MANAJEMEN PEMBINAAN AKHLAK DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

MANAJEMEN PEMBINAAN AKHLAK DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A.    Pendahuluan

Anak adalah amanah Allah SWT yang  telah di berikan kepada orang tua untuk dididik dan dijadikan generasi penerus. Dan hal ini orang tua berkewajiban  untuk menyiapkan masa depan anak-anak mereka secara baik. Sehingga pada saatnya kelak anak akan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, berguna bagi negara, bangsa, dan agama.

MANAJEMEN PEMBINAAN AKHLAK  DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
MANAJEMEN PEMBINAAN AKHLAK  DI LEMBAGA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Dalam rangka mencapai tujuan orang tua dalam mendidik anaknya agar dapat berguna bagi nusa, bangsa, dan agama, sebagai orang tua harus dapat memilih pendidikan yang tidak hanya mengutamakan akademik saja namun harus memperhatikan ajaran tentang agama (religiusitas).
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi Siswa untuk bisa menyesuaikan itulah akan timbul perubahan pada dirinya yang memungkinkan untuk bisa bermanfaat dan berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat (Oemar  Hamalik, 2007: 3).

Pendidikan pada hakikatnya dapat di tinjau dari dua segi yaitu dari sudut  pandang masyarakat dan dari sudut pandang individu. Dari sudut pandang masyarakat pendidikan berarti pewaris kebudayan dari generasi tua  kepada generasi muda agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Sedangkan dari sudut  pandang individu, pendidikan berarti pengembangan  potensi-potensi dan terpendam dan tersembunyi (Hasan Laggulung, 1998:31).

Ajaran Islam menempatkan akhlak sebagai posisi yang paling istimewa dan sangat penting . Di dalam Al-Quran bayak sekali ayat-ayat yang berbicara tentang akhlak dua kali setengah lebih banyak dari pada ayat-ayat tentang hukum, baik yang teoritis maupun yang praktis. Belum juga terhitung hadits-hadits Nabi yang memberikan pedoman akhlak mulai dalam seluruh aspek kehidupan (Rachmat Djatmika, 1996 : 16).

Akhlak dalam Islam bukanlah moral yang sifatnya kondisional dan situasional. Nilai baik dan buruk, terpuji dan tercela, berlaku kapan dan di mana saja, dalam segala aspek kehidupan, dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Misalnya kejujuran dalam ekonomi, kejujuran dalam politik, kejujuran terhadap non muslim, sama dituntutnya dengan kejujuran terhadap sesama muslim. Sebuah keadilan harus ditegakkan, sekalipun terhadap diri sendiri dan keluaga sendiri. Walaupun kebencian kita terhadap musuh, kita tidak boleh menyebabkan tidak  berlaku adil (Yunahar Ilyas, 2000: VIII).

Ajaran akhlak dalam Islam itu sesuai dengan fitrah manusia.  Manusia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki bukan semua itu apabila mengikuti nilai-nilai kebaikan yang  diajarkan oleh Al-Quran dan Al-Sunah, yang merupakan sumber akhlak Islam. Akhlak Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai mahluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya (Salim bin Ied Al Hilali, 2001: 6).

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis akhlak.  Krisis akhlak terjadi pada setiap kalangan, pada kaum elit politik terlihat adanya penyelewengan, penindasan, saling menjegal, adu domba, fitnah, dan lain-lain yang mereka lakukan. Sedangkan krisis akhlak yang menimpa kalangan pelajar  terlihat keluhan orang tua, pendidik (guru) dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial berkenaan dengan ulah pelajar yang sukar di kendalikan, nakal, keras kepala, sering membuat keonaran, tawuran, mabuk-mabukan, serat obat-obat terlarang, bahkan suka melakukan pembajakan, pemerkosaan, pembunuhan, dan perilaku kriminal lainnya.

Krisis moral dan akhlak tersebut tentu saja dikarenakan pembinaan akhlak yang dilaksanakan belum berhasil. Hal ini bisa jadi karena pendidikan lebih menitik beratkan pada hasil pembelajaran dalam aspek kognitif. Siswa akan dianggap pandai jika mampu mencapai nilai yang bagus. Namun siswa yang memiliki akhlak yang bagus namun nilainya kurang bagus tetap dianggap sebagai anak yang bodoh.

Agar anak memiliki akhlak yang baik, maka pendidikan atau pembinaan akhlak perlu dilaksanakan sejak dini. Apalagi pendidikan anak usia mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anak Mengingat pentingnya pembinaan akhlak bagi anak usia dini, maka lembaga  pendidikan anak usia dini seharusnya mengutamakan pembinaan akhlak di samping pengembangan bidang lainnya.

