Arsip Tag: ILMIAH

tips memilih telur

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar – Membran ekstra embrional merupakan perluasan-perluasan berlapis membran dari jaringan-jaringan embrio. Pada dasarnya membran-membran tersebut adalah lipatan-lipatan yang pada akhirnya tumbuh mengelilingi embrio dan menghasilkan empat kantung pada embrio yang sedang tumbuh. Masing-masing membran terbentuk dari sel-sel yang berasal dari dua lapisan nutfah berbeda. Pada akhirnya, membran ini akan mati dan tertinggal setelah perkembangan embrional selesai, baik pada saat kelahiran ataupun pada masa penetasan (Soeminto, 2000).

Reptil merupakan hewan yang memiliki kulit berupa sisik dan bernafas dengan paru-paru. Reptil pada umumnya bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat ovovivipar. Ovovivipar yaitu perkembangbiakan hewan dengan cara bertelur dan beranak. Reptil ovovivipar melakukan perkembangan embrionya di dalam tubuh induk betinanya. Embrio hewan ini berkembang di dalam telur yang masih berada di dalam tubuh induknya. Setelah cukup umur, anak hewan menetas dan keluar dari tubuh induknya sehingga tampak seperti melahirkan. Saat yolk sac telah habis, cangkang akan mengelupas dan embrio mengalami proses kelahiran. Contoh hewan ovovivipar adalah hiu, ular boa, ular garter, dan Membran Ekstra Embrional Kadal. Membran ekstra embrional yang dimiliki oleh reptil ovovivipar antara lain berupa amnion, chorion, yolk sac dan allantois.

Membran Ekstra Embrional Reptil Ovovivipar

Terdapat empat macam membran ekstra embrional yang umum terdapat pada reptil ovovivipar, antara lain:

  1. Kantung yolk (Yolk sac) atau disebut juga Saccus vitelinus merupakan  suatu selaput splanknopleura, sangat erat fungsinya dalam nutrisi pada embrio kelompok burung dan reptil yang mempunyai yolk sangat banyak. Yolk sac  dibangun oleh splanknopleura dengan endoderm di sebelah dalam dan mesoderm splanknik di luarnya. Mesoderm splanknik akan terdapat pembuluh-pembuluh darah vitelin. Terbentuknya yolk sac sejalan dengan pelipatan lapisan endoderm yang menjadi atap arkenteron untuk membentuk saluran pencernaan makanan. Fungsi yolk sac adalah sebagai sumber nutrisi selama perkembangan embrio, dan tempat asalnya sel kelamin. Mesoderm splankniknya merupakan sumber sel-sel darah dan merupakan organ hemopoletetik paling awal (Sumantadinata, 1981).
  2. Amnion, seperti kantung tipis yang berasal dari somaotopleura, membentuk suatu kantung menyelubungi embrio dan berisi dengan cairan. Somatopleura merupakan gabungan antara selaput mesoderma dan ektoderma. Melipatnya somatopleura ke arah dorsal kanan-kiri kemudian bersatu pada dorso median sehingga terbentuk kantong yang menyelimuti embrio (Sumantadinata, 1981). Keberadaan selaput ini sangat khas pada reptil, burung dan mamalia sehingga kelompok ini sering disebut dengan kelompok amniota, sedangkan ikan dan amfibia tidak mempunyai amnion dan disebut anamniota.
  3. Chorion merupakan selaput embrio yang terluar. Terbentuk oleh lipatan ke arah luar dari amnion. Susunan lapisan ektoderm (di luar) dan mesoderm somatik (di dalam) chorion berlawanan dengan amnion, oleh karena itu chorion kadang-kadang disebut amnion palsu (false amnion). Chorion akan membungkus selaput-selaput embrio lainnya.
  4. Allantois, merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai suatu evaginasi dari bagian ventral usus belakang pada tahap awal. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat penampung dan penyimpanan urin dan sebagai organ pertukaran gas antar embrio dan lingkungan luarnya. Pada reptil, allantois merupakan suatu sistem tertutup, maka  allantois harus memisahkan sisa-sisa metabolisme nitrogen agar tidak menimbulkan efek toksik terhadap embrio. Bagian proximal allantois membentuk tangkai allantois yang pangkalnya akan tetap berada dalam tubuh embrio bagian distal allantois, membentuk kantung yang tumbuh membesar ke dalam coelum kestrel embrio, yang hampir memenuhi rongga telur, selain itu allantois berada di bawah chorion. Allantois berfungsi  untuk menampung dan membebaskan sisa-sisa metabolisme yang berupa urea ataupun asam urat. Urin akan dinetralisir oleh air yang terkandung dalam albumen telur, sedangkan urin ditampung dalam selaput cangkang (Soeminto, 2000).

Pembentukan membran ekstra embrional pada reptil diawali dengan pembentukan kantong yolk (Saccus vitelinus). Dinding-dinding dari kantong yolk dibentuk dari splanknopleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan endoderma yang melipat ke arah ventral embrio. Pembentukan amnion, mula-mula terjadi lipatan amnion kepala yang juga menerus ke lipatan-lipatan lateral, pada hari kedua terjadi lipatan-lipatan amnion ekor. Kedua macam lipatan ini akan bertemu dan membentuk amnion. Lipatan-lipatan amnion dibangun oleh somatopleura yang dibentuk dari ektoderma dan mesoderma somatis. Lipatan amnion ekor dibangun oleh dua lapisan terpisah yang disebut serosa (chorion), dibangun oleh ektoderma dan mesoderma. Ektoderma amnion menerus pada kulit janin diantara amnion dan chorion terdapat rongga seroamnion (solom ekstra embrional). Chorion tumbuh sekitar kantong yolk dan membungkus seluruh kantong yolk tersebut lalu melekat pada cangkanag telur. Allantois terbentuk melalui evaginasi (pelekukan ke arah luar) spanknopleura. Seiring pertumbuhan embrio, kantung allantois membesar dan akan mengisi ruang antara amnion dan chorion, selanjutnya dinding allantois bersatu dengan lapisan mesoderma somatis dari chorion dan disebut allantochorion (Nishikawa, 2006).

