Arsip Kategori: Cerpen

Cerita pendek

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu)

Terimakasih, Karena Kamu, Kini Aku Bersamanya

Seorang sahabat yang tiba-tiba bercerita, saya sebut beliau mister X. Pada awalnya di sebuah Laboratorium panas, dengan meja-meja panjang dan kursi-kursi jadul yang selalu berada di atasnya ketika laboratorium itu sepi.

Di sanalah awal mula’y. Dari meja panjang, kursi-kursi reot berkaki 3, lemari softcase di sebelah kiri berjubel dengan isi-isinyanya, sampai awetan-awetan preparat berbau menyengat di belakang sana. Tepat di depan meja panjang sang asisten sedang serius menjelaskan.

Sementara mister X sedang mengawasi praktikan di belakang. Mister X melihat kelainan unik dengan senyum unik bermain HP saat praktikum. Mister X tegur dengan sopan..”dih ko mainan Hp, kan lagi praktikum?”..dia jawab maaf mas..di masukanlah Hp ke saku dan percakapan selesai..

Di hari-hari berikutnya mister X tanpa sengaja kembali terfokus pada senyum unik itu. Kali ini tidak terjadi percakapan, namun senyum unik itu kembali menyita perhatian, Dan terus menerus membayang. Praktikum terus berjalan, dan mister X masih terus memperhatikan. Semakin lama senyum unik menjadi senyum manis kata mister X. Mister X pun terlena..

Hari berikutnya, mister X mencoba mencari pencerahan, informasi dan menyusun strategi. Sayang informasi, dan strateginya berantakan. Ada beberapa usaha yang beliau lakukan, di antaranya ; inbok lewat jejaring sosial, minta di kenalkan teman ,sampai mendekati teman akrabnya untuk hanya sekedar kenal sama si Unik.. ‘Itu awalnya kawan’, awalnya.. kata mister X menegaskan,,”Lalu”? kembali saya mengintrogasi..

‘begini kawan, begini’,,mister X serius menjelaskan, saya pun serius mendengarkan.,’awalnya saya ingin kenal sahabatnya untuk kenal dengan si unik, tapi akhirnya saya malah suka dengan sahabatnya…’bagaimana kawan?’ mister X menanyakan..lalu saya jawab” teruskan !”….

mister X meneruskan penjelasan panjang lebar, ‘masalahnya adalah, dia membuat saya suka, dan diapun suka..dan akhirnya dan seterusnya… lalu di akhiri dengan kalimat ,hubungan Dia sudah lebih dari bertunangan..
saya jawab.. “hmm… Hentikan kawan!”..kalau kamu lanjutkan,,kamu merusak semuanya..

selesai

Aku dan Masalauku

Aku, Kamu, dan Kuda Binal Masalaluku Itu

Kembali ku pacu kuda binal yang sudah tak lagi perawan. Di awali dengan makan pagi di GOR Purwokerto bersama kawan. Sehabis perut terisi, Ku pacu menuju Baturaden, ku habiskan bersama kawan di Bukit Bintang yang membuat ku belajar banyak hal. Ku sebut dia adek, kami bercerita banyak hal, membahas banyak hal, dan bersepakat tentang banyak hal. Lagu demi waktu “ ungu” manjadi lagu inspirasi dalam perjalanan di awal dan di akhiri dengan lagu Cinta Terpendam milik “The Rain” di akhir.

Tepat pukul 12.13 ku arahkan kuda binal melalui jalan penuh kenangan disetiap jengkalnya, jalan Purwokerto_Ajibarang namanya. Jalan yang sama, suasana yang selalu sama namun perasaan yang samasekali berbeda. Akh ..sudahlah.. 01 januari 2013 semangat baru harus terbentuk menjadi motivasi baru. Biarkan taun lalu menjadi perjalanan penuh makna yang akan selalu saya ingat selama saya hidup, yang akan selalu saya kenang dengan berkunjung dan mengingat tapak tilas di tahun-tahun selanjutnya.

Kini harapan, mimpi, semangat, dan perjuangan kembali ku arahkan ke desa bersejarah. Cikawung namanya..kembali dan kembali ke kisahku, semangat , lalu perjuangan. Waktu kembali menunjukan bakat keajaibannya. Dalam perjalanan, hanya dua hal yang aku pikirkan. Tentang fokus pada keselamatan bersama kuda binal dan tentang apa tujuan ku di awal.