B.    Isi

1.    Pengertian Manajemen

Manajemen adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu (Muhaimin,dkk, 2011: 4). Manajemen dalam arti luas, menunjuk pada rangkaian kegiatan, dari perencanaan yang akan dilaksanakannya kegiatan sampai penilaiannya. Manajemen dalam arti sempit, terbatas pada inti kegiatan nyata, mengatur atau mengelola kelancaran kegiatannya, mengatur kecekatan personil yang melaksanakan, pengatur sarana pendukung, pengatur dana, dan lain-lain, tetapi masih terkait dengan kegiatan nyata yang sedang berlangsung (Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, 2009: 2).

Manajemen dalam arti luas adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sedangkan manajemen secara sempit adalah manajemen sekolah yang meliputi perencanaan program sekolah, pelaksananaan program sekolah, kepemimpinan kepala sekolah, pengawasan evaluasi, dan sistem informasi sekolah (Husaini Usman, 2011: 5)

Manajemen merupakan suatu kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien (Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, 2009: 3). Manajemen juga berarti usaha mengatur organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik, efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar (Didin Kurniadin dan Imam Machali, 2012: 28).

Dari beberapa definisi di atas maka pengertian manajemen adalah kegiatan dari perencanaan, mengelola kelancaran kegiatannya, mengatur kecekatan personil yang melaksanakan, pengatur sarana pendukung, pengatur dana, dan lain-lain untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya agar efektif dan efisien.

2.    Tujuan Manajemen
Tujuan Manajemen menurut Ibrahim Nanang Bafadal (2003:50) diantaranya:

  • Efektifitas. Tujuan manajemen itu diupayakan dalam rangka mencapai efektifitas, suatu program kerja dikatakan efektif apabila program kerja tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
  • Efisiensi. Manajemen itu dilakukan dalam rangka mencapai efisiensi pelaksanaan setiap program. Efisiensi merupakan suatu konsepsi perbandingan antara pelaksanaan serta program dengan hasil akhir yang diraih.

Sedangkan menurut Hani T. Handoko (2003: 6) tujuan manajemen di antaranya:

  1. Untuk mencapai tujuan organisasi dan pribadi.
  2. Untuk menjaga keseimbangan antara tujuan-tujuan, saran-saran, dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi.
  3. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas.

Dari keterangan di atas dapat dikemukakan bahwa tujuan manajemen yaitu menjaga agar antara tujuan sesuai dengan kegiatan dan pelaksanaan serta dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

3.    Ruang Lingkup Manajemen

Manajemen mempunyai ruang lingkup dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program.

a.    Perencanaan
Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan mendapatkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu seefisien dan seefektif mungkin (Nanang Fattah, 2009: 49).

Dalam proses perencanaan terdapat tiga kegiatan yang tidak dapat dilepaskan atau dipisahkan meskipun hal tersebut dapat dibedakan. Ketiga kegiatan itu adalah (a) perumusan tujuan yang ingin dicapai; (b) pemilihan program untuk mencapai tujuan itu; (c) identifikasi dan pengerahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas (Nanang Fattah, 2009: 49).

Perencanaan berarti jembatan yang menjadi penghubung yang menghubungkan keadaan masa kini dengan keadaan masa datang yang diharapkan. Artinya, gambaran tentang harapan yang ingin dicapai di masa mendatang bergantung pada perencanaan yang telah dibuat.

Dengan begitu perencanaan dikatakan baik ketika memperhatikan kondisi yang akan datang, dimana keputusan dan tindakan efektif untuk dilaksanakan. Itulah sebabnya berdasarkan kurun waktunya dikenal dengan istilah rencana tahunan atau rencana jangka panjang, rencana jangka menengah dan rencana jangka pendek. Selain itu, perencanaan dinilai maksimal ketika antara perencanaan, pelaksanaan dan hasil yang dicapai berkesinambungan (Nanang Fattah, 2009: 50).

b.    Pelaksanaan
Banyak orang mengira bahwa yang bertanggungjawab melaksanakan manajemen pendidikan hanyalah kepala sekolah dan staf usaha. Pandangan seperti ini tentu saja keliru. Manajemen adalah suatu kegiatan yang sifatnya melayani. Dalam kegiatan belajar mengajar, manajemen berfungsi untuk melancarkan jalannya proses tersebut. Atau membantu terlaksananya kegiatan mencapai tujuan agar diperoleh hasil secara efektif dan efisien.

