Bisnis Itu Jualan !

Bisnis tu jualan – Pertama-tama, apa yang Anda pikirkan tentang jualan?. Yups, Jualan Adalah  menyediakan barang yang dibutuhkan oleh pembeli. Kita mengambil keuntungan dari selisih harga kulakan dan harga jualan. Jualan, sebuah kata yang mungkin lebih khusus jika di bandingkan dengan istilah bisnis. Ibaratnya, jika bisnis adalah rumah, maka jualan adalah taman atau isi ruangannya.

Ada paradigma salah yang berkembang, sebuah cara pandang yang kebanyakan masyarakat Indonesia anut. Begini, jika ada pertanyaan, Anda setelah lulus sekolah ingin jadi karyawan atau wirausaha?.

Pertanyaan tersebut, memiliki arti Anda ingin jual keahlian Anda ke perusahaan (Menjadi Karyawan) atau menggunakan keahlian Anda untuk menjual barang milik sendiri (Wirausahawan)?

Anda pikir menjadi karyawan bukan jualan?. Pertama, Anda menjual keahlian Anda pada perusahaan dengan bekerja menjadi karyawan. Kedua bisnis dari perusahaan tempat Anda bekerja pasti mengandalkan penjualan.

Bisnis Itu Jualan !

Saya ambil sebuah contoh sederhana, misalnya Anda memilih bekerja di bank dari pada Anda berdagang emas sendiri di Toko. Artinya, Anda menjual keahlian Anda ke Bank, dan Bank memanfaatkan keahlian Anda entah itu sebagai karyawan  oprasional atau marketing dan ujung-ujungnya pasti untuk memfasilitasi dan memudahkan bank dalam menjual jasanya kepada nasabah.

Kalau begitu kenapa anda tidak jualan sendiri saja.?

Uang yang ada dalam perusahaan tempat Anda bekerja merupakan uang dari hasil aktifitas penjualan !. Perusahaan apapun di kolong bumi ini akan mendapatkan uang dari jualan. Bisnis itu ya jualan, pengin punya uang banyak ya wajib punya bisnis dan pintar jualan.

Ada 4 pilar utama dalam menghasilkan uang, dan ini sangat umum, sudah ada dari jaman sebelum saya lahir, begini : setiap perusahaan akan tersusun dari empat (4) pilar utama ini. Apa itu, yaitu Pemasaran ( Marketing dan Sales), Sumber Daya Manusia (SDM), Keuangan dan Oprasional.

Baca : Pengusaha Tiga Juta Sehari, Karyawan?

Kesatuan 4 pilar tersebut bersinergi yang ujung-ujungnya adalah penjualan atas barang/ jasa yang diproduksi.

Menjadi pekerja kantoran, PNS, Guru, Presiden. Mereka menjual jasa dan dibayar uang. jangan salah, Mereka jualan. Jualan keahlian bro. Jadi jangan salah dan termanipulasi, semua hal yang ada di dunia ini ujung-ujungnya jualan. Hehe.

Nah, jadi buat apa kita sibuk menjadi karyawan, sementara kita bisa jualan sendiri saja. Jika gaji karyawan 4 juta sebulan, omset jualan bisa dapat 4 juta satu hari. Modal?. Akh, Itu hanya alasan bagi yang males jualan. Bank berteteran di mana-mana, Anda bisa pinjam jika Anda memang senang jualan.

Jualan itu memanfaatkan kahlian untuk diri sendiri, karyawan itu menjual keahlian untuk perusahaan. Sumber uang adalah dari jualan, Ujung tombak perusahaan apapun adalah dari segi penjualan produk barang yang mereka hasilkan.

Saya pribadi merasakan bahwa jualan dapat melipatgandakan penghasilan dibanding sebagai karyawan. Kalau ingin banyak uang, ya jualan.

Misal Anda memiliki pabrik besar, tapi Anda tidak bisa jualan, tutup tuh pabrik !. Tapi, Anda jago jualan, tapi Anda belum mampu produksi barang pabrik sendiri, Anda masih bisa jualin produk orang lain. so, you must selling.

Jago bisnis pasti juga jago dalam penjualan juga, ujung tombak dari sebuah perusahaan adalah para marketing dan sales. Oprasional hanya sebagai fasilitator dan penyedia keperluan rumah tangga perusahaan. Jika marketing adalah bapak, maka oprasional adalah seorang ibu. Dalam keluarga, ujung tombak mencari uang adalah seorang bapak.

