kisah di atas dengan kalimat “hidup ini milik para pejuang”. Jadi begini bro “bahwa hidup itu perjuangan”, kita perlu memperjuangkan atas apa yang kita inginkan (termasuk cita-cita).

Kisah di atas mengambarkan kalau aku tidak ketemu si doi, aku mungkin tidak pernah tahu makna perjuangan itu seperti apa? Yang kita tahu mungkin hanya sekedar kata-kata pemanis benner saja, dalam praktik kita bingung.

Segala sesuatu di dunia ini tidak gratis bro, perlu perjuangan, perlu pengorbanan untuk dapat memperoleh hasil yang pantas, jangan hanya duduk manis di rumah saja. Mari keluar rumah. Perjuangkan apa yang menjadi keyakinan kita.

Bersyukur dulu aku dipertemukan dengan si do’i, karena dengan bertemu dia, aku bisa menjadi pejuang, mengajarkan hal yang jauh lebih besar melampaui sekedar kata cinta.

Menjadi pejuang itu perlu latihan, siapa yang terlatih dia yang akan mendapat ganti yaitu kemudahan. Lagi-lagi aku harus katakan terimakasih pada si do’i karena berkat dia, aku terlatih untuk berjuang sedari kecil.

Sekarang kita sudah sama-sama tumbuh menjadi dewasa, kau sudah ada pasangan dan aku. Hemm,, masih sendiri. Namun ada hal yang jauh lebih penting, yaitu soal makna perjuangan. Minimal berjuang untuk bisa bertahan hidup.

Semoga bermanfaat, biarkan semua mengalir apa-adanya kita hanya tinggal menjalankan yang terbaik yang bisa kita lakukan.