Arsip Tag: Pertanian

PRAKTIKUM BUDIDAYA JAMUR

Latar Belakang

Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau benang-benang bercabang. Karena tidak berklorofil, kehidupan jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme lain yang telah mati. Jamur telah lama diketahui di berbagai negara sebagai sumber makanan yang lezat dan mengandung bernutrisi. Jamur dikonsumsi karena kaya akan nutrisi, yaitu protein, mineral dan vitamin, juga mengandung khasiat sebagai obat. Budidaya jamur sangat menguntungkan, karena menggunakan teknologi yang sederhana dan mudah untuk mendapatkan substrat untuk menumbuhkan jamur (Agromania, 2010).

Jamur disukai tidak hanya karena rasanya yang lezat. Jamur juga dipercaya memiliki banyak manfaat. Dibanding dengan daging, jamur memang punya nilai yang lebih tersendiri. Apabila mengonsumsi daging erat dengan masalah lemak atau kandungan kolesterol yang tinggi. Sedangkan jamur sebaliknya bebas kolesterol serta kaya serat vitamin dan mineral. Karenanya, jamur

dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Jamur merang, misalnya berguna bagi penderita diabetes dan penyakit kekurangan darah, bahkan dapat mengobati kanker (Agromania, 2010).

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur kayu yang sekarang telah banyak dibudidayakan orang. Media tanam atau substratnya yang sudah umum digunakan adalah gergajian kayu alba (sengon). Sembarang gergajian kayu sebetulnya dapat digunakan, tentunya kayu yang tidak beracun, kemudian di campur dengan bahan-bahan yang lain dengan berbandingan tertentu (Sritopo, 1999).

Baca Juga : Struktur Jamur

Ling zhi (Cina), reishi (Jepang) atau yeongji (Korea) adalah jamur yang termasuk dalam jenis Ganoderma lucidum. Berdasarkan sejarah Cina, ling zhi pertama kali ditemukan oleh seorang petani yang bernama Seng Nong. Ia dijuluki sebagai petani yang suci (holyfarmer). Menurut Seng Nong, hal terpenting dari sebuah tanaman obat adalah bila dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama tidak menimbulkan efek samping. Ling zhi berkhasiat sebagai herbal anti-diabetes, anti-hipertensi, anti-alergi, antioksidan, anti-inflamasi, anti-hepatitis, analgesik, anti-HIV, serta perlindungan terhadap liver, ginjal, hemoroid atau wasir, anti-tumor, dan sistem imun (kekebalan tubuh) (Aditya, 2010).

E-Book >>> Bisnis Olahan Jamut Tiram dengan Omset Milyaran <<<

Usaha budidaya jamur perlu dilandasi pengetahuan yang cukup tentang sifat masing-masing jamur dan kondisi lingkungan yang dibutuhkan. Faktor lingkungan yang berpengaruh pada pertumbuhan jamur meliputi suhu, sinar matahari, pH, CO2, kelembapan, kandungan air, ukuran partikel, viabilitas kultur, dan kontaminan. Terdapat 7 tahap yang harus diperhatikan, yaitu : pemilihan jenis jamur, penyediaan kultur induk, penyediaan bibit, penyiapan medium tanah, penyusihamaan (pasteurisasi dan sterilisasi), inokulasi bibit, dan pemeliharaan pertumbuhan (Sritopo, 1999).

B. Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam praktikum ini adalah:

1. Mahasiswa mengetahui tahap-tahap budidaya jamur.

2. Mahasiswa mampu mengaplikasikan budidaya jamur.

II. MATERI DAN METODE

A. Alat

Alat yang digunakan dalam pembuatan media bibit antara lain cawan petri, pembakar spirtus, silet, pisau, jarum inokulum, botol, aluminium foil, wrapping, spidol, pinset, dan Laminar Air Flow (LAF). Alat yang digunakan dalam pembuatan media tanam Baglog adalah karet, ring (potongan bambu), sekop, drum untuk sterilisasi, kompor, ember, plastik polipropilen, dan kertas.

B. Bahan

Bahan yang digunakan dalam pembuatan media bibit antara lain Pleurotus ostreatus, Ganoderma lucidum, alcohol, akuades, biji jagung 1000 gram, biji kacang hijau 800 gram, millet 500 gram, CaCO3 1%, dan glukosa 0,5%. Bahan yang digunakan dalam pembuatan media tanam baglog adalah plastik polipropilen, kapur 3 kg, CaCO3 2 kg, gypsum 2 kg, bekatul 15 kg, 100 kg serbuk kayu (kayu sengan atau kayu lunak).