Secara umum membran ekstra embrional memiliki tiga macam fungsi, yaitu proteksi, nutrisi dan ekskresi. Membran ekstra embrional melindungi embrio dari goncangan dan gangguan luar. Fungsi proteksi ini dilakukan oleh amnion dan korion. Dalam masa perkembangannya embrio membutuhkan nutrisi, fungsi tersebut dilakukan oleh yolk sac (saccus vitellinus). Seiring dalam masa perkembangannya, embrio melakukan metabolisme tubuh dan hasil sisa metabolisme tersebut ditampung dalam allantois. Allantois inilah yang merupakan membran ekstra embrional yang menjalankan fungsinya dalam ekskresi.

Macam-macam membran ekstra embrional pada masing-masing classis itu berbeda-beda. Pada pisces dan amfibi hanya memiliki membran ekstra embrional berupa kantong yolk saja. Membran ekstra embrional reptil meliputi: amnion, korion, yolk sac dan allantois (Sumantadinata, 1981). Aves dan mamalia mempunyai membran ekstra embrional yang sama dengan reptil, darimana hewan tersebut berkembang (Djuhanda, 1981).

Djuhanda, Tatang. 1981. Embriologi Perbandingan. Armico. Bandung

Nishikawa, T., Kazuya M., Masahiko M., Yasuhiro T., Kenji K., Akio T. 2006. Calcification at The Interface Between Titanium Implants and Bone: Observation With Confocal Laser Scanning Microscopy. Journal of Oral Implantology Vol. 32 (213) : 211-217.

Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di Indonesia. Sastra Budaya, Bogor.

Soeminto, dkk. 2000. Embriologi Vetebrata. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Mengukur Parameter Biologi Perairan

1. Pengambilan dan Pengawetan Sampel Plankton

Plankton merupakan mikroorganisme yang melayang-layang secara pasif dalam air dan pergerakannya bergantung pada arus atau gerakan air. Plankton dapat melayang dengan mengatur berat tubuhnya yaitu dengan cara menambahkan atau mengurangi jumlah vakuola, zat lemak atau minyak yang merupakan cadangan makanan, dengan memperpanjang atau memperpendek spina/chaeta. Plankton terdiri atas fitoplankton yang mempunyai klorofil dan zooplankton yang tidak berklorofil tetapi mempunyai alat gerak. Fitoplankton merupakan organisme autotrof yang mampu merubah bahan anorganik menjadi bahan organik yang diperlukan bagi kehidupan organisme, sehingga fitoplankton dapat digunakan sebagai indikator kualitas air. Fitoplankton memiliki peran penting sebagai produsen primer dan merupakan awal mata rantai dalam jaringan makanan diperairan (sebagai pakan alami ikan). Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan sangat dipengaruhi oleh kandungan haranya terutama nitrogen (N) dan Fosfor (P) Nitrogen yang dimanfaatkan fitoplankton dalam bentuk nitrat dan ammonia.

Orthofosfat merupakan bentuk yang dapat langsung dimanfaatkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhannya. Kelimpahan zooplankton pada malam hari lebih tinggi dibandingkan dengan kelimpahan fitoplankton. Pada malam hari zooplankton naik ke atas menuju ke permukaan, sedangkan pada siang hari menuju ke lapisan bawah.

Alat :

1. Plantonet no. 25

2. Ember 10 l

3. Botol planton 25 ml

Bahan :

1. Sampel air

2. Formalin 40 %

3. Lugol

Prosedur :

1. Saring air ke dalam plantonnet no. 25 sebanyak 100 l menggunakan ember bervolume 10 l. Hasil saringan dikonsentrasikan menjadi 25 ml.

2. Sampel dipindahkan ke dalam botol plankton berukuran  ≥25 ml.

3. Ditambahkan formalin 40% sebagai pengawet ke dalam sampel sehingga kadarnya menjadi 4%. Penentuan jumlah formalin yang dibutuhkan menurut aturan:

Mengukur Parameter Biologi Perairan

4. Ditambahkan lugol ke dalam sampel plankton untuk menguatkan warna plankton agar tidak pudar.

5. Pengamatan plankton dilakukan dengan terlebih dahulu menghomogenkan sampel, kemudian diambil satu tetes di atas object glass, ditutup cover glass.

6. Diamati menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 100 x (untuk menghitung jumlah plankton) dan perbesaran 400x (untuk identifikasi plankton).

7. Pengamatan dilakukan sebanyak 20 lapang dengan 3 x ulangan pada tiap sampel.

8. Plankton yang ditemukan diidentifikasi menggunakan buku identifikasi.

9. Perhitungan kuantitatif kelimpahan plankton menggunakan rumus berikut :

Mengukur Parameter Biologi Perairan

2. Mengukur Produktivitas Primer

Produktivitas primer merupakan laju pengubahan bahan-bahan anorganik menjadi bahan organik melalui proses fotosontesis per satuan volume atau luas dari suatu perairan tertentu, yang dapat dinyatakan dengan satuan mg C/m3/hari. Metode pengukuran produktivitas primer yang dilakukan dengan metode winkler botol gelap-terang. Produktivitas primer dapat diketahui dengan cara menghitung perbedaan banyaknya oksigen yang dihasilkan diwaktu siang hari dikurangi dengan kebutuhan oksigen untuk respirasi selama 24jam. Produktivitas primer merupakan persediaan makanan untuk organisme heterotrof seperti bakteri, jamur dan hewan. Produktivitas primer dapat dibedakan menjadi: (a) produktivitas primer kotor, yaitu jumlah seluruh energi yang dihasilkan dari proses fotosintesis dalam suatu ekosistem. (b) produktivitas primer bersih, yaitu jumlah energi yang tersisa setelah dikurangi oleh jumlah yang dibutuhkan untuk proses respirasi aerob dan tersimpan dalam bentuk bahan organik dalam kurun waktu tertentu.

