Contoh Makalah Komprehensif IAIN “Urgensi Pendidikan Agama Sejak Dini”

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA SEJAK DINI

A. Pendahuluan

Saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral dan krisis identitas. Banyaknya perilaku negatif yang dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, orang dewasa maupun remaja bahkan anak-anak, orang yang terpelajar maupun yang putus sekolah, dari kalangan orang yang berada maupun yang miskin. Banyaknya kasus korupsi yang dilakukan para pejabat dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, kasus tawuran pelajar, penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) dan minuman keras, perjudian, pelecehan seksual, peredaran video porno yang pelakunya adalah mahasiswa dan pelajar, dan juga perilaku-perilaku negatif lainnya. Semua gangguan perilaku (behaviour disorder) dan gangguan karakter (character disorder) itu menyebabkan ketidakmampuan untuk menyesuaikan dan pengembangan diri bagi pelakunya, dan tentu saja berdampak buruk bagi ketenangan dan keharmonisan dirinya.

Tindakan yang diduga mampu menyelesaikan masalah sosial itu adalah perbaikan budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah). Budi pekerti dapat diturunkan dari berbagai sumber. Pertama, dari ajaran agama, semua agama menghendaki umatnya untuk berlaku dan bertindak yang baik. Kedua, falsafah hidup, semua negara mempunyai falsafah hidup yang menjadi pedoman bagi bangsanya untuk berperilaku baik.

Dalam Islam, misi utama kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah untuk memperbaiki akhlak umatnya. Hal itu berdasarkan hadis riwayat Imam Malik bin Anas dari Anas bin Malik, yaitu :

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”

Agama Islam adalah agama yang sempurna yang meliputi aspek kepercayaan (tauhid), perbuatan (amaliah), dan etika (akhlak/moral). Dalam pengajarannya, pendidikan menjadi hal yang sangat sangat penting. Pendidikan juga menjadi penentu kualitas sumber daya manusia. Pendidikan yang baik dan berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang baik dan berkualitas juga.

Pendidikan Agama Islam memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, karena Pendidikan Agama Islam mencakup semua aspek yang saling terkait, sistem akidah, syariah, dan akhlak, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor(1).

Pendidikan adalah suatu kegiatan yang secara sadar dan sengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilaksanakan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung secara terus menerus[2).

Menurut Ngalim Purwanto[3], pendidikan itu sangat penting karena dilihat dari berbagai segi:

1. Segi anak

Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh oleh karena itu pendidikan sangat penting sekali karena mulia sejak lahir anak belum mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya,baik untuk mempertahankan hidup maupun untuk merawat diri, semua kebutuhannya tergantung orang tua.

Oleh karena itu anak atau bayi memerlukan bantuan, tuntunan, pelayanan dan dorongan dari orang lain demi mempertahankan hidup dengan mendalami belajar setahap demi setahap untuk memperoleh sikap dan tingkah laku sehingga lambat laun dapat berdiri sendiri yang semuanya itu memerlukan waktu yang cukup lama.

2. Segi Orang Tua

Dalam hati nurani orang tua yang terdalam mempunyia sifat kodrati untuk mendidik anak baik dari segi fisik, sosial, emosi maupun intelegensinya agar memperolah keselamatan, kepandaian, agar mendapat kebahagiaan hidup yang mereka idam-idamkan, sehingga ada tanggung jawab moral atas hadirnya anak tersebut yang diberikan Tuhan untuk dapat dipelihara dan dididik sebaik-baiknya dengan penuh kasih sayang.

Anak-anak adalah manusia yang masih kecil yang belum dewasa dan memiliki berbagai potensi laten untuk tumbuh dan berkembang. Potensi tersebut adalah potensi jasmani yang berkaitan dengan fisik (motorik) dan juga potensi rohani yang berkaitan dengan kemampuan intelektual maupun spiritual dan termasuk di dalamnya nilai-nilai agama.