C. Cara Kerja

a. Inokulasi biakan murni ke media bibit

  • Isolat yang akan dibudidayakan diinokulsikan ke dalam salah satu media, jagung, millet, atau biji kacang hijau sesuai perlakuan yang dilakukan.
  • Media bibit tersebut diinkubasi pada suhu kamar hingga 2 minggu kemudian.
  • Beri tanda dengan spidol untuk mengukur pertumbuhan diameter miselium.
  • Selama 2 minggu tersebut, dihitung laju pertumbuhannya.

b. Pembuatan Media Tanam

  • 100 kg serbuk kayu (kayu sengon atau kayu jenis apaun yang lunak) di campurkan dengan 15 kg Bekatul, 2 kg Gips, 2 kg CaCO3, dan 2,5 kg kapur. Campurkan hingga merata dengan menggunakan bantuan sekop untuk mengaduknya.
  • Masukkan campuran serbuk kayu tersebut kedalam plastik putih yang nantinya akan digunakan untuk melakukan budidaya. Bagian bawah plastik agak dilipat sedikit, dimaksudkan agar baglog tersebut nantinya dapat didirikan. Memasukkan serbuk kayu tersebut sambil di padatkan dengan cara di pukul-pukul.
  • Baglog kemudian di sterilisasi menggunakan autoklaf konvensional. Baglog diletakkan didalam tempat sterilisasi tersebut.
  • Baglog yang telah di sterilisasi siap untuk ditanamkan bibit yang telah kita buat sebelumnya di Laboratorium.

c. Inokulasi bibit ke baglog

  • Buatlah suatu bolongan di tengah-tengah media tersebut, kurang lebih sebesar jempol tangan kita.
  • Masukkan bibit yang berasal dari media jagung, millet, ataupun biji kacang hijau tersebut kedalam media yang telah di sterilisasi tersebut.
  • Masukkan ring yang terbuat dari bambu ke dalam plastik tersebut untuk mengikat plastik tersebut.
  • Tutupi juga dengan kertas koran, kemudian ikat kertas Koran tersebut dengan karet gelang.

d. Inkubasi

  • Letakkan baglog yang telah berisi media dan bibit tersebut di ruang inkubasi. Ruang inkubasi tersebut dibagi menjadi dua, ruang untuk fase vegetatif dan ruang untuk fase generatif.
  • Ruang untuk fase vegetatif, suhu ruangan dijaga 22-28°C, dan kelembapan dijaga pada kisaran 60-80%.
  • Fase generatif, suhu ruangan dijaga pada suhu 22-26°C, dan kelembapan berkisar antara 60-80%.
  • Ruangan tersebut juga dilengkapi dengan selang yang berfungsi untuk mengalirkan air dalam ruangan tersebut. Selang tersebut berfungsi untuk menjaga kelembapan dalam ruangan tersebut.

B. PEMBAHASAN

Jamur tiram cokelat (Pleurotus pulmonarius) tumbuh soliter, tetapi umumnya membentuk massa menyerupai susunan papan pada batang kayu. Di alam, jamur P. pulmonarius banyak dijumpai tumbuh pada tumpukan limbah biji kopi. Jamur P. pulmonarius memiliki tudung dengan diameter 4-15 cm atau lebih, bentuk seperti tiram, cembung kemudian menjadi rata atau kadang-kadang membentuk corong; permukaan licin, agak berminyak ketika lembab, tetapi tidak lengket; berwarna cokelat, atau cokelat tua (kadang-kadang kekuningan pada jamur dewasa); tepi menggulung ke dalam, pada jamur muda sering kali bergelombang atau bercuping.

Daging tebal, berwarna cokelat, kokoh, tetapi lunak pada bagian yang berdekatan dengan tangkai; bau dan rasa tidak merangsang. Bilah cukup berdekatan, lebar, warna putih atau keabuan dan sering kali berubah menjadi kekuningan ketika dewasa. Tangkai tidak ada atau jika ada biasanya pendek, kokoh, dan tidak di pusat atau lateral (tetapi kadang-kadang di pusat), panjang 0,5-4,0 cm, gemuk, padat, kuat, kering, umumnya berambut atau berbulu kapas paling sedikit di dasar (Laununa, 2010).

Klasifikasi jamur tiram cokelat menurut Anonymous (2001) adalah

Kingdom : Plantae

Divisi : Mycota

Kelas : Homobasidiomycetes

Ordo : Himenomycelates

Famili : Agaricaceae

Genus : Pleurotus

Spesies : Pleurotus pulmonarius

Karakteristik dari jamur kuping ini adalah memiliki tubuh buah yang kenyal (mirip gelatin) jika dalam keadaan segar. Namun, pada keadaan kering, tubuh buah dari jamur kuping ini akan menjadi keras seperti tulang. Bagian tubuh buah dari jamur kuping berbentuk seperti mangkuk atau kadang dengan cuping seperti kuping, memiliki diameter 2-15 cm, tipis berdaging, dan kenyal. Warna tubuh buah jamur ini pada umumnya hitam atau coklat kehitaman akan tetapi adapula yang memiliki warna coklat tua.