Terimakasih Tuhan,,terimakasih. Ku lirik sepidometer kuda binal, dia mulai mengeluh minta minum, sabar kuda binal, Tunggu sebentar.  Ku hentikan kuda binal di POM Kali bagor, ku lihat antrian panjang kuda-kuda perawan dengan warna-warna menawan. Tenang kuda binal kau yang terbaik buatku. “ Kuda Binal tersenyum ragu”.

Aku dan Masalauku

“Berapa mas”, sapa seorang wanita berseragam merah khas Pertamina. Ku buka dompet, ku keluarkan selembar kertas merah bergambar Sultan Hasanudin, lalu ku jawab” Premium”. Kusodorkan dengan sopan selembar kertas merah itu, kubuka mulut kuda binal yang berkarat, lalu ku ucapkan” selamat minum kuda Binal, puaskan hausmu”.

Langit mulai menghitam di barat dan tujuankupun ke barat. Perut mulai memberontak anarkis, memprovokasi cacing-cacing untuk berdemo dan berteriak Mi Ayam-mi ayam katanya. Ku stater kuda binal namun belum menyala. Tiga kali ku coba, namun masih tetap belum menyala.

“manual Tuan” teriak kuda binal, lalu ku selah seperti menggenjot sepeda. Nder..nder..mesin tangguh kuda binal akhirnya menyala. Ku arahkan ke Barat dengan perasaan carut marut. Mendung di barat berpindah ke utara, menggambarkan hati ku di tahun 13..sudahlah..semangat” teriak kuda binal mengingatkan Tuanya”.

Cilongok mulai diguyur tangisan alam. Ku hentikan kuda binal di seberang kiri jalan, tepat di warung Mi Ayam. Lalu Tuan pengemudi Kuda Binal Makan mi ayam ,tanpa saos pastinya, beliau memenuhi tuntutan lambung dan cacing-cacing anarkis yang sedari tadi berdemo seperti Buruh-Buruh di seluruh kolong Nusantara meminta kenaikan UMR dan UMP taun lalu. 15 menit berlalu dengan cepat. Lambung dan cacing sudah terdiam.

“bergegas tuan !, hujan sudah menyapa” kembali kuda binal berteriak mengingatkan. Kali ini tidak aku stater kuda binal, ku genjot dengan penuh rasa bersalah karena aki GS kuda binal kering dari air aki. Mantel sosial sudah ku kenakan. Kembali ku pacu kuda binal menuju barat Ajibarang. Semakin ke barat alam semakin menangis, tanah semakin basah, aspal semakin licin. Lubang-lubang jalan mulai terisi penuh oleh air. Hati-hati” kembali kuda binal berteriak pada Tuanya. Ajibarang terlewat, Cikawung menampakan wajahnya. Jembatan penghubung Ajibarang Cikawung menjadi penanda perbatasan, perasaan semakin bergolak hebat.

Entahlah,

..hari ini banyak sekali yang mempermainkan. Dari perasaan kecewa, sedih, gila , sampai perasaan grogi pada rumah di barat sana. Rumah yang sudah beberapa kali saya kunjungi, rumah yang berisi motivasi, cinta, perjuangan dan mungkin keangkeran. Entahlah.., kali ini sungguh ku beranikan untuk mengunjunginya kembali. Sekali lagi dan sekali lagi. Dan kali ini sendiri..”Ya Tuhan…siapa saya, dari mana saya, apa yang saya bawa, untuk apa, dan nanti akan bagaimana..? pertanyaan bertumpuk dan berjubel saat kuda binal mulai menemukan gang sempit ke sebelah kiri. Tenang” teriak kuda binal kembali mengingatkan,, lampu sen kuda binal ku isyaratkan ke sebelah kiri. Kuda binal terlihat tersenyum anggun kepada Tuanya, dan berbisik” toch kamu sudah sampai, turunlah, tenanglah, lepaskan mantel dan ucapkan lah salam. Ku turuti semua bisikan Kuda binal, ku buka mantel dengan sangat perlahan, ku amati sekitar.