Pelaksanaan manajemen dikatakan baik ketika dilaksanakan secara bersama-sama oleh semua pihak sekolah apabila pelaksananan tersebiut ditujukan kepada seluruh elemen di lembaga tersebut. Selain itu, dikatakan baik ketika antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil berkesinambungan dengan baik.

c.    Evaluasi Program
Evaluasi adalah pembuatan pertimbangan menurut suatu perangkat kriteri ayang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada tiga faktor penting dalam konsep evaluasi yaitu pertimbangan (judgement), deskripsi obyek penilaian dan kriteria yang tertanggungjawab (defensible criteria). Aspek keputusan itu yang membedakan evaluasi sebagai suatu kegiatan dan konsep dari konsep lainnya, seperti pengukuran (measurement). Dalam hubungannya dengan manajemen pendidikan, tujuan evaluasi antara lain:

  1. Untuk memperoleh dasar bagi pertimbangan akhir suatu periode kerja, apa yang telah dicapai, apa yang belum dicapai, dan apa yang perlu mendapatkan perhatian khusus.
  2. Untuk menjamin cara kerja yang efektif dan efisien yang membawa organisasi kepada penggunaan sumber daya pendidikan (manusia/tenaga, sarana/prasarana, biaya) secara efisien ekonomis.
  3. Untuk memperoleh fakta tentang kesulitan, hambatan, penyimpangan dilihat dari aspek tertentu misalnya perogram tahunan, kemajuan belajar (Nanang Fattah, 2009: 107-108).

4.    Pengertian Akhlak
Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan kebahasaan dan pendekatan secara istilah. Secara bahasa, akhlak berasal dari kata akhlaqa, yakhluqu, ikhlaqan, yang berarti perangai, kelakuan, tabiat, watak dasar, kebiasaan, kelaziman, peradaban yang baik, dan agama (Abudin Abudin Nata , 2012: 1).

Sedangkan menurut Ibnu Maskawih yang dikutip oleh Abuddin Abudin Nata, akhlak secara istilah berarti sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Imam Al Ghazali mendefinisikan akhlak seperti yang dikutip oleh Abudin Nata  adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Abudin Nata, 2012: 2).

Abudin Nata (2012: 4-6)  menyimpulkan setidaknya ada lima ciri yang terdapat pada pengertian akhlak:

  1. Perbuatan itu adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
  2. Perbuatan yang mudah dan tanpa pemikiran.
  3. Perbuatan itu timbul dari diri orang yang mengerjakannya bukan karena paksaan atau tekanan dari luar.
  4. Perbuatan itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau  karena bersandiwara.
  5. Perbuatan itu semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang lain (ikhlas).

Sedangkan menurut Abdul Mustaqim (2007: 2), akhlak sebenarnya berasal dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, disebabkan ia telah membiasakannya, sehingga ketika akan melakukan perbuatan tersebut, ia takperlu lagi memikirkannya, seolah perbauatn tersebut telah menjadi gerak refleks.

5.    Pembinaan Akhlak
Kata pembinaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki beberapa arti yaitu proses, cara, perbuatan membina, pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan, dan kegiatan yang di lakukan secara efektif dan efisian dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik (KBBI, 2008: 139).

Pembinaan merupakan suatu rangkaian yang dilakukan secara formal maupun nonformal dalam rangka mendayagunakan semua sumber, baik berupa unsur manusiawi maupun non manusiawi dimana dalam proses kegiatannya berlangsung upaya membantu, membimbing dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan sesuai dengan kemampuan yang ada sehingga pada akhirnya tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai secara efektif dan efisien (Efendi Pakpahan, 2013:1).

Berdasar pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pembinaan akhlak adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil dalam membimbing dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan sesuai dengan kemampuan yang ada sehingga pada akhirnya terpatri satu sifat yang darinya lahir perbuatan-perbuatan yang baik.

6.    Tujuan Pembinaan Akhlak
Tujuan pembinaan akhlak secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menuju tujuan yang hendak dicapai. Tanpa adanya tujuan yang jelas akan menimbulkan kekaburan atau ketidakpastian maka tujuan pembinaan merupakan faktor yang teramat penting dalam proses terwujudnya akhlak .
Tujuan pembinaan akhlak menurut Ibnu Qayyim adalah merealisasikan ubudiyah kepada Allah yang menjadi sebab utama bagi kebahagiaan manusia yang karenanya Allah menciptakan manusia memuliakan dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi.

Selain yang disebutkan di atas, tujuan pembinaan akhlak  adalah:

  1. Memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik dalam berbicara, bersikap, dan berperilaku yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Sebagai kontrol bagi guru, orang tua dalam memberikan suri tauladan bagi anak dalam membiasakan perilaku yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menanamkan nilai-nilai akhlak mulia bagi anak sejak dini (Jamun, dkk, 2011: 235).

Tujuan merupakan arah atau sasaran yang ingin dituju atau dicapai sebuah proses. Tujuan dari pembinaan akhlak adalah untuk mencapai derajat ketaqwaan dan keimanan kepada sang khaliq yaitu Allah SWT dan menjadi insan yang mulia baik di dunia maupun di sisi-Nya kelak (Abudin Nata, 2012: 158).

7.    Dasar Pembinaan Akhlak

Loading...