Jamur kuping memiliki banyak manfaat kesehatan, di antaranya untuk mengurangi penyakit panas dalam dan rasa sakit pada kulit akibat luka bakar. Bila jamur kuping dipanaskan maka lendir yang dihasilkannya memiliki khasiat sebagai penangkal (menonaktifkan) zat-zat racun yang terbawa dalam makanan, baik dalam bentuk racun nabati, racun residu pestisida, maupun racun berbentuk logam berat. Jamur kuping juga telah dijadikan sebagai bahan berbagai masakan seperti sayur kimlo, nasi goreng jamur, tauco jamur, sukiyaki, dan bakmi jamur dengan rasa yang lezat dan tekstur lunak yang terasa segar dan kering.

Klasifikasi jamur tiram cokelat menurut Anonymous (2001) adalah

Kingdom : Fungi
Divisi : Basidiomycota
Kelas : Agaricomycetes
Ordo : Auriculariales
Famili : Auriculariaceae
Genus : Auricularia
Spesies : A. auricula-judae
Faktor yang mempengaruhi budidaya jamur menurut Sumarsih (2010), yaitu:
1. Kadar atau nutrisi baglog
Fungsi bekatul atau tepung jagung adalah untuk pertumbuhan miselium awalnya. Jika kualitas bekatul baik (kandungan beras berbanding sekam tinggi) tampak miselium putih sempurna dan memanjang dengan cepat. Jika kandungan nutrisi kurang atau kualitas nutrisi tidak baik, pertumbuhan miselium cenderung lambat, dan tidak putih sempurna.
2. Kualitas bibit (F2)
Dalam pembuatan bibit, media jagung itu berarti media “murni” jika sudah ada gergajian, maka itu adalah media campuran. Penggunaan jagung inilah yang memacu pertumbuhan miselium dengan cepat. Kualitas bibit F2 yang ditanamkan ke baglog akan teramati jika baik, maka akan cepat memutih, selanjutnya pertumbuhan miselium pun akan cepat.
3. Jenis serbuk kayu yang digunakan
Untuk budidaya, bisa menggunakan kayu sengon laut, mahoni, mindi, kayu nangka, kayu kembang, kayu albasiah, kayu meranti dan sebagainya, dan diusahakan jangan menggunakan bukan kayu cemara, damar, pinus. pemilihan jenis kayu ini pengaruhnya pada berat jenisnya. Disarankan menggunakan kayu yang tidak mudah lapuk. Jenis kayu yang lebih keras tentunya akan menghasilkan jamur lebih banyak. namun, pembudidaya tidak selalu mendapatkan jenis serbuk gergaji yang homogen, seringnya campuran.
4. Kadar air dalam baglog
Kandungan kadar air dalam baglog adalah 65%-75%. Pengukuran kadar air ini sulit dilakukan, biasanya hanyalah berdasarkan perasaan atau pengalaman saja. Indikasinya jika digenggam menggumpal tetapi tidak terlalu basah, itulah kadar air optimalnya. Kadar air dalam baglog ini sangat berpengaruh dalam pertumbuhan jamur tiram nantinya. Jika kadar air kurang, maka pertumbuhan jamur tiram tidak akan bisa optimal. Tetapi jika kadar air berlebih, baglog akan cepat membusuk, bahkan timbul ulat. Bahkan lagi bisa menghambat pertumbuhan miselia. Jadi kadar air harus pas dan optimal.
5. Berat baglog atau volume baglog
Produksi jamur tiram nantinya akan tergantung pada kuantitas/volume serbuk gergaji dalam baglog. Karena jamur adalah saprofit yang memakan sisa tumbuhan yang telah mati. Jadi semakin banyak volume atau bobot serbuk gergaji yang ada di dalam baglog, semakin banyak pula kemungkinan jamur yang dapat dipanen nantinya. Hal ini berhubungan langsung dengan BER (biological efficiency ratio) nya.
6. Perawatan baglog pada masa produksi
Perawatan yang optimal, mengawasi, membersihakan, mengatur sirkulasi, akan menghasilkan jamur lebih daripada yang hanya sekedar ditaruh saja dan mengharapkan hasil panen yang optimal.
Fungsi masing-masing bahan menurut Sumarsih (2010) :
  • Serbuk gergaji memiliki fungsi sebagai pendegradasi selulosa.
  • Gips (CaCO4) berfungsi untuk sumber mineral, terutama kalsium.
  • Kapur (CaCO3) memiliki fungsi sebagai penetral pH.
  • Dedak berfungsi sebagai sumber nutrisi.
  • Biji jagung, kacang hijau, dan millet digunakan sebagai media tanam miseliumya.
Fungsi dari tiap tahapan budidaya jamur menurut Ratnaningtyas (2010), adalah:
  1. Memilih jenis jamur yang akan dibudidayakan à Memutuskan jamur jenis apa yang akan dibudidayakan
  2. Penyediaan kultur induk jamur à berupa pembuatan biakan murni untuk dibuat kultur induk, kemudian dilakukan isolasi terhadap tubuh buah tersebut, baik melalui kultur spora maupun jaringan.
  3. Pembuatan bibit jamur siap tanam à kualitas bibit yang akan digunakan akan menentukan hasil atau produksi jamur, baik kualitas maupun kuantitasnya.
  4. Pembuatan medium tanam jamur à pemilihan bahan dasar untuk pembuatan medium tanam jamur secara buatan bergantung pada substrat asal dimana jamur tumbuh dialam atau modifikasinya. Jamur biasanya ditumbuhkan pada medium yang terbuat dari limbah sisa pertanian atau perkebunan yang mengandung lignoselulosa, dicampur dengan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk perkembangan jamur.
  5. Sterilisasi medium tanam jamur à sterilisasi medium dapat dilakukan secara sederhana, yakni dengan ‘pengukusan’ atau tepatnya dengan pasteurisasi.
  6. Inokulasi atau penebaran bibit à bibit yang akan diinokulasikan berupa miselium vegetative yang masih sangat rentan terhadap kontaminan, oleh karena itu diperlukan ketrampilan yang memadai.
  7. Pemeliharaan medium tanam jamur à jamur yang telah ditanam diletakkan di ruang inkubasi. Ruang inkubasi tersebut dibagi menjadi dua, ruang untuk fase vegetatif dan ruang untuk fase generative. Ruang untuk fase vegetatif, suhu ruangan dijaga 22-28°C, dan kelembapan dijaga pada kisaran 60-80%. Fase generative, suhu ruangan dijaga pada suhu 22-26°C, dan kelembapan berkisar antara 60-80%. Ruangan tersebut juga dilengkapi dengan selang yang berfungsi untuk mengalirkan air dalam ruangan tersebut. Selang tersebut berfungsi untuk menjaga kelembapan dalam ruangan tersebut.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Tahapan-tahapan dalam budidaya jamur yaitu:
  • Memilih jenis jamur yang akan dibudidayakan
  • Penyediaan kultur induk jamur
  • Pembuatan bibit jamur siap tanam
  • Pembuatan medium tanam jamur
  • Sterilisasi medium tanam jamur
  • Inokulasi atau penebaran bibit
  • Pemeliharaan medium tanam jamur
B. Saran
Saran yang dapat saya sampaikan dalam praktikum kali ini yaitu saat perlakuan inokulum harusnya memperhatikan tingkat keaseptisannya. Sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.
E-Book >>> Bisnis Olahan Jamut Tiram dengan Omset Milyaran <<<
DAFTAR REFERENSI

