Arsip Tag: News

Desa Ramah Lingkungan (biovillage)

Melanjutkan postingan sebelumnya berjudul “Biovillage Berbasis Kearifan Lokal”. Kali ini wisata sains akan memposting artikel yang masih ada hubunganya dengan postingan sebelumnya yang berjudul Desa  Ramah Lingkungan (biovillage).

Salah satu konsep alternatif yang mulai banyak dikembangkan oleh sejumlah kota-kota dibeberapa negara maju adalah penerapan konsep Zero Waste. Pada dasarnya Zero Waste yang mengacu pada konsep sistem ekologi ini dapat memungkinkan tingkat efisiensi yang lebih tinggi karena waste atau limbah yang terjadi dalam setiap mata rantai kegiatan pembangunan atau produksi dapat dikurangi sehingga nilai produktifitas dari setiap kegiatan itu akan lebih tinggi.

Pada akhirnya dengan produktifitas yang meningkat ini maka otomatis pendapatan bersih akan meningkat pula. Akan tetapi konsep ini lebih banyak dikembangkan di kota-kota besar. Selain itu ada juga konsep tentang “Biovillage Model” yang merupakan kombinasi konservasi sumber daya alam dan pemberdayaan masyarakat melalui penghapusan kemiskinan dan pemberdayaan kaum perempuan seperti yang telah diterapkan oleh Swaminathan Research Foundation di Pondicherri pada tahun 1991 merupakan program pembangunan yang bertumpu pada pembangunan manusia.

Biovillage adalah suatu model pedesaan yang memanfaatkan segala aspek sumber daya alam yang ada, dan diaplikasikan ke dalam kehidupan tanpa menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Konsep biovillage sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia, terutama di daerah pedesaan karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan dengan maksimal.
Desa ramah lingkungan
Orang di desa biasanya dalam mengatasi sampah dengan cara dibakar. Akan tetapi sebenarnya sampah-sampah tersebut masih bisa dimanfaatkan dengan cara didaur ulang. Ada beberapa cara pengurangan sampah yang lebih baik dari pembakaran yaitu penanggulangan sampah meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting (3RC) yang merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu. Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah pertama untuk mencegah penimbunan sampah. Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai.
Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya (resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan plastik. Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik, misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman.
Peternakan di pedesaan merupakan mata pencahariaan utama selain bertani. Hewan ternak yang dipelihara biasanya adalah sapi, kerbau, kambing dan ayam. Para peternak di desa banyak yang tidak mengetahui kalau kotoran ternak dapat dijadikan sebagai biogas dan pupuk cair. Selama ini hanya mengetahui sebagai pupuk organik untuk tanaman. Padahal kotoran ternak bisa dijadikan sebagai biogas yang bernilai ekonomi tinggi. Pengelolaan limbah yang dilakukan dengan baik selain dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan juga memberikan nilai tambah terhadap usaha ternak. Apabila limbah tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sembarangan dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (bau), berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya.
Pemanfaatan limbah kotoran ternak sebagai pupuk kompos dapat menyehatkan dan menyuburkan lahan pertanian. Selain itu kotoran ternak juga dapat digunakan sebagai sumber energi biogas. Sumber energi biogas menjadi sangat penting karena harga bahan bakar fosil yang terus meningkat dan ketersediaan bahan bakar yang tidak konstan dipasaran, menyebabkan semakin terbatasnya akses energi bagi masyarakat termasuk peternak. Kotoran dan air kencing merupakan limbah ternak yang terbanyak dihasilkan dalam pemeliharaan ternak selain limbah yang berupa sisa pakan. Kotoran ternak sapi dapat dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan nitrogen, potassium dan materi serat yang tinggi. Kotoran ternak ini perlu penambahan bahan-bahan seperti serbuk gergaji, abu, kapur dan bahan lain yang mempunyai kandungan serat yang tinggi untuk memberikan suplai nutrisi yang seimbang pada mikroba pengurai sehingga selain proses dekomposisi dapat berjalan lebih cepat juga dapat dihasilkan kompos yang berkualitas tinggi.
Mata pencaharian utama penduduk pedesaan adalah bertani. Hasil pertanian yang dipanen antara lain adalah padi, jagung, ubi jalar, kedelai, dan sebagainya. Pendapatan petani di pedesaan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, maka dari itu perlu adanya penghasil tambahan lainnya untuk mencukupi kebutuhan lainnya. Salah satu alternatifnya adalah dengan memanfaatkan hasil pertanian untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi, seperti tempe (fermentasi kedelai), tapai (fermentasi singkong), bioetanol dari ubi jalar, dan lain-lainnya.