Dasar pokok pembinaan akhlak adalah Al-Qur’an dan Hadits Rasullah SAW. Adapun dasar pelaksanaan pembinaan dapat ditinjau dari beberapa segi yaitu agamis yuridis, dan sosial psikologis .

a.     Dasar Agamis
Dasar agamis adalah dasar–dasar yang bersumber dari agama Islam yaitu tersurat di dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW.Adapun dasar-dasar yang tersurat dalam Al-Qur’an antara lain adalah sebagai mana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 104 yang berbunyi sebagai berikut:
1)    Surat Ali Imran:104 (Depag RI, 2009: 123)
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌيَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِوَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِوَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٤)
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkarmerekalah orang-orang yang beruntung”

2)    SuratAn- Nahl:125 (Depag RI, 2009: 281)
اُدْعُ إِلىَ ىسَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِوَالْمَوْعِظَةِالْحَسَنَةِوَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَأَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَأَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(١٢٥)
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

3)    SuratAl Qalam: 4 (Depag RI, 2009: 1125)
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ(٤)
“Dan Sesungguhnya Kamu Benar-Benar Berbudi Pekerti Yang Agung”.

Dari beberapa ayat tersebut di atas telah dijelaskan tentang keutamaan manusia supaya berakhlak  mulia menyeluruh untuk memberikan bimbingan atau pengajaran tentang agama kepada semua umat manusia agar mampu menjalankan dan mengamalkan ajaran agama sesuai dengan ajaran Al Qur’an dengan baik sesuai dengan tuntunan dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan umat manusia .

b.    DasarYuridis
Dasar Yuridis adalah dasar pelaksanan pembinaan akhlak yang bersumber dari peraturan perundang–undangan yang berlaku di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung dan dapat di jadikan pegangan dalam pelaksanaan pendidikan agama di sekolah atau di lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal. Dari dasar yuridis tersebut terdiri dari tiga dasar yaitu :

1)    Dasar Ideal
Dasar Pancasila dapat dilihat pada sila pertama yaitu ke- Tuhanan Yang Maha Esa.Sila ini mengandung pengertian bahwa seluruh warga Indonesia harus mengakui dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang mengandung maksud bahwa warga Indonesia harus beragama (Jamun, dkk, 2011:235).

2)    Dasar Konstitusional
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 BAB XI pasal 29 ayat 1 dan 2 disebutkan:

  1. Negara Berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa
  2. Negara menjamin kebebasan tiap- tiap penduduk memeluk agama menurut agama dan kepercayaan masing-masing

Pasal tersebut mengandung arti bahwa sebagai warga negara Indonesia harus beragama dan negara melindungi umat beragama untuk menjalankan ajaran agama dan beribadah menurut agamanya masing-masing (Jamun, dkk, 2011:235).

3)    Dasar Opersional
Yang dimaksud dengan dasar operasional adalah dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di sekolah-sekolah Indonesia seperti yang disebutkan dalam TAP MPR No. IV /MPR/1973 yang kemudian dikokohkan kembali pada Tap No. IV/MPR/1978 ketetapan MPR No.II/MPR/1983 tentang GBHN yang pada pokoknya dinyatakan bahwa pelaksanaan pendidikan agama secara langsung dimasukkan ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah (Jamun, dkk, 2011:235).

4)    Dasar sosial psikologis
Sebagai dasar sosial psikologis semua umat manusia dalam hidupnya membutuhkan dan suatu pegangan hidup yang disebut agama sehingga bukan tidak mungkin akan melahirkan manusia yang baik apabila sudah terwujud manusia yang baik maka akan terwujud pula masyarakat yang baik (Jamun, dkk, 2011:235).

8.    Materi Pembinaan Akhlak

Menurut ajaran Islam berdasarkan praktek Rasulullah pendidikan akhlakul karimah (akhlak  mulia) adalah suatu faktor penting dalam membina suatu umat atau membangun suatu masyarakat. Yang diperlukan oleh pembangunan adalah keikhlasan kejujuran jiwa kemanusiaan yang tinggi sesuai antara kata dengan perbuatan. Oleh karena itu program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha adalah pembinaan akhlak  mulia.

Karena Akhlak  mencakup berbagai aspek, mulai dari akhlak  kepada Allah, dan akhlak  kepada sesama makhluk (manusia, biAbudin Nata ng, tumbuhan, dan benda-benda yang tidak bernyawa). Dalam kaitannya dengan pembinaan maka akhlak  yang ditanamkan pada siswa adalah akhlak  karimah (mulia). Beberapa akhlak  yang dibina dan ditanamkan pada peserta didik diantaranya adalah:

a.    Akhlak kepada Allah
Akhlak kepada Allah diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan manusia sebagai makhluk kepada Allah sebagai Khalik (Abudin Nata, 2012: 149).
Menurut Abudin Nata (2012: 150-151) diantara akhlakul karimah manusia kepada Allah adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menyekutukan Allah (Q.S. An Nisa: 191)
  2. Takwa kepada Allah (Q.S. An Nisa: 131)
  3. Mencintai Allah (Q.S. An Nahl: 72)
  4. Ridha dan ikhlas terhadap ketentuannya (Q.S. Al Baqarah: 21)
  5. Bertaubat (Q.S. Al Baqarah: 222)
  6. Mensyukuri nikmat Allah (Q.S. Al Baqarah: 152)
  7. Selalu berdoa kepada Allah (Q.S. Al Ghafir: 60)
  8. Beribadah kepada Allah (Q.S. Ad Dzariyat: 56)
  9. Meniru-niru sifat Allah (Asmaul Husna) dan mencari ridha Allah (Q.S. Al Fath: 29)
  10. Banyak memuji Allah (Q.S. As Shaffat: 159-160)

Sedangkan menurut Al Mustaghrak (2013: 1) beberapa akhlakul karimah kepada Allah antara lain:

  1. Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya.
  2. Berdzikir kepada Allah yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan kondisi, baik diucapkan dalam mulut maupun dalam hati.
  3. Berdo’a, memohon apa saja kepada Allah
  4. Tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha dan berdo’a.
  5. Tawadu’ yaitu rendah hati dihadapan Allah.

b.    Akhlak kepada sesama manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur’an tentang akhlak kepada sesama manusia. Petunjuk-petunjuk itu bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib seseorang, tidak masuk rumah tanpa izin, saling mengucapkan salam, mengucapkan hal-hal yang baik, tidak berprasangka buruk, tidak memanggil dengan panggilan yang buruk, memaafkan, mengendalikan nafsu amarah, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri (Abudin Nata, 2012: 151-152).

Sedangkan menurut Al Mustaghrak (2013:1) akhlak kepada manusia diantaranya adalah:
1)    Husnudzon, yaitu prasangka, perkiraan, dugaan baik
2)    Tawadu’, yaitu rendah merendahkan diri dalam pergaulan.
3)    Tasamu, yaitu sikap tenggang rasa, saling menghormati, dan saling menghargai sesama manusia.
4)    Ta’awun, yaitu tolong menolong, gotong royong, bantu membantu dengan sesama manusia.

c.    Akhlak kepada lingkungan
Lingkungan yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik biAbudin Nata ng, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa (Abudin Nata, 2012: 152).
Dalam Islam, ajaran untuk memanfaatkan alam ini dengan baik sangat dianjurkan. Manusia sebagai khalifah di bumi harus  memelihara lingkungan dengan baik agar lingkungan bisa lestari. Manusia bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan dan dilarang merusak lingkungan, karena merusak lingkungan sama saja merusak diri manusia itu sendiri.

9.    Pembinaan Akhlak  Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Agar pembinaan akhlak  dapat mendapatkan hasil yang optimal sesuai tujuan yang diharapkan maka harus diperhatikan tahapan perkembangan anak. Periodesasi perkembangan anak menurut Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakkir (2006: 108-112)  dibagi menjadi lima, yaitu :

a.    Tahap asuhan (usia 0-2 tahun), lazim disebut fase neonatus, dimulai kelahiran sampai kira-kira dua tahun.
Pada fase ini, individu belum memiliki kesadaran dan daya intelektual, ia hanya mampu menerima rangsangan yang bersifat biologis dan psikologis melalui air susu ibunya. Pada fase ini belum dapat diterapkan interaksi edukasi secara langsung, karena itu proses edukasi  dilakukan dengan  cara: memberi azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, memotong kambing untuk akikah, memberi nama yang baik, membiasakan hidup bersih, suci, dan sehat; memberi ASI sampai usia dua tahun, memberi makanan yang halal dan thoyyib.

b.    Tahap pelatihan jasmani dan pelatihan pancaindera (usia 2-12 tahun), yang lazim disebut fase kanak-kanak (al thifl/shabi) yaitu mulai masa neonatus sampai masa polusi ( mimpi basah)
Pada tahap ini anak-anak mulai memiliki potensi-potensi biologis, paedagogis, dan psikologis. Karena itu, pada tahap ini mulai diperlukan adanya pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran  pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat serta kemampuannya. Proses edukasi yang  dilakukan harus dengan penuh kasih sayang, melalui cerita-cerita yang menarik, serta melatih anak untuk melakukan aktifitas positif sehingga ketika menginjak masa berikutnya anak terbiasa melakukan perbuatan positif.  Pendidik bertugas mengoptimalkan potensi-potensi yang ada agar dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan cara membiasakan dan melatih hidup yang baik, seperti dalam berbicara, makan, bergaul, dan menyesuaikan dengan lingkungan, dan berperilaku islami. Pengenalan aspek doktrinal agama juga dibiasakan sejak dini.

c.    Tahap pembentukan watak dan pendidikan agama (usia 12-20 tahun).
Fase ini disebut fase tamyiz, yaitu fase dimana anak mulai mampu membedakan yang baik dan yang  buruk, yang benar dan yang salah, disebut juga fase baligh atau mukallaf.

d.    Tahap kematangan (usia 20-30 th)
Pada fase ini anak-anak sudah beranjak menjadi dewasa baik secara biologis, sosial, psikologis, dan kedewasaan religius.

e.    Tahap kebijaksanaan (lebih dari 30 th)
Pada fase ini manusia sudah menemukan jati diri yang sebenarnya, sehingga tindakannya sudah bijaksana.

