Arsip Kategori: Profil Dan Tokoh

7 Hal Menarik Tentang Hatta

7 Hal Menarik Tentang Hatta

7 Hal Menarik Tentang Hatta – Wakil Presiden Pertama Indonesia ini memang berbeda dari orang pada masanya, perilakunya aneh sedari kecil, tergolong orang yang teliti dan rapi.

Pernah suatu hari Hatta membeli blocknote, namun belum sempat digunakan olehnya, ternyata blocknote yang dia beli sudah digunakan oleh pamannya.

Seketika itu juga Hatta marah terhadap pamannya, pamannya pun meminta maaf dan Hatta menangis tak kunjung henti karena melihat Hatta seperti itu pamannya berjanji akan membelikan blocknote yang jauh lebih bagus.

Ilustrasi Bung Hatta

Namun apa yang terjadi? Hatta tetap menolak malahan tangisannya semakin keras, Hatta merasa kecewa dengan pamannya karena memakai blocknotenya tanpa bilang terlebih dahulu.

Itulah sekilas gambaran mengenai menariknya Hatta, sekarang mari kita ulas hal-hal menarik lainya:

1. Tak Membalas Meski Dikasari

Hatta kecil terkenal pribadi yang sangat disiplin, bahkan ia pun kerap menuntut orang lain untuk bersikap demikian.

Setiap kali orang yang meminjam bukunya harus dikembalikan tepat waktu, jika terlambat Hatta marah dan biasanya orang tersebut akan mendapatkan hukuman berupa tak boleh lagi meminjam bukunya.

Meski Hatta berperilaku demikian ia sebenarnya baik hati, contoh sewaktu kecil ia bermain sepak bola, ada teman yang bermain kasar. Namun dia tidak marah, malahan ia mengingatkan kepada lawanya untuk bermainlah secara sportif.

2. Tak Pernah Absen ke Surau

Lahir dali keluarga ulama membuat Hatta tumbuh dengan sikap yang religious, ia merupakan orang yang taat beribadah.

Pelajaran Agama ia peroleh dari Syekh Djamil Djambek, ia belajar mengaja hingga khatam membaca Alquran.

Hatta tergolong anak yang pandai dan rajin dalam mengaji ia tidak pernah absen ke Surau selama proses pendidikan Agama dilakukan.

3. Gemar Bermain Sepak Bola

Masa kecil Hatta tidak hanya diisi oleh ilmu dan Agama saja, namun seperti laki-laki pada umunya ia pun senang bermain.

Sepak bola merupakan permainan kesukaanya, Hatta juga tergabung dalam klub sepak bola bernama Young Fellow, yang pemainya terdiri dari anak-anak Belanda dan pribumi.

Klub ini pernah menjuarai liga Sumatra selama tiga tahun berturut-turut, dan Hatta menjadi salah-satu pemain penting dalam klub tersebut sebagai gelandang tengah dan sesekali menjadi bek.

4. Hanya Dua Tahun di Sekolah Rakyat

Hatta menghabiskan sebagian besar waktu kecilnya untuk belajar, ia sudah menguasai beberapa kosakata asing, siang hari belajar di Sekolah Melayu Paripat, sorenya ia les Bahasa Belanda.

Kegilaanya terhadap ilmu ditopang oleh keluarganya, hanya dua tahun ia di sekolah rakyat lalu kemudian pindah ke sekolah ELS, sekolah dasar untuk anak-anak Belanda di Bukittinggi.

5. Suka Kerapian dan Keteraturan

Hatta kecil hidup sangat rapi dan teratur. Salah-satunya soal uang saku yang diberikan oleh neneknya. Uang itu akan disusunnya sedemikian rupa di atas meja tulisnya. Bila dirasa sudah cukup maka akan dimasukan ke Tabungan.

Uniknya kalau ada orang yang menukar susunan uang itu, ia akan mengetahui, pun dengan barang-barang lain. apalagi buku-bukunya.

6. Aktif di Organisasi

Kecintaan Hatta dengan organisasi sudah tumbuh sejak usia 15 tahun dengan mulai aktif di Jong Sumatranen Bond (JSB) atau Perkumpulan Pemuda Sumatra.