Anak lahir dalam keadaan fitrah sebagaiman yang disebutkan dalam hadist riwayat Bukhari Muslim, yaitu :

“Tiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Menurut hadist ini, manusia lahir membawa kemampuan-kemampuan (fitrah), potensi, dan pembawaan. Sedangkan ayah ibu disini adalah orang tua dan lingkungan sebagaimana yang dimaksud oleh para ahli pendidikan[4].

Muzayyin Arifin seperti yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat[5] mengartikan fitrah berdasarkan pendapat para ulama sebagai suatu kemampuan dasar berkembang manusia yang dianugerahkan Allah kepadanya, di dalamnya terkandung berbagai komponen psikologis yang saling terkait dan saling menyempurnakan bagi kehidupan manusia, yaitu:

1. Kemampuan dasar beragama secara umum, tidak hanya terbatas pada Islam saja. Sehingga manusia bisa dididik menjadi beragama Yahudi, Nasrani bahkan anti agama (ateis). Pendapat ini dikemukakan oleh ulama Islam antara lain Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun.

2. Kemampuan dasar untuk beragama Islam, dimana faktor iman adalah intinya. Pendapat ini dikemukan oleh Muhammad Abduh, Ibnul Qayyim, Abu A’la Al Maududi, Sayyid Quthb, yaitu bahwasanya fitrah mengandung kemampuan asli untuk beragama Islam, karena Islam adalah agama fitrah dan identik dengan fitrah. Ali Fikry berpendapat bahwa faktor hereditas kejiwaan ( faktor keturunan psikologis ) dari orang tua merupakan salah satu aspek dari adanya kemampuan dasar manusia itu.

3. Mawahib (bakat) dan Qabiliyyat (tendensi atau kecenderungan) yang mengacu kepada keimanan kepada Allah. Fitrah mengandung komponen psikologis yang berupa keimanan tersebut. Karena iman bagi seorang muslim merupakan elan vita (daya penggerak utama) dalam dirinya yang memberi semangat untuk selalu mencari kebenaran hakiki dari Allah.

4. Fitrah adalah kondisi jiwa yang suci bersih yang reseptif terbuka kepada pengaruh eksternal, termasuk pendidikan. Dalam fitrah tidak terkandung komponen psikologis apapun. Pendapat ini dikemukakan oleh Al Gazhali.

Karena adanya fitrah ini, maka manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama. Manusia merasa di dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa tempat mereka memohon dan berlindung.

Anak lahir dalam keadaan suci, dan faktor penentu kualitas keagamaan sangat tergantung pada orang tua dan lingkungan. Jika keadaan anak yang masih suci itu tidak dikembangkan secara maksimal untuk hal-hal positif maka mereka akan tumbuh liar tak terkendali. Karena itulah pendidikan di usia dini sangat diperlukan agar potensi (fitrah) anak dapat berkembang dan tertanam kuat dalam diri anak.

B. Pembahasan

Anak selalu mengalami pertumbuhan secara fisik dan perkembangan secara psikis. Perkembangan anak berlangsung sejak terjadi konsepsi yaitu sejak masih dalam kandungan sampai akhir hayat.

Menurut Aristoteles[6] masa perkembangan dapat dibagi menjadi tiga fase:

Loading...

1. Fase I adalah usia 0 tahun sampai 7 tahun. Fase ini disebut masa anak kecil, masa bermain. Pendidik perlu memberikan aktivitas bermain dan selalu senang, kalau senang anak akan berkembang secara wajar dan sehat. Masa ini digunakan sebagai pedoman batas bawah atau usia untuk masuk ke pendidikan dasar. inilah yang paling tepat untuk membentuk kepribadian anak melalui bermain.oleh karena itu guru harus memberikann permainan yang mengandung norma, nilai, dan kaidah yang berguna bagi anak di kemudian hari.

2. Fase II adalah usia 7 tahun sampai dengan 14 tahun. Fase ini disebut masa anak, masa belajar, dan masa sekolah rendah.perkembangan anak usia ini harus memperhatikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional disamping juga kecerdasan-kecerdasan yang lain.