Aditya, Rial. 2010. Budidaya Jamur Ling zhi/reishi/Ganoderma lucidum bagian 1.http://organikganesha.wordpress.com/2010/03/15/budidaya-jamur-ling-zhi-reishi-ganoderma-lucidum-bagian-i. Diaksestanggal 6 November 2011

Agromania. 2010. http://groups.yahoo.com/group/agromania/message/61217. Diakses tanggal 16 November 2011

Anonim. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan Jamur Tiram. http://web.ipb.ac.id.

Laununa Agro Jamur. 2010. Budidaya Jamur Tiram Cokelat. Create your own website for free: http://www.webnode.com Diakses tanggal 20 November.

Ratnaningtyas, Nuniek Ira. 2010. Petunjuk Praktikum Biologi Jamur Makroskopis. Laboratorium Mikologi-Fitopatologi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Sritopo, A. 1999. Budidaya Jamur Tiram Putih. http://www.scribd.com/doc/17335702/Budi-Daya-Jamur-Tiram-Putih. Diakses tanggal 19 November 2011.

Sumarsih, Sri. 2010. Budidaya Jamur Tiram dengan Berbagai Media. Laboratorium Biologi Tanah Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian.

Laununa Agro Jamur. 2010. Budidaya Jamur Tiram Cokelat. Create your own website for free: http://www.webnode.com Diakses tanggal 20 November.

(MAKALAH) FUNGISIDA

Pengendalian Hama Secara Kimiawi (Fungisida) – Pengendalian penyakit tumbuhan secara kimia adalah pengendalian penyakit tumbuhan dengan menggunakan senyawa kimia yang beracun bagi patogen. Cara yang paling umum dikenal dalam pengendalian penyakit tumbuhan di lapangan adalah menggunakan senyawa kimia yang beracun bagi patogen. Bahan kimia tersebut baik yang menghambat perkecambahan, pertumbuhan dan perkembangbiakan patogen yang dipengaruhinya, senyawa kimia tersebut dinamakan fungisida (untuk penyakit yang disebabkan oleh fungi), bakteriosida (untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri), nematisida (untuk penyakit yang disebabkan oleh nematoda), virusida (untuk penyakit yang disebabkan oleh virus) dan herbisida (penyakit yang disebabkan oleh tumbuhan lain). Keefektifan suatu fungisida terhadap patogen perlu adanya pengujian sekala laboratorium. Pada dasarnya dikenal tiga cara untuk menguji fungisida dalam laboratorium.