Aktif di organisasi membuat Hatta mempunyai kesadaran bermasyarakat tinggi, hal tersebut ia peroleh dari pergaulannya dengan para aktivis Serikat Usaha, Semacam kamar dagang lokal.

Nalar kritisnya mulai terbentuk ketika itu, ia mulai menyadari tentang ketidakadilan yang banyak dialami oleh masyarakat pribumi.

7. Akrab dengan Ayah Tiri

Ketika Hatta berusia delapan bulan ia sudah harus ditinggal oleh ayahnya, Haji Muhammad Djamil meninggal dalam usia 30 tahun.

Kemudian ibunya menikah lagi dengan Haji Ning, seorang pedagang yang berasal dari Sumatra Selatan.

Hubungnya Hatta dengan ayah tirinya sangat dekat, layaknya hubungan ayah dan anak kandung, sampai-sampai Hatta mengira bahwa Haji Ning merupakan ayah kandungnya.

Pada usia 10 tahun Hatta mengetahui bahwa Haji Ning ternyata bukan ayah kandungnya, namun itu tidak membuat keduanya menjadi bejarak. Melainkan malah semakin dekat karena memang Haji Ning juga begitu menyanyangi Hatta.

Demikian beberapa hal menarik tentang Hatta, semoga bermanfaat !

Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)

Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)

Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) – Dari asal namanya banyak orang mengira Douwes Dekker merupakan orang asli Belanda. Meski ia memang benar keturunan Belanda, namun kecintaaanya untuk negeri ini tidak usah diragukan lagi.

Dalam masa pergerakan Indonesia beliau aktif sebagai salah satu motor gerakan menuntut Hindia Belanda untuk tidak lagi bersikap tidak adil kepada warga asli pribumu yaitu Indonesia.

Douwes Dekker kerap kali terlihat dengan tokoh-tokoh gerakan Indonesia pada saat itu seperti Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo. Yang bercita-cita memerdekaan Indonesia dari Hindia Belanda. Atas perilakunya itu beliau mendapat tekanan dari keluarganya sendiri yang memang berasal dari Belanda.

Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)

Pergulatan batin antara keluarga dan nasib masyarakat Indonesia yang sudah sangat beliau cintai, kerap kali hadir namun beliau lebih memilih memperjuangkan hak dan kewajiban rakyat dari pada keluarganya yang berasal dari Belanda.

Douwes Dekker lahir di Pasuruan Jawa Timur, pada tanggal 8 Oktober 1879. Dari kecil jiwa kepedulianya besar melihat diskriminasi antara orang Hindia Belanda dan pribumi, ia menghendaki tidak ada lagi diskriminasi yang dilakukan Hindia Belanda di negeri ini.

Pria yang kemudia memilih nama Danudirja Setiabudi sebagai nama Indonesia ini bila ditelusuri hanya memiliki seperempat darah Indonesia. Namun darah Jawa yang mengalir di tubuhnya merupakan darah yang termurni dan terkuat menurut beliau.

Douwes Dekker selalu bangga memiliki darah pribumi. Ayahnya bernama Augustus Henri Eduard. Sedangkan ibunya bernama Louisia Margaretha Neumann, wanita berdarah Jerman, Polandia dan Jawa.

Kehidupan Douwes Dekker dimulai di Pasuruan di kaki Gunung Semeru. Setelah menyelesaikan sekolah dasar dia melanjutkan ke Batavia di sekolah HBS( Hogere Burger Scool).

Setelah menyelesaikan sekolahnya Douwes Dekker kembali ke Jawa Timur, pada usia yang relatife masih mudi 18 Tahun. Ia bekerja di perkebunan kopi Sumber Duren di pegunungan Semeru.

Di dalam dunia pekerjaanya Douwes Deker, kerap kali melihat ketidakadilan yang ditunjukan kepada warga pribumi. Ia kerap kali membela bila warga pribumi diperlakukan semena-mena oleh Hindia Belanda.

Akibat perbuatannya yang kerap kali membela warga pribumi pada akhirnya atasannya memberhentikan dia dari pekerjaannya.

Selepas meninggalkan pekerjaan pertamaanya, beliau bekerja sebagai ahli kimia pada pabrik gula Pajarahan. Pasuruan. Ditempat bekerjanya yang baru kebiasaan dirinya untuk membela kaum pribumi tidak hilang. Karena Beliau kerap kali melihat kecurangan yang dilakukan Hindia Belanda. Mengenai pembagian irigasi antara perkebunan tebu milik Belanda dan sawah milik pribumi.

