Arsip Tag: Pertanian

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH – Pemberian pakan pada ternak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis ternak, baik untuk kebutuhan pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot badan, sedangkan kebutuhan produksi untuk memproduksi air susu, pertumbuhan, dan reproduksi. Jika pakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, maka bobot badan sapi tidak akan naik dan tidak akan turun, dan produksi susu tidak ada. Sebaliknya, jika pakan dapat melebihi kebutuhan hidup pokok, maka kelebihan pakan akan diubah menjadi bentuk – bentuk produksi seperti produksi susu, pertumbuhan atau peningkatan bobot hidup dan tenaga. Bahan pakan berserat berupa hijauan merupakan pakan utama sapi perah. seperti rumput dan legum. Hijauan merupakan pakan utama sapi perah yang mengandung kadar serat tinggi.

Jenis-jenis Hijauan yang diberikan pada ternak sapi perah

Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi enjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan(Rumput gajah ( Pennisetum purpureum), Rumput Raja (King grass), setaria, benggala (Pennisetum maximum), rumput lapang dan BD (Brachiaria decumbens)), kacang-kacangan (leguminosa) seperti lamtoro, turi, gamal dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

Hijauan berdasarkan kualitasnya dibagi atas 3 kelompok:

1. Kelompok hijauan yang berkualitas rendah:

  •  Protein kasar di bawah 4% dari bahan kering
  • Energi di bawah 40% TDN dari bahan kering
  • Sedikit atau tidak ada vitamin.

Hijauan yang termasuk kelompok ini antara lain adalah jerami padi, jerami jagung dan pucuk tebu.

2. Kelompok hijauan yang berkualitas sedang:

  •  Protein kasar berkisar antara 5-10% dari bahan kering
  • Energi berkisar antara 41 – 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium sekitar 0,3%

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah rumput alam, rumput lapangan,rumput gajah, rumput benggala dan rumput kultur lainnya.

3. Kelompok hijauan yang berkualitas tinggi:

  • Protein kasar di atas 10% dari bahan kering
  • Energi di atas 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium di atas 1,0% .
  • Kandungan vitamin A tinggi

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah leguminosa (lamtoro,kaliandra, gliricidia, alfalfa), dan daun umbi-umbian.

5 Manfaat Kompos Bagi Tanaman

5 Manfaat Kompos Bagi Tanaman – Kompos sangat bermanfaat bagi proses pertumbuhan tanaman, kompos tidak hanya mensuplai unsur hara bagi tanaman, tetapi juga dapat memperbaiki struktur tanah terutama tanah kering dan lading serta menjaga fungsi tanah sehingga menjaga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Hanya itukah manfaat kompos bagi tanaman? Ternyata tidak, sebenarnya masih banyak manfaatnya, berikut ini beberapa manfaat kompos bagi tanaman.

(1). Kompos Menyediakan Unsur Hara bagi Tanaman

Setiap tanaman membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Tanah yang baik mempunyai unsur hara yang dapat mencukupi kebutuhan tanaman. Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan tanaman, unsur hara yang dibutuhkan tanaman dibagi menjadi tiga golongan.

Yang pertama unsur hara makro primer, yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

Selanjutnya unsur hara makro sekunder sedang, yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah kecil, seperti sulfur/belerang (S), Kalsium (Ca), dan magnesium (Mg).

Dan yang terakhir adalah unsur hara mikro yaitu unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, seperti besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Zn), klor (CI), boron (B), mangan (Mn), dan molobdenum (Mo).

Seorang warga sedang membuat kompos (solopos.com)

Seorang warga sedang membuat kompos (solopos.com)

(2). Kompos Dapat Memperbaiki Struktur Tanah (Soil Conditioner)

Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Stuktur gumpalan terjadi karena butir-butir debu, pasir, dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat, seperti bahan organik atau oksida besi.

Tanah tergolong buruk apabila butir-butir tanah tidak melekat, misalnya tanah pasir, atau saling merekat erat sangat teguh (Tanah liat), tanah yang baik adalah tanah yang remah atau granuler.