Alat :

1. Botol Winkler gelap dan terang

2. Labu Erlenmeyer 250 ml

3. Pipet seukuran (1 ml)

4. Gelas ukur 100 ml

5. Biuret dan Statif

6. Corong biuret

7. Pipet tetes

Bahan :

1. MnSO4

2. KOH-KI

3. Na2S2O3 0,025

4. H2SO4 pekat

5. Indikator amilum

6. Aquades

Prosedur :

1. Siapkan botol gelap dan terang

2. Masing-masing diisi air yang mengandung Phytoplankton

3. Kedua botol ditenggelamkan kira-kira 2/3 dari kedalaman selama 24 jam

4. Tentukan kadar oksigennya pada masing-masing botol dengan metode Titrasi Winkler, kemudian hitunglah perbedaan kadar oksigen dari kedua botol tersebut dengan menggunakan rumus:

Mengukur Parameter Biologi Perairan

3. Bentos dan Perifiton

Perifiton merupakan tumbuhan atau hewan yang melekat/bergantung padatumbuhan atau benda lain, misalnya keong. Dan bentos adalah hewan dan tumbuhan yang hidup pada endapan. Bentos dapatsessil (melekat) ataubergerak bebas, misalnya cacing dan remis.

berdasarkan tempat melekatnya, perifiton digolongkan menjadi epifitik (pada tumbuhan), epilitik (pada bebatuan), epipsamik (pada daerah berpasir), epipelik (pada daerah sedimen), epizoik (pada hewan), dan metafiton.

hewan yang hidup didasar perairan adalah mikrozoobenthos,makrozoobenthos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistemperairan sehubungan dengan peranannya sebagai organisme kunci dalam jarringmakanan selain itu tingkat kenea ragaman yang terdapat di lingkungan perairandapat digunakan sebagai indikator pencemaran.

Alat dan bahan:

1. Ekman grab

2. Cutter

3. Botol sampel 2 buah

4. Saringan atau mess

5. Formalin

6. Lugol

7. akuades

Prosedur kerja:

Perifiton

1. Tentukan substrat perifiton.

2. Ambil perifiton makro menggunakan tangan dan cutter.

3. Ambil perifiton mikro dengan “ o ” menggunakan cutter.

4. Masukkan dalam botol sampel yang telah diberi akuades dan beri formalin 4% dan lugol 3 sampai 5 tetes.

Bentos

1. Siapkan ekman grab, jatuhkan kedalam badan perairan sampai ke dasar.

2. Tutup ekman grab dengan menjatuhkan bandul untuk mendapatkan endapan atau sedimen dari dasar perairan.

3. Lakukan dalam tiga kali ulangan.

4. Saring endapan tersebut dan amati adanya bentos.

5. Identifikasi bentos yang didapat.

Demikian artikel mengukur parameter biologi perairan

Baca juga :

Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan

Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan – Pemeriksaan kualitas perairan ditempuh dengan 3 langkah, yaitu pengambilan sampel yang representatif, penyimpanan dan pengawetan sampel air, dan analisis kualitas sampel air dari sampel air yang telah diambil. Pengambilan sampel harus mewakili suatu kondisi perairan pada waktu dan tempat tertentu. Teknik pengambilan sampel ada 3 metode yaitu:

1. Sampel sesaat (grab samples), jika kondisis suatu badan perairan berubah-ubah, jangka waktu pengambilan sampel 5 menit sampai dengan > 1 jam.

2. Sampel gabungan waktu (composite samples), pengambilan sampel dilakukan secara terus menerus selama 24 jam (selang 1 jam atau lebih) tetapi dalam beberapa hal dilakukan secara intensif untuk jangka waktu yang lebih pendek.

3. Sampel gabugan tempat (intregated samples), digunakan untuk pemeriksaan kualitas air dari badan perairan yang dalam atau lebar (kecual danau dan waduk) atau memilki kualitas yag berbeda.

Analisis kualitas air yang dilakukan secara langsung di lapagan (bersfat insitu) tidak perlu dilakukan proses pengawetan sampel air. Analisis kualitas air yang dilakukan di laboratorium (bersifat eksitu) sampel air harus diawetkan terlebih dahulu sejak dari lapangan pada suhu di bawah 0 oC, minimal menempatkan dalam suatu wadah (ice box). Penyimpanan dan pengawetan sampel air dilakukan untuk menghambat perubahan-perubahan kimiawi atau aktivitas biologi yang terjadi di dalam sampel air tersebut.

1. Mengukur Derajat Keasaman

Nilai pH menunjukkan sifat asam atau basa dalam suatu badan perairan akibat aktivitas ion H+ dan dinyatakan sebagai logaritma negative konsentrasi ion H+. Air bersama dengan ion H+ selalu dalam kesetimbangan dinamis. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa. Nilai pH rendah umumnya bersamaan dengan rendahnya kandungan mineral yang ada dan sebalikna. Perairan asam biasanya banyak mengandung unsure-unsur toksik bagi biota akuatik yang berasal dari bahan pencemar. Mineral-mineral tersebut digunakan sebagai nutrient di dalam siklus produksi perairan. Perairan yang akali (basa) umumnya lebih produktif daripada perairan yang asam.