Pada usia 20 tahun Douwes Dekker pergi ke Afrika Selatan untuk menjadi relawan dalam perang Transvaalse Boeren dan tahun 1905 ia kembali ke Indonesia dengan membawa misi memerdekakan Indonesia.

Untuk mewujudkan keinginannya itu beliau akhirnya terjun ke dunia jurnalistik, menurutnya melalui surat kabar, beliau bisa melakukan propaganda untuk membangkitkan semangat nasionalisme.

Ia juga sudah mulai intens melakukan komunikasi dengan pejuang kemerdekaan yang lain. Douwes Dekker juga mengadakan hubungan dengan para mahasiswa pribumi yang bersekolah di STOVIA (sekolah dokter pribumi).

Beliau turut pula membantu perjuangan para mahasiswa STOVIA dalam gerakan kebangkitan nasional. Rumah beliau sering digunakan untuk berdiskusi yang berencana akan mendirikan Budi utomo, yang merupakan organisasi pergerkan pertama di Indonesia.

Namun setelah Budi Utomo berdiri. Douwes Dekker menganggap ruang gerak organisasi ini kurang luas. Hanya terbatas pada wilayah kebudayaan, hingga pada akhirnya beliau mendirikan partai politik yang fenomenal bernama Indische Partij pada bulan Desember 1912. Bersama Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) dan dr. Tjipto Mangunkusumo.

Itulah ulasan singkat mengenai biografi dan peran Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Semoga bermanfaat. Salam.

Dewi Sartika, Pejuang Pendidikan Perempuan yang Terlupa

Dewi Sartika, Pejuang Pendidikan Perempuan yang Terlupa – Meski namanya kalah populer dari R.A Kartini namun dalam segi kesetaraan pendidikan kaum perempuan, perjuanganya tidak kalah hebat dari Kartini. Dewi Sartika merupakan tokoh yang getol memperjuangkan nasib pendidikan perempuan di Indonesia.

Peran perempuan pada zaman penjajahan hampir tidak ada karena ketika itu bangsa kolonial memang memandang rendah kaum perempuan, tugas perempuan hanyalah soal kasur dan dapur.

Tiba-tiba munculah nama Dewi Sartika yang pelan-pelan mulai menonjolkan peran serta perempaun dikehidupan dinamika sosial masyarakat Indonesia.

Dewi Sartika kukuh pada pendirian bahwa perempaun juga bisa berperan dan bisa beliaundalkan, beliau menuntut persamaan hak dan perilaku agar dipandang sama dengan kaum laki-laki.

Perempuan yang dijuluki “Kartini Priangan” ini lahir di Cicalengka, Jawa Barat, pada tanggal 4 Desember 1884. Dewi Sartika dilahirkan dari darah priyayi Sunda. Yang memungkinkan beliau bisa mengakses sekolah.

Pada zaman kolonial hanya keturunan darah bangsawan saja yang bisa bersekolah, itu pun sekolah paling rendah yang dimiliki bangsa kolonial.

Ayahnya bernama Raden Rangga Somanegara, Patih Bandung ketika itu, sedangkan ibunya bernama R.A Rajapermas, putrid dari Bupati Bandung, R.A.A Wiranatakusuma IV.

Orang tua Dewi Sartika tergolong berpikiran pada zamannya, mereka ngotot untuk bisa menyekolahkan anak perempuanya itu, meskipun kedua orangtuanya harus mendapat tekanan dari masyarakat ketika itu, karena seorang perempuan tidak lazim untuk bersekolah.

Dewi Sartika mulai menimba ilmu dari seorang perempuan, yaitu seorang Asisten Residen Belanda materi pertama yang ia kenyam adalah kebudayaan barat.

Pemikiran krtitis beliau mulai muncul setelah beliau mulai menimba ilmu, beliau merasa semua perempuan pribumi harus mengenyam pendidikan yang sama seperti dia agar pemikirannya lebih maju.

Sadar akan keberuntunngan yang beliau dapatkan karena bisa bersekolah, akhirnya Dewi Sartika tidak menyia-nyikan kesempatan itu. Beliau selalu rajin belajar dan telah banyak melaharap ratusan buku-buku barat.