Ubi jalar merupakan tanaman berpati yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Beberapa tahun belakangan penggunaan bahan bakar nabati (biofuel) semakin marak. Salah satu biofuel yang sering digunakan adalah bioetanol dari ubi kayu. Bioetanol dapat digunakan sebagai campuran minyak atau bensin. Selain itu, bioetanol juga semakin dilirik konsumen sejak program konversi minyak tanah menjadi LPG digulirkan. B-GEL adalah bioetanol dengan bentuk fisik berupa gel. Produk B-GEL sangat prospektif dikembangkan di Indonesia. Keunggulan dari bioetanol gel dibandingkan frasa cairnya yaitu praktis, relatif murah, dan aman. Praktis karena berbentuk gel sehingga bisa disimpan di dalam botol serta tidak mudah tumpah. Produk ini juga relatif murah ditengah melonjaknya harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak lokal. Bioetanol gel merupakan produk aman karena tidak volatil serta tidak mengeluarkan asap atau gas beracun ketika dibakar.

Pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam diatas dalam pengembangan Biovillage berbasis kearifan lokal bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan. Keterbatasan sumber daya manusia dan pengetahuan masyarakat pedesaan dapat diatasi dengan adanya “Biocenter Biovillage” atau pusat kegiatan dan informasi biovillage. Selain itu juga perlu diadakannya pelatihan-pelatihan kepada masyarakat pedesaan tentang semua potensi sumberdaya alam yang ada di desa tersebut agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga bisa mendapatkan penghasilan dan meningkatkan taraf hidup bagi mereka. Konsep biovillage berbasis kearifan lokal ini memerlukan pihak-pihak tertentu agar bisa dilaksanakan, terutama yang mengetahui tentang ilmu-ilmu biologi dan mikrobiologi khususnya. Selain itu kerja sama dengan stakeholder, pemerintah setempat, dan dinas-dinas terkait sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan konsep biovillage berbasis kearifan lokal tersebut.
Semoga Artikel ini dapat bermanfaat.

Wisata Grebeg Suro Budaya Solo Sampai Purwokerto

Kami pada kesempatan kali ini akan mencoba berbagi informasi unik tentang Grebeg Suro Banyumas. Setelah sebelumnya membahas mengenai Banyumas “Tempat budaya unik dan menarik”. Upacara grebeg suro di Desa Kemutug lor Kecamatan Baturaden sebagai upacara adat istiadat. Hasil wawancara langsung dari beberapa masyarakat di dapat informasi megenai Grebeg suro disebut juga dengan kirab pusaka” Kirab pusaka adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh Desa Kemutug lor, yang merupakan cabang budaya berupa tatacara keraton” Upacara grebeg suro tidak hanya sebagai sarana memanjatkan doa dan mencari berkah saja tetapi juga sebagai bentuk penyampaian nilai moral kepada masyarakat disekitarnya”

Salah satu upacara atau slametan yang dilakukan di Jawa ialah upacara tahun baru Jawa yang jatuh setiap malam 1 Suro . Malam 1 Suro tidak disambut dengan kemeriahan dan kemegahan, namun dilewati dengan berbagai ritual sebagai bentuk kontemplasi dan introspeksi diri bagi sebagaian besar masyarakat Jawa.

Satu (1) Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah, karena kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu pada penanggalan Hijriyah (Islam). Satu (1) Suro diperingati pada malam hari setelah Maghrib pada hari sebelum tanggal satu Suro. Hal tersebut karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam (Wikipedia).

Pada malam 1 Suro, sebagaian besar masyarakat Jawa melakukan ritual tirakatan (menahan hawa nafsu / tidak melakukan hal-hal yang menjadi kesukaannya), lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk) dan tuguran (kontemplasi) untuk lebih mendekatkan diri dengan Ilahi Robbi. Hal itu bisa dilaksanakan dengan kungkum (berendam di sungai-sungai tertentu), menepi atau di rumah. Karena malam 1 Suro mempunyai arti tersendiri (sakral) bagi sebagian besar masyarakat Jawa. Ritual 1 Suro sudah dikenal masyarakat Jawa  pada masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).