Tanah seperti ini mempunyai tata ruang udara yang baik sehingga aliran udara dan air dapat masuk dengan baik. Kompos merupkan perekat pada butir-butir tanah dan mampu menjadi penyeimbang tingkat kerekatan tanah.

Selain itu kehadiran kompos bagi tanaman menjadi daya tarik bagi mikroorganisme untuk melakukan aktifitas pada tanah.

Dengan demikian tanah yang semula keras atau teguh dan sulit ditembus air maupun udara kini menjadi gembur kembali karena aktivitas mikroorganisme. Struktur tanah yang gembur seperti ini sangat baik bagi tanaman.

(3). Kompos Meningkatkan Kemampuan Tanah Untuk Menahan Air

Suatu bagian yang tidak terisi bahan padat pada tanah dinamakan pori-pori. Bagian yang tidak berisi ini akan diisi oleh air dan udara.

Pori-pori dibedakan menjadi dua, yaitu pori-pori halus dan pori-pori kasar, pori-pori kasar berisi air gravitasi atau udara. Pori-pori kasar ini sulit menahan air karena gaya gravitasi, sehingga air hanya merembes masuk dan lewat begitu saja. Contohnya adalah tanah pasir.

Tanah yang bercampur dengan bahan organik seperti kompos mempunyai pori-pori dengan rekat yang lebih baik, sehingga mampu mengikat dan menahan ketersediaan air di dalam tanah.

Erosi air secara langsung dapat ditahan dengan adanya kompos pada tanah. Hujan yang turun begitu deras akan mengkikis tanah, sehingga unsur hara akan terkikis habis terbawa hujan, dengan adanya kompos, tanah terlapisi secara fisik sehingga tidak mudah terkikis dan akar tanaman terlindungi.

Kompos juga meningkatkan daya ikat terhadap unsur hara sehingga unsur hara yang terdapat di dalam tanah tidak mudah tercuci oleh air.

(4). Kompos Meningkatkan Aktivitas Biologi Tanah

Pada kompos terdapat mikroorganisme yang menguntungkan tanaman. Jika berada di dalam tanah, kompos akan membantu kehidupan mikroorganisme di dalam tanah.

Selain berisi bakteri dan jamur pengurai, keberadaan kompos akan membuat tanah menjadi sejuk tidak terlalu lembab dan tidak terlalu kering.

Keadaan seperti itu sangat disenangi oleh mikroorganisme. Dalam hal ini misalnya, cacing tanah akan lebih suka tinggal di tanah dengan kadar organik tinggi dari pada tanah yang keras atau berpasir.

Cacing tanah juga dapat menjadi pupuk alami berupa kascing, yang bermanfaat bagi tanaman, jenis-jenis serangga yang hidup dalam tanah juga dapat memperbaiki tata udara di dalam tanah dengan cara membuat lubang-lubang kecil.

(5). Kompos Merupakan Pupuk Ramah Lingkungan

Penggunaan pupuk kimia ternyata berpengaruh buruk, tidak hanya meracuni tanah dan iar saja, tetapi juga dapat meracauni produk yang dihasilkan. Sebagai contoh pupuk urea terbuat dari senyawa hidrokarbon yang juga digunkan untuk kendaraan bermotor.

Senyawa ini akan berubah menjadi nitrit. Nitrit ini dapat muncul dalam produk makanan apabila pupuk masuk ke tata ruang air tanah.

Senyawa inilah yang kemudian menjadi radikal bebas yang dapat menimbulkan efek jangka panjang berupa kanker atau keracunan langsung.

Karena menginginkan hasil yang berlimpah, para petani seringkali tidak menghitung lagi jumlah pupuk yang diberikan dan cenderung boros.

Pada saat terjadi pencucian tanah, pupuk kimia yang tidak terkonsumsi tanaman akan berkumpul, mengendap dan bertumpuk di dalam tanah sehingga kelak mengakibatkan tanah tersebut keracunan dan tidak produktif lagi.

baca juga : Cara pembuatan pupuk organik cair dan padat

Sekian semoga bermanfaat !