Minat terhadap pendidikan mulai muncul, bahkan beliau bercita-cita untuk memperjuangkan nasib perempauan pribumi agar kelak bisa mendapatkan akses pendidikan yang sama.

Dimulai dari lingkungan terdekat di belakang gedung kepatihan, Dewi Sartika biasanya akan mengumpulkan anak-anak pembantu di kepatihan untuk memperagakan hasil belajar yang beliau dapat. Beliau bisa dibilang berperan sebagai guru disana.

Beliau mengajarkan membaca, menulis dan juga berhitung kepada anak-anak yang berada di lingkungan tempat beliau tinggal, tidak hanya itu beliau juga behasil mengajarkan beberapa kosakata bahasa Belanda.

Setelah dewasa Dewi Kartika tinggal di Bandung bersama ibunya, cita-cita untuk memajukan kaum perempuan semakin bulat, beliau berniat mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan.

Namun langkah tersebut justru awalanya ditolak oleh pamannya sendiri, Bupati Martanegara, pamannya beralasan kegiatannya nanti akan melanggar adat dan nanti juga pasti ada penolakan dari Belanda.

Meski dilarang namun keinginannya tidak pernah padam, akhirnya dengan bujuk rayu dan melihat kesungguhan Dewi Sartika, pamannya akhirnya menyetujui keinginannya. Bupati Martanegara menyarankan agar membuka sekolah di pendopo Kabupaten Bandung untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Akhirnya Dewi Sartika membuka sekolah bagi perempuan pada tanggal 16 Januari 1904. Sekolah tersebut diberi nama sekolah “istri”. Mulanya muridnya hanya 20 orang yang terdiri dari dua kelas.

Lambat laun muridnya semakin banyak dan kapasitas di Pendopo Kabupaten hingga tak muat, akhirnya beliau memindahkan sekolahnya ke tempat yang lebih luas. Yaitu di jalan Ciguriang, Kebon Cau.

Beliau mengajari murid-murid perempuannya membaca, menulis, berhitung, menjahit dan menyulam. Selain itu murid-muridnya dibekali juga dengan pelajaran agama. Dalam mengajar beliau dibantu oleh dua orang saudaranya yaitu Ny. Uwit dan Nyi Purwa.

Namun ternyata perjuangan beliau untuk mengangkat derajat kaum perempuan dulu seperti dilupakan, tidak banyak buku-buku sejarah yang menulis tentang perjuangannya.

Nama beliau seakan tenggelam oleh nama besar R.A Kartini, padahal jika dilihat dari perjuangannya, ada yang bilang pengorbanan beliau untuk perempuan Indonesia lebih hebat dari R.A Katini.

Tentunya tulisan ini bukan bersifat membandingkan antara Dewi Sartika dan R.A Katini, keduanya mempunyai peran dan fungsi yang sama, hanya saja supaya kita juga tahu ternyata ada pahlawan emansipasi wanita selain R.A Katini. Khususnya bagi generasi muda selanjutnya.

Demikian tulisan mengenai “Dewi Sartika Pejuang Pendidikan Perempuan yang Terlupa” semoga kelak akan lahir banyak dewi di negeri ini seperti Dewi Sartika.

Salam.

Baca juga: Sastrawan Dunia Asli Banyumas

Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional)

Suwardi Suryaningrat atau yang akrab dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, adalah bapak pendidikan nasional, dan tokoh persuratkabaran pada masa pergerakan memerdekaan Indonesia.

Ki Hajar Dewantara ditakdirkan sebagai pembela kepentingan rakyat terutama pendidikan, seperti yang kita ketahui zaman pergerakan dulu kualitas pendidikan di Indonesia begitu sangat tertinggal dari negara-negara lain.

Beliau merupakan sosok pribadi yang tegar, kuat dan bersahaja. Suwardi Suryaningrat selalu membela kepentingan rakyat Indonesia, lewat perjuangannya yang tak kenal lelah membela rakyat Indonesia untuk bisa menikmati pendidikan sepenuhnya.

Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

Beliau dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1899. Beliau merupakan bangsawan dari Keraton Pakualam Yogyakarta karena ayahnya yang bernama Soeryaningrat merupakan putra Pakualam ke III.