Grebeg suro disebut juga dengan kirab pusaka. Kirab pusaka adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh karesidenan Banyumas, yang merupakan cabang budaya berupa tatacara karesidenan. Upacara grebeg suro tidak hanya sebagai sarana memanjatkan doa dan mencari berkah saja tetapi juga sebagai bentuk penyampaian nilai moral kepada masyarakat disekitarnya.

Nilai penting upacara grebeg suro yang pertama pada malam menjelang tanggal 1 Suro tahun Jawa, pukul 12.00 malam sampai pukul 4.00 pagi.Tahap pelaksanaan antara lain mengadakan doa bersama dan kirab pusaka yang intinya pusaka-pusaka, mengeluarkan Kyai Slamet, mengeluarkan tombak-tombak pusaka, mengeluarkan dupa, terakhir keliling keraton. Peserta dalam kirab pusaka tersebut adalah para abdi dalem dan para putra Sentana dalem dan kebo bule beserta keturunannya. Kedua, nilai moral yang terkandung di dalam upacara grebeg suro adalah nilai keselamatan, nilai keberkahan, nilai ketuhanan, nilai kesejahteraan, dan nilai kegotong-royongan. Ketiga, persepsi masyarakat terhadap nilai moral yang terkandung dalam upacara grebeg suro antara lain adalah mendapatkan ketentraman dan kesejahteraan, mendapatkan berkah, selalu berdoa dan memohon kepada Tuhan Yang Maha Agung, ritual adat yang sakral yang perlu dilestarikan. Perayaan kirab pusaka yang diadakan pada malam 1 Suro merupakan merupakan nilai sakral Islam, dengan melakukan kirab dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Agung .

Pembuatan Sapu Gelagah Di Desa Kajongan

Sapu Gelagah Di Desa Kajongan – Kekayaan alam hayati yang dimiliki Indonesia sangat berlimpah dan beraneka ragam, sehingga disebut negara mega-biodiversity. Dalam sejarah kehidupan, tumbuhan telah memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan budaya manusia. Suku-suku bangsa memanfaatkan tumbuhan untuk sandang, pangan, papan, obat-obatan, kosmetik, dan bahan kerajinan. (Utami dan Noor, 2010). Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan merupakan kegiatan turun-temurun yang telah dipraktekkan oleh masyarakat di Kabupaten Purbalingga, tepatnya di Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari. Masyarakat daerah tersebut memanfaatkan tumbuhan untuk dijadikan sesuatu yang lebih berguna dan lebih bernilai seperti sapu gelagah. Bahan-bahan yang dipilih sebagai bahan dasar dalam pemanfaatan tumbuhan untuk kerajinan seperti gelagah ini memiliki nilai ekonomis yang lebih jika benar-benar dimanfaatkan dengan baik.

[JALAN-JALAN UNIK] PEMBUATAN SAPU GELAGAH DI DESA KAJONGAN

 Desa Kajongan adalah pusat industri kerajinan di Kabupaten Purbalingga.

Sebagian besar penduduk di Desa Kajongan pekerjaan sehari-harinya sebagai petani. Selebihnya ada yang bekerja sebagai peternak, pedagang, dan pengrajin sapu. Selain itu, Desa Kajongan juga terkenal dengan kerajinan tangannya, yaitu kerajinan sapu gelagah. Berbagai macam sapu diproduksi di daerah tersebut untuk dipasarkan secara lokal, nasional, sampai internasional. Bahan baku dalam pembuatan sapu tersebut adalah rumput gelagah. Sapu sangat diperlukan oleh masyarakat luas di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Kerajinan sapu gelagah ini adalah penghasilan ekonomi yang paling menonjol di Desa Kajongan. Kerajinan sapu tersebut sudah cukup dikenal, baik di Kabupaten Purbalingga sendiri maupun di luar daerah.

Untuk mengeksplorasi pengetahuan lokal (indigenous knowledge), dilakukan praktikum lapangan untuk mengkaji langsung tentang ilmu etnobotani dalam masyarakat mengenai pemanfaatan tumbuhan untuk bahan kerajinan. Untuk menghasilkan produk kerajinan dari bahan tumbuhan, diperlukan pengetahuan dan pengalaman dalam mengenal tumbuhan yang akan digunakan tersebut.