3. Fase III adalah usia 14 tahun sampaidengan 21 tahun. Masa ini disebut masa remaja atau masa pubertas. Pasa masa ini anak sudah mualin berfikir secara rasional dan sudah mampu berfikir abstrak.

Fase I perkembangan manusia menurut batasan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, masuk dalam kategori usia dini. Anak usia dini adalah sosok individu sebagai makhluk sosiokultural yang sedang mengalami masa perkembangan yang sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya dan memiliki sejumlah karakteristik tertentu.

Anak usia dini adalah suatu organisme yang merupakan satu kesatuan jasmani dan rohani yang utuh dengan segala struktur dan perangkat biologis dan psikologisnya sehingga menjadi sosok yang unik. Anak usia dini mengalami suatu proses perkembangan yang fundamentalis dalam arti bahwa dalam pengalaman perkembangan pada usia dini dapat memberikan pengaruh yang membekas dan berjangka waktu lama sehingga melandasi perkembangan anak selanjutnya. Setiap anak memiliki potensi fisik-psikologis, kognisi, maupun sosio-emosi. Anak mengalami proses perkembangan yang sangat cepat sehingga membutuhkan pembelajaran yang aktif dan energik. Stimulasi dini sangat diperlukan guna memberikan rangsangan terhadap seluruh aspek perkembangan anak, yang mencakup penanaman nilai-nilai agama dan moral, pembentukan sikap dan pengembangan kemampuan dasar[7]

Anak usia dini berada pada fase perkembangan kosa kata yang sangat pesat. Seperti yang diungkapkan oleh Elisabeth B.H. setiap anak belajar berbicara, mereka bicara seperti tidak ada putus-putusnya Rata-rata anak pada usia ini menggunakan 15.000 kata setiap hari. Ketrampilan baru yang diperoleh menimbulkan rasa penting bagi mereka. Kondisi semacam ini sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan nilai-nilai agama pada diri mereka dengan cara memperkenalkam istilah, ungkapan dan bacaan yang bersifat agamis. Seperti memperkenalkan istilah-istilah dalam agama Islam seperti shalat, haji, hafalan doa, hafalan surat-surat pendek, dan sebagainya, disamping juga untuk pengembangan verbal mereka[8].

Nilai-nilai agama akan tumbuh dan berkembang pada jiwa anak melalui proses pengalaman dan pendidikan yang dialami sebelumnya. Seorang anak yang tidak mengalami pengetahuan dan pendidikan agama sebagai pengalaman belajarnya, akan dimungkinkan menimbulkan ketidakpedulian yang cukup tinggi dalam menghayati apa yang dipelajarinya di masa remaja dan dewasanya. Berbeda dengan anak yang dalam keluarga yang membiasakan anak untuk belajar agama sejak dini, lingkungan yang agamis, teman sebaya yang taat beribadah, ditambah lagi pengalaman-pengalaman dan pendidikan di sekolah maupun ditempat ibadah, maka dengan sendirinya anak itu akan memiliki kecenderungan untuk hidup dalam warna dan kebiasaan nilai-nilai agama yang dianutnya. Anak akan merasa terbiasa menjalankan ibadah, merasa takut jika melanggar aturan agaman dan mempunyai rasa sebagai hamba Allah.

Pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah, serta pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam pekerjaan, keikutsertaan dalam organisasi sosial/keagamaan memberikan pengaruh yang sangat berarti dalam kehidupan manusia. Jika pendidikan yang diikuti adalah pendidikan yang baik, kemudian lingkungan dan pergaulannya juga baik maka pengaruhnya akan baik bagi perkembangan rasa keberagamaannya. Dalam Kitab Tarbiyah wa Ta’lim, Juz II[9], disebutkan:

“Pendidikan tidak terbatas dalam pendidikan sekolah dan pada waktu kecil dan pada usia remaja saja. Maka manusia dalam setiap tahap perkembangan hidupnya akan terpengaruh oleh bentuk-bentuk pendidikan yang berbeda, dari tempat tinggal (lingkungan), sekolah, pekerjaan, kekuasaan/pemerintahan yang beradab, organisasi sosial,lingkungan yang baik dan agama, sama saja dalam hal itu merupakan keikutsertaan yang baik dan nasehat yang bagus, atau keikutsertaan yang sudah berjalan dengan keadaan masyarakat. Dan yang jelas bahwa manusia menerima bentuk pengaruh segala hal selama hal itu masuk akal dan yang memberikan pengaruh paling besar adalah rumah dan sekolah”.