Air hujan terasa lembut menyentuh kulit saat mantel sosial ku buka. Dengan sekali gerak, ku tinggalkan kuda binal di halaman yang masih hujan. Tanpa protes, kuda binal menyemangati dengan wajah damai dan berbisik” masuklah, tidak apa-apa tuan,, saya disini menunggu. Lalu aku berkata, “tidak papa kamu hujan-hujanan di halaman kawan ?, bisikku..kuda binal menjawab dengan sangat manja ”tidak apa-apa tuan,,masuklah.!”. senyumnya menguatkan ku untuk mengetuk pintu kayu dan mengucap “asalammualaikum”. Ketukan dan salam pertama nihil. Kembali ku coba dengan ragu-ragu, thok-thok-thok, asalammualaikum?..kali ini sosok yang amat saya kenal membukakan Pintu, dan menjawab salamku dengan sangat merdu “ waalaikumsalam”..senyum manisnya mengembang seperti sakura-sakura jepang di musim sakura.

Semua rasa ragu, semua rasa was-was, semua rasa panik, semua rasa kecewa, hilang tak berbekas. Peluru-peluru hujan yang semakin keras menerjang atap teras tak lagi saya hiraukan. Kuda binal yang kehujanan di luar tak lagi saya perdulikan. Kini saya larut dalam pertemuan yang dirindukan. Saya terbang mengenang kejadian-kejadian dalam setiap tarikan senyum yang Ia berikan. Perasaan ku kembali takluk dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Penyakit lama yang terkungkung kini menyebar seperti virus DNA yang menghegemoni dan menguasai setiap proses replikasi, transkripsi dan translasi sel-sel tubuh. Akhirnya saya masuk dan berbincang. Bertanya kabar, lalu bercerita dan bercanda…Dunia menjadi Cinta…dan inilah surga….bersambung……..

“waktu terlalu baik. Dia memberikan semua yang dia punya pada ku, bahagia, sedih, kecewa, lalu bahagia lalu kecewa dan sedih bersama-sama. Ia berikan semua yang ia punya. Seperti pagi ini, waktu kembali memberikan sisa rindu yang dia punya. Menumpahkanya pada altar hatiku yang terluka. Menguburnya dalam kabut pagi yang belum sempat terbuka. Menanamnya dalam cinta yang tak sempat berbunga. Membasahinya dengan wangi air surga yang belum sempat terhirup, membunuh wanginya yang belum sempat hidup.

Terimakasih waktu, terimakasih ku ucapkan padamu..kau kawan sekaligus lawan yang paling kejam. Saat itu Pagi terasa  sepi, namun gelora rindu memberontak melawan kenyataan.

Pagi ini hatiku beku, sepi dan kaku”..02-01-2013.

Tahun Baru Datang, Keprawanan Hilang

Tahun Baru Datang, Keperawanan Hilang

Tahun Baru Datang, Keperawanan Hilang – Telepon genggam Rita tiba-tiba berdering segera saja dia mengangkat telepon tersebut dengan wajah sumriah, telepon dari siapa? Terdengar suara dari kejauhan. Sontak saja mengagetkan Rita yang sedari tadi ngobrol nampak mesra .

Tiba-tiba Riko datang tanpa sepengetahuan Rita dari belakang, Hemm… kayanya seneng banget tadi habis ditelepon siapa tanya Riko, siapa lagi dong yang bisa buat aku senangnya seperti ini kalau bukan dari mas pacar.

Cieh,, gayamu ta, ta. Eh bentar lagi kan tahun baru datang kita buat rencana yuk, pergi kemana gitu, teman-teman alumni SMA kita juga banyak yang ngajakin pergi ke Dieng katanya.

Ilustrasi keperawanan hilang

Aduh Rik mending kamu ngajak yang lain saja lah, malam tahun baru yang jelas aku pergi bersama yayank dong.

Ye,, aku kan hanya ngajak, siapa tahu kamu berminat gitu, kalau tidak mau ya tidak masalah, aku kan hanya menyampaikan pesan dari teman-teman.

Riko bergegas meninggalkan rumah Rita dengan wajah sebal, dalam hati dia berkata mentang-mentang sudah punya pacar teman-teman yang lain dilupakan.

Tak berselang lama akhirnya teman-teman Riko datang mereka adalah Anji, Bimo, Tika dan Rachel. Mereka sengaja bertandang ke rumah Riko untuk membahas agenda tahun baru nanti.

Setelah beberapa saat berdebat akhirnya mereka sepakat bahwa malam tahun baru nanti mereka akan mendaki gunung, tidak seperti rencana awal yang sempat dilontarkan oleh Tika yaitu ke Dieng.