 

Persyaratan Budidaya Rumput Laut Eucheuma sp

Persyaratan Lahan Budidaya Rumput Laut Eucheuma sp – Rumput laut (sea weeds) adalah ganggang yang berukuran besar (macro algae) yang merupakan tanaman tingkat rendah dan termasuk dalam divisi Thallophyta. Rumput laut dikelompokan dalam thallophyta karena struktur kerangka tubuhnya tidak berdaun, berbatang, serta berakar, tetapi menyerupai batang yang disebut thallus. Secara botani tumbuhan ini tidak termasuk dalam rumput-rumputan, namun tumbuhan laut ini lebih dikenal dengan .rumput laut,dalam dunia perdagangan rumput laut (sea weeds) merupakan salah satu komoditi ekspor non-migas, tersebar luas di perairan pantai kepulauan Indonesia adalah berupa ganggang (algae) multiseluler yang hidup di laut tergolong division thallophyta.
Panen rumput laut di Indonesia yang merupakan produksi dan salah satu komoditi ekspor itu semuanya adalah diambil dari alam. Sehingga keadaannya yang naik turun tidak menentu itu adalah karena ketergantungan pada keadaan alam dan iklim yang sukar dikuasai oleh manusia. Sedangkan kebutuhan rumput laut di dunia semakin meningkat dengan meningkatnya industri-industri yang lain, baik yang yang memerlukan bahan agar-agar, carrageenin ataupun algin. Usaha-usaha budidaya sangat diperlukan untuk menanggulangi semua itu. Untuk meningkatkan produksi dapat dilakukan tiga cara yaitu pencarian daerah baru, konservasi, dan budidaya.
Budidaya rumput laut Eucheuma sp. yang sudah biasa dilakukan oleh petani/nelayan adalah dengan menggunakan metode rakit apung (floating raft method) dan metode lepas dasar (off bottom method), metode ini sangat tepat diterapkan pada areal perairan antara interdal dan subtidal dimana pada saat air surut terendah dasar perairan masih terendam air serta lebih banyak memanfaatkan perairan yang relatif dangkal. Oleh karena itu untuk melakukan pengembangan budidaya rumput laut tersebut sangat terbatas apalagi beberapa lokasi perairan pantai di Indonesia pada waktu surut terendah dasar perairannya kering. Dengan demikian perlu adanya metode lain yang bisa memanfaatkan perairan-perairan yang relatif dalam yang selama ini kurang dimanfaatkan walaupun sebenarnya mempunyai potensi lebih besar apabila dimanfaatkan secara optimal.
Lahan budidaya Eucheuma sp. yang cocok terutama sangat ditentukan oleh kondisi ekologis yang meliputi kondisi lingkungan fisik, kimia dan biologi.
Persyaratan Budidaya Rumput Laut Eucheuma sp
Oke, Menurut  Sujatmiko dan Angkasa (2006), persyaratan lahan budidaya Eucheuma sp :
  1. Lokasi budidaya harus terlindung dari hempasan langsung ombak yang kuat.
  2. Lokasi budidaya harus mempunyai gerakan air yang cukup. Kecepatan arus yang cukup untuk budidaya Eucheuma sp 20 – 40 cm/detik.
  3. Dasar perairan budidaya Eucheuma sp adalah dasar perairan karang berpasir.
  4. Pada surut terendah lahan budidaya masih terendam air minimal 30 cm.
  5. Kejernihan air tidak kurang dari 5 m dengan jarak pandang secara horisontal.
  6. Suhu air berkisar 27 – 30 oC dengan fluktuasi harian maksimal 4oC.
  7. Salinitas (kadar garam) perairan antara 30 – 35 permil (optimum sekitar 33 permil).
  8. pH air antara 7 – 9 dengan kisaran optimum 7,3 – 8,2.
  9. Lokasi dan lahan sebaiknya jauh dari pengaruh sungai dan bebas dari pencemaran.
  10. Sebaiknya dipilih perairan yang secara alami ditumbuhi berbagai jenis makro algae lain seperti Ulva, Caulerpa, Padina, Hypnea dan lain-lain sebagai sp indikator.
Sedangkan syarat-syarat pemilihan lokasi budidaya jenis Gracillaria sp.  menurut Indriani  dan Sumiarsih  (1999) adalah :
  1. Untuk lokasi budidaya di tambak, dipilih tambak yang berdasar peraiar Lumpur berpasir. Dasar tambak yang tediri dari lumpur halus dapat memudahkan tanaman terbenam dan mati.
  2. Agar salinitas airnya cocok untuk pertumbuhan Gracillaria , sebaiknya lokasinya berjarak 1 km dari pantai.
  3. Kedalaman air tambak antara 60-80 cm.
  4. Lokasi tambak harus dekat dengan sumber air tawar dan laut.
  5. Derajat keasaman (pH) air tambak optimum antara 8,2-8,7.
  6. Dapat menggunakan tambak yang tidak produktif untuk udang dan ikan.
Metode budidaya yang akan dilakukan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut itu sendiri. Sampai saat ini telah dikembangkan lima metode budidaya rumput laut berdasarkan pada posisi tanaman terhadap dasar perairan. Metoda-metoda tersebut meliputi : metoda lepas dasar, metoda rakit apung, metode long line dan metode jalur serta metode keranjang (kantung). Metoda budidaya rumput laut yang telah direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan, meliputi: metoda lepas dasar, metoda apung (rakit), metode long line dan metode jalur. Namun di dalam penerapan keempat macam metoda tersebut harus disesuaikan dengan kondisi perairan di mana lokasi budidaya rumput laut akan dilaksanakan.