Bisnis akan sukses jika Anda mahir dalam hal penjualan, atau paling tidak Anda merekrut sumberdaya yang mahir di bidang menjual.

Baca : Bisnis Jualan pakaian di Desa

Jika Ingin cepat kaya dan banyak uang maka mulailah Jualan !

Bisnis, Karyawan Dan Pendapatan

Bisnis, karyawan dan pendapatan – Kembali saya luangkan waktu menulis tentang bisnis. Nah, karena tema pada tulisan kali ini berjudul Antara Bisnis, Karyawan Dan Pendapatan, maka terlebih dahulu saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan, Apa pekerjaan yang Anda geluti sekarang? Pertanyaan ini akan menggambarkan apa peran posisi Anda dalam Artikel ini.

Artikel ini mencoba mengulas seputar remeh temeh bisnis. Hehe, saya menyebutnya sebagai remeh temeh bisnis karena tema tentang bagaimana mendapatkan uang, bagaimana menjadi wirausaha sukses serta ulasan lain yang lengkap dan mendalam sudah banyak di ulas oleh para ahli. Artikel ini hanya mengulas seputar remeh temehnya saja.

Baik mari kita mulai kawan, sebelumnya saya pernah menulis sebuah artikel berjudul Resign Bekerja, Keluar Dari Zona Nyaman Karyawan. Dalam artikel tersebut mengulas dengan lengkap sebuah pandangan pribadi tentang keputusan saya keluar dari zona karyawan. Isi artikel lebih kepada kebahagiaan dan passion. Bukan semata pandangan dari segi komersial, namun lebih kepada nilai-nilai pribadi yang melebar kepada nilai sosial yang melatarbelakangi, didalamnya diulas dan terangkai dalam hubungan sebab akibat.

Bisnis, Karyawan Dan Pendapatan

Bisnis, Karyawan dan Pendapatan. Tiga buah suku kata yang memiliki keterkaitan hubungan. Muara dari ketiga kata akan mengerucut pada sebuah pandangan tentang ; seperti apa Peluang Sukses Karyawan Dan Pengusaha, dimana Anda akan dipaksa mempertimbangkan Antara bisnis, karyawan dan pendapatan, Anda akan membandingkan dari sisi uang dan sisi perasaan.

Ketiganya merupakan buah dari apa yang kita sebut kehidupan. Bahwa kehidupan mengharuskan kita untuk bertahan, memilih dan bersaing antar sesama guna melangsungkan kebahagiaan kita masing-masing. Ada banyak cara pandang dalam memilih apa yang akan kita pilih. Semua tergantung dari diri Anda, tergantung dari pola dasar pikir Anda, dan pola pikir seseorang tergantung dari perjalanan hidup mereka.

Orang yang senang berbisnis mungkin tidak mau menjadi karyawan, begitupun sebaliknya, orang yang biasa menjadi karyawan lebih memilih karyawan ketimbang berbisnis. Meskipun ada juga orang yang menjadi karyawan sekaligus berbisnis, what ever?. Itu tergantung dari  diri Anda sendiri.

Pada paragraf awal, sedikit sudah disinggung tentang Passion dan komersialisasi. Mana yang Anda prioritaskan sebenarnya? passionkah?, uangkah?. Benar memang bahwa uang adalah sarana kebahagiaan, bahwa passion adalah dasar dari keberhasilan. Tapi kita sering terjebak pada wilayah pemahaman. Terjebak pada pemahaman yang salah tentang keduanya.

Prolog

Anda tertekan harus mencari penghasilan dengan menjadi karyawan atau berbisnis. Ada keluarga dirumah, memiliki anak, istri, tuntutan orangtua dan Anda adalah tulang punggung mereka. Ada beberapa kemungkinan jika dihubungkan dengan pendapatan dan pilihan Anda, Pendapatan Anda akan cukup, lebih atau kurang. apakan Anda memiliki passion dibidang tersebut atau Anda loyo.

Dari sedikit prolog tersebut, bahwa pertimbangan  pilihan pekerjaan baik itu berbisnis atau menjadi karyawan bisa karena tekanan keadaan (istri, anak dan orang tua), momentum peluang yang ada, passion Anda dan karena nominal uang yang dihasilkan.

Sebagai contoh sederhana, saya memutuskan resign menjadi karyawan untuk melanjutkan pendidikan dan mencoba berbisnis dan menekuni hobi menulis. Saya mencoba mengejar passion dengan mengabaikan tekanan dan nominal uang gaji bulanan.