Berdasar tahapan perkembangan manusia, anak usia dini berada pada tahap pelatihan jasmani dan pelatihan pancaindera (masa kanak-kanak), dimana pada masa ini anak memerlukan pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat serta kemampuannya.

10.    Manajemen Pembinaan Akhlak Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

a.    Pengertian Manajemen Pembinaan
Djuju Sudjana (2004: 208) menambahkan fungsi manajemen dalam program pendidikan, yaitu pembinaan. Pembinaan bisa diartikan sebagai upaya memelihara atau membawa sesuatu keadaan yang seharusnya terjadi atau menjaga keadaan sebagaimana seharusnya terlaksana. Dalam manajemen pendidikan, pembinaan dilakukan dengan maksud agar kegiatan atau program yang sedang dilaksanakan selalu sesuai dengan rencana atau tidak menyimpang dari rencana yang telah ditentukan (Djuju Sudjana, 2004: 209).

b.    Pendekatan dan Teknik Pembinaan
Pembinaan bisa dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Pembinaan secara langsung terjadi apabila pihak pembina melakukan pembinaan melalui tatap muka dengan pihak yang dibina. Sedangkan pembinaan secara tidak langsung dilakukan tanpa adanya tatap muka, tetapi menggunakan beberapa teknik yang memungkinkan untuk bisa melaksanakan kegiatan pembinaan.

Secara lebih detail, teknik-teknik dalam kegiatan pembinaan adalah sebagai berikut:

1)    Pendekatan langsung. Pembinaan langsung dapat dilaksanakan dengan beberapa teknik, yaitu:

  • Pembinaan individual. Pembinaan individual atau perorangan adalah pembinaan yang dilakukan terhadap seorang siswa pelaksana kegiatan. Pihak pembina (guru) memberikan dorongan, bantuan dan bimbingan langsung kepada siswa. Teknik teknik yang dapat digunakan antara lain: diskusi, dialog, bimbingan individual, dan peragaan (Djuju Sudjana, 2004: 210).
  • Pembinaan kelompok. Pada pembinaan kelompok, pihak supervisor atau pembina melayani pelaksana kegiatan pembinaan (siswa) secara berkelompok. Cara ini bisa dilakukan apabila kelompok memiliki karakteristik yang sama atau homogen. Pembinaan secara kelompok akan lebih menghemat waktu, biaya dan juga tenaga. Teknik-teknik yang dapat digunakan antara lain: diskusi, rapat kerja, penataran, lokakarya, pameran, dan karya wisata (Djuju Sudjana, 2004: 211).

2)    Pendekatan tidak langsung. Pembinaan tidak langsung dapat dilakukan dengan teknik antara lain dengan memberikan petunjuk, pedoman, dan informasi kepada pihak yang dibina tentang kegiatan yang harus dikerjakan. Alat pembinaan mencakup: media tertulis, seperti surat, lembaran pembinaan, dan brosur; dan media elektronik seperti melalui siaran radio, televisi dan internet (Djuju Sudjana, 2004: 212).

c.    Prosedur Pembinaan
Prosedur pembinaan meliputi lima (5) langkah, yaitu:

  1. Mengumpulkan informasi. Informasi yang dihimpun meliputi kenyataan yang benar-benar terjadi dalam kegiatan pembinaan, dalam hal ini berkaitan dengan bakat dan minat siswa. Pengumpulanm informasi yang efektif adalah yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan dengan menggunakan pemantauan dan penelaahan laporan kegiatan.
  2. Mengidentifikasi masalah. Kegiatan mengidentifikasi masalah dilakukan berdasarkan pengumpulan informasi yang ada. Masalah akan terlihat jika terjadi ketidak sesuaian atau penyimpangan dari kegiatan yang telah ditentukan/direncanakan. Penyimpangan ini menyebabkan adanya jarak atau perbedaan antara yang seharusnya terjadi dalam rencana dengan realitas  yang benar-benar terjadi.
  3. Menganalisis masalah. Kegiatan analisis masalah dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis masalah dan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah tersebut.
  4. Mencari dan menetapkan alternatif pemecahan masalah. Setelah ditemukan jenis-jenis masalah melalui analisis, dilakukan pencarian potensi atau sumber-sumber yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah. Setelah itu mengidentifikasi alternatif upaya yang dapat dipertimbangkan untuk memecahkan masalah. Alternatif ini disusun dengan memperhatikan faktor pendukung dan penghambatnya. Selanjutnya ditentukan prioritas upaya pemecahan masalah yang dipilih dari alternatif-alternatif yang ditawarkan.
  5. Melaksanakan upaya pemecahan masalah. Tahap yang terkakhir dalam pembinaan adalah melakssiswaan upaya pemecahan masalah, baik secara langsung antara pembina dengan yang dibina maupun secara tidak langsung, seperti yang telah peneliti paparkan terdahulu (Djuju Sudjana, 2004: 236).