Jenis Dan Fungsi Unsur Hara Makro Dan Mikro

Jenis dan fungsi unsur hara makro dan mikro – Gejala kekurangan suatu unsur hara yang ditampakkan tanaman tidak selalu sama. Gejala tersebut dapat berbeda, tergantung spesies tanaman, tingkat keseriusan masalah dan fase pertumbuhan tanaman. Gejala kekurangan unsur hara ini dapat berupa pertumbuhan akar, batang,atau daun yang terhambat (kerdil) dan khlorosis atau nekrosis pada berbagai organ tanaman.

Ciri-ciri tumbuhan yang mengalami gejala kekurangan hara

1. Kekurangan Nitrogen mengakibatkan daun tidak tampak hijau segar, melainkan agak kekuning-kuningan. Jika kekurangan itu agak terus menerus, maka daun-daun yang di bawah menjadi kuning sama sekali dan akhirnya gugurlah daun-daun itu, tangkai pendek dan pipih.

2. Kekurangan Fosfor mengakibatkan pertumbuhan terhambat, daun menjadi hijau-tua, kadang-kadang tampak juga pembentukan antosianin secara mewah. Pada lembaran dan tangkai daun tampak bagian-bagian yang mati dan akhirnya daun dapat rontok.

3. Kekurangan Kalium mengakibatkan daun menjadi kuning, ada noda-noda jaringan mati di tengah-tengah lembaran atau sepanjang tepi daun. Pertumbuhan terhambat, batang kurang kuat hinga mudah terpatahkan oleh angin.

4. Kekurangan Kalsium (Ca) mengakibatkan desintegrasi pada ujung-ujung batang maupun ujung-ujung akar. Daun-daun yang paling muda menjadi abnormal bentuknya.

5. Kekurangan Magnesium (Mg) mengakibatkan klorosis yang dimulai dari batang bagian bawah, diikuti dengan matinya bagian-bagian atau daun seluruhnya. Menguningnya daun tidak dimulai dari pangkal, melainkan dari ujung, sedagkan tulang daun tetap berwarna hijau.

6. Kekurangan Belerang (S) mengakibatkan daun-daun yang muda menjadi kuning, sedang daun yang tua pun berubah menjadi pucat, apabila kekurangan belerangnya terus menerus.

7. Kekurangan Besi (Fe) mengakibatkan lembaran daun menjadi kuning atau pucat, sedang urat-urat daun tetap berwarna hijau. Daun muda klorosis, tangkai pendek dan pipih.

8. Kekurangan Borium (B) mengakibatkan lekas matinya bagian-bagian yang mengalami pertumbuhan seperti “penyakit pucuk” (top sickness) pada tembakau, menguningnya kobis, menggulunnya daun kentang.