Sebuah keputusan dengan pertimbangan mendalam Antara bisnis, karyawan dan pendapatan. Sebuah keputusan yang akan berdampak sistemik di waktu-waktu mendatang yang akan saya jalani. Baik dampak positif atau dampak negatifnya, semua merupakan buah klasik dari hubungan sebab akibat.

Semoga bermanfaat, Salam

Pengusaha Tiga Juta Sehari, Karyawan?

Pengusaha tiga juta sehari, karyawan? – Esensi dari hidup adalah kebahagiaan, jadi capailah kebahagiaan mu itu apapun caranya. Salah satu unsur pendukung kebahagiaan adalah materi. Materi akan di peroleh jika memiliki uang, uang akan di peroleh jika memiliki pekerjaan, tentunya pekerjaan yang memberikan imbalan atas apa yang sudah Anda kerjakan.

Jika dilogikakan sederhana, Uang merupakan salah satu potensi kebahagiaan dalam hidup, karyawan dan pengusaha mendapatkan uang, maka karyawan dan pengusaha memiki salah satu potensi kebahagiaan dalam hidup mereka.

Pertanyaanya, seberapa besar potensi mereka untuk bahagia jika diukur dalam nominal uang? Dan, Apakah Anda memiliki pekerjaan sebagai potensi pendukung kebahagiaan tersebut?

Pengusaha Tiga Juta Sehari, Karyawan?

Baik pengusaha atau karyawan, mereka memiliki penghasilan. Nominal penghasilan yang didapatkan tentunya menyesuaikan jenis pekerjaan. Misalnya penjual baju di mall akan memiliki penghasilan yang berbeda dibanding penjual makanan dipasar, karyawan BUMN memiliki penghasilan berbeda dibanding pelayan toko buku.

Pengusaha 3 juta Sehari, Karyawan Sebulan hanya sebagai ungkapan khiasan dan menggambarkan perbedaan seorang pengusaha dan karyawan sukses pada level masing-masing yang sepadan.

Maksudnya, Anda seorang sarjana, teman Anda sama. Anda memilih menjadi karyawan, sementara taman Anda memilih menjadi penjual bakso. Level Anda dan teman Anda  sepadan (sama-sama sarjana dan sama sama ingin mencari uang), namun Anda berdua memiliki pilihan pekerjaan yang berbeda. Teman Anda sukses berjualan bakso dan menggunakan otak sarjananya untuk jualan, sementara Anda lebih memilih menggunakan otak Anda untuk bekerja menjadi karyawan dan mendapat gaji bulanan.

Jika membahas potensi,  Menurut Anda, Mana yang memiliki peluang lebih besar dalam kesuksesan?. Saya yakin seorang tukang bakso pemenangnya. Omset 5 juta sehari dengan keuntungan bersih tiga juta, sementara karyawan jika dihitung gaji perhari paling banter 500 ribu, itu juga kalau gaji Anda di perusahaan Anda bekerja senilai lima belas juta rupiah sebulan. Sementara penjual bakso dengan laba bersih tiga juta sehari, maka satu bulan akan mendapat 90 juta rupiah.
Mau cerita sedikit, dalam setiap keputusan yang kita ambil kadangkala melupakan untuk mempertimbangkan peluang kedepan. Saya sendiri sering menitik beratkan hanya pada kenyamanan, sementara peluang dikesampingkan. Kita bisa melihat, setiap tahun puluhan ribu sarjana lulus, hanya berapa persen saja yang ingin mandiri dan bekerja untuk dirinya sendiri, sebagian besar mereka bercita-cita menjadi karyawan.

Padahal jika kita analisa lebih dalam, peluang menjadi pengusaha lebih besar di banding peluang menjadi karyawan. Baik dari kesempatan bersaing ataupun kesempatan mendapat penghasilan yang lebih besar.

Apakah ini karena mental masyarakatnya, termasuk saya, yang dikejar hanya kenyamanan, bukan potensi. Biasanya setelah mendapat pekerjaan kita akan silent, menikmati menjalani hidup, datar dan tanpa tantangan.

Tidak semua memang, ada beberapa yang merasa jenuh lalu memutuskan berhenti bekerja untuk orang lain dan memulai bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka memulai bisnis dan kembali membuka potensi untuk lebih sukses dari hanya sekedar menjadi karyawan biasa.