Gunung yang mereka pilih adalah gunung Sumbing, Gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa setelah Semeru dan Slamet.

Pembahasan masalah rencana tahun baru telah selesai, Riko akhirnya mengeluarkan unek-uneknya kepada teman-temanya mengenai tanggapan jutek Rita sewaktu diajak dia berkumpul untuk membahas rencana tahun baru.

Rita semenjak punya pacar memang begitu, jarang juga kumpul dengan kita-kita timpal Rachel, padahal sebelum itu kemana-mana selalu bareng ya Tik sama kita.

Iya bener, ya sudahlah mungkin memang Rita sedang senang-senangnya punya pacar, maklum lah semenjak dia putus dengan Rangga dia lama kan menjomblo.

Waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga malam tahun baru selang beberapa jam lagi, Riko dan rombongan sudah berada di Temanggung guna pendakian ke Gunung Sumbing, sementara Rita sedang menunggu malam untuk pergi bersama pacarnya.

Malam ini Rita tampak sangat senang sekali, dia berdandan layaknya putri yang akan bertemu dengan pangerannya.

Dibalut dengan baju berwarna biru, Rita tampak begitu anggun belum lagi dengan senyum yang selalu mengembang dibibirnya, membuat laki-laki manapun akan terperana melihatnya.

Rita menunggu sang pujaan hati dengan hati gelisah, waktu sudah menunjukan jam 7 malam namun sampai sekarang orang yang dia nanti-nantikan belum juga datang.

Dia sempat sedikit marah karena sudah lama menunggu, belum sempat marahnya reda akhirnya orang yang dia nanti-nantikan datang juga, yang membuat marahnya seketika reda.

Senyum kembali mengembang dari bibir merahnya, kok lama banget sih tanya Rita. Iya tadi di jalan macet, oia kita mau kemana nih tanya Rita lagi? Kan kemarin aku sudah bilang kita akan kepuncak.

Konon dari puncak kita bisa menikmati indahnya malam pergantian tahun dengan memandang kota kita dari ketinggian.

Hawa dingin sudah mulai terasa menyelimuti tubuh menandakan bahwa mereka sudah sampai ke puncak.

Kita ke hotel dulu ya menemui teman, tanpa banyak curiga, Rita pun mengiyakan saja, sesampainya di hotel sudah banyak teman-teman dari pacarnya Rita yang sedang ngobrol-ngobrol sambil menengguk minuman keras.

Rita sempat kaget, karena tidak hanya laki-laki banyak juga perempuan yang sedang berkumpul disitu, berpesta, bersendagurau tak karuan.

Rita awalnya ingin meninggalkan tempat itu, namun dicegah oleh pacarnya karena dia bilang hanya sebentar katanya.

Karena merasa tidak enak Rita akhirnya mau duduk disana, langsung saja Rita ditawari segelas minuman keras, Ayo mba minum, ini hanya untuk penghangat tubuh tidak akan memabukan. Tidak terimakasih, aku tidak terbiasa dengan minuman seperti ini.

Pacarnya menimbali iya Ta coba saja, nanti badan akan terasa hangat, disini kan dingin sekali, nanti kamu masuk angin loh.

Karena semakin malam hawa semakin dingin akhirnya Rita mau untuk mencoba meminumnya. Hore,, segerombolan teman-teman dari pacarnya semakin senang karena melihat Rita mau minum.

Gimana mba enak kan? Iya, tanpa sadar sudah beberapa gelas minumam haram itu masuk ke dalam tubuhnya, Rita merasa pusing, tubuhnya seakan berat untuk terjaga.

Setelah sadar dia sudah berada di kamar hotel dengan kondisi tubuh tanpa busana, seketika Rita pun berteriak menangis, dia menyadari bahwa mahkota yang selam ini dia jaga telah direnggut oleh pacarnya., dia kini sudah tidak suci lagi.

Hanya penyesalan yang kini dia rasa, seketika itu juga dia teringat akan Riko dan teman-temanya karena penolakan untuk pergi bersamanya.

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu)

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu)

Hujan Pertemukan Aku dengan Dia (Ibu) – Akhir-akhir ini Kinan kelihatan sangat murung, seakan ada yang ditutup-tutupi dari dirinya, sebagai seorang sahabat aku merasa kasihan kepadanya.