Alat dan Bahan :

1. Kertas pH universal (0-14)

Prosedur Pengukuran (Metode Kolorimetri)

a. Kertas indicator pH diambil satu stik (lembar) dan dicelupkan ke dalam air kolam.

b. Perubahan warna yang terjadi pada kertas pH dicocokkan dengan warna standar pada kemasan dan catat hasilya.

2. Mengukur Oksigen Terlarut

Oksigen terlarut (Dissolve Oxygen) dalam perairan merupakan factor penting sebagai pengatur metabolism tubuh organism dan untuk melakukan respirasi juga dibutuhkan dalam proses dekomposisi bahan organic dalam perairan (lihat bahasan BOD). Oksigen dalam perairan berasal dari proses fotosintesis tumbuhan air, difusi yang terbawa oleh aliran dan arus,. Keberadaan oksigen terarut diperairan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer.

Alat :

1. Botol Winkler 250 ml

2. Erlenmeyer 250 ml

3. Gelas Ukur 100 ml

4. Buret dan statif

5. Corong biuret

6. Pipet seukuran (1 ml)

7. Pipet tetes

Bahan :

1. MnSO4

2. KOH-KI

3. Na2S2O3 0.025 N

4. H2SO4 pekat

5. Indikator amilum

6. Akuades

Prosedur (Metode Winkler)

  1. Sampel air diambil dengan botol Winkler 250 ml secara penuh kemudian ditutup (dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol).
  2. Tambahkan 1 ml MnSO4 dan 1 ml KOH-KI dengan pipet seukuran, boto, ditutup kembali (dimungkinkan untuk tidak ada gelembung udara di dalam botol).
  3. Botol dikocok perlahan sampai larutan MnSO4 dan KOH-KI homogeny dengan airdan emudian didiamkan + 2 menit atau sampai timbul endapan berwarna coklat atau setidaknya sampai cairan supernatant berwarna jernih.
  4. Tambahkan H2SO4 pekat sebanyak 1 ml dengan pipet seukuran dan botol ditutup kembali. Botol di kocok perlahan atau di bolak-balik hingga semua endapan menjadi larut dan berwarna coklat kekuningan.
  5. Ambil 100 ml dengan menggunakan gelas ukur dan tuang kedalam Erlenmeyer.
  6. Tambahkan indicator amilum 3-5 tetes hingga berwarna biru tua.
  7. Titrasi dengan Na2S2O3 0.025 N hingga warna biru tersebut hilang/jernih.
  8. Volume titran yang digunakan untuk titrasi dicatat dan dimasukkan kedalam rumus untuk menghitung kadar oksigen terlarut.
Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan
Rumus Oksigen Terlarut

3. Mengukur Karbondioksida Bebas

Karbondioksida (CO2) bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO2 yang terlarut di dalam air. CO2 yang terdapat dalam perairan merupakan hasil dari difusi dari atmosfer, air hujan, dekomposisi bahan organik dan hasi respirasi organism akuatik. Tingginya kandungan CO2 pada perairan dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota perairan, CO2 dibutuhkan oleh tumbuhan air untuk proses fotosintesis, rendahnya CO2 menghambat fotosintesis, sedangkan tingginya CO2 tidak baik untuk kehidupan biota air. CO2 bersama dengan karbonat dapat berfungsi sebagai buffer (keseimbangan asam-basa).

Alat :

1. Botol Winkler 250 ml

2. Erlenmeyer 250 ml

3. Gelas Ukur 100 ml

4. Buret dan statif

5. Corong biuret

6. Pipet seukuran (1 ml)

7. Pipet tetes

Bahan :

1. Na2CO3 0.01 N

2. Indikator Phenolpthalein (pp)

3. Akuades

Prosedur (Metode Titrimetri):

  1. Sampel air diambil dengan botol Winkler 250 ml keudian ditutup.
  2. Ambil 100 ml dengan gelas ukur dan tuangkan ke dalam labu Erlenmeyer.
  3. Tambahkan 3-5 tetes indicator pp (jika berubah warna menjadi pink berarti CO2 tidak terdeteksi karena kadar yang terlalu kecil sehingga tidak perlu di titrasi).
  4. Titrasi dilakukan dengan Na2CO3 0.01 N sampai larutan berubah wanra menjadi pink (merah muda).
  5. Catat jumlah titran yang digunakan, masukkan dalam rumus untuk menghitung kadar CO2 bebas.
Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan
Rumus CO2 Bebas

4. Mengukur Daya Menggabung Asam

Fluktuasi pH di perairan secara mendadak dapat menyebabkan kematian biota akuatik. Keseimbangan pH perlu dijaga agar kondisi perairan stabil. Fluktuasi pH diperairan perlu adanya sistem penyangga yang dapat mempertahanan tingkat keasaan perairan, yaitu denga pengukuran DMA. DMA digunakan untk mengetahui jumlah total basa, biasanya sebanding dengan ion karbonat dan bikarbonat. DMA ditentukan melalui titrasi dengan asam kuat seperti HCl atau H2SO4. DMA dapat digunakan sebagai indicator kualitas perairan, semakin tinggi nilai DMA maka semakin mantap perairan dalam mencegah goncangan fluktuasi pH.