Semuanya kembali pada karakter Anda, kembali pada perhitungan dan pertimbangan kita semua. Karena toh kebahagiaan bukan hanya di ukur dari materi, bisa juga Anda menikmati pekerjaan Anda sebagai karyawan lantaran pekerjaan itu membuat Anda bahagia. Seperti misalnya menjadi guru, menjadi karyawan perusahaan yang bergerak pada bidang jasa dan bermanfaat untuk banyak orang.

Artikel ini adalah sebuah analisis logika, Semoga bermanfaat

Baca : Bisnis itu Jualan

Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku

Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku

Hari itu ahad, hari libur,

saat dimana sebagian orang enggan beranjak, me-ngelantur.

Dia -si bocah- akan bertemu gadis yang selama ini menjadi teman hatinya.

Seorang penghibur dari segala kesepian besarnya.

Pemurah hati diantara kepungan perempuan-perempuan pemurah harga diri.

Maaf, Ini Karena Kamu Cintaku
I’ll let you go

“Aku sudah sampai” pesan yang
ditulis bocah pada si gadis

“Pertemuan biasanya telat,
sekarang setengah jam lebih awal, aku segera kesitu” jawab si gadis

20 menit kemudian si gadis
datang dengan bawaan khas perempuan(ku), dua bungkus kacang asin dan satu botol
teh manis.

Obrolan itu lebih berisik dari
kicauan burung emprit penghuni pribumi taman itu. Dari negara sampai miskin,
dari presiden sampai boneka, dari pencitraan sampai keberhasilan, dari bangsa
sampai hal lucu. Dalam satu jam, semuanya dibahas, diterabas, mereka adalah
pendebat paling mesra.

“I love you” bunyi bibir si
gadis saat tiba-tiba obrolan mereka terhenti

“kata –love you too- terlalu
kecil untuk mewakili rasa ini” kata si bocah menyahut

“saat ini, apakah kita akan
membuka pembahasan kita yang selalu kita tunda untuk diselesaikan?” lanjut si
bocah

“Aku mau mendengar tentang
ceritamu kemarin, tentang pembahasan berbeda, dari ratusan pembicaraan manis
kita, dari segala obrolan kita yang manisnya sama.”

“Aku tak mau membahas apapun”
ketus gadis yang tetap kelihatan manis yang sudah tahu maksud si bocah

“Yang tersirat itu lebih murni
dan tajam ketimbang yang tersurat” sambut si bocah dengan bahasa khasnya

“Ceritamu tentang usiamu,
tentang orang tuamu, tentang dia, menjadi alasan besar mengapa kita harus
membahas sesuatu” lanjut si bocah lagi

“Jangan bicarakan tentang itu
sekarang, aku sedang tak ingin membahasnya” bentak si gadis yang memang masih
tetap saja manis

“Aku akan tetap bicara. Aku…”
ucap si bocah langsung dipotong oleh si gadis

“Diam!” teriak gadis memuncaki
emosional khas seorang perempuan

Keduanya hening sejenak, bagi
si bocah itu adalah pembuktian saat dimana sekuat-kuatnya laki-laki tetap akan
kalah dari perempuan. Tapi bagi si bocah, laki-laki selalu punya cara untuk
membuat takluk perempuan, itu dengan menatap matanya dalam-dalam.

“Sekarang dengar, aku adalah
sampah, kayuhku terlalu kecil untuk membawa beban itu. Aku belum cukup kuat
melawan sang bayu dan badai samudera di depan kita. Naiklah ke perahu yang
lebih besar, perahu yang besar.” Ucap lembut diikuti mata si bocah yang mulai
berkaca

Dibalas juga oleh mata si
gadis yang sebenarnya sedari awal sudah menahan tangis

“Dia yang akan bisa membawamu
sampai dipelabuhan, aku tak begitu tega melihat matamu melihat petir yang bisa
saja menghancurkan perahu kecilku. Atau hatimu yang demikian lembut akan terguncang
dari hempasan ombak samudera ini”.

Mata yang dulu berbinar, kini berubah
menjadi hati yang menangis kencang. Segelas es teh manis dengan dua sedotan
menjadi saksi dari kenyataan yang tak lagi manis. Mereka bukan lagi satu dari
suatu pengharapan yang sebelumnya menjadi bayangan.

Ciuman tangan si gadis kepada
si bocah menjadi ritual sakral terakhir. Dan puncak dari segala kesedihan dari
keduanya dirangkum berbalas senyum manis keduanya. Semanis cerita mereka, yang
kini sudah menjadi dahulu.