9. Kekurangan Mangan (Mn) mengakibatkan klorosis, bercak jaringan mati tersebar diseluruh daun, urat yang kecil cenderung tetap hijau, sehingga tampak seperti jala-jala.

10. Kekurangan Tembaga (Cu) mengakibatkan mengisut dan merananya ujung daun-daun, yang akhirnya berkesudahan dengan gugurnya seluruh daun.

11. Kekurangan Seng (Zn) mengakibatkan salah tumbuh pada ujung akar dan akhirnya menghambat pertumbuhan seluruhnya.

12. Kekurangan Molybdenum (Mo) mengakibatkan terganggunya pertumbuhan tanaman.

13. Aluminium (Al), unsur ini sebenarnya tidak termasuk unsur esensial, akan tetapi diperlukan oleh tanaman.

14. Silisium (Si), unsur ini diperlukan sekali oleh ganggang Diatomae, suku Gramineae dan beberapa suku lainnya, akan tetapi untuk banyak suku yang lain unsur ini tidak esensial.

Apa itu hara Esensial ?

Berdasarkan perbedaan konsentrasinya yang dianggap berkecukupan dalam jaringan tumbuhan, maka unsur hara esensial dibedakan menjadi unsur makro dan unsur mikro.

Klasifikasi unsur hara esensial (Jenis Dan Fungsi Unsur Hara Makro Dan Mikro)

Yang tergolong unsur-unsur makro adalah unsur esensial dengan konsentrasi 0,1% (1000ppm) atau lebih. Sedangkan unsur dengan konsentrasi kurang dari 0,1% digolongkan sebagai unsur mikro. 

Berdasarkan batasan tersebut maka :

Jenis Dan Fungsi Unsur Hara Makro Dan Mikro

 Unsur hara makro : C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, dan S. 

 Unsur hara mikro : Cl, Fe, B, Mn, Zn, Cu, dan Mo.

Unsur hara makro dan mikro beserta fungsinya

1. Nitrogen. Dalam jaringan tumbuhan nitrogen merupakan komponen penyusun dari banyak senyawa esensial bagi tumbuhan, misalnya asam-asam amino. Nitrogen juga merupakan unsur penyusun protein dan enzim.

2. Fosfor. Fosfor merupakan bagian yang esensial dari berbagai gula fosfat yang berperan dalam reaksi-reaksi pada fase gelap fotosintesis, respirasi, dan berbagai proses metabolisme lainnya. Fosfor juga merupakan bagian dari nukleotida dan fosfolipida penyusun membran.

3. Kalium berperan sebagai aktivator dari berbagai enzim yang esensial dalam reaksi-reaksi fotosintesis dan respirasi, serta untuk enzim yang terlibat dalam sintesis protein dan pati. Kalium juga berperan dalam mengatur potensi osmotik sel dan tekanan turgor sel.

4. Belerang. Sebagian besar belerang dalam tumbuhan terdapat sebagai penyusun asam amino sistein dan methionin serta untuk respirasi dan sintesis asam lemak.

5. Magnesium merupakan unsur penyusun klorofil dan aktivator dari berbagai enzim dalam reaksi fotosintesis, respirasi, dan pembentukan DNA dan RNA.

6. Kalsium. Peran penting unsur kalsium adalah sebagai pengikat antara molekul-molekul fosfolipida atau antara fosfolipida dengan protein penyusun membran. Kalsium juga memacu aktivitas beberapa enzim, tetapi juga menghambat aktivitas beberapa enzim lainnya.

7. Besi. Besi merupakan unsur hara esensial karena merupakan bagian dari enzim-enzim tertentu dan merupakan bagian dari protein yang berfungsi sebagai pembawa elektron pada fase terang fotosintesis dan respirasi.

8. Khlor. Fungsi penting dari khlor adalah menstimulasi pemecahan molekul air pada fase terang fotosintesis. Sealin itu juga esensial untuk proses pembelahan sel.

9. Mangan berfungsi sebagai aktivator dari berbagai enzim.Selain itu, juga berperan dalam menstimulasi pemecahan molekul air pada fase terang fotosintesis.