Alat :

1. Botol Winkler 250 ml

2. Erlenmeyer 250 ml

3. Gelas Ukur 100 ml

4. Buret dan statif

5. Corong biuret

6. Pipet seukuran (1 ml)

7. Pipettetes

Bahan :

1. HCl 0,1 N

2. Indicator Methyl Orange (MO)

Prosedur (Titrasi Potensiometrik):

1. Sampel air diambil dengan botol Winkler kemudian ditutup rapat.

2. Ambil 100 ml dengan gelas ukur dan pindahkan ke dalam Erlenmeyer.

3. Tambahkan 3-5 tetes indicator MO sehinga berwarna kuning.

4. Titrasi dengan HCl 0,1 N sampai larutan berwarna merah bata.

5. Catat jumah titran yang digunakan, masukkan dalam rumus untuk mengukr kadar DMA.

Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan
Rumus DMA

5. Mengukur BOD

Biological Oxygen Demand (BOD) merupakan salah satu indikator pencemaran organik pada suatu badan perairan. Perairan dengan nilai BOD tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar oleh bahan organik. Bahan organik akan distabilkan secara biologik dengan melibatkan melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik. Oksidasi aerobik dapat menyebabkan penurunan kandungan oksigen sampai pada tingkat terendah, sehingga kondisi perairan menjadi anaerob yang dapat menyebabkan kematian organisme akuatik. BOD digunakan untuk menggambarkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba untuk mendekomposisi bahan- bahan organik. Tingginya BOD menggambarkan banyaknya cemaran oleh bahan organik. BOD520 menggambarkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba untuk mendekomposisi bahan organik hingga 70 % pada temperatur inkubasi 200 C selama 5 hari. Nilai BOD520 sebagai simulasi adanya dekomposisi di badan perairan.

Alat :

1. botol winkler 250 ml

2. erlenmeyer 250 ml

3. gelas ukur 100 ml

4. biuret dan statif

5. corong biuret

6. pipet seukuran ( 1 ml)

7. pipet tetes

Bahan :

1. MnSO4

2. KOH –KI

3. Na2S2O3 0,025 N

4. H2SO 4 pekat

5. Indikator amilum

6. Aquades

Prosedur (metode kolorimetri )

Dengan pengenceran

  1. Pembuatan larutan pengencer: Akuades sebanyak 1 liter di tuang ke dalam ember kecil kemudian ditambah larutan bufer fosfat, magnesiun sulfat, kalsium klorida feriklorida masing- masing 1 ml dan bubuk inhibitor nitrifikasi kira- kira 10 mg. nilai pH disesuaikan pada pH 7,0 ± 0,1.
  2. Campuran diaduk dan diaerasikan selama 1 jam suhu sebaiknya 200 C.
  3. Larutan pengancer dimasukan kedalam 2 botol BOD 250 ml untuk blanko BOD0 dan BOD5.
  4. Sampel yang telah diawetkan kemudian diencerkan menggunakan faktor pengenceran 0,5 dimana 250 ml sampel dicampurkan dengan 250 ml pengencer hingga 500 ml.
  5. Aduk hingga homogen.
  6. Siapkan 2 botol BOD lalu siapkan masing-masing diisi 250 ml sampel yang telah diencerkan untuk BOD0 dan BOD5.
  7. Sampel untuk BOD5 dan blanko BOD5 disimpan dalam BOD inkubator pada suhu 200C selama 5 hari.
  8. Sampel BOD0 dan blanko BOD0 langsung dititrasi (lihat pengukuran DO).
  9. Setelah hari ke 5 sampel untuk BOD520 dan blanko BOD520 dititrasi. Hitung kadar BOD menggunakan rumus berikut.
Cara Mengukur Parameter Kimiawi Perairan
Rumus BOD dengan pengenceran

Tanpa penganceran

  1. Siapkan 2 buah botol winkler 250 ml kemudian masing- masing diisi sampel air hingga penuh. Botol oksigen langsung diukur oksigen terlarutnya sebagai DO0 (lihat pengukuran DO), botol inkubasi selama 5 hari sebagai BOD5. Pengukuran oksigen terlarut seperti pada pengukuran DO melalui titrasi dengan Na2S2O3 0,025 N.
  2. Botol diinkubasi dalam BOD inkubator selama 5 hari pada suhu 200C.
  3. Setelah 5 hari segera diukur oksigen terlarutnya sebagai DO5.
  4. Hitung kadar BOD dengan rumus berikutnya

BOD = DO0 – DO5

6. Mengukur Orthofosfat

Fosfor (P) berperan penting dalam pembentukan protein dan metabolisme, selain itu juga sebagai pembentuk biomolekul, asam nukleat, fosfolipid serta sebagai nutrien pembatas dalam perairan. Sumber P di badan perairan berasal dari pelapukan minerla kalsium fosfat, antropogenik, dekomposisi, ekskresi hewan, presipitasi dan aliran tanah. Total P merupakan jumlah kandungan fosfor di perairan yang terdiri atas ortofosfat, polifosfat dan fosfat organik. Ortofosfat merupakan bentuk P yang dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat dan fosfat organik. Ortofosfat merupakan bentuk P yang dimanfaatkan langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis dulu membentuk ortofosfat sebelum dimanfaatkan sebagai sumber P. perubahan polifosfat menjadi ortofosfat dipengaruhi oleh temperatur dan pH air. Ortofosfat terdiri atas senyawa seperti H2PO4-, dan HPO42- dan PO43-. Ortofosfat biasanya dalam jumlah sedikit, sehingga sering menyebabkan defisiensi zat hara yang dapat menekan pertumbuhan fitoplankton serta akhirnya mengurangi produktivitas dalam sistem perairan. Ortofosfat di perairan mngendap ke dasar perairan. Ortofosfat di perairan dapat berasal dari pemecahan batuan secara geokimiawi, limbah domestik, industri dan pertanian yang terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat dalam sel organisme.