Semasa kecil beliau bersekolah di Europesche Lagere School yang merupakan sekolah dalam kategori rendah yang dimiliki oleh Belanda, beliau merupakan keturunan bangsawan oleh sebab itu dengan mudah beliau bisa bersekolah disana.

Kemudian beliau melanjutkan sekolah di Kweekschool (sekolah guru), namun belum sempat selesai beliau pindah ke sekolah dokter pribumi (STOVIA). Disekolah yang baru pun Ki Hajar Dewantara tidak bisa menyelesaikan sekolahnya karena kekurangan uang untuk membayar sekolahnya.

Setelah keluar dari STOVIA, Ki Hajar Dewantara beralih profesi ke bidang jurnalistik, meski di dunia yang relatif baru bagi beliau namun perjuangan-perjuangan beliau dalam pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan lebih banyak dalam bidang persuratkabaran, tulisan-tulisan beliau banyak ditemukan di surat kabar serta pendidikan rakyat.

Tentu saja perjalanan menjadi jurnalistik tidak mudah dilalui Ki Hajar Dewantara, mengawali jurnalistik sebagai pembantu harian “Sedya Utama”, surat kabar berbahasa Jawa di Yogyakarta.

Kemudian juga beliau membantu surat kabar berbahasa Belanda bernama Midden Jawa, di semarang. Hingga pada tahun 1912, beliau bekerja sebagai anggota redaksi harian “de Express” di Bandung.

Di harian “de Express” ini banyak memuat tulisan-tulisan dari para politikus yang menyampaikan suara hatinya menghadapi pemerintahan kolonial Belanda. Di antaranya tulisan-tulisan para tokoh pergerakan nasional seperti Abdul Muis, dr. Tjipto Mangunkusumo dan tentunya tulisan dari Ki Hajar Dewantara sendiri.

Selain bekerja di harian “de Express”, beliau juga bekerja dibeberapa surat kabar seperti harian “Kaoem Moeda”, harian S.I “Soerabaya” dan Cahaya Timoer di Malang. Karena sepak terjang Ki Hajar Dewantara ini dalam bidang jurnalistik maka beliau dikenal juga sebagai perintis pers Indonesia.

Pada tanggal 25 Desember 1912, atas prakarsa Douwes Dekker. Ki Hajar Dewantara, Tjipto Mangungkusumo, mendirikan partai politik yang diberi nama Indische Partij,  ketiganya kelak dikenal sebagai tiga serangkai.

Tujuan dari Indische Partij adalah menyatukan semua golongan untuk memajukan tanah air dan menuntut kemerdekaan Indonesia.  Indische Partij merupakan organisasi pertama di Indonesia yang bertujuan menuntut kemerdekaan. Tujuan-tujuan tersebut disebarluaskan melalui surat kabar “de Express”.

Belanda cepat merespon tentang kegiatan tokoh tiga serangkai ini baik melalui surat kabar atau propaganda yang lain hingga pada akhirnya mereka ditangkap dan diasingkan ke Negeri Belanda.

Semasa pengasingannya di Belanda Ki Hajar Dewantara memperdalam ilmu pendidikan modern dari Dr. Maria Montessori dan Jan lichthart, tokoh pendidikan modern Belanda. Hingga pada tahun 1916 Ki Hajar Dewantara berhasil mendapatkan gelar dalam bidang Pendidikan.

Dibuang dan diasingkan tidak membuat Ki Hajar Dewantara berpangku tangan, beliau juga masih aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi negerinya, beliau masih aktif menulis baik di media Belanda maupun Indonesia.

Bahkan setelah hukumanya dicabut pada tahun 1917, beliau tetap tinggal di Belanda dan mendirikan kantor berita bernama Indonesische Pers Bureau. Untuk membuat propaganda pergerakan kemerdekaan di Indonesia. Juga digunakan sebagai markas pemuda Indinesia yang bersekolah di Belanda.

Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Kemudian beliau mendirikan National Indische Partij (NIP), merupakan organisasi yang dibentuk untuk menggantikan Indische partij yang dulu dibubarkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Selain berjuang diranah persuratkabaran, Ki Hajar Dewantara juga akktif dalam memajukan pendidikan rakyat. Beliau berpendapat bahwa satu-satunya cara untuk memajukan taraf hidup rakyat adalah melalui pendidikan.