d.    Manajemen Pembinaan Akhlak Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
Manajemen pembinaan akhlak pada lembaga pendidikan anak usia dini tentu dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan sumber daya yang ada di lembaga pendidikan anak usia dini.

1)    Perencanaan Pembinaan Akhlak Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Burhanuddin yang dikutip oleh Didin Kurniadin dan Imam Machali (2012: 126), perencanaan adalah proses pemikiran yang sistematis mengenai apa yang akan dicapai, kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkahm metode, dan pelaksana yang dibutuhkan untuk mneyelenggarakan kegiatan pencapaian tujuan yang dirumuskan secara rasional dan logis serta berorientasi ke depan.

Perencanaan berperan menentukan tujuan dan prosedur mencapai tujuan, memperjelas bagi para anggota organisasi melakukan berbagai kegiatan sesuai tujuan dan prosedur, memantau, dan mengukur keberhasilan organisasi serta mengatasi bila ada kekeliruan. Dalam manajemen pembinaan akhlak  maka diperlukan sebuah perencanan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan akhlak yaitu untuk mencapai derajat ketaqwaan dan keimanan kepada sang khaliq yaitu Allah SWT dan menjadi insan yang mulia baik di dunia maupun di sisi-Nya kelak. Kemudian membuat prosedur untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, memberikan penjelasan kepada semua komponen dalam organisasi (sekolah) untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan tujuan dan prosedur serta memantau dan mengukur keberhasilan pembinaan akhlak.

Pembinaan akhlak merupakan salah satu aspek pribadi dan sosial ini juga berkaitan dengan pendidikan sosial bagi anak harus dilaksanakan sejak kecil. Seperti diungkapkan oleh Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Tarbiyatul Aulad Al Islamiyyah yaitu:
المقصودبالتربية الاجتماعية: تأديب الولد منذ نعومة اظفاره على التزام اداب اجتماعية فاضلة,واصول نفسية نبيلة تنبع من العقيدة الأسلا مية الخالده والشعورالأيماني العميق

“Pendidikan sosial yaitu mendidik anak sejak kecil agar terbiasa melakukan perilaku sosial yang utama, dasar-dasar kejiwaan yang mulia yang bersumber pada akidah al Islamiyyah yang kekal dan kesadaran iman yang mendalam”. (Abdullah Nashih Ulwan, 1997: 273)

2)    Pengorganisasian Pembinaan Akhlak Pada Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini
Menurut Heidjarachman Ranupandojo yang dikutip oleh Didin Kurniadi dan Imam Machali (2012: 129), pengorganisasian adalah kegiatan untuk mencapai tujuan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan membagi tugas, tanggung jawab, dan wewenang di antara mereka ditentukan siapa yang menjadi pemimpin serta saling berinteraksi secara aktif.

Sedangkan menurut Nanang Fattah yang dikutip oleh Didin Kurniadin dan Imam Machali, pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, memberikan tugas tersebut kepada orang-orang yang memiliki keahlian dan mengalokasi sumber daya, serta mengkoordinasikannya ke dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi (Didin Kurniadin dan Imam Machali, 2012: 130).

3)    Penggerakkan  (actuating) Pembinaan Akhlak
Menurut Djuju Sudjana (2004: 2) actuating (penggerakan) adalah upaya memimpin untuk menggerakan (memotivasi) seseorang/sekelompok orang yang dipimpin dengan menumbuhkan motivasi/dorongan orang yang di pimpin untuk melakukan tugas/kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

Dalam hal ini pentingnya motivasi adalah agar seseorang dapat mengaktifkan, membimbing, dan  mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu agar semua rencana dan kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Hal ini seperti diungkapkan oleh Robert A. Slavin ( 205: 317).
“Motivation is internal prosses that activates, guides, and maintains behaviour over time”

“Motivasi adalah proses dari dalam  yang dapat mengaktifkan, membimbing, dan  mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu”

Dalam pembinaan akhlak, yang berperan secara langsung tentu guru, kepala sekolah dalam hal ini berperan dalam menumbuhkan motivasi/dorongan pada guru untuk melakukan tugasnya dalam membina akhlak siswa. Dalam pembinaan akhlak peran guru sangatlah penting karena salah satu tugas guru adalah mendidik siswa (Rokib dan Nurfuadi, 2011: 100).