Alat :

1. Spektrofotometer

2. Erlenmeyer 50 ml

3. Pipet

Bahan :

1. Phenolftalein (PP)

2. NaOH

3. Reagen campuran

Prosedur (Ultraviolet spectrofotometric) :

1. Buat larutan stok yang terdiri atas 21,95 kg KH2PO4 dalam 100 ml akuades.

2. Buat larutan standar fosfat dengan kosentrasi (1 ,2,3 …10) maing – masing diukur absorbansinya pada panjang gelombang 880 nm.

3. Buat kurva standar fosfat dari larutan standar tersebut.

 Prosedur (Ultraviolet spectrofotometric)
Kurva

4. Sampel yang telah diawetkan diambil 50 ml ke dalam erlenmeyer.

5. Tambahkan pp 3 tetes dan NaOH hingga larutan berwarna merah muda (ph ± 8)

7. Chemical Oxygen Demand (COD)

Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh bahan-bahan organik yang ada dalam air. Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat K2Cr207 (kalium bikromat) pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat, sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Metode pengukuran COD sedikit lebih kompleks dari pada pengukuran BOD, karena menggunakan peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan titrasi. Peralatan reflux diperlukan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan. Pada prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah K2Cr2O7 sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat (H2S04) dan katalis perak sulfat (Ag2SO4), kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan demikian K2Cr2O7 yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan. Kelemahannya, senyawa kompleks anorganik yang ada di perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi, sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD mungkin sedikit “over over estimate‟  untuk gambaran kandungan bahan organik. Selisih nilai antara COD dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit urai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD, tetapi BOD tidak bisa lebih besar dari COD. Jadi COD menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.

Alat :

1. Botol Winkler

2. Alat refluks (Erlenmeyer COD 250 ml dan kondensor Liebig)

3. Buret dan statif

4. Pipet ukur

5. Pembakar listrik

Bahan :

1. K2Cr2O7 0,025 N

2. Ag2SO4

3. H2S04

4. FAS (Fero Amonium Sulfat) 0,1 N

5. Indikator femantrolin fero sulfat (feroin)

Prosedur :

  1. Dibuat dahulu reagen asam sulfat-perak sulfat dengan menambahkan ±10 g Ag2SO4 pada 1 liter H2S04.
  2. Sebanyak 20 ml sampel air dimasukan dalam Erlenmeyer COD 250 ml.
  3. Ditambahkan larutan K2Cr2O7 0,025 N sebanyak 10 ml ke dalam sampel air.
  4. Disiapkan 30 ml reagen asam sulfat-perak sulfat, pindahkan sebanyak 5 ml dalam sampel air dan dikocok perlahan.
  5. Dialirkan air pendingin pada kondensor dan pasang Erlenmeyer COD dibawahnya. Tuang sedikit demi sedikit sisa reagen asam sulfat-perak sulfat (25 ml), melalui kondensor kedalam Erlenmeyer COD.
  6. Kondensor dan Erlenmeyer COD ditempatkan pada pembakar listrik selama ± 2 jam.
  7. Erlenmeyer COD dilepaskan dari kondensor dan didinginkan, kemudian sampel diencerkan menjadi 2 kali jumlah larutan dalam Erlenmeyer COD dengan menambahkan aquades 150-200 ml.
  8. Ditambahkan 3-4 tetes indikator feroin.
  9. Kalium bikromat (K2Cr2O7) yang tersisa dihitung dengan titrasi menggunakan larutan FAS 0,1 N, sampai warna hijau-biru menjadi coklat-merah.
  10. Nitrat-nitrogen (NO3-N)

Pengukuran kandungan nitrat-nitrogen dilakukan dengan menggunakan metode asam fenoldisulfonik (Soedarsono dan Soeminto 1988).

Alat:

1. Gelas ukur

2. Cawan penguap

3. penangas air

4. batang gelas

5. tabung Nessler

Bahan:

1. asam fenol disulfonik

2. air suling

3. NH4OH

Dengan prosedur sebagai berikut :

a. Diambil 100 ml air sampel yang telah disaring dan dituangkan ke dalam cawan penguap dari bahan perselin.

b. Cawan ditaruh di atas penangas air diuapkan sampai kering.

c. Didinginkan, ditambahkan 2 ml asam fenol disulfonik dan diaduk dengan batang gelas.

d. Diencerkan dengan 10 ml air suling.

e. Ditambahkan NH4OH sampai terbentuk warna dan kemudian dipindahkan ke dalam tabung Nessler dan diencerkan dengan air suling sampai 100 ml.

f. Dibandingkan dengan larutan baku dalam daftar baku secara visual.

g. Rumus perhitungan :

Baca juga :

Mengukur Parameter Fisika Air

Mengukur Parameter Fisika Air – Air merupakan habitat untuk kehidupan organisme perairan yang memegang peranan penting terhadap tata kehidupannya, karena bahan-bahan yang ada di perairan menunjang sekali untuk aktivitas hidupnya diantaranya pertumbuhan dan perkembangbiakan organisme tersebut. Dewasa ini, perhatian manusia terhadap kualitas air semakin meningkat, hal ini ditujukan untuk mengetahui secara mendetail terhadap lingkungan perairan agar tidak mengurangi daya guna perairan tersebut secara alami. Perairan umum mencakup sungai, danau, laut, rawa, kolam, dan sebagainya.

Perairan dibedakan menjadi perairan mengalir (lotik) dan perairan menggenang (lentik). Kolam merupakan salah satu contoh perairan menggenang, sedangkan parit, sungai, dan selokan merupakan contoh perairan mengalir. Beberapa faktor lingkungan penentu perairan dipengaruhi pengelolaan dan kelangsungan hidup, berkembang biak, pertumbuhan atau reproduksi organisme akuatik dapat dilihat dari sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisika meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, muatan tersuspensi. Sifat kimia meliputi pH, oksigen terlarut, dan karbondioksida bebas. Sifat biologi meliputi jenis plankton dan produktivitas perairan tersebut. Hal yang disebutkan di atas merupakan suatu parameter untuk menentukan kualitas suatu perairan.