Beliau ingin menerapakan pola pendidikan modern yang beliau pelajarai di Belanda, oleh karena itu beliau setelah kembali dari Belanda, beliau menjadi seorang guru di sekolah yang didirikan R.M. Soeryopranoto, kakaknya. Sekolah tersebut bernama Adhi Dharma.

Baca juga :

Ki Hajar Dewantara kemudian mendirikan sekolah yang bernama Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta, pada tanggal 3 Juli 1922, tujuan dari Taman Siswa adalah mengganti sistem pendidikan dan pengajaran yang dipakai oleh pemerintah kolonial Belanda, dengan sistem pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Sistem pendidikan tersebut dinamakan among.

Sedangkan semboyan yang diterpakan oleh Ki Hajar Dewantara adalah Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yang bermaksud adalah sebagai seorang pemimpin atau guru kita harus bisa member teladan apa bila di depan, apabila di tengah harus bisa menciptakan ide dan dari belakang harus bisa memberi dorongan semangat. Semboyan tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Perguruan Taman Siswa cepat berkembang oleh karenanya kemudian Taman Siswa dibagi menjadi dua, yaitu taman muda (sekolah dasar) dan taman dewasa atau Mulo Kweekschool yang merangkap taman guru.

Selain itu Taman Siswa pada perkembanganya juga mendirikan taman kanak-kanak (Frobel Onderwijs) yang dipimpin langsung oleh Nyi Hajar Dewantara istri dari Ki Hajar Dewantara.

Ki Hajar Dewantara lewat Taman Siswanya berperan menumbuhkan jiwa nasionalisme bagi kaum muda yang bersekolah disana, melalui pendidikan pula Ki Hajar Dewantara bercita-cita memerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai pemimpin Putera (Pusat Tenaga Rakyat), bersama Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Mereka dikenal dengan sebutan empat serangkai.

Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran pada kabinet pertama, setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Kemudian pada tahun 1946 beliau menjadi ketua panitia, Penyelidik Pengajaran yang merumuskan pokok-pokok pendidikan dan pengajaran sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia.

Ki Hajar Dewantara juga menjadi ketua penasihat pembentukan undang-undang pada 1948. Undang-undang tersebut menempatkan dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di Indonesia.

Karena jasa-jasa beliau dibidang pendidikan dan kebudayaan maka Ki Hajar Dewantara pernah dianugerahi bintang Mahaputra dan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang kebudayaan dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tokoh pergerakan Indonesia dalam bidang pers dan pendidikan ini meninggal dunia pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata Yogyakarta.

Semoga Bermanfaat !

Ancas Majalah Penjaga Bahasa Banyumasan

Ancas Majalah Penjaga Bahasa Banyumasan – Ditengah perkembangan teknologi yang begitu maju dan akses yang begitu mudah memungkinkan manusia untuk pergi dan berkunjung kemana saja tanpa batas

Nah bahasa memerankan peran yang sangat penting untuk berinteraksi dengan sesama manusia, namun sayangnya bahasa internasional yang disepakati adalah bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia apalagi bahasa daerah kita masing-masing

Bahasa daerah justru semakin dilupakan dan bahkan ditinggalkan, karena dianggap tidak lagi penting dan dapat menunjang hidup seseorang, toh bahasa yang penting bagi generasi muda sekarang adalah bahasa Inggris dan tentunya bahasa nasional, bahasa Indonesia

Logo Ancas via kaskus.co.id

Bila dilihat dengan kebutuhan memang tidak salah namun bila ‘dilihat dari sisi kebudayaan jelas itu salah, lambat laun bahasa daerah semakin sedikit penggunaanya bila mana tidak dilestarikan bukankah bahasa daerah hanya tinggal sejarah saja

ketika kita berbicara soal nilai-nilai, seperti yang kita sudah sedikit paham bahwa adat ketimuran kerap memunculkan nilai-nilai dalam berbagai wujud cerita, kesenian dan juga di dalamnya berkaitan dengan bahasa

Bahasa Banyumasan juga mengandung nilai-nilai tentang kesetaraan, karena di dalam bahasa Banyumasan tidak mengenal istilah strata (kedudukan).