Wawancara semi struktural untuk mendapatkan informasi dari masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan kerajinan, dengan mewawancarai salah satu pengrajin sapu gelagah secara langsung, yaitu Bapak H. Sodri, RT 01 RW 02, Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Cara kerja untuk membuat sapu gelagah adalah sebagai berikut:

  1. Tanah yang menempel pada akar rumput gelagah dibersihkan.
  2. Rumput gelagah yang sudah bersih dijemur sampai kering, berwarna coklat kekuning-kuningan.
  3. Rumput gelagah dibagi dan disatukan sesuai dengan ukuran sapu yang akan dibuat, kemudian disisir sampai berbentuk helaian tipis.
  4. Rumput gelagah dicelupkan ke dalam pewarna, kemudian dijemur sampai kering (untuk sapu gelagah warna).
  5. Kayu atau bambu yang akan dijadikan batang sapu dipotong sesuai dengan ukuran sapu dan dihaluskan sampai mengkilap.
  6. Rotan dianyam dan dipasang pada batang (pembuatan mahkota sapu).
  7. Gelagah dipasang atau disatukan dengan mahkota sapu dengan menjahitnya menggunakan benang nilon atau senar.
  8. Sapu gelagah yang sudah jadi dirapikan dengan meratakan panjang gelagah.
  9. Tali yang akan dijadikan tali penggantung dipotong sesuai dengan ukuran.
  10. Tali penggantung dipasang pada ujung batang sapu.
  11. Sapu gelagah disimpan dalam ruangan.
  12. Sapu gelagah siap didistribusikan.

PENGRAJIN SAPU GELAGAH

Desa Kajongan sangat terkenal dengan produksi kerajinan tangannya, yaitu sapu gelagah. Mayoritas masyarakat Desa Kajongan sebagai pengrajin sapu gelagah. Desa Kajongan terletak di Kecamatan Bojongsari, tepatnya 5 km dari utara pusat kota Purbalingga. Batas wilayah desa Kajongan sebelah selatan adalah Desa Bobot, batas wilayah sebelah utara adalah Desa Bojongsari, batas wilayah sebelah barat adalah Desa Karangbanjar, dan batas wilayah sebelah timur adalah Desa Gembong. Desa Kajongan merupakan dataran tinggi yang memiliki curah hujan rata-rata 3.130 mm dengan hari hujan rata-rata 123 hari dan suhunya rata- rata 24,3-31,7°C. Tekstur tanahnya berupa tanah berdebu dengan struktur remah dan sarang. Terdapat kawasan persawahan dan kawasan industti kecil atau rumah tangga. Tanah di desa Kajongan memiliki topografi yang bergelombang (Badan Pusat Statistik, 2006).

Gelagah adalah nama bahan untuk membuat sapu yang berasal dari rumput gelagah. Menurut Bapak Sodri, dahulu rumput gelagah di Desa Kajongan sangat banyak sehingga para warga memanfaatkannya untuk membuat sapu, dan dijadikan sebagai mata pencaharian utama, sebagai pemasukan ekonomi yang utama. Awalnya memang bukan warga asli Desa Kajongan yang membuat, namun ada orang yang merantau atau pendatang dari luar daerah yang membuat warga menjadi mengerti dan akhirnya membuat sapu. Gelagah sendiri di Desa Kajongan sekarang sudah sangat jarang, bahkan tidak ada, sehingga para pengrajin sapu gelagah mengambil bahan bakunya dari luar daerah, seperti Wonosobo, Pemalang, dan Banjarnegara.

Sapu gelagah merupakan salah satu peralatan rumah tangga yang terbuat dari rumput gelagah (Saccharum spontaneum) yang biasa tumbuh di dataran tinggi. Perkembangan industri kerajinan sapu gelagah ini tidak lepas dari potensi bahan baku rumput gelagah di Kabupaten Purbalingga yang cukup besar, kurang lebih 1.000 ton per tahun. Di Purbalingga, rumput gelagah banyak tumbuh di areal Perhutani yang mencapai 900 hektar di Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu. Bagian rumput gelagah yang dapat dimanfaatkan adalah bagian bunga dan batang. Bunga gelagah yang telah kering dapat dirangkai menjadi mahkota sapu. Pembuatan mahkota sapu dilakukan dengan menjahitnya menggunakan benang nilon atau senar (Hidayat, 2012).