  1. Spora dikecambahkan di dalam air yang mengandung fungisida yang akan di uji.
  2. Jamur patogen ditumbuhkan ditumbuhkan pada medium biakan yang mengandung fungisida yang akan di uji.
  3. Mengukur respirasi dari jamur dalam pengaruh fungisida yang akan diuji.

Beberapa fungisida yang dipakai dalam praktikum fitopatologi adalah sebagai berikut:

  1. Merek Topsindo; bentuk bubuk, bahan aktif tiopanat metil 70%. Cara penggunaan yaitu dengan cara penyemprotan dengan volume tinggi menggunakan alat semprot gendong. Gejala dini apabila keracunan akut belum pernah dilaporkan, sehingga gejala yang khusus akibat keracunan fungisida ini belum diketahui.
  2. Merek Curci; bentuk bubuk, bahan aktif simoksani 10%. Cara penggunaan yaitu dengan penyemprotan volume tinggi satu minggu setelah tanam dan diulang setiap tujuh hari atau menurut anjuran setempat. Gejala dini keracunan diantaranya sakit kepala, pusing, mencret, pernafasan tidak teratur dan lemah. Apabila satu atau lebih gejala tersebut timbul, segera berhentilah bekerja, lakukan tindakan pertolongan pertama dan hubungi dokter.
  3. Merek Gavel; bentuk bubuk, bahan aktif Mangkozeb 69% dan Zaksamid. Cara penggunaan dengan penyemprotan volume tinggi, penyemprotan pada sayuran terlihat gejala serangan dan diulangi setiap satu minggu sekali sesuai dengan tingkat serangan. Gejala dan keracunan diantaranya badan menjadi lemah, timbul kelesuan dan kurang nafsu makan, timbul gangguan dan iritasi pada mata, kulit, hidung dan tenggorokan. Apabila salah satu atau lebih gejala itu muncul segera berhenti bekerja dan bubungi dokter.
  4. Merek Melody duo; bentuk bubuk, bahan aktif Propinet 61,3% dan privalikart 5,5%. Cara penggunaan dengan cara penyemprotan volume tinggi (biasanya untuk tanaman tomat dan kentang). Gejala dini keracunan diantaranya sakit kepala, berdebar-debar, pusing, muntah-muntah, muka merah. Apabila satu atau lebih gejala tersebut muncul, segera berhenti bekerja, lakukan pertolongan pertama dan segera hubungi dokter.

Berikut Adalah Beberapa Cara  Pengendalian Hama Secara Kimiawi

1. Fungisida

Fungisida berasal dari kata fungus = jamur, dan caedo = membunuh. Kebanyakan fungisida yang dipakai dewasa ini bersifat sebagai protektan, yaitu untuk melindungi tumbuhan agar patogen mati sebelum mengadakan infeksi. Fungisida dapat bersifat fungisidal, fungistatik, atau genestatik. Fungisidal berarti bahwa fungisida dapat membunuh jamur. Fungisida yang bersifat fungistatik tidak membunuh jamur, tetapi menghambat pertumbuhannya. Sedangkan genestatik berarti mencegah sporulasi. Fungisida yang bersifat genestatik disebut juga eradikan .

Fungisida yang baik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Meracun patogen sasaran
  2. Tidak meracuni tumbuhan
  3. Tidak meracuni manusia, ternak, ikan, dan sebangsanya
  4. Tidak meracuni tanah dan lingkungan, termasuk jasad renik
  5. Murah dan mudah didapat
  6. Tidak mudah terbakar
  7. Dapat disimpan lama tanpa menurun mutunya
  8. Tidak merusak alat-alat
  9. Mudah disiapkan dan dipakai
  10. Dapat merata dan melekat kuat pada permukaan badan tanaman
  11. Aktif dalam waktu yang tidak terlalu lama, agar tidak banyak          meninggalkan residu pada hasil pertanian dan kurang mencemari lingkungan
  12. Kalau dapat, selain membunuh jamur juga dapat membunuh serangga, tungau dan sebangsanya yang merugikan.

Ada 2 macam jenis fungisida yaitu fungisida kimiawi  dan fungisi  dan nabati, seperti fungisida yang diekstrak dari biji nimbi dan cenhkeh . fungisida nabati dapat meningkatkan jumlah populasi mikroorganisme berguna dalam tanah dan merupakan salah satu faktor menurunnyaintensitas serangan penyakit (Littro, 2008). Dalam  pengendalian penyakit dengan menggunakan pestisida kimiawai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti cara pengendalian yang efektif  yaitu harus mengetahui terlebih dahulu  gejala penyakit, mendapatkan informasi intensitas penyakit serta patogen (penyebab penyakit), sebagai dasar untuk melakukan tindakan pengendalian yang efektif dan efisien yang mengacu pada konsep pengelolaan hama/penyakit terpadu, baru kemudian menentukan jenis fungisida kimiawi yang dapat dipakai.