Dengan sedikit canggung akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan, “Nan.. sepertinya kamu sedang ada masalah ya? Beberapa hari ini kamu kelihatan berbeda tidak secerewet biasanya”.

“Gak lah gak ada apa-apa cuma akhir-akhir ini aku merasa cape”. Hemm gak usah bohong kita berteman sudah lama, aku sedikit banyak tahu lah, kalau kamu sedang ada masalah.

ilustrasi hujan

Seketika Kinan berdiri dan menarik tanganku untuk masuk ke ruang kelas, seakan mengalihkan pembicaraan tadi, dengan sikap Kinan yang seperti itu aku semakin yakin bila ada sesuatu yang disembunyikan.

Jam sekolah pun usai waktunya pulang sekolah, rumahku dan Kinan searah sehingga hampir setiap hari kita pulang bersama mengayuh sepeda kita masing-masing, namun hari ini, sudah lama aku menunggu dia di gerbang keluar sekolah, namun tak kelihatan juga batang hidungnya.

Ohh mungkin Kinan sedang ikut ekstrakulikuler pikirku, sehingga langsung saja aku memutuskan pulang tanpa lagi menunggu Kinan

Sesampainya di rumah aku masih terpikir tentang apa yang sedang dialami Kinan, jelas dia sedang dirundung masalah gumamku.

Hari berganti pagi tidak seperti biasanya aku bangun sedikit lebih awal, setelah selesai menunaikan salat dan mempersiapkan buku-buku pelajaran untuk hari ini, aku bergegas menuju ruang dapur, disana sudah ada ayah dan ibu yang sudah menungguku untuk sarapan pagi.

“Ini sarapanya sudah siap” kata Ibu sambil memberikan piring untukku, dengan sedikit tergesa-gesa sarapan pagiku aku cepat habiskan.

“Makannya pelan-pelan nak”, “iya pah”, pagi ini aku akan kerumah Kinan dulu untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Iya tapi makannya jangan terlalu cepat “dikunyah” dulu nasinya itu loh. “Iya pah iyah” kataku sambil mengahiskan sedikit makanan yang tersisa.

Ya udah aku berangkat kesekolah dulu yah bu, yah, setelah berpamitan aku segera bergegas ke rumah Kinan, rumah Kinan tidak jauh hanya berjarak kurang lebih 200 meter dari rumahku.

Setelah menganyun sepeda dengan agak cepat akhirnya aku sampai juga di rumah Kinan, dia merasa “agak” kaget dengan kehadiranku dirumahnya sepagi ini.

Tumben ada apa? Tanya Kinan kepadaku, pagi-pagi seperti ini sudah kerumahku pasti ada maunya nih? Gak kok gak, pasti kamu mau melihat tugas laporan bahasa Indonesia ya?

Enak aja aku sudah mengerjakan tau, Cuma pagi ini aku ingin aku ingin mengajakmu berangkat bersama kesekolah, kemarin soalnya aku tidak melihatmu pulang?

Ohh iya kemarin aku ada ekstra nari, Ya sudah yu berangkat nanti malah terlambat.

Di dalam perjalanan di atas sepeda kami bercerita-cerita tentang teman-teman kami di sekolah, namun tidak ada cerita yang bisa menjawab pertanyaanku selama ini. Bahwa Kinan akhir-akhir murung karena apa?

Jam 6.30 pagi kami sudah sampai di sekolah disambut dengan senyuman guru-guru kami yang sudah dari tadi berdiri dan mengajak berjabat tangan dengan kami.

Merasa masih ada yang ditutup-tutupi dari Kinan aku mengajaknya untuk pulang bersama lagi setelah jam pelajaran usai nanti.

“Nan” nanti pulang sekolah, pulang bareng lagi ya”? Aduh maaf tidak bisa jawab Kinan dengan sedikit gelagat tidak enak, Aku harus mampir dulu kerumah bu de, ada titipan dari ayah.

Ya sudah kalau begitu, bel tanda masuk pun tidak lama berselang bunyi menandakan kita harus masuk ke kelas masing-masing.

Di kelas sambil menunggu guru masuk, aku bersama teman-teman berbincang-bincang topiknya masih sama soal Kinan, ternyata tidak hanya aku saja teman yang lain pun merasakan hal yang sama bahwa Kinan akhir-akhir ini terlihat sering murung.