Kemunculan kerajinan sapu gelagah di Purbalingga memiliki sejarah panjang. Sekitar tahun 1960-an, di Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, muncul kerajinan sapu di rumah-rumah warga. Waktu itu, bahan baku utama masih berupa ijuk. Sekitar 1970 pengrajin mulai memakai bahan rumput gelagah. Selain lebih murah, rumput gelagah juga mudah didapat karena masa panen relatif singkat, yaitu setahun sekali. Waktu itu bentuknya masih sederhana dan berwarna natural. Saat ini paling tidak ada 20 model sapu gelagah yang diproduksi para pengrajin, antara lain sakura, B1, B2, udang, SMS, jengki, lakop, rayung, dan kipas. Selain itu, sapu gelagah juga dibuat warna-warni dengan mencelupkannya ke dalam pewarna tekstil. Batang sapu juga dibuat lebih kreatif seperti dibungkus dengan plastik mika warna-warni (Hidayat, 2012).

Menurut Bapak H.Sodri sebagai informan sekaligus pengrajin dan pengusaha sapu gelagah di Desa Kajongan, RT.01 RW.02, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, pembuatan sapu gelagah ini merupakan salah satu sumber ekonomi masyarakat Desa Kajongan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Usaha sapu gelagah ini dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Ketrampilan ini merupakan ketrampilan tradisional yang turun-temurun dari nenek moyangnya.Dulu, Bapak H. Sodri memproduksi sapu gelagah hanya dalam skala industri, namun semakin lama industri ini semakin maju, dan sekarang sapu gelagah ini diproduksi secara industri.

Beliau mempunyai banyak pekerja, kurang lebih berjumlah 35 orang. Sapu gelagah yang diproduksi bermacam-macam, baik dari segi bentuk maupun warnanya. Beberapa macam sapu gelagah yang diproduksi antara lain sapu jengki, sapu penjara, sapu B1, sapu sakura, sapu lakop, sapu SMS (Sapu Miring Sebelah), sapu udang, dan sapu halaman. Selain itu, beliau juga memproduksi beberapa produk lain seperti sapu lidi, kemoceng, gayung batok, tebak kasur, asbak, dan celengan. Sapu gelagah yang diproduksi bermacam-macam, baik dari segi bentuk maupun warnanya.

Beberapa macam sapu gelagah yang diproduksi antara lain sapu jengki, sapu penjara, sapu B1, sapu sakura, sapu lakop, sapu SMS (Sapu Miring Sebelah), sapu udang, dan sapu halaman. Selain itu, beliau juga memproduksi beberapa produk lain seperti sapu lidi, kemoceng, gayung batok, tebak kasur, asbak, dan celengan. Wilayah pemasaran sapu gelagah yaitu secara lokal, bahkan sampai internasional. Pemasaran produk sapu gelagah lokal atau dalam negeri tersebar di Purbalingga dan sekitarnya serta seluruh kota-kota besar di pulau Jawa dan luar pulau Jawa seperti Cirebon, Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Karawang, Pasuruan, Boyolali, Tasikmalaya, Bogor, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, dan Aceh, sedangkan untuk tujuan ekspor meliputi Malaysia, Singapura, Brunai Darusalam, Taiwan, Jepang, Thailand, dan Korea. Kebanyakan konsumen luar negeri lebih menyukai sapu gelagah yang natural, tidak dengan pewarna.

Konsumen di Korea menggemari sapu gelagah model rayung yang hampir sebagian besar berbahan gelagah, termasuk gagang dari tangkai gelagah. Sedangkan konsumen di Malaysia dan Thailand biasanya menyukai model lakop dengan tangkai dari bambu atau kayu yang diikatkan dengan gelagah. Menurut data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, di Purbalingga ada 800 pengrajin sapu yang tersebar di seluruh pelosok. Mereka merupakan industri rumahan. Kepala Seksi Ekspor Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Dwi Martha mengatakan bahwa sapu gelagah merupakan komoditas ekspor yang cukup besar. Namun dinas tidak memiliki data yang pasti berapa ribu sapu yang dikirim ke luar negeri setiap tahun.