10. Boron berfungsi dalam metabolisme tanaman memang belum begitu jelas. Tetapi para ahli berpendapat boron terlibat dalam proses sintesis asam nukleat.

11. Seng berpartisipasi dalam pembentukan klorofil dan pencegahan kerusakan molekul klorofil.

12. Tembaga terdapat dalam enzim yang terlibat dalam reaksi oksidasi dan reduksi.

13. Molibdenum. Fungsi molibdenum yang telah diketahui secara jelas sebagai bagian dari enzim nitrat reduktase yang mereduksi ion nitrat menjadi ion nitrit.

Baca juga : Cara Pembuatan Pupuk Organik Cair Dan Padat

Potensi Dieng Dan Tanaman Kentang

Dieng adalah kawasan  dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo dengan koordinat -7.2050892 utara 109.9068403 timur. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sundoro dan Sumbing.

Dieng adalah kawasan vulkanologi aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.093 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15-20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada  musim kemarau (Juli dan agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (embun racun) karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Kawasan Dieng merupakan penghasil sayur-sayuran di dataran tinggi untuk wilayah Jawa Tengah. Kentang adalah komoditi utama. Selain itu, Wortel, kubis dan bawang-bawangan dihasilkan dari kawasan ini. Selain sayuran, Dieng juga merupakan sentra penghasil papaya gunung dan jamur. Namun demikian, akibat aktivitas pertanian yang pesat kawasan hutan di puncak-puncak pegunungan hampir habis dikonversi menjadi lahan pertanaman sayur.

Potensi Dieng Dan Tanaman Kentang

Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian masyarakatnya bekerja pada bidang pertanian, salah satunya tanaman hortikultura. Tanaman hortikultura memberikan kontribusi yang cukup besar dalam kebutuhan pangan, peningkatan ekspor, peningkatan pendapatan petani dan pemenuhan gizi keluarga. Salah satu tanaman hortikultura yang memiliki peluang untuk memenuhi kebutuhan pangan adalah tanaman kentang (Solanum tuberosum L). Tanaman kentang memiliki potensi dan prospek yang baik untuk mendukung program diversifikasi dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan. salah satu sentra penghasil kentang adalah wilayah Dieng.

Kentang Dieng

Tanaman kentang (Solanum tuberosum. L) merupakan tanaman herba tahunan. Tinggi tanaman mencapai 100 cm dari permukaan tanah. Daun tanaman kentang menyirip majemuk dengan lembar daun bertangkai, dan batang di bawah permukaan tanah (stolon). Stolon tersebut dapat menimbun dan menyimpan produk fotosintesis pada bagian ujungnya sehingga membentuk umbi. Pada umbi terdapat banyak mata yang bersisik yang dapat menjadi tanaman baru. Warna daging umbi biasanya kuning muda atau putih tetapi ada kultivar yang berwarna kuning cerah, jingga, merah atau ungu. Bentuk umbi beragam, ada yang memanjang, kotak, bulat atau pipih.

Kanduang Gizi Kentang Dieng

Tanaman kentang adalah makanan yang mengandung jenis karbohidrat kompleks. Kandungan karbohidrat pada kentang mencapai sekitar 18%, protein 2.4% dan lemak 0.1%. Total energi yang diperoleh dari 100 gram kentang adalah sekitar 80 kkal, sehingga kentang dapat digunakan sebagai pengganti nasi. Kentang juga mengandung vitamin C yang mencapai 31 mg dalam 100 gram kentang.

Kentang dapat dimanfaatkan sebagai campuran dalam olahan kue, perkedel, kroket, bubur, kripik kentang (potato chip), kentang goreng, kukus, rebus, dan salad.  Produktivitas kentang di Indonesia pada tahun 2009 sebesar 16.51 ton/ha dan pada tahun 2010 menurun menjadi 15.95 ton/ha (BPS, 2011). Produktivitas kentang di Indonesia masih berada dibawah produktivitas kentang di Eropa yang  mencapai 25.0 ton/ha. Dieng memiliki potensi bagus ke depan sebagai penghasil tanaman kentang yang mampu diandalkan, semoga dieng dengan segala potensinya dapat terus berkembang baik dalam pertanian atau sebagai tempat pariwisata.