Baca juga : Cara Mengukur Parameter Biologi Air

1. Mengukur Suhu

Suhu secara langsung akan mempengaruhi proses kehidupan bagi beberapa jenis organisme air seperti proses reproduksi dan pertumbuhan serta secara tidak langsung akan mempengaruhi kelarutan dan ketersediaan oksigen dalam air. Setiap organisme perairan mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu.

Alat dan bahan : Termometer Celcius

Prosedur :

a. Suhu udara, termometer Celcius digantung pada tempat terbuka kemudian dibaca skalanya setelah menunjukkan angka yang konstan.

b. Suhu air, Termometer Celcius dicelupkan ke dalam perairan sekitar 3 atau 5 menit, setelah itu termometer diangkat kemudian langsung dibaca skalanya tanpa tersentuh oleh tangan.

2. Mengukur Kedalaman

Alat dan bahan : Deep sounder

Prosedur :

Tempelkan ujung muka deep sounder ke permukaan air, lalu telan tombol maka kedalaman air akan nampak pada layar.

3. Mengukur Penetrasi Cahaya

Penetrasi cahaya merupakan bentuk pencerminan daya tembus intensitas cahaya matahari ke dalam perairan yang berkorelasi dengan kekeruhan air. Daya tembus cahaya matahari dipengaruhi oleh partikel-partikel yang tersuspensi baik berupa organik maupun anorganik. Penetrasi cahaya disamping mengakibatkan peningkatan suhu juga merupakan sumber energi bagi tumbuhan air termasuk fitoplankton.

Alat dan bahan :

Secchi disk dan meteran pita

Prosedur

a. Secchi disk diturunkan ke dalam badan air hingga tidak nampak, kemudian diukur dengan meteran sebagai nilai x.

b. Secchi disk diturunkan ke dalam badan air, kemudian diangkat perlahan mulai nampak lagi, lalu diukur sebagai nilai y.

c. Besar nilai penetrasi cahaya dihitung dengan rumus berikut: Penetrasi cahaya = x +y/2

4. Mengukur TSS (Total Suspended Solid)

Total padatan tersuspensi (Total Suspended Solid) berupa bahanbahan teruspensi dengan diameter > 1 μm yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 μm. TSS terdiri atas lumpur dan jasadjasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis Phytoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan.

Alat :

1. Vacum filter dan penampungnya

2. Vacum pump

3. Oven

4. Desikator kabinet

5. Gelas ukur

6. Timbangan analitik

7. Pinset

Bahan :

Kertas Whatman no. 41 dan akuades

Prosedur :

a. Kertas Whatman no. 41 dibilas dengan akuades, kemudian dioven pada suhu 105 oC selama 1 jam, lalu dinginkan dengan desikator kabinet selama 15 menit.

b. Kertas Whatman no. 41 tersebut ditimbang sebagai berat awal (x)

c. Ambil 50 ml air sampel kemudian disaring dengan kertas kertas Whatman no. 41 yang telah ditimbang tersebut.

d. Filtrat yang tersaring beserta kertas Whatman no. 41 tersebut dioven selama 1jam pada suhu 105 oC.

e. Masukkan ke dalam desikator selama 15 menit.

f. Kertas Whatman ditimbang sebagai berat akhir (y)

g. Besarnya TSS dihitung dengan rumus berikut

Mengukur Parameter Fisika Air
Rumus TSS

5. Mengukur TDS (Total Dissolved Solids)

Zat (padat) terlarut yaitu zat padat yang lolos filter pada analisis zat tersuspensi (tss) sehingga analisis zat terlarut dapat merupakan kelanjutan dari analisis zat tersuspensi.

Alat :

1. Oven

2. Desikator kabinet

3. Timbangan analitik

4. Cawan penguapan

5. Pinset

6. Furnace

Bahan :

1. Air sampel yang telah disaring dengan Kertas Whatman no. 41

2. Akuades

Prosedur :

1. Cawan penguap yang telah dibersihkan dipanaskan dalan furnace pada suhu 550oC selama 1 jam. Kemudian dipindahkan ke dalam oven dengan suhu 105oC selama 30 menit, dinginkan dalam desikator selama 15 menit. Timbang segera bila akan digunakan.

2. Sampel yang lolos dalam filter kertas dituangkan ke dalam cawan penguapan.

3. Cawan yang berisi sampel tersebut diuapkan dan dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC sampai semua air telah menguap.

4. Besarnya TDS dihitung dengan rumus berikut

Baca juga : Cara Mengukur Parameter Kimia Perairan

Trichoderma Dan Zat Pewarna (Dekolorisasi)

Trichoderma Dan Zat Pewarna (Dekolorisasi) – Trichoderma adalah salah satu jamur yang tersebar luas (kosmopolitan) di lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Genus Trichoderma terdiri atas beberapa jamur saprofit yang mudah dikenali karena sporanya berwarna hijau. Trichoderma merupakan jenis jamur non mikoriza yang dapat ditemukan hampir di semua macam tanah dan berbagai habitat antara lain, kayu lapuk, sisa tanaman, dan jerami. Trichoderma tumbuh sangat baik dan berlimpah di dalam tanah di sekitar perakaran tanaman. Salah satu peranan jamur ini yaitu sebagai biodekomposer karena mampu memanfaatkan bahan organik di alam terutama selulosa sebagai sumber karbon dan energi untuk kebutuhan hidupnya.