“Maaf, ini karena kamu cintaku”
batin si bocah

Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini

Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini –  “Karena orang tidak hidup di masa lalu ataupun masa depan. Aku hanya tertarik pada masa kini. Bila kau dapat selalu konsentrasi pada masa kini, ka uakan menjadi orang yang bahagia”, begitu kata Paulo Coelho dalam novelnya The Alchemist yang menjadi International Bestseller. Dalam buku tersebutdiceritakan seo rang bocah yang akhirnya menemukan harta karun yang selama ini dia impikan. Tidak mudah untuk menemukannya, butuh waktu panjang dan perjuangan yang berliku-liku, hingga pengorbanan dari sebuah kenyamanan dan godaan pencapaian yang hampir saja melupakan bocah itu akan mimpi besarnya. Sebuah novel yang menjadi favorit berjuta orang, termasuk saya.

Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini
Masa Lalu, Masa Depan, dan Masa Kini

Memori masa lalu

Dua tahun yang lalu Anda diberi hadiah oleh teman anda. Lima tahun yang lalu anda mengalami kecelakaan membuat tangan dan kaki anda patah. Pertanyaannya adalah, mana yang lebih anda ingat?

Ini pendapat subjektif, saya juga pernah mengalami dua hal yang hampir serupa dengan ilustrasi diatas. Sampai sekarang saya akan lebih memberi kesan lebih terhadap kejadian yang nomor dua. Sampai sekarang saya jadi lebih takut untuk mengendarai motor dengan cepat. Itulah dampak.

Kita, saat ini, adalah akibat dari kita dimasa lalu. Bertubuh gemuk adalah akibat dari makan yang banyak dimasa lalu, kita terpeleset dan jatuh adalah akibat dari kita tak berhati dari jalan yang licin (1 detik juga masa lalu)

Bukan hanya tindakan, perilaku, kita di masa lalu juga termasuk pikiran. Kita adalah pikiran kita di masa lalu (walaupun tindakan ikut mempengaruhi). “Diri kita adalah akibat dari apa yang sudah kita pikirkan” (Budha 563-483 SM)

Bayang-bayang masa depan

Seorangpun tidak ada yang bisa memastikan kejadian masa depan. Memprediksi bisa, tapi memastikan tidak. Masa depan itu seperti setan, pasti ada tapi tak bisa dilihat. Mengapa Tuhan membutakan kita dari masa depan layaknya setan? Karena akan sangat mengerikan bila itu terjadi. Bayangkan bila itu bisa dilihat, kita akan menyaksikan saat kita mati, kita kan menyaksikan saat diri kita jatuh, bangkrut, ditinggalkan seseorang, dikhianati, dipecat. Mungkin kita akan bunuh diri duluan.

Dari ketidakpastian yang diberikan Tuhan (walaupun ditangan Tuhan semuanya pasti dan sudah selesai) tersebutlah muncul perasaan khawatir, sebuah rasa manusiawi yang memang Tuhan berikan pula.

Khawatir tidak dapat kerja, khawatir miskin, khawatir tidak dapat jodoh, khawatir dan khawatir-khawatir banyak lagi. Apakah tidak boleh? Jawabannya adalah sebuah pertanyaan juga, “apakah kita bisa untuk tidak khawatir?”.

Semua orang “dikutuk” punya rasa khawatir, bohong kalau para ustad, motivator, atau pastor melarang kita untuk tak kahawatir, menghilangkan khawatir. Bohong! Kita tak bisa untuk khawatir, tapi, kita bisa meminimalisir dan mempersingkat rasa kahawatir tersebut.

Rasa khawatir jangan dipelihara, segenap rasa yang akan kita pelihara dalam pikiran lalu akan dipantulkan ke semesta kemudian akan mewujud. “Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda ditarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segalasesuatu itu tertarik oleh citra-citra yang anda pelihara dalam benak. Oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke  diri Anda.” (Prentice Mulford “The Secret”)

Bagaimana untuk “Masa Kini”?

Yang dapat saya katakan (terutama kepada jiwa sendiri) adalah baca paragraf pertama dalam tulisan ini dan simpan dalam jadikan teori kehidupan, kesimpulannya tentu kita sendiri yang akan menentukan, benar atau tidak.

Dan saya juga ingat, bahwa Allah berkata, “Aku mengabulkan permintaan orang yang berdo’a jika ia berdoa kepada-Ku”