Tak terasa jam pelajaran sebentar lagi usai dan kita akan segera pulang, namun cuaca hari ini sangat mendung, menandakan akan turun hujan. “Hem untuk aku bawa jas hujan, kalau tidak bakalan basah inih buku-buku”.

Seperti yang sudah diperkirakan hujan turun begitu lebat setelah bel tanda pulang sekolah terdengar. Teman-temanku masih banyak yang berada di sekolah sambil menunggu hujan reda.

Aku mencari Kinan di kelasnya berharap dia masih berada di kelas, setelah sampai di kelas aku mendapati kelas sudah kosong dan teman-teman yang lain tidak tahu bahwa Kinan sedang berada dimana?

Bergegas aku masuk ke kantin siapa tau Kinan sedang makan? Dalam perjalanan aku betanya kesalah-satu teman kelasnya dia mengatakan bahwa Kinan sudah pulang, berjalan kaki dengan menggunakan paying.

Seketika itu juga aku bergegas untuk mengayuhkan sepeda keluar sekolah berharap bisa melihat Kinan. Dan benar saja Kinan sedang berjalan kesuatu tempat.

Aku memutuskan untuk mengikuti dia saja, saking penasaranya Kinan mau kemana, padahal jalan yang dia tempu bukan jalan menuju kerumahnya.

Setelah agak lama mengikuti Kinan berbelok ke suatu tempat, “itu kan arah ke kuburan desa, mau apa Kinan hujan-hujan seperti ini ke kuburan.

Merasa agak aneh dengan apa yang akan dilakukan Kinan, akhirnya aku memberanikan diri untuk memanggilnya, Kinan mau apa kau ke kuburan itu? Teriakku kencang?

Kinan merasa kaget karena teriakkanku tadi, Hani, sedang apa kamu disini, aku sengaja mengikuti kamu dari belakang, namun aku heran kamu berjalan kearah kuburuan akhirnya aku memanggilmu.

“Sudah tidak usah berpura-pura tidak ada apa-apa lagi, hujan-hujan seperti ini, tidak mungkin kamu kesini kalau tida ada sesuatu”.

Tanpa banyak kata Kinan segera memelukku dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan suarah terbata-bata dia menjawab “aku rindu ibuku” seketika aku pun larut terbawa suasana melihat air mata Kinan keluar dari kelopak matanya.

Kinan memang sudah ditinggalkan Ibunya semenjak dari kecil, ibunya meninggal tidak lama setelah melahirkan Kinan.

Kinan iri kepada teman-temannya, melihat mereka diantar ke sekolah oleh Ibunya, diantarkan bekal makan siang ke sekolah. Kinan iri kepada mereka, karena Kinan tidak tau rasanya punya ibu itu seperti apa.

Yang bisa Kinan lakukan ketika rasa itu mengeruak adalah Kinan selalu mengunjungi makan Ibunya menceritakan tentang apa yang dia alami selama di sekolah.

Dan akhir-akhir ini Kinan begitu sangat rindu tentang sosok seorang Ibu.

“Sudah, sudah aku berusaha menenangkan Kinan”, seraya mengatakan padanya, lain kali kalau kamu kesini aku ikut. Biar kamu tidak merasa sendiri.

Kinan yang aku kenal selama ini merupakan sosok yang kuat, tiada berdaya ketika merindukan sosok seorang Ibu.

Dia seolah-oleh ingin meluapkan kerinduannya sore itu, menangis begitu kencang, sementara hujan masih tak juga mau meredakan.

Memory of School : Bermain PS

Memory of School – Aku masih ingat betul dulu guruku di Madrasah Ibtidaiyah (bagi yang tidak tahu, itu setara SD) pernah mengatakan bahwa negara kita, Indonesia tercinta ini, adalah negara agraris. Negara dengan jumlah lahan pertanian yang sangat luas dan tentu saja diikuti dengan profesi petani petani yang menjadi mayoritas.