Anak usia dini adalah anak yang berusia 0 sampai 6 tahun. Pada tiga tahun yang pertama, anak mengalami masa peka atau golden age, dimana ini adalah masa yang sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Anak yang mendapatkan stimulasi, pendidikan yang tepat akan dapat berkembang secara optimal. Namun jika masa ini terlewat maka perkembangan anak akan terganggu.

Dalam melaksanakan pendidikan agama, harus diperhatikan tahapan-tahapan perkembangan moral/spiritual anak sehingga lebih tepat dalam pelaksanannya. Perkembangan moral/spiritual pada anak adalah sebagai berikut[10]:

1) Masa kanak-kanak (sampai usia 7 tahun), tanda-tandanya adalah sebagai berikut :

a) Sikap keagamaan represif meskipun banyak bertanya

b) Pandangan ketuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan)

c) Penghayatan secara rohaniyah masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka salah melakukan atau partisipasi dalam kegiatan ritual

d) Hal ketuhanannya secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) sesuai taraf kemampuan kognitifnya yang masih bersifat egosentris (memandang segala sesuatu dari sudut pandang dirinya)

2) Masa anak sekolah (7-12 Tahun)

a) Sikap keagamaan bersifat reseptif tetapi disertai pengertian.

b) Pandangan dan paham ketuhanannya diterangkan secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang bersumber pada indikator alam semesta yang sebagai manifestasi dari eksistensi dan keagungannya.

c) Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.

Nilai-nilai keagamaan pada anak akan tumbuh dan berkembang pada jiwa anak melalui proses pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya sejak kecil. Seorang anak yang tidak memperoleh pendidikan tentang nilai-nilai keagamaan, akan menimbulkan ketidakpedulian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan. Pengembangan nilai agama pada anak akan berkisar pada kehidupan sehari-hari, secara khusus penanaman nilai keagamaannya adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian/budi pekerti yang terpuji dan kebiasaan ibadah sesuai kemampuan anak. Rasa keagamaan dan nilai-nilai agama akan tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan psikis maupun fisik anak.

Perhatian anak terhadap nilai-nilai dan pemahaman agama akan muncul manakala mereka sering melihat dan tertib dalam upacara-upacara keagamaan, dekorasi dan keindahan rumah ibadah, rutinitas, ritual orangtua dan lingkungan sekitar ketika menjalankan peribadahan. Perkembangan nilai keagamaan pada anak akan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan lingkungan. Faktor pembawaan karena setiap manusia yang lahir kedunia, menurut fitrah kejadiannya telah memiliki potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta ini. Hanya saja kadarnya berbeda-beda, sehingga tingkat kecepatan perkembangannya juga berbeda-beda untuk masing-masing individu. Sedangkan faktor lingkungan berpengaruh karena faktor pembawaan masih merupakan potensi, sehingga lingkunganlah yang akan menentukan apakah potensi keagamaan dan keimanan seseorang akan berkembang secara optimal atau tidak.

Ketika rasa keagamaan itu sudah tumbuh pada diri anak, maka kita perlu memberikan latihan-latihan keagamaan. Apabila latihan itu dilalaikan sejak kecil atau dengan cara yang kurang tetap, bukan mustahil ketika mereka menginjak dewasa nanti tidak akan memiliki kepedulian yang tinggi pada kehidupan beragama dalam kesehariannya. Begitu pula sebaliknya, bila kita rajin melatih anak dalam hal keagamaan melalui kegiatan berdoa, beribadah menurut agamanya masing-masing serta berperilaku sesuai ajaran agama, diyakini sang anak akan menjadi orang yang agamis, taat beribadah dan berkepedulian tinggi terhadap aktivitas keagamaan.