Belum lagi mengenai kulikulum pendidikan sekarang yang tidak banyak memberi ruang untuk bahasa daerah untuk berkembang

Baca juga : Sastrawan Dunia Asli Banyumas (Ahmad Tohari)

Iya bahasa Jawa memang masih ada, tetapi di sekolah jamnya pun tak banyak masih kalah dengan mata pelajaran yang dianggap lebih penting seperti bahasa Inggris dan matematika

Bahasa Jawa juga berbeda dengan bahasa Banyumasan, di dalam bahasa Jawa ada tingkatan yang disebut dengan dengan istilah ngoko, kromo, madyo dan kromo alus. Sedangkan di dalam bahasa Banyumasan tidak ada tingkatan seperti itu.

Bahasa Banyumas tidak memiliki strata bahasa atau egaliter (kesetaraan), menurut Ahmad Tohari bahasa Banyumasan justru merupakan bahasa tertua di bumi Jawa telah ada sejak abad ketujuh.

Bahasa Jawa yang kerap digunakan oleh masyarkat sekarang merupakan hasil politisasi kerajaan Mataram dengan mengubah bahasa kuna yang sifatnya lebih egaliter (kesetaraan) kata penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini.

Menurut beliau banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa bahasa Banyumasan atau Jawa Kuna sebetulnya adalah bahasa asli masyarakat Jawa sebelum munculnya pengaruh Mataram di Bumi Jawa

Bahasa Banyumasan atau yang sekarang dikenal dengan bahasa ngapak memang semakin terpinggirkan, iya memang sekarang banyak jargon-jargon terkait dengan bahasa ngapak seperti “Ora ngapak ora kepenak”., Ora ngapak dupak” dan berbagai macam jargon yang lain. Namun kenyataanya jargon hanya sekedar jargon.

Komunitas-komunitas ngapak ketika berkumpul juga masih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, tidak lebih sebagai komunitas warga Banyumas dan sekitarnya saja

Atau hanya sekedar bisnis, di dalamnya jualan mercendes kaos bertuliskan bahasa-bahasa kedaerahan

Bahasa dengan ciri khas kata “inyong”  ini juga kerap berbenturan dengan norma dan etika yang sudah berlaku hingga sekarang, karena bahasa Banyumasan dianggap bahasa kasar, atau bahasa pinggiran (kaum marjinal)

Karena sifatnya yang egaliter (kesetaraan) dan tidak memiliki strata, bahasa  Banyumasan dianggap kurang sopan ketika harus berbicara dengan pimpinan atau orang tua

Di atas sudah sedikit disinggung berkaitan dengan politisasi kerajaan Mataram sehingga memunculkan kesan bahasa Banyumasan dianggap kurang sopan

Padahal kalau kita amati berkaitan dengan bahasa, bahasa Indonesia misalnya sebagai bahasa Nasional kita, bahasa Indonesia juga tidak memiliki strata, tetapi kenapa bahasa Indonesia tidak dianggap bahasa yang kurang sopan?

Berkomunikasi dengan pimpinan atau bahkan presiden pun menggunakan bahasa Indonesia, tidak ada yang mempermasalahkan bukan? Lalu pertanyaanya kenapa? Karena bahasa Indonesia tidak ada bahasa perbandiangan dengan bahasa lain.

Beda dengan bahasa Banyumasan, bahasa ini kerap dibandingkan dengan bahasa Jawa (kromo) yang katanya lebih halus, saya pikir ini hanya masalah kesepakatan  masyarakat secara umum saja. Kalau tidak ada politisasi kerajaan Mataram maka tidak ada ungkapan bahwa bahasa Banyumasan dianggap kurang baik dari pada bahasa kromo.

Okeh kita tak usah terlalu jauh terjebak diwilayah itu, yang perlu kita lakukan adalah melestarikan bahasa Banyumasan. Bahasa kita bersama, bahasa demokrasi (tanpa mengenal strata), bahasa yang bahkan memberi arti yaitu kesetaraan antar manusia.

Majalah Ancas sudah beperan paling tidak sebulan sekali kami bisa membaca majalah full dengan bahasa Banyumasan, tidak hanya itu di dalamnya juga mengandung materi-materi bacaan kedaerahan yang berguna bagi pengetahuan kita bersama.

Baca juga : 15 Makanan Khas Banyumas, dijamin ngapak

Salam Ngapak, Salam Rahayu, Semoga Bermanfaat, Sukses Selalu !!!