Berlanjut ke jenjang menegah pertama, saya menyeberang ke sekolah negeri. Di SMP,oleh guru IPS dan PKn, pikiranku yang masih polos juga kembali ditimpali doktrin kita harus bangga kepada Indonesia, salahsatunya karena Indonesia adalah Negara yang paling kaya dengan hasil bumi dan pertanian. Bahkan sampai terbawa pada pelajaran kesenian menggambar, aku dan teman sebangku, mungkin sekelas, atau bahkan satu sekolahan, selalu menggambar dengan ciri pertanian yang khas, 2 gunung dengan sawah luas dan ditengahnya ada sungai yang mengalir jernih. Saat itu, untung aku belum kepikiran perempuan yang lagi mandi.

Berlanjut ke menengah atas, aku kembali ke sekolah swasta. Madrasah aliyah? bukan.. Aku masuk STM, jurusan otomotif, yang hanya ada 1 perempuan saja dalam 1 jurusan. Di jenjang ini, aku tak pernah lagi mendengar guruku bercerita tentang pertanian Indonesia yang membanggakan itu, kisah swasembada pangan yang fenomenal itu. Bukan karena guru yang tak menjelaskan, tapi karena memang kami yang tak mendengarkan. Haha..anak STM coy…

Pada kelas satu hanya ada dua judul dalam cerita dalam persekolahanku, bully membully, palak memalak. Kegiatan bully sudah seperti oksigen dalam kehidupan kami, perkataan assyuuu, buajingan, wajah asimetris, anak haram, dll sudah sangat kaffah kami lantunkan. Motor digembesi, pulpen yang selalu hilang, makan 5 bayar 2, ditendang senior, kepala dibotakin, dan sejuta nasib buruk lainnya adalah makanan kami sehari-hari. Toh kami tetep bahagia, mereka bohong kalau bahagia hanya bisa oleh hal-hal yang enak saja, jadi apa definisi bahagia sih?

Berlanjut ke kelas dua, meninggalkan kesan urakan, kami mencoba sedikin bergaya elegan, beralih pada kegiatan yang berbasih teknologi, main PS dan Warnet! Jangan tanya seberapa mahir kami bermain PS, bukan tujuan kami untuk itu, kami bermain PS karena selalu ada kenangan yang tersisa dibelakangnya. Dan salah satu kenangan yang tak pernah kulupa adalah… begini ceritanya…

Sudah ganjil 5 hari si Komar, anggota kelas kami, tidak berangkat sekolah. Guru dan kami sekelas tidak ada yang tahu sama sekali posisi dan masalahnya apa. Setelah beberapa hari melakukan analisis, pengintaian, dan investigasi yang kesemuanya bersifat amatiran, didapatlah hasilnya : Komar bermain PS di warung yang jaraknya 10 KM dari rumah dan 7 KM dari sekolah, banyangkan sudah berapa tempat PS kami selidiki! Tapi taka pa, itu demi tugas suci yang mulia.

bermain PS

Singkat cerita, pada hari ke 9, guru bersama 5 anak dari kami berencana untuk menemui Komar, bukan untuk menggrebeknya, melainkan untuk prosesi tabayyun. Setelah melakukan perjalanan setengah jam, sampailah kami di tempat. Pintar memang Komar memilih tempat persembunyian, lengang, adem, banyak makanannya, dan yang paling nganu adalah penjaganya itu lho yang mbloes.

“Ada apa pak? Ada yang bisa dibantu?”, tanya penjaga PS

“Tak ada! Saya cuma mau nempiling (memukul) anak!” jawab guru kami sambil masuk ke ruang PS

Sebagai prajurit, kami berlima masuk mengikuti guru.

Kami langsung berdiri disamping Komar, dengan tangan menggenggam, meminggang, ditambah mata kami yang kompak melotot.

“Ampun pak, maafkan saya, saya benar-benar minta maaf..” ucap Komar tentu saja dengan ketakutan. Dipukul 1 kepal saja sakit apalagi sampai 6 kepal, mungkin begitu pikirnya.

Guru hanya diam saja, belum berkata setengah hurufpun, mungkin masih terbayang penjaga PS tadi. Komar mencoba peka dengan keadaan, dengan badan yang mengendap seperti kadal, tangannya ia sodorkan ke tombol ‘’power’’ PS, bertujuan untuk mematikan, hanya tinggal setengah senti saja, tiba-tiba guru kami berkata:

“Tak usah dimatikan! Ayo lawan pak guru, coba seberapa hebat kamu!”

 *Lalu apa hubungannya cerita Negara agraris ketika SD-SMP dengan cerita PS ketika STM? Jawabannya ya tidak ada. Emang harus ada? kan tidak..