2. Nematisida

Nematisida adalah bahaan  kimia yang digunakan untuk membunuh nematoda, sejenis cacing kecil yang hidup pada akar tanaman. Jenis nematisida yang sering digunakan adalah dichloropropene-dichloropropane (DD) dan ethylenedibromid (EDB) keduanya merupakan jenis insektisida yang diinjeksikan kedalam tanah yang berfungsi untuk mematikan insektisida yang hidup dalam tanah atau pada perakaran tanaman, telur nematode, dan jenis serangga tanah lainnya. Nematisida biasanya digunakan pada perkebunan kopi atau lada. Nematisida bersifat dapat meracuni tanaman, jadi penggunaannya 3 minggu sebelum musim tanam. Selain memberantas nematoda, obat ini juga dapat memberantas serangga dan jamur. Dipasaran dikenal dengan nama DD, Vapam, dan Dazomet.

3. Bakterisida

Bakterisida adalah pestisida untuk memberantas bakteri atau virus. Salah satu contoh bakterisida adalah tetramycin yang digunakan untuk membunuh virus CVPD yang meyerang tanaman jeruk. Umumnya bakteri yang telah menyerang suatu tanaman sukar diberantas. Pemberian obat biasanya segera diberikan kepada tanaman lainnya yang masih sehat sesuai dengan dosis tertentu. Bakterisida adalah senyawa yang mengandung bahan aktif beracun yang bisa membunuh bakteri. Bakterisida biasanya sistemik karena baktri melakukan perusakan dalam tubuh inang. Bakterisida, Berasal  dari kata latin bacterium, atau kata Yunani bakron, berfungsi untuk membunuh bakteri. Pmberantasan virus menggunakan virusida, Pemberantasan serangga mengunakan insectisida.  Insektisida, berasal dari kata latin insectum, artinya potongan, keratan segmen. Pemberantasan gulma menggunakan herbisida Herbisida, berasal dari kata lain herba, artinya tanaman setahun, dan masih banyak lagi yang lainnya.

4. Herbisida

Herbisida adaalah senyawa kimia yang biasa digunakan untuk memberantas gulma. Gulma Dalam lahan pertanian merupakan tanaman pengganggu yang kehadirannya tidak diinginkan karena dapat menjadi inang bagi berbagai jenis patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada tumbuhan ehingga  kualitas dan kuantitas hasil dari tanaman budidaya akan berkurang, sehingga perlu ditangani secara serius, dan herbisida adalah salah satu zat kimia yang dapat menekan pertumbuhan gulma tersebut.

Djafaruddin. 2000. Dasar-Dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Ghazanfar M. U,  W. Wakil,  S.T. Sahi and  S. Yasin. 2009. Influence of various fungicides on the management of  rice blast disease  Department of Plant Pathology, Department of Agri. Entomology, University of  Agriculture, Faisalabad .Rice Research Institute, Kala Shah Kaku
Nyoman. 1995. Ilmu Penyakit  Tumbuhan. Malang : Banyumedia Publishing.
Prayudi, Bambang., A. Meilin dan S. Handoko. 2011. Pengendalian Kanker Batang Duku di Jambi : Gejala, Intensitas Penyakit, dan Identifikasi Patogen. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Jambi.
Riska. W. 2010. Pengendalian Fisik Mekanik. http://widyariska.blogspot.com/2010/01/pengendalian-fisik-mekanik.html {diakses desember 2012}
Semangun, G. Nssss. 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Silaban C. H., P. A. O. Siagan., S. Agustina., G., Kusuma., dan M. Gupta., 2012. Pengendalian secara kimiawi hama wereng cokelat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi. http://misscuekzzabizzz.blogspot.com/2012/01/pengendalian-secara-kimiawi-ddpt.html {diakses desember 2012}
Subiyakto. 2009. Ekstrak Biji Mimba Sebagai Pestisida Nabati: Potensi, Kendala, dan  Strategi Pengembangannya. Balai Penelitian Tanaman T3mbakau dan Serat ndonesian Tobacco and Fibre Crops Research Institute. Perspektif  Vol. 8 No. 2 / Desember 2009. Hlm  108 – 116 ISSN: 1412-8004
Sudarji, Sinaga Meity. 2002. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya, Depok.

Budidaya Anggrek Dengan Teknik Kultur

Budidaya Anggrek Dengan Teknik Kultur – Anggrek atau Orchidaceae termasuk dalam keluarga tanaman bunga-bungaan. Anggrek terdapat pada hutan yang gelap, di lereng yang terbuka, pada batu karang yang terjal, pada batu-batuan didaerah pantai dengan garis pasang surut tinggi. Bahkan di tepi gurun pasir pun anggrek dapat ditemukan. Tumbuh dari kutub utara sampai daerah katulistiwa dan selatan pada semua benua kecuali Antartika.