Dalam penggerakkan pembinaan akhlak, perlu diketahui pula indikator yang akan dicapai dalam pembinaan akhlak di lembaga pendidikan anak usia dini. Hal ini mengingat penggerakkan pembinaan akhlak terkait dengan pelaksanaan pembinaan akhlak. Hal ini tentu saja harus mempertimbangkan indikator pencapaian akhlak agar pelaksanaan pembinaan akhlak dapat berlangsung sesuai tujuan yang diharapkan. Untuk indikator pencapaian pembinaan akhlak di lembaga pendidikan anak usia dini adalah sebagai berikut:
a)    Membiasakan mengucap salam
b)    Membedakan baik dan buruk
c)    Membedakan benar-salah
d)    Membiasakan berperilaku jujur
e)    Membiasakan bersedia membantu dan bekerja sama dengan orang lain.
f)    Menyayangi sesama
g)    Memelihara dan menyayangi makhluk ciptaan Allah
h)    Membiasakan berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan
i)    Membiasakan bersikap ramah kepada orang lain
j)    Membiasakan mau berbagi dengan orang lain
k)    Menjaga dan merawat barang milik sendiri
l)    Mengembalikan dan merapikan mainan yang telah digunakan
m)    Membiasakan berani mengungkapkan pendapat
n)    Membiasakan berani memimpin berdoa (Kementrian Agama, 2011: 73).

4)    Kontrolisasi  (controlling) Pembinaan Akhlak
Kontrolisasi (pengawasan) adalah proses pengamatan dan pengukuran suatu kegiatan dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya yang terlihat dalam rencana. Pengawasan berfungsi untuk mengukur tingkat efektifitas kerja personal dan tingkat efisiensi penggunaan metode dan alat tertentu dalam usaha mencapai tujuan organisasi (Didin Kurniadi dan Imam Machali, 2012: 131-132).

Pengawasan dalam pembinaan akhlak juga merupakan bentuk evaluasi atas pelaksanaan program pembinaan akhlak yang sudah dilaksanakan. Fungsi pengawasan dalam manajemen bertujuan menjamin kinerja yang dicapai agar sesuai dengan rencana dan tujuan yang telaah ditetapkan. Pengawasan dalam pembinaan akhlak harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, untuk mengetahui dan memantau perubahan serta kemajuan siswa. Hasil dari pengawasan dan kontrolisasi pembinaan akhlak nantinya digunakan untuk sebagai bahan untuk perbaikan pada perencanaan dan pelaksanaan program pembinaan akhlak (E. Mulyasa, 2012: 192).

C.    Penutup

Manajemen pembinaan akhlak pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dinia adalah perencanaan, mengelola kelancaran kegiatannya, mengatur kecekatan personil yang melaksanakan, pengatur sarana pendukung, pengatur dana, dan lain-lain dalam rangka memperoleh hasil dalam membimbing dan mengembangkan pengetahuan dan kecakapan siswa pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dini sehingga memiliki sifat dan  perbuatan-perbuatan yang baik.

Manajemen pembinaan akhlak pada lembaga Pendidikan Anak Usia Dinia harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa usia dini yaitu tahap pelatihan jasmani dan pelatihan pancaindera (masa kanak-kanak), dimana pada masa ini anak memerlukan pembinaan, pelatihan, bimbingan, pengajaran pendidikan yang sesuai dengan minat dan bakat serta kemampuannya.

Langkah-langkah dalam manajemen pembinaan akhlak  meliputi perencanan, pengorganisasian, penggerakkan dan evaluasi. Dalam perencaanaan pertama perlu adanya perencanan tentang tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan akhlak yaitu untuk mencapai derajat ketaqwaan dan keimanan kepada sang khaliq yaitu Allah SWT dan menjadi insan yang mulia baik di dunia maupun di sisi-Nya kelak. Kemudian membuat prosedur untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, memberikan penjelasan kepada semua komponen dalam organisasi (sekolah) untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan tujuan dan prosedur serta memantau dan mengukur keberhasilan pembinaan akhlak.

Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas yang lebih kecil, memberikan tugas tersebut kepada guru sesuai dengan keahlian dan mengalokasi sumber daya, serta mengkoordinasikannya ke dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan. Penggerakan adalah upaya untuk menggerakan (memotivasi) seseorang/sekelompok orang yang dipimpin dengan menumbuhkan motivasi/dorongan orang yang dipimpin untuk melakukan tugas/kegiatan yang diberikan kepadanya sesuai dengan rencana dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Dan evaluasi dalam pembinaan akhlak adalah proses pengamatan dan pengukuran suatu kegiatan dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya yang terlihat dalam rencana, selain itu juga sebagai bentuk pelaksanaan evaluasi terhadap pelaksanaan pembinaan akhlak.

Simpan

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.