Fitrah keagamaan pada anak harus benar-benar dijaga dan dikembangkan agar nantinya rasa keberagamaan itu akan melekat dengan kuat pada diri mereka di saat mereka telah dewasa. Karena tanpa adanya pendidikan, pelatihan dan bimbingan yang memadai fitrah itu akan “hilang”.

Selain itu Rasulullah juga memerintahkan untuk memilih pasangan yang baik dalam membina rumah tangga dalam hadist yang diriwayatkan oleh yang berbunyi :

“Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan berbahagia”. (Muttafaq Alaihi)

Lingkungan yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan rasa keberagamaan pada anak adalah institusi formal seperti sekolah maupun nonformal seperti perkumpulan dan organisasi. Sekolah memegang peranan penting dalam perkembangan rasa keberagamaan. Apalagi pada anak usia dini dimana fungsi sekolah dalam pendidikan anak usia dini adalah sebagai dasar bagi pendidikan selanjutnya. Pendidikan usia dini juga merupakan tahun persiapan anak secara sosial emosional untuk menerima pendidikan pada tingkat selanjutnya dan juga sebagai dasar dalam pembentukan kebiasaan dan perilaku. Seperti yang diungkapkan oleh Harry L. Gracey[11]:

“Taman Kanak-kanak umumnya diterapkan oleh pendidik sebagai tahun persiapan untuk sekolah. Hal ini dianggap sebagai tahun di mana anak-anak kecil, berusia lima atau enam tahun, disiapkan secara sosial dan emosional untuk pembelajaran akademik yang akan berlangsung selama dua belas tahun ke depan. Diharapkan dasar perilaku dan sikap yang akan diletakkan di TK di mana anak-anak kemudian dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan mereka yang akan diajarkan di kelas-kelas” .

C. PENUTUP

Pendidikan agama yang dilakukan sejak dini memegang peran yang sangat penting dalam menentukan perkembangan moral/spiritual anak. Dengan pendidikan sejak dini akan mampu mengembangkan fitrah manusia karena setiap manusia yang lahir kedunia, menurut fitrah kejadiannya telah memiliki potensi beragama atau keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa atau memiliki kepercayaan terhadap adanya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta ini.

Dengan adanya fitrah keagamaan yang dimiliki oleh setiap anak dan dengan adanya bimbingan, pelatihan, pembiasaan pelaksanaan kegiatan keagamaan maka akan mengembangakan rasa keberagamaan pada dirinya, sehingga menjadikan orang yang agamis, taat beribadah dan berkepedulian tinggi terhadap aktivitas keagamaan.

[1] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2006), hal. 25

[2] Mukhlison Effendi, Ilmu Pendidikan (Ponoroga: STAIN Ponorogo Press, 2008), hal. 4

[3] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, hal. 4

[4] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Rosdakarya , 2001), hal. 35

[5] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafido Persada, 2002), hal.96

[6] Soegeng Santoso, Dasar-dasar Pendidikan TK ( Jakarta: Penerbit UT, 2008), hal. 1.13

[7] Soegeng Santoso, Dasar-dasar Pendidikan TK, hal. 9-11

[8] Otib Satibi Hidayat, Metode Pengembangan Moral dan Nilai-nilai Agama (Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka, 2008), hal. 8.19-8.20

[9]Tim Penyusun, Tarbiyah wa Ta’lim (Gontor: Penerbit Darussalam, 1992), hal.68

[10] Ahmad Susanto, Perkembangan Anak Usia Dini (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hal.69-70

[11] Jeanne H. Ballantine and Joan Z. Spade (ed.), School and Society A Sociological Approach to Education (Canada: Thomson wadsworth, Inc., 2004), hal.145

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.