Anggrek yang banyak digemari adalah anggrek epifit dari daerah tropis.

Anggrek mempunyai lebih banyak jenis (species) nya daripada keluarga tanaman bunga-bungaan lainnya. Para ahli tumbuh-tumbuhan berkeyakinan anggrek mempunyai lebih dari 25.000 species yang tersebar di seluruh dunia. Tetapi karena kerusakan hutan kita kehilangan species yang belum dikenali dan tidak tahu dengan pasti berapa jumlahnya.

Indonesia terkenal di seluruh dunia dengan kekayaan anggreknya yang mempunyai lebih dari 4000 species anggrek yang tersebar di hampir semua pulau. Kalimantan, Papua, Sumatera, Jawa termasuk pulau-pulau yang terkenal didunia karena kekayaan anggreknya. Genus yang banyak tumbuh meliputi : Vanda, Phalaenopsis, Paphiopedilum, Dendrobium, Coelogyne, Cymbidium, Bulbophyllum dll. Anggrek yang terkenal dari Indonesia adalah “anggrek bulan” (Phalaenopsis amabilis) yang diangkat sebagai “Bunga Nasional” dan dijuluki “puspa pesona”, dan “anggrek kantung” (Paphiopedilum javanicum).

Tinjauan Pustaka 

Sejalan dengan permintaan anggrek baik sebagai tanaman maupun sebagai bunga potong yang cukup besar, maka usaha peningkatan dan penganekaragaman produk anggrek menjadi sangat penting. Untuk memperluas pasar dan meningkatkan kemampuan bersaing di pasar dalam dan luar negeri, diperlukan teknologi untuk menghasilkan anggrek dengan warna yang beragam, bentuk yang menarik, dan tahan lama dengan harga yang relatif terjangkau.

Biji anggrek hasil persilangan memerlukan perlakuan tertentu dalam tahap perkecambahan karena biji anggrek tidak memiliki endosperm sebagai cadangan makanan, sehingga perkecambahan secara in vitro sangat dibutuhkan. Medium yang digunakan pada kultur in vitro pada tanaman anggrek diantaranya adalah Vacin-Went (VW), Knudson C (Kn C) dan Murashige-Skoog (MS). Tetapi medium yang paling sering digunakan untuk kultur embrio adalah medium VW. Untuk menyiasati mahalnya zat kimia, pada saat ini telah berkembang teknologi alternatif yaitu penggunaan medium dengan komposisi pupuk.

Umumnya anggrek yang dibudidayakan memerlukan temperatur 28 – 30° C dengan temperatur minimum 15° C. Anggrek tanah pada umumnya lebih tahan panas dari pada anggrek pot. Tetapi temperatur yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Kelembaban nisbi (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60–85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda. Oleh karena itu diusahakan agar media dalam pot jangan terlampau basah. Sedangkan kelembaban yang sangat rendah pada siang hari dapat diatasi dengan cara pemberian semprotan kabut (mist) di sekitar tempat pertanaman dengan bantuan sprayer. Pada anggrek, karakter morfologi daun dan bunga merupakan karakter yang digunakan sebagai penanda untuk membedakan kelompok tanaman.

Budidaya Anggrek Dengan Teknik Kultur

Anggrek merupakan jenis tumbuhan liar yang memiliki bunga yang sangat unik dengan aroma khas, sehingga banyak diminati untuk dipelihara dengan tujuan kesenangan maupun untuk dibudidayakan / diperdagangkan. Semua anggrek tergolong dalam famili Orchidaceae, yaitu bangsa Anggrek.

Di Dunia diperkirakan terdapat ± 800 genus, yang termasuk kategori anggrek alam diperkirakan ± 25.000 jenis, sedangkan ± 10.000 jenis merupakan anggrek hibrida (hasil persilangan). Indonesia memiliki ± 5.000 jenis anggrek alam, yaitu seperlima dari jumlah anggrek alam di dunia.

Penyebarannya mulai dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Berdasarkan asal-usulnya, anggrek dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anggrek alam (spesies) dan anggrek hibrida (kultivar). Anggrek alam adalah anggrek yang berasal dari habitat aslinya di alam (hutan). Sedangkan anggrek hibrida adalah anggrek yang merupakan hasil dari perkawinan silang antar species.

 Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain scalpel, cawan petri, botol kultur, pinset, rak kultur, aluminium foil, Bunsen, LAF, wrapping dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan antara lain biji anggrek dan media VW steril.

Cara Kerja

Cara kerja subkultur atau overplanting sebagai berikut :

  1. Sediakan biji yang akan dikultur.
  2. Ambil secukupnya biji dari botol kultur menggunakan pinset.
  3. Letakan di dalam botol kultur yang berisi media tumbuh.
  4. Tutup dengan aluminium foil dan diwraping.
  5. Diamati pertumbuhanya setelah beberapa hari.