Bahan-bahan yang digunakan oleh Bapak H. Sodri untuk membuat sapu gelagah antara lain sebagai berikut :

  1. Rumput gelagah, diperoleh dari daerah pinggiran Gunung Slamet.
  2. Bambu, digunakan sebagai batang sapu. Bambu yang biasa digunakan yaitu bambu anchoe yang diperoleh dari Wonosobo dan bambu ampel yang diperoleh dari sekitar Kajongan.
  3. Rotan, digunakan untuk membuat mahkota sapu.
  4. Rodamin atau pewarna batik, digunakan untuk mewarnai sapu gelagah, diperoleh dari Pekalongan.
  5. Limbah gujir (benang nilon atau senar), digunakan sebagai tali pengikat atau tali penggantung.

Bahan produksi yang awalnya mudah didapatkan dari lingkungan sekitar, sekarang susah didapat. Para warga mengatasinya dengan cara mencari dan memasok bahan baku dari daerah lain. Namun, para pengrajin memiliki kendala karena membutuhkan modal yang lebih dan keuntungannyapun akan berkurang (Rubiyanto, 2009).

Berdasarkan informasi yang didapat dari Bapak H. Sodri sebagai pengusaha sapu gelagah, cara membuat sapu gelagah yaitu tanah yang menempel pada akar rumput gelagah dibersihkan, rumput gelagah yang sudah bersih dijemur sampai berwarna coklat kekuning-kuningan.

Rumput gelagah dibagi dan disatukan sesuai dengan ukuran sapu yang akan dibuat, kemudian disisir sampai berbentuk helaian tipis, kemudian dicelupkan ke dalam pewarna, dan dijemur sampai kering (untuk sapu gelagah warna). Kayu atau bambu yang akan dijadikan batang sapu dipotong sesuai dengan ukuran sapu dan dihaluskan sampai mengkilap, rotan dianyam dan dipasang pada batang (pembuatan mahkota sapu). Setelah itu, gelagah dipasang atau disatukan dengan mahkota sapu dengan menjahitnya menggunakan benang nilon atau senar.

Sapu gelagah yang sudah jadi dirapikan dengan meratakan panjang gelagah. Tali yang akan dijadikan tali penggantung dipotong sesuai dengan ukuran, kemudian dipasang pada ujung batang sapu. Setelah proses pembuatannya selesai, sapu gelagah disimpan dalam ruangan dan siap untuk didistribusikan.

Sekapur Sirih

Sapu gelagah merupakan hasil kerajinan yang diproduksi di Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ketrampilan membuat sapu gelagah ini merupakan ketrampilan tradisional yang turun-menurun dan sebagai salah satu sumber ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Disebut sapu gelagah karena terbuat dari rumput gelagah (Saccharum spontaneum). Sapu gelagah diproduksi di Desa Kajongan dalam skala industri. Pemasarannya secara lokal, bahkan sampai internasional. Untuk pemasran lokal meliputi Cirebon, Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Purwokerto, Surabaya, Karawang, Pasuruan, Boyolali, Tasikmalaya, Bogor, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, dan Aceh. Sedangkan pemasaran skla internasional meliputi Malaysia, Singapura, Brunai Darusalam, Taiwan, Jepang, Thailand, dan Korea. Beberapa macam sapu gelagah yang diproduksi di Desa Kajongan antara lain sapu jengki, sapu penjara, sapu B1, sapu sakura, sapu lakop, sapu SMS (Sapu Miring Sebelah), sapu udang, dan sapu halaman.

Bacaan Lebih Lanjut ;

Badan Pusat Statistik. 2006. KBLI 2005 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia. BPS, Jakarta.

Hidayat, W. 2012. http//:www.etnobotani.wahyuhidayat.com/pembuatan-sapu-glagah.htm. Diakses pada tanggal 5 Desember 2013.

Rubiyanto, Sofyan. 2009. Pengrajin Sapu Inul di Desa Botosari. Pustaka Gemilang, Yogyakarta.

Utami, S., Noor, F. H. 2010. Pemanfaatan Etnobotani dari Hutan Tropis Bengkulu sebagai Pestisida Nabati. JMHT, Vol. 16 (3) : 143-147