Koloni Trichoderma ketika ditumbuhkan pada medium biakan, berdiameter lebih dari 5 cm dalam waktu 9 hari. Warna koloni semula berwarna putih, selanjutnya menjadi putih kehijauan dan menjadi hijau redup terutama pada bagian yang menunjukkan banyak terdapat konidia, sedangkan warna sebalik koloni tidak berwarna. Trichoderma memiliki pola persebaran koloni radial atau membentuk lingkaran-lingkaran. Ciri spesifik jamur ini adalah (1) miselium septat, (2) konidia bercabang banyak, septat dan ujung percabangannya merupakan sterigma, membentuk konidia bulat atau oval, berwarna hijau terang dan berbentuk bola-bola.

Trichoderma merupakan salah satu jamur yang mampu hidup pada limbah cair khususnya pada pengolahan buangan dengan lumpur aktif. Trichoderma sp. merupakan salah satu jamur lokal limbah batik yang dapat mendekolorisasi dan mendetoksifikasi limbah cair yang mengandung pewarna. Jamur yang dapat hidup dalam limbah yang mengandung pewarna mampu mengakumulasi serta menurunkan efek racun limbah pewarna tersebut.

Trichoderma Dan Zat Pewarna (Dekolorisasi)

 Limbah cair warna dihasilkan akibat penggunaan zat warna sintetik dalam proses produksinya. Salah satu industri yang banyak menggunakan zat warna dan menghasilkan limbah cair warna adalah industri kerajinan batik. Proses pembuatan batik meliputi tahapan antara lain penggambaran pola dengan cetakan dilapisi lilin dan menggambar dengan canting, proses pewarna dasar, proses pewarna lanjut, dan proses pencucian kain dengan lilin. Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan berasal dari proses pewarnaan dan pencucian.

Limbah cair industri batik memiliki sifat dan komposisi yang kompleks. Secara umum limbah cair industri batik mempunyai karakteristik berwarna, pH tinggi, kadar BOD, COD, TSS, nitrat, logam berat dan minyak tinggi dan telah melewati ambang baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Umumnya limbah pewarna hasil buangan industri kerajinan batik ini langsung dibuang di sekitar lokasi pembatikan.

Pembuangan air limbah ke lingkungan perairan tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu dapat mengakibatkan timbulnya masalah pencemaran lingkungan dan kesehatan. Toksisitas zat warna reaktif menurut kriteria Uni Eropa untuk bahan berbahaya adalah tergolong rendah, akan tetapi keberadaannya dalam air dapat menghambat penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga mengganggu aktivitas fotosintesis mikroalga. Dampak selanjutnya adalah pasokan oksigen dalam air menjadi berkurang dan akhirnya memicu aktivitas mikroba secara anaerobik yang menghasilkan produk berbau tak sedap. Aktivitas anaerobik yang dilakukan mikroba pada limbah pewarna menghasilkan senyawa amina aromatik yang jauh lebih toksik dan mutagenik.

Salah satu zat warna yang sering digunakan dalam industri pembatikan adalah zat warna napthol. Pewarna naphtol merupakan zat warna azo yang tidak larut dalam air. Zat warna  naphtol merupakan salah satu contoh pewarna azo yang memiliki sifat asam, reaktif dan anionik. Pewarna azo mengandung paling sedikit satu ikatan ganda N=N dan mempunyai gugus reaktif yang dapat membentuk ikatan kovalen dengan gugus -OH, -NH atau -SH pada serat. Riyanto (2012) menyatakan pewarna sintetik azo bersifat stabil sehingga sangat sulit untuk terdegradasi di alam dan berbahaya bagi lingkungan apabila dalam konsentrasi yang besar. Zat warna sintetik azo sulit didegradasi oleh beberapa jenis mikroba.

Trichoderma dilaporkan mampu tumbuh dalam limbah cair yang mengandung pewarna serta dapat mendekolorisasi pewarna tersebut. Limbah cair pewarna mengandung nutrient, materi organik, materi anorganik dan berbagai macam logam berat yang dapat dimanfaatkan oleh jamur untuk pertumbuhan. Trichoderma viride dan Trichoderma harzianum mampu tumbuh pada media yang mengandung pewarna methyl orange dan dapat mendekolorisasi pewarna tersebut. T. harzianum juga dilaporkan mempunyai kemampuan untuk mendekolorisasi pewarna Congo red dan Bromophenol blue.

Mekanisme dekolorisasi oleh jamur terjadi secara enzimatis dan non-enzimatis. Mekanisme dekolorisasi secara non-enzimatis oleh jamur terjadi melalui proses adsorpsi zat warna oleh dinding sel jamur. Komponen utama penyusun dinding sel jamur yang sering digunakan untuk proses biosorbsi adalah kitin yang merupakan turunan dari selulosa yang sangat efektif sebagai biosorben. Mekanisme dekolorisasi secara enzimatis menggunakan enzim-enzim ekstraseluler kompleks yang dihasilkan oleh jamur. Enzim yang terlibat dalam penurunan warna adalah lignin peroksidase (LiP), mangan dependen peroksidase (MnP) dan lakase (Lac) yang di sekresikan oleh hifa. Enzim ekstraseluler yang dihasilkan oleh jamur digunakan untuk memutus ikatan rangkap amin aromatik dan penjenuhan rantai karbon siklik yang terdapat pada zat warna sehingga terjadi proses dekolorisasi.

Proses biodegradasi limbah cair industri diketahui dilakukan oleh aktivitas lakase. Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena lakase memiliki aktivitas katalitik terhadap berbagai jenis substrat. Aktivitas enzimatik pada lakase merupakan aktivitas oksidasi yang menghasilkan satu elektron hasil oksidasi senyawa fenol dan mereduksi oksigen menjadi air. Trichoderma mampu menghasilkan enzim ekstraseluler lakase. Trichoderma merupakan produsen lakase yang prospektif.