Pembahasan

Biji anggrek merupakan organ tumbuhan yang memang disiapkan untuk tumbuh menjadi tanaman lengkap. Berbeda dengan biji-biji tanaman lain, biji anggrek tidak mempunyai lembaga atau tunas, yang tampak pada biji anggrek adalah protocorm. Protocorm berupa sel pada anggrek dimana akar, tunas, dan batangnya tidak dapat dibedakan, dan hanya merupakan jaringan, tetapi dapat tumbuh sebagi kecambah. Biji anggrek umumnya sangat kecil dan tidak mempunyai cadangan makanan atau endosperm, sehingga untuk dapat berkecambah secara alami sangat sulit, tana bantuan mikoriza atau jamur yang bersimbiosis dengan biji tersebut. Untuk meningkatkan jumlahbiji anggrek yang mampu berkecambah, maka penebaran biji anggrk harus dilakukan secara aseptis dalam botol kultur melalui kultur embrio.

Media untuk menanam biji anggrek biasanya menggunakan media Vacin dan Went atau media Knudson C. Media-media tersebut dilengkapi dengan senyawa-senyawa anorganik, senyawa-senyawa organic, sumber energy, pemicu tumbuh, vitamin, serta arang aktif. Selain media, faktor lain yang menentukan keberhasilan kultur jaringan adalah zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan adalah sitokinin (BAP) dan auksin (NAA). BAP berfungsi merangsang pembelahan sel dalam jaringan yang dibuat eksplan dan meransang pertumbuhan tunas, sedangkan NAA merupakan golongan auksin yang berfungsi dalam menginduksi pemanjangan sel, mempengaruhi dominansi apikal, penghambatan pucuk aksilar dan adventif, serta inisiasi pengakaran.

Berkaitan dengan hal tersebut perlu diadakan penelitian pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh Benzyl Amino Purine (BAP) dan Napthalene Acetic Acid (NAA) terhadap pertumbuhan tanaman anggrek hitam (C. pandurata Lindl.). Air kelapa mangandung zat/bahan-bahan seperti unsur hara, vitamin, asam amino, asam nukleat dan zat tumbuh seperti auksin dan asam giberelat yang berfungsi sebagai penstimulasi proliferasi jaringan, memperlancar metabolisme dan respirasi.

Keberhasilan teknik in vitro dittentukan oleh keberhasilan pada tahap pemilihan eksplan, inisiasi, penggandaan, pengakaran dan aklimatisasi masing – masing tahapan tersebut memerlukan kondisi dan media khusus salah satu hara essensial yang dibutuhkan media adalah nitrogen. Kebutuhan tanaman akan nitrogen ditunjukan dengan besarnya serapan nitrogen tanaman yang yang digunakan unuk membentuk bahan kering tanaman. Menurut Dinihardini (2008) salah satu pembatas, dapat terjadi pada setiap saat dalam masa kultur. Kontaminasi dapat berasal :

  1. Kontaminan internal dan eksternal. Kontaminan internal dari dalam jaringan tanaman. Kontaminan internal, sulit diatasi, maka perlu perlakuan antibiotik atau fungisida yang sistemik. Kontaminan eksternal, akibat langsung dari cendawan/bakteri atau akibat tidak langsung dari senyawa toksik produksi cendawan atau bakteri.
  2. Organisme kecil yang masuk dalam media.
  3. Botol / alat yang kurang steril.
  4. lingkungan kerja dan ruang kultur yang kotor.
  5. Pelaksana yang ceroboh / faktor pekerja
  6. Browning, atau pencoklatan, karena senyawa fenol dari eksplan. Fenol mengikat oksigen dari luar, sehingga terjadi oksidasi senyawa fenolik, menyebabkan eksplan berwarna coklat

Tanaman yang tumbuh secara in vitro, memerlukan sumber karbon, karena cahaya yang lemah, CO2 terbatas, tumbuh secara heterotrof. Salah satu modifikasi media yaitu penambahan persenyawaan organik kompleks sehingga dapat mengoptimalkan pertumbuhan anggrek hitam tersebut serta penggunaan NAA, salah satu jenis auksin sintetis banyak digunakan untuk meningkatkan rasio pertumbuhan akar tanaman dalam kultur invitro, karena akan mendorong pembentukan akar-akar baru pada selang konsentrasi tertentu. Dengan pertumbuhan akar yang sehat dan kuat akan meningkatkan kemampuan tanaman untuk bertahan hidup pada tahap aklimatisasi ke lapangan. Terdapatnya zat-zat endogen/ auksin alami dalam eksplan yang mendorong eksplan untuk tetap mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

  1. Medium yang digunakan untuk penanaman anggrek yaitu menggunakan media Vacin-Went (VW).
  2. Proses browing merupakan proses enzimatik yang berasal dari senyawa fenol eksplan.